00:00Sebelum dibebaskan, sembilan warga negara Indonesia yang tergabung dalam misi kemanusiaan Global Sumut Flotilla
00:05mengalami sejumlah kekerasan fisik oleh tentara Israel selama masa penahanan.
00:10Aksi kekerasan itu bahkan sempat terekam dalam video amatir.
00:14Saat ini saya masih bersama relawan kemanusiaan Gaza, As'ad Aras,
00:18serta Dewan Pengarah Global Peace Convoy Indonesia, Jajang Nur Jaman.
00:23Saya lanjutkan lagi ke Mas As'ad.
00:25Sekali lagi mohon maaf, karena pasti Mas As'ad harus mengingat bagaimana saat itu terjadi penyiksaan.
00:30Setelah dibawa ke kapal militer, apa yang dilakukan selanjutnya?
00:35Di situ pakaian kami mulai diperiksa dan disisakan hanya satu helai saja, satu lapis
00:45yang membuat kami marah dengan perempuan yang pakaiannya tertutup dari negara-negara Arab,
00:57ada juga dari Turki yang berpakaian syarii, itu terpaksa, dilepas oleh mereka, dipaksa,
01:08dan hanya disisakan celana panjang yang tadinya memakai gamis,
01:13hanya menyisakan celana panjang, kaos dalam, dan tinggal ciputnya saja yang disisai untuk menutupi rambutnya.
01:22Dan kami yang laki-laki itu sudah memakai jaket sebenarnya,
01:27kemudian didobol lagi dengan ke meja untuk mengantisipasi kedinginan,
01:31karena memang pengalaman sebelumnya sangat dingin di atas kapal itu, di malam hari.
01:36Ternyata semua dilepas, disisakan satu helai, dan tidak berhenti dari situ,
01:41setiap prosesnya itu selalu meningkat.
01:44Ini setelah didaratan, yang di atas kapal itu bermula penyiksaan itu.
01:50Jadi setelah proses tadi, kita kemudian dimasukkan ke dalam satu kontainer kecil.
01:56Berapa ukurannya kontainer itu, kurang lebih?
01:58Kurang lebih 2 x 3 meter.
02:00Isinya berapa orang?
02:02Isinya tidak ada orang sebenarnya.
02:04Bukan untuk tempat kita di Sandra, bukan.
02:07Jadi di tengah-tengah kapal militer yang besar itu,
02:10disitulah tempat semua ratusan aktivis ini di Sandra.
02:14Yang ada gambarnya, relawan itu diikat, betul ya, dalam kondisi terikat.
02:19Iya, itu di tengah-tengah itu di ruang terbuka.
02:22Bersujud begitu di ruang terbuka.
02:23Itu di tengah-tengah itu.
02:26Nah di depan belakangnya kan ada kontainer itu, kiri kanan.
02:30Nah disitulah kita bisa istirahat.
02:32Namun sebelum masuk ke ruang tengah terbuka ini, ada satu kontainer kecil yang harus kita lalui.
02:38Satu persatu masuk ke situ dan disitulah kita mulai disiksa.
02:45Saya bersyukur karena tidak terlalu mengalami luka parah, hanya rahang pada saat itu sehingga tidak bisa membuka mulut dan tidak
02:58bisa makan.
02:59Kemudian ditendang, setelah terjatuh diinjak-injak dan setiap relawan pasti mendapatkan kekerasan itu dengan luka-luka yang berbeda.
03:12Mohon maaf, itu paling ringan Mas Asati yang dirasakan dibandingkan teman-teman yang lainnya?
03:17Iya, menurut saya ini paling ringan.
03:19Karena rekan kami yang dari Indonesia ada yang disetrum dua kali badannya.
03:29Termasuk sinar kita yang bergabung, Om Heru itu yang sampai hari ini masih perawatan.
03:35Karena beliau memiliki penyakit batu empedu yang pada saat disiksa itu diinjak-injak, ditendang oleh penjajah sehingga tidak bisa bongkar
03:47kecil.
03:48Dan sampai saat ini masih menjalani perawatan seperti itu.
03:52Pada saat melakukan penyiksaan, apa alas mereka? Karena apakah diintrogasi terlebih dahulu atau langsung saja?
