- 2 jam yang lalu
- #phk
- #ekonomi
- #pertumbuhanekonomi
- #pekerja
- #kemnaker
KOMPAS.TV - Di tengah pertumbuhan ekonomi yang melesat pada kuartal pertama tahun ini sebesar 5,61 persen, ada hal kontradiktif yang harus dihadapi dunia usaha Indonesia, yakni potensi badai PHK.
Bahkan, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan bahwa dalam tiga bulan ke depan ada ancaman PHK terhadap lima sektor usaha, di antaranya tekstil dan produk turunannya, industri plastik, elektronik, otomotif, hingga semen.
KSPI menyebut kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena sejumlah pekerja di sektor-sektor tersebut sebagian sudah diajak berdiskusi oleh perusahaannya terkait pemutusan hubungan kerja.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, pun buka suara soal lima sektor yang terancam mengalami PHK massal menurut KSPI.
Menanggapi hal ini, Menperin percaya akan resiliensi masing-masing sektor dalam menghadapi kondisi saat ini. Hal itu disampaikan Menperin usai menemui Menteri Keuangan pada Selasa pagi di Ruang Rapat Menteri Keuangan I, Lantai 3, Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta.
Kalau berbicara soal potensi PHK, kita lihat juga angka pemutusan hubungan kerja pada kuartal pertama tahun ini dalam data berikut.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 8.389 tenaga kerja terkena PHK sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Berdasarkan laman Satu Data Kemnaker, jumlah tersebut terdiri dari 4.590 orang pada Januari, 3.273 orang pada Februari, dan 526 orang pada Maret 2026.
Jika dirinci berdasarkan provinsi, data PHK menunjukkan tekanan ketenagakerjaan masih terjadi di sejumlah daerah.
Di tengah tekanan global dan domestik, seberapa besar potensi lonjakan PHK akan terjadi pada tahun ini? Apa saja yang dikhawatirkan pelaku usaha dengan segala ketidakpastian ini? Kita tanyakan kepada Analis Kebijakan Ekonomi APINDO, Ajib Hamdani.
Baca Juga Dosen HI dan Pengamat Timteng soal AS Umumkan Perang Berakhir Tapi Minta Iran Kibarkan Bendera Putih di https://www.kompas.tv/internasional/667432/dosen-hi-dan-pengamat-timteng-soal-as-umumkan-perang-berakhir-tapi-minta-iran-kibarkan-bendera-putih
#phk #ekonomi #pertumbuhanekonomi #pekerja #kemnaker
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/667437/full-analis-kebijakan-ekonomi-bicara-potensi-lonjakan-phk-kekhawatiran-pelaku-usaha-di-2026
Bahkan, Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mengingatkan bahwa dalam tiga bulan ke depan ada ancaman PHK terhadap lima sektor usaha, di antaranya tekstil dan produk turunannya, industri plastik, elektronik, otomotif, hingga semen.
KSPI menyebut kekhawatiran ini bukan tanpa alasan, karena sejumlah pekerja di sektor-sektor tersebut sebagian sudah diajak berdiskusi oleh perusahaannya terkait pemutusan hubungan kerja.
Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang, pun buka suara soal lima sektor yang terancam mengalami PHK massal menurut KSPI.
Menanggapi hal ini, Menperin percaya akan resiliensi masing-masing sektor dalam menghadapi kondisi saat ini. Hal itu disampaikan Menperin usai menemui Menteri Keuangan pada Selasa pagi di Ruang Rapat Menteri Keuangan I, Lantai 3, Gedung Kementerian Keuangan, Jakarta.
Kalau berbicara soal potensi PHK, kita lihat juga angka pemutusan hubungan kerja pada kuartal pertama tahun ini dalam data berikut.
Kementerian Ketenagakerjaan mencatat sebanyak 8.389 tenaga kerja terkena PHK sepanjang Januari hingga Maret 2026.
Berdasarkan laman Satu Data Kemnaker, jumlah tersebut terdiri dari 4.590 orang pada Januari, 3.273 orang pada Februari, dan 526 orang pada Maret 2026.
Jika dirinci berdasarkan provinsi, data PHK menunjukkan tekanan ketenagakerjaan masih terjadi di sejumlah daerah.
Di tengah tekanan global dan domestik, seberapa besar potensi lonjakan PHK akan terjadi pada tahun ini? Apa saja yang dikhawatirkan pelaku usaha dengan segala ketidakpastian ini? Kita tanyakan kepada Analis Kebijakan Ekonomi APINDO, Ajib Hamdani.
Baca Juga Dosen HI dan Pengamat Timteng soal AS Umumkan Perang Berakhir Tapi Minta Iran Kibarkan Bendera Putih di https://www.kompas.tv/internasional/667432/dosen-hi-dan-pengamat-timteng-soal-as-umumkan-perang-berakhir-tapi-minta-iran-kibarkan-bendera-putih
#phk #ekonomi #pertumbuhanekonomi #pekerja #kemnaker
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/667437/full-analis-kebijakan-ekonomi-bicara-potensi-lonjakan-phk-kekhawatiran-pelaku-usaha-di-2026
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:01Intro
00:07Saatnya Anda menyaksikan Kompas Bisnis, Saudara, dan yang dibahas di Kompas Bisnis hari ini mengenai yang satu ini, Saudara,
00:14pertumbuhan ekonomi tinggi, tapi PHK di depan mata.
00:18Ini terkait dengan di tengah pertumbuhan ekonomi yang melesat pada kuartal pertama tahun ini,
00:23sebesar 5,61 persen, ada hal kontradiktif yang harus dihadapi dunia usaha Indonesia,
00:29yakni potensi badai PHK.
00:32Bahkan Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia atau KSPI mengingatkan dalam 3 bulan ke depan ada ancaman PHK terhadap 5 sektor usaha,
00:42diantaranya tekstil dan produk turunannya, industri plastik, elektronik, otomotif, hingga semen.
00:49KSPI bilang, khawatiran ini bukan tanpa alasan karena sejumlah pekerja di sektor-sektor ini,
00:54sebagian sudah diajak diskusi oleh perusahaannya terkait pemutusan kerja.
01:01Sementara itu, Saudara, Menteri Perindustrian Agus Gumiwang buka suara soal 5 sektor yang terancam mengalami PHK massal menurut KSPI.
01:10Menanggapi hal ini, Menperin percaya akan resiliensi masing-masing sektor dalam menghadapi kondisi saat ini.
01:18Hal ini disampaikan Menperin usai menemui Menteri Keuangan pada selasa pagi di ruang rapat Menteri Keuangan Gedung Kementerian Keuangan Jakarta.
01:31Dalam kondisi yang mungkin harus menjadi perhatian, dan yang menghadapi kondisi ini bukan hanya Indonesia,
01:40dan saya tetap percaya dengan presidenisi yang terkenal dari sektor-sektor yang bagus,
01:48dan saya berkali-kali kita mengalami krisis dengan makhluk yang luar biasa,
01:54terakhir posit, di mana teman-teman manufaktur bisa mengembangkan resiliensinya,
01:59bahwa ada pekanan terhadap market, ada pekanan terhadap pelan baku,
02:07itu memang dihadapi oleh semua negara, semua pihak, dan saya yakin ini sifatnya temporis.
02:14Saya yakin sifatnya.
02:18Ya kalau berbicara soal potensi PHK, kita lihat juga angka pemutusan hubungan kerja
02:24pada kuartal pertama tahun ini dalam data berikut ini.
02:27Kita lihat, saudara.
02:29Nah ini dia angka PHK di tahun 2026 per Januari hingga Maret.
02:35Kementerian Ketenagakerjaan mencatat ada sebanyak 8.389 tenaga kerja terkena PHK
02:43sepanjang Januari hingga Maret 2026.
02:47Berdasarkan laman satu data, Kemenaker, jumlah tersebut terdiri dari 4.590 orang pada Januari,
02:553.273 orang pada Februari, dan 526 orang pada Maret 2026.
03:01Jika dirinci berdasarkan provinsi, saudara, yang paling tinggi angka PHK-nya ada di Jawa Barat.
03:09Di sini kita lihat Jawa Barat menempati angka tertinggi dengan jumlah di PHK sebesar 1.721.
03:17Kemudian ada Kalimantan Selatan di 1.071.
03:20Kalimantan Timur 915 angka PHK.
03:24Kemudian ada Banten di 777 angka PHK.
03:28Jawa Timur 649 PHK.
03:31Jawa Tengah 558 angka PHK.
03:34Ada juga DKI Jakarta turut masuk dalam 10 besar provinsi yang memang ada PHK yang sangat besar,
03:42yaitu sebesar 554.
03:44Ada juga Sumatera Selatan di 495 PHK.
03:48Sulawesi Selatan 187 angka PHK.
03:50Dan ke-10 ada Sumatera Utara di 168 angka PHK.
