Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 50 menit yang lalu
JAKARTA, KOMPASTV - Upaya meredakan ketegangan di Selat Hormuz dinilai tidak cukup hanya mengandalkan satu jalur diplomasi.

Keterlibatan negara besar seperti China dan Rusia disebut dapat menjadi kunci untuk menekan Iran agar membuka jalur vital tersebut.

Pengamat militer Anton Aliabbas menilai, jika pendekatan langsung Amerika Serikat kepada Iran mengalami kebuntuan, maka opsi lain perlu segera ditempuh.

"Jadi memang pilihannya adalah kalau misalnya sama Iran buntu, apalagi kalau dia belum ada yang mau tidak mau, memang dia harus berbicara dengan yang selama ini menopang Iran. Adalah salah satunya adalah ada Rusia atau China atau keduanya.," ujar Anton dalam dialog KompasTV, Jumat (24/4/2026).

Sementara itu, pengamat senior Timur Tengah Musthafa Abdul Rahman menekankan bahwa kunci utama penyelesaian konflik tetap berada di tangan Amerika Serikat.

Ia menyebut, Iran berpotensi membuka kembali Selat Hormuz apabila Washington mencabut blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.

"Kalau Amerika mencabut blokadenya, Iran juga akan membuka Selat Hormuz. Jadi kuncinya ada di Washington," ujarnya.

Musthafa menambahkan, keterlibatan negara lain seperti China dan Rusia tetap akan berdampak positif, terutama dalam memperkuat upaya mediasi yang saat ini dijalankan Pakistan.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Produser: Yuilyana

Thumbnail Editor: Joshua

Baca Juga Jawaban Trump saat Ditanya Apakah akan Menggunakan Senjata Nuklir Terhadap Iran di https://www.kompas.tv/internasional/664963/jawaban-trump-saat-ditanya-apakah-akan-menggunakan-senjata-nuklir-terhadap-iran



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664975/blokade-hormuz-berlarut-opsi-diplomasi-as-ke-china-dan-rusia-menguat-ini-kata-pengamat
Transkrip
00:00Kemudian saya ke Mas Anton, jika bola ini ada di Amerika Serikat tapi tetap dia tidak mau melepas gitu ya,
00:06blok ada di Selat Hormuz, mungkin adakah cara lain misalnya mengoper bola ke Tiongkok untuk menekan Iran juga membuka Selat
00:13Hormuz, Mas?
00:14Ya, ini tadi saya bilang, ketika tadi Pak Mustafa sedang ingatkan bahwa nanti presenya akan melebar gitu.
00:21Jadi ketika melebar, kalau misalnya ke Semenanjung Teluk, negara-negara Teluk juga terdampak.
00:26Kalau bagi Tiongkok kan Tiongkok tidak terlalu banyak terdampak dari sini.
00:31Tapi negara-negara sekitar, ada Asia Timur, misalnya ada yang Jepang, Korsel, lalu juga ada negara-negara Teluk,
00:37apalagi kalau misalnya sampai blokade itu merempet ke Selat Bapel Mandep yang di bagian bawahnya itu kan buat gangguannya jauh
00:44lebih besar gitu.
00:45Jadi memang kemudian mau tidak mau, Amerika Serikat harus mencari cara sebenarnya, mencari cara.
00:52Apakah misalnya Pakistan saja cukup? Bagi saya sih belum cukup.
00:57Kenapa? Karena Pakistan kemudian misalnya itu kan bisa dianggap berat sebelah.
01:00Karena dia cuma hanya memprace gitu ya, mengucapkan terima kasih kepada misalnya pihak Amerika Serikat gitu ya,
01:07yang sudah untuk extended unilateral ceasefire tanpa ada.
01:11Kemudian dia memprace misalnya atau mencoba mempujuk gitu ya,
01:15bermurah hati pujian kepada Iran misalnya, bagaimana kemudian ingin melunakan Iran gitu.
01:20Tapi, ya itu satu. Kedua memang, apakah kemudian misalnya untuk mencolek Ir, mencolek Cina atau mencolek Rusia,
01:30itu hal yang mungkin. Karena bagaimanapun juga kan, yang mempujuk Iran selama ini adalah dua negara itu.
01:35Jadi dua negara itu memang bisa untuk kemudian diajak duduk berunding.
01:39Jadi ketika misalnya Irannya tidak mau, kemudian mereka diajak duduk berunding,
01:44bagaimana kemudian bisa membujuk Iran untuk duduk.
01:46Tapi kan problemnya, apakah Amerika Serikat Trump mau gitu?
01:49Trump kan memang punya rencana untuk kemudian bertemu sama si Jinping di pertengah ini.
01:54Apakah kemudian dia ingin membuka mencari cara itu?
01:57Ya, itu adalah saksesnya. Bagi saya sih, untuk membuka percakapan dengan Cina,
02:02itu adalah lebih cepat jauh lebih baik. Kenapa?
02:05Karena tadi ini, kos ini, kalau misalnya dia akan semakin tinggi, akan semakin sulit untuk dikendalikan.
02:10Jadi memang pilihannya adalah, kalau misalnya sama Iran buntu gitu, apalagi kalau dengan blokade,
02:14yang mau tidak mau memang dia harus berbicara dengan yang selama ini menopang Iran.
02:18Adalah salah satunya adalah Rusia, atau Cina, atau keduanya.
02:21Karena bagi saya, kemudian bisa jadi yang melunakan Iran adalah mereka berdua.
02:25Karena bagi Iran, yang dia akan butuh kepastian kan adalah ada assurance, ada jaminan.
02:31Siapa yang bisa menjamin bahwa nanti Amerika Serikat, Trump, itu tidak melakukan serangan seperti ini lagi.
02:36Jadi kan, jaminan itu bisa saja kemudian diberikan oleh Trump kepada negara-negara yang selama ini menyokong Iran.
02:43Entah itu Cina atau Rusia, masalahnya mau nggak Amerika untuk melakukan itu, bernegosiasi yang juga tidak langsung.
02:49Karena toh, dengan Pakistan juga kan, sebenarnya negosiasinya juga tidak langsung.
02:54Mereka tidak langsung berhadapan-hadapan, tapi dengan messenger yang namanya Pakistan.
02:58Jadi bisa saja kemudian messenger-nya diubah, entah itu nanti dengan Cina, atau dengan Rusia.
03:03Atau Rusia misalnya sudah diberikan oleh Trump dengan mencabut sebagian sanksi embargo untuk minyak misalnya.
03:11Nah, ini bagaimana?
03:12Jadi bagi saya memang salah satu back channel yang lain yang juga bisa dimanfaatkan tentu saja adalah siapa yang selamanya
03:18menopang Iran.
03:19Namanya tentu ada Cina dan Rusia.
03:21Problemnya lah, mau nggak Amerika Serikat?
03:23Misalnya nanti dalam kunjungan yang kemudian dipercepat, kemudian dia membuka opsi itu untuk perdamaian.
03:28Bagaimana menegosiasikan sepuluh itu, lalu dengan Cina, dengan apa namanya, atau dengan Rusia.
03:35Walaupun ada, tentu saja nanti akan ada bunga-bunga kompensasi apa yang mereka dapatkan.
03:39Itu adalah bagian dari, kemudian dari negosiasi, bagian dari bunga yang akan bisa diambil oleh seorang messenger.
03:48Itu adalah kan pilihan.
03:49Tapi bagi saya adalah salah satu channel lain, kalau memang kita ingin memperkaya, tidak hanya terpaku pada Pakistan misalnya,
03:55ya tentu saja adalah pilihannya adalah kepada Rusia atau kepada Cina.
03:59Karena mereka lah selama ini yang bisa, yang didengarkan oleh Iran.
04:02Jadi belum tentu, tapi yang didengarkan oleh Iran.
04:05Dan Iran tentu saja yang selama ini juga ngerasa banyak dibantu ketika Iran yang lebih dari 40 tahun dapat sanksi,
04:12ya dua negara besar itulah yang banyak membantu Iran.
04:14Jadi bagi saya, memperkaya channel-channel untuk membangun perdamaian itu menjadi kunci.
04:22Itu pilihan.
04:22Amerika tuh sudah pernah melakukan komunikasi.
04:24Jadi Trump sudah pernah melakukan komunikasi dengan Putin.
04:27Why not dengan Cina?
04:28Kenapa enggak untuk kemudian percakapan itu kemudian lebih diinstitusionalisasi dan lebih diperkaya dan lebih diperkuat.
04:35Bagi saya itu pilihan-pilihan yang rasional, Mas Brey.
04:38Oke, nah kalau menurut Pak Mustafa, bagaimana Pak?
04:40Ini dengan Pakistan sebagai mediator sepertinya kok belum menunjukkan progres gitu ya.
04:45Apakah tadi kita perlu ngajak juga Rusia dan juga Tiongkok untuk berundi dengan Amerika Serikat?
04:50Apakah ini bisa menjadi jalan keluar atau justru semakin rumit nanti?
04:54Karena tentunya tadi kata Pak Anton juga banyak syarat-syarat lain ya pasti yang akan mengikuti gitu.
05:00Ya tentu.
05:01Bagaimanapun sekarang Pakistan itu sebagai mediator inti ya.
05:05Jika ada negara lain, apalagi sekelas Cina dan Rusia yang punya hubungan sangat baik dengan Iran ya.
05:15Ikut terlibat baik langsung maupun tidak langsung.
05:19Ya tentu ini positif.
05:20Sekarang itu kita cari siapalah sekarang yang bisa mencairkan situasi di Tiongkok di Selat Rombos ini.
05:26Siapa? Kita, Eropa, Cina, silahkan.
05:32Siapa yang bisa membantu Pakistan misalnya?
05:35Atau misalnya mereka melobbi langsung Amerika atau Iran.
05:39Kalau Iran saya kira mudah mas ya.
05:41Jadi kalau misalnya Iran, asalkan Amerika mencabut blokade-nya ke pelabuhan-pelabuhan Iran saat ini ya.
05:48Hari ini pun juga, apa namanya, Iran akan mencabut blokade-nya terhadap selat rombos.
05:54Iran akan mengumumkan bahwa selat rombos terbuka lagi.
06:01Asalkan Amerika juga mengumumkan mencabut blokade-nya.
06:05Jadi tadi kembali kuncinya ada di Washington DC.
06:08Dan sepertinya katakan tadi, ada upaya Pakistan yang terus-menerus ya.
06:12Untuk mencari titik temu ini.
06:15Termasuk tadi usulan supaya Amerika membebaskan awak kapal kargo Tuska milik Iran.
06:23Ini salah satu upaya Pakistan, walaupun belum tentu juga.
06:27Jika ada negara lain ingin memperkuat upaya Pakistan ini, tentu diharapkan.
06:33Disambut positif ya, siapapun.
06:34Misalnya China, atau misalnya Rusia, atau lainnya.
06:40Silahkan.
06:41Jadi sekarang itu bagaimana segera mungkin krisis selat rombos ini selesai.
06:47Terus kemudian Pak Mustafa, jika memang sekarang mungkin ada pembicaraan yang berlangsung di balik layar gitu.
06:55Antara Pakistan, Amerika Serikat, dan juga Iran.
06:58Nanti jika memang terwujud ada negosiasi tahap kedua gitu.
07:02Apakah memang di sini Pakistan menjadi kuncinya untuk membuat draft kesepakatan antara kedua belah pihak atau seperti apa Pak?
07:07Nah, kalau proses yang terjadi seperti sekarang, bagaimana Pakistan ini adalah menjadi mediator utamanya ya.
07:19Tentu Pakistan akan berperan untuk menyusun draftnya.
07:23Kalau sudah ditemukan titik-titik temunya antara Amerika dan Iran.
07:29Misalnya untuk mencari penyelesaian secara komisi, tidak mungkin dalam waktu yang singkat ini.
07:35Misalnya tercapai semacam kesepakatan kerangka atau garis umum lah dulu ya.
07:42Selanjutnya untuk rinciannya, detailnya, dilanjutkan pada perundingan-perundingan berikutnya yang butuh waktu lama.
07:50Coba bayangkan ya, ketika Amerika dan Iran mencapai kesepakatan krisis pada tahun 2015 itu,
07:58itu prosesnya panjang mas, hampir dua tahun baru tercapai kesepakatan kerangka pada bulan Juli itu.
08:06Yang kemudian dibatalkan secara sepihak oleh Trump.
08:08Jadi apalagi sekarang persoalannya lebih rumit lagi daripada tahun 2015.
08:11Sekarang ada isu slat hormos, ada isu kompensasi, kemudian sekarang menyangkut pangkalan Amerika yang tersebar di kawasan Arab Teluk itu.
08:20Jadi semakin rumit sekarang itu.
08:22Jadi yang sebelum perang ini sebetulnya jauh lebih sederhana, tapi akibat serangan Amerika dan Israel terhadap Iran yang terakhir ini,
08:32isunya semakin rumit dan solusinya semakin tidak mudah dan ini tidak bisa diselesaikan dalam waktu singkat.
08:39Maka yang dituntut sekarang itu, bagaimana Amerika dan Iran itu mencapai kesepakatan kerangka dulu, garis umum dulu.
08:47Kemudian dilanjutkan ke perundingan secara detail yang ini butuh mungkin bulan-bulan.
08:52Itu dia ya, sudah negosiasi pun mencapai kesepakatan, bisa mencapai tahunan gitu waktunya.
08:57Paling tidak harus ketemu dulu antara mereka berdua ini dan tentunya langkah dari Amerika Serikat untuk bisa membuka slat hormos
09:03agar Iran mau berunding, kita nantikan bersama-sama.
09:06Terima kasih Pak Mustafa Abdul Rahmat, pengamat senior Timur Tengah dan juga Mas Anton Ali Abbas, pengamat militer dari SED,
09:12sudah bergabung bersama kami di Sapa Indonesia Pagi.
Komentar

Dianjurkan