03:58Langsung saja, tidak ada introgasi terlebih dahulu langsung.
04:01Dan kami meyakini bahwa ini telah dimulai, proses ini telah dimulai dengan adanya penyiksaan awal.
04:12Jadi setelah kami disiksa kemudian dikeluarkan, pada saat itu saya mengira teman-teman kami yang sudah diculik lebih dulu sudah
04:24dibebaskan.
04:26Tapi ternyata setelah kami dikeluarkan dari ruang penyiksaan itu, saya melihat masih ada ratusan teman-teman kita lainnya yang sudah
04:34menunggu di ruang terbuka itu.
04:38Dan disitu saya merasa bahagia. Alhamdulillah teman-teman saya masih pada disini.
04:41Dan saya disambut dengan pelukan, dengan saling dikuatkan kamu yang luka yang mana gak apa-apa.
04:47Semua kita merasakan yang sama disini seperti itu.
04:50Dan itulah yang kami alami setiap detik kami mendengarkan jeritan orang yang disiksa.
04:56Setiap kami mendengarkan itu kami kemudian keluar dari konten kita, menunggu di ruangan terbuka itu siapa lagi yang disiksa ini.
05:04Bentuk penyiksaannya pun berbeda-beda?
05:06Beda-beda. Karena ada yang disetrum, ada yang menggunakan benda tajam, bahkan ada yang ditembak dengan peluru karet.
05:16Karena saya melihat sendiri di dalam konten yang kecil itu ada tiga atau empat pasukan yang bersenjata.
05:25Nah, senjata disitu tidak terlalu gelap dan tidak terlalu terang, namun nampak ya mereka menggunakan senjata itu.
05:36Itu melawan satu persatu relawan untuk masuk ke sana, disiksa?
05:41Iya, semuanya harus melewati gerbong itu.
05:44Tidak peduli tua, muda, perempuan, laki-laki?
05:46Tidak peduli, semua disiksa.
05:48Karena kami menyaksikan sendiri, di saat kami sudah masuk ke dalam ruang penyanderaan itu di kontener yang lebih besar itu,
05:55kami melihat orang tua bahkan yang tidak bisa berjalan karena kakinya yang terluka.
06:03Ada ibu-ibu yang tangannya terkilir.
06:08Makanya kami semakin yakin bahwa memang penyiksaan itu nyata dialami oleh seorang kita di Palestina.
06:19Mas bertahan disitu empat hari betul di kapal militer?
06:21Di atas kapal dua hari.
06:23Di atas kapal itu dua hari?
06:24Dua hari.
06:25Dan kita disitu diberi minum hanya sekali satu botol untuk beberapa orang.
06:31dan ada roti yang tidak layak makan buat kami karena sangat keras.
06:38Jadi kita jadikan bantal saja untuk kita istirahat.
06:42Namun kita tidak bisa dibikin untuk tidur.
06:44Selama dua hari itu apakah non-stop penyiksaan berlangsung dialami atau seperti apa mas yang dialami?
06:50Non-stop.
06:52Karena...
06:52Istirahat disiksa lagi?
06:54Iya, mereka tidak memberikan kita istirahat.
06:56Karena di saat kita akan istirahat mereka kembali menembaki ruang terbuka atau membunyikan kontainer itu dengan besi sehingga sangat tergeng
07:10-geng di telinga kita atau mereka meneror dengan lampu sorot itu sehingga kita tidak bisa tidur.
07:19Seperti itu.
07:20Bagaimana mas Asad dan kawan-kawan bertahan dalam kondisi itu?
07:24Kan pada saat itu mas Asad tidak tahu akan dibawa berapa lama di dalam kapal, akan disiksa berapa lama di
07:30sana.
07:30Iya, jadi ini mungkin hasil dari pelatihan yang kita dapatkan sebelumnya bagaimana menyiapkan mental.
07:37Ini sudah terprediksi?
07:40Sudah, sudah.
07:41Sudah terprediksi akan terjadi seperti itu.
07:46Bahkan ternyata yang kita dapatkan lebih parah dari yang kita prediksi sebelumnya.
07:51Karena memang sudah ada ancaman dari mereka jika kalian tetap berlayar maka kekerasannya akan lebih meningkat dibanding yang sebelumnya.
08:00Dan di atas kapal itu kami dari video yang beredar itu disitulah kami bersujud hampir dua jam.
08:06Yang membuat kami sangat marah adalah kami bersujud dalam keadaan tangan diikat dan diperdengarkan lagu entah itu lagu apa.
08:17Nah, biasanya lagu kebangsaan Israel yang terus dilang-ulang.
08:21Terus dilang-ulang.
08:23Dan ada beberapa yang pingsan pada saat itu karena panas ya siang hari.
08:30Dalam keadaan kita bersujud, kaki tangan diikat dan sama sekali kami hanya berharap pada saat itu.
08:49Jadinya menguatkan kami pada saat itu hanya ingatan kepada surah-surah kami di Palestina bahwa
08:58yang mereka alami jauh lebih, lebih dahsyat dari yang kami alami saat ini.
09:04Dan memang itu tujuan kami.
09:06Ingin menunjukkan kepada dunia bahwa nyata adanya penjajahan itu, nyata adanya kegejaman yang dilekukan oleh para pasukan ini terhadap saudara
09:17kita yang akan kita tolong ini.
09:21Dan kita selama kita diculik itu, kan semua alat komunikasi sudah kita lempar ke laut.
09:28Jadi kita terputus dengan dunia luar.
09:31Kita tidak tahu siapa yang sedang berjuang di luar untuk membebaskan kami.
09:37Kita sama sekali tidak tahu.
09:38Jadi hanya berharap pasrah pada saat itu tidak ada yang bisa kita lakukan apapun.
09:45Seperti itu.
09:46Jikapun kami harus menjadi korban, maka kami merasa terhormat dengan itu.
09:53Karena jika dengan itu masyarakat dunia bisa bertindak lebih banyak lagi untuk Palestina, maka kami merasa terhormat dengan itu.
10:03Itu yang membuat kami bisa bertahan.
10:08Bahkan beberapa testimoni, termasuk yang saya rasakan pribadi, sebelum berangkat ke sana itu kebetulan saya ada penyakit emah, asam lambung
10:19yang jika telat makan sedikit langsung berasa.
10:23Alhamdulillah selama empat hari kita disiksa, tidak diberi makan, tidak diberi minum, hanya di pagi hari satu kali.
10:33Dan kebanyakan hari kita tidak bisa memakan itu, disamping karena tidak layak dan memang menjaga, berhati-hati jangan sampai itu
10:43ada sesuatu zat yang beracun di dalam minuman itu.
10:46Karena memang ada satu momen di saat mata kita ditutup, kita dipaksa minum itu.
10:54Minuman.
10:55Kita tidak tahu itu apa?
10:56Kita tidak tahu itu apa.
10:58Dan itu sudah juga menjadi SOP, jika dalam keadaan mata tertutup, kalian dipaksa untuk meminum sesuatu, jangan diminum.
11:06Dan itu kami alami, kami tidak meminum itu.
11:10Dan proses itu di atas kapal kami alami selama dua hari, berbeda dengan teman-teman yang sudah di intercept di
11:17hari pertama, berarti mereka tiga hari di atas kapal itu.
11:20Dua hari di kapal, dua hari juga di penjara.
11:25Di penjara ya?
11:27Dari Mas As'at tadi bercerita, terbayang betapa beratnya pada saat itu.
11:33Artinya dalam pikiran Mas As'at dan kawan-kawan, bisa jadi tidak akan pulang, tidak akan melihat tanah air.
11:41Betul?
11:41Iya.
11:43Terbayang, terlintas seperti itu, bisa jadi ada di antara kami yang mungkin sudah tidak bisa bertahan.
11:51Tetapi ya seperti yang kita katakan lagi, jika memang harus terjadi seperti itu, maka semoga dengan itu dunia bisa lebih
11:59terbuka, lebih bekerja maksimal untuk mendegarkan keadilan di Palestina itu.
12:06Kerja keras pun dilakukan untuk membebaskan Mas As'at dan kawan-kawan setelah diculik dan ditangkap oleh Israel.
Komentar