Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 1 hari yang lalu


JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota MBG Watch, Media Wahyudi Askar blak-blakan soal target jumlah penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurutnya, target penerima MBG itu hanya berkisar di angka 26 juta jiwa.

Media Wahyudi Askar menegaskan, angka tersebut sangat jauh dari yang disampaikan pemerintah, sebesar 82 juta jiwa. Padahal, menurutnya, asal-usul angka tersebut tidak diketahui secara jelas.

"Kalau seandainya penerimanya benar, masyarakat miskin 3 T (tertinggal, terdepan, dan terluar), kemudian ibu hamil, kemudian mereka yang betul-betul membutuhkan, balita, itu jumlahnya hanya 26 juta penerima (MBG)," kata Media dalam paparannya di Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) bersama Komisi IX DPR RI pada Kamis (16/7/2026).

Baca Juga Kritik Aliansi Ibu ke Program MBG di DPR: Proyek Paling Menghinakan Ilmu Pengetahuan & Perempuan di https://www.kompas.tv/nasional/681121/kritik-aliansi-ibu-ke-program-mbg-di-dpr-proyek-paling-menghinakan-ilmu-pengetahuan-perempuan



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/681208/mbg-watch-blak-blakan-ke-dpr-soroti-target-penerima-makan-bergizi-gratis
Transkrip
00:00Bapak Ibu 82 juta penerima MBG, sampai sekarang tidak tahu datanya dari mana 82 juta itu muncul.
00:09Tapi kalau 2024 kita lihat 164 juta pemilih, seserhana 164 dibagi 2 itu 82 juta.
00:19Kenapa targetnya 82 juta?
00:21Karena 2029 andai ada 82 juta pemilih menerima makan tiap hari, dikasih tiap hari, sudah pasti 50% plus 1.
00:34Ayolah, ini juga lembaga politik.
00:36Saya ngajar di kampus Visipol.
00:38Dan menurut saya ini juga soal teritori Bapak Ibu.
00:41Karena kalau kita melihat konteks hari ini, MBG itu logistik.
00:46Gudangnya apa? Gudangnya adalah KDMP.
00:48Siapa yang menyalurkan? Aparat hukum, ormas-ormas, dan lain-lain.
00:55Jadi menurut saya kita tidak boleh senaif itu juga dalam konteks ini.
01:01Nah makanya dalam banyak hal, saya menghindari diskusi-diskusi seperti ini.
01:05Karena ini harusnya dilakukan oleh DPR, kemudian dilakukan oleh orang-orang di atas sana di level elit.
01:13Tapi ekonomi selalu bicara soal politik Bapak Ibu.
01:17Nah, kemudian biar tidak terlalu lama, izinkan nanti saya kirim kajian selios Bapak Ibu.
01:23Karena saya tidak print, boleh nanti saya kirim ya Bapak Ibu ya.
01:27Ada dua kajian yang kami lakukan sebelum MBG dilakukan, dan satu tahun MBG dilakukan.
01:33Dan exit plannya bagaimana?
01:36Saya terus terang kalau ngobrol sama teman-teman, exit plan itu kita tidak melihat ada ruang exit plan dengan kondisi
01:42hari ini.
01:43Sesedaran lainnya itu Bapak Ibu.
01:45Karena pelaksananya, lagi-lagi pelaksananya itu bukan orang yang benar.
01:50Kayak kita bikin bangun rumah, mandornya tidak benar.
01:53Mandornya punya konflik kepentingan, itu masalahnya.
01:56Sehingga logika lanjutan apapun itu akan sangat rumit.
02:01Tetapi, dalam konteks teknokratik, saya tadi sangat mengapresiasi pertanyaan Pak Charles.
02:07Pak Charles, bicara data, sebetulnya bagaimana pelaksanaan ini, berapa sebetulnya penerimanya.
02:15Itu BPS panggil saja Bapak Ibu.
02:18Panggil saja, buka semua datanya.
02:20Dan harapannya mereka jujur ya.
02:22Kalau mereka jujur, harusnya sama datanya dengan saya.
02:25Karena saya olah data BPS.
02:27Kalau seandainya penerimanya benar, masyarakat miskin, 3T, kemudian ibu hamil, kemudian mereka yang betul-betul membutuhkan balita, itu jumlahnya hanya
02:3926 juta penerima Bapak Ibu.
02:43Dan kalau dilakukan dengan benar, simulasi kami itu hanya 67 triliun per tahun.
02:50Dan itu semuanya ya.
02:51Kalau bisa bertahap Bapak Ibu, mungkin hanya butuh 10 triliun dulu mungkin.
02:56Jangan juga ambil dari dana pendidikan, ambil dari dana pajak progresif yang lain.
03:01Hanya butuh 10 triliun, ini juga jalan, Pak Prabowo mungkin juga tetap jalan programnya.
03:07Tetapi Bapak Ibu, ini enggak mungkin dilakukan hari ini.
03:11I'll be honest, Bapak Ibu.
03:13Ini enggak mungkin dilakukan.
03:15Karena ini sudah terlanjur berjalan, sudah ada polisi, tentara, ormas, SPPG di sana.
03:21Itu kenapa kami bilang hentikan saja?
03:24Karena kami enggak melihat ada ruangsa ini dihentikan.
03:29Kecuali ada political will dari pemerintah untuk balik lagi ke targeted, individual targeting di kota, hanya untuk yang membutuhkan.
03:38Kalau orang kaya bayar, geographical targeting di desa.
03:41Mungkin masuk akal.
03:43Tapi apakah ini kemudian akan dilakukan oleh pemerintah?
03:45Dengan narasi hari ini, saya enggak yakin pemerintah mau melakukan itu.
03:49Nah itu kenapa bottleneck-nya sangat kuat sekali.
03:56Jadi saya terus terang, mungkin stop di sini Bapak Ibu.
04:02Ini sudah sehabis-habis upaya kami.
04:05Kalau saya pribadi Bapak Ibu, saya ngolah data statistik BPS itu sejak tahun 2014.
04:11Saya sampai hafal datanya luar dalam.
04:13Tapi ini kebijakan tidak berbasis data.
04:17Tidak berbasis data.
04:20Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan