Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Target pemerintah menghapus kemiskinan ekstrem hingga nol persen pada 2026 menuai perdebatan.

Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin) Budiman Sudjatmiko optimistis target tersebut dapat dicapai.

Sementara Dosen Hukum Universitas Andalas Feri Amsari mempertanyakan realisme dan efektivitas langkah yang ditempuh pemerintah.

Budiman mengakui angka kemiskinan memang menunjukkan penurunan, meski hasilnya belum sesuai harapan.

Namun, menurut Budiman, Presiden Prabowo Subianto telah menetapkan target yang jelas terkait penghapusan kemiskinan ekstrem.

Budiman menyebut saat ini masih terdapat sekitar 2,2 juta penduduk yang masuk kategori miskin ekstrem dan pemerintah menargetkan angka tersebut menjadi nol pada tahun depan.

Ketika ditanya apakah target tersebut realistis, Budiman menjawab tegas.

Ia mengaku pemerintah telah melakukan berbagai pembahasan, termasuk dengan sejumlah BUMN, untuk mendukung pencapaian target tersebut.

Namun optimisme itu mendapat tanggapan kritis dari Feri Amsari.

Menurut Feri, aktivis yang masuk ke dalam pemerintahan harus mampu mempertahankan idealisme dan tidak larut dalam kekuasaan.

Feri juga menyoroti berbagai target besar yang kerap disampaikan Presiden Prabowo kepada publik. Ia menilai sejumlah target ambisius, termasuk penghapusan kemiskinan ekstrem, membutuhkan langkah yang jauh lebih besar dibanding kondisi saat ini.

Selain itu, Feri mempertanyakan efektivitas BP Taskin yang menurut Budiman sendiri lebih berfungsi sebagai lembaga koordinatif.

Menurut Feri, tantangan koordinasi lintas kementerian bukan persoalan sederhana, bahkan bagi pejabat setingkat menteri koordinator.

Maka, ia menilai keberhasilan pengentasan kemiskinan sangat bergantung pada kemampuan menggerakkan seluruh elemen pemerintahan secara efektif.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/c7-VobVdbQM

#prabowo #menteri #kabinet

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674113/beda-pendapat-feri-amsari-dan-budiman-sudjatmiko-soal-target-kemiskinan-ekstrem-0-persen-satu-meja
Transkrip
00:00Implikasinya apa? Sebenarnya ada dampaknya.
00:02Dampaknya apa? Ada terjadi penurunan kemiskinan.
00:05Meskipun masih belum signifikan.
00:07Artinya dalam progres lah.
00:08Masih belum signifikan, masih belum puas.
00:10Tapi Pak Presiden menegaskan, kemiskinan ekstrim 2026 harus 0%.
00:14Sekitar 2,2 juta orang Indonesia yang miskin ekstrim di tahun 2026 harus 0%.
00:19Dan sebagai kepala BPF Taskin, permintaan Presiden itu menurut Anda realistis atau tidak?
00:23Realistis karena kami sudah menemukan, kami sudah berdiskusi dengan BUMN.
00:27Saya dua hal yang saya mau diskusikan dengan Mas Budi.
00:32Satu, bagi saya aktivis bukan ikan di lautan.
00:36Begitu di lautan dia tidak ikut asin seperti lautan.
00:40Tapi begitu keluar dari lautan dia jadi ikan asin.
00:43Jadi jangan ketika di luar pemerintah dia mampu menahan godaan.
00:48Begitu keluar pemerintah dia ikut godaan tersebut.
00:51Kedua, soal data-data yang selalu dikampanyekan Pak Presiden.
00:57Pak Presiden kita ini menggunakan jargon ultranasionalis untuk menghibur orang,
01:04tuntaskan kemiskinan 0%.
01:06Ekstrim?
01:07Ekstrim.
01:08Sampah 0%.
01:11Tiba suasembada pangan, padahal ternyata cuma beras.
01:15Nah, pidato beliau terlihat mencoba menghibur orang.
01:21Padahal kita tahu sebagian besar dari pidato itu irasional.
01:26Saya melihat misalnya soal menguntaskan kemiskinan ekstrim.
01:31Kalau tidak ada upaya-upaya yang luar biasa juga tidak bisa.
01:35Mas Budi barusan mengatakan bahwa fungsinya hanya koordinatif.
01:39Apalagi kebijakannya belum binding.
01:43Kan sebenarnya di titik kemiskinan, pengentasan kemiskinan,
01:47Mas Budi itu selevel dengan menteri koordinator.
01:50Menteri koordinator saja kadang-kadang gagal mengkoordinasikan para menteri.
01:55Apalagi seorang Budi Mansujatmiko yang level berfikirnya kadang-kadang lebih tinggi daripada seorang menteri.
02:01Tidak nyambung dengan menteri-menterinya.
02:03Saya tidak melihat binding itu menjadi hal yang signifikan.
02:07Tetapi kekuatan Mas Budiman harusnya betul-betul sangat powerful untuk mengkoordinasikan orang.
02:15Di sini letak kabinet ini sebenarnya tidak efektif.
02:19Terlalu banyak orang, terlalu banyak jabatan, fungsinya juga tidak binding.
02:23Saya nanti akan memberikan kesempatan untuk menanggapi ini termasuk dari Pak Said juga.
02:28Tidak seperti apa secara psikologis ketika berada di luar.
02:32Tadi Mbak Nining mengatakan masih banyak persoalan-persoalan inti terkait dengan perjuangan buruh yang belum selesai.
02:38Tapi kan hari ini Pak Said ada di dalam sebagai penasehat.
02:42Tapi jawabannya ditahan dulu, kita akan kembali setelah yang satu ini.
02:45Tetaplah di satu meja di forum.
02:46Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan