00:00Kami konsen pada efisiensi anggaran, agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini,
00:11tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi.
00:22Efisiensi ini kami lakukan yang pertama melalui moratorium.
00:28Jadi per hari ini jumlahnya titik dapur yang operasional berdasarkan virtual account itu 27877.
00:39Nah kita hentikan dulu ke situ, kita akan tata.
00:43Kita tata apakah dapur ini melayani ini sudah, bisa melayani sebetulnya dengan
00:58penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan.
01:09Masih di Satu Menjadi Forum, Mas Jadi saya melanjutkan tadi.
01:14Kompleksitasnya luar biasa, persoalannya tidak mungkin selesai dalam hitungan hari, bulan.
01:21PAN tidak melihat, kalau dari pernyataan setahu kami, proses rapat ini juga ada di Kemenko-nya Pak Zul, ketum Anda.
01:29Sehingga berani mengatakan bahwa ada pemborosan satu triliun dan ini perintah Presiden untuk diubah.
01:33Tapi proses perbaikannya rasanya terlalu singkat kalau hanya satu bulan.
01:39Saya kira banyak yang bisa kita capai dalam satu bulan.
01:42Pak Zul itu adalah ketua Satgas Percepatan MBG, program MBG.
01:48Dan banyak yang sudah bisa dicapai, termasuk hari ini beliau mengatakan bahwa ternyata ada satu triliun pemborosan,
01:547 ribu unauthorized SPPG, itu kan merupakan temuan-temuan yang bisa didapatkan segera.
02:01Nah yang dibutuhkan sekarang adalah betul-betul untuk bisa melihat di mana pengawasan itu harus diperketat.
02:07Dan memang pengawasan harus diperketat.
02:08Kita tata programnya, kita awasi pelaksanaannya.
02:12Tetapi yang penting tadi saya sampaikan, right sizing, right targeting.
02:16Agar kita betul-betul bisa melihat bahwa kebutuhan sesungguhnya adalah sekian besar.
02:22Mas jadi catatan dari banyak kalangan setelah kejadian ini dan dari awal termasuk gue MBG Watch adalah
02:28ini program besar dengan alokasi anggaran yang besar.
02:32Tetapi instrumen pengawasannya baru kelihatan sekarang.
02:35Kok sepertinya gampang sekali bikin tender, pengadaan motor, terus kemudian ada 1 miliar masuk dari awal.
02:42Kenapa partai koalisi? Karena tadi bicara bertanggung jawab, sudah dengar, tapi juga cari timing yang tepat atau seperti apa sebetulnya?
02:51Ya tentu kan kita secara logis, kita menyampaikan pandangan-pandangan.
02:55Tetapi kan pada akhirnya, karena ini adalah ranahnya pemerintah untuk memutuskan.
03:02Akhirnya kan diputuskan juga.
03:04Bahwa kemudian terjadi evaluasi besar-besaran, terjadi perombakan besar-besaran untuk melakukan perbaikan.
03:10Tetapi jangan lupa, ini adalah haknya anak-anak, ibu-ibu yang akan menerima MBG ini dan jangan sampai dihentikan.
03:19Saya kasih contoh satu, suatu ketika saya pernah beracara di Dapil saya.
03:25Dihadir oleh ibu-ibu dalam jumlah yang besar sekali.
03:27Dapil masih di Kota Bogor, Kabupaten Cianjur.
03:29Di Pulau Jawa, berbeda dengan Bung Andri, Bung Andri di luar Jawa.
03:33Di Kabupaten Cianjur.
03:35Mendadak di tengah-tengah acara, separuh dari ibu-ibu itu hilang.
03:38Saya tanya kemana? Mereka itu kembali ke posyandu-posyandu untuk menunggu datangnya makanan.
03:46Dan ketika saya lihat satu persatu, ternyata makanan itu bermutu, berkualitas.
03:51Itu masuk program MBG maksudnya?
03:53MBG.
03:53Oke, di posyandu.
03:54MBG yang dibagikan ke posyandu?
03:56Ibu-ibu.
03:57Oh, ibu-ibu hamil, ibu sui, ibu lansia, dan balita.
04:01Jadi mereka berhak dan mereka senang, antusias menerimanya.
04:06Jadi saya pikir program ini memang sudah pada dasarnya konseptualnya baik,
04:11tetapi pelaksanannya itu mekanis pengawasan harus diperketatkan.
04:14Konseptualnya baik, pelaksanannya harus diawasi dengan ketat.
04:18Saya boleh respon ya.
04:19Boleh dong, harus direspon.
04:21Soal stunting, kalau kita lihat data, stunting paling besar itu Papua Pegunungan, 40%.
04:29Berapa jumlah SPPG di sana?
04:3213.
04:34Sulawesi Barat, stunting itu 35%.
04:37Jumlah SPPG di sana 177.
04:40Jawa Barat, stunting hanya 15%.
04:43Jumlah SPPG di sana 6.357.
04:47Jadi anggapan bahwa ini adalah program penanganan stunting.
04:52Jadi nggak masuk akal dengan data hari ini.
04:54Pelaksanaannya nggak tepat, karena mungkin lebih banyak titik stunting di Papua.
04:57Karena lebih banyak di kota, stunting itu ada di daerah 3T.
05:02Nah sekarang solusinya, kemudian dibangun SPPG 3T misalkan ya.
05:08Tadi Mas Edy membayangkan dengan bis sekolah ya.
05:11Jangan-jangan di daerah 3T itu nggak butuh bis sekolah.
05:14Di Kalimantan itu butuh listrik, jalan yang baik, pendidikan yang layak, kesehatan yang layak.
05:21Artinya ada variasi yang luar biasa dari kebutuhan anak-anak di seluruh Indonesia.
05:26Itu kenapa saya hanya ingin bilang, saya mau respon juga.
05:30Soal anggapan bahwa masyarakat mendukung MBG.
05:33Saya mungkin kalau boleh undang mungkin Mas Edy dan Uda Andri untuk datang ke kampus-kampus.
05:39Cara melakukan riset preferensi publik.
05:44Nggak bisa kita hanya tanyakan, kamu suka nggak dengan MBG? Nggak bisa.
05:49Ada metodologinya.
05:51Karena kalau seandainya masyarakat ditanya, dapat makanan tentu lebih baik daripada tidak dapat makanan sama sekali.
05:58Pasti itu.
05:58Itu kenapa yang harus dilakukan adalah discrete choice method.
06:03Tawarkan pada mereka apa yang bisa dilakukan dan biarkan mereka memilih.
06:07Itulah yang kami lakukan di kampus.
06:10Apakah mereka butuh cash?
06:12Apakah butuh pendidikan gratis?
06:14Kesehatan yang layak?
06:15Dan beasiswa.
06:17Dan ternyata MBG itu ada di urutan keempat.
06:20Jadi saya hanya ingin bilang, kalau bicara soal keinginan masyarakat harus berbasis dengan bukti yang empiris juga.
06:28Saya memahami, saya memahami ini nggak mudah.
06:31Program sebesar ini kemudian dikelola dengan cara yang seperti ini.
06:37Tapi menurut saya, kita ada jendela yang sangat sempit.
06:42Dan saya berharap Pak Presiden menghentikan program ini.
06:45Karena kalau seandainya tidak dihentikan dan pelaksananya masih punya konflik kepentingan, ini tidak akan selesai.
06:54Tahun 2027, 28, 29 kita akan berbicara masalah yang sama.
07:00Dan satu lagi mas, saya meneliti tentang bantuan sosial di hampir seratusan negara seluruh dunia.
07:07Dan hanya di Indonesia yang setengah jumlah bantuan sosialnya itu dinikmati oleh penyelenggaranya.
07:15Kalau bicara soal hak anak-anak itu bukan 8 ribu sebetulnya, 15 ribu anggaranya.
07:22Dan 7 ribunya habis untuk penyelenggaraan.
07:26Dan hanya di Indonesia penyelenggaraan memakan setengah dari bantuan sosial untuk hak masyarakat.
07:33Membahasakan ini ke masyarakat nggak mudah.
07:36Ini bahasa teknokratik yang juga harus dihitung dengan bahasa teknokratik.
07:42Ini bukan keputusan politik.
07:46Kalau seandainya politik dikombinasikan dengan teknokratik itu hasilnya akan baik.
07:52Tapi yang terjadi sekarang, politik menjadi nomor satu dan satu-satunya pertimbangan dalam pelaksanaan MBG ini.
08:00Bung Andre, apa betul politik satu-satunya pertimbangan dalam MBG?
08:03Tapi tidak kan?
08:04Ini lebih kepada perjuangan seorang Presiden Prabowo yang tidak lagi ada orang-orang miskin dan sebagainya.
08:11Saya harus menjawab secara fair menyeluruh.
08:14Tadi dibilang efisiensi dilakukan oleh pemerintah dengan menyisir anggaran itu semua dipakai untuk MBG.
08:23Itu tidak benar.
08:25Pemerintah Presiden Prabowo sejak mendapatkan mandat dari rakyat dan dilantik,
08:30dia memang melakukan penyisiran anggaran untuk melakukan efisiensi.
08:34Dan diambil dari pendidikan.
08:35Bukan dari pendidikan, contoh saja.
08:38Di Undang-Undang APBN 2026, diambil dari pendidikan.
08:44Jadi saya tidak berhenti, kita melakukan penyisiran.
08:50Banyak anggaran yang tidak bermanfaat, kita hentikan.
08:54Dan uang itu bukan hanya untuk MBG.
08:56Contoh saya kasih tahu, bagaimana Presiden memberikan uang,
09:02Menteri Pertanian minta.
09:03Pak, kita harus bantu petani.
09:06Supaya pupuknya murah dan pupuknya bisa dinikmati oleh petani.
09:12Itu diberikan berapa puluh triliun untuk diberikan untuk pupuk.
09:16Sehingga petani sekarang gampang mendapatkan pupuk dan jauh lebih murah.
09:20Lalu petani bilang,
09:22Pak, bagaimana kita misalnya harga gabah selama ini sangat rendah.
09:27Petani selalu hidup dalam komiskin.
09:30Presiden, baru era Presiden Prabowo,
09:33bilang kita beli di 6.500, itu pakai anggaran.
09:36Belum lagi irigasi.
09:38Itu disiapkan juga 12 triliun.
09:41Lalu perbaikan sekolah.
09:43Saya bilang sekolah tidak diperbaiki.
09:44Ada 14 triliun.
09:46Lalu puskesmas diberbagi desa, kampung-kampung diperbaiki.
09:49Bahkan rumah sakit, tipe C, diberbagi 3T,
09:53dibangun oleh pemerintah.
09:55Listrik desa, itu juga dilaksanakan.
09:59Jadi jangan membangun narasi seakan-akan.
10:01Pemerintah itu hanya mengurus MBG.
10:03Semua.
10:04Bahkan kampungnya beliau, satu kampung masih ada di Sumatera Barat.
10:07Siapa bilang efisiensi itu mengurai anggaran transfer ke daerah.
10:11Uang DAK-nya iya, kurang.
10:14DAK-nya betul kan?
10:15DAK itu dirubah menjadi impress jalan daerah, impress infrastruktur daerah.
10:19Sumatera Barat itu menikmati banyak.
10:22Untuk dana rehab-recon saja.
10:24Soal pengalaman yang pendidikan?
10:25Dana rehab-recon saja, untuk Sumatera Barat itu 18,9 triliun.
10:29Untuk merehab-recon Sumatera Barat.
10:30Belum lagi perbaikan jalan, jembatan, stadion Sumatera Barat yang rusak itu.
10:36Bertahun-tahun, kita perbaiki.
10:38Sekarang tol juga akan dibangun.
10:40Rere kira-kira tapi.
10:41Jadi, jangan bilang semua dihemat, lalu pembangunan daerah nggak ada.
10:45Saya kasih contoh di Kampung Mas Media aja, Sumatera Barat.
10:48Daerah pemilihan saya.
10:49Itu luar biasa.
10:51Triliunan rupiah masuk untuk mengguyur Sumatera Barat.
10:54Jadi, jangan kita bangun narasi efisiensi ini membuat pemerintah tidak ada kerjaan.
11:01Seakan-akan kerja pemerintah MBG.
11:02Termasuk kita membangun daerah.
11:05Pertanyaannya adalah, jadi bukan hanya MBG.
11:08Bung Andre, iya betul.
11:09Tidak hanya MBG, tapi fokus di MBG secara tema hari ini adalah,
11:12gimana caranya supaya publik itu tidak selalu punya prasibu,
11:16oh ini bancakan nih partai politik.
11:17Ini bancakan partai politik.
11:18Saya kira ini tantangannya.
11:20Karena di berbagai demo juga salah satu yang disuarakan itu.
11:23Tuh.
11:25Bung Media dan kawan-kawan.
11:25Saya sepakat itu.
11:26Bung Media dan kawan-kawan.
11:27Jangan jadi bancakan.
11:28Itu juga sama menyuruhkan itu.
11:30Tapi kemana masyarakat tidak curiga?
11:32Karena siapa yang punya yayasan?
11:36TNI.
11:36Siapa yang punya yayasan?
11:37Polisi.
11:38Ada seribuan dapur polisi.
11:40TNI 400an dari target 2000.
11:44Siapa yang punya yayasan?
11:44Kita juga punya.
11:45Tentu saja.
11:46Semua partai punya.
11:47Tentu saja.
11:47Jadi di Suparno tidak punya.
11:48Oh oke.
11:48Bisa pastikan itu.
11:50Jadi sekarang saya juga tidak punya.
11:52Saya akan sambung setelah jika.
11:53Kita akan cek lagi siapa saja yang punya.
11:55Dan sebaiknya siapa yang mengelola ini.
11:57Satu meja akan kembali setelah yang satu ini.
12:00Terima kasih.
Komentar