Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa membeberkan strategi Amerika Serikat dalam menghadapi perang dengan Iran.

"Waktu saya di IMF-World Bank, ada sesi Menteri Keuangan Amerika menceritakan strategi yang akan mereka lakukan untuk mencapai perdamaian dengan Iran. Tapi kalau saya lihat, isinya sepihak," ujar Menkeu Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita pada Selasa (5/5/2026).

"Seolah-olah Iran diperlakukan sebagai pihak yang kalah perang dengan tuntutan Amerika yang tegas ini, ini, ini. Hitungan saya, kan belum kalah perang, jadi pasti tidak akan tercapai perjanjian itu. Jadi kita mesti siap dengan konflik berkepanjangan dan harga minyak yang masih akan bertahan cukup lama," lanjutnya.

Baca Juga Reaksi Menkeu Purbaya soal Data BPS Ekonomi RI Tumbuh 5,61%: Kita Lepas dari "Kutukan" di https://www.kompas.tv/ekonomi/667107/reaksi-menkeu-purbaya-soal-data-bps-ekonomi-ri-tumbuh-5-61-kita-lepas-dari-kutukan

#purbaya #apbnkita #breakingnews #menkeu #iran #as


Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/667108/buka-bukaan-menkeu-purbaya-beber-proposal-damai-as-ke-iran-saat-di-imf-isinya-sepihak
Transkrip
00:02Ini dinamika global, kita gak bisa apa-apa tentang dinamika global karena kita gak bisa kontrol.
00:13Waktu saya di IMF World Bank, itu ada sesi Menteri Keuangan Amerika menceritakan strategi yang akan mereka lakukan
00:29untuk mencapai kode-kode perdamaian dengan Iran.
00:34Tapi kalau saya lihat, isinya sepihak seolah-olah Iran diperlakukan sebagai pihak yang kalah perang
00:46dengan tutupan Amerika yang tegas, ini, ini, ini.
00:51Hitungan saya kan belum kalah perang.
00:55Pasti gak akan tercapai perjanjian itu.
00:58Jadi kita mesti siap dengan konflik berkepanjangan dan harga minyak yang masih akan bertahan cukup lama.
01:07Saya pikir tadinya sebulan-dua bulan selesai perang ini, rupanya enggak.
01:15Mimpin-mimpin dunia itu masih kurang bujak juga rupanya.
01:20Jadi itu yang kita hadapi sekarang.
01:21Jadi makanya setiap effort yang bisa mengurangi konsumsi minyak dalam negeri, kita akan kerjakan.
01:32Ini apa di sini?
01:33Ya harga minyak tinggi ini setelah semuanya batu bara, masih rendah, sempat tinggi juga rendah.
01:38Terus CPO juga agak naik sedikit, tembaga agak naik, nikel, naik enggak tinggi-tinggi amat, emas naik tinggi sempat turun.
01:48Tapi yang menjadi concern kita terutama adalah minyak.
01:52Karena ini mengaruhi APBN saya.
01:55APBN saya sudah hitung dengan harga minyak sampai rata-rata 100 dolar perbaru sampai akhir tahun, jadi masih aman.
02:04Saya kalau dipakai klarifikasi lagi di sini, ada yang bilang uang saya tinggal 102.
02:11Sudah saya dalam berkat kali itu, saya pindahin aja 300 ke bank.
02:23Masih uang saya, ada saya dengar kemarin, bank, uangnya kan udah ada bentuk pinjaman-pinjaman ke tempat lain kan?
02:33Sehingga enggak ada lagi di bank, kalau enggak bisa ditarik.
02:37Bagaimana pikir, kalau bank ngasih pinjam satu perusahaan, 10 triliun misalnya, perusahaannya dapet 10 triliun kan?
02:47Uangnya taruh di mana?
02:50Bank lagi.
02:53Jadi ada proses penyiptaan uang di situ, jadi uangnya enggak berkurang.
02:58Ya, memang kalau saya tarik sekaligus mungkin banknya agak kagak, tapi uangnya masih di situ, enggak ada masalah.
03:04Kemudian kita sudah komunikasi dengan bank sentral ya Pak ya, untuk men-smoothing hal itu kalau emang kita perlukan menarik
03:13uang dalam jumlah banyak.
03:14Tapi dalam waktu dekat itu enggak akan terjadi karena itu emang salah enggak akan kita pakai.
03:21Sementara pendapatan pajak kita masuk terus dari bulan ke bulan dan sampai sekarang masih sesuai dengan rencana anggaran kita.
04:04Berikutnya, jadi
04:04Next, next
04:04Kita itu amat kuat.
04:07Itu nomor dua tuh, kalau sebelah kanan tuh.
04:09Perbayangkan tanah energi terhadap krisis energi global.
04:13Kalau ada krisis global, kita nomor dua paling kuat dibanding negara-negara lain.
04:17Makanya dari Amerika, dari China, dari Australia, dan lain-lain.
04:23Ini keluaran dari mana?
04:26Ini siapa nih?
04:28World Bank, bukan ya?
04:29JP Morgan.
04:32ADB juga melakukan hal yang sama, studi yang sama.
04:35Cuman mereka enggak bisa publish, karena kalau mereka publish, nanti negara-negara yang di bawah goncang.
04:41Katanya ya, mereka yang di bawah enggak minta jangan di publish.
04:44Tapi official ABDB bilang sama saya, kita di atas, mungkin di top dua juga.
04:50Jadi, di tengah krisis energi dan krisis global ini, kita fondasinya amat kuat.
05:05Jadi, enggak usah takut, enggak usah takut.
05:10Kita perlu concern, tapi enggak usah khawatir berlebihan.
05:16Apalagi yang di luar bilang kita mau hancur, mau ingin ini, mau ingin ini.
05:22Kisikan itu, mereka tidak punya data yang akurat.
05:28Mungkin 97-98 juga sebagian belum pada lahir tuh.
05:31Terus menganalisa, tapi tidak lihat pada waktu itu apa yang terjadi di ekonomi kita.
05:37Mereka prediksi, 98 akan terjadi kan katanya.
05:41Anda perhatikan, 98 jatuh pemerintahan setelah ekonomi resesi selama satu tahun penuh.
05:54Kita sekarang baru-baru resesi, masih ekspansi, masih akselerasi.
06:03Jadi, itu kondisi sekarang.
06:04Jadi, kalau itu bikin-bikin cerita, jangan asal bikin cerita.
06:09Lihat data yang betul.
06:11Datanya seperti itu, karena saya mengamati ekonomi dari waktu ke waktu.
06:14Jadi, kondisi kita stabil, aman.
06:19Ada tantangan, ya.
06:21Tapi kita monitor terus, akan kita perbaiki terus dari waktu ke waktu.
06:25Kita akan pastikan dan pastikan diman kita kuat, dan kita pastikan juga daya saing barang kita di luar lagi akan
06:31bagus.
06:31Saya akan panggil perusahaan-perusahaan teksil, sepatu, yang membutuhkan permajaan mesin segala macam akan saya kasih bunga rendah lewat program
06:43dari Lembaga Penjamin Ekspor Indonesia.
06:46Nanti saya akan tanyakan ke kemudian penelusian, perusahaan-perusahaan mana saja yang butuh itu.
06:51Jadi, kita akan lebih aktif menghidupkan private sector.
06:57Karena private sector menurutkan kontribusinya berapa?
07:0190% ke ekonomi yang tersebut.
07:04Next.
07:07Ini, surpus meraca perdagangan menopang ketahanan ekonomi Indonesia.
07:13Itu.
07:16Di tengah kejelak seperti ini,
07:19barang kita masih bersaing di pasar global.
07:22Ini kita lihat, raca perdaganya, surplus terakhir berapa?
07:283,32 miliar dolar di bulan itu net-nya.
07:38Kalau nilai garis hitam itu kan, surplus terus sepanjang tahun.
07:43Jadi, kondisi eksternal belum pengaruhi secara negatif ekonomi kita.
07:51Ini surplus berarti kita masih bisa bersaing di pasar global.
07:55Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan