Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Nanik, memaparkan sejumlah langkah yang akan dilakukan pada awal masa kepemimpinannya.

Salah satu kebijakan yang disampaikan adalah moratorium atau penghentian sementara pembukaan dapur dan titik layanan baru Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga proses penataan dan evaluasi selesai dilakukan.

Menurut Nanik, penataan diperlukan karena distribusi dapur MBG saat ini masih terkonsentrasi di Pulau Jawa.

BGN akan menghitung kembali kebutuhan di setiap daerah untuk memastikan pembangunan dapur berjalan lebih merata dan sesuai kebutuhan penerima manfaat di lapangan.

Selain itu, Nanik juga menegaskan fokus BGN ke depan bukan lagi mengejar kuantitas, melainkan kualitas program.

Evaluasi terhadap penerima manfaat, pengawasan standar dapur MBG, hingga skema pendanaan untuk wilayah 3T akan menjadi prioritas agar program gizi pemerintah berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan.

Produser: Prayogi Haro

Editor: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/673636/janji-awal-jabatan-nanik-kepala-bgn-akan-tata-ulang-dapur-mbg-dan-evaluasi-63-juta-penerima-manfaat
Transkrip
00:00Di sini saya ditemani Ibu Arum Sari yang sehari-hari akan memelototi saya dalam hal keuangan dengan teliti, dengan benar.
00:12Saya tidak akan mengambil keputusan apapun berkait pengeluaran duit bila Ibu Sari tidak oke.
00:17Di samping saya ada Pak Trenggono yang dia juga akan melindungi saya ikut nanti menggarap dapur-dapur di 3T dan
00:28juga kawasan-kawasan yang teritorial yang belum terbangun.
00:33Itu ya teman-teman ya, langkah kami adalah pertama-tama seperti yang beberapa waktu lalu saya sampaikan, kami concern pada
00:45efisiensi anggaran agar bisa tidak membebani anggaran negara pada saat ini
00:55tetapi dengan tidak mengubah target dari yang kita berikan gizi.
01:06Efisiensi ini kami lakukan yang pertama melalui moratorium.
01:13Moratorium ini bukan titik baru, tetapi juga dapur-dapur baru.
01:18Bila per hari ini, totalnya berapa bisa Ria?
01:2127.877
01:22Jadi per hari ini jumlahnya titik dapur yang operasional berdasarkan virtual account itu 27.877
01:33Nah kita hentikan dulu ke situ, kita akan tata
01:37Kita tata apakah dapur ini melayani ini sudah bisa melayani sebetulnya dengan penerima manfaat yang ada atau sebetulnya malah kelebihan.
01:57Nah kemudian ini kita akan nanti dulu, artinya kita tidak buka yang baru dulu maupun pendaftarannya.
02:07Jadi kita mau nata, mau nata misalnya Jawa Tengah ini harusnya butuh berapa, Jawa Barat ini butuh berapa, DKI butuh
02:14berapa dan lain-lain Jawa Timur.
02:16Karena memang dari datanya Ibu Arum Sari, dapur ini masih menumpuk di Jawa.
02:24Kemudian setelah kami menata, baru ya kami hitung apakah perlu kami membuka kembali atau tidak.
02:33Yang kedua kami refocusing, penerima manfaat.
02:37Refocusing ini maksudnya adalah apakah perlu, eh rasanya tidak perlu ya, kalau misalnya sekolah-sekolah kaya, kan ini pasti di
02:48rumah gizinya juga lebih bagus.
02:50Jadi kita lebih arahkan nanti benar-benar pada anak-anak atau penerima manfaat yang benar-benar membutuhkan intervensi gizi.
02:58Nah ini kita akan refocusing sehingga apakah 63 juta yang sekarang ada ini benar tuh, 63 juta ini butuh atau
03:08sebetulnya bisa dikurangi kemudian nanti kita tambah yang belum memperoleh.
03:15Yang ketiga itu kita akan melakukan kontrol atau apa, kualitas ya.
03:22Nah kami juga sudah sampaikan ke Presiden di tahun 2026 ini kita bukan mengejar kuantitas tapi pada kualitas sehingga kami
03:31akan mengecek apakah dapur-dapur yang sekarang ada ini sesuai dengan juknis atau tidak.
03:40Nanti akan kita griding apa, misalnya apakah dapur ini bisa 3.000, 2.000 atau 1.000 saja itu nanti
03:46akan kita kelompok-kelompokkan.
03:48Selanjutnya yang terakhir adalah untuk 3T.
03:51Ini kami akan mencoba mengurangi tidak menggunakan APBN, mencoba ya.
04:03Tetapi tadi kami belum ke sini nih, sudah di demo nih.
04:08Oleh apa namanya, rupanya ada investor yang sudah membangun 3T.
04:12Kami akan selesaikan bagaimana sebabnya, tapi untuk wilayah-wilayah yang belum digarap oleh investor, kami akan coba kerjasamakan atau kita
04:25bisa dibiayai dengan CSR-nya BUMN atau mungkin ada hibah dari luar negeri.
04:32Atau mungkin juga kalau di tempat itu ada perusahaan-perusahaan besar misalnya berinvestasi, masak si bikinin dapur untuk masyarakat di
04:42situ enggak mau, kan enggak mahal juga.
04:44Jadi mereka kan juga punya CSR.
04:46Nah itu kira-kira yang akan kami lakukan dalam waktu sekarang.
04:52Bahkan sudah mulai, kami sudah rapat-rapat untuk merealisasikan yang tadi hal-hal yang kami sampaikan.
Komentar

Dianjurkan