JAKARTA, KOMPAS.TV - Per 10 Juni harga BBM nonsubsidi mengalami kenaikan.
BBM jenis Pertamax mengalami kenaikan terbesar, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Bagaimana dampak kenaikan BBM nonsubsidi ini? Kita bahas bersama Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya dan Ekonom INDEF M Rizal Taufikurohman.
Baca Juga Pertamax Resmi Naik 32 Persen: Warga Kaget-Pertalite Diserbu | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/674109/pertamax-resmi-naik-32-persen-warga-kaget-pertalite-diserbu-kompas-malam
#bbm #pertamax #hargabbm
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674125/full-dpr-dan-ekonom-indef-buka-suara-soal-harga-pertamax-naik-30-persen-sapa-malam
BBM jenis Pertamax mengalami kenaikan terbesar, dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
Bagaimana dampak kenaikan BBM nonsubsidi ini? Kita bahas bersama Ketua Komisi XII DPR RI, Bambang Patijaya dan Ekonom INDEF M Rizal Taufikurohman.
Baca Juga Pertamax Resmi Naik 32 Persen: Warga Kaget-Pertalite Diserbu | KOMPAS MALAM di https://www.kompas.tv/nasional/674109/pertamax-resmi-naik-32-persen-warga-kaget-pertalite-diserbu-kompas-malam
#bbm #pertamax #hargabbm
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/674125/full-dpr-dan-ekonom-indef-buka-suara-soal-harga-pertamax-naik-30-persen-sapa-malam
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Sampai Indonesia malam, kembali kami akan membahas soal per 10 Juni hari ini harga BBM non-subsidi mengalami kenaikan.
00:06BBM jenis Pertamax mengalami kenaikan terbesar dari Rp12.300 menjadi Rp16.250 per liter.
00:14Lalu bagaimana dampak kenaikan BBM non-subsidi ini kita akan bahas bersama Ketua Komisi 12 DPR RI Bambang Patijaya dan
00:21Ekonom Indef M. Rizal Tafikrohman.
00:24Pak Bambang selamat malam.
00:25Selamat malam, Mbak.
00:26Mas Rizal selamat malam, terima kasih sudah hadir.
00:29Selamat malam, Mbak. Terima kasih, sama-sama.
00:32Saya ke Mas Rizal dulu. Kita hampir semua masyarakat saat bangun tidur cukup kaget.
00:38Karena pas lihat, oh ini salah lihat atau enggak ya?
00:41Karena ternyata BBM non-subsidi jadi Rp16.250 per liter.
00:46Kenaikannya cukup signifikan 30 persen.
00:49Karenanya tidak heran ada reaksi yang muncul di masyarakat.
00:52Mas Rizal, sebenarnya apakah ini sudah jadi momen yang tepat dan keputusan yang tepat untuk menaikkan harga BBM non-subsidi?
00:59Ya, kalau kita lihat secara ekonomi ya, penyesuaian harga BBM non-subsidi ini adalah memang konsekuensi logis dari kenaikan biaya
01:09pasokan.
01:09Akibat melemahnya nilai kuka rupiah, masih tingginya harga energi global.
01:15Tentu, apalagi situasi rupiah yang sempat menembus Rp18.000 per USD.
01:24Ditambah juga harga minyak dunia kan memang masih berada di level tinggi gitu.
01:29Meskipun cenderung menurun, tetapi menahan harga terlalu lama justru akan memperbesar beban fiskal gitu ya.
01:38Terutama di dalam mendistribusikan BBM non-subsidi ini.
01:42Tapi kalau kemudian kita lihat dari efisiensi market, penyesuaian harga ini memang dirasa nampaknya perlu.
01:51Ya, tetapi harga domestiknya tentu akan mencerminan dari biaya realnya gitu ya.
01:59Tapi kalau kemudian situasi apa namanya, kurs, kemudian inflation imported, kemudian juga serta efisiensi market.
02:12Maka kalau kemudian kita lihat dari perspektif ekonomi makro gitu ya, momentum kenaikan ini memang apa ya, namanya itu kalau
02:22saya katakan ideal ya belum ideal gitu ya.
02:25Karena, mengapa? Karena daya beli masyarakat, pertama daya beli masyarakat ya, sekarang itu kan sedang fase melemah gitu ya, yang
02:34tercermin dari melambatnya konsumsi rumah tangga katakanlah.
02:37Atau juga penurunan indeks keyakinan konsumen nih ya, dari 1, 2, 3 di bulan April ya, kemudian maik kan turun
02:46gitu ya, itu juga mencerminkan itu.
02:49Kemudian juga mulai meningkatnya tekanan biaya hidup nih, ya ini juga saya kira menjadi apa namanya, cerminan itu.
02:57Nah, ketika kebijakan moneter juga sedang mengetat ya, melalui kenaikan BI rate katakanlah, maka penyesuaian harga BBM ini bisa berpotensi
03:07ya, memperkuat tekanan terhadap aktivitas ekonomi domestik.
03:10Misalnya, kalau misalnya dari aspek BI rate katakanlah, maka kan tentu itu akan, apa namanya, beban ya, atau juga biaya
03:21kredit juga akan naik gitu ya, terutama untuk kredit-kredit yang, apa namanya, industri-industri yang padat karya, contohnya misalnya
03:30begitu ya.
03:31Nah, itu termasuk juga harga BBM nih, non-subsidi yang pertama, kemudian tentu ini juga banyak konsumen, terutama yang menengah
03:39gitu ya, dan ini aspek berlalih nih, potensi kepertalaid ini.
03:43Mas Rizal, kalau besarannya 30%, menurut Anda apakah tepat langsung naik 30% atau semestinya ada tahapan tertentu sampai ke
03:51angka 30%?
03:53Ya, besaran kenaikan memang menunjukkan selama beberapa waktu harga BBM non-subsidi ini, karena ditahankan cukup panjang gitu ya, di
04:04bawah harga keekonomian kalau saya melihat gitu ya.
04:08Jadi, ketika biaya impor meningkat akibat depresiasi rupiah, katakanlah, dan juga kenaikan harga minyak, maka pemerintah maupun Pertamina tentu akan
04:17memilih menyerap sebagian tekanannya agar invasi tidak terlalu melonjak, ya, melakukan besaran ini.
04:24Tapi kalau kemudian, memang angka ini, kalau kita lihat angkanya gitu ya, lebih mencerminkan akumulasi penyesuaian yang ditunda dibandingkan dengan
04:36kenaikan biaya dalam satu bulan terakhir, ya.
04:38Sehingga ada namanya Price Adjustment Backlog, gitu, atau penyesuaian harga yang tertunda.
04:44Nah, sehingga ketika ruang fiskal dan ruang korporasinya semakin sempit, maka terjadi penyesuaian, akhirnya dilakukan sekaligus dalam jumlah yang besar.
04:52Nampaknya gitu, ya.
04:53Nah, kalau kita melihat tadi, ada akumulasi penyesuaian sampai ke angka 30% sekarang.
04:58Pak Bambang melihat di tengah kondisi yang tidak ideal, apakah ini memang jalan keluar yang paling tepat saat ini?
05:03Saya pikir pemerintah sudah memikirkan banyak hal, ya.
05:09Bahwa pertama, kenaikan BBM non-subsidi, ini kan, ini kali yang kedua.
05:17Awal April kemarin sempat naik, tetapi hanya untuk RON yang 98,
05:23kemudian juga untuk golongan solar yang, apa namanya, yang standar yang tinggi.
05:28Seperti DEX ataupun DEX Light, kan, seperti itu.
05:32Nah, jadi saya tadi bertanya kepada Dirjen Migas, ini bagaimana pertimbangan pemerintah?
05:37Pemerintah sebetulnya memberikan satu kebijakan yang memang ketikapun ada kenaikan,
05:46seperti dijelaskan oleh Mas Rizal tadi, ini sebetulnya tidak membuat kaget.
05:52Tidak membuat, apa namanya, situasi menjadi tidak pas seperti itu.
05:58Kita tahu walaupun ini adalah merupakan BBM non-subsidi, ya, artinya ditujukan kepada masyarakat yang mampu,
06:07tetapi juga jangan membebani sekaligus seperti itu.
06:10Dan kita tahu bahwa sebetulnya memang ya, sesuai dengan judul pembahasan kita,
06:15antara Pertamax RON 92 dengan Pertalite ini sebetulnya beda-beda tipis tadi, ya.
06:21Seperti itu. Karena sebetulnya yang RON 92, ini kan ya masyarakat kelas menengah, ya.
06:28Dan memang kekhawatiran kita, seperti tadi dibahas oleh Mas Rizal itu,
06:33apakah ada pergeseran nantinya, seperti itu.
06:36Nah, saya pikir semua hal sudah dihitung.
06:38Tadi saya juga berbicara dengan Kepala BPM Migas, ya, Bapak Wahyudi Anas.
06:44Saya bertanya, ini terkait dengan kuota Pertalite kita seperti apa?
06:49Karena beralih ke Pertalite.
06:50Ya, kita harus hitung-hitung seperti itu.
06:53Per hari ini, stok nasional untuk Pertalite adalah untuk 18 hari.
06:58Pengetahuan 18 hari itu bukan artinya 18 hari habis,
07:00tetapi barang ini kan ngisi terus.
07:02Nah, kemudian dari segi kuota yang didasari pada apa yang di dalam APBN,
07:072026, kita masih ada saving itu sampai 627 ribu KL.
07:12Sampai dengan perkemarin, ya, 8 Juni.
07:17Ini laporan dari BPM Migas.
07:19Jadi artinya begini, artinya ketikapun terjadi shifting, ya, ini tidak kagetan.
07:25Dalam artian dari segi sisi supply, pemerintah mampu.
07:28Dalam hal ini kan yang mendapat penugasan adalah Pertamina, ya, Pertamina.
07:35Ya, bagaimanapun juga ini kan Pertalite masuk di dalam golongan kompensasi, seperti itu.
07:42Nah, jadi secara umum, ya, ini dari sisi supply, pemerintah sanggup.
07:47Nah, mungkin tadi analisis yang disampaikan oleh Mas Rizal tadi terkait dengan bagaimana,
07:53apakah ini mempengaruhi, apa, mempengaruhi inflasi dan sebagainya.
07:59Ya, saya pikir memang ini kan kalau kita lihat, terkait dengan Pertamax, ya, Pertamax.
08:07Ini kan memang peruntukannya untuk BBM kendaraan.
08:13Ya, jadi saya pikir tidak terlalu banyak penggunaan Pertamax itu untuk industri, kan seperti itu.
08:21Sehingga terkait dengan pengaruh kepada inflasi secara keseluruhan, mungkin dampak langsung, mungkin tidak terlalu besar.
08:29Ya, tetapi kepada masyarakat yang kelas menengah ke atas, yang menggunakan itu, ya, ini menjadi satu,
08:35menjadi satu, apa namanya, pertimbangan-pertimbangan yang mungkin bisa kita lihat nanti seperti apa.
08:43Karena kalau secara ekonomi makro tidak langsung berdampak, tidak berdampak kepada industri, Mas Rizal,
08:48tapi kan ini berdampak pada isi dompet, kelas menengah terutama, yang menggunakan Pertamax.
08:53Secara logisnya, saat datang ke SPBU melihat, wah, harganya Rp16.250,
08:59otomatis kalau gajinya kan tidak langsung bertambah juga seiring dengan naiknya harga BBM.
09:04Pasti shiftingnya adalah ke Pertalite, itu yang paling logisnya dan terjadi dari pagi hingga saat ini, Mas Rizal.
09:11Kalau pemerintah bilang masih cukup untuk kuota Pertalite sampai saat ini,
09:16tapi apa yang harus dihitung lagi?
09:17Karena kalau harganya tetap di Rp16.250, bukan tidak mungkin, ya, akan kembali lagi ke Pertalite,
09:24meskipun selama ini sudah ada regulasi untuk mendapatkan Pertalite itu, Mas Rizal.
09:29Ya, saya kira kemungkinan besar, ya, kenaikan harga Pertamax ini pasti, ya,
09:36meningkatkan substitusi konsumsinya ke Pertalite itu.
09:39Karena sangat elastis, ya, permintaannya.
09:41Kan minyak itu elastis sekali, perubahan harga, ya, bagi harganya 30%.
09:46Dan berdasarkan perbedaan harganya juga cukup tinggi, terutama bagi tadi kelompok menengah yang sangat sensitif terhadap biaya transportasi.
09:54Memang betul ini nggak ke industri, secara tidak langsung tidak mendorong, apa, kospus, inflation.
10:00Tapi perlu diingat, ya, daya beli akan turun, padahal daya beli kelas menengah itu kontribusinya kan 60% ya,
10:07terhadap konsumsi rumah tangga, yang metabene hampir 50% kan, terhadap PDB nasional.
10:13Nah, maka resikonya ini adalah bahwa kuota Pertalite yang tadi itu akan cepat habis tuh, katakan tadi berapa hari?
10:2116 hari atau 18 hari, katakanlah.
10:23Ketika berbondong-bondong ke Pertalite, maka akan lebih cepat habis sebelum akhir atau sebelum day target itu.
10:29Sehingga pemerintah akan menghadapi dua pilihan yang sama-sama berat.
10:33Pertama, menambah kuota subsidi yang mempemani APBN tadi,
10:37atau melakukan perbatasan distribusi yang berkontensi menimbulkan kelangkaan di lapangan.
10:43Nah, oleh karena itu, maka apa yang dilakukan?
10:46Maka pemerintah harus memperkuat apa tadi?
10:50Digitalisasi distribusi, ya, atau juga tentu mekanisme yang tepat sasaran, katakanlah, ya, kalau bicara subsidi, ya.
10:57Melalui apa? Sistem pencatatan kendaraan dan pembelian yang akurat.
11:02Tapi tentu di lapangan kan tidak mudah gitu ya, dengan barcode Pertamina atau bagaimana, ya.
11:08Dan juga memperkuat pengawasan agar subsidi ini tepat sasaran.
11:12Yang melalui, dan juga meningkatkan pengendalian penyalahgunaan tadi, BBM subsidi oleh kendaraan yang sebenarnya mampu membeli BBM non-subsidi.
11:20Jadi, ini menjadi penting nih, terkait dengan mekanisme ada shifting dari pertama ke Pertalite itu.
11:28Pengawasannya gimana Pak Bambang artinya?
11:30Ya, jadi kan begini, sebetulnya yang terkait dengan produk subsidi dan kompensasi, jadi baik Biosolar maupun Pertalite,
11:39ini kita sudah melakukan digitalisasi itu secara menyeluruh Indonesia, sejak 2025.
11:45Jadi, selama proses waktu berjalan ini, ini kan transisi peralihan menuju kepada digitalisasi itu sudah berjalan.
11:56Saya selalu melakukan pengecekan, terakhir tadi saya juga cek ke, apa namanya, beberapa, ya, anulap, orang Pertamina ya,
12:08di bagaimana situasi lapangan, bahwa sekarang hampir semua SPBU se-Indonesia itu sudah menggunakan digitalisasi,
12:18dengan menggunakan barcode untuk pengisian Pertalite dan juga Biosolar.
12:24Nah, jadi saya tanya, apakah masih ada perkecualian?
12:28Memang kadang-kadang pada daerah tertentu yang tidak punya signal, ya, atau mungkin 3T, itu belum semuanya,
12:37tetapi itu sangat minim, ya, belum semuanya dilakukan barcode.
12:42Nah, artinya apa? Artinya bahwa sebetulnya upaya untuk melakukan digitalisasi dalam rangka pengontrolan penyaluran,
12:51ini sudah dijalankan oleh Pertamina, dan kita tidak kagetan.
12:56Yang kagetan itu kan kalau baru 2 hari yang lalu, atau mungkin minggu kemarin, kita mau pakai digitalisasi, ini kan
13:02enggak.
13:03Nah, sehingga dengan demikian, mau tidak mau, ya, masyarakat juga kita minta, kita mohon partisipasinya.
13:09Bahwa BBM subsidi adalah yang betul-betul tepat sasaran dan memang orang yang seharusnya.
13:14Nah, jangan misalkan dalam proses pengajuan barcode, orang itu menggunakan, maaf, mobilnya Honda Accord misalnya,
13:21tapi ingin ngisi Pertalite, diuruskan barcode, kan tidak cocok.
13:24Sesuai dengan kemampuan, ya?
13:25Sesuai dengan kemampuan.
13:26Tapi yang jadi permasalahan berikutnya, seperti yang tadi kita bahas, ini kan masuk ke dompetnya kelas menengah,
13:32yang selama ini jadi tulang punggung untuk konsumsi rumah tangga.
13:36Nah, bagaimana yang bisa dilakukan agar kelas menengah ini tidak semakin tertekan?
13:40Tampaknya kelas menengah ini harus banyak mengerti kondisi sehingga banyak menanggung.
13:45Karena itu apa yang bisa dilakukan agar daya beli, daya konsumsinya ini tidak serta-merta menurun?
13:51Dengan kebijakan ini, sesaat lagi kita bahas di Sampai Indonesia Malam.
14:03Tahunya sih, tadi pagi sih, waktu buka HP, kaget juga.
14:06Tahu-tahu, ternyata pertama saya ikut naik juga, kan, jadi 16 ribu.
14:09Kalau pengisian sih biasanya mingguan sih, 16 ribu dari 12 ribu, berasa juga sih lumayan, 4 ribu anaknya.
14:18Seminggu, seharusnya saya bisa dalam seminggu isi sekali full tank, ini seminggu dua kali.
14:25Kalau yang dulu full tank itu pada 12 ribu, pertama 12 ribu 300, sekarang pertama 16 ribu 800.
14:34Sangat jauh sekali dan mobilitas terganggu.
14:38Karena seminggu harus dua kali isi bensin full tank.
14:42Kalau misalnya saya bertarik gak bisa, saya suka isi pertama, dan saya jarak jauh kan, dari rumah ke tempat kerja.
14:51Mohon untuk pemerintah di, mohon dipertimbangkan lagi, untuk tidak tiba-tiba ada kenaikan harga begini.
15:01Ya, sebetulnya sih ya, udah pasti memberatkan bagi masyarakat kecil.
15:07Tapi ya mungkin karena ini udah jadi kebijakan pemerintah, mau gimana lagi, kita pasti tetap ya harus ngikutin aja.
15:17Sampai Indonesia Mawal masih membahas dampak kenaikan BBM non-subsidi bersama dengan Ketua Komisi 12 DPR RI Bambang Patijaya dan
15:24Ekonom Indef M. Rizal Tafiqur Rahman.
15:26Sebelum jeda tadi pertanyaan saya adalah, lagi-lagi kan kelas menengah saat ini yang harus menanggung.
15:32Sudahlah jadi tulang punggung konsumsi, sekarang harus menikmati harga BBM non-subsidi yang naik.
15:39Gak dapat bantuan sosial, financial freedom masih jauh panggang dari api.
15:43Jadi Mas Rizal, apa yang bisa dilakukan untuk membantu kelas menengah menghadapi situasi ini?
15:49Yang pasti pemerintah secara real dan empiris di lapangan harus mampu memberikan kompensasi berupa kebijakan yang tidak hanya mengandalkan indikator
16:03makro atau kebijakan makro.
16:05Tapi ini harus intervensi mikro yang langsung dirasakan rumah tangga menengah.
16:09Karena kelompok ini tidak mendapat bantuan sosial tadi, dan juga pasti tertekan oleh kenaikan biaya hidupnya, termasuk tadi biaya transportasi.
16:20Pertama, stabilkan tarif transportasi umum dan logistik.
16:24Kalau perlu, fasilitas transportasinya diperbaiki, yang kemudian juga nyaman.
16:32Pengalaman ini menunjukkan bahwa setelah harga naik BBM, ya terutama non-subsidi termasuk, yang pertama kali naik itu bukan di
16:40biaya kendaraan.
16:41Tapi ongkos distribusi dan tarif jasa, mau tidak mau meskipun ini non-subsidi, karena sangat sensitif gitu ya.
16:49Nah, maka pemerintah perlu memberikan insentif sementara kepada operator transportasi umum dan juga logistik,
16:55agar tidak seluruh kenaikan biaya dibebankan kepada konsumen, ya ke rumah tangga menengah ini.
17:01Dan ini akan jauh lebih efektif dibanding dengan memberikan subsidi baru,
17:05karena memang dapat menahan kenaikan harga barang di tingkat konsumen, pertama itu.
17:10Yang kedua, akan sangat baik manakala percepat digitalisasi subsidi BBM agar operator lightnya tidak diserbu, nih.
17:18Dan ini betul-betul ada pembatasan berbasis misalnya plat nomor, jenis kendaraan, kapasitas mesin, dan data penghasilan,
17:29sehingga subsidi ini benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan.
17:33Apakah selama ini katakanlah di tadi ya, barcode atau di MyPertamina, atau juga katakanlah di platform lain,
17:41menggambarkan ini, enggak gitu ya.
17:43Ketiga, tentu memberikan insentif pajak nih kepada kelas menengah.
17:48Jadi kelas menengah itu kan merupakan pembayar pajak terbesar ya,
17:51tetapi seringkali tidak menikmati bantuan ketika terjadi tekanan seperti sekarang.
17:56Maka cukup baik, masa saya, gitu ya, menaikkan batas apa namanya pajak atau juga penerimaan atau penghasilan tidak kena pajak.
18:07Atau batas penghasilan yang tidak dikenakan pajak penghasilan, kira-kira gitu.
18:11Nah itu bagus juga kalau dinaikkan itu batasnya.
18:14Kedua, memberikan pajak penghasilan pasal 21 itu ya ditanggung pemerintah untuk kelompok pendapatan tertentu.
18:21Ya, katakanlah.
18:24Atau memberikan potongan pajak sementara ya.
18:27Jadi tambahan pendapatan bersih ini bisa menjaga konsumsi tanpa membebani ya APBN sebesar program bantuan tunai, katakanlah gitu ya.
18:37Atau misalnya perkuat operasi pasar pangan.
18:40Yang notabene ini tentu juga sangat membebani ya biaya life cost masyarakat gitu.
18:49Ya bukan karena kenaikan BBM itu sendiri.
18:51Karena tentu kan pemerintah juga harus memastikan katakanlah stok pangan gitu ya.
18:57Dan untuk apa?
18:58Ya menjaga inflasi ya pangan agar jauh lebih efektif ya di dalam melindungi daya beli dibandingkan dengan mengenahan harga BBM
19:05saja gitu.
19:07Nah itu saya kira ya.
19:08Jadi yang terakhir mungkin akan sangat baik ya meskipun bottlenecknya luar biasa gitu.
19:17Menciptakan lapangan kerja dan jaga upah real.
19:19Jadi dalam jangka panjang cara terbaik melindungi kelas menengah bukan dengan memperbanyak subsidi gitu ya atau insentif.
19:27Tapi meningkatkan income.
19:29Nah bagaimana mempercepat investasi padat karya ya proyek-proyek infrastruktur yang menyerap tenaga kerja,
19:36hilirisasi industri dan juga pengembangan sektor manufaktur yang notabene bisa memberikan kenaikan di pendapatan real.
19:44Ini justru akan tumbuh lebih cepat ya daripada percepatan inflasinya.
19:51Nah jadi harapannya kenaikan BBM akan jauh lebih mudah diserap atau dikendalikan gitu.
20:00Nah kalau dalam kondisi seperti ini kan wajar ada pro dan kontra.
20:03Karena banyak kelas menengah misalnya tidak menyiapkan kondisi seperti ini.
20:07Sebenarnya pendekatan holistik yang harus dilakukan pemerintah dalam waktu dekat ini apa sih Pak Bambang kalau menurut Anda?
20:12Yang pertama tentu pemerintah juga ingin mengurangi beban yang sekarang dipikul oleh Pertamina.
20:21Kita harus fair ya.
20:22Jadi rata-rata per bulan ini kan Pertamina harus keluar sekitar 15 miliar USD untuk pengadaan BBM.
20:30Baik itu crude maupun produk.
20:31Jadi saya pikir dari situasi seperti ini pemerintah sudah cukup berhati-hati dalam rangka memikirkan juga Pertamina yang mendapat penugasan.
20:44Dan dari situasi yang ada ini kita juga melihat bahwa pemerintah juga sebetulnya mendorong transisi energi.
20:52Ini dapat lebih cepat terjadi dalam hal elektrik vehicle.
20:58Nah sebetulnya kelas menengah yang mohon maaf yang mungkin masih punya saving mungkin mulai berpikir bagaimana untuk mengurangi beban operasional
21:08seperti itu.
21:09Jadi dari situasi yang ada ini memang ya kita mendorong transisi energi dipercepat.
21:15Kemudian yang kedua kita mendorong juga partisipasi masyarakat di dalam mulai melakukan penghematan.
21:22Di dalam mengkonsumsi energi baik itu BBM dan seterusnya seperti itu.
21:28Jadi sehingga dengan demikian secara umum beban terhadap yang ditimbulkan dari persoalan energi ini dapat berkurang.
21:35Seperti itu dengan demikian ya kita berharap secara makro ekonomi kita tetap baik.
21:42Tapi dalam kondisi seperti ini Mas Rizal belum bisa dilakukan karena tadi misalnya satu aspek aja transportasi umumnya juga belum
21:49mumpuni.
21:50Itulah kenapa konsumsi BBM kelas menengah masih tinggi sampai sekarang ya Mas Rizal?
21:54Iya betul. Justru menurut saya kelas menengah itu sebenarnya kan networknya bagus, resource-nya bagus, educated biasanya gitu ya.
22:07Ya sebenarnya diberikan beberapa insentif katakanlah misalnya ya biaya-biaya transportasi yang selama ini misalnya memberatkan.
22:17Ya tarif tol katakanlah kan pengguna biasa menengah gitu ya.
22:21Itu juga bisa dilakukan.
22:23Jadi kalau kita bicara apaan jangan sampai terjadi ini middle class quiz gitu ya.
22:30Jadi kelompok menengah itu terus menghadapi tekanan dari berbagai arah.
22:34Tidak hanya BBM naik, ya bunga kredit meningkat ya seiring dengan kata-kata kenaikan BI-Rate, ya biaya pendidikan dan
22:41kesehatan juga terus naik.
22:43Ya sementara penuh butuhan income-nya ya tidak selalu mengikuti laju inflasi kan gitu dan beban biaya hidup ini.
22:51Nah sehingga kondisi ini kan kalau berlangsung lama ya pasti mereka akan mengurangi konsumsi.
22:57Bayangkan kalau rumah tangga menengah mengurangi konsumsi, daya beli turun, maka apa yang terjadi ya.
23:04Maka tentu akan konsumsi rumah tangga ya menekan terhadap pertumbuhan ekonomi.
23:11Karena penggerak utama konsumsi domestik Indonesia adalah di kelas menengah gitu.
23:16Ya dan Pak Bambang sebagai wakil rakyat juga apa yang harus masyarakat siapkan dalam kondisi seperti ini?
23:23Apakah masih harus kita mewaspadai misalnya ada penyesuaian harga lagi, harga-harga kemungkinan naik agar bisa bertahan dalam kondisi seperti
23:32ini apa yang bisa dilakukan?
23:34Jelas penghematan tadi yang saya sampaikan bahwa kita melihat program pemerintah yang mendorong misalkan work from home atau work from
23:46anywhere.
23:46Saya pikir ini menjadi satu pilihan di dalam bagaimana kita mengurangi biaya pergerakan masyarakat itu sendiri.
23:54Jadi kita optimalkan perkembangan teknologi dunia digital karena sekarang ini kan yang namanya wifi itu rata-rata speednya cukup baik.
24:04Kemudian berbagai macam aplikasi untuk meeting-meeting itu secara daring dapat dilakukan.
24:11Kemudian juga pekerjaan bisa dilakukan di mana saja pada saat ini.
24:15Ya mungkin itu salah satu cara untuk mensisati bagaimana menekan biaya di dalam transportasi.
24:23Terakhir saya ke Mas Rizal juga apa juga yang harus dievaluasi dari pola komunikasi dengan penyesuaian harga BBM ini?
24:30Dinaikkan harganya di tengah malam tidak ada komunikasi dengan masyarakat ini juga lah yang membuat respons dari pagi hari sampai
24:38malam ini banyak orang yang gelisah.
24:39Mas Rizal apa yang harusnya diperbaiki soal ini?
24:42Ya saya kira dari perspektif kebijakan publik gitu ya akan sangat baik manakala pola komunikasi pemerintah terkait misalnya kebijakan apapun
24:53ya apalagi kenaikan BBM gitu ya.
24:56Yang notabene ini sangat sensitif ya terhadap daya beli masyarakat dan juga terhadap saya kira produk ekonomian ya daya beli
25:07konsumsi rumah tangga dan juga kinerja dari ekonomi.
25:11Maka ini perlu di saya kira terus diperbaiki dan perlu dievaluasi ya karena keberhasilan kebijakan itu tidak hanya ditentukan oleh
25:21subtansi tetapi juga oleh cara kebijakan itu dikomunikasikan ke publik.
25:26Tentu komunikasi itu harus dilakukan sebelum kebijakan diumumkan bukan setelahnya ya itu sangat baik ya kalau kita refer ke beberapa
25:37apa misalnya contoh misalnya ya kalau saya lihat waktu Presiden SBY sebelum menaikkan 100 rupiah BBM pasti malamnya itu diumumkan
25:50gitu dan alasannya apa urgensinya apa sehingga masyarakat udah siap gitu.
25:54Atau misalnya pemerintah harus transparan mengenai dasar perhitungan harganya dan ini tentu harus narasi itu disampaikan kepada publik.
26:03Jadi yang perlu dievaluasi memang bukan hanya kebijakan kenaikan kebijakannya tetapi juga pola komunikasi dan saya kira harus lebih transparan
26:13pemerintah mengenai urgensi dasar perhitungan kenaikan harga ya kemudian menyampaikan pesan secara konsisten.
26:20Dan saya kira itu menjadi penting untuk mendorong dan juga melindungi daya bagi masyarakat.
26:24Pak Pak Pak ada yang mau disampaikan?
26:26Jadi pertama yang ingin saya di ujung ini kan di ujung bahwa pertama bahwa pemerintah menjamin terkait dengan BBM subsidi
26:34itu sampai 31 Desember 2026 itu sesuai dengan undang-undang APBN itu tidak terjadi kenaikan.
26:41Jadi dijamin harga tidak naik. Yang kedua dijamin pasokan terjamin. Jadi seluruh Indonesia itu pasokan tidak ada masalah.
26:50Jadi baik BBM maupun LPG 3 kilo nggak ada masalah.
26:53Nah terkait dengan BBM non-subsidi kita harus fair bahwa ini sebetulnya lebih kepada mekanisme pasar.
27:01Jadi memang penggunaan daripada BBM non-subsidi terkait dengan gasoline, gasoline ini kan garisannya bensin, itu non-subsidi itu sekitar
27:1325% dari total.
27:15Tetapi memang ke depan saya pikir semua masukan kita akan perhatikan seperti sampaikan oleh Mas Rizal tadi terkait dengan komunikasi
27:23dan sebagainya.
27:25Tetapi yang jelas bahwa kami ingin sampaikan bahwa baik DPR maupun dengan pemerintah kami berusaha bagaimana sama-sama untuk mengemankan
27:34pasokan untuk masyarakat.
27:35Bahkan untuk BBM non-subsidi pun kita berusaha bagaimana pasokan tetap terjaga dan harga ini apa yang terbaik.
27:44Ingat bahwa sebetulnya kalau kita komparasi dengan harga misalkan RON 92 ya ini seluruh kawasan Asia Tenggara kita termasuk yang
27:53paling rendah dibandingkan Singapur, dibandingkan Myanmar, dibandingkan Kamboja, dibandingkan Thailand, Filipina kita tetap lebih rendah.
28:02Artinya apa? Pemerintah tetap berusaha menjaga terjadi suatu harga yang fair bagi masyarakat terutama yang non-subsidi.
28:11Seperti sampaikan oleh Mas Rizal tadi di awal, ya sebenarnya kalau mau ngomong terbuka harga saat ini Pertamax 92 ya
28:19RON 92 ini tetap sebetulnya dibawa harga ke ekonomian.
28:22Karena pemerintah berusaha nge-press dan kita ya apresiasi lah kepada Pertamina yang saya pikir cukup optimal di dalam bagaimana
28:30mengamankan pasokan.
28:32Sekarang pasokan harus dijamin aman berikutnya daya beli masyarakat juga ini yang harus dijalankan.
28:36Hal-hal yang memang kita harus perhatikan secara holistik.
28:38Terima kasih Pak Bambang, Bambang Patijaya, Ketua Komisi 12 DPR RI.
28:42Terima kasih juga Mas Rizal, M. Rizal Taufiku Rahman, M. Rizal Sudah hadir di Sampai Indonesia Malam.
28:47Terima kasih banyak.
Komentar