Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wamen Perumahan dan Kawasan Permukiman, Fahri Hamzah mengatakan bahwa Presiden Prabowo Subianto banyak disalahpahami.

"Kalau menurut saya ada banyak alasan untuk salah paham kepada Pak Prabowo. Salah satunya adalah trauma generasi yang sering saya katakan, pada generasi reformasi itu mereka mendengar dan menikmati fitnah tentang Pak Prabowo yang menumpuk banyak sekali, sehingga kadang-kadang fitnah itu belum keluar dari pikiran mereka," ujar Fahri.

Baca Juga Debat Panas! Fahri Hamzah vs Feri Amsari soal Militer Masuk Ruang Sipil | ROSI di https://www.kompas.tv/talkshow/674560/debat-panas-fahri-hamzah-vs-feri-amsari-soal-militer-masuk-ruang-sipil-rosi

#prabowo #fahrihamzah #feriamsari

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Galih

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674562/blak-blakan-fahri-hamzah-bilang-prabowo-banyak-disalahpahami-karena-fitnah-masa-lalu-rosi
Transkrip
00:02Anda masih di program Rosi Ruang Opini Sumber Informasi, saya Rosiana Silalahi.
00:07Presiden Prabowo mengatakan selama ini Indonesia salah arah, kekayaan negara hanya dikuasai oleh segelintir orang.
00:13Saya masih bersama dua aktivis, aktivis 98 yang sekarang ada di Kabinet Merah Putih, Fahri Hamzah, dan aktivis pro-demokrasi,
00:20sekaligus pengajar di Universitas Andalas, Fahri Ansari.
00:24Presiden Prabowo kerap menekankan bahwa ia ingin mengembalikan ekonomi Indonesia, supaya juga memberikan keadilan.
00:34Bung Fahri Hamzah selalu saya dengar mengatakan bahwa berhentilah kita mencurigai Presiden Prabowo karena selama ini tujuannya baik.
00:44Apakah orang-orang seperti Bung Fahri Hamzah ini, para aktivis, mahasiswa ini memang tidak paham dan kerap mencurigai Presiden Prabowo?
00:54Sehingga tidak menangkap maksud baiknya.
00:57Saya mengikuti Pak Prabowo cukup lama ya, baik dalam pikiran maupun bertemu dalam realitas begitu.
01:06Dan kalau kita baca memang dia adalah seorang pembaca, seorang yang menulis sebelum berkuasa.
01:13Dan orang yang datang dengan agenda, bahkan agendanya itu adalah agenda transformasi besar-besaran.
01:21Itu sebabnya saya cocok dengan istilah arah baru, bahkan memakai istilah Indonesia ingin menjadi negara kuat, negara super power dan
01:30sebagainya.
01:30Itu karena sekali lagi dia sudah tulis, kalau kita baca paling tidak ada dua buku yang beliau tulis tentang itu.
01:38Pertama, paradoks Indonesia itu kan kritik kepada sistem.
01:41Negara kaya tapi banyak mengimpor penghasil CPO terbesar di dunia, tapi minyak gorengnya sering langkah dan harganya tinggi.
01:52Kekayaan kita yang tidak dikelola secara amanah.
01:55Dan kita tahu pesa pora tambang, pesa pora mineral, CPO.
01:59Kalau itu tujuan yang baik, kenapa itu tidak bisa diterima dengan baik?
02:02Ya, makanya itu kan pertanyaan nanti saya ingin dialog dari hati ke hati, Bung Ferry ini.
02:08Karena menurut saya, saya...
02:09Tapi saya termasuk yang tidak percaya, Presiden suka membaca, Bang.
02:12Termasuk?
02:14Karena ciri-ciri membaca itu gampang, Bang.
02:16Kalau saya yakin Rosyana Silalahi dan Fahri Hamzah membaca, saya bisa lihat dari rangkaian diksi yang dia gunakan ketika bicara.
02:25Dan ini bukan tipe orang yang rajin membaca.
02:28Saya mau baca.
02:28Bagi saya, hentikan cerita mengagung-agungkan Presiden rajin membaca.
02:32Tapi saya, tapi Bung Kari, izinkan saya koreksi sedikit.
02:35Mungkin dalam bahasa Indonesia, karena beliau membaca bahasa Inggris dan kerap berbahasa Inggris.
02:41Bisa jadi ketika menerjemahkan ke bahasa Inggris?
02:44Saya, dia salah membaca soal Indonesia.
02:47Terlalu banyak membaca buku asing dan Inggris.
02:50Ini saya mau teruskan.
02:51Buku pertama itu ada kritik sistem.
02:54Dan kritik sistem itu di masa Pak Jokowi, buku itu masih diterbitkan, diberi judul dan solusi-solusinya.
03:01Lalu kemudian mulai berbicara dan berkomunikasi dengan Presiden.
03:06Dan menurut saya, itu salah satunya sebab kenapa pada akhirnya kemudian terjadi koalisi dengan Pak Jokowi.
03:12Karena agenda-agenda independensi, kemandirian bangsa, hiririsasi dan sebagainya itu memang secara ngotot diperjuangkan.
03:21Dan Pak Jokowi setuju untuk melakukan itu.
03:24Lalu muncullah buku yang kedua, itu Strategi Transformasi Bangsa.
03:28Oke, tapi kita jangan bicara buku.
03:29Yang dibayangkan oleh Pak Prabowo itu adalah satu skala transformasi.
03:34Saya sebagai generasi reformasi yang mendobrak otoritarianisme seperempat abad yang lalu lebih,
03:42melihat bahwa dalam semua kepemimpinan Indonesia dalam transisi,
03:46saya melihat hanya Prabowo yang bisa memberikan harapan pada perubahan yang mendasar.
03:51Setelah era reformasi?
03:52Ya, setelah era reformasi.
03:53Karena kalau kita lihat, itu berbahaya sekali ya.
03:57Pertumbuhan ekonomi kita ini flat.
03:59Jumlah orang miskinnya itu nambah atau berkurang sedikit.
04:03Jumlah kelas menengahnya juga flat.
04:05Tapi jumlah orang kayanya itu luar biasa.
04:08Melompat.
04:09Dan itu menciptakan ketimbangan.
04:10Kalau tujuannya baik, mengapa itu tidak bisa dibaca dengan baik?
04:13Sekarang kita berbicara ke soal kedua.
04:14Kenapa Pak Prabowo disalahpahami?
04:16Kalau menurut saya ada banyak alasan untuk salahpaham kepada Prabowo.
04:20Salah satunya adalah trauma generasi yang sering saya katakan.
04:24Pada generasi reformasi itu,
04:27mereka mendengar dan menikmati fitnah tentang Pak Prabowo itu yang menumpuk,
04:32yang banyak sekali.
04:33Sehingga kadang-kadang fitnah itu belum keluar dari pikiran mereka.
04:37Dan masih memanggap bahwa Pak Prabowo itu seperti yang difitnahkan oleh orang di masa lalu.
04:42Tapi kalau kita bicara mahasiswa sekarang,
04:44mereka tidak merasakan mendengar fitnahan itu.
04:46Yang mereka lihat soal MBG, mereka lihat soal anggaran pendidikan.
04:50Nanti kita jelaskan yang itu.
04:52Tapi ini saya bicara satu layar dari generasi yang memang menyimpan trauma seperti itu.
04:56Tapi makanya saya mengerti,
05:00problem kedua itu memang ada problem kultural.
05:03Antara sebagian orang dengan cara Pak Prabowo berkomunikasi,
05:07subkultur yang dia bawa,
05:09latar belakang pendidikan yang dibawa,
05:10itu memang tidak mudah.
05:12Orang ini pinter, cerdas berpikir dengan bahasa asing yang tadi Mbak Rosi katakan.
05:17Itu konfidennya sangat tinggi.
05:18Ketemu pemimpin-pemimpin negara,
05:20itu sangat konfiden.
05:22Saya mengikuti beberapa pertemuan tertutup dengan pimpinan-pimpinan negara.
05:26Konfidennya luar biasa.
05:27Dan saya kira ini adalah salah satu presiden yang punya konfiden besar
05:30dalam sejarah Indonesia yang menurut saya kita perlukan.
05:32Tapi memang kemudian oleh kita dianggap ini melanjutkan salah paham kita karena cara berkomunikasi tadi itu.
05:41Tapi bagi mereka yang punya kesempatan mendekat kepada Pak Prabowo,
05:45saya lihat dia berubah.
05:46Coba lihat sekarang ini ya, di dalam kabinet itu.
05:48Yang terakhir masuk ini jumur.
05:50Ini kan generasi-generasi yang sebenarnya alergi dengan order baru.
05:54Karena mereka ini yang melawan order baru.
05:56Ada Budiman, ada anak-anak PRD di situ paling banyak, Gus Jabu, dan sebagainya.
06:01Tapi mereka setelah ketemu dengan Pak Prabowo,
06:03mereka mengatakan inilah pejuang kita.
06:05Dan dengan orang inilah kita menjalankan seluruh agenda reformasi yang pernah kita punya dulu.
06:10Dan itu yang menyebabkan mereka sekarang hadir menjadi pembela Pak Prabowo.
06:13Nah di sebagiannya mungkin memang masih memelihara,
06:17salah paham, dan sebagainya.
06:18Tapi menurut saya kenapa tidak? Berkomunikasi.
06:21Oh jadi cara untuk tidak salah paham diajak ke kabinet ya?
06:25Enggak, berkomunikasi.
06:27Saling memahami, ya kan?
06:29Kan kita ini mau bertengkar apa Mbak Rosi?
06:31Apa yang mau kita bertengkarkan?
06:32Mau menang-menangan apa kita ini?
06:34Kita kan, Pak Prabowo ingin ngasih makan rakyat.
06:36Ingin agar stunting hilang.
06:38Ingin korupsi sumber daya alam hilang.
06:40Lah apa yang beda? Apa yang rusak dari semua itu?
06:43Tujuan yang baik sering sekali disalahpahami.
06:46Mbak, Anda menjawab hal itu.
06:48Itu bagian kedua dari kesalahan Bang Fahri menilai aksi besok dan generasi yang ada saat ini.
06:55Beliau mengukurnya dari hal yang sama, bahwa Pak Prabowo sudah berubah dari yang dulu.
07:02Padahal yang memfitnah cerita soal Pak Prabowo kan generasinya abang tuh dalam masa-masa itu.
07:08Jadi tidak ada soal dengan generasi sekarang.
07:10Mereka tidak melihat itu.
07:11Persis itu yang tadi saya katakan.
07:14Adalah kondisi kekinian.
07:16Kabinet 110 orang untuk apa gunanya.
07:20Bahwa kebijakan tidak tepat sasaran soal MBG.
07:25Itu uang negara triliunan per hari gitu ya.
07:29Lalu kemudian kebijakan ekonomi yang tumpang tidih satu sama lain.
07:34Kebijakan global yang out-outan, yang jauh dari kita cita bangsa.
07:38Dan itu ingin Anda jelaskan atau tekankan bahwa itu gak ada hubungannya dengan salah paham.
07:43Karena mereka juga waktu itu tidak mengetahui soal latar belakang Prabowo.
07:46Mereka tidak terikat dengan cerita yang disebarkan oleh Bang Fahri dan teman-temannya soal Pak Prabowo dulu.
07:53Mereka terikat dengan kondisi saat ini.
07:55Mereka masih merasakan UKT yang mahal, mencekik mereka.
07:59Kebijakan pendidikan yang berganti, berubah-ubah.
08:03Itu yang mereka ingin gaungkan.
08:05Sementara Presiden terlalu sibuk berpidato, berjam-jam tanpa ada solusi.
08:12Hari ini kita bisa lihat, memang ada keinginan pemerintah mengatakan kondisi ekonomi kita baik-baik saja.
08:19Fundamental ekonomi kita oke.
08:21Saya yakin orang sekelas Bang Fahri, saya mengikuti Bang Fahri juga dari dulu.
08:26Sebagai seorang aktivis.
08:28Kalau Bang Fahri di luar kekuasaan, saya yakin ini seluruh kebijakan sudah dibidas oleh Fahri Hamzah.
08:36Rasionalitasnya, tabrakan logikanya pasti dihajar oleh seorang Fahri.
08:41Hanya karena dia sekarang sedang ada di bagian itu, dia akan memuji Presiden.
08:46Ini adalah sebuah kesalahpahaman.
08:48Jadi menurut saya, yang perlu dilakukan istana adalah bukan membangun rasionalitas terhadap sesuatu yang salah.
08:56Tapi pastikan kebijakan itu betul-betul tepat sasaran.
09:00Ada ruang koreksi ga Bang Fahri?
09:02Kan yang diinginkan adalah ruang koreksi kan?
09:04Perbaikan.
09:04Salah satu pertanyaan besar yang Mbak Rosi sampaikan adalah berani tidak melakukan perbaikan di kabinet yang 110 itu menjadi lebih
09:14sederhana.
09:15Dikonsaiskan menjadi tepat sasaran.
09:17Saya kira ya kalau selama Anda rasional ya, Bung Fahri dan kawan-kawan, Anda pasti akan didengar oleh Pak Prabowo.
09:26Orang itu mendengar orang yang rasional.
09:29Mungkin dia terpancing kalau ada orang yang sinis, ada orang yang berlebihan lah kira-kira gitu ya.
09:37Tapi kalau orang rasional, punya data, punya argumen, dia senang banget gitu.
09:42Dan menurut saya itulah optimisme kita karena presiden kita itu logis gitu.
09:48Dia mengerti bahwa kita boleh berbeda pendapat dengan orang.
09:53Tapi kalau orang itu logis, dia punya data, dia punya argumen, mungkin saja dia punya kebenaran yang harus kita dengar.
10:02Nah kadang-kadang cara ekspresinya mungkin ada keterbatasan, tidak ada manusia yang sempurna.
10:06Tapi untuk kita ketahui bahwa gerakan mahasiswa sendiri kan selalu diuji oleh realitas.
10:13Kita dulus juga, Mbak Rosi, kalau kita lagi demo-demo di awal itu.
10:17Kalau masyarakatnya itu memang merasa tidak ada yang berat, mereka tidak ditindas, mereka dikasih makan, dibikinkan kooperasi.
10:25Ada banyak masalah di sini, tapi Pak Prabowo ingin mentransformasi ekonomi yang tadinya cuma dikuasai oleh,
10:31mohon maaf ya, oleh segelintir orang, oleh Pak Prabowo sekarang ini ekonomi itu mau diserahkan kepada masyarakat bawah.
10:39Bikinlah kooperasi, bikinlah kampung tanya.
10:41Poin itu berulang-ulang bagi saya, soal sosialisme, ekonomi gaya baru dan segala macam.
10:47Yang ada bagi saya adalah fasisme, cerita soal ultranasionalisme, berbalut jubah yang dinamakan militaristik,
10:56dan mengambil ruang-ruang publik sipil menjadi lebih jauh.
10:59Sekarang pemerintah nggak bisa nipu-nipu publik, Bang.
11:02Kooperasi Merah Putih itu ada yang di hutan, Bang.
11:05Iya.
11:05Itu bagaimana menjelaskannya?
11:07Bu, Anda baru melihat itu kepala BGN-nya ditangkep masuk buwi.
11:11Ya tidak ada hubungan dengan kooperasi Merah Putih.
11:13Oh enggak, siapapun.
11:13Ini militaristik yang ada.
11:15Pak Prabowo nggak akan melindungi siapapun, Bung Feli.
11:18Bagi saya, Abang perlu menjawab.
11:20Abang perlu menjawab dulu.
11:22Bagaimana gagasan Abang soal militaristik yang multifungsi,
11:27soal polisi yang masuk ke ruang-ruang sipil.
11:29Bukankah itu sesuatu yang Abang tentang dulu?
11:32Oh, gini.
11:32Ini hari ini kita membangun sesuatu yang tidak profesional.
11:35Anda ahli tata negara.
11:36Ya, itu tidak profesional.
11:38Tata negara bilang tugas militer dan polisi cuma satu, Bang.
11:41Iya, tapi semua ada metode.
11:43Yaitu pertahanan dan kampan.
11:44Itu bukan metode.
11:44Seberapa takut Anda memang militaristik itu benar-benar masuk ke ruang-ruang sipil?
11:48Apa ini juga di depannya?
11:49Sangat-sangat takut.
11:50Gini loh, karena apa yang terjadi di Lengteng Agung, Bang.
11:54Betapa militer dengan mudah memukul publik.
11:57Apa yang terjadi di berbagai desa, bagaimana tanah publik dicaplok.
12:02Apa yang terjadi dengan kooperasi desa yang digantikan oleh kooperasi merah putih.
12:06Ini bagaimana wajah militer yang tidak tepat sasaran.
12:10Konstitusi kita sederhana.
12:12Tugas mereka pertahanan, melindungi kita.
12:15Kewajiban negara memastikan kesejahteraan bagi militer kita.
12:18Bukan memberikan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
12:23Polisi kita juga tidak sejahtera.
12:25Pastikan dia sejahtera.
12:26Bagaimana bisa mereka menangkap para begal, bandar judul, bandar narkoba kalau parlemen dan partai tidak memikirkan nasib mereka.
12:36Tapi mereka dipaksa melakukan pekerjaan di luar tugas konstitusionalnya.
12:42Dan itu dilakukan oleh Presiden dan berbagai menteri-menterinya.
12:46Oke, kita berikan jawaban oleh Bung Fahri setelah ini.
12:49Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan