Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketua BEM UGM periode 2025, Tiyo Ardianto, mengomentari Presiden RI, Prabowo Subianto, yang mengultimatum mitra MBG yang curang.

"Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator. Seruan kebijakan. Dan saya rasa ada satu hal yang mungkin belum kita percakapkan malam ini, bahwa beberapa hari terakhir," ujar Tiyo dalam program Bola Liar KompasTV pada Jumat (5/6/2026).

"Sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG, tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi. Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika ditangkap," lanjutnya.

Baca Juga Eks Ketua BEM UGM Kritik Penunjukan Nanik sebagai Kepala BGN: Kompetensinya Apa? di https://www.kompas.tv/nasional/673195/eks-ketua-bem-ugm-kritik-penunjukan-nanik-sebagai-kepala-bgn-kompetensinya-apa

#prabowo #mbg #presidenprabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/673210/eks-ketua-bem-ugm-tiyo-soal-ultimatum-presiden-prabowo-ke-mitra-mbg-curang-bingung-bola-liar
Transkrip
00:00Yuk, pernyataan baru Presiden Prabowo Subianto mengultimatum para mitra yang curang untuk segera bertobat.
00:08Masih dikasih kesempatan untuk bertobat asal mengaku. Anda yakin bahwa MBG akan membaik?
00:13Saya kadang bingung, Pak Presiden ini adalah presiden atau motivator.
00:16Karena dalam banyak pidatonya itu lebih sering memberi seruan nasihat daripada seruan kebijakan.
00:22Dan saya rasa ada satu hal yang mungkin belum kita percakapkan malam ini.
00:25Bahwa beberapa hari terakhir sebelum Pak Dadan ditangkap, percakapan publik kita itu sebenarnya tidak hanya soal MBG.
00:33Tapi soal bagaimana krisis itu mungkin akan terjadi.
00:36Soal dolar yang naik, soal bagaimana IHSG itu turun sedemikian rupa, tapi mendadak hilang ketika Dadan ditangkap.
00:43Saya kira ada satu hal yang bisa jadi indikasi bahwa ketika yang terjadi hanya ganti pemain, ada dua hal.
00:50Yang pertama ini soal memindahkan medan konflik.
00:52Bahwa sebelumnya orang itu menyerang presiden, sebagai orang yang sangat bangga terhadap MBG.
00:57Kadang kita sebut beliau itu CEO MBG, yang menganggap NKR ini cuma perusahaan MBG.
01:03Itu yang pertama.
01:04Yang kedua soal mengkambing hitamkan Pak Dadan.
01:08Supaya apa yang biasa dilakukan Pak Prabu terjadi.
01:11Pak Prabu itu kan punya mentalitas mesias.
01:13Jadi beliau itu kalau tidak jadi juru selamat tidak keren.
01:16Ini terjadi juga di dalam kasus penangkepan Pak Dadan.
01:19Saya rasa publik patut curiga bahwa jangan-jangan yang terjadi ini cuma pengambing hitaman.
01:25Cuma penumbalan supaya medan konflik yang awalnya nyerang presiden, jadi nyerang ke Pak Dadan.
01:30Ya, cuma dikambing hitamkan Pak Dadan kalau kata Tio, Mas Rio.
01:33Jadi begini, ketika ada penyimpangan di dalam sebuah program,
01:39dan itu diketahui oleh presiden, dan presiden mengambil tindakan tegas untuk mencopot pejabat yang bersangkutan,
01:46saya bingung itu apa bentuk mengkambing hitamkan.
01:50Itu bentuk tindakan tegas bahwa presiden tidak memandang bulu.
01:54Tapi kalau saya balikan ke konteks daripada penjalanan MBG ini, Mbak Ilona,
01:59apakah perlu ada tata kelola yang menyimpang selama MBG ini dijalankan? Jelas.
02:03Apakah perlu ada evaluasi menyeluruh? Jelas.
02:07Apakah selama ini kita tidak belajar daripada kasus-kasus keracunan yang sudah terjadi,
02:11atau dapur-dapur yang tidak memenuhi SOP-SOP yang sudah dijalankan?
02:14Itu betul.
02:15Makanya ini merupakan momentum di mana presiden mengirimkan sebuah pesan yang sangat jelas.
02:20Program harus dijalankan dengan baik, dengan amanah, sesuai dengan peraturan yang berat.
02:25Tanpa pandang bulu sedikit.
02:26Baik.
02:27Mas Agus, ultimatum presiden bentuk pesan yang sangat tegas bahwa MBG akan harus berjalan dengan bersih.
02:32Ya kalau mau tegas, stop dulu programnya.
02:35Stop dulu.
02:35Hentikan dulu programnya, perbaiki tata kelolanya, buat regulasi yang ajak, yang kuat, hindari konflik kepentingan.
02:44Ini kan yang tidak diatur, ini yang tidak diurus di dalam badan gizi nasional.
02:49Bagaimana mungkin seorang eksekutor program kemudian di lapangan dia punya dapur?
02:54Pertanyaan utamanya itu.
02:57Konflik kepentingan.
02:58Saya misalnya, saya katakanlah punya yayasan.
03:01Saya daftar via online.
03:03Yayasan saya di-approve.
03:04Kapasitas fiskal saya cuma sanggup bikin tiga dapur.
03:08Satu yayasan bisa mengelola maksimal sepuluh.
03:11Apakah tidak tujuh yang bisa saya jual?
03:14Kan itu faktual yang terjadi di lapangan.
03:16Oke.
03:17Baik.
03:18Mas Fakrul tetap konsisten.
03:20Temuan hari ini sebetulnya itu mengkonfirmasi kajian kawan-kawan.
Komentar

Dianjurkan