- 6 hours ago
Konflik berterusan di Asia Barat telah melonjakkan harga minyak, meningkat kira-kira 50 peratus sejak tercetus perang, selain mengganggu laluan perkapalan utama dan meningkatkan kos rantaian bekalan global.
Category
🗞
NewsTranscript
00:00Baik, kita nak melihat kepada dalam konteks ekonomi ASEAN yang dilihat menunjukkan daya tahan yang kukuh pada awal tahun 2026.
00:08Namun, tanda-tanda tekanan semakin jelas muncul di mana kemas kini interim terbaharu oleh ASEAN Plus 3 Macroeconomic Research Office
00:15atau AMRO
00:16menunjukkan pertumbuhan serantau dijangka kekal sekitar 4% tahun ini meskipun ketidaktentuan global meningkat.
00:23Namun, prospeknya semakin mencabar apabila konflik berterusan di Asia Barat telah melonjakkan harga minyak meningkat sekitar kira-kira 50%
00:32sejak tercetusnya perang
00:33selain mengganggu laluan perkapalan utama dan meningkatkan kos rantaian bekalan global.
00:38Dan buat masa ini, permintaan domestik yang kukuh serta prestasi eksport teknologi membantu menyokong pertumbuhan.
00:44Namun, tekanan inflasi semakin meningkat khususnya di negara-negara ASEAN.
00:48Dan gangguan awal mula kelihatan dalam input industri seperti baja dan petrokimia.
00:54Ini amaran yang dikeluarkan oleh AMRO.
00:56Jadi, apa yang boleh kita tafsirkan serta bagaimana ASEAN perlu melalui separuh kedua 2026.
01:03Dr. Fitrah Faisal Hastiyadi, ahli ekonomi dan juga Jurucakap Jabat Komunikasi Presiden Indonesia bersama dengan saya pada ketika ini secara
01:10dalam talian.
01:11Dr. Fitrah, pertama sekali kita melihat ekonomi ASEAN menunjukkan prestasi kukuh setakat ini dengan pertumbuhan yang memberangsangkan pada suku pertama.
01:20Namun, AMRO menyatakan bahawa kesan sebenar konflik Asia Barat masih belum sepenuhnya dirasai.
01:26Adakah kita masih berada dalam tempoh penampan sebelum tekanan sebenar mula dirasakan?
01:35Ya, Pak Haris. Jadi, memang kita harus bersyukur karena dengan tekanan ekonomi ASEAN masih resilient ya.
01:44Di kuartal pertama tahun ini masih tumbuh 4,4 persen ya.
01:48Dan bahkan sampai tahun depan itu masih dilihat masih bisa di atas 4 persen.
01:53Tapi tentunya, ya, gejolak geopolitik ini adalah gejolak yang tidak bisa kita kontrol.
01:58Sifis pasem para belum. Kalau mau damai, harus siap-siap peran.
02:03Kalau mau nyaman, harus siap-siap dengan segala kemungkinan terburuk.
02:07Maka, every worst case scenario harus masuk dalam perhitungannya.
02:11Dalam kondisi ini, kita melihat bahwa konflik di Asia Barat, Teluk, itu belum akan pulih segera ya.
02:18Meskipun sudah ada tanda deeskalasi mulai memasuki semester kedua kali ini.
02:23Tetapi, ya, di sisi yang lain, dampaknya itu imminent karena sudah ada supply constraint dari sisi energi.
02:31Dan bisa jadi perang juga akan bermulai lagi di tahun depan ya.
02:36Karena memang konfliknya belum betul-betul bisa hilang.
02:40Sebagaimana yang kita lihat juga bagaimana konflik Rusia dan Ukraina meskipun sudah tapering.
02:45Tapi kita melihat masih ada juga gejolak-gejolak yang terjadi di Eropa Timur.
02:49Nah, ini menjadi pelajaran buat kita.
02:51Yang imminent juga bisa kita lihat bagaimana tekanan tersebut menghadirkan gejala moneter yang lebih ketat secara global dan juga berimbas
03:01dengan regional ya.
03:02Ada tekanan nilai tukar, ada tekanan dari sisi energi, dan seterusnya.
03:07Kalau kita melihat perkembangan di Amerika Serikat, perkembangan dari US Treasury Yield itu tetap tinggi di antara 4,5 sampai
03:154,7 persen.
03:17Artinya itu juga menghadirkan tekanan yang cukup persisten di emerging markets dan juga di negara-negara ASEAN.
03:25Di sisi yang lain, kita juga melihat bagaimana The Fed dalam hal ini juga melihat potensi inflasi di Amerika Serikat
03:32itu terakhir di atas konsensus ya.
03:35Konsensus 3,7 persen dan realisasi 3,8 persen.
03:39Yang mana ini mengindikasikan akan semakin sulit bagi The Fed untuk menurunkan suku buahnya.
03:44Yang mana itu juga pada akhirnya akan menghasilkan tekanan-tekanan juga di regional.
03:49Nah, untuk Indonesia sendiri, kemarin kita sudah menaikkan lagi di luar jadwal reguler 25 basis point central bank rate.
03:58Dan itu memang sebagai langkah antisipasi ahead the curve terhadap potensi-potensi pengetatan moneter dari Amerika Serikat.
04:06Di sisi yang lain, kita juga melihat di regional ASEAN, tekanan ongkos produksi terutama yang dihadapi oleh produsen itu sudah
04:13cukup meningkat ya terkait dengan harga barang-barang import yang semakin tinggi, yang terkait, yang very much related dengan harga
04:22energi.
04:23Nah, di sini kita juga akan melihat ada potensi transmisinya ke consumer price index.
04:28Sementara ini masih ada gap antara producer price index ke consumer price index.
04:33Dalam hal ini produsen menyerap ya kenaikan ongkos produksinya di jangka waktu sebulan-dua bulan terakhir.
04:39Tetapi tinggal menunggu waktu saja itu akan ada efek transmisinya ke level konsumen.
04:45Nah, oleh karenanya kalau kita melihat kejala inflasi di ASEAN itu akan meningkat ya sepanjang tahun ini.
04:52Dan bisa jadi kalau kita tidak berhati-hati, bisa jadi akan ada resiko stakflasi juga.
04:57Nah, oleh karenanya saya melihat perlu adanya kerjasama lebih lanjut di negara-negara ASEAN, terutama untuk komoditas-komoditas prioritas, komoditas
05:07pangan,
05:08yang mana ini sangat tergantung dengan gejolak harga dunia juga.
05:12Oleh karenanya penguatan lubung ASEAN saya rasa merupakan salah satu bagian penting ya kita untuk kemudian menjaga sustainability dari ASEAN
05:21dalam konteks harga-harga,
05:23terutama harga-harga kebutuhan pokok.
05:25Pak Haris.
05:26Ya, Dr. Fitra, bagaimana pula Dr. Fitra melihat prospek ekonomi untuk ASEAN ini bagi separuh kedua tahun 2026 ini,
05:35terutama dalam persekitaran kos yang mungkin semakin meningkat serta dalam keadaan ketidaktentuan global ini, Dr. Fitra?
05:43Ya, saya melihat bahwa efek dari perang ini akan mulai kerasa ya kelihatan dampaknya di kuartal kedua dan kuartal ketiga
05:52ya.
05:53Meskipun kita sudah melihat ada efek deeskalasi, tapi lagging efek dari kuartal satu itu akan mulai kerasa di kuartal kedua.
06:01Karena kalau kita lihat di kuartal satu ASEAN itu sebenarnya 4,4 persen kita melihat itu belum ada dampak yang
06:08pass through ya,
06:09lebih kelihatan di kuartal satunya.
06:11Itu juga kita bisa melihat di Indonesia misalnya.
06:14Efek perang itu belum betul-betul kelihatan.
06:17Karena Indonesia sendiri di kuartal satu itu tumbuh 5,61 persen, tertinggi selama 15 tahun terakhir.
06:23Nah, tetapi di sisi yang lain ya, efek dari perang ini akan kelihatan sekali di kuartal kedua.
06:29Nah, ini kita juga harus lebih berhati-hati ya, karena ada periode di mana pertumbuhan ekonomi kita secara regional itu
06:36akan menjadi lebih rendah.
06:37Tetapi saya merasa di tahun ini, itu kita masih bisa tumbuh secara regional di atas 4 persen.
06:44Meskipun di sisi yang lain ya, ada beberapa negara-negara di ASEAN yang juga sudah mulai kesulitan ya, terutama dari
06:50sisi energi.
06:51bagaimana di Filipina mereka sudah mengumumkan kedaruratan energi,
06:56karena memang berbeda dengan misalnya Indonesia dan juga Malaysia yang punya Pertamina dan punya Petronas.
07:04Dan kita juga dari sisi struktur pasar di retail untuk oil retail selling,
07:12itu di Indonesia juga sebenarnya berbeda dengan di Filipina yang mereka banyak sekali players-nya.
07:16Sementara di Indonesia, Malaysia, dan juga beberapa negara yang lainnya,
07:19itu mungkin lebih oligopolistik strukturnya, sehingga tidak mengalami disrupsi dari sisi BBM atau harga minyak di dalam negeri.
07:29Tetapi ya, ini sudah menjadi satu concern juga ya,
07:32karena apa yang terjadi di Filipina tidak menutup kemungkinan akan terjadi di negara-negara lain di ASEAN.
07:37Makanya kita harus memperkuat kerjasamanya untuk memitigasi adverse effect dari disrupsi di Asia Barat gitu, Pak Haris.
07:46Ya, Dr. Fitrah, saya nak bawakan sedikit data dari AMRO ini, melihat kepada outlook ataupun unjuran mereka melihat kepada inflasi.
07:54Di mana, jika boleh saya zoomkan sedikit ya, mungkin agak kecil di sini.
07:59Okey, saya zoomkan sedikit, kolam di sebelah kanan sekali iaitu melibatkan CPI, Consumer Price Index dari segi outlook melibatkan ASEAN
08:09ini.
08:09Pada asalnya, ataupun unjuran asalnya adalah, ataupun tahun 2025 adalah 2.2%,
08:172026 fokus awalnya menyebut 3.1%, tetapi selepas dilakukan interim update melihat kepada keadaan pada ketika ini,
08:27outlooknya adalah sekitar 4.0% peningkatan CPI di peringkat ASEAN.
08:34Dr. Fitrah, kita menyebut soal ASEAN ini dalam senario yang mungkin lebih buruk.
08:39AMRO memberi amaran kemungkinan pertumbuhan merosot dengan inflasi ini terus meningkat.
08:45Satu keadaan yang mungkin mirip kepada stagflation, stagflasi.
08:49Sejauh mana risiko ini realistik untuk rantau ASEAN pada ketika ini, Dr. Fitrah?
08:57Risiko stagflasi menurut saya probabilitanya masih kecil, karena meskipun tadi ada potensi peningkatan inflasi dari 3.1% ke 4%,
09:08tapi itu sebenarnya masih dalam natural rate, jadi kalau dalam inflasi itu bukan inflasi yang betul-betul merusak,
09:16karena rata-rata pertumbuhan ASEAN masih bisa di atas inflasinya, masih ada surplus.
09:20Tapi di siang lain ini tentunya kita juga harus berhati-hati ya, biar bagaimanapun kita sudah melihat juga
09:26bagaimana perang di Asia Barat itu sudah menimbulkan supply constraint dunia.
09:31Dan harga minyak dunia sekarang sepertinya tidak akan bisa dalam waktu dekat kembali lagi ke level awalnya,
09:3770 USD per barrel.
09:39Angka 85-90 itu sudah menjadi ekilibrium baru.
09:43Dan oleh karenanya tentunya pasti akan ada efek inflasi.
09:46Nah, untuk sementara ini saya belum bisa melihat ya, ada potensi kestakvelasi, probabilitanya masih kecil,
09:53tetapi tentunya kita tidak bisa melihat kondisi sekarang saja, kita juga harus melihat di masa depan,
09:58bahwa potensi-potensi atau risiko inflasi yang lebih tinggi dibandingkan dengan potensi pertumbuhan ekonominya,
10:05itu bisa terjadi juga di tahun 2027.
10:08Makanya, kembali lagi, apa yang bisa kita kontrol dalam waktu dekat?
10:11yang kita bisa kontrol dalam waktu dekat dalam satu daun dua tahun ini adalah bagaimana kita bisa meningkatkan potensi kerjasama
10:18regional kita
10:19untuk barang-barang kebutuhan yang menyumbang pada inflasi.
10:22Salah satunya kebutuhan pokok, entah itu beras atau barang-barang lainnya yang terkait dengan kebutuhan dasar dari masyarakat Asia.
10:29Nah, ini juga menjadi bagian penting ya dari bagaimana pengelolaan inflasi di Asia yang ke depan.
10:35Ya, dalam situasi dan juga keadaan semasa pada ketika ini, apa bentuk orang kata keutamaan dasar ataupun kebijakan yang perlu
10:45dilakukan
10:46oleh pemimpin-pemimpin ASEAN dalam melihat, tadi ada sedikit doktor menyebut dari segi mungkin bagaimana intra-ASEAN
10:53yang perlu ditingkatkan perdagangannya, hasil kerjasama ekonominya, pandangan doktor melihat kepada moving forward
11:01dalam nak mendepani so much uncertainties, ketidaktentuan global pada ketika ini, doktor?
11:09Ya, belajar dari kasus Indonesia juga, kita Presiden Prabowo sudah menyiapkan kondisi-kondisi yang terburuk
11:17seperti yang kita alami di tahun ini, tahun 2026, semenjak tahun lalu.
11:22Dari tahun 2025, Indonesia sudah memulai untuk meningkatkan produksi dari sisi pertanian.
11:28sehingga meskipun ada disrupsi energi seperti sekarang, produksi pertanian kita masih bisa untuk mengkompensasi potensi kenaikan energi
11:38sehingga dari sisi inflasi, terakhir Indonesia inflasinya hanya 3% dan bahkan sebelumnya sempat 2,4%.
11:45Nah, ini menjadi pelajarannya ke depan. Tetapi kita juga melihat di Indonesia sendiri, ada beberapa daerah-daerah yang inflasi tinggi
11:53tetapi ada daerah-daerah yang lain, inflasinya terlalu rendah. Nah, berarti ini juga masalah logistik.
11:57Dan ini saya rasa itu juga bisa menjadi bagian pelajaran dari ASEAN. Pelajaran dari ASEAN adalah
12:02harusnya pertama, meningkatkan produksi dari pertanian yang secara intensif, mulai dari sekarang,
12:08penggunaan teknologi yang juga signifikan, tadi juga sudah disampaikan oleh Prime Minister Anwar Ibrahim
12:14bagaimana meningkatkan industri, tapi di sini industri kita juga bisa fokus kepada industri yang
12:19berdasarkan keunggulan komparatif ASEAN, yang salah satunya adalah dari sisi pertanian.
12:23Yang kedua, karena memang ASEAN itu terdiri dari pulau-pulau yang sangat banyak,
12:28dipisahkan oleh lautan yang juga membuat ASEAN itu seperti terpragmentasi,
12:34maka kita juga harus memperkuat logistiknya di antara ASEAN.
12:38Jadi ini harus kemudian kita bisa buat jalur ASEAN atau jalur sutra ASEAN
12:42yang mana ini bisa memitigasi potensi kenaikan harga,
12:47yang minimal kita dari sisi logistik sudah ada intervensinya.
12:49Nah, tidak ada kata terlambat ya, meskipun kita belum memiliki faktor tersebut ya,
12:55tapi saya rasa kita tidak salahnya untuk bisa memulai dan menginisiasi roadmap ke depan,
13:00bagaimana meningkatkan potensi atau peta logistik ASEAN dan juga peta produksi ASEAN,
13:05sehingga kita bisa melihat ASEAN ya sebagai satu bagian yang utuh,
13:08seperti bagian tubuh begitu ya, tidak terfragmentasi tetapi menjadi satu kekuatan besar gitu ya, regional.
13:15Ya, Dr. Fitra, terima kasih atas ulasan jelas walaupun mungkin asas ekonomi ASEAN itu masih kukuh buat masa ini,
13:22cabaran di masa hadapan itu semakin kompleks dan tempoh beberapa bulan akan datang akan menjadi penentu
13:27sama ada rantau ini mampu untuk menyerap kesan kenaikan kos tenaga dan gangguan bekalan
13:32atau berdepan tekanan pertumbuhan yang lebih ketada.
13:34Terima kasih sekali lagi, Dr. Fitra Faisal Hastiadi, Ahli Ekonomi dan Jurucakap Pejabat Komunikasi Presiden Indonesia.
13:41Segalanya kita rangkumkan di astroawani.com dan media sosial Astro Awani.
Comments