00:02Terima kasih Anda masih di Rosi. Kali ini sikatannya adalah Ruang Opini Sumber Informasi.
00:09Jadi, bersama saya Rosiana Silalahi. Saya bersama pengat politik dan militer Universitas Nasional,
00:16Doktor Selamat Ginting dan Ketua Pergerakan Indonesia untuk semua, Ade Armando.
00:21Doktor Ade Armando.
00:22Doktor Ade Armando.
00:25Soalnya beliau dari UI, kalau dari UI itu dokter itu masih harus di, terlalu banyak ingin jadi dokter di UI.
00:33Iya, kenapa terus?
00:35Takutnya kontroversi.
00:37Ini mau lari-lari, itu juga boleh.
00:40Mau ngomongin ini kan Pak Bahlil.
00:42Enggak, aku bilang Pak Bahlil sih enggak berani.
00:46Bukan enggak berani.
00:47Takut.
00:48Enggak, kekuasaan itu tidak boleh untuk membunuh.
00:51Jadi, kita sedang berbicara soal apa yang dikatakan oleh Pak Jokowi.
00:56Kekuatan yang dipakai untuk menjatuhkan orang.
00:59Nah, tadi kalau kita melihat bahwa dari dua orang narasumber saya memiliki latar belakang komunikasi wartawan,
01:09sama-sama sebenarnya punya muatan yang sangat berarti.
01:14Apa yang dikatakan oleh Presiden ketujuh Pak Prabowo ini.
01:18Pak Bung Selamat Ginting mengatakan ini ditujukan untuk mengancam Pak Prabowo.
01:23Bung Adi mengatakan ini sebenarnya mewakili roso banyak orang yang berada di situasi saat ini.
01:31Saya mau tanya dulu langsung ke Bung Selamat Ginting.
01:33Sebenarnya kalau Pak Jokowi mengatakan ini dan ingin mempertahankan kroninya,
01:39mengancam Pak Prabowo, kenapa Pak Prabowo harus diancam?
01:44Kan kemarin kompak di 17 Agustus.
01:47Di tengahnya Pak Prabowo, sebelahnya Mas Gibran sebagai wapres, lalu bapaknya.
01:53Jadi, kenapa harus diancam Pak Prabowo?
01:56Ya ada, bisa satu suara, tapi beda kepentingan.
02:02Masing-masing di dalam politik itu bisa makan bersama, minum bersama, nonton bersama, kemudian nyanyi bersama.
02:12Tapi di dalam hatinya bergejolak hal-hal yang berbeda.
02:16Hati yang siapa?
02:17Hati insan politik.
02:20Seperti Prabowo dengan Jokowi.
02:23Prabowo punya rencana untuk 2029.
02:25Jokowi juga punya rencana untuk 2029.
02:28Dan itu tidak selalu kartu itu harus dibuka sekarang.
02:34Itu pesan.
02:35Ibaratnya tidur bersama tapi mimpinya beda.
02:38Ya, betul.
02:38Jadi di dalam komunikasi politik itu tentu ada,
02:43tidak ada ruang hampa,
02:46masing-masing punya kartu yang nanti akan dikeluarkan.
02:50Ini kartunya sekarang menjelang dua tahun sudah mulai dikeluarkan.
02:54Ini kan pesan, tolong dong jaga anak gua, gitu kan.
02:59Karena misalnya...
03:00Tolong dong jaga anak gua, pesan dari Pak Jokowi ke Pak Prabowo untuk jagain Mas Gibran.
03:05Ya, misalnya.
03:06Itu kan sampai sekarang forum Purnawirawan,
03:10My Jensu Narko dan lain-lain, tetap isunya kan.
03:14Makjulkan Gibran, Adili Jokowi.
03:18Ini Prabowo tidak pernah kemudian menanggapi setuju atau tidak setuju.
03:24Ini juga kekhawatiran bagi Jokowi.
03:27Apalagi sekarang persoalan pendidikannya Gibran dipersoalkan.
03:32Sampai sekarang, ini SMP-nya gimana?
03:36SMA-nya gimana?
03:38Nah ini lebih berbahaya daripada Jokowi.
03:41Kenapa?
03:41Karena dia sedang menjabat.
03:44Jokowi sedang tidak menjabat.
03:46Jadi itu kira-kira persoalan juga.
03:49Jangan kamu punya kekuasaan,
03:52nanti mengebukti orang-orang saya, gitu.
03:54Jadi itu bukan mewakili rosonya publik,
03:57bukan mewakili perasaan publik,
03:58supaya kekuasaan tidak dilakukan untuk membungka,
04:03menjatuhkan orang lain.
04:04Ini bukan suara publik,
04:05suara kepentingan keluarganya Jokowi.
04:08Oke.
04:09Saya berikan pada Anda, Bung Ade.
04:12Ya, buat saya itu,
04:14kalau mau kasarnya kan nggak masuk akal argumen Anda.
04:17Kira-kira gini.
04:18Ini kita biasa-biasa aja nih ya.
04:20Ini buat masyarakat juga harus tahu,
04:22kalau kita mau diskusi,
04:23ya kalau mau kasar cuma bilang,
04:25it doesn't make sense.
04:26Maksud saya gini,
04:29Pak Jokowi itu harusnya justru minta agar,
04:32kalau pakai logika Anda ya,
04:34Prabowo itu menghajar siapapun yang menyerang Gibran dong.
04:39Dia justru bilang,
04:40jangan.
04:41Jangan kekuasaan kamu,
04:42termasuk kekuasaan anaknya,
04:44Gibran itu,
04:45jangan dipakai
04:46untuk melawan mereka-mereka yang menyerang Gibran.
04:51Nangkep nggak logika?
04:52Nggak, nggak.
04:53Oke.
04:54Kak,
04:55gini,
04:55kalau aja Jokowi itu adalah orang yang ingin agar,
04:58gunakanlah kekuasaan untuk mematikan lawan-lawanmu ya.
05:01Nggak mungkin lah.
05:03Seandainya dalam hatinya nih ya,
05:05dia tidak akan ngomong semacam itu,
05:07dia akan biarkan aja,
05:09misalnya sampai,
05:11saya ulang tadi ya,
05:12sebetulnya,
05:13orang-orang di lingkungan,
05:14di lingkarannya Pak Prabowo,
05:16itu adalah orang-orang yang nggak suka,
05:18kalau bos mereka,
05:19yaitu Pak Prabowo dan mungkin juga Gibran,
05:22itu diganggu.
05:23mereka bergerak begitu,
05:26bahkan sekedar orang yang ngeledek Pak Prabowo itu salah ngomong,
05:31itu dibilang hati-hati loh ya,
05:33gitu ya,
05:34misalnya itu semangatnya.
05:36Nah jadi sebetulnya Jokowi senang dong,
05:39kalau Prabowo-nya begitu,
05:41harusnya.
05:42Karena artinya,
05:44anak gue akan dilindungi oleh Prabowo.
05:46Nah justru bukan itu poinnya dari Bung Selamat dong,
05:49poinnya dari Bung Selamat adalah,
05:51pidato Pak Jokowi itu,
05:53justru ingin mengirim pesan pada Pak Prabowo,
05:56eh lu jangan ngapa-ngapain anak gue,
05:59berikan,
06:00jangan dibatasi kekuasaannya,
06:02jangan sampai duduk lagi hanya bersama Menko,
06:07duduk secara konstitusi di sebelah presiden,
06:11berikan juga akses,
06:13juga tadi Pak Bung Selamat Ginting mengatakan,
06:16Budi Ari juga jangan dipidana.
06:19Nggak gitu Rosi.
06:20Nah jawabnya,
06:21makanya saya menekankan,
06:23kamu nih,
06:25sebetulnya dia nggak ngomong sama Prabowo sih,
06:27saya duga ya,
06:28saya duga dia ngomong sama,
06:29Anda jawab dari penjelasannya Bung Selamat Ginting.
06:32Saya duga,
06:33yang dia kritik terutama adalah,
06:35orang-orang di sekitar Pak Prabowo,
06:37yang sekarang punya power nih,
06:39merasa punya power dong,
06:41saya dekat presiden,
06:42saya orangnya presiden,
06:44begitu ada orang yang bertentangan sama kami,
06:47kami akan hajar.
06:48Nah itu jangan sampai tumbuh tuh perasaan.
06:52Nah sekarang saya akan bilang,
06:54tapi lalu kenapa itu dia ucapkan?
06:56Ingat ya,
06:57ini dia ucapkan,
06:59pada saat wawancara dengan Tempo.
07:02Ingat ya,
07:03ini Tempo adalah majalah yang luar biasa pedas.
07:07Dan selalu mengkritik Pak Jokowi,
07:10atau setiap pemerintahan lah.
07:13Ya, terutama Pak Jokowi,
07:14karena si wartawan-wartawan Tempo ini bilang,
07:17kami bikin 120 kali cover stories tentang Anda,
07:20dan tidak ada satu,
07:22dan semuanya,
07:23all of them,
07:24120-nya itu mengecam Anda.
07:28Terus kenapa?
07:29Nah, enggak,
07:29disitulah kemudian Pak Jokowi harus menjelaskan,
07:32saya enggak apa-apa loh,
07:34dikritik semacam itu,
07:36kalau itu saya enggak punya masalah.
07:38Dan kemudian dia sedang berusaha mengajarkan kepada publik,
07:41tentang arti penting demokrasi.
07:43Kalau Anda ikuti diskusinya ya.
07:45Iya, saya ikutin.
07:46Tapi saya juga punya perspektif yang lain,
07:51Gini, maksudnya Anda kan mengatakan,
07:53Anda punya hak sepenuhnya untuk anti-Jokowi juga.
07:56No, bukan.
07:57Tapi maksudnya,
07:59bahwa Anda ingin mengatakan bahwa,
08:01wah hebat banget Pak Jokowi menerima Tempo yang selama ini mengkritik.
08:04Tempo juga sudah minta berkali-kali wawancara,
08:06tapi tidak pernah.
08:07Tetapi saat ini diterima,
08:08karena pasti Pak Jokowi juga memiliki goal,
08:12supaya message dia sampai.
08:14Yang dipakai adalah majalah Tempo.
08:15Tidak apa-apa juga, itu bagus juga.
08:17Karena seorang Jokowi tahu,
08:20ia adalah seorang marketing politik yang ulung.
08:23Tapi yang ingin saya katakan,
08:24jangan menjadikan wawancara itu seolah-olah
08:29bahwa Pak Jokowi kemudian
08:32tidak,
08:34bahwa Pak Jokowi kemudian
08:35bisa bebas lebih baik
08:39dari apa yang sekarang terjadi di pemerintahan ini.
08:41Itu yang saat ini ingin dikatakan oleh Bung Selamat Ginting.
08:45Ya Pak, Bung Selamat boleh ngomong begitu.
08:48Anda ngomong begitu,
08:49tidak apa-apa nih.
08:49Mahasiswa semua juga mengatakan,
08:51enggak, tidak lebih baik.
08:54Ya saya juga punya pendapat yang berbeda guys.
08:56Saya menganggap bahwa Jokowi itu adalah orang
08:59yang sangat percaya pada demokrasi.
09:01Dia sangat percaya pada demokrasi.
09:03Karena itulah kalimat tadi.
09:05Kan ada tanyakan kalimat presisi itu tuh.
09:08Jangan gunakan kekuasaan Anda
09:11untuk melawan,
09:13menjatuhkan orang.
09:15Kan ada tanya,
09:16kenapa dia ngomong begitu?
09:17Karena betul-betul dia percaya
09:19itu harusnya dimiliki
09:20oleh setiap pemimpin di Indonesia.
09:23Mau gubernur,
09:24mau wali kota,
09:25mau anak presiden,
09:27mau cucunya presiden.
09:28Dan oke,
09:28menjawab pertanyaan tadi,
09:29Bung Selamat Ginting,
09:30ini bukan untuk
09:32pesan dikirimkan ke Presiden Prabowo
09:36untuk melindungi keluarganya,
09:37melindungi anak yang sedang jadi wakil presiden.
09:39Mantunya yang jadi gubernur.
09:41Bukan itu ya?
09:42Bukan.
09:42Tetapi,
09:43pesan pada Presiden Prabowo
09:45tentang sekelilingnya.
09:46Oke.
09:47Tentang sekelilingnya,
09:48Pak Selamat Ginting.
09:50Iya.
09:51Jadi,
09:52gimana pertanyaan ke saya?
09:53Jadi,
09:54ini bukan
09:55kepada Pak Prabowo
09:57atau
09:57mengirim pesan bersifat ancaman kan,
10:00bahwa eh,
10:01lu jangan macam-macam
10:02sama anak gue.
10:03Karena masih perlu saya gitu.
10:05Tapi,
10:06ini lebih kepada
10:07situasi saat ini
10:08di mana
10:09sekeliling Pak Prabowo
10:11tidak bisa menerima kritik.
10:12Makanya,
10:13saya bilang tadi,
10:14ini kan bisa kepada
10:16personal
10:16sang presiden,
10:18bisa kepada
10:20lembaga yang lain,
10:22bisa kepada
10:22elit yang lain,
10:24termasuk elit penegak hukum.
10:25Bukan seperti itu.
10:27Jadi,
10:27pesannya adalah
10:29apakah
10:30si pemberi
10:32nasihat itu
10:34bersedia
10:35meletakkan dirinya
10:37menjadi
10:38objek
10:39dari
10:39nasihat itu sendiri juga?
10:41Artinya,
10:42Jokowi berani gak
10:43menempatkan dirinya
10:46sebagai orang
10:47yang dinasihati juga?
10:48Kenapa?
10:49Karena orang
10:50yang pernah berkuasa
10:52pastilah
10:53akan ditanyakan
10:55pada publik.
10:56Publik akan bertanya,
10:58eh,
10:58saat lo berkuasa
10:59gimana?
11:00Kira-kira kan
11:01seperti itu.
11:03Jadi,
11:03seorang penguasa itu
11:05atau mantan penguasa itu
11:06harus siap
11:07kalau publik
11:09menanyakan hal serupa.
11:11Bukannya lo juga
11:12pelakuannya begitu dulu?
11:16Makanya,
11:17seperti yang saya bilang,
11:19ini bukan
11:20ruang hampa.
11:21Demokrasi itu,
11:23kan seperti
11:23bung adik bilang
11:25fitnah kritik.
11:26Nah,
11:26sekarang siapa
11:27yang bisa
11:29memutuskan
11:30bahwa ini kritik
11:31atau fitnah?
11:32Kan bukan beliau.
11:34Gak bisa dong
11:35beliau bilang juga,
11:37ini fitnah.
11:39Kritik itu
11:40memang harus
11:41keras.
11:42Artinya gini,
11:43ketika rakyat
11:46dilarang
11:47melakukan
11:48kritik keras,
11:49maka
11:50jawabannya juga,
11:51maka penguasa
11:53juga tidak
11:53boleh menggunakan
11:55instrumennya
11:56untuk
11:56membungkam
11:58pengkritik.
12:00Sehingga
12:00etika demokrasi
12:01dua-duanya.
12:03Rakyat
12:04mengkritik
12:05penguasa,
12:06tapi itu tadi,
12:07dengan
12:08kebebasan
12:09yang bertanggung jawab.
12:10Bukan fitnah.
12:12Lalu,
12:12si penguasa
12:13juga harus
12:14melindungi
12:15rakyat
12:16dengan tidak
12:17menggunakan
12:18instrumen
12:19kekuasaan.
12:20Singkat saja,
12:20pertanyaan saya segini,
12:21sebelum kita break.
12:22Tapi Anda melihat
12:23apa yang dikatakan
12:24Pak Jokowi,
12:25sebenarnya
12:27perlu gak sih
12:28untuk kita dengar
12:30bener gak
12:31petuahnya
12:32Pak Jokowi ini?
12:33Begini ya.
12:34Bener apa gak?
12:36Ini dalam
12:37teori jurnalistik juga,
12:39nama membuat
12:40berita.
12:41Ketika orang
12:42punya nama,
12:43maka
12:43menjadi berita.
12:45Bukan
12:46yang jadi
12:47pusat pemberitaan
12:48adalah bukan
12:49kepala
12:50atau
12:51kiai pesantrenya.
12:52Karena gak punya nama.
12:53Tapi begitu Jokowi
12:55berbicara
12:56di hari
12:57maulid
12:58Nabi
12:58yang orang
12:59membayangkan
13:00tadinya
13:01oh ini
13:02bicara
13:02keteladanan
13:03Nabi Muhammad.
13:04Loh tau-taunya
13:05bicara
13:06dengan
13:07budaya
13:08politik
13:08Jawa
13:09terkait
13:10dengan
13:10kekuasaan
13:11maka orang juga
13:12lihat
13:12lo bukannya
13:13bagian dari
13:14kekuasaan
13:15karena
13:15jangan salahkan
13:17persepsi publik
13:18kalau melihat
13:19Gibran itu
13:20hanya
13:21casing
13:22tapi ada
13:24Jokowi
13:24di situ
13:25Jokowi
13:25tetap
13:26berada
13:26di dalam
13:27istana
13:27gak salah
13:28dong
13:28persepsi
13:29politik
13:29seperti itu
13:30juga.
13:30Jadi maksudnya
13:31petuah ini
13:34sebenarnya
13:35jadi
13:35gak patut
13:36didengar
13:37atau sesuatu
13:37yang sebenarnya
13:38penting
13:39untuk didengar.
13:39Oh ya patut
13:39didengar.
13:40Jadi kita
13:41ingin lihat
13:42ini pesan
13:43ini disampaikan
13:44kepada siapa.
13:45ujungnya
13:46pasti
13:48kepada
13:49penguasa
13:50saat ini.
13:51Pasti
13:52publik
13:53juga
13:53melihat bahwa
13:54eh
13:54belum dua
13:55tahun yang lalu
13:56lo juga
13:57berada
13:57di kursi
13:58itu.
13:58Lo juga
13:59gimana
14:00waktu itu.
14:01Jadi
14:01makanya
14:02saya bilang
14:03seperti orang
14:04Jawa
14:04barangkali
14:05menunjuk
14:05jarinya
14:06ke depan
14:07tapi
14:07empat
14:08jarinya
14:09ke dalam.
14:10Eh lo
14:10juga harus
14:11introspeksi
14:12terhadap
14:12ucapanmu
14:14karena kau
14:14mahluk politik.
14:16Ya.
14:16Mengapa
14:17satu petua yang
14:17baik
14:18mengingatkan
14:19tentang
14:19kekuasaan
14:20bisa ditafsirkan
14:21berbeda.
14:22Padahal
14:22petua tentang
14:24hai kekuasaan
14:25ketika Anda
14:26berkuasa
14:26janganlah
14:27kemudian
14:27membunuh
14:28atau
14:29memperlakukan
14:30orang dengan
14:30semana-mana
14:31itu adalah
14:32petua yang
14:33baik.
14:33Tetapi
14:34ketika ini
14:34datang dari
14:35Jokowi
14:35kenapa ini
14:36jadi sesuatu
14:37yang
14:38gak terlalu
14:39baik.
14:39Kami kembali
14:40satu lagi.
14:43Terima kasih.
Komentar