00:01Ya saya ke Mas Guntur. Mas Guntur, Presiden Trubosobianto menerima tawaran Amerika Serikat menjadikan Bandara Kertajati jadi bengkel MRO pesawat
00:10Hercules se-Asia.
00:12Tapi justru di publik yang muncul, oh jadi pangkalan kata Imur. Anda kenapa isu ini bisa keluar begitu, bisa muncul
00:19persepsi publik demikian?
00:21Mungkin yang paling pertama justru itu bukti ya bahwa mungkin belum terlalu transparan bagaimana pemerintah menjelaskan kebijakan-kebijakan pertahanannya.
00:30Karena kalau kita pakai perspektif misalnya kebutuhan Indonesia mendapatkan kemampuan MRO-nya memperkuat industri pertahanan dalam hal ini misalnya GMF,
00:39Aero gitu.
00:40Ini tentu sangat baik gitu, kita menumbuhkan industri pertahanan dalam negeri.
00:44Tapi kemudian kalau kita pakai konteks lebih besar lagi, sebelumnya ada permintaan overflight blanket access gitu.
00:51Dan sedang berlangsung sebuah operasi militer di Timur Tengah, tidak sulit membayangkan bahwa sepertinya ini nggak seperti freelance gitu.
01:01Ada hal yang lebih besar lah.
01:03Karena ini pun sebenarnya kan disampaikan Pak Menhan secara mengejutkan di sebuah RDP yang sangat jarang diberikan untuk publik.
01:09Biasanya RDP antara Kemhan dengan Komisi 1, pengalaman saya di era Pak Shafli, seringnya tertutup gitu.
01:17Dan ini begitu dijadikan terbuka, dia mengagetkan banyak orang gitu.
01:22Lagi-lagi, sepertinya nature-nya selama ini tertutup, tiba-tiba dibicarakan di publik, menimbulkan kejutan di publik.
01:31Permasalahan keduanya adalah, memang seakan-akan ini seperti, oh kita menjadi trusted partner dari Amerika dalam hal MRO.
01:40Ini harus dipisahkan misalnya dari, ini bukanlah base baru Amerika selayaknya Diego Garcia, selayaknya Guam, atau selayaknya Darwin.
01:48Tapi tidak mungkin kita bisa juga memisahkan konteks bahwa di Timur Tengah pun, banyak negara bilang kami bukan part of
01:58this conflict.
01:58Tapi tetap mendapatkan serangan dari Iran.
02:01Kita boleh bilang kita menolak menjadi, terlibat dalam satu perseteruan, kita menolak lebih dekat ke dalam satu, apa namanya tadi,
02:11satu pol gitu.
02:12Tapi perspektifnya yang kemudian perlu kita pertimbangkan.
02:16Apakah negara lain melihatnya seperti ini?
02:16Jadi bisa membuat posisi Indonesia jadi tidak netral begitu?
02:20Khususnya mungkin di mata Tiongkok ya?
02:22Lagi-lagi kalau misalnya kita kembali ke pernyataan Pak Yusri lah.
02:24Pak Yusri kan sangat, sebenarnya spesifik dia bilang soal mineral yang menjadi alasan kita bisa diinvasi.
02:30Semua energi.
02:31Betul.
02:31Kalau kita pakai itu aja, kita baru minggu lalu ya Pak Prabowo mengumumkan badan baru ekspor mineral kita.
02:40Tidak nyampe berapa hari kemudian Pak Erlangga bilang ada satu negara yang dikecualikan, Amerika Serikat.
02:46Di saat bersamaan, beberapa minggu lalu, mungkin sebulan lalu ya, ada surat dari Chinese Business, Chinese Commerce, mengkritik kebijakan Pak
02:55Prabowo di sektor energi.
02:58Buat saya, ini sinyal-sinyal sebenarnya gitu.
03:00Di sektor energi, kita memberikan semacam exemption buat Amerika, kalau meritarik lagi mundur bahkan di IRT deal bulan Februari, itu
03:09ada perpanjangan kontrak free port kalau nggak salah.
03:12Jadi, kalau melihat rentetan kejadian ini, seperti tidak aneh gitu membayangkan, kita ini seperti tertarik ke satu sisi.
03:20Cuma lagi-lagi, kita harus menunggu bahwa kita tidak mungkin melihat semuanya face value kan.
03:25Mungkin saja, there's something happening behind semua ini.
03:29Tapi, kalau itu tidak disampaikan baik ke publik maupun ke pihak eksternal, yang muncul adalah anggapan tadi.
03:35Kita menjadi semacam base operation, kita mendekat ke Amerika, dan sebagainya.
03:40Oke, Pak Mahfus, apakah dengan adanya isu kerta jati ini, justru memberikan sinyal lagi kepada Beijing, bahwa kita ini sudah
03:48semakin dekat terhadap Amerika?
03:51Membacanya adalah bahwa Amerika punya banyak daftar keinginan terhadap Indonesia.
03:56Benar.
03:57Kalau kita lihat misalnya, kan di dalam peningkatan kerjasama di sektor pertahanan, Indonesia sudah berkomitmen untuk membeli sejumlah alutsista dari
04:06Amerika.
04:07Salah satunya adalah pesawat angkut Hercules C-130.
04:10Biasanya memang dalam satu transaksi pembelian alutsista, bisa jadi kalau volumenya itu cukup banyak, maka ada semacam kontrak tambahan untuk
04:20apakah dia transfer of technology,
04:22atau kemudian ada kerjasama harwat, pemeliharaan dan perawatan, begitu ya.
04:27Itu dimungkinkan ketika pembelian satu alutsista itu secara volume memang besar.
04:31Nah tetapi ketika ada penawaran dari pihak Amerika menjadikan Bandara Ketarjati sebagai bengkel untuk perawatan kapal angkut perang, Hercules ya.
04:48Saya kira ini di luar skema dari kontrak pembelian alutsista itu.
04:52Jadi saya membacanya bahwa Amerika dalam rangka untuk memperkuat kebutuhan terhadap kontrol kawasan yang lebih luas ini,
05:02maka Indonesia sudah menjadi target untuk penguatan itu.
05:08Dan saya kira memang ini tidak menutup kemungkinan muncul tafsir, muncul persepsi.
05:16Bahwa ke depan, kalau ini disepakati atau disetujui, ke depan sangat mungkin Amerika akan meminta lagi tambahan tuntutan barunya,
05:26ini dijadikan sebagai pangkalan baru mereka, gitu ya.
05:31Jadi saya kira memang harus hati-hati dalam menyikap isu ini.
05:34Oke, Bu Amel, waktu rapat dengan pendapat dengan Menteri Pertahanan,
05:39apakah keputusan terkait dengan Ketarjati ini murni bisnis saja?
05:43Atau sebenarnya dari Komisi 1 pun Anda membaca adanya kekhawatiran bahwa kita tidak dianggap netral lagi?
05:52Jadi begini Mbak ya, isu Kertarjati ini perlu dilihat secara hati-hati dan proporsional.
05:59Kalau konteksnya adalah pusat maintenance atau bengkel pesawat C-130,
06:05maka menurut hemat saya ini lebih tepat dibaca dari perspektif industri aviasi dan kerjasama pertahanan.
06:12Jadi bukan langsung diasumsikan sebagai pembukaan pangkalan militer asing.
06:16Dan saat ini memang Indonesia membutuhkan fasilitas maintenance, repair, and overhaul atau MRO
06:24untuk pesawat angkut militer seperti C-130 agar tidak sepenuhnya bergantung pada fasilitas luar negeri.
06:32Dan kalau ini dikelola dengan baik, ini juga bisa memperkuat kemandirian teknis,
06:39kemudian juga efisiensi logistik, serta kesiapan operasional TNI sekaligus membuka potensi ekonomi industri di antara kita.
06:48Nah kami pada saat itu melihatnya pada perspektif itu.
06:52Namun demikian, kami memahami kekhawatiran publik dan terhadap isu yang sangat sensitif ini.
06:59Dan secara konstitusional dan politik, kita kan Indonesia menganut prinsip non-alignment.
07:11Dan sangat berhati-hati kehadiran kekuatan militer asing permanen otomatis berarti adanya keberadaan pangkalan militer asing.
07:23Tetapi pemerintah tetap perlu transparannya dan DPR dalam hal ini perlu juga menjalankan fungsi penawasan
07:29agar setiap kerjasama pertahanan ini tetap berada dalam koridor kedaulatan dan kepentingan nasional.
07:34Bu Amel, tapi ini kan merupakan pesawat militer ya, lalu kemudian bengkel MRO pesawat Hercules se-Asia lagi begitu.
07:40Apakah Anda tidak melihat bahwa ini bisa dibaca oleh Beijing, kita ini sudah tidak netral lagi, kita sudah terlalu dekat
07:48dengan Amerika?
07:50Jadi saya membacanya pada perspektif sebagaimana yang saya sampaikan tadi ya Mbak.
07:55Memang kita perlu berhati-hati juga begitu.
07:58Jadi apa namanya isu kertah jati ini jangan sampai juga menjadi di luar konteks yang sesungguhnya ditujukan untuk kerjasama militer
08:12saja begitu Mbak.
08:13Baik, Mbak Cempakan dan Pak Budi nanti akan memberikan perspektifnya, namun nanti usaha jeda tetap bersama kami saudara di Bola
08:18Liar.
08:19Terima kasih.
Komentar