Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama


JAKARTA, KOMPAS.TV - Menanggapi potensi risiko geopolitik apabila Bandara Kertajati dijadikan pusat perawatan pesawat militer Amerika Serikat, pakar geopolitik dan keamanan nasional, Wibawanto Nugroho menilai hal tersebut sangat bergantung pada tata kelola atau pemerintahan yang diterapkan Indonesia.

Menurut Wibawanto, kerja sama dengan negara mana pun pada dasarnya tidak menjadi masalah selama dijalankan dengan tata kelola yang baik, transparan, serta memiliki aturan yang jelas.

"Semua itu kembali kepada governance. Kalau kita mau bekerja sama dengan dunia atau dengan negara mana pun, yang penting governance-nya. Semua bisa diukur secara teknis dan mekanis dengan disiplin tata kelola yang baik," ujarnya.

Selain itu, Indonesia juga harus mampu melakukan negosiasi secara realistis agar kepentingan nasional tetap menjadi prioritas dalam setiap bentuk kerja sama internasional.

Terkait Bandara Kertajati, Wibawanto menekankan pentingnya keterbukaan informasi kepada publik guna membangun kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah.

"Kita tetap harus terbuka terhadap public trust dan informasi yang benar, sehingga masyarakat dapat mendukung kebijakan pemerintah. Intelijen tetap berjalan, tetapi kepercayaan publik yang dibangun melalui komunikasi yang baik dan dua arah juga harus berjalan," katanya.

Dengan demikian, menurut Wibawanto, potensi risiko geopolitik dapat diminimalkan apabila pemerintah mampu menjaga tata kelola yang baik, menjalankan negosiasi secara cermat, serta membangun komunikasi yang transparan kepada publik.

Baca Juga Isu Bengkel Hercules Kertajati Jadi Pangkalan AS, Mahfuz Sidik dan DPR Beda Pandangan | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/671840/isu-bengkel-hercules-kertajati-jadi-pangkalan-as-mahfuz-sidik-dan-dpr-beda-pandangan-bola-liar

#geopolitik #kertajati #bengkelhercules #as

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/671841/connie-bakrie-pakar-geopolitik-dpr-bicara-risiko-kertajati-jadi-bengkel-hercules-as-bola-liar
Transkrip
00:02Ya, Mas Dibawanto, tolong jawab singkat, apa risiko geopolitik dengan Bandara Ketajati jadi bengkel pesawat militer?
00:10Atau mungkin menurut Anda memang tidak ada risikonya? Santai saja.
00:12Ya, pokoknya semua itu kembali kepada governance.
00:15Tadi Pak Budi terangin tuh.
00:16Pokoknya kalau kita mau kerjasama dengan dunia, kerjasama dengan negara manapun, yang penting governance-nya.
00:21Itu ya, poin satu tuh.
00:23Semua bisa di-measure secara teknikal, mekanikal, dengan disiplin, secara government.
00:28Nah, itu poin satu.
00:29Poin kedua, menghenti anti-akses.
00:31Tadi kita akan ada pendekatan anti-akses.
00:32Tadi pertanyaan Pak Mahfud tuh, menarik tuh.
00:35Kalau kapal Amerika dikasih overflight blanket gitu, itu gimana?
00:39Dulu pernah ada pengalaman Perves Musaraf.
00:40Pak Hendro Priono pernah cerita waktu ketemu Perves Musaraf.
00:44Kenapa dikasih pesawat Amerika?
00:46Habis gimana?
00:47Kalau nggak dikasih juga akan lewat tuh.
00:50Nah, makanya saya ajak deal aja, saya bisa dapat apa dari situ, kata Perves Musaraf.
00:54Nah, jadi kita harus bisa melakukan negosiasi dalam posisi yang realistis seperti itu.
00:58Nah, yang berikutnya mengenai kata jati, ya kembali lagi, kita tetap harus terbuka terhadap yang namanya public trust dan informasi
01:06yang benar tuh.
01:07Nah, sehingga semuanya itu bisa mendukung kebijakan pemerintah.
01:10Itu poinnya.
01:10Intelligence tetap berjalan, tetapi public trust yang dibangun melalui komunikasi yang baik dua arah itu harus dijalankan.
01:15Oke, baik. Kalau Bu Ko nih pertanyaannya sama, Bu Ko nih apa kira-kira risiko geopolitik atau menurut Anda nggak
01:20ada sama sekali?
01:22Oh, sangat ada risikonya.
01:23Karena saya tinggal di Rusia, ada beberapa kota kita di sini yang sama sekali nggak bisa diakses.
01:27Karena dia kota industri atau terkait industri.
01:30Nah, MRO sampai untuk kasus untuk se-Asia ya, kalau mau dianggap nanti untuk se-Asia, walaupun misalnya pun dipastikan
01:39bukan 4 hal militer, kita mesti lihat.
01:41Iya, keuntungannya apa? Tadi disebutkan oleh Bu Amel ya, bagaimana nanti kaitan ke teknologi, bagaimana revalidasi bandara yang sekarang sebenarnya
01:48underutilized dan lain-lain.
01:49Tapi, ada catatan kritis. Catatan kritisnya itu adalah, mampu nggak Indonesia itu seperti Rusia?
01:54Kita itu ya, kota-kota kita yang ditutup di sini, itu karena pemerintah itu yakin antara kota, industri, militer, intelijen,
02:01infrastruktur, dan demografi daerah itu, itu menjadi satu kesatuan.
02:05Jadi, mesti dijaga. Nah, masalahnya adalah sekarang, kita punya nggak catatan kritis sebelum itu. Jadi, jangan cuma pengen tapi nggak
02:11siap gitu.
02:11Pertama ya, menurut saya harus ada safe buat keberalatan yang ketat. Itu harus. Harus dipastikan kita bisa menjaga itu.
02:17Kemudian, nggak ada akses sama sekali. Ataupun kalau ada akses, tercatat.
02:21Kalau ya saya ini, mau ke kota tertentu penghasil uranium, saya bisa dapat izin dari negara.
02:25Kemudian, audit rutin dari DPR. DPR ini fungsinya sangat aktif.
02:28Oke, Pak Kuning.
02:29Dan sekali lagi, apa ya, entry, jangan sampai menjadi entry point yang tidak terawasi seperti rumor orang ini sama.
02:36Mas Guntur, singkat saja, menurut Anda ada risiko atau tidak?
02:39Risiko pasti ada, karena tadi kalau kita melepaskan kereta jati dari konteksnya, pasti terlihat itu sebagai kerjasama industri pertahanan biasa.
02:47Tapi tadi, dimulai dari kita join BOP sampai sekarang, tidak mudah melihat, tidak susah melihat bahwa kita cenderung mendekat ke
02:54satu kubu.
02:55Di sisi lain, menurut saya, tadi push-nya adalah ke arah transparansi saja gitu.
03:00Kalau perlu, bahkan setelah ini, saran saya ya, Bu Amel, sarankan setiap pengen RDP terbuka untuk publik terus gitu loh.
03:05Sehingga kita tuh nggak tiba-tiba kaget mendengar, oh ada perkembangan baru gitu.
03:09Sehingga tadi bisa dijelaskan apa sih yang didapatkan dari personal interest kita dengan kita memberikan fasilitas MRO.
03:17Bu Amel, silakan dijawab, singkat saja.
03:21Sebetulnya RDP terbuka kemarin itu adalah atas permintaan dari Menhan sendiri, begitu.
03:26Dan kesempatan itu juga buat menjawab apa yang menjadi pertanyaan di publik selama ini.
03:33Dan kami menyambut baik.
03:34Jadi, untuk itu kenapa pelaksanaan RDP kemarin dilakukan secara terbuka.
03:40Jadi, memang antara pemerintah dan DPR.
03:43Rensipnya DPR setuju ya berarti ya?
03:46Ya, setuju-setuju aja.
03:48Mbak, begini mbak, ada beberapa hal.
03:50Kalau kita masalah pertahanan keamanan kan tidak seluruhnya bisa dipublikasikan begitu ya.
03:56Karena ada isu-isu yang classified, yang tidak bisa kita ungkapkan secara terbuka.
04:02Tetapi juga ada isu-isu yang harus secara transparan kita komunikasikan ke publik.
04:08Baik, terima kasih kepada seluruh narasumber yang sudah ada di studio dan teman-teman mahasiswa.
04:12Dengan demikian saudara, saya masih tertarik dan pamit.
04:15Sampai jumpa minggu depan di Pulau Liar.
Komentar

Dianjurkan