Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Menteri Luar Negeri Anis Matta menilai, keterlibatan Indonesia di panggung internasional justru dapat menjadi bagian dari upaya menyelesaikan berbagai tantangan di dalam negeri.

"Di sisi lain kita juga memahami satu situasi lain bahwa jika Anda tidak ikut berburu, Anda tidak akan dapat apa-apa. Pada akhirnya sebenarnya yang kita perlukan adalah keseimbangan," katanya.

Anis menjelaskan, target pertumbuhan ekonomi delapan persen yang dicanangkan pemerintah membutuhkan investasi dalam jumlah besar. Karena itu, diplomasi menjadi salah satu instrumen untuk menarik kepercayaan dan investasi dari luar negeri.

Namun menurut Anis, manfaat diplomasi tidak hanya berkaitan dengan ekonomi. Di tengah meningkatnya ketegangan global, diplomasi juga berperan dalam menjaga keamanan dan mengantisipasi dampak konflik internasional terhadap Indonesia.

Anis menilai saat ini setiap negara berupaya mengamankan kepentingannya masing-masing. Maka, diplomasi Indonesia harus mampu memastikan posisi Indonesia tetap diperhitungkan dalam berbagai pembahasan global.

Lebih jauh, Anis mengungkapkan bahwa Indonesia tidak cukup hanya menjadi pihak yang mengikuti keputusan global, melainkan harus ikut berperan dalam proses pembentukannya.

Maka, Anis mengingatkan agar diplomasi tidak hanya dinilai dari aspek teknis seperti jumlah kunjungan maupun besarnya anggaran yang digunakan.

Menurutnya, diplomasi merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya tidak selalu terlihat dalam waktu singkat.

Bagaimana menurut Anda?



Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/WN2BU1nrpng



#prabowo #kunjungan #luarnegeri

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/672935/prabowo-ke-luar-negeri-wamenlu-anis-matta-kalau-tidak-ikut-berburu-tak-dapat-apa-apa-rosi
Transkrip
00:00Sedara gelombang kritik muncul karena frekuensi tinggi Presiden Prabowo ke luar negeri.
00:05Benarkah setiap lawatan adalah investasi demi kepentingan nasional?
00:08Kita masih membahasnya bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri Anies Mata.
00:12Pak Anies kita lanjutkan yang tadi.
00:14Tadi memang ada banyak masalah yang harus diselesaikan dalam konteks global saat ini
00:18dan butuh presensinya Pak Presiden dalam konteks high profile.
00:23Tapi juga yang jadi perbincangan,
00:25kalau kita lakukan assessment dari kondisi saat ini,
00:28ada efisiensi juga yang di highlight dengan kondisi di dalam negeri pun yang tidak baik-baik saja.
00:34Nah bagaimana menjelaskan kondisi saat ini Pak Anies?
00:39Saya kira ini juga kembali kepada asumsi dasar yang kita bangun.
00:46Apakah penyelesaian masalah domestik itu maknanya kita ada di dalam rumah secara terus-menerus?
00:52Atau apakah perjalanan kita keluar bisa menjadi bagian dari cara kita menyelesaikan masalah domestik?
01:00Iya kan?
01:01Kita kan diajari oleh nilai-nilai yang berkembang atau pepatah lah.
01:09Kan telur yang ada hari ini lebih bagus daripada ayam besok.
01:17Itu pepatah yang dianut oleh orang yang menghindari spekulasi,
01:26menghindari petualangan dan seterusnya.
01:31Artinya yang ingin disampaikan lebih baik?
01:33Enggak. Di sisi lain kita juga memahami satu situasi lain bahwa jika Anda tidak ikut berburu,
01:42Anda tidak akan dapat apa-apa.
01:44Iya kan?
01:46Pada akhirnya sebenarnya yang kita perlukan adalah keseimbangan.
01:50Tetapi keseimbangan itu tidak selalu berarti sama.
01:54Keseimbangan maksudnya adalah bahwa memang diperlukan keluwesan, ke apa namanya?
02:02Agile, lebih luwes.
02:03Lebih luwes kita dalam mengelola situasi ini.
02:06Misalnya, target presiden untuk meningkatkan pertumbuhan 8 persen,
02:17itu kan membutuhkan investment yang sangat besar.
02:21Iya kan?
02:23Sekarang bagaimana mengetrek orang untuk datang berinvestasi di sini?
02:28Iya kan?
02:28Kan itu satu masalah.
02:31Tapi jika Anda berpikir misalnya sisi keamanan domestik,
02:37bagaimana Anda mengamankan teater Anda ini jika pada suatu waktu Anda bisa juga menjadi kolateral damage.
02:45Dalam satu pertempuran yang tidak ada kendalikan.
02:48Dalam satu perang yang tidak ada kendalikan.
02:52Dan perbincangan seperti ini, ini tidak melulu isunya adalah juga isu ekonomi, ini adalah isu geopolitik, ini adalah isu keamanan.
03:00Dan karena itu saya juga tidak membayangkan bahwa ada hasil seketika yang bisa kita capai di situ.
03:06Iya kan?
03:08Anda mungkin kan tidak membayangkan bahwa proses penyelesaian masalah kita seperti ketika kita keluar dari krisis tahun 65 setelah G30
03:17SPKI,
03:18lalu ada settlement secara politik di sini,
03:22Pak Harto jarang keluar negeri, tapi investment semuanya datang ke sini.
03:28Iya kan?
03:30Waktu itu adalah waktu perandingin di mana ada pertarungan antara negara-negara adidaya ini, dua blok ini untuk melakukan rekrutmen.
03:39Iya kan?
03:39Kalau sekarang ini kan tidak ada rekrutmen dalam model seperti itu.
03:43Sekarang ini orang semuanya men-secure eranya sendiri-sendiri.
03:47Dan karena itu yang perlu setiap usaha diplomasi ini pada dasarnya lebih banyak bertujuan untuk mengamankan
03:55juga teater kita sendiri ini.
03:59Tapi bagaimana membuat teater kita ini terasa penting di depan orang?
04:04Supaya kita mempunyai satu posisi dan bukan hanya ikut di meja makan pada dasarnya.
04:10Kalau menurut saya ada yang jauh lebih penting dari itu,
04:12tapi juga ikut di dapur memasak masakan yang akan dihidangkan dalam menu di atas meja makan itu.
04:20Iya kan?
04:20Kan itu sebenarnya yang sekarang itu satu pola diplomasi baru yang perlu kita kembangkan.
04:29Nah karena itu sebaiknya kalau menurut saya kita tidak terlalu tertuju kepada isu teknisnya.
04:35Isu teknisnya itu berapa anggarannya, berapa kali kunjungannya dan seterusnya.
04:44Juga begitu juga menurut saya hasil cepat.
04:48Semua asumsi tentang hasil cepat dalam diplomasi sekarang ini itu akan gagal.
04:54Enggak akan ada.
04:55Enggak akan ada. Sekali lagi saya ulangi.
04:57Enggak akan ada hasil cepat.
04:58Jadi kalau disederhanakan ke publik, sebenarnya hasil dari kunjungan Pak Presiden Prabowo dengan bahasa awam ini apa?
05:05Tidak bicara soal hasil cepat yang sudah ada apa, tapi apa hasil yang bisa masyarakat lihat Pak?
05:10Terlibat dalam proses transisi global ini.
05:14Dan sekarang orang melihat semuanya bahwa kehadiran Indonesia dalam proses transisi global ini, itu terasa kehadiran Indonesia di situ.
05:23Saya juga berkunjung ke banyak negara selama satu tahun lebih satu tahun setengah saya di sini.
05:30Tapi saya lebih banyak terlibat dalam perbincangan yang lebih tertutup dengan banyak pihak.
05:36Dan semua juga orang, kalau Anda berbicara misalnya dengan elit-elit di Eropa atau strategic sinker di Eropa misalnya,
05:48atau di Timur Tengah, atau bahkan juga di Amerika, dan juga di Asia Timur seperti ini.
05:56Pada dasarnya kan yang terjadi dalam proses transisi ini itu adalah strategic adjustment secara terus-menerus sampai sistemnya itu settle.
06:08Ini kan sistemnya tidak settle, ini kan orang berubah-ubah terus-menerus dan karena itu orang secara terus-menerus melakukan
06:16strategic adjustment.
06:17Perubahan dalam strategi ini memang menuntut manuver, menuntut gerakan yang respon cepat yang seperti itu.
06:25Dan strategic positioning itu dalam situasi seperti ini, itu adalah satu ijtihad yang paling rumit.
06:32Karena tidak gampang.
06:34Coba Anda membayangkan Amerika sekarang ya.
06:37Venezuela selesai dalam waktu cepat.
06:39Iya kan? Kita pikir tadinya ada perang Amerika dengan Venezuela, tautanya cuma penculikan presiden.
06:45Iya kan?
06:46Itu kayak belah durian, durinya galak di luar, begitu dibelah dengan benar, isinya durian.
06:51Dan Iran ini juga dipikir, saya kira Israel meyakinkan Amerika untuk terlibat ke sana karena alasannya bahwa ini operasi selesai
06:59dalam 48 jam.
07:00Kenyataannya kan makan kedondong, manis, mulus di luar, dalamnya ada duri.
07:06Iya kan?
07:07Sekarang strategic adjustment yang mereka lakukan kan kita nggak tahu.
07:10Sekarang misalnya, apa yang dipikirkan oleh elit diteluk tentang bagaimana mereka mempertahankan diri ketika basis-basis militer Amerika ini ternyata
07:19tidak efektif melindungi mereka dari serangan Iran.
07:22Sekarang apa yang mereka pikirkan untuk mempertahankan dirinya?
07:25Nah, jadi saya ingin mengatakan bahwa pada dasarnya setiap negara di dunia sekarang ini sedang menghadapi satu situasi yang sama.
07:33Yaitu situasi survival.
07:37Dan mode survival inilah pada dasarnya yang menjadi asumsi dasar dari semua kebijakan politik luar negeri presiden.
07:45Nah, dalam kondisi seperti ini juga tadi bagaimana menyederhanakan apa yang hasil sudah didapatkan, sudah dijawab oleh Pak Anies.
07:52Tapi berikutnya bagaimana juga untuk mengukur efektivitas peran Indonesia, daya tawar Indonesia dalam proses transisi global yang sedang berlangsung ini,
08:01Pak Anies.
08:02Dalam kondisi yang rumit ini, seberapa Indonesia dipandang memang?
08:05Sebenarnya kalau kita melihat ya, Indonesia ini kan masih relatif beruntung dalam situasi sekarang ini.
08:15Karena kita secara geografi lumayan jauh dari pusat-pusat konflik ini, walaupun bisa menjadi teater baru dalam konflik di masa
08:24yang akan datang.
08:26Saat ini kita perlu bersyukur bahwa kita belum masuk sebagai dalam teater konflik yang terbuka itu.
08:33Tetapi yang perlu kita siapkan dalam perspektif survival mode tadi itu adalah, apa yang akan kita lakukan manakala itu terjadi.
08:42Iya kan?
08:44Itu yang kita tidak bisa prediksikan.
08:47Apa yang akan kita lakukan manakala itu terjadi.
08:50Dan usaha untuk mempertahankan teater kita ini supaya tidak menjadi teater perang bagi negara-negara adidaya menurut saya, itu adalah
08:59usaha yang paling berat sekarang.
09:00Karena itu tidak gampang.
09:02Sangat tidak gampang dalam konteks perang supremasi antara Amerika dengan Cina.
09:08Jadi saya ingin mengatakan sebenarnya adalah, kita perlu menjadi peserta yang terlibat secara aktif, terlibat di dapur, istilahnya di dapur
09:21global ini.
09:22Tetapi pada waktu yang sama juga harus melihat bahwa proses ini tidak akan menghasilkan hasil yang cepat karena dia adalah
09:29satu masa transisi yang panjang.
09:30Nah kalau Pak Presiden menghandle ini sendiri, Pak Presiden punya tugas di dalam maupun luar negeri.
09:36Pembagian antara Pak Presiden Prabowo dengan Menteri Luar Negeri seperti apa Pak Anies?
09:41Terima kasih.
09:44Terima kasih.
09:44Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan