Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Akademisi Universitas Andalas sekaligus aktivis prodemokrasi, Feri Amsari menyoroti sejumlah kebijakan pemerintah yang menurutnya tidak berjalan baik, termasuk komunikasi publik yang dinilai tidak ditangani oleh figur profesional.

"Itu yang menyebabkan kita merasa kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid 2 bahkan mungkin lebih dari itu untuk membangun kesadaran di diri presiden sendiri dia sedang terpeleset dan dia harus bangkit dengan cara yang benar," katanya.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman sekaligus mantan aktivis 1998, Fahri Hamzah, menegaskan bahwa setiap gerakan publik harus dipandang sebagai alarm bagi pemerintah.

Fahri juga mengingatkan bahwa kritik publik merupakan bagian penting dari demokrasi yang tidak boleh dibungkam.



Bagaimana menurut Anda?



Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/oBI5xUrGghs



#feriamsari #fahrihamzah #aktivis

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674611/feri-amsari-resah-kebijakan-prabowo-fahri-hamzah-suara-publik-tak-boleh-dibungkam-rosi
Transkrip
00:00Saya mau masuk ke sini, kekecewaan selama satu setengah tahun, tidakkah itu terlalu singkat untuk langsung menilai ada satu kegagalan
00:07sehingga ini bisa masuk ke reformasi jilid kedua?
00:10Ya, terlalu singkat kalau kita memahami bahwa ini hal yang wajar untuk kita beri waktu lebih panjang.
00:17Tapi kalau dilihat satu setengah tahun ini, terplesetnya sangat luar biasa.
00:22Kesalahan menghitung matematika itu saja Mbak Rosi, terjadi tiga kali.
00:26Jadi, nasihat publik agar tidak terlalu panjang berkunjung ke luar negeri tidak didengarkan.
00:32Orang-orang yang tampil di depan bukanlah profesional yang matang bekerja.
00:37Mohon maaf saya, saya bukan mau mengadu-adu juga.
00:39Kalau soal bicara ke depan publik, kayaknya jauh lebih bagus Fahri Hamzah dibandingkan, saya skap gitu ya.
00:46Tetapi itu menunjukkan sesuatu bagi kita bahwa orang yang ditampilkan oleh istana bukanlah profesional.
00:54Orang yang mestinya bisa diambil istana untuk meredam keinginan publik mengubah sesuatu.
01:01Kita masih punya si A, kita masih punya si B yang bekerja baik.
01:06Ini semuanya berantakan.
01:07Ekonomi berantakan, kebijakan luar negeri berantakan, perdagangan berantakan.
01:13Dan semua menimbulkan pertanyaan besar di mana peran presiden sebagai leader.
01:18Itu yang menyebabkan kita merasa, kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid dua, bahkan mungkin lebih dari itu, untuk membangun kesadaran
01:29di diri presiden sendiri, dia sedang terpleset dan dia harus bangkit dengan cara yang benar.
01:35Sebagai aktivis 98 yang ada di pemerintahan, seberapa, bagaimana Anda merasa ini ada benarnya atau merasa ini sama sekali tidak
01:44mendasar?
01:46Dunia ini sedang berubah.
01:48Saya kira setiap kehendak untuk menyamakan masa kini dengan masa lalu itu terlalu jauh.
01:57Karena instrumen-instrumen yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri, teknologi, ruang publik, keterbukaan, dan semua desain yang kita sudah letakkan dalam
02:10konstitusi kita,
02:11sehingga menjadi konstitusi yang diantara yang paling demokratis di dunia ini, tidak memungkinkan kita kembali ke belakang.
02:19Kalau kita membaca, Bung Ferry adalah seorang ahli konstitusi kita, kalau kita membaca amandemen keempat, itu kan totalnya kira-kira
02:29tinggal 12 persen pasal yang tidak berubah.
02:34Dan pasal-pasal itu yang berubah adalah pasal yang betul-betul menuntaskan seluruh elemen-elemen otoriter di dalam negara kita.
02:43Masa jabatan presiden dibatasi, keterbukaan informasi publik, independensi pengadilan, dan sebagainya.
02:52Termasuk memisahkan antara militer dengan...
02:55Tapi kalau tadi mendengar penjelasan Bung Ferry, apakah aksi untuk aksi mahasiswa turun ke jalan, itu juga menjadi alarm bagi
03:03pemerintah?
03:03Kalau menurut saya, setiap pergerakan publik itu adalah alarm.
03:07Dan karena itulah semakin terbuka hati kita dan telinga pemerintahan, itu semakin baik untuk kita memahami dinamika apa yang sedang
03:21terjadi.
03:22Makanya dulu Mbak Rosi pernah saya mengusulkan adanya alun-alun demokrasi di DPR waktu saya memimpin DPR dulu,
03:30supaya kita melihat di sebelah situ ada demo enggak?
03:32Selain sekarang ini demonya itu pindah ke sosial media, memangnya itu problematik karena definisi dari ruang publik itu berpindah dari
03:39ruang publik fisik kepada ruang digital.
03:43Tapi maksudnya itu suara masyarakat itu, karena masyarakat kita banyak, jarak juga banyak, itu tidak boleh dibungkam.
03:50Dan itu harus dibiarkan ada dan kita mendengarnya itu sebagai cara kita untuk mengerti apa yang difikirkan oleh masyarakat.
04:00Jadi itu sebenarnya tidak ada masalah soalnya.
04:02Tapi kalau argumentasi mengapa mahasiswa turun kejalanan saat ini melihat bahwa situasi sekarang ini seperti kembali ke belakang.
04:09Ya, kalau dulu kita betul-betul tersumbat, kita mengomong dengan siapa di sini, ya kan?
04:16Konstitusinya mengizinkan otoritarianisme, kita enggak ada kebayang bahwa pemimpin kita akan diganti.
04:21Dan pemimpin ini sudah berkuasa lebih dari 30 tahun.
04:24Dan orang-orangnya itu ya diangkat seperti dan semaunya dia saja.
04:28Tidak ada keterbukaan informasi publik, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam negara.
04:32Kalau sekarang ini...
04:34Betul, tapi itu kan setelah berkuasa 30 tahun.
04:36Kalau kita melihat rekam jejak kalau Presiden Soeharto, sekarang malah orang mengingat di zaman Presiden Soeharto,
04:43menteri-menterinya luar biasa, teknokrat.
04:45Dan kalau tadi mengacu kepada penjelasan Bung Feru dibandingkan dengan pilihan menteri-menteri di Kabinet, Pak Pramu, jauh sekali.
04:53Dalam demokrasi itu memang ada penurunan kualitas orang-orang.
04:57Karena orang-orangnya menjadi biasa, dia dipilih di antara rakyat.
05:01Yang mencalonkan diri, kita lihat sendiri kan, anggota dewan kita kayak apa.
05:05Ya kan, termasuk yang terpilih atau yang diseleksi juga kan menjadi kualitasnya ada penurunan.
05:10Kalau kita lihat Putin, itu dia dipimpin oleh orang-orang hebat.
05:13Si Jinping, negara-negara otoriter yang kita bilang otoriter.
05:16Ini mereka dipimpin, apa namanya, dibantu oleh orang-orang yang hebat.
05:21Love rope, ya misalnya.
05:23Kalau begitu, hanya di rezim otoriter kita bisa mendapatkan orang-orang baik.
05:28Jadi bukan begitu, jadi begini, kita mesti mengerti dan membuat perbedaan bahwa...
05:33Karena kalau ketika Bu Fari bilang seperti itu, berarti orang akan melihat bahwa,
05:37oh, hanya di rezim yang otoriter kita dapat orang-orang baik.
05:42Ijinkan masyarakat bangsa Indonesia untuk kita bisa kembali ke otoritarianisme.
05:47Semuanya natural, semuanya natural.
05:48Karena kita mengizinkan partai politik banyak, lalu partai politik itu menyodorkan orang-orang.
05:53Dan kemudian orang-orang yang disodorkan itu menjadi bagian dari basket yang harus dipilih oleh Presiden.
05:59Itu semua adalah sistem yang kita buat.
06:01Apa boleh buat, akhirnya orang-orang itu ikut terseleksi dan mungkin kita tidak puas.
06:06Cuma cara kita bagi persoalan ini ada tiga.
06:09Kalau kita tidak puas kepada sistem baru kita bicara reformasi.
06:14Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja kelembagaan, kita melakukan evaluasi.
06:19Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja orang, kita minta Presiden untuk melakukan reshuffle.
06:24Dan itu semua sudah ada dalam lingkup cara kerja daripada negara demokrasi.
06:30Saya kasih jawaban Anda dulu.
06:31Saya merasa Bang Fahri salah memahami gerakan besok dan seterusnya soal apa yang dilakukan pemerintah.
06:40Bagaimana bisa salah memahami, kan aktivis.
06:42Karena beliau meletakkan pandangannya dari sisi romantisme di masa lalu.
06:49Memang judulnya terkesan akan membangkitkan cerita masa lalu.
06:54Tapi ini gerakan kekinian para pemuda ini.
06:58Mereka melihat beda Mbak Rosi.
07:00Bang Fahri kalau menariknya ke 98 itu salah.
07:05Apa bedanya?
07:05Yang harus ditarik adalah peristiwa Nepal.
07:08Beberapa negara di Asia, beberapa negara di Eropa yang mempertanyakan pemerintahannya.
07:16Dengan internet yang beliau ceritakan belakangan.
07:20Kita mengetahui sumber informasi kekesalan yang sama juga terjadi di pemuda-pemuda kita.
07:27Saya ngerti maksudnya Bung Fahri.
07:30Jadi jangan melihat aksi demonstrasi ini yang kemudian loh semuanya kalau dulu di Orde Baru itu karena semua tersumbat.
07:39Sekarang kan gak tersumbat jadi harusnya jangan samakan dengan aksi reformasi.
07:44Karena seperti di Nepal itu karena bagaimana melihat pejabat yang hidup berfoya-foya sementara masyarakatnya makin susah.
07:50Jadi hanya karena melihat ketimpangan yang kemudian dipertontonkan secara serampangan dan itu memunculkan ketidakadilan itu pun bisa memantik aksi masiswa.
08:00Salah satu faktornya soal ketimpangan kekesalan misalnya terhadap MBG bahwa MBG sudah diprediksi ini akan menimbulkan penyakit korupsi tidak tepat
08:12sasaran meminta pemerintah melakukan piloting terlebih dahulu sabar dengan membentuk mekanisme yang tepat misalnya melalui undang-undang.
08:21Peringatannya sudah panjang. Begitu terjadi korupsinya, begitu terjadi keracunannya, orang sudah menumpuk kekesalan-kekesalan itu menjadi sangat tinggi.
08:33Dan besok mungkin jadi salah satu puncak awal dari berbagai kekesalan-kekesalan yang ada.
08:40Mereka juga kesal dengan respon-respon para menteri terkait dengan dolar yang kian tinggi, rupiah yang kian anjlok.
08:49Di respon seolah-olah tidak ada masalah.
08:51Dan itu bukan tabiat leadership.
08:55Leadership itu harusnya dengan penuh kesadaran memahami perasaan orang.
09:01Dan itu tidak terjadi di dalam pemerintahan Pak Presiden Prabowo.
09:04Orang sedang kesusan masih saja berkunjung ke luar negeri.
09:08Saya berani bertaruh dengan Bang Pari walaupun tidak boleh secara agama bahwa kunjungan ke Rusia besok akan singgah juga ke
09:15Perancis.
09:16Dan itu bagi saya sangat menakutkan.
09:19Kalau kesadaran teguran orang tidak diterima oleh pemimpin, dan pemimpin melupakan teguran itu,
09:26ya tentu saja akan ada protes-protes yang merupakan bagian dasar dari ruang demokrasi itu.
09:33Terima kasih.
09:35Terima kasih.
09:36Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan