Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 10 jam yang lalu
Dean Atase Pertahanan di Iran periode 20092012, Mayjen TNI (Purn) Budi Pramono, menilai diplomasi yang dilakukan secara langsung atau tatap muka masih memiliki
Transkrip
00:27Mbak Cempaka
00:57Mbak Cempaka
01:25Mbak Cempaka
01:56Mbak Cempaka
02:10Mbak Cempaka
02:11Mbak Cempaka
02:11Mbak Cempaka
02:16Mbak Cempaka
02:26Mbak Cempaka
02:27Didiskusikan beberapa pekan terakhir begitu terkait dengan Diego Garcia yang melibatkan tentu saja pada saat konteks Iran.
02:34Kalau memang jadi diserang apa targetnya, kemudian metodenya apa?
02:38Kalau dalam metode tentu kita tadi bilang, melihat dari jawaban dari Pak Budi misalnya, kita punya pulau yang sangat luas
02:45Mbak Ilona.
02:46Dan pulau 17.000 ini tentu penguasaan secara fisik, secara operasional yang sifatnya taktis ini sangat tidak mungkin dilakukan dalam
02:54waktu yang cepat.
02:55Seperti dalam konteks Venezuela misalnya.
02:57Secara geografis saja kita sudah memiliki dalam konteks ini perbedaan yang signifikan begitu ya, luas wilayah dalam itu.
03:05Kita bicara tentang Alki misalnya, Alki Indonesia itu sangat kompleks Mbak.
03:08Jadi pun kita misalnya tadi bicara ada naval base di sini, tidak akan sangat cepat untuk bisa sampai di Indonesia.
03:15Jadi kesulitan ya untuk penyerang melakukan serangan?
03:19Kalau kita bicara tentang high intensity conflict, serangan yang sifatnya direct, serangan dekapitasi misalnya sifatnya.
03:25Yang kita lihat konteksnya Venezuela misalnya, yang sifatnya dekapitasi dan cepat begitu operasi cepat ini tentu akan tidak mungkin.
03:33Kemungkinannya rendah.
03:34Tapi apakah itu bisa?
03:35Tapi memang dalam konteks ini yang disampaikan oleh Pak Menko Yusril mungkin ada data yang saya tidak miliki begitu ya
03:41Mbak ya.
03:41Tapi dalam konteks ini, kemungkinan beban logistik yang besar terhadap Indonesia ini cukup mungkin terjadi begitu.
03:49Ketika terjadi serangan yang sifatnya high intensity conflict.
03:53Oke baik, terima kasih Mbak Cempaka. Silahkan kembali ke tempat.
03:57Saya coba ke Bu Koni.
03:59Bu Koni, kalau kita lihat dari postur pertahanan kita, kesiapan aset maupun persolotan I, apakah kita siap menghadapi serangan militer
04:06asing?
04:08Kalau lihat dari aset kembali ya Mbak, saya tuh lihatnya kita itu jangan terlalu percaya juga kepada besi.
04:14Karena saya kok lebih khawatir perang sekarang ini yang tadi disampaikannya, perang sekarang itu udah gak akan terlalu militeristik.
04:21Maksudnya Indonesia tuh gak akan lebih ke arah militer menurut saya ini.
04:25Akan lebihnya kepada non-militer.
04:27Nah itu yang menurut saya akan jadi bahaya.
04:28Walaupun sekarang Presiden Prabowo sangat yakin kita itu punya kemampuan sisang kamerata yang sangat bagus.
04:34Saya tuh kenapa hadir malam ini, kok saya tuh sangat concern sebenarnya kepada tadi satu masalah besar adalah masalah intelijen.
04:41Yang menurut saya sangat penting dan sangat menjadi mata kita yang sangat kurang.
04:45Tadi saya sudah sebutkan kalau dari aspek TNI, apa saja yang belum kita punya untuk surveillance.
04:49Tetapi yang lebih penting lagi, karena saya tinggal di sini, saya bisa melihat lebih dari jauh Indonesia tuh lebih dengan
04:53mata elang mungkin ya karena saya dari jauh.
04:55Saya kok khawatir sekarang ini yang dibangga-banggakan Pak Prabowo tentang sisang kamerata itu gak terwujud.
05:00Kenapa gak akan terwujud?
05:01Rakyat kita tuh gak bodoh ya Mbak ya.
05:03Kita tuh bisa lihat ya Pak Presiden itu udah berkunjung 49 kali apa 50 kali ini kunjungan ke 28 negara
05:09ya, 29 negara.
05:11Menghabiskan udah 112 hari ini ada yang menghitung ya.
05:14Kalau gak salah BTC dia sempat menghitung.
05:16Jumlahnya tuh 11 triliun dari biaya yang dikeluarkan.
05:19Bisa dibayangkan gak dalam situasi seperti ini yang katanya kita sisang kamerata, yang ingin rakyatnya itu betul-betul berkonsentrasi.
05:25Jangan sampai Presidennya di Venezuela kan?
05:27Ya kan? Tapi dengan mengeluarkan uang sebanyak itu untuk kunjungan, berarti kan setiap kunjungan kita 20 miliar satu harinya.
05:33Kalau kita hitung 20 miliar sehari ya, itu tuh bisa apa sih uang 20 miliar sehari?
05:4020 miliar sehari itu kalau kita pakai gaji pokok 50.000 PNS itu kejadian.
05:44Pembangunan puskesmas di PSE itu bisa terwujud sangat-sangat mudah di daerah-daerah terpencil.
05:50Itu kan menjadi masalah kita.
05:51Kemudian operasional 1 batalion TNI Infantry, itu berapa minggu dalam uang segitu.
05:55Kemudian di Aceh, rekonstruksi setelah bencana.
05:58Mungkin sekepuluh 15 rumah perubahan bencana itu bisa dibangun proper.
06:01Apalagi sekolah. Kemarin saya lihat sekolah-sekolah itu masih tenda yang sudah pada berterbangan.
06:05Kemudian apa lagi?
06:06Di Papua pembangun 20 rumah guru mungkin, 10 ruangan untuk sekolah dasar mungkin gitu kan.
06:11Lalu pelatihan 500 guru.
06:13Nah, rakyat itu nggak bodoh, Mbak.
06:15Sekarang itu rakyat itu sedang menghitung kenapa presiden pergi melulu.
06:18Kenapa sekarang presiden itu perginya mahal banget gitu.
06:20Oke, baik saya juga mesti fair.
06:22Kita mesti melihat kesuksesan yang dibuat.
06:23Kita heading geopolitik maksimal, misalnya dengan NBCP dengan Amerika.
06:27Kemudian dengan DCF Rancis, Security Pact Australia misalnya.
06:29Kemudian dialogue dengan Rusia, dengan Chile yang tadi disebutkan.
06:32Dan kita juga punya ceritanya, walaupun saya nggak sepakat dari awal soal BOP,
06:36tapi kita membangun cerita global sebagai peace mediator.
06:38Nah, tetapi terlepas dari apapun itu, sekali lagi 15 bulan pertama,
06:44which is 30% daripada masa pemerintahan,
06:47Pak Prabowo itu nggak ada di tempat, nggak ada di sini.
06:49Itu yang akan menjadi, nggak ada di Indonesia maksudnya,
06:51itu akan menjadi masalah besar karena rakyat ngerasa ditinggal.
06:54Nah, padahal menurut saya, Indonesia itu sekarang nggak harus bertanya kita itu siap atau nggak perang dengan senjata kita,
07:02tapi apakah kita cukup kuat mencegah perang terjadi?
07:04Nah, yang bisa mencegah itu bukan tentara, bukan polisi, segenap rakyat Indonesia.
07:09Nah, jadi yang saya mau andrein di sini,
07:11tolong hati-hati bersikapnya pemerintah sekarang terhadap rakyat.
07:15Karena rakyat kita makin pintar, pemuda-pemuda seperti Tio,
07:17misalnya saya terus ikuti dari sini,
07:19dia makin keras berbicara kalau mungkin terkesel.
07:20Tapi sebenarnya kita nggak boleh marah, kita dengarkan apa yang dia kelulukan.
07:25Karena ini yang dikhawatirkan,
07:26satu hari negara diperlukan hadir,
07:29rakyat diperlukan hadir maksudnya,
07:31untuk negara-negara, dia nggak mau-nggak mau hadir.
07:33Ini menurut saya perang terbesar yang sedang akan kita hadapi,
07:35kalau begini cara berjual diperlukan Pak Prabowo.
07:39Kemudian dia bilang gini,
07:40oh tapi bukau ini kan ke Amerika Serikat kita dapat berapa?
07:42Dapat 38 miliar dolar, kalau nggak salah, 650 triliun.
07:45Kita ke Jepang dapat 11 triliun.
07:47Kita ke Korea Selatan dapat 173 triliun.
07:49Ke Cina dapat sekitar 10 miliar dolar ya.
07:53Kemudian ke Arab Saudi, awal-awal banget ya, 437 triliun.
07:57Semuanya memang hebat banget di atas paper atau di jurul koran.
08:00Tapi pertanyaannya,
08:01apakah itu hanya di atas kertas?
08:04Karena menurut saya, yang terjadi itu masih di atas kertas.
08:07Karena realisasinya,
08:08kalau kita lihat PMA kemarin,
08:11kita mesti kesana di balarinya.
08:12Karena we like it all,
08:13we are talking about people yang akan menjaga negara.
08:16Nah, jadi ini menunjukkan pertumbuhan PMA itu hanya sangat lambat.
08:20Akhirnya, 2 tahun, 5 tahun lagi lah,
08:22baru diplomasi PMA ke sana kemarin ini bakal terwujud.
08:26Selama ini terus bagaimana persiapan kita?
08:29Oke, nanti saya lanjut lagi ke Bukoni.
08:30Coba saya ke Pak Mahfus untuk meminta tanggapan Anda.
08:33Anda sendiri apakah mempunyai pendapat yang sama dengan Bukoni?
08:37Sudah peluang kali ya,
08:38Pak Presiden,
08:40melakukan perjalanan diplomasi.
08:42Jadi menurut Anda sudah ada hasilnya atau belum?
08:45Ya, memang Pak Presiden Prabowo ini
08:48difahami dalam konteks diplomasi internasional,
08:53pemimpin yang secara personal sangat aktif membangun diplomasi internasional.
08:58Dan itu terrefleksi dari jumlah kunjungan ya.
09:02Dan bahkan ada satu negara itu dalam waktu tidak sampai 6 bulan,
09:06itu kan lebih dari 1 kali dikunjungi.
09:09sesuatu yang tidak lazim dalam praktek diplomasi internasional.
