Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menilai pembagian peran antara Presiden Prabowo Subianto dan Menteri Luar Negeri Sugiono bukanlah persoalan dalam praktik diplomasi Indonesia saat ini.

Menurutnya, sejak awal pemerintahan, Presiden Prabowo menekankan pentingnya kerja tim dalam menjalankan agenda kebijakan luar negeri Indonesia.

Anis mengatakan, dalam berbagai kunjungan luar negeri yang ia lakukan, dirinya juga melihat pola kerja diplomasi di banyak negara kini semakin fleksibel dan tidak selalu bergantung pada prosedur birokrasi yang panjang.

Menurut Anis, fleksibilitas justru menjadi kebutuhan penting di tengah situasi global yang bergerak sangat cepat.

Ia mencontohkan sejumlah pertemuan Presiden Prabowo dengan pejabat tinggi negara lain yang berlangsung cepat menyesuaikan kebutuhan situasi.

Anis menilai kondisi global saat ini membuat banyak prosedur yang lazim dijalankan dalam diplomasi harus disesuaikan demi efektivitas dan kecepatan respons.

Meski demikian, Anis menegaskan aspek birokrasi dan protokoler bukanlah hambatan besar dalam pelaksanaan diplomasi Indonesia.

Menurutnya, persoalan teknis akan selalu muncul dalam setiap kegiatan kenegaraan, baik yang direncanakan secara mendadak maupun yang telah disusun jauh-jauh hari.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/WN2BU1nrpng



#prabowo #diplomasi #menlu



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/672937/wamenlu-anis-matta-presiden-prabowo-dan-menlu-bekerja-sebagai-tim-dalam-diplomasi-rosi
Transkrip
00:00Selamat datang kembali di Rosy dan saya masih bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri Anies Mata.
00:05Pak Anies, ya kalau tadi bicara soal harus di dapur, di dapur pun kan ada chefnya, ada pembagian tugasnya.
00:13Nah sebenarnya kalau dalam kondisi saat ini dalam diplomasi luar negeri,
00:17yang kita lihat di setiap teater Pak Presiden Prabowo Subianto lah yang memegang peran utama di sana,
00:24sebenarnya bagaimana pembagian perannya antara Pak Presiden dengan Pak Menlu?
00:29Serius betul.
00:31Atau wamen lu juga.
00:34Saya tidak melihat itu sekarang sebagai masalah karena pada dasarnya dari awal Presiden mengatakan
00:41bahwa kita akan bekerja sebagai tim.
00:44Bagaimana beliau mengatur timnya dalam setiap perjalanan menurut saya itu adalah masalah yang sangat teknis sekali.
00:51Saya tidak memandang itu satu hal yang harus kita pertanyakan,
00:56karena asumsi dasarnya inilah yang sebenarnya yang jauh lebih penting untuk kita fahami.
01:03Karena saya juga menyaksikan di banyak negara yang saya kunjungi,
01:08saya juga ingin mengatakan bahwa misalnya prosedur birokrasi misalnya di banyak negara itu juga ditabrak-tabrak.
01:15Saya banyak bertemu pejabat yang sangat tinggi, yang jauh di atas saya, juga tidak pakai surat menyurat.
01:23Di luar ya, ketika saya berkunjung sebagai wamen lu, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang jauh di atas level
01:31saya,
01:31yang kalau kita mengikuti prosedur birokrasi itu tidak mungkin terjadi.
01:35Atau di luar bidang saya, tapi saya juga ketemu karena saya menganggap itu penting.
01:41Tapi mereka semuanya memenuhi semua permintaan seperti itu,
01:44karena sekarang memang orang perlu untuk bicara.
01:48Karena dapur ini kan terbela-bela di mana-mana.
01:50Nah, misalnya jika Anda pergi ke, misalnya bertemu dengan kelompok sink tank misalnya di Eropa misalnya,
02:00orang mungkin akan bertanya gitu loh, kenapa Indonesia masuk Brexit?
02:06Iya kan?
02:08Orang nggak akan nanya kenapa Indonesia mau masuk OECD gitu loh.
02:12Kenapa Anda ngambil dua-dua langkah ini?
02:14Jadi ini kan ada dua langkah yang bagi banyak orang dianggap sebagai kontradiksi,
02:18tapi sebenarnya bisa digabungkan gitu loh.
02:23Iya kan?
02:24Nah, karena itu menurut saya kita lebih bagus fleksibel dari sisi ini.
02:29Karena fleksibiliti ini, ini yang sebenarnya justru sedang sangat diperlukan sekarang.
02:37Kalau Anda melihat dalam beberapa hari terakhir ini kan presiden banyak menerima tamu dari luar,
02:43misalnya Menhan, Qatar baru beliau terima, kemudian Menlu, Turki,
02:48baru beliau terima, semua tidak ada jadwalnya di Kemlu.
02:52Nggak ada.
02:54Nggak ada jadwal gitu, langsung aja.
02:55Langsung aja seperti itu gitu loh.
02:57Artinya ada di Kemlu diatur sedikit prosedurnya,
03:00tetapi pada dasarnya bergerak cepat gitu.
03:04Jadi artinya apa?
03:05Ada banyak prosedur yang biasa kita ketahui,
03:07sekarang itu secara relatif banyak dilangkah-langkahin,
03:11disebabkan oleh tuntutan situasi itu loh.
03:13Memang tuntutan situasi ini membutuhkan fleksibilitas yang sangat tinggi.
03:18Tapi sisi birokrasi tidak menyulitkan itu Pak, tidak jadi hambatan?
03:21Saya tidak melihat itu hambatan yang terlalu penting.
03:27Pastilah kalau teknis-teknis, soal protokolir, soal apa segala,
03:31pasti akan ada masalah-masalah seperti itu.
03:33Tapi bahkan dalam keadaan yang sangat teratur pun,
03:37terjadwal dengan rapi pun selalu ada masalah seperti itu.
03:39Jadi menurut saya itu no case lah gitu.
03:42Yang isi situasi seperti itu.
03:46Karena gak mau serius-serius, saya pengen lihat dari POV-nya Wamenlu.
03:50Sebenarnya di konteks mana Pak Presiden itu handover tugasnya ke Menlu maupun Wamenlu?
03:56Kan ini pengalaman, jadi gak serius.
03:58Jadi misalnya saya kan di dunia Islam ya.
04:04Dan secara spesifik dunia Islam ini sebenarnya target kita ini ada dua.
04:11Satu, mengetrek lebih banyak investasi ke sini.
04:16Dan yang kedua, integrasi sosial politik yang lebih kuat dengan dunia Islam ini.
04:28Misalnya kalau Anda melihat dalam perjalanan, paling tidak dalam portofolio saya ya.
04:34Ada bagian yang saya terlibat secara pribadi sangat kuat.
04:40Ada bagian yang saya tidak terlalu terlibat secara pribadi.
04:43Tapi ada dalam keseluruhan portofolio saya.
04:45Misalnya kalau Anda melihat hubungan dengan Turki ya.
04:48Trade kita ini berkembang secara relatif baik dengan Turki.
04:53Juga dengan Mesir, juga dengan Arab Saudi, dengan Emirat, dan juga dengan Turki.
05:01Iya kan?
05:02Beberapa negara yang menjadi fokus presiden karena ini kawasan.
05:06Beliau memahami bahwa ini akan menjadi pusaran konflik.
05:09Dan di satu sisi kita mesti punya andil dalam proses mendorong kawasan ini.
05:15Ini berubah dari zona konflik menjadi zona pembangunan.
05:19Satu sisi sebagai istilahnya cita-cita diplomasi kita ke arah itu.
05:24Tapi situ selain kita ingin menjadikan mereka sebagai strategic partners kita dalam pembangunan.
05:32Di samping memperkuat ikatan identitas kita bersama.
05:36Sebagiannya saya terlibat secara sangat teknis sekali.
05:39Sebagiannya saya tidak terlibat.
05:40Tetapi sebagai arah keseluruhan presiden sendiri mempunyai arah itu.
05:44Dan dalam prosesnya Bapak tadi bilang.
05:46Dalam proses yang rapi pasti ada kendalanya.
05:48Fleksibel pun sama demikian.
05:50Maka dari itu kritik pun kan tidak terhindarkan.
05:53Ada banyak kritik muncul dari berbagai lapisan masyarakat.
05:56Tidak bahas orang per orang.
05:58Tapi kritik itu kan muncul dari juga kepedulian atau care terhadap apa yang jadi ekspektasi masyarakat.
06:04Pemerintah itu menanggapi kritik yang datang seperti apa sih Pak Anies?
06:10Apakah defensif bahwa merasa ini sudah dilakukan semaksimal mungkin?
06:15Apa membuka keran kritik itu dan bagaimana?
06:18Kalaupun iya.
06:19Pada dasarnya sih saya tumbuh terlibat dalam politik di era demokrasi ya.
06:25Jadi tidak ada yang istimewa bagi saya dari semua kritik kiri yang sedang terjadi.
06:31Di era Pak Ibu Megawati kritik seperti itu.
06:34Kencang di era Pak SBY juga sama kencangnya.
06:37Di era Pak Jokowi juga sama kencangnya.
06:40Sekarang juga sama kencangnya.
06:41Tidak ada hal yang terlalu istimewa.
06:44Dan menurut saya itu menandakan bahwa sistem demokrasi kita bekerja dengan baik.
06:50Itu maknanya.
06:51Itu maknanya bahwa kalau Anda melihat misalnya dalam dua hari terakhir ini
06:55empat orang anggota kabinet misalnya ditahan.
06:59Itu artinya apa?
07:01Itu ada keseimbangan institusional.
07:06Bahwa cabang eksekutif ini bisa sangat powerful
07:10tetapi itu tidak akan mengurangi sifat lembaga yudikatif untuk juga menjadi powerful.
07:20Siapa yang bisa nyangka kan?
07:22Seperti itu kan?
07:23Ini artinya apa?
07:24Sistem ini bekerja.
07:25Dan sistem ini
07:28dia mempunyai dinamika menciptakan check and balances dengan sendirinya.
07:32Jadi pada dasarnya kritik ini baik-baik saja semuanya kalau begitu.
07:37Dan jawabannya juga adalah bagian dari pertanggung jawabannya.
07:40Seperti itu.
07:40Nanti ada kritik lagi dan seterusnya.
07:42Menurut saya itu situasi dialektis seperti itu
07:45itu adalah tanda dinamika sosial yang bagus, yang sehat.
07:49Itu menurut saya juga tanda bahwa sistemnya itu bekerja dengan baik.
07:52Dan ini juga berarti bahwa di luar dari cabang legislatif, cabang eksekutif dan yudikatif ini
08:00civil society juga bekerja dengan baik.
08:03Iya kan?
08:04Menyampaikan peran kritiknya dan meluruskan pemerintah secara terus-menerus.
08:08Itu pertanda bagus menurut saya gitu loh.
08:10Dan bagaimana agar substansi kritiknya ini betul-betul didengarkan pemerintah
08:14bukan fokus pada caranya tidak sopan, caranya tidak sesuai etika.
08:18Nah bagaimana mendudukan ini agar memang substansinya diserap,
08:22civil society didengarkan dan diplomasi juga berjalan dengan baik.
08:25Kan pada dasarnya kita juga tunduk kepada basis kultural kita sendiri.
08:31Apa yang dianggap sopan di satu negara mungkin tidak sopan di negara yang lain.
08:36Menurut saya cita rasa seperti itu fleksibel sajalah kita menilainya gitu loh.
08:41Kita tidak perlu terlalu serius dari sisi cita rasa itu.
08:45Orang-orang di sini yang punya pendidikan di barat atau besar di barat misalnya begitu pulang,
08:50mungkin dia akan bicara lebih belak-belakan dan seterusnya.
08:54Orang-orang yang tumbuh di sini mungkin akan mempertahankan substansi dan kesopanan sekaligus.
09:01Menurut saya sih itu biasa sajalah dulu.
09:04Jadi tidak ada yang terlalu, menurut saya tidak ada yang terlalu istimewa di situ ya.
09:10Itu karena hal-hal seperti itu kembali kepada soal cita rasa budaya.
09:15Tapi secara umum overall dalam perspektif, kalau kita dalam perspektif kenegaraan,
09:20dalam perspektif sistem, ini menandakan bahwa demokrasi kita itu berjalan dengan baik.
09:27Ada orang mengeritik, terbuka, presiden, dan seterusnya, menghina, dan seterusnya, dan seperti itu.
09:33Sehat seperti itu.
09:35Pasti ada yang sisi emosi yang kalau kita anggap tidak sopan juga ya,
09:39ada orang yang memandang seperti itu, dan seterusnya.
09:42Tapi ya itulah masyarakat itu.
09:44Dan itulah fungsi check and balance.
09:46Iya, itu fungsi check and balance seperti itu.
09:48Pak, wamen dulu, terima kasih sudah hadir di program.
09:53Terima kasih banyak atas waktunya, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia,
09:58Pak Anies Mata, sudah berbagi perspektif dalam satu jam ini.
10:01Terima kasih banyak soal menakar politik luar negeri Prabowo.
10:05Terima kasih Pak.
10:06Terima kasih Mbak Friska.
10:07Dan terima kasih Anda saudara telah menyaksikan Rossi.
10:09Kita jumpa lagi kamis depan hanya di Kompas TV Independent.
10:13Terpercaya.
10:14Saya Friska Klarissa, selamat malam.
10:16Sampai jumpa.
10:18Silahkan berhidup.
10:19Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan