Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wamenlu Anis Matta menanggapi pandangan yang menyebut Presiden Prabowo terlalu sering melakukan perjalanan ke luar negeri.

Menurut Anis, Presiden Prabowo memulai masa kepemimpinannya ketika dunia tengah menghadapi berbagai krisis, sehingga membangun hubungan dengan para pemimpin dunia menjadi hal yang penting.

Anis mengatakan hubungan baik antarnegara tidak bisa dibangun secara instan ketika krisis terjadi. Maka, komunikasi dan kedekatan yang dibangun sejak awal menjadi modal penting dalam diplomasi.

Menurut Anis, diplomasi pada dasarnya tidak hanya berbicara soal pertemuan formal antarnegara, melainkan juga membangun kedekatan personal dan emosional antar pemimpin.

Anis juga menilai diplomasi global saat ini semakin mengarah pada komunikasi langsung antar pemimpin negara dibanding mengandalkan forum-forum besar internasional.

Ia menyebut para pemimpin dunia membutuhkan pembicaraan yang bersifat eksklusif dan langsung untuk membahas isu-isu strategis.

Maka, ruang diplomasi dalam kelompok kecil dan komunikasi langsung antarnegara kini semakin penting dalam menentukan arah berbagai isu global.



Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini:

https://youtu.be/WN2BU1nrpng



#prabowo #kunjungan #luarnegeri



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/672927/tanggapi-kritik-kunjungan-luar-negeri-prabowo-wamenlu-anis-matta-bicara-diplomasi-dan-krisis-global
Transkrip
00:00Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia
00:06menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri
00:13dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini.
00:18Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara
00:23yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
00:27Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar.
00:32Saya juga mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menlu Sugiono.
00:41Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis.
00:47Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia.
00:52Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak.
00:57Kita harus panen hubungan yang baik.
00:59Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan.
01:04Dan begitu pula sebaliknya.
01:06Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin,
01:12baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup.
01:16Nah, itulah diplomasi.
01:20Di tengah dunia yang masih dilanda perang dan ketidakpastian,
01:23apakah diplomasi luar negeri yang masif menjadi sesuatu yang strategis
01:26atau harusnya lebih fokus membenahi urusan dalam negeri yang tak kalah pelik?
01:30Kita bahas masih bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri, Anies Mata.
01:33Pak Anies, tadi kita bahas substansinya.
01:36Tadi ada kritik yang diberikan oleh sahabat lamanya Pak Presiden,
01:40tadi disampaikan oleh Pak Dino.
01:41Sebenarnya pemerintah menanggapi kritik ini seperti apa sih dalam konteks diplomasi?
01:46Ini pertanyaannya Mbak Friska, ini serius betul.
01:50Serius tapi dijawabnya pasti akan dengan cair oleh Pak Anies.
01:54Saya kira lebih bagus kita melihat, menarik dulu ke belakang
02:00tentang cara kita membuat asesmen tentang situasi.
02:05Daripada kita menghitung berapa kali perjalanan dan seterusnya,
02:09lebih bagus kita kembali dulu kepada persoalan asesmennya dulu.
02:15Bagaimana sih sebenarnya cara Presiden memandang situasi global saat ini?
02:20Asesmennya seperti apa?
02:22Karena inilah reasoning dari yang menjelaskan apa yang beliau lakukan sebenarnya.
02:28Yang kita hadapi ini adalah satu dunia yang sedang mengalami transisi global.
02:36Disebabkan oleh krisis yang bersifat sistemik.
02:40Sistemik maksudnya adalah tatanan dunia yang dipakai sekarang ini sejak peran dunia kedua,
02:47itu mulai tidak relevan.
02:50Dan yang kedua, karena itu institusi-institusi yang ada di bawahnya juga mulai mengalami disfungsi.
03:00Misalnya Anda menyaksikan apa yang bisa dilakukan oleh PBB di depan genosida yang terjadi di Gaza.
03:10Apa yang bisa dilakukan oleh PBB di dalam perang ini.
03:15Jadi fungsi institusi dulu ini sebagai perekat kita secara global,
03:23karena sekarang ini kan tidak berjalan.
03:26Yang ketiga, ini jadi krisis sistemnya,
03:31yang kedua krisis dalam institusinya,
03:33yang ketiga adalah krisis leadership.
03:34Kalau Anda memandang di Eropa, di Amerika,
03:38pergantian kepemimpinan sekarang ini kan selalu mengalami goncangan-goncangan politik yang luar biasa.
03:45Tahun 1998 kita menyaksikan anak-anak muda di Indonesia,
03:50mahasiswa menguasai parlimen naik ke panggung parlimen di Indonesia.
03:55Tahun 2020 kita menyaksikan hal yang sama di Kapital Hall kan?
03:59Di Kongres Amerika kan?
04:01Kita menyaksikan hal yang sama kan?
04:02Dalam waktu 20-an tahun ini,
04:05apa persamaannya?
04:07Ini ada goncangan secara leadership secara domestik,
04:11dalam politik domestik masing-masing negara.
04:14Goncangan leadership ini memaknai bahwa
04:17ada krisis yang serius di kalangan semua elit di setiap negara
04:23tentang cara mereka membuat assessment terhadap krisis yang sedang berlangsung.
04:29Iya kan?
04:30Dan ini kemudian menyebabkan krisis ini dalam perspektif imperium.
04:38Apa namanya?
04:39Great power ini.
04:41Ini kemudian menciptakan gesekan yang kemudian kita sebut sebagai perang supremasi.
04:46Iya kan?
04:48Perang supremasi inilah yang menyebabkan retakan ini sekarang semakin dalam
04:52dan saya yakin bahwa dalam dekade ke-2 abad 21 ini,
04:58terutama tahun-tahun ini dan tahun-tahun ke depan,
05:00ini akan menciptakan retakan yang jauh lebih dalam lagi ke depan.
05:04Bagaimana Pak Prabowo menempatkan leadership-nya dalam konteks ini?
05:08Sekarang Anda sudah bertanya yang benar.
05:11Yang tadi gak benar dong, orang dapurnya Pak Anies yang pegang.
05:15Nah jadi, waktu kita memandang dunia dalam perspektif seperti ini,
05:20apa sih sebenarnya yang dibutuhkan dalam diplomasi?
05:24Yang pertama itu adalah akhirnya memang orang kembali kepada yang,
05:28saya secara pribadi, saya gak tahu, backgroundnya kan bukan dari Kemlu ya,
05:32tapi saya ingin menyebut sebagai high profile talk.
05:39Orang perlu pembicaraan yang bersifat high profile.
05:45Orang perlu mendengarkan pendapat dari leader secara one on one,
05:51secara langsung seperti ini.
05:53Kenapa? Karena era multilateral ini sekarang tidak terlalu efektif.
05:58Iya kan?
06:00Kalau Anda perhatikan waktu Pak Prabowo pidato di New York itu kan ya,
06:07di sidang umum PBB yang ke-80,
06:10kan itu untuk pertama kalinya isu Palestina menjadi isu yang paling besar
06:15yang mengisi ruang perdebatan di sidang umum itu kan.
06:20Tapi setelah itu kan perang berlanjut.
06:23Iya kan?
06:24Semua orang menuntut damai tapi kan perangnya terus berlanjut.
06:27Iya kan?
06:28Jadi yang ingin saya katakan bahwa era di mana pertemuan-pertemuan multilateral yang banyak itu sekarang ini,
06:35dipandang oleh banyak pemimpin negara,
06:38tidak terlalu efektif dan menjadi ruang manuver apabila ada pembicaraan kecil-kecil,
06:44dalam kelompok-kelompok kecil antar satu negara dengan negara yang lain untuk dibawa ke situ sekedar mendapatkan pengesahan.
06:51Ini cara pandang dulu ya, cara pandang tentang itu.
06:54Dan karena itu memang kalau kita melihat di selama masa reformasi, paling tidak kalau kita melihat,
07:03ini kan tidak pernah Kemlu ini dipimpin oleh orang non-Kemlu,
07:09kecuali di era Jagusdur, yaitu Pak Alwi Syihab, dan sekarang.
07:13Iya kan?
07:16Karena era ini era yang masih relatif stabil,
07:21sehingga rata-rata pembicaraan itu pembicaraan melalui forum-forum multilateral.
07:28Sekarang menurut saya, kita sedang menghadapi satu proses membentukan aliansi-aliansi baru yang tidak permanen.
07:39Tetapi bergerak secara sangat dinamis,
07:41karena semuanya berpikir bagaimana mengelola proses transisi global ini.
07:46Saya kira itulah sebabnya mengapa Indonesia bergabung dengan BRICS.
07:51Iya kan?
07:52Apakah BRICS akan menjadi alternatif dalam tatanan global?
07:55Tidak ada yang juga tahu.
07:57Tetapi dia menjadi salah satu instrumen dalam proses transisi global ini.
08:05Sekarang misalnya dalam portofoli saya di Timur Tegas,
08:08di Oki, dalam perang Iran ini kan ada negara teluk dengan ada Iran.
08:13Iya kan?
08:14Kan ini masalah.
08:15Di BRICS itu ada Iran dan juga ada Emirat.
08:19Kan ini juga masalah.
08:21Iya kan?
08:21Jadi instrumen multilateral ini juga secara pelan-pelan ada tetapi efektivitasnya yang tidak terlalu bagus.
08:31Dan karena itu dalam konteks inilah memang kita berijetihat untuk menemukan satu jalan diplomasi baru.
08:39Dalam situasi ini saya kira apa yang dipikirkan oleh Presiden yang pertama adalah strong presence,
08:44kehadiran yang kuat.
08:45Dan itu harus Presiden langsung, tidak didelegasikan kepada Menteri.
08:48Itu memang harus high profile.
08:50Itu artinya kehadiran yang kuat.
08:51Jadi pedato Presiden di PBB itu sangat kuat.
08:55Dan kehadiran di BOP sebagai bagian dari manuver geopolitik menurut saya itu efektif.
09:02Untuk paling tidak, kalau enggak Anda sekarang masih menyaksikan genosida kan?
09:07Walaupun ini nanti tidak berjalan, misalnya atau katakanlah mengalami disrupsi di tengah jalan atau distraksi di tengah jalan,
09:14tapi paling tidak satu masalah selesai.
09:17Dan sekarang persoalannya adalah tidak ada satu instrumen yang bisa kita pakai untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus.
09:24Karena itu juga ada sisi retailnya.
09:27Jadi dia high profile di satu sisi, tapi retail di sisi yang lain.
09:30Iya kan?
09:33Kan itu masalahnya kan?
09:35Nah, jadi kalau Anda melihat kenapa banyak kunjungannya?
09:38Karena ada sisi retailnya dari sisi itu.
09:41Dan kenapa ada pengulangan-pengulangan?
09:43Kan kalau sebenarnya kalau kita melihat,
09:45yang paling banyak dikunjungi oleh Presiden dalam periode ini pada dasarnya kan Eropa sama Timur Tengah.
09:51Itu kan?
09:53Dalam satu tahun pertama beliau berkunjung ke Timur Tengah beberapa kali menemui orang yang sama.
09:59Karena memang persoalannya sangat dinamis dan orang membutuhkan perbincangan yang high profile seperti itu untuk mengetahui.
10:07Karena jalur lain itu kan masalah trust untuk membangun trust itu kan.
10:11Nah, yang menarik juga tadi kalau Bapak bilang kondisi multilateral tidak lagi efektif
10:16karena butuh high profile dengan bilateral salah satunya.
10:19Tapi kalau kita baca dengan kacamata assessment lain,
10:23yang juga berbeda kondisinya hari ini adalah efisiensi.
10:26Bagaimana?
10:27Kami belum menjawab ini, bagaimana Pak Presiden Prabowo dan tim menjawab ini?
Komentar

Dianjurkan