Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama


KOMPAS.TV - Dalam beberapa terakhir, kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis muncul di sejumlah daerah seperti Sidoarjo, Jombang, dan Kabupaten Agam.

Ratusan siswa menjadi korban. Di tengah upaya BGN untuk memperbaiki tata kelola program, mengapa masih ada kasus keracunan?

Upaya apa yang mesti dilakukan untuk mencegah? Kita akan membahasnya bersama Tenaga Ahli Badan Komunikasi RI Hariqo Wibawa Satria dan Peneliti Center of Economic and Law Studies, CELIOS, Galau Muhammad.

#bakomri #celios #mbg

Baca Juga Wakil Ketua MA Hadiri Wisuda Purnabakti Ketua Pengadilan Tinggi Agama Bangka Belitung | MA NEWS di https://www.kompas.tv/regional/688879/wakil-ketua-ma-hadiri-wisuda-purnabakti-ketua-pengadilan-tinggi-agama-bangka-belitung-ma-news



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/regional/688880/full-bakom-ri-celios-soroti-kasus-keracunan-mbg-terus-berulang-kelalaian-sapa-malam
Transkrip
00:00Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono menyampaikan permohonan maaf
00:04atas insiden keracunan masal usai ratusan siswa menyantap makan bergizi gratis di Sidoarjo, Jawa, Tebor.
00:10Ia menyebut, petugas SPPG diduga melakukan kelalaian yang disengaja
00:14karena seharusnya setiap ompreng harus diberi label jam masak
00:18serta batas maksimal makanan harus disantap.
00:21Sudaryono mengatakan, Badan Gizi Nasional terus memonitor jumlah korban yang keracunan
00:25dan memastikan seluruhnya mendapat perawatan.
00:31Enggak kelihatan loh, wajah kan enggak kelihatan.
00:34Omprengmu kok kasih jam 10, tapi kemudian kok kasih jam 11 lebih dan dimakan di atas jam 12.
00:40Nah, jadi Anda ini berarti ini adalah kelalaian yang disengaja.
00:45Saya ulangi, ini kelalaian yang disengaja.
00:47Aturan sudah diberikan, juklak judi sudah diberikan, cara sudah diberikan,
00:52tapi Anda lalai dalam melaksanakan.
00:54Ini namanya kelalaian disengaja.
00:56Bukan hanya dicopot, bukan hanya dipecat.
00:58Kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana,
01:02mohon maaf, kami tidak bisa bantu.
01:05Dalam beberapa hari terakhir, kasus dugaan keracunan makan bergizi gratis muncul
01:10di sejumlah daerah seperti Sidoarjo, Jombang, dan Kabupaten Agam.
01:14Ratusan siswa menjadi korban dalam peristiwa itu.
01:16Nah, di tengah upaya Badan Gizi Nasional memperbaiki tata kelola program,
01:20mengapa masih ada kasus keracunan ini?
01:22Upaya apa yang perlu dilakukan untuk mencegah kasus serupa agar tidak terulang lagi?
01:28Bergabung dalam diskusi kami malam ini, tenaga ahli dari Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia,
01:33Hariko Wibawa Satria, dan Peneliti Center of Economic and Law Studies, Selios Galau Mohamad.
01:38Selamat malam semuanya dengan Tifal di sini.
01:42Selamat malam, Mas Tifal, Mas Galau.
01:45Baik, terima kasih semua sudah bergabung dalam diskusi dan meluangkan waktu berbicara bersama kami malam ini.
01:50Mas Hariko, ini pernyataan yang cukup tegas juga disampaikan oleh Kepala Badan Gizi Nasional.
01:54Ini kelalaian yang disengaja, itu satu.
01:57Kemudian yang kedua, kalau diidentifikasi ada kelalaian dan ada unsur pidana, kami tidak bisa bantu.
02:03So, kalau melihat kasusnya seperti ini, kelalaian ini sudah jelas ada ranah pidana,
02:08dan ada kemungkinan Badan Gizi Nasional akan masuk ke ranah pidana?
02:12Mas Tifal, yang pertama, kami sangat berduka atas musibah di Sidoarjo.
02:19Kejadian di Sidoarjo ini jadi pengingat yang sangat kuat kepada 27 ribuan SPPG lainnya
02:27untuk terus menjalankan SOP dengan ketat.
02:32Jadi kami memohon maaf yang sebesar-besarnya kepada ibu dan bapak kita,
02:37para wali santri, para guru, dan para pelajar kita di sana.
02:41Nah, seperti sama-sama kita lihat, BGN, Pemda, Kemenat, Dinas Kesehatan bergerak cepat ya,
02:49memastikan keselamatan anak-anak kita.
02:52Jadi para santri langsung dibawa ke rumah sakit dan fasilitas kesehatan terdekat.
02:58Kemudian pimpinan dari Badan Gizi Nasional dan jajaran juga terus berkomunikasi dengan guru,
03:05dengan wali murid.
03:06Dan Pak Sudaryono, pimpinan BGN, kepala BGN, juga menelpon wali murid atau wali santri.
03:16Jadi BGN mengambil langkah tegas dengan mengusulkan pemecatan untuk kepala SPPG,
03:22kemudian menjatuhkan suspend kategori berat untuk SPPG terkait.
03:28Dan apabila ada unsur pidana, maka proses hukum akan dilanjutkan.
03:34Dan kepada yang kami hormati seluruh masyarakat,
03:37jangan ragu-ragu untuk menelpon ke 127 kalau ada penyelewengan,
03:43kalau ada hal-hal yang dianggap tidak baik yang berjalan di dapur-dapur itu,
03:49hubungi 127, laporkan, jangan ada kekhawatirkan.
03:54Jangan ada kekhawatiran.
03:57Dan sekali lagi kami berterima kasih kepada Kompas TV yang terus memberikan evaluasi
04:02terhadap program Makan Bergizi Gratis ini,
04:05termasuk kepada teman-teman di MBG Awards,
04:08termasuk kepada siapapun yang terus memberikan masukan dan kritik.
04:13Kalau melanjutkan, sorry Pak, saya potong.
04:15Kalau kemudian belajar dari kasus yang sudah muncul sampai dengan sekarang ini,
04:18pemerintah melihat ada indikasi pidana nggak yang dilakukan oleh SPPG yang ujung-ujungnya
04:23seperti kasus yang beberapa daerah itu?
04:26Mas Tifal, mengenai apakah ini ada unsur pidananya,
04:30kita percayakan sepenuhnya kepada aparat penegak hukum.
04:34Yang pasti, proses ini akan sangat terbuka,
04:38kita tidak akan menutup-nutupi, dan masyarakat berhak mengawasi.
04:42Jadi apabila memang ditemukan, maka proses hukum akan berjalan dengan seadil-adilnya.
04:49Dan program MBG ini tidak dijalankan seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
04:56Jadi perbaikan terus dilakukan,
04:59pemeriksaan produksi dan distribusi,
05:02kemudian pengujian sampel,
05:04kemudian perbaikan sarana dan prasarana,
05:07kemudian pemenuhan standar keamanan,
05:10sekarang juga jam kerja dari kepala SPPG,
05:14pengawas gizi, maupun pengawas keuangan,
05:17itu sangat ketat ya.
05:18Mulai jam 2 pagi.
05:21Nah kemudian setiap ompreng itu harus ada labelnya,
05:24seperti disampaikan oleh kepala BGN tadi,
05:27di Sidoarjo ini,
05:29diduga memang tidak semua ompreng itu dicantumkan label
05:33batas waktu makanan itu dikonsumsi.
05:37Jadi sama-sama terus kita hawasi program ini.
05:40Sekali lagi terima kasih atas kritik, saran,
05:43dari masyarakat, segera siapapun itu,
05:46karena memang ini program kita bersama.
05:48Dan memang sangat butuh perbaikan.
05:50Oke, Mas Galo kalau kembali ke tema diskusi kita
05:53yang sudah tertera juga di layar ini,
05:54kalau menurut Anda belajar dari kasus-kasus yang ada sekarang,
05:57ini sebatas kelalaian,
05:59atau sudah masuk ranah pidana menurut Anda, Mas Galo?
06:03Ya, ini menjadi catatan yang sangat paradoks gitu ya.
06:07Pada hari ini, bertepatan tanggal 3 September,
06:11Pak Prabowo sedang berorasi di Eastern Economic Forum di Rusia gitu ya,
06:16yang dimana dia sangat elaboratif sekali menyampaikan
06:21bahwa kita sudah berhasil dalam memastikan setiap anak
06:24mendapatkan makanan bergizi.
06:26Tapi sayangnya, di tanggal 3 September ini gitu ya,
06:30kawan-kawan kita gitu ya,
06:31anak-anak di daerah
06:35milu sekali melihatnya gitu ya.
06:37Kita bisa melihat di Agam, di Nganjuk,
06:39di Lasem, di Rembang,
06:41di Tanah Toraja, Makale,
06:43ada justru bersama dengan terjadinya tragedi keracunan massal.
06:47Ini menjadi catatan yang sangat kelam gitu ya,
06:50melihat bagaimana narasi ini disampaikan dengan sangat vulgar,
06:53dengan sangat optimistik gitu ya.
06:55Tapi dalam faktanya,
06:56itu bertepatan dengan ratusan anak hari ini yang sedang terbaring di Huskus Mas.
07:01Kalau disampaikan bahwa program ini sudah berhasil,
07:05misalkan kata maaf,
07:07sebaik kata pengantar dari Mas Hariko gitu ya,
07:10saya rasa melihat 2 hari ini,
07:13ada sekitar 1.900 angka keracunan,
07:17dalam hanya 2 hari saja,
07:18itu menunjukkan bahwa hampir tidak bisa kita membanggakan program MBG ini.
07:23Dalam sisi mana gitu ya,
07:24kalau mau disampaikan bahwa sebelum saya bicara soal
07:28apakah konsekuensi yang layak adalah
07:29proses berkaitan dengan pidana,
07:33saya rasa tidak ada kata maaf yang lebih jujur untuk disampaikan,
07:38tanpa kita kemudian serius berbicara soal konsekuensi
07:41bagi semua pelaku di dalam tragedi ini.
07:44Kalau bicara mengenai potensi pidana gitu ya,
07:47kita bisa bicara soal Undang-Undang No. 1 tahun 2003 tentang KUHP gitu ya,
07:55pidana yang itu berisiko berkaitan dengan adanya hak kesehatan yang dilanggar.
08:02Atau bisa, kita bisa merujuk pada pidana pangan,
08:05Undang-Undang No. 18 tahun 2012.
08:07Di situ juga menjelaskan dengan sangat clear berkaitan dengan risiko pidana
08:12yang harusnya diterima oleh para pelaku yang melibatkan keracunan masal.
08:15Jadi saya mau tekankan bahwa bicara mengenai dalik pidana itu sudah diatur dalam Undang-Undang.
08:21Hari ini yang ditagih oleh masyarakat adalah bagaimana
08:25pemerintah itu sepenuhnya konsisten dan komitmen berkaitan dengan
08:29penjaminan bahwa tidak akan ada lagi kasus keracunan di tanah air ini.
08:32Kalau kemudian ada, sorry saya potong mas,
08:34kalau kemudian ada potensi pidana yang Anda tangkap di kasus ini,
08:37maka siapa yang akan melaporkan, yang berhak untuk melaporkan
08:40dugaan pidana atas kelayan sampai muncul keracunan kasus ini?
08:44Apakah badan gizi nasional atau dari pihak,
08:46dari penerima manfaat dalam hal ini orang tua siswa yang jadi korban keracunan itu?
08:52Siapapun penerima manfaat hari ini yang dirugikan hak konstitusionalnya
08:57oleh BGN, oleh pemerintah, itu memiliki dasar hukum yang jelas
09:02untuk kemudian menggugat negara, menggugat BGN.
09:06Dalam konteks ini program yang dibangun dengan narasi besar oleh Prabowo Subianto.
09:09Jadi clear sekali, ini hak konstitusional kita.
09:12Berbicara soal apa yang dilanggar, saya rasa ada banyak catatan kelam
09:17bicara mengenai evaluasi yang sudah dilakukan,
09:20itu tidak pernah cukup sejauh ini.
09:21Itu tidak menyasar pada tata kelolanya.
09:24Bagaimana kita masih melihat tata kelola yang masih koruptif, eksklusif,
09:29dan hari ini itu masih memungkinkan ada penyimpangan.
09:38Bagaimana semua permasalahan fundamental yang menguang teknologi...
09:42Sorry, saya salah dulu, Mas Galau, tampaknya kami alami gangguan komunikasi.
09:46Sambil kami perbaiki dulu koneksi kami dengan Mas Galau,
09:50mewakili selius untuk ikut berdiskusi lagi.
09:52Mas Hariko, saya ke Anda dulu.
09:53Ini ada pernyataan menarik sebetulnya dari rapat dengar pendapat yang berlangsung hari ini
09:57di Komisi 9 dengan Kepala Badan Gizi Nasional.
10:00Ini disampaikan oleh Irma Suryani dari fraksi Partai Nasdem yang menyebut ada dugaan
10:05atau meminta kepada BGN untuk mendalami indikasi persaingan bisnis
10:11dibalik maraknya kasus keracunan ini.
10:13Anda menangkap bahwa pola itu terlihat dalam kasus keracunan yang terlihat saat ini
10:18atau di beberapa kasus sebelumnya, Mas Hariko?
10:21Iya.
10:22Kami mengucapkan terima kasih kepada Ibu dan Bapak di DPR
10:26atas pengawasannya terhadap program Makan Bergizi Gratis
10:30mengenai apa yang disampaikan oleh Ibu Irma.
10:35Terima kasih kami aturkan.
10:37Namun kami belum bisa memastikan
10:39hal-hal yang terkait dengan sifatnya intelijen
10:44kemudian sifatnya penyelidikan
10:46bukan dari ranah dari badan komunikasi pemerintah
10:51sebagai informasi awal
10:53tentu patut kita hargai
10:54dan kami memahami posisi ini
10:58dan apabila instansi atau pihak lain
11:03ingin mendalami
11:04kami sangat menghormati peran-peran tersebut.
11:09Namun sejauh ini kami betul-betul fokus pada perbaikan.
11:13Jadi kami melihat ke dalam
11:15bahwasannya memang ada kekurangan-kekurangan yang harus diperbaiki.
11:20Misalnya terkait dengan memastikan
11:23seluruh pimpinan BGN
11:26kemudian seluruh pegawai BGN
11:29itu benar-benar bersih dari kepentingan
11:31salah satunya tidak punya dapur.
11:34Dan hari ini itu sudah diwujudkan
11:36tiga pimpinan BGN tidak punya dapur
11:39semua deputi tidak punya dapur
11:41seluruh pegawai tidak punya dapur.
11:43Ini penting sekali
11:44untuk memastikan penindakan ini
11:47betul-betul adil, betul-betul tergas
11:49dan lidah dari pimpinan BGN ini tidak terimpit
11:54betul-betul berani menindak
11:55seperti kejadian di Barastagi kemarin
11:58banyak orang awalnya yang meragukan
12:00berani ditindak atau tidak
12:01ternyata tidak ada pandang bulu
12:04tidak ada kebal aturan.
12:05Ini salah satu perbaikan utama
12:08di era Pak Sudaryono ini.
12:12Jadi pimpinannya Pak Ketut
12:13kemudian Pak Sudaryono
12:15kemudian Ibu Arun Sahari
12:19Pak Terenggono, Pak Ketut
12:21dan semua deputi adalah SDM-SDM yang terbaik.
12:24Nah ketika di pusat
12:26itu sudah berintegritas anti korupsi
12:29kemudian tidak punya kepentingan
12:31dengan dapur-dapur
12:32ini memudahkan berbagai penindakan-penindakan.
12:35Itulah mengapa kami selalu menyampaikan
12:38laporkan ke 127
12:40dan sekali lagi kami tegaskan
12:42program ini menggunakan uang rakyat.
12:45Sekali lagi program ini menggunakan uang rakyat.
12:48Jadi masyarakat betul-betul berhak
12:51punya hak untuk mengkritik
12:54agar program ini bisa menjadi lebih baik.
12:57Dan kami sangat terbuka sekali
12:59dengan kritik-kritik itu
13:00kami catat
13:01terus kami lakukan perbaikan.
13:03Itulah mengapa
13:04Pak Sudara Yunong menekankan
13:06kita rapat jam 2 pagi ini
13:08karena memang menjalankan amanah yang sangat besar.
13:11Kita mengelola uang rakyat.
13:12Sekali lagi kami memohon maaf
13:14atas kejadian yang terjadi
13:15di Sidoarjo
13:17dan di beberapa titik lainnya pada hari ini.
13:21Apakah nuansa persaingan bisnis
13:23juga dibaca selios?
13:24Makanya muncul banyak kasus keracunan
13:26di beberapa daerah itu tadi.
13:28Jawabnya nanti ya Mas Galau.
13:29Kita jadikan sebentar Bapak-Bapak.
13:30Tetap di Kompas TV.
13:31Mas Galau melanjutkan diskusi kita tadi
13:34kalau dari pernyataan Bu Irma Suriani
13:36dalam rapat dengar pendapat hari ini
13:37dengan Kepala BGN
13:38itu disebutkan perlu rasanya
13:40untuk menggali kemungkinan
13:42adanya persaingan bisnis
13:43dibalik kasus keracunan
13:44yang marak belakangan ini.
13:46A, si menangkap hal yang sama juga
13:48makanya kemudian keracunan
13:49makin marak sekarang?
13:50Ya.
13:52Justru letak permasalahannya adalah
13:54di mana BGN tidak mengatur
13:55atau tidak ada perpres yang detail
13:57mengatur berkaitan dengan
13:58konflik kepentingan
14:00di dalam implementasi BGN
14:02implementasi program MBG.
14:04Hampir kita lihat proses
14:06penunjukkan yayasan dan pendor
14:08itu tertutup.
14:09Bicara mengenai transparansi
14:10tidak terjadi dalam hal ini.
14:12Maka itu yang kemudian
14:13menjadi satu simptom awal
14:15kemudian kita bisa bercuriga
14:17berkaitan dengan kompetisi
14:18percelaingan antara
14:19dapur umum dan sebagainya.
14:21Letak permasalahan adalah
14:22akar mulanya itu
14:23diciptakan oleh BGN itu sendiri.
14:25Dan kalau disampaikan tadi
14:27kita sudah melakukan evaluasi
14:28BGN sudah berbenang
14:30masalahnya
14:31karena ini dibayar
14:32dengan uang pajak
14:33dan kita harus akui bahwa
14:35BGN merupakan
14:36lembaga negara
14:37dengan anggaran terbesar
14:39di harap BN 2027
14:41dan sangat wajar
14:42ketika publik menuntut lebih
14:44berkaitan dengan kinerja
14:46berkaitan dengan solusi
14:47atas masalah yang hari ini terjadi.
14:49Jadi kalau disampaikan
14:50sudah cukup
14:51tuntutan publik hari ini
14:52berkorelasi dengan
14:53besarnya alokasi anggaran
14:55untuk MBG itu sendiri.
14:56240 triliun.
14:58Bayangkan
14:59kalau misalkan hari ini
15:00kita bandingkan dengan
15:01alokasi dana tanggap bencana
15:03di BMKG,
15:05BNPB,
15:07Basarnas gitu ya
15:08dari 4 lembaga
15:09berkaitan dengan
15:10dana tanggap darurat bencana
15:11itu anggarannya
15:12hanya 6,3 triliun.
15:14Sementara
15:15untuk program MBG itu
15:16240 triliun.
15:18Jadi logika hari ini
15:19kalau bicara mengenai
15:20mana yang penting
15:21dan mendesak
15:23proses untuk
15:24membenah
15:24berkaitan dengan
15:25proses evaluasi MBG itu
15:27mana yang lebih
15:28mendesak kemudian
15:28dibandingkan dengan
15:30kondisi sebagian daerah
15:31yang hari ini
15:32masih proses
15:32kemuliaan pasca bencana.
15:33Sehingga kembali ke pertanyaan saya
15:35indikasi kemudian
15:36persaingan bisnis
15:36dibalik
15:37kasus keracunan ini
15:38menurut Anda
15:38cukup relate atau enggak?
15:41Saya rasa itu satu hal
15:42yang tidak kemudian
15:43mensimplifikasi
15:44akan masalahnya.
15:45Kalau bicara mengenai
15:47hanya kompetisi saja
15:48BGN justru tidak
15:49mengatur itu dalam
15:50perpres yang lebih teknis
15:52tapi letak permasalahan
15:53yang paling mendasar
15:54adalah konflik
15:54kepentingan itu sendiri
15:55dimana kalau tadi
15:57diklaim oleh Pak Hariko
15:58tidak ada satupun
15:59pejabat publik
16:00di BGN yang memiliki dapur
16:01mari cek lagi
16:02afiliasinya
16:03dengan partai politik
16:04mari cek lagi
16:05afiliasi semua
16:06pejabat publik itu
16:07dengan basis afiliasi politiknya
16:09itu tidak ketemu nantinya
16:11bagaimana kita bisa melihat
16:13keterikatan yang sangat kuat
16:15dengan para partai politik
16:16yang kemudian juga
16:17menjadi pemutusan
16:19menjadi pemutus
16:22kebijakan mengenai MBG ini
16:23jadi saya mau katakan bahwa
16:25desain dari kebijakan MBG ini
16:27sudah bermasalah dari awal
16:28yang menciptakan implikasi
16:30berkaitan dengan korupsi
16:32berkaitan dengan penyimpangan
16:33dan hari ini kita melihat
16:35rasa-rasanya tragedi
16:37keracunan menjadi cerita
16:38kelam
16:38yang menjelar dari daerah-daerah
16:41yang hari ini menjadi
16:43menjadi tempat terdepan
16:45implementasi program ini
16:46Mas Hariko
16:47dalam berbagai kesempatan
16:49sebetulnya BGN sudah menegaskan
16:51untuk perbaikan
16:52tata kelola itu tadi
16:53tapi dengan adanya
16:54kasus ini di beberapa daerah
16:56termasuk ada dorongan juga
16:57dari DPR
16:58agar ini diinvestigasi
16:59secara betul
17:00dalam tanda kutip ini
17:02sekali lagi saya mengutip
17:03pernyataan Ibu Irma Suriani
17:04dalam RDP hari ini
17:05bentuk investigasi
17:07apa yang bisa diharapkan
17:09publik terlihat
17:09dalam pengusutan
17:11kasus keracunan
17:12di beberapa daerah ini
17:13Mas Hariko
17:14ya
17:15tentunya
17:17akan diusut
17:18tuntas
17:19setiap
17:20kejadian yang
17:21terjadi di
17:22setiap dapur
17:24dan
17:25hari ini pun
17:26terus dilakukan
17:28proses-proses tersebut
17:29namun terkait dengan
17:30persaingan bisnis tadi
17:32kami sampaikan
17:33bahwa untuk ranah
17:34intelijen
17:35kami menghormati
17:36bidang-bidang
17:37atau organisasi tertentu
17:39untuk melakukan
17:40tugas-tugasnya
17:41namun yang perlu
17:43kami pastikan
17:44bahwa perbaikan ini
17:45terus berjalan
17:46dan masyarakat
17:47sekali lagi
17:47jangan sungkan-sungkan
17:48menghubungi
17:49127
17:50dan perlu juga
17:52kami sampaikan
17:53Mas Tifal
17:54sebetulnya kami tidak ingin
17:55masuk ke ranah ini
17:56karena kita sedang
17:57berduka
17:58kemudian
17:59membahas tentang
18:01ada saudara-saudara kita
18:02yang terdampak di
18:06makan bergisi gratis
18:07di Sidoarjo
18:08namun
18:09karena tadi
18:10Mas Galau
18:12membandingkan
18:13antara
18:14anggaran
18:15MBG
18:16dengan anggaran
18:18bencana
18:19karena memang hari ini
18:20terjadi bencana
18:21Karhutlah
18:22maupun di NTT
18:23ini kami tidak mau
18:25masuk pada wilayah ini
18:26karena memang
18:27dua-duanya
18:29bencana
18:29kemudian di
18:30kami khawatir ini
18:32seolah-olah
18:33diadu
18:33dengan MBG
18:35namun kami memastikan
18:37bahwasannya
18:37anggaran untuk
18:39penyelenggaraan
18:40apa namanya
18:41penyelenggaraan MBG
18:43kemudian tangga
18:44bencana
18:44itu sangat mencukupi
18:46sudah ada juga
18:48dana siap pakai
18:49artinya
18:50segala kebutuhan
18:51termasuk dengan
18:52perbaikan sekolah
18:53yang
18:53setelah bencana
18:55kemudian perbaikan
18:56berbagai fasilitas umum
18:57itu punya
18:58dana tersendiri
18:59dan itu
19:00Menteri Keuangan
19:01langsung turun ke lapangan
19:03untuk memastikan
19:04hal tersebut
19:05jadi sekali lagi
19:06mari kita sama-sama
19:07lebih bijak
19:09untuk membandingkan
19:10anggaran-anggaran ini
19:11karena setiap
19:12program
19:14setiap
19:15pekerja pemerintah itu
19:16ada
19:16anggarannya
19:17tersendiri
19:18dan
19:18anggaran program
19:20makan bergizi gratis
19:21ada sendiri
19:22kemudian penanggulangan
19:23bencana
19:24ada sendiri
19:24oke
19:25kemudian yang kedua
19:26ini sering sekali
19:27kami mendengar
19:28dari teman-teman
19:29MBG Watch
19:30mengenai partai politik
19:32ya
19:33mengenai partai politik
19:34ini selalu disampaikan
19:36serangan dari MBG Watch
19:38kritikan dari MBG Watch
19:40terhadap
19:41bahwasannya
19:42kepala BGN
19:43orang partai politik
19:45jadi sekali lagi
19:46mari kita sama-sama
19:48jangan
19:48terkesan kita ini
19:50anti partai politik
19:52karena
19:53partai politik itu
19:54adalah bagian
19:55dari sistem demokrasi kita
19:57dan
19:58kebijakan-kebijakan politik
20:00itu juga mewarnai
20:01dalam semua kehidupan kita
20:03misalnya
20:04ibu dan bapak
20:04sebagai penerima
20:06beasiswa
20:06sebagai penerima
20:07beasiswa LPDP
20:08kebijakan
20:09melahirkan beasiswa
20:11itu juga
20:11kebijakan politik
20:12yang paling penting
20:14adalah
20:14memastikan
20:15loyalitas
20:16dari Pak Sudaryono
20:18adalah loyalitas
20:19kepada bangsa
20:20dan negara
20:21jadi dalam program
20:22BGN ini
20:22kalau kita bicara
20:24partai politik
20:25partai politik
20:25berarti kepala daerah itu
20:27kan semuanya banyak
20:27dari partai politik
20:28menteri juga
20:29dari partai politik
20:30jadi tidak ada
20:31persoalan dengan
20:32seseorang itu
20:33menjadi anggota
20:34partai politik
20:35begitu
20:35dan proses-proses
20:36politik kita itu
20:37berjalan dengan baik
20:38hanya sekali lagi
20:39loyalitas
20:40kesetiaan
20:41dari Pak Sudaryono
20:42itu betul-betul
20:44untuk
20:44kepentingan nasional
20:45untuk
20:46negara dan bangsa
20:48rakyat Indonesia
20:48dan yang paling penting
20:50adalah
20:50mas Tifal
20:51pesan dari
20:52Presiden Prabowo
20:53itu adalah
20:53kepada Pak Sudaryono
20:55dan kepada seluruh
20:56anggota kabinet
20:57darah putih
20:57tidak perlu setia
20:59kepada Prabowo
21:00Subianto
21:00tetapi setialah
21:02kepada masyarakat
21:02sekali lagi
21:03kesetiaan yang tertinggi
21:05itu kepada masyarakat
21:06jadi begitu
21:07kalau terkait dengan
21:08partai politik
21:08baik
21:09sudah kami takap poinnya
21:10disitu
21:10mas Hariko
21:11mas Galau
21:12terima kasih banyak
21:12sudah mau berbagi pandangan
21:13dan berdiskusi bersama kami
21:14kali ini
21:15selamat malam semuanya
21:18selamat malam semuanya
Komentar

Dianjurkan