Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Fahri Hamzah menegaskan Presiden Prabowo Subianto merupakan sosok yang terbuka terhadap kritik selama disampaikan secara rasional dan didukung data yang kuat.

Menurut Fahri, kritik yang berlebihan atau bernada sinis berpotensi menimbulkan resistensi. Namun, masukan yang disampaikan secara objektif justru disukai Presiden.

Fahri juga menilai pemerintah saat ini tengah berupaya melakukan transformasi ekonomi agar tidak hanya dinikmati kelompok tertentu.

Namun pandangan berbeda disampaikan Akademisi Universitas Andalas Feri Amsari.

Ia menilai persoalan yang terjadi saat ini bukan soal ekonomi kerakyatan, melainkan kecenderungan menguatnya militerisme dalam kehidupan sipil.

Feri juga mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya sulit diterima publik.

Ia menyinggung keberadaan Koperasi Desa Merah Putih yang menurutnya memunculkan pertanyaan di masyarakat, usai viral karena dibangun di tengah hutan.

"Sekarang pemerintah nggak bisa nipu-nipu publik, Bang," katanya.

Feri kemudian mempertanyakan kembali posisi Fahri Hamzah terkait isu militerisme dan keterlibatan aparat di ruang sipil. Feri menegaskan kekhawatirannya terhadap meluasnya peran militer di luar tugas konstitusional.

Bagaimana menurut Anda?



Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/oBI5xUrGghs



#feriamsari #fahrihamzah #aktivis

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674614/debat-fahri-hamzah-sebut-prabowo-dengar-kritik-feri-amsari-ingatkan-bahaya-aparat-di-ruang-sipil
Transkrip
00:00Ada ruang koreksi gak Bung Fahri? Kan yang diinginkan adalah ruang koreksi kan? Perbaikan.
00:05Ya salah satu pertanyaan besar yang Mbak Rosi sampaikan adalah berani tidak melakukan perbaikan di kabinet yang 110 itu menjadi
00:13lebih sederhana.
00:15Dikonsiskan menjadi tepat sasaran.
00:18Saya kira ya kalau selama Anda rasional ya Bung Fahri dan kawan-kawan, Anda pasti akan didengar oleh Pak Prabowo.
00:25Orang itu mendengar orang yang rasional. Mungkin dia terpancing kalau ada orang yang sinis, ada orang yang berlebihan lah kira
00:37-kira gitu ya.
00:37Tapi kalau orang rasional, punya data, punya argumen, dia senang banget itu.
00:42Dan menurut saya itulah optimisme kita karena presiden kita itu logis gitu.
00:48Dia mengerti bahwa kita boleh berbeda pendapat dengan orang.
00:53Tapi kalau orang itu logis, dia punya data, dia punya argumen, mungkin saja dia punya kebenaran yang harus kita dengar.
01:02Nah kadang-kadang cara ekspresinya mungkin ada keterbatasan, tidak ada manusia yang sempurna.
01:06Tapi untuk kita ketahui bahwa gerakan mahasiswa sendiri kan selalu diuji oleh realitas.
01:13Kita dulu juga, Rosy, kalau kita lagi demo-demo di awal itu.
01:17Kalau masyarakatnya itu memang merasa tidak ada yang berat, mereka tidak ditindas, mereka dikasih makan, dibikinkan kooperasi.
01:25Ada banyak masalah di sini, tapi Pak Prabowo ingin mentransformasi ekonomi yang tadinya cuma dikuasai oleh, mohon maaf ya, oleh
01:33segelintir orang.
01:34Oleh Pak Prabowo sekarang ini ekonomi itu mau diserahkan kepada masyarakat bawah.
01:39Bikinlah kooperasi, bikinlah gabungan.
01:41Saya nggak sepakat poin itu Bang, poin itu berulang-ulang bagi saya soal sosialisme, ekonomi gaya baru dan segala macam.
01:47Yang ada bagi saya adalah fasisme, cerita soal ultranasionalisme, berbalut jubah yang dinamakan militeristik,
01:56dan mengambil ruang-ruang publik sipil menjadi lebih jauh.
01:59Sekarang pemerintah nggak bisa nipu-nipu publik Bang, kooperasi merah putih itu ada yang di hutan Bang.
02:05Itu bagaimana menjelaskannya?
02:07Bu, Anda baru melihat itu kepala BGN-nya ditangkap masuk buwi.
02:11Ya tidak ada hubungan dengan kooperasi merah putih.
02:13Oh enggak, siapapun.
02:13Ini militeristik yang ada.
02:15Gak ada, Pak Prabowo gak akan melindungi siapapun.
02:17Bagi saya, Abang perlu menjawab.
02:20Abang perlu menjawab dulu.
02:22Bagaimana gagasan Abang soal militeristik yang multifungsi, soal polisi yang masuk ke ruang-ruang sipil.
02:29Bukankah itu sesuatu yang Abang tentang dulu?
02:32Oh gini?
02:32Ini hari ini kita membangun sesuatu yang tidak profesional.
02:35Itu kan ahli tata negara.
02:36Ya itu tidak perlu.
02:38Tata negara yang bilang tugas militer dan polisi cuma satu, Bang.
02:41Iya tapi semua ada metode-nya.
02:44Itu bukan metode.
02:44Seberapa takut Anda memang militeristik itu benar-benar masuk ke ruang-ruang sipil?
02:48Apa ini tidak ada di depannya?
02:49Sangat-sangat takut.
02:51Karena apa yang terjadi di Lengteng Agung, Bang.
02:54Betapa militer dengan mudah memukul publik.
02:57Apa yang terjadi di berbagai desa, bagaimana tanah publik dicaplok.
03:01Apa yang terjadi dengan kooperasi desa yang digantikan oleh kooperasi merah putih.
03:06Ini bagaimana wajah militer yang tidak tepat sasaran.
03:10Konstitusi kita sederhana.
03:12Tugas mereka pertahanan, melindungi kita.
03:15Kewajiban negara memastikan kesejahteraan bagi militer kita.
03:19Bukan memberikan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
03:23Polisi kita juga tidak sejahtera.
03:25Pastikan dia sejahtera.
03:26Bagaimana bisa mereka menangkap para begal, bandar judul, bandar narkoba.
03:32Kalau parlemen dan partai tidak memikirkan nasib mereka.
03:36Tapi mereka dipaksa melakukan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
03:42Dan itu dilakukan oleh Presiden dan berbagai menteri-menterinya.
03:46Oke.
Komentar

Dianjurkan