00:00Sebagai sahabat lama Bapak, saya mewakili komunitas hubungan internasional dan banyak rakyat Indonesia
00:06menghimbau Presiden Prabowo untuk secara signifikan mengurangi perjalanan ke luar negeri
00:13dan tidak menganggap remeh jeritan publik mengenai hal ini.
00:18Dalam perhitungan kami, dari seluruh pemimpin dunia, Presiden Prabowo telah menjadi kepala negara
00:23yang paling sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
00:27Satu perjalanan ke luar negeri bisa keluar puluhan, bahkan ratusan miliar.
00:32Saya juga mengusulkan agar ke depan sebagian besar misi diplomatik yang bersifat taktis dapat dioper ke Menlu Sugiono.
00:41Presiden Prabowo itu adalah presiden baru yang mulai menjabat saat dunia sedang krisis.
00:47Setiap pemimpin tentunya harus bangun hubungan yang dekat antar pemimpin dunia.
00:52Dan kita tidak bisa hanya mengandalkan saat krisis baru kita minta bantuan. Tidak.
00:57Kita harus panen hubungan yang baik.
00:59Lalu bila suatu saat ada kondisi mendesak, kita bisa minta bantuan.
01:04Dan begitu pula sebaliknya.
01:06Untuk itu perlu kedekatan pribadi, kedekatan emosional antar pemimpin,
01:12baik secara langsung, diliput media, ataupun tertutup.
01:16Nah, itulah diplomasi.
01:20Di tengah dunia yang masih dilanda perang dan ketidakpastian,
01:23apakah diplomasi luar negeri yang masif menjadi sesuatu yang strategis
01:26atau harusnya lebih fokus membenahi urusan dalam negeri yang tak kalah pelik?
01:30Kita bahas masih bersama dengan Wakil Menteri Luar Negeri, Anies Mata.
01:33Pak Anies, tadi kita bahas substansinya.
01:36Tadi ada kritik yang diberikan oleh sahabat lamanya Pak Presiden,
01:40tadi disampaikan oleh Pak Dino.
01:41Sebenarnya pemerintah menanggapi kritik ini seperti apa sih dalam konteks diplomasi?
01:46Ini pertanyaannya Mbak Friska, ini serius betul.
01:50Serius tapi dijawabnya pasti akan dengan cair oleh Pak Anies.
01:54Saya kira lebih bagus kita melihat, menarik dulu ke belakang
02:00tentang cara kita membuat asesmen tentang situasi.
02:05Daripada kita menghitung berapa kali perjalanan dan seterusnya,
02:09lebih bagus kita kembali dulu kepada persoalan asesmennya dulu.
02:15Bagaimana sih sebenarnya cara Presiden memandang situasi global saat ini?
02:20Asesmennya seperti apa?
02:22Karena inilah reasoning dari yang menjelaskan apa yang beliau lakukan sebenarnya.
02:28Yang kita hadapi ini adalah satu dunia yang sedang mengalami transisi global.
02:36Disebabkan oleh krisis yang bersifat sistemik.
02:40Sistemik maksudnya adalah tatanan dunia yang dipakai sekarang ini sejak peran dunia kedua,
02:47itu mulai tidak relevan.
02:50Dan yang kedua, karena itu institusi-institusi yang ada di bawahnya juga mulai mengalami disfungsi.
03:00Misalnya Anda menyaksikan apa yang bisa dilakukan oleh PBB di depan genosida yang terjadi di Gaza.
03:10Apa yang bisa dilakukan oleh PBB di dalam perang ini.
03:15Jadi fungsi institusi dulu ini sebagai perekat kita secara global,
03:23karena sekarang ini kan tidak berjalan.
03:26Yang ketiga, ini jadi krisis sistemnya,
03:31yang kedua krisis dalam institusinya,
03:33yang ketiga adalah krisis leadership.
03:34Kalau Anda memandang di Eropa, di Amerika,
03:38pergantian kepemimpinan sekarang ini kan selalu mengalami goncangan-goncangan politik yang luar biasa.
03:45Tahun 1998 kita menyaksikan anak-anak muda di Indonesia,
03:50mahasiswa menguasai parlimen naik ke panggung parlimen di Indonesia.
03:55Tahun 2020 kita menyaksikan hal yang sama di Kapital Hall kan?
03:59Di Kongres Amerika kan?
04:01Kita menyaksikan hal yang sama kan?
04:02Dalam waktu 20-an tahun ini,
04:05apa persamaannya?
04:07Ini ada goncangan secara leadership secara domestik,
04:11dalam politik domestik masing-masing negara.
04:14Goncangan leadership ini memaknai bahwa
04:17ada krisis yang serius di kalangan semua elit di setiap negara
04:23tentang cara mereka membuat assessment terhadap krisis yang sedang berlangsung.
04:29Iya kan?
04:30Dan ini kemudian menyebabkan krisis ini dalam perspektif imperium.
04:38Apa namanya?
04:39Great power ini.
04:41Ini kemudian menciptakan gesekan yang kemudian kita sebut sebagai perang supremasi.
04:46Iya kan?
04:48Perang supremasi inilah yang menyebabkan retakan ini sekarang semakin dalam
04:52dan saya yakin bahwa dalam dekade ke-2 abad 21 ini,
04:58terutama tahun-tahun ini dan tahun-tahun ke depan,
05:00ini akan menciptakan retakan yang jauh lebih dalam lagi ke depan.
05:04Bagaimana Pak Prabowo menempatkan leadership-nya dalam konteks ini?
05:08Sekarang Anda sudah bertanya yang benar.
05:11Yang tadi gak benar dong, orang dapurnya Pak Anies yang pegang.
05:15Nah jadi, waktu kita memandang dunia dalam perspektif seperti ini,
05:20apa sih sebenarnya yang dibutuhkan dalam diplomasi?
05:24Yang pertama itu adalah akhirnya memang orang kembali kepada yang,
05:28saya secara pribadi, saya gak tahu, backgroundnya kan bukan dari Kemlu ya,
05:32tapi saya ingin menyebut sebagai high profile talk.
05:39Orang perlu pembicaraan yang bersifat high profile.
05:45Orang perlu mendengarkan pendapat dari leader secara one on one,
05:51secara langsung seperti ini.
05:53Kenapa? Karena era multilateral ini sekarang tidak terlalu efektif.
05:58Iya kan?
06:00Kalau Anda perhatikan waktu Pak Prabowo pidato di New York itu kan ya,
06:07di sidang umum PBB yang ke-80,
06:10kan itu untuk pertama kalinya isu Palestina menjadi isu yang paling besar
06:15yang mengisi ruang perdebatan di sidang umum itu kan.
06:20Tapi setelah itu kan perang berlanjut.
06:23Iya kan?
06:24Semua orang menuntut damai tapi kan perangnya terus berlanjut.
06:27Iya kan?
06:28Jadi yang ingin saya katakan bahwa era di mana pertemuan-pertemuan multilateral yang banyak itu sekarang ini,
06:35dipandang oleh banyak pemimpin negara,
06:38tidak terlalu efektif dan menjadi ruang manuver apabila ada pembicaraan kecil-kecil,
06:44dalam kelompok-kelompok kecil antar satu negara dengan negara yang lain untuk dibawa ke situ sekedar mendapatkan pengesahan.
06:51Ini cara pandang dulu ya, cara pandang tentang itu.
06:54Dan karena itu memang kalau kita melihat di selama masa reformasi, paling tidak kalau kita melihat,
07:03ini kan tidak pernah Kemlu ini dipimpin oleh orang non-Kemlu,
07:09kecuali di era Jagusdur, yaitu Pak Alwi Syihab, dan sekarang.
07:13Iya kan?
07:16Karena era ini era yang masih relatif stabil,
07:21sehingga rata-rata pembicaraan itu pembicaraan melalui forum-forum multilateral.
07:28Sekarang menurut saya, kita sedang menghadapi satu proses membentukan aliansi-aliansi baru yang tidak permanen.
07:39Tetapi bergerak secara sangat dinamis,
07:41karena semuanya berpikir bagaimana mengelola proses transisi global ini.
07:46Saya kira itulah sebabnya mengapa Indonesia bergabung dengan BRICS.
07:51Iya kan?
07:52Apakah BRICS akan menjadi alternatif dalam tatanan global?
07:55Tidak ada yang juga tahu.
07:57Tetapi dia menjadi salah satu instrumen dalam proses transisi global ini.
08:05Sekarang misalnya dalam portofoli saya di Timur Tegas,
08:08di Oki, dalam perang Iran ini kan ada negara teluk dengan ada Iran.
08:13Iya kan?
08:14Kan ini masalah.
08:15Di BRICS itu ada Iran dan juga ada Emirat.
08:19Kan ini juga masalah.
08:21Iya kan?
08:21Jadi instrumen multilateral ini juga secara pelan-pelan ada tetapi efektivitasnya yang tidak terlalu bagus.
08:31Dan karena itu dalam konteks inilah memang kita berijetihat untuk menemukan satu jalan diplomasi baru.
08:39Dalam situasi ini saya kira apa yang dipikirkan oleh Presiden yang pertama adalah strong presence,
08:44kehadiran yang kuat.
08:45Dan itu harus Presiden langsung, tidak didelegasikan kepada Menteri.
08:48Itu memang harus high profile.
08:50Itu artinya kehadiran yang kuat.
08:51Jadi pedato Presiden di PBB itu sangat kuat.
08:55Dan kehadiran di BOP sebagai bagian dari manuver geopolitik menurut saya itu efektif.
09:02Untuk paling tidak, kalau enggak Anda sekarang masih menyaksikan genosida kan?
09:07Walaupun ini nanti tidak berjalan, misalnya atau katakanlah mengalami disrupsi di tengah jalan atau distraksi di tengah jalan,
09:14tapi paling tidak satu masalah selesai.
09:17Dan sekarang persoalannya adalah tidak ada satu instrumen yang bisa kita pakai untuk menyelesaikan semua masalah sekaligus.
09:24Karena itu juga ada sisi retailnya.
09:27Jadi dia high profile di satu sisi, tapi retail di sisi yang lain.
09:30Iya kan?
09:33Kan itu masalahnya kan?
09:35Nah, jadi kalau Anda melihat kenapa banyak kunjungannya?
09:38Karena ada sisi retailnya dari sisi itu.
09:41Dan kenapa ada pengulangan-pengulangan?
09:43Kan kalau sebenarnya kalau kita melihat,
09:45yang paling banyak dikunjungi oleh Presiden dalam periode ini pada dasarnya kan Eropa sama Timur Tengah.
09:51Itu kan?
09:53Dalam satu tahun pertama beliau berkunjung ke Timur Tengah beberapa kali menemui orang yang sama.
09:59Karena memang persoalannya sangat dinamis dan orang membutuhkan perbincangan yang high profile seperti itu untuk mengetahui.
10:07Karena jalur lain itu kan masalah trust untuk membangun trust itu kan.
10:11Nah, yang menarik juga tadi kalau Bapak bilang kondisi multilateral tidak lagi efektif
10:16karena butuh high profile dengan bilateral salah satunya.
10:19Tapi kalau kita baca dengan kacamata assessment lain,
10:23yang juga berbeda kondisinya hari ini adalah efisiensi.
10:26Bagaimana?
10:27Kami belum menjawab ini, bagaimana Pak Presiden Prabowo dan tim menjawab ini?
Komentar