00:00Selamat datang kembali di Rosy dan saya masih bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri Anies Mata.
00:05Pak Anies, ya kalau tadi bicara soal harus di dapur, di dapur pun kan ada chefnya, ada pembagian tugasnya.
00:13Nah sebenarnya kalau dalam kondisi saat ini dalam diplomasi luar negeri,
00:17yang kita lihat di setiap teater Pak Presiden Prabowo Subianto lah yang memegang peran utama di sana,
00:24sebenarnya bagaimana pembagian perannya antara Pak Presiden dengan Pak Menlu?
00:29Serius betul.
00:31Atau wamen lu juga.
00:34Saya tidak melihat itu sekarang sebagai masalah karena pada dasarnya dari awal Presiden mengatakan
00:41bahwa kita akan bekerja sebagai tim.
00:44Bagaimana beliau mengatur timnya dalam setiap perjalanan menurut saya itu adalah masalah yang sangat teknis sekali.
00:51Saya tidak memandang itu satu hal yang harus kita pertanyakan,
00:56karena asumsi dasarnya inilah yang sebenarnya yang jauh lebih penting untuk kita fahami.
01:03Karena saya juga menyaksikan di banyak negara yang saya kunjungi,
01:08saya juga ingin mengatakan bahwa misalnya prosedur birokrasi misalnya di banyak negara itu juga ditabrak-tabrak.
01:15Saya banyak bertemu pejabat yang sangat tinggi, yang jauh di atas saya, juga tidak pakai surat menyurat.
01:23Di luar ya, ketika saya berkunjung sebagai wamen lu, saya banyak bertemu dengan orang-orang yang jauh di atas level
01:31saya,
01:31yang kalau kita mengikuti prosedur birokrasi itu tidak mungkin terjadi.
01:35Atau di luar bidang saya, tapi saya juga ketemu karena saya menganggap itu penting.
01:41Tapi mereka semuanya memenuhi semua permintaan seperti itu,
01:44karena sekarang memang orang perlu untuk bicara.
01:48Karena dapur ini kan terbela-bela di mana-mana.
01:50Nah, misalnya jika Anda pergi ke, misalnya bertemu dengan kelompok sink tank misalnya di Eropa misalnya,
02:00orang mungkin akan bertanya gitu loh, kenapa Indonesia masuk Brexit?
02:06Iya kan?
02:08Orang nggak akan nanya kenapa Indonesia mau masuk OECD gitu loh.
02:12Kenapa Anda ngambil dua-dua langkah ini?
02:14Jadi ini kan ada dua langkah yang bagi banyak orang dianggap sebagai kontradiksi,
02:18tapi sebenarnya bisa digabungkan gitu loh.
02:23Iya kan?
02:24Nah, karena itu menurut saya kita lebih bagus fleksibel dari sisi ini.
02:29Karena fleksibiliti ini, ini yang sebenarnya justru sedang sangat diperlukan sekarang.
02:37Kalau Anda melihat dalam beberapa hari terakhir ini kan presiden banyak menerima tamu dari luar,
02:43misalnya Menhan, Qatar baru beliau terima, kemudian Menlu, Turki,
02:48baru beliau terima, semua tidak ada jadwalnya di Kemlu.
02:52Nggak ada.
02:54Nggak ada jadwal gitu, langsung aja.
02:55Langsung aja seperti itu gitu loh.
02:57Artinya ada di Kemlu diatur sedikit prosedurnya,
03:00tetapi pada dasarnya bergerak cepat gitu.
03:04Jadi artinya apa?
03:05Ada banyak prosedur yang biasa kita ketahui,
03:07sekarang itu secara relatif banyak dilangkah-langkahin,
03:11disebabkan oleh tuntutan situasi itu loh.
03:13Memang tuntutan situasi ini membutuhkan fleksibilitas yang sangat tinggi.
03:18Tapi sisi birokrasi tidak menyulitkan itu Pak, tidak jadi hambatan?
03:21Saya tidak melihat itu hambatan yang terlalu penting.
03:27Pastilah kalau teknis-teknis, soal protokolir, soal apa segala,
03:31pasti akan ada masalah-masalah seperti itu.
03:33Tapi bahkan dalam keadaan yang sangat teratur pun,
03:37terjadwal dengan rapi pun selalu ada masalah seperti itu.
03:39Jadi menurut saya itu no case lah gitu.
03:42Yang isi situasi seperti itu.
03:46Karena gak mau serius-serius, saya pengen lihat dari POV-nya Wamenlu.
03:50Sebenarnya di konteks mana Pak Presiden itu handover tugasnya ke Menlu maupun Wamenlu?
03:56Kan ini pengalaman, jadi gak serius.
03:58Jadi misalnya saya kan di dunia Islam ya.
04:04Dan secara spesifik dunia Islam ini sebenarnya target kita ini ada dua.
04:11Satu, mengetrek lebih banyak investasi ke sini.
04:16Dan yang kedua, integrasi sosial politik yang lebih kuat dengan dunia Islam ini.
04:28Misalnya kalau Anda melihat dalam perjalanan, paling tidak dalam portofolio saya ya.
04:34Ada bagian yang saya terlibat secara pribadi sangat kuat.
04:40Ada bagian yang saya tidak terlalu terlibat secara pribadi.
04:43Tapi ada dalam keseluruhan portofolio saya.
04:45Misalnya kalau Anda melihat hubungan dengan Turki ya.
04:48Trade kita ini berkembang secara relatif baik dengan Turki.
04:53Juga dengan Mesir, juga dengan Arab Saudi, dengan Emirat, dan juga dengan Turki.
05:01Iya kan?
05:02Beberapa negara yang menjadi fokus presiden karena ini kawasan.
05:06Beliau memahami bahwa ini akan menjadi pusaran konflik.
05:09Dan di satu sisi kita mesti punya andil dalam proses mendorong kawasan ini.
05:15Ini berubah dari zona konflik menjadi zona pembangunan.
05:19Satu sisi sebagai istilahnya cita-cita diplomasi kita ke arah itu.
05:24Tapi situ selain kita ingin menjadikan mereka sebagai strategic partners kita dalam pembangunan.
05:32Di samping memperkuat ikatan identitas kita bersama.
05:36Sebagiannya saya terlibat secara sangat teknis sekali.
05:39Sebagiannya saya tidak terlibat.
05:40Tetapi sebagai arah keseluruhan presiden sendiri mempunyai arah itu.
05:44Dan dalam prosesnya Bapak tadi bilang.
05:46Dalam proses yang rapi pasti ada kendalanya.
05:48Fleksibel pun sama demikian.
05:50Maka dari itu kritik pun kan tidak terhindarkan.
05:53Ada banyak kritik muncul dari berbagai lapisan masyarakat.
05:56Tidak bahas orang per orang.
05:58Tapi kritik itu kan muncul dari juga kepedulian atau care terhadap apa yang jadi ekspektasi masyarakat.
06:04Pemerintah itu menanggapi kritik yang datang seperti apa sih Pak Anies?
06:10Apakah defensif bahwa merasa ini sudah dilakukan semaksimal mungkin?
06:15Apa membuka keran kritik itu dan bagaimana?
06:18Kalaupun iya.
06:19Pada dasarnya sih saya tumbuh terlibat dalam politik di era demokrasi ya.
06:25Jadi tidak ada yang istimewa bagi saya dari semua kritik kiri yang sedang terjadi.
06:31Di era Pak Ibu Megawati kritik seperti itu.
06:34Kencang di era Pak SBY juga sama kencangnya.
06:37Di era Pak Jokowi juga sama kencangnya.
06:40Sekarang juga sama kencangnya.
06:41Tidak ada hal yang terlalu istimewa.
06:44Dan menurut saya itu menandakan bahwa sistem demokrasi kita bekerja dengan baik.
06:50Itu maknanya.
06:51Itu maknanya bahwa kalau Anda melihat misalnya dalam dua hari terakhir ini
06:55empat orang anggota kabinet misalnya ditahan.
06:59Itu artinya apa?
07:01Itu ada keseimbangan institusional.
07:06Bahwa cabang eksekutif ini bisa sangat powerful
07:10tetapi itu tidak akan mengurangi sifat lembaga yudikatif untuk juga menjadi powerful.
07:20Siapa yang bisa nyangka kan?
07:22Seperti itu kan?
07:23Ini artinya apa?
07:24Sistem ini bekerja.
07:25Dan sistem ini
07:28dia mempunyai dinamika menciptakan check and balances dengan sendirinya.
07:32Jadi pada dasarnya kritik ini baik-baik saja semuanya kalau begitu.
07:37Dan jawabannya juga adalah bagian dari pertanggung jawabannya.
07:40Seperti itu.
07:40Nanti ada kritik lagi dan seterusnya.
07:42Menurut saya itu situasi dialektis seperti itu
07:45itu adalah tanda dinamika sosial yang bagus, yang sehat.
07:49Itu menurut saya juga tanda bahwa sistemnya itu bekerja dengan baik.
07:52Dan ini juga berarti bahwa di luar dari cabang legislatif, cabang eksekutif dan yudikatif ini
08:00civil society juga bekerja dengan baik.
08:03Iya kan?
08:04Menyampaikan peran kritiknya dan meluruskan pemerintah secara terus-menerus.
08:08Itu pertanda bagus menurut saya gitu loh.
08:10Dan bagaimana agar substansi kritiknya ini betul-betul didengarkan pemerintah
08:14bukan fokus pada caranya tidak sopan, caranya tidak sesuai etika.
08:18Nah bagaimana mendudukan ini agar memang substansinya diserap,
08:22civil society didengarkan dan diplomasi juga berjalan dengan baik.
08:25Kan pada dasarnya kita juga tunduk kepada basis kultural kita sendiri.
08:31Apa yang dianggap sopan di satu negara mungkin tidak sopan di negara yang lain.
08:36Menurut saya cita rasa seperti itu fleksibel sajalah kita menilainya gitu loh.
08:41Kita tidak perlu terlalu serius dari sisi cita rasa itu.
08:45Orang-orang di sini yang punya pendidikan di barat atau besar di barat misalnya begitu pulang,
08:50mungkin dia akan bicara lebih belak-belakan dan seterusnya.
08:54Orang-orang yang tumbuh di sini mungkin akan mempertahankan substansi dan kesopanan sekaligus.
09:01Menurut saya sih itu biasa sajalah dulu.
09:04Jadi tidak ada yang terlalu, menurut saya tidak ada yang terlalu istimewa di situ ya.
09:10Itu karena hal-hal seperti itu kembali kepada soal cita rasa budaya.
09:15Tapi secara umum overall dalam perspektif, kalau kita dalam perspektif kenegaraan,
09:20dalam perspektif sistem, ini menandakan bahwa demokrasi kita itu berjalan dengan baik.
09:27Ada orang mengeritik, terbuka, presiden, dan seterusnya, menghina, dan seterusnya, dan seperti itu.
09:33Sehat seperti itu.
09:35Pasti ada yang sisi emosi yang kalau kita anggap tidak sopan juga ya,
09:39ada orang yang memandang seperti itu, dan seterusnya.
09:42Tapi ya itulah masyarakat itu.
09:44Dan itulah fungsi check and balance.
09:46Iya, itu fungsi check and balance seperti itu.
09:48Pak, wamen dulu, terima kasih sudah hadir di program.
09:53Terima kasih banyak atas waktunya, Wakil Menteri Luar Negeri Republik Indonesia,
09:58Pak Anies Mata, sudah berbagi perspektif dalam satu jam ini.
10:01Terima kasih banyak soal menakar politik luar negeri Prabowo.
10:05Terima kasih Pak.
10:06Terima kasih Mbak Friska.
10:07Dan terima kasih Anda saudara telah menyaksikan Rossi.
10:09Kita jumpa lagi kamis depan hanya di Kompas TV Independent.
10:13Terpercaya.
10:14Saya Friska Klarissa, selamat malam.
10:16Sampai jumpa.
10:18Silahkan berhidup.
10:19Terima kasih.
Komentar