Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan (BP Taskin), Budiman Sudjatmiko, dan Penasihat Khusus Presiden Bidang Ketenagakerjaan, Said Iqbal, membantah anggapan bahwa akses kepada Presiden Prabowo Subianto sulit diperoleh.

Keduanya mengaku memiliki ruang yang cukup untuk menyampaikan masukan secara langsung kepada kepala negara.

Budiman menjelaskan, dalam berbagai rapat terbatas yang dipimpin Presiden, komunikasi tidak berjalan satu arah.

Menurut Budiman, forum tersebut menjadi ruang untuk menyampaikan berbagai usulan kebijakan, termasuk yang berkaitan dengan pengentasan kemiskinan.

Ia mencontohkan saat mengajukan gagasan penanggulangan kemiskinan tanpa tambahan beban APBN.

Budiman mengatakan Presiden merespons usulan tersebut dengan terbuka dan meminta kajian lanjutan mengenai instrumen teknologi yang diperlukan.

Senada dengan Budiman, Said Iqbal mengaku memiliki pengalaman langsung berkomunikasi dengan Presiden terkait isu kesejahteraan buruh, khususnya soal kenaikan upah minimum.

Said juga membantah anggapan bahwa kedekatan dengan pemerintah membuat gerakan buruh kehilangan independensi.

Ia mencontohkan keputusan kelompok buruh tetap menggelar aksi May Day di DPR meski dirinya kini berada di lingkungan Istana.

Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/c7-VobVdbQM

#prabowo #menteri #kabinet

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/674105/dilantik-jadi-penasihat-khusus-presiden-prabowo-said-iqbal-klaim-tetap-kritis-dan-bela-buruh
Transkrip
00:00Saudara-saudara sekalian, saya lima kali ingin jadi presiden, lima kali, empat kali gue kalah.
00:15Tapi saya merasa buruh, tani, dan nelayan selalu bersama saya, saudara-saudara.
00:21Hanya kita tahu, kadang-kadang, kadang-kadang merekalah banyak akal, tapi gak apa-apa.
00:34Akhirnya, saudara memberi mandat kepada saya, dan percayalah, saya akan memberi segalanya untuk membela rakyat saya.
00:45Sisa, sisa hidup saya adalah untuk rakyat saya, saudara-saudara sekalian.
00:51Saudara-saudara perhatikan, seluruh dunia dalam keadaan krisis, banyak negara sudah panik.
01:02Kita masih aman, kita suasembada pangan, pangan kita aman.
01:07Berapa tahun lagi, kita tidak lama lagi, kita akan suasembada BBM, suasembada energi, saudara-saudara.
01:21Masih di Satu Meja The Forum, saya mau melanjutkan ke Mas Budiman.
01:24Mas Budiman, tadi pertanyaan saya adalah ketika Anda mengatakan kurang banyak aktivis yang di dalam.
01:29Yang kedua, saya lalu bertanya, ketika orang mengatakan ini efektivitasnya seperti apa?
01:34Tapi saya penasaran.
01:35Yang sudah di dalam.
01:37Itu ruang untuk berbincang, untuk menyampaikan pendapat dengan presiden itu seperti apa sih?
01:43Secara formal kita kan ada rapat parikunan.
01:49Oke, itu pasti.
01:50Dan rapat terbatas sesuai dengan tema.
01:53Misalnya berkaitan dengan, tentu saya kalau jika tema kemiskinan, tentu saya diundang bersama Menteri Sosial.
02:00Itu sifatnya apa? Laporan formal atau ada masukan-masukan?
02:03Diskusi, jadi semacam, bukan semacam FGD, rapat terbatas.
02:07Rapat terbatas tematik berkaitan dengan kementerian-kementerian yang berkaitan dengan kemiskinan.
02:11Meskipun saya pernah juga ada rapat terbatas berkaitan dengan pendidikan.
02:16Kok bisa?
02:17Karena pada waktu itu, pada awal-awal kabinet berdiri, rapat pendidikannya adalah pendidikan untuk ke daerah-daerah 3T.
02:24Yang terpelosok, terpencil itu ya.
02:26Dan bagaimana cara memanfaatkan teknologi digital untuk menjangkau para peserta didik di daerah-daerah miskin.
02:35Di daerah 3T, pinggiran, perbatasan dan segala macam atau di tengah hutan seperti itu.
02:39Nah, temanya pendidikan, tapi karena berkaitan dengan kemiskinan juga ada.
02:42Artinya, dalam keadaan seperti itu berbeda, agak berbeda dengan rapat paripurna.
02:46Di rapat terbatas, itu two-way traffic.
02:49Komunikasinya dua arah.
02:51Komunikasinya dua arah.
02:53Misalnya apa?
02:53Misalnya ada enggak, kalau boleh kasih contoh nih, ada dalam konteks BP Taskin atau apapun.
02:59Oke.
02:59Apa yang kita bisa lihat?
03:01Pada waktu itu, saya mempresentasikan sebuah program untuk kita usulkan bagaimana kita mengkonsuldasikan
03:08tanpa APBN, pengantasan kemiskinan sampai 2029
03:13dengan cara memberikan valuasi pada kerja-kerja sosial.
03:17Jadi kerja ngerawat lingkungan, kerja ngerawat orang tua, kerja ngerawat kuburan, kerja ngerawat petilasan.
03:25Tapi itu konteksnya Mas Budiwan mengejukan usulan.
03:27Mengejukan usulan, bahkan saya bilang, Pak Presiden, kami sudah merumuskan sebuah mekanisme untuk 0% APBN.
03:340% APBN dan kita bisa selesaikan kemiskinan dalam waktu beberapa tahun ke depan.
03:39Dan kami presentasikan segala macam dengan angka-angkanya.
03:43Presiden kemudian, oke ini saya enggak pernah terpikir soal ini.
03:48Tapi perlu dibicarakan lebih lanjut bagaimana instrumen teknologinya untuk melakukan itu.
03:54Oke, saat itu follow up-nya dari Presiden apa?
03:56Nah, follow up pada waktu itu kita kemudian mengadakan pertemuan-pertemuan dengan beberapa macam badan
04:00seperti BRIN ya, karena Pak Presiden eksplisit bicara ini harus kerjasama dengan BRIN
04:03karena teknologi digitalnya, kemudian sosialnya.
04:06Saya ada tambahan sedikit ya, kalau dibilang ketemu Presiden susah, enggak.
04:10Enggak.
04:10Enggak, serius.
04:12Sebelum saya diangkat jadi penasehat, enggak, sebelum saya jadi penasehat,
04:16diangkat penasehat khusus Presiden bidang ketenagaan dan kesejahteraan buruh,
04:23pemerintahan sebelumnya tidak pernah menaikkan upah 10 tahun.
04:26Kemudian kami minta waktu melalui Pak Profesor Sumi Dasko bertemu Presiden.
04:32Langsung dihubungi melalui telepon, besok diundang.
04:36Dan baru pertama kali Presiden memutuskan setelah 10 tahun naik 6,5 persen.
04:41Enggak perlu ada perdebatan panjang, buruh bisa menerima.
04:45Yang kedua, ketika tahun berikutnya kenaikan upah kembali.
04:50Terjadi perdebatan.
04:51Bahkan Menteri Tenaga Kerja atas masukan dari beberapa menteri terkait,
04:56termasuk Menko Perekonomian, Menteri Rosan, Menteri Investasi, dan juga Pak Luhut
05:02sebagai Ketua Den, didatangi oleh kawan-kawan Apindu dan Kadin.
05:06Mereka minta, kan kenaikan upah berdasarkan inflasi, pertumbuhan ekonomi dan indeks tertentu.
05:13Mereka menyodorkan angka 0,1 sampai 0,3.
05:16Pemerintah dalam hal ini Menteri Tenaga Kerja 0,5 sampai 0,7.
05:21Saya enggak mau.
05:22Lagi-lagi saya datang, minta ketemu Presiden.
05:24Bisa.
05:25Akhirnya terjadi dialog beberapa kali.
05:29Bahkan, bahkan tanpa harus bertemu langsung dengan Presiden,
05:32melalui telepon pun saya bisa bicara dengan Presiden.
05:36Saya jadi kadang-kadang jadi agak berpikir juga kalau dibilang
05:40Menteri susah, di masyarakat susah.
05:45Kok yang saya rasakan beda ya?
05:47Hal yang sama juga dengan Mas Kedemiko.
05:50Presiden memutuskan usuhan kamu apa.
05:53Oke Presiden, saya minta kan indeks tertentu 1,0 sampai 1,2.
05:56Saya minta 0,9.
05:58Dikabulkan.
06:00Kemudian ketika kami memutuskan untuk aksi May Day yang lalu,
06:06untuk aksi di DPR, karena kami tidak ingin terjebak dalam rutinitas
06:11seremonial, kami memutuskan tanpa dipengaruhi oleh siapapun
06:15untuk aksi di DPR.
06:16Karena ada enam isu yang kami bawa.
06:19Tapi waktu May Day itu memang orang yang tahun ini memang orang melihat sepertinya
06:24seperti ya.
06:24Ya tapi kan gak ada yang tahu proses bagaimana kami berkomunikasi dengan Presiden.
06:29Emangnya RUPP RT memangnya tiba-tiba bisa disahkan?
06:33Tidak, RUPP RT 22 tahun.
06:36Kawan-kawan jalan PRT berjuang,
06:38Mas Budiman menambahkan.
06:39Tiga hari bisa disahkan.
06:40Gak artinya gini, bukan suatu yang aneh juga ketika ada perayaan May Day di hadiri Presiden.
06:46Oke.
06:46Di negara manapun.
06:47Oh gak apa-apa.
06:47Gak ada masalah sih.
06:48Dan bahkan itu bagus.
06:52Yang dilihat adalah keberlangsungan bagaimana perjuangan-perjuangan buruk.
06:55Oh itu benar.
06:55Yang belum selesai.
06:57Pertanyaan tadi, apakah sesuai apa?
06:59Yang menarik tema kemiskinan Mas Yogi,
07:02kebetulan dalam soal berkaitan segala yang berkaitan dengan tema kemiskinan,
07:06Pak Presiden biasanya gak terlalu berlarut-larut meetingnya.
07:09Sehingga tidak harus terlalu banyak,
07:11itu biasa segera keluar perpres,
07:13segera keluar impres.
07:15Dan itu selalu cepat ya.
07:15Selalu cepat.
07:16Saya ambil contoh.
07:18Siapa yang mengusulkan Marsina jadi pahlawan nasional?
07:21Walaupun ini simbolis.
07:22Saya waktu MEDE 2025 berbisik.
07:24Pak, tolonglah buru tidak pernah jadi pahlawan nasional.
07:28Menurut kamu siapa?
07:29Marsina.
07:30Pertanyaan saya jawab Marsina.
07:32Oke, apakah buru semua setuju?
07:34Saya berkeyakinan setuju.
07:35Karena beliau dari akar rumput Marsina.
07:37Oke, kita putuskan.
07:38Jadi komunikasi yang pas dan tepat,
07:42membuat Presiden bisa memutuskan juga cepat.
07:45RUP, PRT juga itu begitu.
07:46Mas Said dan Mas Budiman,
07:48saya mau tanya ke Mbak Nining.
07:49Itu yang kita halami ya,
07:50yang kita rasakan ya.
07:51Ini kan masih ada di jalur perjuangan buruh yang belum masuk ke dalam.
07:56Mbak Nining paling enggak kan ada di luar ya kan.
07:59Tadi mengatakan ada beberapa hal yang belum selesai.
08:02Soal upah layak,
08:03soal job security.
08:05Tapi kalau dari ceritanya,
08:07masa ini kayaknya semuanya baik aja langsung ketemu ketok.
08:11Pertama harus diingatkan seperti ini.
08:13Yang kita maksud dengan efektivitas itu bukan persoalan bisa bertemu atau tidak.
08:20Ya, pertamanya bertemu.
08:21Kemudian menyampaikan persoalan.
08:23Dengan bertemu itulah bisa disampaikan gagasan.
08:26Tapi kan yang paling mendasar adalah bagaimana akan persoalan yang dihadapi oleh masyarakat.
08:34Nah pertanyaan saya soal-soal krusial.
08:36Buruh dengan...
08:37Kita bicara tentang persoalan MEDE.
08:41Memang secara organisasi konfederasi KASBI tidak terlibat di Monas.
08:46Dia melakukan aksi yang juga tidak dipengaruhi oleh baik elit politik bahkan kekuasaan hari ini.
08:52Dan kita menentukan sendiri untuk aksi di DPR gitu ya gitu.
08:55Kemudian di beberapa hari sebelum itu kemudian kita tahu MEDE sebelumnya pemerintah termasuk Pak Prabowo waktu itu menyatakan akan melakukan
09:07penghapusan outsourcing.
09:09Faktanya kebijakan yang dikeluarkan adalah ketika peraturan menteri justru kemudian mengeluarkan satu kebijakan tentang alidaya yang kemudian menjadi enam sektor.
09:23Itu yang harus diingat.
09:24Artinya...
09:25Artinya ada yang mengatakan bahwa belum semua apa yang disampaikan oleh pemerintah.
09:30Artinya apa yang disampaikan di publik dengan apa yang kemudian diturunkan dalam satu kebijakan ini agak bergeser gitu ya gitu.
09:39Kenapa saya bilang seperti itu?
09:42Konstitusi negara kita menjamin bahwa siapapun pengurus negara menjamin seluruh tumpah dari Indonesia.
09:48Nah kalau enam sektor ini boleh kita alidayakan artinya kita melakukan diserminasi terhadap enam sektor.
09:56Mulai dari security misalkan terus kemudian catering dan yang lain gitu ya gitu.
10:01Itu yang harus diingat.
10:02Anda melihat belum ada keberpihakan pemerintah.
10:04Nah itu yang harus kita lihat gitu ya gitu.
10:07Saya mau banyak atau sedikit yang masuk dalam kekuasaan kita bisa lihat kok di rezim Jokowi.
10:12Saya mah adalah secara individu saya mendukung rezim Jokowi di periode pertama gitu ya gitu.
10:19Tentang bagaimana pada saat itu ada satu program agenda yang mau disampaikan adalah tentang kerja layak, upah layak, terus kemudian
10:28hidup layak.
10:29Sampai hari ini justru kita semakin menjauhkan itu gitu ya gitu.
10:32Bahkan di 2015 Jokowi mengeluarkan PP78 yang waktu itu kita semua melakukan pergerakan perlawanan gitu.
10:40Nah itu yang kemudian masih terjadi sampai hari ini.
10:43Misalkan kita bicara tentang anti serikat dengan sistem kerja kontrak, fleksibilitas senaga kerja, sistem emagang dan alidaya.
10:52Ini kerentanan terhadap buru semakin kecil berserikat, kolektif bergeningnya semakin kecil kan gitu.
10:58Karena mereka tidak punya power bergaining.
11:00Dan serikat juga akan memiliki kekhawatiran itu dari sektor formal menjadi informalisasi dan itu nyata.
11:06Nah ditambah lagi dengan omnibus law undang-undang cipta kerja yang hari ini juga banyak dimanfaati oleh pengusaha-pengusaha hitam
11:13yang kemudian itu butuh bagaimana pencegahan, pengawasan dan penegakan hukum.
11:18Dan ini masih persoalan yang dihadapi sampai hari ini.
11:22Termasuk juga bicara tentang ruang kebebasan berdemokrasi gitu ya.
11:27Baik di dalam tingkat perusahaan bahkan sampai tingkat nasional kita masih lihat.
11:31Bagaimana pembungkaman, kriminalisasi, bahkan sampai penyiraman air keras terhadap orang-orang bersuara kritis.
11:38Saya, Bung Ferry, Bung Ferry ini kan salah satu yang sekarang ini lagi jadi bintang tanda kutip aktivis yang dianggap
11:46meritik terus kerjaannya kan gitu kan, memberikan masukan dan sebagainya.
11:50Anda melihat bahwa ada beberapa tadi Mas Budiwan mengatakan kurang banyak aktivis.
11:54Anda melihat apakah sebetulnya keberadaan aktivis sebagai penyeimbang di luar itu seperti apa
12:01atau Anda justru mengatakan bahwa saya ini masih tidak nyaman dianggap selalu tidak pernah ramah dengan pemerintah.
12:08Tapi tahan dulu jawabannya, kita akan kembali setelah yang satu ini tetap di satu meja di forum.
12:12Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan