00:00Selamat datang bagi kita semua, shalom.
00:03Rekan-rekan wartawan, tadi Kepala BGN dan kedua wakilnya, audiensi dengan saya,
00:15artinya menyampaikan beberapa hal yang akan dilakukan.
00:21Keseogianya tadi beliau akan langsung menyampaikan,
00:24tapi karena harus segera menghadap ke DPR,
00:27maka saya menyampaikan beberapa hal dari pertemuan itu sendiri.
00:34Tentunya saya sebagai Kepala KSP,
00:38artinya saya akan menyampaikan hal-hal yang memang,
00:43yang saat ini sedang tren ya, masalah BGN.
00:48Yang pertama adalah tentang refocusing untuk penerima manfaat.
00:54Jadi disampaikan oleh Kepala BGN bahwa nanti yang betul-betul yang membutuhkan,
01:01sehingga nanti akan dicek kembali.
01:04Seperti di Jakarta, saya pernah cek,
01:07ada beberapa yang memang tidak dimakan.
01:11Sekolah menengah ya.
01:14Sehingga ini nanti akan dicek kembali, sehingga betul-betul efektif.
01:17Kemudian yang kedua adalah penataan kembali dapur-dapur yang sudah operasional.
01:24Jadi dampaknya nanti akan dilihat,
01:28terutama yang berkualitas,
01:31tidak mengejar kuantitas.
01:33Ya, tapi betul-betul dapur itu apakah efektif,
01:37apakah sesuai dengan aturan,
01:39yang nantinya tidak menimbulkan misalnya keracunan dan sebagainya.
01:43Dan akan disesuaikan dengan jumlah penerima manfaat.
01:47Ya, jadi selama ini ada juga misalnya satu dapur itu awalnya 3 juta penerima manfaat,
01:55eh 3 ribu penerima manfaat,
01:58kemudian 2 ribu per orang,
02:022 ribu akan kali 3 ribu berarti 6 juta per orang,
02:06eh per dapur,
02:07ya untuk insentifnya bagi yang investor.
02:12Rupanya tidak semuanya 6, 3 ribu,
02:15ada yang 1 ribu 500.
02:17Nah ini yang nanti akan dicek kembali, disesuaikan.
02:21Yang ketiga,
02:23kualitas dapur yang operasional tadi yang saya sampaikan,
02:26sehingga nanti di beberapa daerah nanti akan dicek secara langsung.
02:30Kami pun dari KSP nanti akan membantu mengecek,
02:36ya daerah-daerah nanti yang betul-betul udah menjadi dapur yang operasional.
02:43Terutama jumlah, ini yang jumlah ya,
02:46nanti akan saya bahas lagi.
02:47Kemudian tentang dapur yang di 3T.
02:55Kemarin kan demo di BGN,
02:58ini saya ingin menjelaskan.
03:01Jadi rencana dari Ibu Nani,
03:05yang 3T ini nanti justru akan diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang di sekitarnya,
03:15sehingga tidak terlalu banyak membebani APBN.
03:18Ya, sehingga banyak nanti yang dapur yang akan dibangun,
03:24mungkin diberikan kepada perusahaan-perusahaan yang memang baik,
03:29jadi CSR-nya digunakan untuk itu.
03:31Tetapi nanti akan saya sampaikan tentang hal-hal yang penting,
03:36kenapa yang terjadinya demo.
03:39Kemudian,
03:45ada juga disampaikan dari Ibu Nani tentang dampak dari jual beli titik.
03:51Nah, jual beli titik demikian.
03:53Jadi yang tadi saya katakan,
03:56seharusnya misalnya satu dapur itu kan 3.000,
03:59ya, 3.000 penerima manfaat,
04:01kemudian kalau dikali 2.000,
04:05berarti kan 6 juta.
04:06Nah, kenyataannya tidak 3.000,
04:08ada yang 1.500, ada yang 1.000,
04:10sehingga mengembang.
04:11Kalau kita hitung, ya, kalau kita hitung,
04:14dapur ini sekarang ada 27.877.
04:19Nah, total secara keseluruhan, ya,
04:23yang operasional.
04:24Kemudian penerima manfaat ini sekitar 63 juta, ya.
04:29Kalau satu dapur saja ini misalnya 3.000,
04:32berarti sebetulnya hanya 22.000,
04:35tidak 27.000.
04:36Nah, yang 5.000-nya ini kemana?
04:38Kan begitu, kan?
04:39Yang terjadinya yang akhirnya,
04:41yang harusnya 3.000 menjadi 1.500,
04:44akhirnya pembesaran,
04:45tetapi yang 1.500,
04:47itu dikasihnya tetap 6 juta,
04:50ya, perharinya.
04:51Nah, ini yang terjadi penggelembungan.
04:54Sehingga nantilah itu proses hukum lebih lanjut, lah, ya.
04:57Kemudian sesuai dengan peraturan Presiden nomor 12 tahun 2025,
05:07ini ditetapkan hanya 30 kabupaten sebagai daerah tertinggal, 3T, ya.
05:18Nah, namun kenyataannya,
05:22ini pejabat lama, ya,
05:25yang sekarang sedang diproses ini justru membuat definisi tersendiri,
05:29bahwa satu desa tidak terlayani SPPG terdekat,
05:33atau lebih dari 30 menit jaraknya,
05:36sehingga dengan ketentuan tersebut,
05:39maka ditetapkan 8.617,
05:41dengan SK penetapan lokasi kepada oleh-oleh kepala badan yang terdahulu.
05:50Nah, kemudian 6.138 ini yang meneretangani itu Pak Soni, ya.
06:01Dari yang peneretangani yang berharga bagi mereka-mereka ini,
06:06SK itu, SK itu lah yang kemudian akhirnya
06:09yang menjadikan jaminan untuk pinjem bank, ya.
06:14Kemudian, ada hal lagi yang sangat penting,
06:19kalau menurut saya,
06:20ini dari 6.138 ini yang sudah di-appersial,
06:28ini ada 1.745.
06:31Salah satu contohnya dari 1.745,
06:34ini ada yang sudah terbangun dengan keratakan tostil ini 476.
06:41Ini yang menggiurkan itu demikian.
06:43Jadi, misalnya,
06:46salah satu mitra lah,
06:51ditentukan mendapat sekep,
06:53mendapat seka untuk ditentukan satu titik.
06:57Titik itu hanya modal 100 juta saja,
07:00kemudian dibuatkan fondasi,
07:02nanti dari pemborong, ya,
07:05atau dari keratakan tostil membangunlah,
07:07misalnya 1,2 setengah miliar.
07:11Nah, 1,2 setengah miliar,
07:13itu sifatnya nanti dari BGN akan sewa.
07:17Bayangkan 1,2,
07:19tadi sewanya itu 4 miliar, ya.
07:214 tahun dibayar di depan.
07:27Modalnya itu 4 tahun di depan itu 4 miliar berarti kan, ya.
07:324,8 miliar.
07:334,8 miliar kalau dikurangi tadi 1,2 setengah miliar,
07:38berarti masih ada keuntungan 3 setengah.
07:39Dan itu dibayarnya di depan.
07:42Bayangkan aja.
07:43Ya, ini yang kemudian akhirnya.
07:46Dan itu statusnya negara itu sewa,
07:48ya, bukan milik, ya.
07:53Saya rasa mungkin,
07:55ya, kemudian ada satu hal lagi yang menonjol ini,
07:59untuk penentuan titik-titik itu,
08:02maka ditentukanlah Satgas
08:03yang dikeluarkan SK-nya itu dari pejabat lama, ya.
08:11Nah, itulah SK itu yang akhirnya menguntungkan bagi mereka-mereka
08:14yang kemudian untuk sebagai jaminan kepada bank.
08:17Saya rasa mungkin itu saja.
08:19Terus satu hal, saya ingin menyampaikan klarifikasi.
08:23Ada berita,
08:24Pak Dudung katanya punya titik melalui padadan.
08:28Saya informasikan.
08:29Jadi, beberapa bulan yang lalu,
08:32mungkin 7-6 bulan yang lalu,
08:36saya kan dekat dengan pesantren.
08:37Ada pengurus-pengurus pesantren itu ada Abah Junaidi,
08:42ada Ustadz Iskandar.
08:44Itu menyampaikan kepada saya bahwa ada program memang pesantren, ya,
08:49untuk sebagai sasaran penerima manfaat.
08:52Karena di pesantren itu kan ada pesantrennya 4 ribu,
08:56ada yang 5 ribu,
08:57sehingga bisa ditetapkan sebagai titik untuk dapurnya.
09:05Nah, kemudian minta dikenalkan dengan padadan.
09:08Saya sampaikan, padadan ini ada pesantren yang sudah siap, ya.
09:13Sudah ditentukan, dia sudah mulai,
09:16secara administrasi sudah siap.
09:20Nah, realisasinya tidak ada.
09:21Nah, akhirnya saya sampaikan kepada dan,
09:24oh, silakan Pak, nanti hubungi Pak Arief Nurrohman,
09:27staf saya.
09:28Akhirnya silakanlah.
09:29Mereka berhubungan.
09:31Mereka berhubungan, saya sudah tidak ngerti apa-apa.
09:34Nah, waktu padadan ke sini,
09:36berapa minggu yang lalu,
09:39saya tanya padadan gimana itu.
09:41Rupanya sampai sekarang prosesnya pun belum selesai.
09:46Bangunnya, dapurnya pun belum terbangun.
09:48Saya tanya Abah Junaidi dan sebagainya.
09:50Cuma karena saya yang minta tolong kepada dan itulah yang kemudian,
09:54akhirnya, bunyi seakan-akan Pak Dudung punya dapur.
09:57Kalau Pak Dudung punya dapur, silakan cek.
09:59Saya kasih hadiah nanti.
10:01Jadi, enggak ada sama sekali saya punya dapur, ya.
10:04Jelas ya, rekan-rekan sekalian.
10:06Saya rasa mungkin itu saja,
10:07ya, topiknya tadi masalah BGN.
10:10Sehingga tidak ada topik lain yang perlu saya bahas.
10:13Terima kasih.
10:14Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
10:21Terima kasih.
10:22Terima kasih.
10:22Terima kasih.
10:23Terima kasih.
10:24Terima kasih.
Komentar