03:55Lalu, saudara, bagaimana dengan angka PHK selama 3 tahun terakhir?
03:59Kita lihat ke data berikutnya.
04:01Nah, saudara, masih dari data kemenprin, selama 3 tahun jumlah PHK setiap tahun ini terus mengalami peningkatan yang signifikan.
04:10Apabila kita lihat dari awal di tahun 2023 saja,
04:14ada sekitar 64.855 orang yang terkena PHK secara total di tahun 2023.
04:23Peningkatan cukup signifikan, kemudian setahun kemudian di tahun 2024 ada 77.965 orang terkena PHK.
04:33Kemudian setahun kemudian lagi di tahun 2025 ini meningkat drastis di angka 88.519 orang yang terkena PHK.
04:44Nah, jumlah PHK ini, saudara, dari tahun ke tahun kian mengkhawatirkan.
04:48Dan pertanyaannya, bagaimana dengan tahun 2026?
04:52Seberapa besar badai PHK akan menerjang di tengah banyaknya tekanan global dan juga domestik?
04:58Namun, jika merujuk pada alasan perusahaan melakukan PHK selama setahun terakhir saja, saudara,
05:04ini rata-rata karena turunnya pendapatan, naiknya biaya produksi, berubahnya regulasi ketenaga kerjaan,
05:11tekanan produk impor, hingga faktor teknologi.
05:15Namun, apakah besarnya angka PHK ini berkontribusi terhadap peningkatan jumlah tingkat pengangguran?
05:22Kita lihat ke data selanjutnya.
05:27Tampaknya tidak ya, kalau kita lihat dari garis yang menurun ini begitu,
05:33data dari Badan Pusat Statistik menunjukkan tingkat pengangguran terbuka 3 tahun terakhir justru terus turun.
05:40Ini dari Februari, karena data ini per Februari, dari Februari 2024, ini sebesar 4,82 persen.
05:48Turun lagi, ini tingkat pengangguran terbuka di Februari 2025, sebesar 4,76 persen.
05:57Dan di tahun 2026 per Februari, ini juga turun di 4,68 persen.
06:04Dalam data yang sama disebutkan, bahwa proporsi pekerja penuh ini naik dibandingkan Februari 2025 menjadi 66,77 persen.
06:13Sementara pekerja paruh waktu juga naik jadi 25,97 persen.
06:17Saudara, kita lihat juga pertumbuhan ekonomi dari tahun ke tahun.
06:23Nah ini dia saudara, pada kuartal 1 tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia meroket ke 5,61 persen.
06:31Dengan sokongan yang paling mendominasi dari konsumsi pemerintah sebesar 21,81 persen.
06:37Kalau kita bandingkan di kuartal 1 tahun-tahun sebelumnya, di 5 tahun terakhir saudara,
06:42di tahun 2022 ada angka pertumbuhan ekonomi di kuartal pertama di 5,01 persen.
06:49Kemudian ada 5,03 persen di tahun 2023.
06:54Di kuartal pertama 2024, pertumbuhan ekonomi juga naik di 5,11 persen.
07:00Turun di kuartal pertama tahun 2025 di angka 4,87 persen.
07:05Dan akhirnya meroket di tahun ini kuartal pertama di 5,61 persen.
07:11Sejumlah ekonomi berpendapat kenaikan pertumbuhan ekonomi luar biasa di kuartal pertama tahun ini
07:16karena efek low base alias pertumbuhan yang tinggi
07:19karena dibandingkan dengan angka dasar tahun sebelumnya yang rendah yaitu di kuartal pertama 2025.
07:25Pertumbuhan ekonomi kuartal pertama tahun ini pun jadi yang tertinggi sejak 14 kuartal terakhir.
07:32Dan saudara, kita lihat juga lapangan usaha yang mendukung pertumbuhan ekonomi.
07:36Kita lihat data.
07:38Ya, pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2026 menurut lapangan usaha adalah
07:44ini yang tertinggi ada pada perdagangan dan reparasi sebesar 6,26 persen.
07:50Kemudian yang kedua ada dari konstruksi 5,49 persen.
07:54Dan ada juga yang ketiga dari industri pengolahan sebesar 5,04 persen.
07:59Dan ada dari sektor pertanian 4,97 persen.
08:02Sementara sektor pertambangan dan penggalian ini turun ataupun minus sebesar 2,14 persen.
08:11Dan ada juga lainnya ini tumbuh 7,32 persen.
08:15Jika dirinci lebih dalam, usaha yang mencatatkan laju pertumbuhan PDB tertinggi pada kuartal satu ini adalah
08:21penyediaan akomodasi makanan dan juga minuman.
08:24Yang ini sebesar 13,14 persen secara year on year.
08:29Saudara pertanyaannya, ini seberapa besar potensi lonjakan PHK akan terjadi pada tahun ini
08:34di tengah tekanan global dan juga domestik?
08:37Apa saja yang dikhawatirkan pelaku usaha dengan segala ketidakpastian ini?
08:41Kita bahas usaha jeda.
08:43Tetaplah bersama kami di Kompas Bisnis.
09:05Saudara di tengah tekanan global dan domestik,
09:08seberapa besar potensi lonjakan PHK akan terjadi pada tahun ini?
09:11Apa saja yang dikhawatirkan pelaku usaha dengan segala ketidakpastian ini?
09:16Kita tanya analis kebijakan ekonomi APINDO, Ajib Hamdani.
09:19Selamat pagi, Pak Ajib.
09:21Selamat pagi, Mas Ian.
09:22Pak Ajib, ini hingga kuartal satu tahun ini,
09:25angka PHK ini terpantau cukup tinggi di angka 8.389 orang.
09:31Dari sisi pelaku usaha, mengapa bisa demikian, Pak?
09:34Ya, karena kalau kita lihat Mas Ian, sebenarnya ekonomi kita ada beberapa indikator makro yang menunjukkan bahwa
09:41kuartal kedua dan ketiga cenderung akan mengalami penurunan walaupun relatif landai ya.
09:48Karena begini Mas Ian, kalau kita lihat dari data yang tadi disampaikan Mas Ian,
09:52itu menunjukkan bahwa sektor-sektor penopang pertumbuhan ekonomi di kuartal satu yang
09:56begitu luar biasa mencapai 5,61 persen, itu lebih banyak karena carbon spending.
10:02Karena seperti tadi Mas Ian sampaikan, bahwa sebenarnya yang namanya pertumbuhan ekonomi itu
10:06membandingkan antara kuartal satu dengan kuartal satu tahun sebelumnya, namanya year on year.
10:11Dan kalau kita lihat, terjadi perbedaan signifikan antara year 1 2025
10:15dengan kuartal 1 2025 dan kuartal satunya 2026.
10:20Contoh misalnya, dulu 2025 kuartal 1 itu misalnya program MBG,
10:26SPBG baru ada 900, SPBG sampai 1000.
10:29Tapi di kuartal 1 2026 sudah ada sekitar 25 ribu Mas Ian.
10:35Jadi ini angka yang begitu signifikan luar biasa.
10:39Terus kemudian bagaimana pembangunan fisik KDMP misalnya.
10:43Ini kan secara langsung menunjukkan pertumbuhan ekonomi di daerah.
10:46Pertanyaannya adalah apakah kuartal kedua dan ketiga ini akan berlanjut?
10:50Hampir pasti tidak, karena polanya akan berbeda.
10:52Nah, kalau kita lihat Mas Ian, bahwa pertumbuhan ekonomi kita di kuartal kedua dan ketiga,
10:59harapannya adalah kemudian perbankan bisa masuk.
11:02Ini yang menjadi harapan agar terjadi cash flow di lapangan.
11:06Karena dengan adanya pertumbuhan ekonomi yang begitu luar biasa di kuartal satu,
11:11kemudian impact-nya adalah masalah fiskal.
11:14Impact-nya adalah masalah APBN kita yang begitu terkuras luar biasa.
11:18Bahkan kalau Mas Ian cermati, itu bagaimana uang kira-kira di kisaran 300 triliun?
11:24Uang restitusi yang harusnya menjadi hak wajib pajak,
11:27yang harusnya menjadi hak private sector karena mereka double bayar pajak,
11:31harusnya dikembalikan.
11:32Tapi kemudian pemerintah mengeluarkan aturan.
11:34Akan ada pengetatan, akan ada pemegisaan ulang, dan lain-lain.
11:37Yang ini menyerahkan bahwa kondisi fiskal kita mengalami bleeding yang luar biasa.
11:44Nah, sekali lagi pertanyaannya adalah bagaimana Q2?
11:47Sekarang begini, Mas Ian.
11:49Kita lihat bagaimana indikator makro kita memasuki kuartal dua.
11:53Kuartal satu kan selesai di Januari, Februari, Maret, Mas Ian.
11:57Kemudian memasuki bulan April, Mei, Juni.
12:00Nah, ini kan berarti kita masuk kuartal kedua.
12:02Dan repotnya, Mas Ian, kita memasuki kuartal dua ini
12:04dengan indikator makro lain yang kurang mengembirakan gitu.
12:11Misalnya, kita berbicara PMI manufaktur kita bahkan memasuki level konstruksi.
12:15Di mana sebenarnya bulan Maret sebelumnya itu sudah cukup turun.
12:19Di angka 50,1.
12:21Tapi bahkan kemudian di fase bulan April,
12:24kita mulai konstruksi yang mencapai 49,1.
12:27Kemudian indeks keyakinan industri, Mas Ian.
12:29Itu bahkan juga kembali mengalami penurunan.
12:32Di mana bulan Maret kita masih 51,86 misalnya.
12:36Tapi kemudian di bulan April, kembali turun menjadi 51,75.
12:40Nah, indikator-indikator ini yang kemudian menunjukkan bahwa Q2 akan cenderung menurun.
12:45Walaupun memang secara siklik keletahunan, Q2 akan turun.
12:48Tapi yang kita khawatirkan turunnya adalah tajam.
12:51Kalau di Q1, di 5,61.
12:53Di Q2, itu kita harus bertahan tetap di atas 5.
12:57Walaupun 5 tipis misalnya.
13:00Nah, kembali kita ke berbicara masalah PHK.
13:02Begini, Mas Ian.
13:03Satu sisi memang ada beberapa perusahaan, beberapa ada sektor.
13:07Termasuk misalnya sektor pertambangan.
13:09Tadi kan juga sektornya, bahkan pertumbuhannya minus.
13:11Minus 2%.
13:12Di kuartal 1, 2026, Mas Ian.
13:14Itu kan karena di kuartal, di tahun ini RKAB banyak yang belum keluar.
13:18Sehingga aktivitas pertambangan belum bisa berjalan normal setelah tahunan, Mas Ian.
13:24Nah, jadi PHK-PHK itu terjadi dan ini didukung oleh data dari Apindo yang menyebutkan bahwa sekitar 67% pengusaha
13:31itu akan sangat ketat untuk menambah karyawan bahkan even 5 tahun ke depan.
13:36Jadi satu sisi, private sektor yang menjalankan usahanya secara existing, mereka sedang menahan laju penambahan karyawan, tambahan tenaga kerja.
13:46Kemudian di sisi lain ada beberapa sektor lain yang mengalami penyesuaian.
13:50Bahkan ibarat ini, Mas Ian.
13:51Kita ini sedang bukan berdebat tentang masalah nambah karyawan atau enggak.
13:54Tapi kita sedang survival mode gitu.
13:57Tadi Mas Ian juga menyampaikan bahwa kita sedang mengalami daya beli yang mengalami tekanan, kemudian bagaimana sektor ekonomi geopolitik kita
14:07yang sedang adanya uncertainty misalnya.
14:09Nah, repotnya adalah uncertainty-nya geopolitik kita ini kan memberikan dampak terhadap ekonomi domestik.
14:14Contoh, begitu adanya harga plastik naik, ya kita akan mengalami penyesuaian harga produksi misalnya.
14:20Sehingga kemudian ketika harga barang dan jasa, ini kan kita repot nih, ketika HPP-nya naik, kemudian barang dan jasa
14:26yang kita keluarkan akan kita naikkan atau enggak?
14:28Kalau kita naikkan belum tentu daya beli bisa menyerap, tapi kalau enggak kita naikkan berarti itu akan di-upshop oleh
14:34keuntungan yang akan semakin berkurang.
14:36Artinya keuntungan yang berkurang, sulit kita untuk menambah karyawan.
14:39Nah, kondisi-kondisi seperti itu Mas Ian.
14:42Jadi sekali lagi ada beberapa indikator makro yang kurang mengembarakan dalam kita masuk ke kuartal kedua.
14:47Nah, private sector itu adalah kondisi survival mode. Kira-kira begitu Mas Ian.
14:52Ada indikator-indikator makro ekonomi yang memang patut menjadi concern dan juga perhatian dan juga menghawatirkan bagi dunia usaha begitu.
14:58Tadi juga Pak Ajib sempat membahas soal PMI atau Data Purchasing Manager Index yang dirilis S&P Global sebelumnya.
15:05Ini Pak Ajib, ini berada di 49,1 pada April 2026.
15:10Ini data terburuk 9 bulan terakhir dan masuk level kontraksi.
15:14Apakah dengan data ini, rilis ini, apakah bisa diartikan PHK juga di depan mata di kuartal 2 dan juga 3?
15:22Karena Anda menyebutkan yang perlu dikhawatirkan adalah nanti di depan kuartal 2 dan juga kuartal 3 karena tidak ada event
15:27juga.
15:28Iya, begini Mas Ian.
15:31Berbicara Purchase Manager Index, berbicara masalah keyakinan bagaimana ekonomi ke depannya.
15:37Nah, ketika kemudian termasuk indeks keyakinan industri-nya juga.
15:41Ketika kemudian bagaimana sektor permintaan, sektor produksinya juga akan mengalami penyesuaian.
15:48Tentunya ini akan berpengaruh terhadap bagaimana kita manajemen pengelolaan industri.
15:52Nah, satu hal yang paling kita cermati adalah berbicara masalah efisiensi operasional.
15:57Dan sebenarnya begini, PHK ini sebenarnya, satu hal perlu kita garisbawahi Mas Ian.
16:02Oh, ini tidak terjadi secara sistematik sebenarnya.
16:05Ini banyak case by case.
16:06Tapi karena sekali lagi banyak sektor yang terdampak, bahkan kalau kita lihat sebenarnya Mas Ian.
16:12Ini relevansi dengan data lain misalnya.
16:14Bahwa setiap investasi yang masuk sekarang itu cenderungnya lebih banyak pada sektor padat modal, bukan sektor padat karya.
16:21Hal ini didukung oleh misalnya gini.
16:23Kalau misalnya kita berbicara 10 tahun yang lalu Mas Ian, itu setiap 1 triliun uang masuk,
16:27itu menyerap tenaga kerja kira-kira di angka 3.000 tenaga kerja.
16:31Tapi di data terkini tahun 2025, dan saya yakin ini terjadi di 2026 juga,
16:37setiap 1 triliun uang masuk itu hanya mampu menyerap sekitar 1.200 sampai 1.300 tenaga kerja.
16:42Artinya kemudian, memang pola investasi yang masuk selanjutnya adalah berbicara masalah high investment,
16:49berbicara masalah sektor padat modal, dan lain-lain.
16:51Tidak menyasar pada sektor padat karya.
16:53Sehingga kemudian sektor padat karya ini, kalau ingin menjadi engine untuk menjadi job creation,
17:00untuk menjadi mesin penyerap tenaga kerja,
17:02ya pemerintah harus banyak memberikan insentif banyak kepada sektor padat karya.
17:06Problemnya adalah, ruang fiskal di kita ini kan lagi sempit nih tahun 2026 ini,
17:10apalagi masuk ke Q2 dan Q3.
17:12Jadi sekali lagi, yang bisa diharapkan Daudia USA,
17:15kita tidak bisa berharap banyak dengan adanya insentif dari sektor fiskal,
17:19karena sekali lagi fiskal kita berdarah-darah.
17:20Jadi yang bisa dilakukan oleh Daudia USA adalah,
17:22sementara bisa bertahan.
17:23Karena narasi bertahan ini jauh lebih penting daripada sekedar,
17:26bagaimana nih penyerapan tenaga kerja, dan lain-lain.
17:29Tapi saya pikir, perlu dilakukan sebuah komunikasi bersifat bipartit,
17:35antara pemberi kerja dan tenaga kerja.
17:38Sehingga, ketika terbangun sebuah multilatera,
17:41saya pikir PHK juga akan bisa terminis dengan baik, Mas Ian.
17:45Oke, intinya bagaimana caranya para pelaku saya ini bertahan aja dulu begitu ya.
17:50Kalau kita lihat juga data bisa ditampilkan di layar terkait dengan data PHK di tahun ini,
17:58di kuartal pertama dan juga tiga tahun terakhir begitu.
18:01Kita lihat trennya, Pak Ajib, ini meningkat terus.
18:03Bahkan di setiap tahun itu peningkatannya sekitar 10 ribu orang yang di PHK.
18:09Apakah data ini cerminan bahwa dunia usaha tanah air sedang tidak baik-baik saja?
18:15Kita jangan dulu bicara soal kuartal dua deh, Pak Ajib.
18:18Saat ini saja, apakah ini sebuah cerminan dunia usaha tanah air sedang tidak baik-baik saja?
18:23Apalagi tadi juga disinggung soal data PMI kuartal satu juga melambat meski belum level terkontraksi.
18:30Begini, Pak Ajib, kalau kita lihat cerminan dari kuartal satu kita ditopang oleh government spending.
18:36Dan government spending itu kan penyerapan kerja banyak.
18:39Misalnya untuk SPPG di MBG, misalnya sekarang lagi mau ada rekrutmen untuk KDMP.
18:47Tapi kalau masih yang cermati, KDMP, manajer-manajer KDMP yang mau diserap,
18:51itu pun hanya ada cerminan bahwa mereka akan dikontrak selama dua tahun ke depan misalnya.
18:55Karena ini juga kembali melihat kemampuan fiskal kita.
18:57Nah, jadi sekali lagi, bagaimana dengan private sector?
19:01Private sector ini kan tentunya bagaimana kita juga mengandalkan insentif pemerintah yang tepat sasaran, Mas Ian.
19:07Karena begini, di kita ini yang menjadi problem adalah berbicara masalah high cost economy.
19:13Biaya energi kita mahal, biaya logistik kita.
19:16Katakan logistik di rata-rata internasional dan negara maju yang bisa bersaing dan punya kompetitiveness yang bagus,
19:22mereka hanya terbebani 14-an persen misalnya.
19:24Tapi di Indonesia logistik terbebani sekitar 23 persen.
19:28Nah, ini kan variable-variable yang mendorong high cost economy.
19:32Sebenarnya begini, Mas Ian.
19:33Kalau ingin pemerintah lebih bisa mendorong private sector menjadi engine untuk penyerap tenaga kerja,
19:38pemerintah cukup mengeluarkan regulasi yang pro dengan low cost economy.
19:43Jangan terlalu banyak premanisme di lapangan.
19:45Premanisme ini kan kondisi yang cukup mengkhawatirkan di lapangan, Mas Ian.
19:51Bagaimana biaya-biaya under table kita ingin banyak.
19:53Nah, poinnya adalah kita ingin menyampaikan,
19:55pemerintah harus mendorong namanya low cost economy kalau ingin terkonversi menjadi penyerapan tenaga kerja.
20:01Kira-kira begitu.
20:02Karena biaya-biaya yang dikeluarkan oleh dunia usaha pada sektor-sektor yang membuat biaya ekonomi tinggi inilah kemudian
20:08membuat pengusaha nggak mampu untuk menyerap tenaga kerja lebih banyak.
20:10Dan ini banyak sekali.
20:12Bagaimana fenomena-fenomena di lapangan, premanisme yang ada.
20:15Itu sektor pengusahanya, Mas Ian.
20:18Sekarang kita begini deh, kita sudut pandang demand-nya deh, kita sudut pandang masyarakat deh.
20:24Misalnya nih, orang mau beli hal serhana di lapangan.
20:27Orang mau beli di minimarket misalnya, disitu bayar parkir yang nggak kepakai,
20:33dia belanja Rp10.000, dia bayar parkir Rp2.000.
20:36Misalnya ini kan high cost economy dan orang jadi enggak untuk balik.
20:39Ini kan membuat pemputaran ekonomi secara formal kita berkurang.
20:43Dan bahkan skala yang agak naik dikit misalnya,
20:47adanya beberapa restoran yang parkirnya ditutup oleh LSM-LSM daerah.
20:54Itu kan bentuk membuat ekonomi biaya tinggi.
20:57Karena ketika orang mau belanja, mereka belanjanya Rp15.000 atau Rp10.000,
21:03mereka parkir Rp2.000.
21:0410-20% untuk biaya yang kebuang, Mas Ian.
21:08Yang nggak masuk ke sektor formal.
21:10Kondisi-kondisi ini yang diharapkan oleh Bina Usaha, Mas Ian.
21:12Sehingga pemerintah bisa mendorong namanya low cost economy,
21:15sehingga setiap produk peranian jasa yang bisa kita lakukan itu mempunyai daya saing yang lebih baik.
21:20Dan itu bisa terkonsumsi menjadi penambahan terakhir kerja
21:23dan menjadi job creation yang lebih berkualitas.
21:25Begitu, Mas Ian.
21:26Berarti ini ada keterkaitan yang sangat erat dengan mendukung low cost economy,
21:31dengan penyerapan tenaga kerja begitu ya Pak Ajib.
21:34Kalau kita lihat juga data, tadi ada yang sudah dirilis oleh BPS
21:37terkait dengan daerah mana saja yang terbesar penyumbang angka PHK.
21:41Kita lihat ada Jawa Barat, Kalimantan Selatan, Kaltim, Banten, dan juga Jawa Timur.
21:46Ini jadi lima besar provinsi penyumbang angka PHK terbesar.
21:50Menurut Anda mengapa demikian?
21:52Begini, kita harus analisa secara lebih mendalam.
21:56Tapi kalau berbicara Kalimantan Selatan, hampir pasti itu karena sektor tambang.
21:59Karena RKB belum keluar, sehingga sudah pasti aktivitas penambangan juga sementara akan mengalami freezing di sana.
22:06Kemudian kalau berbicara Jawa Barat, Jawa Timur, itu memang banyak relokasi pabrik sebenarnya.
22:11Kalau kita lihat, termasuk kemarin kita lihat Pak Prabowo kan banyak meresmikan pabrik di Jawa Tengah misalnya.
22:16Yang pabrik ada yang di Magelang, ada yang di Temanggung, dan lain-lain.
22:20Yang begitu ada relokasi pabrik, kalau berbicara penambahan pabrik, berbicara penambahan drakerja.
22:26Begitu berbicara relokasi, memang di Jawa Tengah akan naik.
22:29Tapi akibatnya apa? Jawa Barat juga akan mengalami PHK.
22:31Nah, kondisi-kondisi itu yang kemudian harus disikapi juga bukan segera oleh pemerintah pusat, mas Jan, tapi juga oleh pemerintah
22:39daerah.
22:39Jadi pemerintah daerah juga harus memberikan insentif yang tepat sasaran, sejalan dengan program dari pusat.
22:45Karena kalau kemudian pusat memberikan insentif, pusat memberikan regulasi-regulasi yang pro dengan investasi,
22:52tapi tidak diikuti oleh langkah dari daerah, maka tentunya, kayak tadi, pabrik itu hanya akan relokasi, pabrik hanya akan pindah.
23:00Jadi sekali lagi, bagaimana pemerintah daerah juga harus memberikan insentif yang tepat sasaran,
23:05harus memberikan tingkat keamanan dan kenyamanan buat usaha.
23:09Karena begini, Mas Ian, berbicara usaha, ini bukan berbicara masalah setahun dua tahun.
23:13Orang ketika berbicara mengeluarkan capital expenditure di suatu daerah,
23:17mereka berbicara lima, sepuluh, lima belas tahun lagi, sampai payback periodnya tercapai,
23:22kemudian mereka mendapatkan untung, dan lain-lain.
23:24Berbicara lima, sepuluh tahun ke depan, Mas Ian, ini berbicara masalah keyakinan.
23:28Ini berbicara masalah, bagaimana pemerintah daerah juga bisa men-support dengan baik.
23:32Jadi harapan dunia usaha, Mas Ian, adalah bagaimana pemerintah daerah juga sejalan dengan pemerintah pusat
23:38untuk bisa mendorong istilahnya itu lingkungan dan ekosistem yang business friendly.
23:44Karena itu yang akan diuntungkan adalah kembali kepada karyawan dan tenaga kerja, Mas Ian.
23:48Pak Acik, terakhir, dan boleh singkat saja, apakah menurut Anda ataupun merasa kebijakan-kebijakan pemerintah saat ini cukup mendukung pelaku
23:55usaha,
23:56dan apa rekomendasi Anda kepada pemerintah agar gelombang PHK bisa diminimalisasi?
24:02Berbicara regulasi, Mas Ian, adalah berbicara masalah konsistensi kebijakan dari pusat dan tataran aturannya.
24:09Kalau kemudian Presiden berbicara punya program astacita yang bagus,
24:13jajaran rabinetnya itu harus bisa menerjemahkan dengan baik dan maksimal.
24:16Jadi harapan dunia usaha adalah pemerintah konsisten menerjemahkan aturan-aturan yang pro dengan pertumbuhan dan pro dengan pemerataan
24:25dan ekosistem yang business friendly, serta mendorong low cost ekonomi sehingga kita punya daya saing yang lebih baik
24:30dan penyerapan tenaga kerja yang lebih berkualitas. Demikian, Mas Ian.
24:34Baik lagi ya, mendukung low cost ekonomi dan juga ujung-ujungnya ke penyerapan tenaga kerja.
24:40Dan kita sama sekali tidak berharap bahwa angka PHK akan terus naik,
24:43karena memang kondisi ekonomi yang saat ini juga sangat tekanannya, sangat ada di mana-mana, global dan juga domestik.
24:50Terima kasih Haji Hamdani, analis kebijakan ekonomi dari Apindo, atas waktunya bersama kami di Kompas Bisnis Sehat Selalu Pak.
Komentar