00:00Saya mau masuk ke sini, kekecewaan selama satu setengah tahun, tidakkah itu terlalu singkat untuk langsung menilai ada satu kegagalan
00:07sehingga ini bisa masuk ke reformasi jilid kedua?
00:10Ya, terlalu singkat kalau kita memahami bahwa ini hal yang wajar untuk kita beri waktu lebih panjang.
00:17Tapi kalau dilihat satu setengah tahun ini, terplesetnya sangat luar biasa.
00:22Kesalahan menghitung matematika itu saja Mbak Rosi, terjadi tiga kali.
00:26Jadi, nasihat publik agar tidak terlalu panjang berkunjung ke luar negeri tidak didengarkan.
00:32Orang-orang yang tampil di depan bukanlah profesional yang matang bekerja.
00:37Mohon maaf saya, saya bukan mau mengadu-adu juga.
00:39Kalau soal bicara ke depan publik, kayaknya jauh lebih bagus Fahri Hamzah dibandingkan, saya skap gitu ya.
00:46Tetapi itu menunjukkan sesuatu bagi kita bahwa orang yang ditampilkan oleh istana bukanlah profesional.
00:54Orang yang mestinya bisa diambil istana untuk meredam keinginan publik mengubah sesuatu.
01:01Kita masih punya si A, kita masih punya si B yang bekerja baik.
01:06Ini semuanya berantakan.
01:07Ekonomi berantakan, kebijakan luar negeri berantakan, perdagangan berantakan.
01:13Dan semua menimbulkan pertanyaan besar di mana peran presiden sebagai leader.
01:18Itu yang menyebabkan kita merasa, kayaknya mungkin harus digaungkan reformasi jilid dua, bahkan mungkin lebih dari itu, untuk membangun kesadaran
01:29di diri presiden sendiri, dia sedang terpleset dan dia harus bangkit dengan cara yang benar.
01:35Sebagai aktivis 98 yang ada di pemerintahan, seberapa, bagaimana Anda merasa ini ada benarnya atau merasa ini sama sekali tidak
01:44mendasar?
01:46Dunia ini sedang berubah.
01:48Saya kira setiap kehendak untuk menyamakan masa kini dengan masa lalu itu terlalu jauh.
01:57Karena instrumen-instrumen yang dikembangkan oleh masyarakat sendiri, teknologi, ruang publik, keterbukaan, dan semua desain yang kita sudah letakkan dalam
02:10konstitusi kita,
02:11sehingga menjadi konstitusi yang diantara yang paling demokratis di dunia ini, tidak memungkinkan kita kembali ke belakang.
02:19Kalau kita membaca, Bung Ferry adalah seorang ahli konstitusi kita, kalau kita membaca amandemen keempat, itu kan totalnya kira-kira
02:29tinggal 12 persen pasal yang tidak berubah.
02:34Dan pasal-pasal itu yang berubah adalah pasal yang betul-betul menuntaskan seluruh elemen-elemen otoriter di dalam negara kita.
02:43Masa jabatan presiden dibatasi, keterbukaan informasi publik, independensi pengadilan, dan sebagainya.
02:52Termasuk memisahkan antara militer dengan...
02:55Tapi kalau tadi mendengar penjelasan Bung Ferry, apakah aksi untuk aksi mahasiswa turun ke jalan, itu juga menjadi alarm bagi
03:03pemerintah?
03:03Kalau menurut saya, setiap pergerakan publik itu adalah alarm.
03:07Dan karena itulah semakin terbuka hati kita dan telinga pemerintahan, itu semakin baik untuk kita memahami dinamika apa yang sedang
03:21terjadi.
03:22Makanya dulu Mbak Rosi pernah saya mengusulkan adanya alun-alun demokrasi di DPR waktu saya memimpin DPR dulu,
03:30supaya kita melihat di sebelah situ ada demo enggak?
03:32Selain sekarang ini demonya itu pindah ke sosial media, memangnya itu problematik karena definisi dari ruang publik itu berpindah dari
03:39ruang publik fisik kepada ruang digital.
03:43Tapi maksudnya itu suara masyarakat itu, karena masyarakat kita banyak, jarak juga banyak, itu tidak boleh dibungkam.
03:50Dan itu harus dibiarkan ada dan kita mendengarnya itu sebagai cara kita untuk mengerti apa yang difikirkan oleh masyarakat.
04:00Jadi itu sebenarnya tidak ada masalah soalnya.
04:02Tapi kalau argumentasi mengapa mahasiswa turun kejalanan saat ini melihat bahwa situasi sekarang ini seperti kembali ke belakang.
04:09Ya, kalau dulu kita betul-betul tersumbat, kita mengomong dengan siapa di sini, ya kan?
04:16Konstitusinya mengizinkan otoritarianisme, kita enggak ada kebayang bahwa pemimpin kita akan diganti.
04:21Dan pemimpin ini sudah berkuasa lebih dari 30 tahun.
04:24Dan orang-orangnya itu ya diangkat seperti dan semaunya dia saja.
04:28Tidak ada keterbukaan informasi publik, kita tidak tahu apa yang terjadi di dalam negara.
04:32Kalau sekarang ini...
04:34Betul, tapi itu kan setelah berkuasa 30 tahun.
04:36Kalau kita melihat rekam jejak kalau Presiden Soeharto, sekarang malah orang mengingat di zaman Presiden Soeharto,
04:43menteri-menterinya luar biasa, teknokrat.
04:45Dan kalau tadi mengacu kepada penjelasan Bung Feru dibandingkan dengan pilihan menteri-menteri di Kabinet, Pak Pramu, jauh sekali.
04:53Dalam demokrasi itu memang ada penurunan kualitas orang-orang.
04:57Karena orang-orangnya menjadi biasa, dia dipilih di antara rakyat.
05:01Yang mencalonkan diri, kita lihat sendiri kan, anggota dewan kita kayak apa.
05:05Ya kan, termasuk yang terpilih atau yang diseleksi juga kan menjadi kualitasnya ada penurunan.
05:10Kalau kita lihat Putin, itu dia dipimpin oleh orang-orang hebat.
05:13Si Jinping, negara-negara otoriter yang kita bilang otoriter.
05:16Ini mereka dipimpin, apa namanya, dibantu oleh orang-orang yang hebat.
05:21Love rope, ya misalnya.
05:23Kalau begitu, hanya di rezim otoriter kita bisa mendapatkan orang-orang baik.
05:28Jadi bukan begitu, jadi begini, kita mesti mengerti dan membuat perbedaan bahwa...
05:33Karena kalau ketika Bu Fari bilang seperti itu, berarti orang akan melihat bahwa,
05:37oh, hanya di rezim yang otoriter kita dapat orang-orang baik.
05:42Ijinkan masyarakat bangsa Indonesia untuk kita bisa kembali ke otoritarianisme.
05:47Semuanya natural, semuanya natural.
05:48Karena kita mengizinkan partai politik banyak, lalu partai politik itu menyodorkan orang-orang.
05:53Dan kemudian orang-orang yang disodorkan itu menjadi bagian dari basket yang harus dipilih oleh Presiden.
05:59Itu semua adalah sistem yang kita buat.
06:01Apa boleh buat, akhirnya orang-orang itu ikut terseleksi dan mungkin kita tidak puas.
06:06Cuma cara kita bagi persoalan ini ada tiga.
06:09Kalau kita tidak puas kepada sistem baru kita bicara reformasi.
06:14Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja kelembagaan, kita melakukan evaluasi.
06:19Tapi kalau kita tidak puas dengan kinerja orang, kita minta Presiden untuk melakukan reshuffle.
06:24Dan itu semua sudah ada dalam lingkup cara kerja daripada negara demokrasi.
06:30Saya kasih jawaban Anda dulu.
06:31Saya merasa Bang Fahri salah memahami gerakan besok dan seterusnya soal apa yang dilakukan pemerintah.
06:40Bagaimana bisa salah memahami, kan aktivis.
06:42Karena beliau meletakkan pandangannya dari sisi romantisme di masa lalu.
06:49Memang judulnya terkesan akan membangkitkan cerita masa lalu.
06:54Tapi ini gerakan kekinian para pemuda ini.
06:58Mereka melihat beda Mbak Rosi.
07:00Bang Fahri kalau menariknya ke 98 itu salah.
07:05Apa bedanya?
07:05Yang harus ditarik adalah peristiwa Nepal.
07:08Beberapa negara di Asia, beberapa negara di Eropa yang mempertanyakan pemerintahannya.
07:16Dengan internet yang beliau ceritakan belakangan.
07:20Kita mengetahui sumber informasi kekesalan yang sama juga terjadi di pemuda-pemuda kita.
07:27Saya ngerti maksudnya Bung Fahri.
07:30Jadi jangan melihat aksi demonstrasi ini yang kemudian loh semuanya kalau dulu di Orde Baru itu karena semua tersumbat.
07:39Sekarang kan gak tersumbat jadi harusnya jangan samakan dengan aksi reformasi.
07:44Karena seperti di Nepal itu karena bagaimana melihat pejabat yang hidup berfoya-foya sementara masyarakatnya makin susah.
07:50Jadi hanya karena melihat ketimpangan yang kemudian dipertontonkan secara serampangan dan itu memunculkan ketidakadilan itu pun bisa memantik aksi masiswa.
08:00Salah satu faktornya soal ketimpangan kekesalan misalnya terhadap MBG bahwa MBG sudah diprediksi ini akan menimbulkan penyakit korupsi tidak tepat
08:12sasaran meminta pemerintah melakukan piloting terlebih dahulu sabar dengan membentuk mekanisme yang tepat misalnya melalui undang-undang.
08:21Peringatannya sudah panjang. Begitu terjadi korupsinya, begitu terjadi keracunannya, orang sudah menumpuk kekesalan-kekesalan itu menjadi sangat tinggi.
08:33Dan besok mungkin jadi salah satu puncak awal dari berbagai kekesalan-kekesalan yang ada.
08:40Mereka juga kesal dengan respon-respon para menteri terkait dengan dolar yang kian tinggi, rupiah yang kian anjlok.
08:49Di respon seolah-olah tidak ada masalah.
08:51Dan itu bukan tabiat leadership.
08:55Leadership itu harusnya dengan penuh kesadaran memahami perasaan orang.
09:01Dan itu tidak terjadi di dalam pemerintahan Pak Presiden Prabowo.
09:04Orang sedang kesusan masih saja berkunjung ke luar negeri.
09:08Saya berani bertaruh dengan Bang Pari walaupun tidak boleh secara agama bahwa kunjungan ke Rusia besok akan singgah juga ke
09:15Perancis.
09:16Dan itu bagi saya sangat menakutkan.
09:19Kalau kesadaran teguran orang tidak diterima oleh pemimpin, dan pemimpin melupakan teguran itu,
09:26ya tentu saja akan ada protes-protes yang merupakan bagian dasar dari ruang demokrasi itu.
09:33Terima kasih.
09:35Terima kasih.
09:36Terima kasih.
Komentar