09:14Langkah ini tentu saja akan menimbulkan banyak pandangan,
09:19termasuk salah satunya pandangan dari Bukoni,
09:22soal benar atau tidaknya, efektif atau tidaknya,
09:24memang kita masih perlu waktu ya untuk melihat
09:26seperti apa nanti hasilnya akan dicapai.
09:29Nah, tapi kembali kepada topik kita,
09:32kalau saya melihat begini,
09:33tadi kan hampir semuanya pandangan mengatakan
09:37tidak setuju dengan pandangan Prof. Yusril ya.
09:41Saya memang melihat ada lompatan berpikir
09:43dari pernyataan Prof. Yusril ini.
09:46Tapi saya coba berhusnuzon ya,
09:49karena ini hari-hari idul adha gitu ya.
09:51Saya berhusnuzon, kira-kira apakah mungkin Prof. Yusril ini
09:55sedang memberikan pesan kepada pimpinan di negeri ini
10:00agar kita Indonesia ini lebih mendekat
10:03dan lebih akrab lagi dengan Amerika,
10:06karena kalau tidak resikonya bisa seperti Maduro di Venezuela.
10:11Kira-kira begitu.
10:12Ini husnuzonnya ya, husnuzonnya.
10:14Jadi semacam pembenaran menurut Anda?
10:16Bukan pembenaran, tetapi semacam warning begitu ya.
10:19Cuma walaupun sebenarnya kalau kita lihat dalam konteks
10:22hubungan bilateral Indonesia dengan Amerika,
10:24Indonesia baru saja meningkatkan level kerjasama
10:29di bidang pertahanan.
10:31Menjadi, bukan hanya pertahanan termasuk ekonomi,
10:34ini menjadi strategic partnership.
10:38Ya, comprehensive strategic partnership.
10:40Jadi kalau kita lihat, termasuk di bidang ekonomi misalnya,
10:44kita kan Presiden Prabowo baru menandatangani
10:47yang disebut dengan agreement of reciprocal trade,
10:50yang ini juga kontroversi.
10:52Kalau tanya Bukoni, pasti beliau banyak kritiknya itu.
10:56Nah, kalau kita lihat,
10:57sebenarnya status hubungan Indonesia dengan Amerika,
11:00tadi sudah disampaikan,
11:01ini sedang mengalami peningkatan yang luar biasa.
11:04Jadi memang agak mustahil ya,
11:06kalau tiba-tiba Trump akan memadurkan Presiden Prabowo,
11:11rasanya itu mustahil.
11:12Cuma, tadi saya katakan,
11:14mungkin Prof. Yussel ini ingin menyampaikan pesan,
11:18eh, berbaik-baiklah terus dengan Amerika.
11:21Kira-kira begitu.
11:22Nah, cuma pertanyaannya,
11:24kenapa kok ada pesan semacam ini?
11:26Apakah akan ada konflik besar di kawasan ini?
11:30Karena begini,
11:31kalau sekarang berbulan-bulan orang ribut
11:34tentang konflik di Teluk Persia,
11:35seolah-olah bahkan ada yang mengatakan
11:37kiamat sebentar lagi,
11:39Armageddon sebentar lagi gitu kan,
11:40kalau bicara konflik di Teluk Persia.
11:43Kalau dalam pandangan strategi keamanan nasional Amerika,
11:47di bawah pemerintahan Trump,
11:48sesungguhnya menurut Trump,
11:51teater perang,
11:52kalau dalam konteks perang,
11:53yang terbesar itu,
11:55dan paling utama,
11:56itu bukan di Timur Tengah,
11:57tapi di Indo-Pasifik.
11:58Jadi the major battlefield atau battleground dari geopolitik itu adanya di Indo-Pasifik.
12:05Dan kalau kita bicara Indo-Pasifik,
12:07maka karakternya adalah pertarungan pengaruh antara China dengan Amerika,
12:14baik di sektor ekonomi, di sektor pertahanan, politik, dan lain-lain.
12:18Nah, kalau misalnya kita berasumsi,
12:21atau menurut Prof. Hussle,
12:22misalnya beliau membaca,
12:23ini akan bergeser konflik di Indo-Pasifik misalnya.
12:27Nah, mungkin beliau ingin mengatakan,
12:29kalau terjadi konflik antara Amerika dan China di Indo-Pasifik,
12:34dan kalau kita persempit lagi ini di kawasan Laut Cina Selatan misalnya,
12:39Indonesia ini mau kemana?
12:40Mungkin begitu barangkali ya.
12:42Apakah mau ke China,
12:43atau mau ke Amerika.
12:45Kalau saya mengatakan,
12:47ya nggak kedua-duanya dong.
12:48Nggak kedua-duanya.
12:48Indonesia harus di tengah.
12:50Kenapa?
12:50Kita belajar dari pengalaman perang antara Iran dengan Amerika dan Israel di Timur Tengah.
12:55Negara-negara teluk,
12:57ketika mereka lebih condong ke Amerika,
13:00kan sekarang mereka kena efek sandwich-nya.
13:03Mereka jadi collateral damage-nya kan,
13:05yang perang Iran dengan Amerika dan Israel,
13:07tapi kemudian rudal dan dronenya Iran,
13:10sampai ke Qatar, sampai ke Emirat, ke Kuwait, dan seterusnya.
13:13Nah, tentu saja Indonesia tidak boleh mengambil posisi itu.
13:17Jadi, menurut saya,
13:18kalau saya harus jawab Pak Yusril,
13:20Prof, kita tidak akan mendekat terlalu jauh ke Amerika,
13:23dan juga ke China,
13:24tapi kita akan tetap mendayung di antara dua karang,
13:27tapi nggak kebentur dengan karang yang tajam itu.
13:29Nah, itu pertanyaan sulitnya.
13:31Gimana bisa selamat di tengah dua karang yang tajam?
13:33Harusnya Pak Yusril ada ya,
13:35supaya dia langsung mengerut.
13:37Saya ke Mas Yosi,
13:38apakah Mas Yosi sendiri punya pendapat yang sama dengan Pak Mahfud,
13:41bahwa secara tidak langsung,
13:42ini Pak Yusril menyatakan,
13:44udahlah, kita baik-baikin aja dengan Amerika Serikat.
13:48Saya kira saya sependapat dengan apa yang disampaikan Pak Mahfud,
13:51dan juga dari Ibu Kony ya.
13:53Pernyataan itu saya lihat sebagai ungkapan untuk,
13:58kalau terus terangnya mungkin,
14:00memaksa Indonesia untuk memihak pada satu,
14:03atau sisi A atau sisi B.
14:05Tetapi saya kira,
14:07apa namanya,
14:09tekanannya justru bukan soal bisa perang atau nggak,
14:13empat hari atau seminggu.
14:15Ya kalau bicara soal perang simetrik,
14:17ya mungkin akan cepat.
14:19Tapi kan kecenderungan sekarang perang asimetrik,
14:21dan tadi Ibu Kony juga mengatakan soal intelijen dan segala macam.
14:24Mungkin problem yang kita hadapi sebenarnya justru di,
14:28apa namanya,
14:29serangan cyber dan segala hal-hal seperti itu.
14:32Tetapi kalau saya melihat,
14:34kecenderungan untuk bahwa Indonesia harus memilih ke A atau B,
14:38itu memang semakin kuat sekarang.
14:40Hanya saja,
14:42saya melihat bahwa peluang bagi Indonesia untuk bisa berselancar,
14:47di antara dua pulau atau lebih itu,
14:51saya melihat masih cukup potensial.
14:54Saya melihat cukup kuat.
14:56Tiga hari yang lalu,
14:57kebetulan saya ada di UN,
15:00ikut meliput sidang,
15:03debat terbuka di Dewan Keamanan.
15:09Keinginan banyak negara
15:11untuk kemudian memperkuat lagi multilateralisme itu
15:16sangat intensif.
15:18Indonesia adalah salah satu pemain utama di situ.
15:25Apa yang kemudian saya dengar dari Profesor Yusril,
15:29saya melihat ini sebenarnya peluang bagi pemerintah,
15:33khususnya bagi Presiden Prabowo,
15:35untuk lebih memperkuat sisi diplomasi,
15:41terutama teknokrat-teknokrat di Kementerian Luar Negeri.
15:45Saya kira peran mereka itu sangat signifikan di dunia internasional.
15:50Mungkin saat ini agak kurang terlihat dibandingkan dengan era pemerintah sebelumnya.
15:56Akan tetapi yang saya amati,
15:58yang saya lihat kemarin di Dewan Keamanan,
16:01peran mereka sebenarnya cukup signifikan.
16:04Ada hal-hal yang selama ini memang,
16:08kalau dalam hubungan internasional itu kan ada kontinuitas dan perubahan.
16:13Continuity and change.
16:14Nah, kontinuitas yang selama ini diperankan oleh Indonesia adalah,
16:19seperti kata-kata menjaga piagam PPPB,
16:24hukum internasional, norma-norma internasional,
16:27harus tetap dipertahankan,
16:29penghormatan kepada kedauatan negara,
16:31kestaraan, dan segala macam itu,
16:32sesuatu yang terus-menerus serak konsisten disuarakan Indonesia.
16:36Dan ini adalah hal yang juga sama,
16:39yang disuarakan oleh banyak negara.
16:41Indonesia dengan pengalamannya,
16:42dengan sejarah yang dimiliki,
16:44GNB, gerakan non-blok,
16:46kemudian Asia Afrika, dan kemudian ASEAN,
16:49memiliki modal dasar yang sangat kuat.
16:52Di sini, posisi ini yang sebenarnya menjadi bekal bagi Indonesia
16:56untuk mengelola relasi di kawasan.
17:00Di ASEAN, Indonesia memiliki ASEAN Outlook of Indo-Pacific.
17:05Ini adalah ruang tikar,
17:08di mana Indonesia bisa memaksa negara-negara besar
17:10untuk duduk di sana dengan perangkat,
17:13dengan cara berpikir ASEAN.
17:15Saya kira Indonesia memiliki itu,
17:18dan itu yang harus selalu diperkuat.
17:20Oke, baik.
17:21Coba saya ke Mas Wibawanto.
17:23Jadi menurut Anda sekarang,
17:24posisi Indonesia memang berlabuh di dua karang,
17:26atau sebenarnya cuma mendayung di satu karang saja?
17:29Karena kita lihat kan,
17:30yang terbaru kemarin April,
17:32Menteri Pertahanan kita bertemu dengan
17:34PID Headset,
17:36Isu Kertajati,
17:37kemudian ada beberapa hal menunjukkan
17:39kedekatan kita dengan Amerika Serikat?
17:40Ya, jadi by destiny,
17:43Indonesia itu adalah middle power
17:44yang memang harus menjaga posisi hedging.
17:48Indonesia tidak mengambil posisi bandwagon,
17:51maksud Pak Prabu tidak mengambil posisi bandwagon,
17:53bergabung satu kekuatan besar gitu,
17:55atau membalancing out secara ekstrim,
17:57tidak.
