KOMPAS.TV - Amerika Serikat mengungkap penyebab jatuhnya helikopter tempur Apache milik Angkatan Darat AS di dekat Selat Hormuz.
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memastikan helikopter canggih itu jatuh karena ditembak oleh militer Iran. Insiden ini turut memantik ketegangan di Timur Tengah.
Dalam akun Truth Socialnya Trump menuliskan, Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache saat berpatroli di atas Selat Hormuz. 2 pilot selamat dan tidak terluka. Amerika harus merespons serangan ini.
Trump juga masih terus mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang.
Salah satunya Trump mengatakan berupaya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran karena peperangan akan menyebabkan kerugian lebih besar termasuk korban jiwa dan kembali tertutupnya jalur utama energi global, Selat Hormuz.
Meningkatnya eskalasi AS-Iran, membuat parlemen Iran angkat bicara.
Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, meminta AS mengakui kekalahan dalam peperangan ini, bukan mendukung dan menghasut Israel untuk menyerang.
Ketegangan militer antara Iran dengan Amerika dan Israel muncul kembali usai serangan baru dilakukan Iran sejak gencatan senjata mulai berlaku pada bulan April.
Kala itu Iran mengklaim serangan untuk mebalas agresi Israel di Lebanon.
Namun adu kekuatan meluas ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait dan Jordania, termasuk serangan yang menyebabkan satu helikopter AS jatuh di Selat Hormuz.
Kita bahas bersama Yulius Purwadi, Pakar hubungan internasional Universitas Katolik Parahyangan serta peneliti pertahanan dan keamanan, Direktur Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisa Kusumasomantri.
Baca Juga Iran Balas Serangan AS, Targetkan Aset Amerika di Timur Tengah | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/674032/iran-balas-serangan-as-targetkan-aset-amerika-di-timur-tengah-kompas-petang
#iran #amerika #trump
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/674086/full-trump-janji-balas-iran-usai-helikopter-as-ditembak-jatuh-perang-baru-pecah
Presiden Amerika Serikat, Donald Trump memastikan helikopter canggih itu jatuh karena ditembak oleh militer Iran. Insiden ini turut memantik ketegangan di Timur Tengah.
Dalam akun Truth Socialnya Trump menuliskan, Iran menembak jatuh salah satu helikopter Apache saat berpatroli di atas Selat Hormuz. 2 pilot selamat dan tidak terluka. Amerika harus merespons serangan ini.
Trump juga masih terus mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang.
Salah satunya Trump mengatakan berupaya untuk mencapai kesepakatan dengan Iran karena peperangan akan menyebabkan kerugian lebih besar termasuk korban jiwa dan kembali tertutupnya jalur utama energi global, Selat Hormuz.
Meningkatnya eskalasi AS-Iran, membuat parlemen Iran angkat bicara.
Kepala Komite Keamanan Nasional Parlemen Iran, Ebrahim Azizi, meminta AS mengakui kekalahan dalam peperangan ini, bukan mendukung dan menghasut Israel untuk menyerang.
Ketegangan militer antara Iran dengan Amerika dan Israel muncul kembali usai serangan baru dilakukan Iran sejak gencatan senjata mulai berlaku pada bulan April.
Kala itu Iran mengklaim serangan untuk mebalas agresi Israel di Lebanon.
Namun adu kekuatan meluas ke sejumlah pangkalan militer AS di Bahrain, Kuwait dan Jordania, termasuk serangan yang menyebabkan satu helikopter AS jatuh di Selat Hormuz.
Kita bahas bersama Yulius Purwadi, Pakar hubungan internasional Universitas Katolik Parahyangan serta peneliti pertahanan dan keamanan, Direktur Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri Indo-Pacific Strategic Intelligence, Aisa Kusumasomantri.
Baca Juga Iran Balas Serangan AS, Targetkan Aset Amerika di Timur Tengah | KOMPAS PETANG di https://www.kompas.tv/internasional/674032/iran-balas-serangan-as-targetkan-aset-amerika-di-timur-tengah-kompas-petang
#iran #amerika #trump
_
Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/674086/full-trump-janji-balas-iran-usai-helikopter-as-ditembak-jatuh-perang-baru-pecah
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Eskalasi di Timur Tengah meningkat, Usai Trump berjanji akan merespon serangan Iran yang menyebabkan jatuhnya helikopter canggih Amerika Serikat.
00:06Lalu apakah intensitas serangan ditingkatkan Amerika Serikat dan Iran dan menciptakan perang baru?
00:11Kita bahas bersama Julius Purwadi, pakar hubungan internasional Universitas Katolik Parahyangan,
00:15serta peneliti pertahanan dan keamanan, Direktur Kerjasama dan Hubungan Luar Negeri Indo-Pacific Strategic Intelligence,
00:22Aisyah Kusuma Somantri, Pak Julius, Mbak Aisyah, selamat petang semua.
00:25Selamat petang, Masipo.
00:27Baik, saya ingin ke Pak Julius. Pak Julius, bahwa yang terbaru Iran menyerang aset Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan
00:33Jordania sebelumnya juga menembak jatuh helikopter Amerika Serikat.
00:37Pertanyaan saya, apakah ini tantangan Iran untuk Amerika Serikat kembali meladani perang atau justru upaya untuk melunakan Amerika Serikat dan
00:44memberi efek jerah?
00:46Ya, memberi efek jerah. Saya kira itu mungkin lebih tepat ya, rasanya.
00:51Bahwa Iran tidak pernah melunak kalau harus berhadapan dengan masalah kedaulatan.
00:58Dan itu agak mati.
00:59Nah, helikopter yang ditembak oleh Iran itu adalah helikopter yang melintas Selat Hormus.
01:06Dan semua orang sudah tahu, semua pemimpin sudah tahu bahwa Selat Hormus itu secara fakto-de-fakto itu dikuasai, dikontrol
01:14oleh Iran.
01:14Jadi, perilaku melintas batas yang sudah lewat kedaulatan itu akan ditindak dengan sangat tegas.
01:23Ini menunjukkan bahwa sikap yang sangat jelas, sangat tegas, dan sekaligus serius.
01:30Iran siap melakukan apapun untuk melawan agresi Amerika Serikat di Iran.
01:37Oke, saya ingin ke Mbak Aisyah bahwa yang menarik juga.
01:39Trump berjanji akan membalas serangan Iran yang menembak jatuh helikopternya.
01:43Tetapi pertanyaannya, apakah Trump ini akan membalas dengan serangan yang lebih besar?
01:47Atau ada hal-hal lain yang mungkin menjadi pertimbangan?
01:51Ya, saya kira sebenarnya ini merupakan tit for tat lagi ya, yang kemudian sudah terjadi dalam beberapa bulan yang lalu.
01:58Dan kemudian kita lihat bahwa salah satu alasan mengapa ekskalasinya semakin tinggi adalah karena Amerika Serikat ini gagal meyakinkan Israel
02:06untuk dapat menghentikan kempennya di kawasan Lebanon.
02:10Iran di sini sebenarnya, betul kata Prof. Julius, ingin memberikan pelajaran.
02:14Karena kalau kita lihat di sini, sebenarnya apa yang diinginkan oleh Iran adalah tidak memisahkan permasalahan Lebanon dari permasalahan yang
02:21ada di kawasan Slat Hormuz dan perang Iran-Israel Amerika Serikat secara keseluruhan.
02:26Jadi sebenarnya ini merupakan satu kesetuan masalah yang harus dilihat dan kemudian dipertimbangkan.
02:32Nah, di sini permasalahan ekskalasi yang sudah dilakukan oleh kedua belah pihak, saya rasa perlu dilihat sebagai salah satu cara
02:38untuk menekankan leverage-nya di dalam perundingan.
02:41Bahwa kemarin dari Amerika Serikat kita tahu bahwa ada pernyataan mengenai bagaimana kemudian perundingan akan dicapai dalam beberapa hari ke
02:49depan atau bahkan beberapa minggu ke depan.
02:51Itu adalah range waktu yang sebenarnya sangat luas gitu ya, kalau kita lihat.
02:54Tetapi dalam jangka waktu tersebut, saya kira memang ini masih ada kesempatan bagi kedua belah pihak untuk menghentikan sebenarnya tekanan
03:00koersif diplomasi yang dilakukan.
03:02Karena kalau ini tetap berlangsung, saya kira negosiasi yang kemudian nanti direncanakan ini tidak akan terjadi.
03:08Karena adanya ekskalasi yang terus-menerus terjadi sehingga defisit of trust-nya akan semakin besar, bukannya malah berkurang gitu di
03:15antara kedua belah pihak.
03:16Oke, saya ingin ke Pak Julius, saya masih ingin menggali seberapa besar sebenarnya kemungkinan Amerika Serikat ini untuk membalas serangan
03:23Iran.
03:23Karena kita tahu kondisi di internal Amerika sendiri juga sebenarnya tidak sepenuhnya.
03:28Mendukung perang ini terus berlanjut, Pak Julius.
03:31Ya, kali ini saya kira Trump sangat berhati-hati untuk membalas ya.
03:36Itu yang saya tangkap.
03:37Setidaknya kita bisa melihat dari signal Trump ketika dia menghubungi Netanyahu.
03:44Trump itu kan mengantam Netanyahu yang tetap ngotot untuk membalas serangan Iran ya gitu.
03:52Sebali serangan ke Libanon dilakukan.
03:55Dan sepertinya Trump sangat khawatir apa yang dilakukan oleh Israel itu akan memburuk situasi.
04:02Nah, sama saja sebetulnya, kalau nanti misalnya Amerika Serikat pada akhirnya membalas dengan serangan besar-besaran,
04:10artinya akan meluluh lantakan jalur diplomasi yang Amerika Serikat sendiri sudah bangun dengan sangat susah payah.
04:18Yang kampanyenya kan kita tahu ya, tiap kali Trump selalu menyampaikan bahwa perhulingan sebentar lagi akan berakhir.
04:25Minggu ini kan selalu dan itu diulang-ulang terus.
04:27Dan kalau saya melihat, ini menggambarkan bahwa sebetulnya Trump ingin menyelesaikan konfliknya dengan jalur diplomasi.
04:36Nah, kenapa misalnya Trump akhirnya mengancam Netanyahu untuk menghentikan serangan ke Iran gitu ya,
04:44karena dia khawatir bahwa perhulingan yang dilakukan dan terus berjalan atau diupayakan terus gitu,
04:50itu akan berakhir dengan sia-sia gitu.
04:53Karena spoilernya jelas itu adalah Israel.
04:55Sangat jelas sekali.
04:56Nah, kalau kita menganggap dari sisi sini gitu ya, bahwa satu sisi dia menekan Israel,
05:01lalu di sisi lain ada tekanan dari Iran ke Amerika Serikat itu sendiri gitu,
05:05di panggilan militer yang tadi disebut, termasuk Yordania gitu.
05:08Itu artinya Trump akan berpikir seribu kali,
05:11kalau bayangan saya gitu ya, akan berpikir seribu kali sebelum melakukan serangan.
05:15Dan ya, kelihatannya tidak banyak pilihan.
05:18Tidak banyak pilihan.
05:18Wali kecuali akhirnya menunggu gitu ya, apakah Iran akan melakukan serangan jauh lebih besar lagi gitu ya,
05:25kepada panggilan militer Amerika Serikat dan itu akan dilakukan serangan besar-besaran.
05:30Oke, Amerika Serikat akan mengedepankan jalur diplomasi dan Trump akan berpikir ulang untuk kemudian membalas dengan serangan.
05:36Tapi pertanyaannya, mungkin tidak Mbak Aisyah, Amerika ini menggunakan tangan Israel untuk membalas serangan Iran.
05:48Tapi tahan dulu Mbak Aisyah, kita akan bahas lebih dalam usai jeda, tetaplah bersama kami,
05:53masih bersama dengan Pak Julius dan juga Mbak Aisyah, tetaplah di Kompas Petang.
05:59Kita masih bersama dengan Pak Julius Purwadi dan Mbak Aisyah Kusuma-Sumantri.
06:02Jadi saya ingin melanjutkan langsung ke Mbak Aisyah bahwa tadi Pak Julius menyebut,
06:06Amerika Serikat ini nampaknya akan mengedepankan jalur diplomasi sehingga perang secara langsung itu akan menjadi pertimbangan lanjutan.
06:13Tetapi pertanyaannya mungkin tidak Mbak Aisyah, Amerika ini menggunakan tangan Israel untuk menyerang Iran.
06:20Saya kira dibandingkan dengan menggunakan tangan Israel, sebenarnya Israel ini agak diluar kontrol Amerika Serikat saat ini.
06:27Karena kita tahu sejak beberapa hari yang lalu sudah terdengar berita bahwa Amerika Serikat dan kemudian Israel ini
06:34sepertinya agak punya perbedaan pendapat terkait bagaimana mereka harus menyelesaikan peperangan ini.
06:40Di satu sisi sebenarnya Amerika sudah tidak punya resources untuk bisa melanjutkan perang.
06:44Karena kita tahu bahwa war power resolution sudah ditanda tangannya oleh Kongres.
06:48Dan meskipun misalnya Presiden melakukan veto, Kongres ini memiliki hak untuk bisa melakukan war of the first.
06:54Dalam artian ya, anggaran yang diajukan oleh pemerintahan Donald Trump sebesar 200 miliar USD itu tidak akan disepakati oleh Kongres.
07:04Karena merasa bahwa ini merupakan sesuatu yang pada akhirnya membuang-buang anggaran Amerika Serikat gitu.
07:09Sementara kemudian Israel ini sudah lama sebenarnya ingin melakukan serangan kepada Iran dan Lebanon.
07:15Permasalahannya kan dalam kondisi ini, Donald Trump ini harus memilih win-win solution dalam bisa menyenangkan
07:21hawkish Amerika Serikat yang ada di dalam Amerika Serikat sendiri.
07:24Lalu kemudian Kongres, suara populis di AS, dengan kemudian kepentingan nasional dari Israel gitu.
07:31Yang mana kemudian Donald Trump dalam posisi yang terjepit.
07:34Saya kira sebenarnya diinginkan oleh Donald Trump dan bahkan oleh Iran sendiri itu adalah keluar dari perang ini dalam cara
07:40yang diplomatik gitu ya.
07:42Tetapi ini memang sulit karena tadi banyak tekanan dari berbagai macam arah untuk Donald Trump.
07:46Betul, saya ingin ditanyakan ke Pak Yulius bahwa nampaknya jalur win-win solution ini untuk Amerika Serikat,
07:52jalur diplomasi tapi pertanyaannya untuk negosiasi sendiri.
07:55Kita tahu bahwa Iran juga tidak ingin menghilangkan program nuklirnya.
07:58Apa yang kemudian akan diambil oleh Amerika Serikat melihat kondisi di timur tengah saat ini Pak Yulius?
08:02Ya, kalau kita rasional ya gitu, situasi yang berat itu kan terkait dengan kontrol atas selat hormus.
08:11Dan itu dampaknya jauh lebih luas dibandingkan dengan prasangka bahwa Iran memiliki senjata nuklir
08:18atau memiliki kemampuan mengembangkan senjata nuklir.
08:21Harusnya kalau Amerika Serikat berpikir rasional, kedepankanlah dulu negosiasi yang fokus pada bagaimana dibukanya selat hormus.
08:31Itu harusnya.
08:32Nah, apakah semudah itu kemudian Amerika Serikat akan melunak?
08:36Memang sampai hari ini kan kita tidak bisa melihat signal positif bahwa Amerika Serikat bisa menurunkan keinginannya
08:46untuk menekan Iran, untuk membuat Iran bersepakat bahwa tidak akan lagi mengembangkan pengajian uranium
08:52sampai level bahkan lebih dari 60% sampai 90% yang kemudian sangat mudah untuk dijadikan senjata nuklir.
08:59Nah, ini yang kita belum lihat signalnya, Mas Dipo.
09:02Oke, dan yang menarik juga bahwa Iran ini kan membombardir aset Amerika Serikat di Bahrain, Kuwait, dan juga Jordania.
09:09Bagaimana respon dari negara-negara ini, Mbak Isya?
09:11Melihat negaranya juga diserang meskipun betul ada aset Amerika di sana?
09:15Ya, memang saya kira sebenarnya sejak awal Arab Saudi ya, ini meminta negara-negara GCC untuk menyatukan suara
09:22agar kemudian tidak merespon secara menggunakan kekerasan ya.
09:27Dan kita lihat secara kolektif sebenarnya semua negara ini memang berusaha untuk menekankan aspek diplomasi
09:32dengan bagaimana kemudian waktu itu Bahrain mengajukan draft resolusi ke DKPBB
09:36untuk meminta Iran berhenti menyerang negara-negara GCC.
09:39Tapi permasalahannya memang kalau kita lihat soliditas dari negara-negara GCC ini agak terpecah gitu.
09:45Karena kemarin kita tahu bahwa baik itu Arab Saudi, justru yang main proponen yang meminta bahwa negara-negara ini tidak
09:51melakukan kekerasan,
09:52serta kemudian bahkan UAE sendiri ini secara diam-diam melakukan retaliasi.
09:56Memang mereka tidak menyatakan diri sebagai negara yang kemudian menjadi belajaran atau pihak yang bertempur,
10:02tetapi kemudian mereka melakukan balasan-balasan tertentu kepada Iran.
10:05Jadi saya rasa sebenarnya saat ini semua negara ini masih wait and see
10:09dan mereka berusaha untuk kemudian mensolidifikasikan posisi mereka
10:13agar kemudian negosiasi ini berjalan dengan lancar.
10:16Karena apapun yang terjadi ya di dalam peperangan ini khususnya ekskalasi di dalam Selat Hormuz
10:21dan implikasi yang dirasakan oleh Iran termasuk diantaranya adalah keterhambatan ekonomi
10:25lalu kemudian gangguan di dalam produksi pipeline minyak
10:28itu juga akan menimpa negara-negara jisisi apabila masalah di Selat Hormuz tidak diselesaikan.
10:32Oke, meskipun sebenarnya Trump ini mengklaim bahwa kesepakatan dengan Iran
10:36akan terjadi dalam beberapa hari ke depan, tapi eskalasi nampaknya terus meningkat.
10:39Pertanyaan saya, Pak Julius terakhir, apakah kondisi saat ini membuka peluang
10:44bahwa perang akan lebih besar daripada sebelumnya dan seperti apa dampak paling parah, Pak?
10:50Ya, selalu ada dua kemungkinan.
10:51Selalu ada dua kemungkinan bahwa perang bisa menjadi semakin besar
10:55ketika kedua peluang pihak tidak bisa mengendalikan diri
10:58atau kembali ke jalur diplomasi.
11:01Nah, yang saya lihat serangan-serangan yang dilakukan Amerika Serikat yang terukur
11:05itu lebih padat untuk tujuan-tujuan jalur diplomasi.
11:10Ini yang ikut dengan high pressure track diplomasi.
11:14Diplomasi serangannya dipakai untuk mendukung diplomasi.
11:17Itu yang maunya Amerika Serikat.
11:20Tapi saya juga curiga ya Mas Dipo,
11:23karena serangan-serangan Amerika Serikat kan terukur ke wilayah-wilayah
11:26misalnya peluncuran rudal, misalnya kontrol radar.
11:32Ini kan kapasitas militer yang sangat strategis ya.
11:35Saya justru khawatir bahwa selain kita bicara ada jarur diplomasi yang sedang diperjuangkan
11:39termasuk dengan serangan,
11:41tapi juga ada perang besar yang sedang disiapkan.
11:43Jadi pelan-pelan Amerika Serikat sedang melumpuhkan kemampuan militer Iran
11:48sehingga pendapatan yang tepat akan dilakukan serangan yang besar-besarnya.
11:51Semoga itu tidak terjadi ya Mas Dipo ya.
11:53Semoga itu tidak terjadi dan tentu kita berharap bahwa
11:55perdamaian di Timur Tengah akan terus terjadi
11:57dan juga akan segera terjadi.
11:59Terima kasih Pak Yulis Purwadi dan juga Mbak Aisyaku Sumantri
12:01telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar