00:03Masih di Satu Menjadi Forum, Pak Said bagaimana Anda memposisikan dan kira-kira ini situasi lagi sulit,
00:11serba naik, pasti dampaknya juga ke buruh.
00:13Kalau dulu setiap ada kenaikan BBM Anda terdepan membawa pasukan teman-teman buruh untuk meminta pemerintah memastikan jaminan sosial.
00:22Hari ini seperti apa kira-kira?
00:23Ya saya selalu mengambil contoh itu Dr. Rizda Ramli, di dalam dan di luar tetap menyuarakan apa yang menjadi kepentingan
00:35orang banyak.
00:36Karena saya buruh tentu saya akan menyuarakan di dalam atau di luar sama menyuarakan apa yang menjadi kepentingan buruh.
00:43Saya ambil contoh tadi misalnya tadi pekerja alih daya, ini akan dirubah revisi permen akar nomor 7 tahun 2026 tentang
00:51pekerja alih daya.
00:52Itu nanti Presiden mendengar dan itu kita sampaikan.
00:55Kemis dan Senin ini saya akan bertemu dengan Wame Naker, ketemu dengan Menaker, ketemu dengan Dirjen untuk sama-sama berdiskusi
01:04tentang mengambil masukan terhadap perubahan permen akar kan bisa.
01:08Ketika kami memenangkan gugatan di MK tentang Omnibus Law Undang Cipta Kerja, kami yang terakhir loh, satu-satunya yang terakhir.
01:16Gugatan Partai Buruh bersama beberapa Serikat Buruh menang dan kita minta Presiden tidak mengulakan perpu dilakukan oleh Pak Prabowo.
01:26Nah pengalaman-pengalaman itulah yang meyakinkan saya dalam pertimbangan yang kedua yaitu kita punya kesamaan pandang bersama Presiden Prabowo terhadap
01:38beberapa isu-isu perburuan.
01:39Tentang masih ada persoalan, iya di Amerika, di Jerman, di Skandinavia juga masih ada persoalan.
01:46Yang paling penting adalah kita memastikan kita tidak menyerah terhadap persoalan-persoalan itu untuk kita perjuangkan termasuk yang masalah upah.
01:54Bayangkan Pak Prabowo sudah menyetujui indeks tertentu 0,9.
01:58Menteri Dalam Negeri dan Menteri Tenaga Kerja yang Abang tadi bilang, Abang Ferry, dikumpulkan untuk diperintahkan 0,7.
02:06Kan ini ada perluar perlawanan dari dalam.
02:08Saya sudah tangkap poin ya, singkatnya adalah keberadaan Pak Said di dalam maupun di luar.
02:13Sama saja kita ingin memberikan yang terbaik bagi buruh dengan cara yang bisa kita lakukan.
02:19Tentu dengan cara yang baik.
02:21Kami percaya dan berkeyakinan Pak Prabowo mau mendengar, mau bertindak sepanjang kita memberikan masukan yang terus-menerus dan berkeyakinan untuk
02:31memberikan argumentasi yang kuat.
02:33Insya Allah akan kami lakukan.
02:35Mas Budiman, Anda harus memastikan bahwa keberadaan Anda dan kawan-kawan aktivis, Mas Jumhur, Pak Said, dan lain-lainnya itu
02:44tidak sekedar politik akomodatif.
02:47Tidak sekedar tanah kutip operasi pembungkaman, tapi lebih kepada menjadi mitra.
02:52Kalau Pak Prabowo sekedar melakukan politik akomodatif, orang-orang seperti kami hanya ditaruh dan kemudian tidak didengarkan dan rekomendasi tidak
03:01dijalankan.
03:01Kalau dengar cerita Pak Iqbal kan dijalankan, rekomendasi kami juga tentang perlunya bikin supply chain dari MBG dengan kooperasi dari
03:09petani pasokannya itu juga didengarkan.
03:11Meskipun dalam pelaksanaannya memang ada hambatan-hambatan ya.
03:15Kedua, kalau sekedar akomodatif, Pak Prabowo pasti hanya sekedar menjadi pendengar pasif kalau kami sedang diskusi.
03:23Tapi apa yang terjadi?
03:24Tidak.
03:24Apa yang terjadi?
03:25Kita bisa teknis, ya.
03:27Bicara data, ya.
03:28Tapi yang menarik.
03:30Ketika akan membawa referensi sejarah, referensi ekonomi, referensi politik, segala macam, beliau bisa secara responsif.
03:38Dan bukan secara responsif, bahkan beliau kadang-kadang memberikan perspektif yang, yang menurut kami,
03:43mengingatkan kami pada diskusi-diskusi zaman kami masih menjadi kelopok studi dulu, waktu zaman pergerakan.
03:48Arti apa?
03:50Ya mungkin karena latar belakang beliau dari keluarga Partai Sosialis Indonesia, sedikit banyaknya kewarisan bapaknya ya,
03:56itu nyambung di sana.
03:59Artinya, kalau segera politik akomodatif kan transaksional, ya kan?
04:03Tapi menurut saya seperti katanya tadi pertanyaannya, apakah ini politis?
04:07Bukan, ini ideologis.
04:09Bagi kami ini ideologis.
04:10Begitu.
04:11Jadi intinya Anda mengatakan bahwa Presiden masih bisa di diskusi, bisa diajak berdebat.
04:16Bisa.
04:17Dan bahkan bisa kita merubah keputusan Presiden terpanjang argumentatif.
04:22Saya ke Mbak Nining, Mbak Nining, kalau demikian tadi ada kawan yang sudah masuk ke dalam istana,
04:29bagaimana Anda menempatkan organisasi buruh ini sebagai motor perjuangan nasib buruh yang masih banyak persoalan belum diselesaikan?
04:37Iya, walaupun Bung Iqbal masuk sebagai penasehat Presiden tentang ketenak kerjaan,
04:45tadi saya sudah banyak menyampaikan problem mendasar akar persoalnya sampai hari ini adalah belum terjawab.
04:54Nah, kita akan melihat dalam proses perjalanannya apakah mempengaruhi atau dipengaruhi.
05:00Tinggal seperti itu.
05:02Nah, tapi harus diingatkan kami tetap akan bersuara dan terus berjuang dengan berbagai macam sektor
05:12karena problem buruh tidak hanya orang yang bekerja tapi ancaman terhadap generasi muda ke depan
05:18dan mayoritas masyarakat hari ini adalah yang masih non-sereka juga harus disuarakan.
05:25Nah, itu yang harus kita lihat.
05:29Yang selanjutnya adalah tentang bagaimana manfaat dari ketika teman-teman yang tadinya memilih jalan perlawanan di garis masa
05:39yang kemudian masuk di dalam lingkaran kekuasaan, ini akan secara alami akan terlihat
05:47apakah akan membawa satu perbaikan kondisi nasib kaum buruh atau justru sebaliknya.
05:52Nah, hari ini masih ada PR kita adalah tentang bagaimana sampai hari ini Indonesia tidak memiliki standarisasi upah layak secara
06:00nasional.
06:00Dan itu nanti yang kira-kira Anda akan titipkan kepada kawan-kawan Anda yang sudah ada di dalam istana.
06:06Pemutusan hubungan kerja yang hari ini juga semakin masif, dampak dari problem global yang kemudian menjadi korban adalah
06:16ujung tombak dari ekonomi adalah para buruh.
06:18Singkatnya adalah Anda dan kawan-kawan akan terus berjuang di luar.
06:21Ya, kita tahu masih banyak organisasi serikat bahkan mungkin bisa saja dari anggota Bung Iqbal sendiri ya pasti akan ada
06:28pro dan kontra atas kondisi ini kan gitu.
06:31Begitu juga dengan konfederasi-konfederasi atau organisasi-organisasi lain.
06:35Bung Ferry, kalau kita seling ada zakan kabinet dan sebagainya ada juga hari ini ada juga politik akomodatif kata beberapa
06:42pengamat.
06:43Kalau Anda melihat sebenarnya apa sih yang paling ideal dalam situasi sekarang yang harus dikerjakan oleh kabinet merah putih pimpinan
06:49Prabowo Subianto?
06:50Namanya saja kabinet, kabinet itu artinya kan kamar kecil, tempat diisi orang-orang kepercayaan raja-raja dulu.
06:57Nah sekarang kabinetnya terlalu banyak, sudah 110 kalau ditambah utusan-utusan ini dan penasihat itu bertambah lagi.
07:05Dan itu tentu saja tidak ideal untuk sistem pemerintahan presidensial yang efektif dan efisif.
07:11Selain dari jumlah Anda mau melihat apa yang kira-kira perlu perbaikan?
07:14Ya di data penelitian kami menyarankan kepada Presiden Republik Indonesia hanya membutuhkan 21 menteri dengan tetap mempertahankan 34 kementerian.
07:24Jadi ada satu menteri yang akan memimpin dua kementerian yang objek persoalannya sama.
07:30Katakanlah yang objeknya desa, itu menterinya banyak tuh, menteri dalam negeri, menteri desa, menteri daerah tertinggal, pertanian dan segala macam.
07:39Objeknya berdekatan. Nah itu akan membantu kinerja efektif Presiden.
07:44Kalau bicara sosialisme, itu sosialisme salah satunya.
07:48Nah kita tidak melihat wajah sosialisme dalam kebijakan pemerintahan kita.
07:52Misalnya merebut tanah rakyat, mengaktifkan militaristik dan polisi di ruang sipil.
08:01Itu lebih mirip fasisme daripada sosialisme.
08:03Dan bagi saya tidak cukup menjual sosialisme untuk menghibur rakyat.
08:08Yang perlu dipastikan adalah rakyat betul-betul bahagia di bawah kepatuhan kepada konstitusi.
Komentar