Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 2 hari yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Relawan kemanusiaan Gaza, Asad Aras mengungkap kesaksian mencekam selama berada di kapal militer setelah dicegat dalam misi kemanusiaan menuju Gaza.

Asad mengatakan, para relawan terus mendengar jeritan korban yang diduga mengalami penyiksaan.

"Setiap detik kami mendengarkan jeritan orang yang disiksa," ujar Asad Aras.

Menurut Asad, bentuk kekerasan yang dialami para relawan berbeda-beda.

Ia mengaku melihat langsung adanya sejumlah personel bersenjata di dalam kontainer kecil tempat relawan diperiksa sebelum masuk ke area penahanan.

Asad menjelaskan, seluruh relawan harus melewati kontainer tersebut satu per satu tanpa terkecuali. Menurutnya, para relawan juga menyaksikan langsung kondisi korban lain yang mengalami luka-luka.

Asad mengatakan dirinya bersama relawan lain berada selama dua hari di atas kapal militer. Dalam kondisi itu, para relawan disebut mengalami keterbatasan makanan dan minuman.

Satu botol air untuk beberapa orang. Sementara roti yang diberikan disebut sudah tidak layak dimakan.

Meski demikian, para relawan disebut tetap tidak bisa beristirahat dengan tenang karena dugaan penyiksaan berlangsung terus-menerus.

Bagaimana menurut Anda?



Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/f-0g1wMsx0o

#gaza #israel #relawan



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/671633/kesaksian-relawan-indonesia-tua-muda-disebut-disiksa-di-kapal-militer-rosi
Transkrip
00:00Karena di saat kita akan istirahat, mereka kembali menembaki ruang terbuka
00:06atau membunyikan kontainer itu dengan besi sehingga sangat tergengeng di telinga kita
00:14atau mereka meneror dengan lampu sorot itu sehingga kita tidak bisa tidur.
00:24Bagaimana Mas Asad dan kawan-kawan bertahan dalam kondisi itu?
00:27Kan pada saat itu Mas Asad tidak tahu akan dibawa berapa lama di dalam kapal,
00:31akan disiksa berapa lama di sana.
00:34Jadi ini mungkin hasil dari pelatihan yang kita dapatkan sebelumnya bagaimana menyiapkan mental.
00:41Ini sudah terprediksi?
00:43Sudah, sudah. Sudah terprediksi akan terjadi seperti itu.
00:50Bahkan ternyata yang kita dapatkan lebih parah dari yang kita prediksi sebelumnya.
00:54Karena memang sudah ada ancaman dari mereka jika kalian tetap berlayar,
00:59maka kekerasannya akan lebih meningkat dibanding yang sebelumnya.
01:03Dan di atas kapal itu kami, dari video yang beredar itu,
01:06disitulah kami bersujud hampir dua jam.
01:09Yang membuat kami sangat marah adalah kami bersujud dalam keadaan tangan diikat
01:17dan diperdengarkan lagu, entah itu lagu apa,
01:20yang biasanya lagu kebangsaan Israel yang terus dilang-ulang.
01:24Terus dilang-ulang.
01:27Dan ada beberapa yang pingsan pada saat itu karena panas ya,
01:32siang hari dalam keadaan kita bersujud,
01:35kaki tangan diikat dan sama sekali kami hanya berharap pada saat itu...
01:52Jadinya menguatkan kami pada saat itu hanya ingatan kepada surat-surat kami di Palestina
02:01bahwa yang mereka alami jauh lebih dahsyat dari yang kami alami saat ini.
02:08Dan memang itu tujuan kami.
02:10Ingin menunjukkan kepada dunia bahwa nyata adanya penjajahan itu,
02:15nyata adanya kegejaman yang dilekukan oleh para pasukan ini terhadap saudara kita yang akan kita tolong ini.
02:25Dan kita selama kita diculik itu,
02:28kan semua alat komunikasi sudah kita lempar ke laut,
02:32jadi kita terputus dengan dunia luar.
02:35Kita tidak tahu siapa yang sedang berjuang di luar untuk membebaskan kami.
02:40Kita sama sekali tidak tahu.
02:41Jadi hanya berharap pasrah pada saat itu tidak ada yang bisa kita lakukan apapun.
02:48Seperti itu.
02:49Jikapun kami harus menjadi korban,
02:51maka kami merasa terhormat dengan itu.
02:57Karena jika dengan itu masyarakat dunia bisa bertindak lebih banyak lagi untuk Palestina,
03:04maka kami merasa terhormat dengan itu.
03:06Itu yang membuat kami bisa bertahan.
03:11Bahkan beberapa testimoni,
03:14ya termasuk yang saya rasakan pribadi ya,
03:17sebelum merangkat ke sana itu,
03:18kebetulan kan saya ada penyakit emak ya,
03:22asam lambung yang jika telat makan sedikit langsung berasa.
03:26Alhamdulillah selama empat hari kita disiksa,
03:29tidak diberi makan, tidak diberi minum,
03:33hanya di pagi hari satu kali,
03:36dan kebanyakan hari kita tidak bisa memakan itu di samping karena tidak layak dan memang menjaga berhati-hati jangan sampai
03:46itu ada sesuatu zat yang beracun di dalam minuman itu.
03:50Karena memang ada satu momen di saat mata kita ditutup, kita dipaksa minum itu.
03:57Minuman.
03:58Kita tidak tahu itu apa?
03:59Kita tidak tahu itu apa.
04:01Dan itu sudah juga menjadi SOP,
04:04jika dalam keadaan mata tertutup kalian dipaksa untuk meminum sesuatu, jangan diminum.
04:10Dan itu kami alami,
04:11kami tidak meminum itu.
04:13Dan proses itu di atas kapal kami alami selama dua hari,
04:18berbeda dengan teman-teman yang sudah di intercept di hari pertama,
04:21berarti mereka tiga hari di atas kapal itu.
04:24Dua hari di kapal, dua hari juga di penjara.
04:28Di penjara ya?
04:30Dari Mas As'at tadi bercerita,
04:33terbayang betapa beratnya pada saat itu.
04:36Artinya dalam pikiran Mas As'at dan kawan-kawan,
04:40bisa jadi tidak akan pulang, tidak akan melihat tanah air.
04:44Betul?
04:45Iya.
04:46Terbayang, terlintas seperti itu.
04:48Bisa jadi ada di antara kami yang mungkin sudah tidak bisa bertahan.
04:54Tetapi ya seperti yang kita katakan lagi,
04:56jika memang harus terjadi seperti itu,
04:58maka semoga dengan itu dunia bisa lebih terbuka,
05:04lebih bekerja maksimal ya,
05:07untuk mendegarkan keadilan di Palestina itu.
05:11Jangan lupa untuk mengembangkan keadilan di Palestina itu.
Komentar

Dianjurkan