Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Masuknya sejumlah aktivis ke dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto terus memunculkan perdebatan.

Dosen Hukum Universitas Andalas, Feri Amsari, menilai publik menaruh ekspektasi besar kepada para aktivis yang kini berada di lingkar kekuasaan untuk menghasilkan perubahan nyata, bukan sekadar menjadi bagian dari pemerintahan.

Feri menegaskan dirinya tidak mempersoalkan pilihan aktivis yang masuk ke dalam pemerintahan. Namun menurutnya, keberadaan mereka harus mampu menghasilkan kebijakan yang berdampak signifikan bagi masyarakat.

Menurut Feri, hingga saat ini belum terlihat capaian yang benar-benar menonjol dari para aktivis yang kini berada di pemerintahan.

Ia mencontohkan persoalan upah minimum yang menurutnya masih menyisakan banyak masalah di berbagai daerah.

Feri juga menyoroti tingginya harapan publik terhadap tokoh-tokoh aktivis yang kini menduduki jabatan strategis di pemerintahan dan menghadirkan terobosan yang berbeda dibanding politisi pada umumnya.

Secara khusus, Feri mengaku memiliki harapan besar terhadap Budiman Sudjatmiko yang kini menjabat sebagai Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin).

Menanggapi kritik tersebut, Budiman Sudjatmiko menegaskan bahwa aktivis tidak harus selalu berada di luar kekuasaan.

Budiman juga menjelaskan bahwa BP Taskin merupakan lembaga baru yang tidak memiliki fungsi eksekutorial, melainkan bertugas melakukan koordinasi, pemantauan, dan perumusan konsep pengentasan kemiskinan.

Ia mengungkapkan bahwa salah satu temuan penting yang diperoleh lembaganya adalah bahwa kemiskinan tidak semata-mata berkaitan dengan pendapatan.

Berdasarkan temuan tersebut, BP Taskin telah menyusun rencana induk pengentasan kemiskinan yang mengintegrasikan program berbagai kementerian dan lembaga.

Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/c7-VobVdbQM

#prabowo #menteri #kabinet



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674110/feri-amsari-soroti-terobosan-aktivis-di-pemerintahan-ini-jawaban-budiman-sudjatmiko-satu-meja
Transkrip
00:02Masih di Satu Menjadi Forum, saya melanjutkan Bung Ferry.
00:05Bung Ferry tadi saya sudah sampaikan seringkali soal data suah sembada dan sebagainya.
00:11Terus Anda melihat kawan-kawan aktifis, bagi Anda sebetulnya posisi di luar dan di dalam tentu sama saja.
00:17Tetapi apa yang membedakan?
00:19Dikkat seorang aktifis yang disebut sebagai motor penggerak penyeimbang kekuasaan,
00:24ada di dalam harus seperti apa dan yang ada di luar seperti apa dan itu dibiarkan non-aktif saja.
00:29Ya sebenarnya tidak terlalu berminat juga untuk mengkritik pemerintah yang namanya pemerintah saya juga.
00:36Tapi gara-gara Mas Budi meninggalkan tempatnya harus ada yang mengisi.
00:40Ada yang mengisi, ini penghargaan, ini penghargaan.
00:44Maka ada penyeimbang.
00:46Ya betul, makanya apalagi dalam berbagai perspektif dosen itu kan pada dasarnya adalah buruh.
00:53Karena dia diupah.
00:54Dan bagi saya itu juga yang perlu dipahami apa yang terjadi yang dicontohkan oleh Mas Budi di Amerika Latin itu.
01:03Sebagian dibenangkan partai buruh baru mereka mengisi kekuasaan dan mengeluarkan kebijakan.
01:09Bukan sebaliknya bersandar semacam ikut ya, menuai dari keberhasilan orang.
01:17Sehingga kebijakan-kebijakan pada dasarnya tidak pro-buruh.
01:21Nah bagi saya ya tentu akan ada bedanya buruh yang berkuasa mengeluarkan kebijakannya.
01:29Ada di titik sentral kekuasaan dibandingkan buruh yang menumpang laju biduk ke hilir.
01:36Cuman sekadar lewat.
01:37Di titik itu akan sangat membedakannya.
01:42Tentu ini tidak mencoba berpikir negatif kepada teman-teman masuk ke dalam.
01:49Tapi fakta membedakan, menjelaskan hal yang berbeda.
01:54Tidak ada satupun kerja teman-teman di dalam yang menonjol dari kerja-kerja yang lain.
02:00Kalau kita mau bicara upah minimum bagi para buruh,
02:06kalau Pak Penasehat mau clear dan lebih berterus terang ya,
02:11masih banyak problematika upah minimum di berbagai daerah.
02:15Kritik bahkan gugatan juga terjadi.
02:19Jadi kalau menurut saya, kalau Pak Said Iqbal mau menjadi penasehat harus menyampaikan secara terbuka.
02:26Mungkin di beberapa daerah oke, tetapi di banyak daerah masih banyak persoalan soal upah minimum bagi buruh.
02:33Dan itu harus tersampaikan kepada Pak Presiden.
02:37Bukan tidak mungkin teman-teman yang punya akses termasuk Pak Said Iqbal, Mas Budiman,
02:43lebih dekat dibandingkan para menteri untuk menyampaikan banyak persoalan.
02:47Karena mungkin Pak Presiden sedang terhibur dengan para aktivis ini.
02:51Sementara menteri datang dengan berbagai persoalan.
02:55Orang persoalan itu membuat Presiden bingung cukup menghadap Pak Teddy saja.
02:59Karena ini mendatangkan tawa, kebahagiaan, tapi belum tentu juga menyelesaikan persoalan.
03:05Nah bagi saya ini yang menjadi titik penting untuk memahami prospek ketatanegaraan.
03:11Ketatanegaraan itu antara hukum dan politik tipis ya.
03:14Nah keberadaan politik teman-teman aktivis di dalam pemerintahan itu pentingnya bagaimana?
03:21Penting itu harus mengubah kebijakan yang signifikan.
03:25Orang sangat berharap, saya sendiri harus mengakui, saya berharap dengan keberadaan Budiman Sujat Miko,
03:31pengentasan kemiskinan itu tidak tampil dari sekedar data yang diucapkan pemerintah.
03:38Tapi fakta real data di lapangan, itu harapannya.
03:42Dan orang memimpikan para aktivis ini bekerja sesuai imajinasi publik.
03:48Bukan seperti apa yang dikerjakan para politisi-politisi lain.
03:52Nah ini yang saya khawatirkan, jangan-jangan jawaban ini cuman.
03:55Kalau saya menganalogikan ketika Anda men-challenge data suaspeda lapangan,
03:59terkait dengan pengetasan kemiskinan, Anda boleh berpedapat nggak kira-kira?
04:03Ya saya...
04:05Mumpung ada Mas Budiman ya di depan.
04:06Dengan segala harapan kepada Mas Budiman.
04:08Oh baru harapan ya, belum menelan.
04:10Belum catatan, belum catatan.
04:11Karena begini, saya tidak melihat terutama daerah-daerah yang tingkat kemiskinannya jomblang dibandingkan daerah lain,
04:18ada perubahan yang signifikan dari kebijakan.
04:22Dan itu karena Budiman Sujat Miko yang buat kebijakan itu.
04:27Ini kalau mau kita jujur ya, di beberapa daerah beringas seperti Jakarta,
04:32mana upaya yang signifikan untuk mengubah tingkat kemiskinan orang.
04:37Bahkan dalam kondisi global ekonomi yang sedang rusak seperti ini,
04:41bagaimana Mas Budiman Sujat Miko sebagai seorang visioner,
04:46komandante, el capitano di lapangan,
04:49bisa betul-betul mengubah hal ini menjadi luar biasa.
04:53Mas Budiman, saya suka kata-katanya,
04:58karena ada tempat yang ditinggalkan maka saya isi.
05:01Saya kira itu bagian dari proses sejarah ya.
05:04Begini, Mas Yogi, saya harus luruskan.
05:07Kalau dikatakan adanya animal yang namanya aktivis untuk penyimbang, keliru.
05:12Kenapa?
05:13Aktivis itu melakukan perubahan.
05:15Tapi kan juga dalam konteks.
05:17Bahwa dia bisa di dalam kekuasaan, bisa di dalam kekuasaan.
05:22Soal yang nyimbang apa?
05:23Kalau saya bukan masalah ini fungsi pejabat, ini fungsi aktivis.
05:27Penyimbang adalah kalau pemerintahnya neolib, penyimbangannya harus sosialis.
05:31Kalau pemerintahnya sosialis, penyimbangannya neolib.
05:34Artinya itulah cara kita melihat ekonomi politik ya,
05:38bukan sekedar peran-peran fungsi aktivis dan peran-peran fungsi politis bukan di situ.
05:44Karena aktivis juga beda-beda ideologinya.
05:46Beda-beda ideologinya.
05:47Jadi aktivis sudah melakukan perubahan, bisa di luar, bisa di dalam.
05:51Kemudian pertanyaannya, soal fungsi-fungsi seperti saya atau Pak Iqbal.
05:57Mungkin harus ditegaskan, KBPTAS kan badan baru, satu.
06:00Badan baru ini memang tidak eksekutorial, Pak Ferry, tidak eksekutorial.
06:04Lebih koordinatif, monitoring dan merumuskan konsep pengantasan kemiskinan.
06:09Dan itu yang diminta Pak Prabowo.
06:10Bagaimana Mas Budiman, kita sudah ratusan triliun tiap tahun,
06:14tapi kemiskinan masih begini-begini saja.
06:16Coba dibongkar apa masalahnya.
06:18Akhirnya kita menemukan kemiskinan itu bukan sekedar orang kurang uang,
06:21tapi juga orang kurang akses dan kurang aset.
06:23Yang menarik, kami kemudian menyusun rencana induk.
06:26Dan sekarang ini sudah kami sampaikan kepada Presiden,
06:29supaya itu binding.
06:30Rencana induk itu mengingkat semua kementerian,
06:32agar setiap kementerian,
06:34Ketelaga Gerjaan, Kooperasi, Sosial, BGN,
06:36dan Kementerian Pendidikan,
06:38menjadi satu orkestrasi dari beberapa program itu
06:41sehingga mereka yang menerima makam berkesi gratis
06:44kepada sekolah rakyat,
06:45kemudian berkaitan dengan perumahan nanti
06:47yang berkaitan dengan cek kestaran gratis.
06:49Implikasinya apa?
06:50Sebenarnya ada dampaknya.
06:52Dampaknya apa?
06:53Ada terjadi penurunan kemiskinan.
06:55Meskipun masih belum signifikan.
06:57Artinya dalam progres lah.
06:58Masih belum signifikan, masih belum puas,
06:59tapi Pak Presiden menegaskan,
07:01kemiskinan ekstrim 2026 harus 0 persen.
07:03Sekitar 2,2 juta orang Indonesia
07:06yang miskin ekstrim di tahun 2020
07:09dan sebagai kepala BPF Taskin,
07:11permintaan Presiden itu menurut Anda realistis atau tidak?
07:13Realistis karena kami sudah menemukan,
07:15kami sudah berdiskusi dengan BUMN.
07:18Dua hal yang saya mau diskusikan dengan Mas Budi.
07:21Satu, bagi saya aktivis bukan ikan di lautan.
07:26Begitu di lautan,
07:27dia tidak ikut asin seperti lautan,
07:29tapi begitu keluar dari lautan,
07:32dia jadi ikan asin.
07:33Jadi jangan ketika di luar pemerintah,
07:36dia mampu menahan godaan,
07:37begitu keluar pemerintah,
07:39dia ikut godaan tersebut.
07:41Kedua, soal data-data yang selalu dikampanyekan Pak Presiden.
07:47Pak Presiden kita ini,
07:48menggunakan jargon ultranasionalis,
07:51untuk menghibur orang,
07:53tuntaskan kemiskinan 0 persen.
07:56Ekstrim.
07:57Ekstrim.
07:58Sampah 0 persen.
08:01Tiba suasembada pangan,
08:04padahal ternyata cuma beras.
08:06Pidato beliau terlihat,
08:09mencoba menghibur orang.
08:11Padahal kita tahu,
08:12sebagian besar dari pidato itu irasional.
08:16Saya melihat,
08:17misalnya,
08:18soal menguntaskan kemiskinan ekstrim.
08:20Kalau tidak ada upaya-upaya yang luar biasa,
08:23juga tidak bisa.
08:24Mas Budi barusan mengatakan,
08:26bahwa fungsinya hanya koordinatif.
08:30Apalagi kebijakannya belum binding.
08:33Kan sebenarnya di titik kemiskinan,
08:35pengentasan kemiskinan,
08:36Mas Budi itu se-level dengan menteri koordinator.
08:40Menteri koordinator saja,
08:41kadang-kadang gagal mengkoordinasikan para menteri.
08:44Apalagi seorang Budi Mansujatmiko,
08:47yang level berfikirnya,
08:48kadang-kadang lebih tinggi daripada seorang menteri.
08:51Tidak nyambung dengan menteri-menterinya.
08:52Saya tidak melihat binding itu,
08:55menjadi hal yang signifikan,
08:57tetapi kekuatan Mas Budiman,
09:00harusnya betul-betul sangat powerful,
09:03untuk mengkoordinasikan orang.
09:05Di sini letak kabinet ini,
09:07sebenarnya tidak efektif.
09:08Terlalu banyak orang,
09:10terlalu banyak jabatan,
09:11fungsinya juga tidak binding.
09:13Saya nanti akan memberikan kesempatan,
09:15untuk menanggapi ini,
09:16termasuk dari Pak Said juga,
09:18seperti apa secara psikologis,
09:20ketika berada di luar.
09:22Tadi Mbak Nining mengatakan,
09:23masih banyak persoalan-persoalan inti,
09:25terkait dengan perjuangan buruh,
09:27yang belum selesai.
09:28Tapi kan hari ini Pak Said ada di dalam,
09:30sebagai penasehat.
09:31Tapi jawabannya ditahan dulu,
09:33kita akan kembali setelah yang satu jenis,
09:34tetaplah di satu meja di forum.
Komentar

Dianjurkan