17:58Nah, itu poin satu.
17:59Poin kedua,
18:00kita semua paham,
18:00Pak Prabu juga paham,
18:02saya percaya itu,
18:02over-dependence,
18:03itu akan mempersempit ruang diplomasi,
18:06manuver,
18:07itu sudah pasti.
18:09Makanya Indonesia itu
18:11tidak perlu memilih,
18:13dan harusnya tidak memilih
18:14untuk siapa.
18:15Tapi yang Anda lihat sekarang,
18:16kita gimana?
18:17kita justru yang saya lihat sekarang,
18:18justru,
18:19sekarang harus dan sedang
18:21memperkuat kondisi ke dalam.
18:23Oke,
18:23ketahanan pangan,
18:24ketahanan energi,
18:26defense industry ecosystem,
18:30maritime domain awareness,
18:32pengamanan choke points
18:33di Selat Malaka,
18:34dan juga yang tadi disampaikan
18:36oleh semua pembicara,
18:37harus ada public trust,
18:39harus ada civil military relations yang sehat,
18:43harus ada stabilitas politik
18:45yang komprehensif,
18:46gitu.
18:47Nah, kita harus tahu ya,
18:48tadi kita diskusi juga nih,
18:49dengan Pak Mahfud nih,
18:50Presiden Trump dan Presiden Prabowo
18:52itu adalah Presiden yang terpilih
18:53secara demokrasi.
18:54Artinya apa?
18:55Masa berkuasanya terbatas,
18:58waktunya itu sempit.
19:00Beda dengan Xi Jinping,
19:02dan juga Presiden Putin.
19:03Gitu beda.
19:05Jadi,
19:05timingnya beda.
19:06Nah,
19:07jadi sekarang harus dilakukan
19:08oleh Presiden Prabowo adalah
19:10supaya bisa efektif
19:12memainkan diplomasinya
19:13yang multidireksional,
19:14harus memperkuat ke dalam.
19:16Sehingga kita tidak bisa ditekan.
19:18Oke,
19:18misalnya ada hubungan tadi
19:20Mas Guntur ya,
19:21sudah menjelaskan,
19:22ada kedekatan dengan Amerika.
19:23Tetapi kan bukan berarti
19:24kita juga tidak ada hubungan baik
19:26dengan China.
19:27Bukan tidak ada investasi China di sini.
19:30Begitu juga Rusia, gitu loh.
19:32Hubungan pribadi Presiden
19:33dengan masing-masing pemimpin
19:35itu terjaga.
19:35Satu.
19:36Yang kedua,
19:37adanya relasi domestik politik yang kuat juga.
19:39Contoh,
19:40Confucius Institute ada di Indonesia,
19:42di Al-Azhar University.
19:43Itu contoh.
19:44Bahwa pengaruh China juga
19:46ada di Indonesia.
19:47Rusia juga,
19:48begitu.
19:48Jadi, kita tetap harus memprioritaskan
19:53penguatan ke dalam.
19:54Sehingga kita tidak bisa ditekan.
19:55Itu poin saya tuh.
19:56Dan itu yang harus dilakukan
19:57dengan kepemerintahan yang benar.
19:59Tadi dijelaskan teknokratisasi
20:00di dalam kementerian luar negeri.
20:03Dan juga governance yang Pak Mahfud jelaskan tadi.
20:06Yang Bu Kone juga jelaskan
20:07mengenai public trust.
20:08Dan juga dukungan rakyat yang solid dan real.
20:11Dan juga memang militer itu
20:14harus diperkuat?
20:15Iya.
20:15Tapi, it's not everything.
20:17Karena dalam irregular competition sekarang,
20:19kita bisa lihat,
20:20China itu menghindari perang besar.
20:23Sampai 2049,
20:24mencapai centennial kedua.
20:26Menghindari.
20:26Trump pun juga begitu sebenarnya.
20:28Makanya di strategi keamanan nasional Amerika itu,
20:31satu setengah major theater war
20:33disiapkan untuk defense posture Amerika.
20:35Satu perang besar di Laut China Selatan,
20:38ditambah lagi satu namanya
20:40containment operations di Timur Tengah, Iran.
20:42Satu lagi adalah
20:43homeland defense operations di wilayah Amerika.
20:44dan juga deterrence operations di wilayah Eropa.
20:48Menghadapi Russia dan NATO.
20:49Nah, dan satu lagi,
20:51Trump itu mendapatkan pendekatan
20:53shifting burden strategy.
20:54Jadi, burden itu
20:56dialihkan kepada negara-negara lain.
20:58Silahkan memperkuat.
20:59Jadi, dalam Amerika,
21:00berhadapan dengan China,
21:02butuh akses di Indonesia,
21:03bukan meng-invade Indonesia.
21:05Oke.
21:06Nah, begitu juga China.
21:07China juga tidak mau menghancurkan Indonesia dengan menginvasi.
21:10Tapi kalau ada butuhan pengaruh,
21:11iya.
21:11Secara apa?
21:12Secara teknologi, politik, ekonomi,
21:14elite capture operations.
21:16Banyak gitu loh.
21:17Nah, itu yang lebih mengerikan sebenarnya.
21:19Sehingga efeknya itu seperti salami slicing.
21:22Tidak terasa kita sudah terbawa
21:23ke satu sisi atau ke sisi lain.
21:24Nah, itu yang penting dengan check and balance tuh.
21:28Tidak ada pemerintah yang sempurna.
21:29Semua harus mendengar.
21:31Itu poinnya tuh, Pak.
21:32Itu, Mbak.
21:32Oke.
21:33Kalau kita lihat lagi,
21:35kembali ke pernyataan ke Pak Yusril.
21:37Oke.
21:38Di mana letak bukti
21:40bahwa Presiden Prabowo Subianto
21:41sedang mendayung di antara dua karang.
21:45Oke.
21:45Amerika dan juga Tiongkok.
21:48Oke, buktinya.
21:50Oke, buktinya gampang.
21:52Pak Prabowo, sekarang kalau mau ke China
21:53pasti diterima oleh si jenis.
21:54Oh, oke.
21:55Kalau ketemu Putin,
21:56tinggal langsung ketemu Putin.
21:57Ya, ini saya objektif melihatnya.
21:59Tetapi itu harus ditindaklanjuti
22:01di tingkat governance yang benar.
22:03Itu poinnya tuh.
22:05Oke.
22:05Lomba, ya.
22:05Baik, coba kalau Pak Budi,
22:07pendapat Anda sama demikian?
22:09Kita masih mendayung di antara dua karang?
22:11Atau Anda sudah melihat berat sembelah nih ke salah satu?
22:13Saya mau underline ya,
22:15biar enggak kita berpolemik dari satu titik
22:19sehingga tidak moving forward.
22:21Kalau menurut saya,
22:22Presiden kita ini,
22:24orang punya masa dan masa punya orang.
22:26Jadi justru seorang Prabowo ini,
22:29dia melakukan leapfrog and bow.
22:31Dia juga selain lompatan-lompatannya,
22:34dia juga melakukan terobosan itu.
22:37Nah, kalau memang ini dikaitkan dengan intelijen
22:40dan lain sebagainya,
22:41to my perception ya,
22:43ya intelijen ini,
22:44ya apa coba?
22:46Intelijen kalau kita biasanya bergurau gitu,
22:49dinding saja bisa bicara.
22:50Nah, kadang-kadang diplomasi ini memang harus face-to-face.
22:54Nah, kalau misalnya dibahas bahwa
22:58keseringan kemana dan lain sebagainya,
23:00bagaimana, dan ini kan memang,
23:01there is no such freelance
23:03untuk uphold our national interest.
23:06Ini kan enggak murah menurut saya.
23:09Tapi, the most important thing adalah,
23:11itu adalah salah satu bentuk dari
23:14eligibilitas dan fleksibilitas.
23:16Meskipun Indonesia ini sudah dipredikatkan
23:20gadis yang mole sekalipun,
23:22yang dikatakan,
23:23ya jangan kita jadi rebutan,
23:24kita diam saja,
23:25pasti direbut sama yang mau merebut,
23:28kan begitu.
23:28Nah, ini posisi ini sebetulnya,
23:31kalau misalnya presiden itu kesana kemari,
23:33justru mau menjual
23:35bahwa kita punya bargaining position,
23:38kita punya nilai tawar,
23:40kita yang middle power ini punya nilai tawar.
23:43Nah, sebetulnya kalau bicara masalah leadership,
23:46kalau ini kan mau enggak mau
23:47ditarik ke arah leadership.
23:48Sekarang kita nationalnya banyak sekali
23:50dengan perang Amerika Teheran ini.
23:53Coba bandingkan bagaimana seorang
23:55yang itu GCPOE 2015 Barack Obama
24:01dengan Rohani.
24:03Dengan the art of leadership-nya Barack Obama,
24:06buktinya oke-oke saja
24:07nuklirnya Iran,
24:10Teheran diserahkan ke Rusia.
24:12Nah, saat sekarang ini,
24:13diplomasi kurang apa?
24:15Dicoba dari setiap negara ini,
24:17Oman, Pakistan, dan lain sebagainya,
24:20naik, turun,
24:21cara diplomasinya,
24:22mulai dari diplomasi koersif
24:24sampai enggak koersif.
24:25Apa yang terjadi?
24:26Sampai detik ini,
24:27enggak ada nuklirnya yang menemui titik-titik.
24:29Apa artinya?
24:30The most important thing in our life
24:33dalam kehidupan kita ini
24:34yang terpenting adalah komunikasi.
24:37Nah, komunikasi mau tidak mau ya,
24:39that's the art of communication.
24:40Caranya masing-masing.
24:42Ada yang harus face-to-face,
24:44harus benar-benar in detail,
24:46harus lewat telepon juga.
24:47Pasti nanti akan didebat
24:49sama orang zamannya,
24:50kan kita bisa zaman dari jauh bisa online.
24:53Iya, memang.
24:53But in terms of intelligence,
24:55ada kisi-kisi tertentu
24:56yang memang secret,
24:58confidential,
24:59confidential,
25:00dan harus memang disampaikan
25:02dan datang ke negara tersebut.
25:03Baik, coba saya ke Bu Koni.
25:04Tadi di awal kan sebenarnya terlihat sekali
25:06mengkritik bagaimana
25:08Presiden Prabowo Subianto
25:09melakukan perjalanan diplomasi.
25:11Nah, saat ini kalau Bu Koni melihatnya
25:12apakah pemerintahan ini,
25:15Presiden Prabowo Subianto,
25:17berhasil mendayung di dua karang
25:18atau Bu Koni sendiri melihat
25:20ini sudah berat sebelah.
25:21Kita mulai terseret lah istilahnya.
25:24Saya mau jawab dulu Pak Budi tadi ya.
25:25Karena Pak Budi itu sebenarnya
25:26kok kayaknya defending banget Pak Prabowo
25:28berkunjung ke sana kemarin.
25:29Satu ya, mesti diingat.
25:30Pak Prabowo itu punya men lu.
25:31Namanya Subiono.
25:33Dan di dalam kantornya Pak Subiono
25:34itu banyak banget diplomat yang bisa dikirim.
25:36Nggak harus semuanya hadir.
25:37Kenapa saya bisa ngomong begini?
25:38Kita benchmark ke Vietnam ya.
25:39Saya itu tinggal di Rusia.
25:40Sekarang dari semua negara Asia
25:42paling maju, paling besar,
25:44hubungannya paling dekat,
25:45paling diuntungkan dari Rusia siapa?
25:47Vietnam.
25:48Vietnam itu,
25:49dia nggak perlu 50x atau 49 bridge di mukanya,
25:53tapi bayangkan ya,
25:54mereka tuh melakukan kunjungan itu sangat terukur.
25:56Ya kan?
25:57Dua, apa yang terjadi dalam kunjungan terukur itu?
25:59Teknologi transfer ke Vietnam.
26:00Coba cek apalagi teknologi transfer ke Vietnam.
26:02Besar sekali jauh lebih besar dari Indonesia.
26:04Kemudian apalagi?
26:06Dari masyarakat Vietnam,
26:07kalau saya perhatikan juga media-media Vietnam
26:09yang saya juga diikuti baca juga di sini,
26:10karena ini Vietnam kok hebat banget.
26:12Mereka nggak FOMO gitu,
26:13nggak dianggap presiden itu ya oke,
26:15memang worth it untuk datang dengan terbatas itu.
26:17Kemudian apalagi?
26:19Kunjungan yang efisien tadi juga,
26:21kalau kita lihat,
26:22kalau kita kaitkan ke anggaran pertahanan,
26:24kita coba kita lihat,
26:25anggaran pertahanan kita itu sudah sampai 11,
26:27187,
26:28187 ya,
26:29kalau nggak salah kan.
26:30Bayangkan,
26:31Vietnam itu jauh lebih kecil,
26:33mbak,
26:33apa,
26:34ukuran anggaran pertahanan,
26:35tapi,
26:36ya kan,
26:36tapi,
26:37dengan dia misalnya,
26:38102 miliar per tahun ya,
26:40kalau nggak salah ya,
26:41122 miliar per tahun,
26:43dia tuh lebih lincah di meretan domain,
26:45dia lebih siap bangun kapas selang kilokelas,
26:47dia bangun rudal anti kapas selang,
26:49dan itu mulai teknologi-teknologi itu bergerak.
26:52Pertanyaan saya,
26:53dengan pertanyaan Pak Prabowo,
26:54keserah kemarin dengan 20 miliar setiap harinya loh,
26:56saya ngomong tuh,
26:57bukan setiap kunjungan,
26:58satu harinya Pak Prabowo itu,
26:59lengkap dengan semua elemen pelengkap dia,
27:01itu 20 miliar.
27:02Ya kan,
27:02yang itu bukan saya,
27:03silahkan aja dicari hitungannya,
27:04itu udah banyak banget hitungannya,
27:05yang bicara tentang itu.
27:07Nah,
27:07intinya adalah,
27:08terlepas mau ke Rusia,
27:10mau ke Cina,
27:10mau kemanapun,
27:11ini tuh jangan juga,
27:12modelnya adalah tabrak sana-tabrak sini.
27:14Ini nggak oke gas,
27:15kas-oke gas nih,
27:16udah jadi presiden tuh nggak perlu lagi oke gas-oke gas-oke gas-oke gas,
27:19udah jadi presiden.
27:20Tapi gimana sekarang,
27:21kita itu harus melakukan diplomasi yang betul-betul,
27:25untuk tadi Mas Iwi Bapak Wartu,
27:26di depan udah ngomong tuh,
27:27yang kita nggak perhatikan,
27:28kepentingan nasional kita.
27:29Jadi ini yang sangat penting,
27:30mbak,
27:31kita perhatikan.
27:31Sekarang yang kedua,
27:32saya mau ngomong apa?
27:33Apakah Pak Prabowo sadar ya?
27:35Dengan Pak Prabowo tuh,
27:36waktu bangun-bangun di mana-mana Angkatan Darat,
27:38ini tuh Indonesia jadi kejar di negara,
27:39Angkatan Daratnya besar banget.
27:40Padahal kita tuh,
27:43negara archipelajik yang harus membangun
27:44archipelajik, strategik, konsertus.
27:46Apa itu?
27:47Tadi,
27:47kekuatan penguasaan choke point arti kita,
27:50di sasat strategis kita,
27:51penguasaan bagaimana kita bisa mampu mengendalikan itu.
27:54Kedua,
27:55pengamalan jalur laut,
27:56dan jalur udara.
27:57Makanya kenapa rame-rame soal udara diminta,
28:00dan lain-lain ini,
28:01langsung saya sangat respek sama Pak Subion yang menolak itu kan.
28:03Kemudian keamanan maritim,
28:04dan negara-negara multi-domain.
28:06Kemudian,
28:07integrasi laut-udara tuh rendah,
28:08rendah kan.
28:09Kita mesti sadar itu.
28:10Bagaimana cyber,
28:11gimana intelijen,
28:12saya mesti sebut lagi intelijen,
28:13karena kekuatan Rusia hari ini ada intelijen.
28:15Saya tuh disini ngalami kok,
28:16emang St. Petersburg gak diserang sama drone.
28:18Tiap hari kita ada drone,
28:19tapi kesalahan intelijen kita kuat,
28:20gak pernah tuh ada drone yang serah kesini gitu.
28:23Kemudian apa?
28:23Detransi intelijen kita mampu gak?
28:25Kemudian kemampuan predictive early warning,
28:27dan penjagaan strategis.
28:28Makanya kenapa?
28:30Kita mesti sekarang sudah mulai bersikir.
28:31Pak Prabowo itu kalau saya bilang,
28:32jangan jauh-jauh berangkat ke negara-negara antah berantah itu.
28:35Coba sekarang lebih konsultasi ke dalam negeri,
28:37dan bangun kepada negara tetangga.
28:38Karena kita ini harus membagi acilat beradik untuk partnership.
28:42Ini yang sangat penting,
28:44sehingga keamanan dengan negara-negara riparian,
28:46tergantung dengan tadi kaitan anal-api,
28:49dengan slope,
28:49itu semakin erat.
28:51Sekali lagi saya appreciate untuk beberapanya,
28:53tapi banyak hal yang kita mesti pertanyaan,
28:54karena mahal banget.
28:55Mahal banget, Mbak.
28:5629 sehari dengan kondisi hari ini,
28:58yang doarnya sudah seperti hari Agustus,
29:007 Agustus,
29:01itu is pathetic kalau dituliskan.
29:03Oke, saya berikan kesempatan kepada Pak Budi untuk menjawab.
29:05Kalau kata Bukoni Diplomasi Presiden Prabowo Subianto
29:08itu tabraksana-tabraksini?
29:09Ya, tabraksana-tabraksini
29:11in term of uphold our national interest.
29:15Gak mungkin kalau seandainya seorang presiden
29:17datang ke suatu negara,
29:19ke negara-negara yang dituju,
29:21itu hanya rendevusan.
29:23Gak mungkin.
29:24Jadi, kenapa ini berjalan?
29:26Berjalan sama siapa?
29:26Dan very dynamic dalam hal ini.
29:29Kenapa?
29:30Karena ya memang fluktuatif atmosphere of the geopolitics international
29:34ini sangat rapid gitu,
29:36sangat cepat.
29:37Jadi, kalau misalnya bergerak dari sini,
29:39kemudian tiba-tiba ke negara sini,
29:41atau dalam satu hari sudah bergerak dari negara sini,
29:44dan negara sini,
29:45Mbak, I'm not talking about budget ya.
29:49Beliau lebih menguasai tentang budget.
29:52Tapi, saya berpikiran national interest.
29:54For the sake of national interest,
29:56kalau sudah demi national interest,
29:59apapun dijabanin.
30:00Kalau bahasa...
30:01Jadi, Anda gak setuju ya disebut sebagai
30:03diplomasi tabraksana-tabraksini ya?
30:05Oh, I don't think so.
30:06Baik, coba saya ke komisi satu.
30:08Bu Amelia.
30:08Bu Amelia, Anda sendiri melihatnya bagaimana
30:10pernyataan dari Bu Koni barusan bahwa
30:13diplomasi dijalankan oleh Presiden Prabowo Subianto
30:15tabrak sana, tabrak sini.
30:20Saya kurang sependapat ya.
30:22Jadi, saya melihat diplomasi Presiden Prabowo ini
30:24memiliki beberapa tujuan strategis ya.
30:28Pertama, memang membangun trust internasional
30:31bahwa Indonesia ini adalah negara yang stabil,
30:33kemudian juga terbuka,
30:35siap bekerjasama di tengah ketidakpastian global saat ini.
30:38Dan kedua adalah memperkuat sektor pertahanan
30:42melalui transport teknologi gitu ya.
30:45juga melalui pembelian alutsista,
30:48latihan gabungan, dan penguatan
30:49industri pertahanan nasional.
30:51Ketiga, mengamankan kepentingan ekonomi nasional,
30:54utamanya investasi strategis begitu.
30:58Nah, hilirisasi industri,
31:00ketahanan pangan, dan energi.
31:02Kemudian, juga memperkuat posisi Indonesia
31:05sebagai middle power di kawasan Indo-Pasifik,
31:08yang mana Indonesia tentu tidak ingin
31:10hanya menjadi pasar atau objek geopolitik gitu,
31:13tetapi juga menjadi aktor strategis
31:15yang mempunyai pengaruh regional.
31:18Dan,
31:19kelima, diplomasi juga bisa membangun tadi,
31:22deterrence effect,
31:23dalam geopolitik jaringan diplomasi yang luas
31:26adalah bagian dari pertahanan negara,
31:28karena menunjukkan Indonesia ini
31:30memiliki banyak mitra strategis.
31:32Begitu, Mbak.
31:33Oke, baik.
31:34Ini juga menjadi perhatian bagaimana
31:35rencana kerjasama menjadikan bandara
31:38Kertajati menjadi bengkal pesawat C-130,
31:41menuai isu Republik Indonesia
31:42jadi pangkalan asing.
31:44Sebelumnya ada isu,
31:45Amerika Serikat minta izin akses terbang
31:47menyeluruh di ruang udara Republik Indonesia.
31:51Kita bahas usia jeda.
31:52Tetap bersama kami.
31:52Terima kasih.
31:56Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan