Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Makan Bergizi Gratis, program prioritas Presiden Prabowo Subianto yang diklaim paling bermanfaat.

Hampir satu setengah tahun berjalan, Presiden mencopot Dadan Hindayana dari posisinya sebagai Kepala Badan Gizi Nasional beserta 2 wakilnya.

Prabowo beralasan, banyak laporan soal penyelewengan, dan kejanggalan, dalam pelaksanaan program MBG.

Rabu (3/6/2026), tiga mantan pejabat BGN, Dadan Hindayana, bersama Sony Sanjaya dan Lodewyk Pusung, keluar dari Kejaksaan Agung mengenakan rompi tahanan.

Kejaksaan menduga Dadan cs, mengendalikan sejumlah yayasan pengelola SPPG atau dapur MBG, melalui pihak lain.

Penyidik juga menemukan, dugaan penyimpangan dalam pengadaan 21.801 unit motor listrik, dengan nilai total sekitar Rp1 triliun.

Penyidik juga menyoroti pengadaan 32 ribu pasang sepatu dalam proyek MBG.

Kejaksaan juga mengusut pengadaan 31.994 unit tablet yang diduga bermasalah, serta dugaan penyimpangan, dalam pengadaan 5.400 unit televisi berukuran 75 inci.

Untuk menjaga kepercayaan masyarakat, peneliti PUKAT UGM, Zaenur Rohman menilai pemerintah harus membuka data yayasan pengelola SPPG, agar dapat diawasi bersama.

Tongkat kepemimpinan Badan Gizi Nasional, sudah diestafetkan ke Nanik S. Deyang.

Tugas utama yang diembannya, adalah memimpin pelaksanaan program prioritas pemerintah, terkait pemenuhan gizi anak-anak Indonesia, melalui program Makan Bergizi Gratis, serta mendorong penguatan ekonomi masyarakat.

Bagaimana Indonesia Corruption Watch menyoroti, kasus korupsi yang menjerat program MBG dan pengawasan seperti apa yang harus digalakkan, kita membahasnya bersama Peneliti ICW, Seira Tamara.

Baca Juga Prabowo soal Copot Dadan dari Kepala BGN: Ada Kejanggalan dan Indikasi Penyelewengan di https://www.kompas.tv/nasional/672911/prabowo-soal-copot-dadan-dari-kepala-bgn-ada-kejanggalan-dan-indikasi-penyelewengan

#dadanhindayana #bgn #mbg #korupsi

_

Sahabat KompasTV, apa pendapat kalian soal berita ini? Komentar di bawah ya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/672933/blak-blakan-peneliti-icw-dorong-program-mbg-dihentikan-pencopotan-dadan-cs-dinilai-tak-cukup
Transkrip
00:00Bagaimana Indonesia Corruption Watch menyeroti kasus korupsi yang menjerat program MBG dan pengawasan seperti apa yang harus digalakan?
00:07Kita akan bahas bersama dengan peneliti ICW, Seira Tamara. Selamat malam, Mbak Seira.
00:13Selamat malam, Mas Ibrahim.
00:15Kalau ICW menyeroti, apakah dengan pencopotan mantan kepala BGN dan dua wakilnya sudah cukup untuk selesaikan persoalan tata kelola MBG?
00:23Ya, terima kasih Mas Ibrahim. Kami menilai bahwa pencopotan para petinggi dari Badan Gizi Nasional itu belum cukup untuk menyelesaikan
00:33permasalahan yang terjadi dalam pelaksanaan proyek MBG saat ini.
00:38Tentu dorongan pertama dan utama dari kami adalah untuk menghentikan program MBG itu sendiri.
00:44Karena permasalahan yang hari ini kita lihat bukanlah sebuah permasalahan yang tiba-tiba terjadi,
00:50tapi bahkan sudah bisa diprediksi sejak awal kelangsungan program ini, sejak satu tahun yang lalu.
00:56Bahkan pada tahun 2025 kemarin, di akhir 2025, ICW pun juga sudah mengungkap sejumlah potensi konflik kepentingan
01:04dan juga bagaimana MBG ini dijalankan sebagai bukan kebijakan publik,
01:09tapi justru sebagai alat politik yang syarat akan patronase dan juga kronism.
01:15Jadi dengan berbagai kekisruhan yang ditimbulkan oleh BGN dalam pelaksanaan MBG,
01:22maka kami merasa apa yang hari ini dilakukan oleh Presiden bukanlah solusi, bukanlah obat,
01:28tapi justru obat mujarabnya adalah untuk menghentikan proyek MBG.
01:31Tapi dengan masuknya aparat pendegak hukum, Kejaksaan Agung di sini sudah mulai melakukan penyidikan,
01:36ada tersangka, tiga orang tersangka.
01:38Apakah ini termasuk dalam monitor pengawasan agar program ini, prioritas ini bisa ada perbaikan, berjalan lebih baik?
01:46Dalam konteks pengawasan kami punya catatan kritis juga.
01:50Pertama, sebenarnya apa yang terjadi hari ini sekali lagi bukan hal yang tidak bisa diprediksi,
01:56bahkan berbagai kritik publik dari jauh-jauh hari sudah mengarah kepada apa yang hari ini kita lihat.
02:01Tapi kita mengetahui dari jauh-jauh hari sebelum ini bahkan tidak ada tindakan nyata dari aparat pendegak hukum
02:09untuk serius melakukan pengawasan atau bahkan serius melakukan investigasi di dalam pelaksanaan programnya.
02:15Jadi meskipun kami menghormati proses hukum yang saat ini sedang berjalan,
02:21di sisi lain ini juga menimbulkan pertanyaan.
02:23Kenapa dengan begitu terangnya berbagai permasalahan dan konflik kepentingan
02:29yang sudah ditunjukkan dari jauh-jauh hari,
02:31itu tidak pernah sedikitpun memantik langkah dari aparat pendegak hukum untuk masuk begitu.
02:36Karena bahkan dugaan markup, kemudian praktik-praktik yang bermasalah lainnya
02:43itu sudah disampaikan jauh-jauh hari dari berbagai macam organisasi masyarakat sipil,
02:47termasuk oleh ICW.
02:49Tidak cukupkah menjawab dengan proses hukum yang saat ini bergulir?
02:52Pertanyaan tadi.
02:54Ya, untuk saat ini tentu harusnya meskipun itu terlambat,
02:58tapi ya harus diusut secara tuntas.
03:00Untuk menjawab apakah ini akan cukup atau tidak,
03:02kita perlu melihat langkah yang dilakukan dalam proses penegakan hukumnya.
03:07Dorongan kami adalah agar aparat pendegak hukum tidak berhenti,
03:11hanya pada penahanan dan juga penetapan tersangka
03:14tiga orang petinggi BGN yang saat ini sudah ditahan begitu ya.
03:19Tapi juga untuk aktif melakukan penelusuran yang lebih mendalam
03:22terhadap seluruh pihak yang mungkin terlibat di dalamnya,
03:26termasuk apabila pihak-pihak tersebut melibatkan aktor-aktor politik
03:30dan juga pejabat negara lainnya.
03:32Karena itu sangat mungkin terjadi begitu.
03:35Terlebih ketika ada pernyataan bahwa salah satu permasalahan yang terjadi
03:40dan kemudian kasusnya tersangkut oleh kepala BGN Dadan,
03:45salah satunya adalah kan berkaitan dengan afiliasi
03:48yang dimiliki oleh petinggi BGN dengan sejumlah yayasan
03:53yang menjadi mitra pelaksana MBG.
03:55Dengan adanya dugaan yang demikian, maka harus bisa diusut-untas secara lebih jauh.
04:01Siapa-siapa saja pihak yang justru terlibat dalam proses jual-beli tersebut,
04:07praktik jual-beli tersebut.
04:09Jangan-jangan bahkan ketika dilakukan penelusuran lebih lanjut,
04:12ada aktor politik lain atau bahkan pejabat negara lain
04:15yang ikut dalam praktik jual-beli titik SPPG.
04:19Kalau selama ini, dari ICW apakah ada temuan?
04:23Temuan ICW soal pengawasan, pelaksanaan MBG seperti apa?
04:28Ya, temuan ICW saat ini sejauh ini sudah ada banyak begitu ya, Mas Ibrahim.
04:33Yang pertama, tentu dengan berkaitan dari konflik kepentingan
04:37dan juga patronase yang tadi saya sudah sampaikan.
04:40Itu sudah kami bahkan publikasikan sejak akhir 2025 lalu.
04:44Jadi kami menilai bahwa pada akhirnya MBG ini memang hanya dijadikan
04:49sebagai sebuah proyek untuk dibagi-bagikan kepada para loyalis
04:55dan untuk juga mempertahankan dan memperluas jejaring pendukung pemerintah.
05:00Dan bahkan untuk dugaan ini, kami waktu itu pada sekitar bulan Januari
05:05di tahun 2026, di awal tahun ini,
05:08bahkan Ibu Nanik sendiri sempat memberikan pernyataan publik
05:11begitu ya, ketika ditanyakan oleh media soal afiliasi partai politik
05:18terhadap yayasan MBG, bahkan Ibu Nanik tidak menampil itu.
05:22Dan bahkan beliau menyampaikan,
05:24memang dalam pengecekan yang dilakukan beliau ke lapangan,
05:28banyak SPPG yang dimiliki oleh partai politik
05:31dan itu dianggupkan permasalahan.
05:34Jadi itu saja pun sudah menunjukkan satu hal.
05:36Dan sejumlah hal yang lain yang bermasalah berkaitan dengan pengadaan barang dan jasa.
05:41Kami sudah sempat melakukan laporan juga ke KPK soal dugaan markup
05:45pada sertifikasi halal, dan juga ada pengadaan barang dan jasa yang lain
05:50yang kami telusuri itu juga punya potensi markup
05:53seperti tablet dan pengadaan lain yang tidak relevan
05:56dengan upaya untuk peningkatan gizi dalam program MBG.
06:00Ini tentu diharapkan bisa menjadi membuka pintu masuk celah
06:04bagaimana ada dugaan korupsi gratifikasi di sana dalam tata kelolaan MBG.
06:09Kita berharap bisa diusut secara tuntas.
06:12Terima kasih Mbak Seira Tamara, peneliti ICW
06:15telah menyampaikan pandangannya di program Kemas Malam hari ini.
06:18Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan