Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua Umum PAN, Eddy Soeparno, menilai persoalan dalam program MBG tidak mungkin diselesaikan dalam waktu singkat mengingat kompleksitas yang dihadapi.

Meski demikian, Eddy menilai langkah evaluasi yang saat ini dilakukan pemerintah sudah mulai menunjukkan hasil. Eddy menegaskan fokus pemerintah saat ini adalah memperkuat pengawasan program.

Selain pengawasan, pemerintah juga tengah melakukan penyesuaian sasaran penerima manfaat agar program lebih tepat guna.

Meski mengakui perlunya evaluasi besar-besaran, Eddy menegaskan MBG tidak boleh dihentikan karena menyangkut kebutuhan masyarakat yang selama ini merasakan manfaat langsung.

"Tetapi jangan lupa, ini adalah haknya anak-anak, ibu-ibu yang akan menerima MBG ini, dan jangan sampai dihentikan," ungkapnya.

Namun pandangan berbeda disampaikan MBG Watch, Media Wahyudi Askar.

Menurutnya, jika MBG memang ditujukan untuk mengatasi stunting, maka distribusi program saat ini belum mencerminkan kebutuhan riil di lapangan.

Berdasarkan data yang dimilikinya, Media mempertanyakan narasi bahwa MBG saat ini sepenuhnya berorientasi pada penanganan stunting.

Ia menilai persoalan mendasar bukan sekadar jumlah SPPG, melainkan ketepatan lokasi pembangunan program.

Menurut Media, kebutuhan masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar atau 3T juga sangat beragam dan tidak selalu dapat diselesaikan hanya dengan pembangunan SPPG.




Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/PwPM3-CDZPI



#mbg #makanbergizigratis #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/675490/mbg-watch-pertanyakan-efektivitas-mbg-atasi-stunting-ini-respons-pan-satu-meja
Transkrip
00:00Kami konsen pada efisiensi anggaran, agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini,
00:11tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi.
00:22Efisiensi ini kami lakukan yang pertama melalui moratorium.
00:28Jadi per hari ini jumlahnya titik dapur yang operasional berdasarkan virtual account itu 27877.
00:39Nah kita hentikan dulu ke situ, kita akan tata.
00:43Kita tata apakah dapur ini melayani ini sudah, bisa melayani sebetulnya dengan
00:58penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan.
01:09Masih di Satu Menjadi Forum, Mas Jadi saya melanjutkan tadi.
01:14Kompleksitasnya luar biasa, persoalannya tidak mungkin selesai dalam hitungan hari, bulan.
01:21PAN tidak melihat, kalau dari pernyataan setahu kami, proses rapat ini juga ada di Kemenko-nya Pak Zul, ketum Anda.
01:29Sehingga berani mengatakan bahwa ada pemborosan satu triliun dan ini perintah Presiden untuk diubah.
01:33Tapi proses perbaikannya rasanya terlalu singkat kalau hanya satu bulan.
01:39Saya kira banyak yang bisa kita capai dalam satu bulan.
01:42Pak Zul itu adalah ketua Satgas Percepatan MBG, program MBG.
01:48Dan banyak yang sudah bisa dicapai, termasuk hari ini beliau mengatakan bahwa ternyata ada satu triliun pemborosan,
01:547 ribu unauthorized SPPG, itu kan merupakan temuan-temuan yang bisa didapatkan segera.
02:01Nah yang dibutuhkan sekarang adalah betul-betul untuk bisa melihat di mana pengawasan itu harus diperketat.
02:07Dan memang pengawasan harus diperketat.
02:08Kita tata programnya, kita awasi pelaksanaannya.
02:12Tetapi yang penting tadi saya sampaikan, right sizing, right targeting.
02:16Agar kita betul-betul bisa melihat bahwa kebutuhan sesungguhnya adalah sekian besar.
02:22Mas jadi catatan dari banyak kalangan setelah kejadian ini dan dari awal termasuk gue MBG Watch adalah
02:28ini program besar dengan alokasi anggaran yang besar.
02:32Tetapi instrumen pengawasannya baru kelihatan sekarang.
02:35Kok sepertinya gampang sekali bikin tender, pengadaan motor, terus kemudian ada 1 miliar masuk dari awal.
02:42Kenapa partai koalisi? Karena tadi bicara bertanggung jawab, sudah dengar, tapi juga cari timing yang tepat atau seperti apa sebetulnya?
02:51Ya tentu kan kita secara logis, kita menyampaikan pandangan-pandangan.
02:55Tetapi kan pada akhirnya, karena ini adalah ranahnya pemerintah untuk memutuskan.
03:02Akhirnya kan diputuskan juga.
03:04Bahwa kemudian terjadi evaluasi besar-besaran, terjadi perombakan besar-besaran untuk melakukan perbaikan.
03:10Tetapi jangan lupa, ini adalah haknya anak-anak, ibu-ibu yang akan menerima MBG ini dan jangan sampai dihentikan.
03:19Saya kasih contoh satu, suatu ketika saya pernah beracara di Dapil saya.
03:25Dihadir oleh ibu-ibu dalam jumlah yang besar sekali.
03:27Dapil masih di Kota Bogor, Kabupaten Cianjur.
03:29Di Pulau Jawa, berbeda dengan Bung Andri, Bung Andri di luar Jawa.
03:33Di Kabupaten Cianjur.
03:35Mendadak di tengah-tengah acara, separuh dari ibu-ibu itu hilang.
03:38Saya tanya kemana? Mereka itu kembali ke posyandu-posyandu untuk menunggu datangnya makanan.
03:46Dan ketika saya lihat satu persatu, ternyata makanan itu bermutu, berkualitas.
03:51Itu masuk program MBG maksudnya?
03:53MBG.
03:53Oke, di posyandu.
03:54MBG yang dibagikan ke posyandu?
03:56Ibu-ibu.
03:57Oh, ibu-ibu hamil, ibu sui, ibu lansia, dan balita.
04:01Jadi mereka berhak dan mereka senang, antusias menerimanya.
04:06Jadi saya pikir program ini memang sudah pada dasarnya konseptualnya baik,
04:11tetapi pelaksanannya itu mekanis pengawasan harus diperketatkan.
04:14Konseptualnya baik, pelaksanannya harus diawasi dengan ketat.
04:18Saya boleh respon ya.
04:19Boleh dong, harus direspon.
04:21Soal stunting, kalau kita lihat data, stunting paling besar itu Papua Pegunungan, 40%.
04:29Berapa jumlah SPPG di sana?
04:3213.
04:34Sulawesi Barat, stunting itu 35%.
04:37Jumlah SPPG di sana 177.
04:40Jawa Barat, stunting hanya 15%.
04:43Jumlah SPPG di sana 6.357.
04:47Jadi anggapan bahwa ini adalah program penanganan stunting.
04:52Jadi nggak masuk akal dengan data hari ini.
04:54Pelaksanaannya nggak tepat, karena mungkin lebih banyak titik stunting di Papua.
04:57Karena lebih banyak di kota, stunting itu ada di daerah 3T.
05:02Nah sekarang solusinya, kemudian dibangun SPPG 3T misalkan ya.
05:08Tadi Mas Edy membayangkan dengan bis sekolah ya.
05:11Jangan-jangan di daerah 3T itu nggak butuh bis sekolah.
05:14Di Kalimantan itu butuh listrik, jalan yang baik, pendidikan yang layak, kesehatan yang layak.
05:21Artinya ada variasi yang luar biasa dari kebutuhan anak-anak di seluruh Indonesia.
05:26Itu kenapa saya hanya ingin bilang, saya mau respon juga.
05:30Soal anggapan bahwa masyarakat mendukung MBG.
05:33Saya mungkin kalau boleh undang mungkin Mas Edy dan Uda Andri untuk datang ke kampus-kampus.
05:39Cara melakukan riset preferensi publik.
05:44Nggak bisa kita hanya tanyakan, kamu suka nggak dengan MBG? Nggak bisa.
05:49Ada metodologinya.
05:51Karena kalau seandainya masyarakat ditanya, dapat makanan tentu lebih baik daripada tidak dapat makanan sama sekali.
05:58Pasti itu.
05:58Itu kenapa yang harus dilakukan adalah discrete choice method.
06:03Tawarkan pada mereka apa yang bisa dilakukan dan biarkan mereka memilih.
06:07Itulah yang kami lakukan di kampus.
06:10Apakah mereka butuh cash?
06:12Apakah butuh pendidikan gratis?
06:14Kesehatan yang layak?
06:15Dan beasiswa.
06:17Dan ternyata MBG itu ada di urutan keempat.
06:20Jadi saya hanya ingin bilang, kalau bicara soal keinginan masyarakat harus berbasis dengan bukti yang empiris juga.
06:28Saya memahami, saya memahami ini nggak mudah.
06:31Program sebesar ini kemudian dikelola dengan cara yang seperti ini.
06:37Tapi menurut saya, kita ada jendela yang sangat sempit.
06:42Dan saya berharap Pak Presiden menghentikan program ini.
06:45Karena kalau seandainya tidak dihentikan dan pelaksananya masih punya konflik kepentingan, ini tidak akan selesai.
06:54Tahun 2027, 28, 29 kita akan berbicara masalah yang sama.
07:00Dan satu lagi mas, saya meneliti tentang bantuan sosial di hampir seratusan negara seluruh dunia.
07:07Dan hanya di Indonesia yang setengah jumlah bantuan sosialnya itu dinikmati oleh penyelenggaranya.
07:15Kalau bicara soal hak anak-anak itu bukan 8 ribu sebetulnya, 15 ribu anggaranya.
07:22Dan 7 ribunya habis untuk penyelenggaraan.
07:26Dan hanya di Indonesia penyelenggaraan memakan setengah dari bantuan sosial untuk hak masyarakat.
07:33Membahasakan ini ke masyarakat nggak mudah.
07:36Ini bahasa teknokratik yang juga harus dihitung dengan bahasa teknokratik.
07:42Ini bukan keputusan politik.
07:46Kalau seandainya politik dikombinasikan dengan teknokratik itu hasilnya akan baik.
07:52Tapi yang terjadi sekarang, politik menjadi nomor satu dan satu-satunya pertimbangan dalam pelaksanaan MBG ini.
08:00Bung Andre, apa betul politik satu-satunya pertimbangan dalam MBG?
08:03Tapi tidak kan?
08:04Ini lebih kepada perjuangan seorang Presiden Prabowo yang tidak lagi ada orang-orang miskin dan sebagainya.
08:11Saya harus menjawab secara fair menyeluruh.
08:14Tadi dibilang efisiensi dilakukan oleh pemerintah dengan menyisir anggaran itu semua dipakai untuk MBG.
08:23Itu tidak benar.
08:25Pemerintah Presiden Prabowo sejak mendapatkan mandat dari rakyat dan dilantik,
08:30dia memang melakukan penyisiran anggaran untuk melakukan efisiensi.
08:34Dan diambil dari pendidikan.
08:35Bukan dari pendidikan, contoh saja.
08:38Di Undang-Undang APBN 2026, diambil dari pendidikan.
08:44Jadi saya tidak berhenti, kita melakukan penyisiran.
08:50Banyak anggaran yang tidak bermanfaat, kita hentikan.
08:54Dan uang itu bukan hanya untuk MBG.
08:56Contoh saya kasih tahu, bagaimana Presiden memberikan uang,
09:02Menteri Pertanian minta.
09:03Pak, kita harus bantu petani.
09:06Supaya pupuknya murah dan pupuknya bisa dinikmati oleh petani.
09:12Itu diberikan berapa puluh triliun untuk diberikan untuk pupuk.
09:16Sehingga petani sekarang gampang mendapatkan pupuk dan jauh lebih murah.
09:20Lalu petani bilang,
09:22Pak, bagaimana kita misalnya harga gabah selama ini sangat rendah.
09:27Petani selalu hidup dalam komiskin.
09:30Presiden, baru era Presiden Prabowo,
09:33bilang kita beli di 6.500, itu pakai anggaran.
09:36Belum lagi irigasi.
09:38Itu disiapkan juga 12 triliun.
09:41Lalu perbaikan sekolah.
09:43Saya bilang sekolah tidak diperbaiki.
09:44Ada 14 triliun.
09:46Lalu puskesmas diberbagi desa, kampung-kampung diperbaiki.
09:49Bahkan rumah sakit, tipe C, diberbagi 3T,
09:53dibangun oleh pemerintah.
09:55Listrik desa, itu juga dilaksanakan.
09:59Jadi jangan membangun narasi seakan-akan.
10:01Pemerintah itu hanya mengurus MBG.
10:03Semua.
10:04Bahkan kampungnya beliau, satu kampung masih ada di Sumatera Barat.
10:07Siapa bilang efisiensi itu mengurai anggaran transfer ke daerah.
10:11Uang DAK-nya iya, kurang.
10:14DAK-nya betul kan?
10:15DAK itu dirubah menjadi impress jalan daerah, impress infrastruktur daerah.
10:19Sumatera Barat itu menikmati banyak.
10:22Untuk dana rehab-recon saja.
10:24Soal pengalaman yang pendidikan?
10:25Dana rehab-recon saja, untuk Sumatera Barat itu 18,9 triliun.
10:29Untuk merehab-recon Sumatera Barat.
10:30Belum lagi perbaikan jalan, jembatan, stadion Sumatera Barat yang rusak itu.
10:36Bertahun-tahun, kita perbaiki.
10:38Sekarang tol juga akan dibangun.
10:40Rere kira-kira tapi.
10:41Jadi, jangan bilang semua dihemat, lalu pembangunan daerah nggak ada.
10:45Saya kasih contoh di Kampung Mas Media aja, Sumatera Barat.
10:48Daerah pemilihan saya.
10:49Itu luar biasa.
10:51Triliunan rupiah masuk untuk mengguyur Sumatera Barat.
10:54Jadi, jangan kita bangun narasi efisiensi ini membuat pemerintah tidak ada kerjaan.
11:01Seakan-akan kerja pemerintah MBG.
11:02Termasuk kita membangun daerah.
11:05Pertanyaannya adalah, jadi bukan hanya MBG.
11:08Bung Andre, iya betul.
11:09Tidak hanya MBG, tapi fokus di MBG secara tema hari ini adalah,
11:12gimana caranya supaya publik itu tidak selalu punya prasibu,
11:16oh ini bancakan nih partai politik.
11:17Ini bancakan partai politik.
11:18Saya kira ini tantangannya.
11:20Karena di berbagai demo juga salah satu yang disuarakan itu.
11:23Tuh.
11:25Bung Media dan kawan-kawan.
11:25Saya sepakat itu.
11:26Bung Media dan kawan-kawan.
11:27Jangan jadi bancakan.
11:28Itu juga sama menyuruhkan itu.
11:30Tapi kemana masyarakat tidak curiga?
11:32Karena siapa yang punya yayasan?
11:36TNI.
11:36Siapa yang punya yayasan?
11:37Polisi.
11:38Ada seribuan dapur polisi.
11:40TNI 400an dari target 2000.
11:44Siapa yang punya yayasan?
11:44Kita juga punya.
11:45Tentu saja.
11:46Semua partai punya.
11:47Tentu saja.
11:47Jadi di Suparno tidak punya.
11:48Oh oke.
11:48Bisa pastikan itu.
11:50Jadi sekarang saya juga tidak punya.
11:52Saya akan sambung setelah jika.
11:53Kita akan cek lagi siapa saja yang punya.
11:55Dan sebaiknya siapa yang mengelola ini.
11:57Satu meja akan kembali setelah yang satu ini.
12:00Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan