00:00Ada pemerintah yang dinilai tidak baik, ya gantilah pemerintah itu, ada mekanismenya.
00:12Dengan baik, dengan damai, bisa melalui pemilihan umum, tidak ada masalah.
00:21Bisa juga melalui impeachment, tidak ada masalah.
00:27Tapi impeachment, ya melalui saluran. Ada salurannya. DPR, MK, MPR.
00:40Masih di satu menjadi forum, Bung Budiman, tadi kita dengar pernyataan dari Presiden bahwa, ya boleh dikritik.
00:48Bicara impeachment asal prosedural bagian dari diskusi publik sebagai, saya sebut sekeliling, sebagai orang yang akhir-akhir ini dekat dengan
00:56Presiden Prabowo.
01:18Ini dihambalang saat berdiskusi menjawab pertanyaan Najwa, ya. Saya kira itu sudah jelas.
01:22Sudah clear.
01:23Sudah clear, ya.
01:23Nah, kaitannya dengan sosok Pak Prabowo sendiri yang kaitannya dengan anti-kritik.
01:27Padahal tadi statementnya kan mengatakan, oh biasa saja, Anda mungkin punya...
01:31Maaf ya, dari 98 Presiden Indonesia, Pak Prabowo saya kira satu dari beberapa Presiden yang punya tradisi dan literasi...
01:40Diaktika?
01:43Diskusi?
01:44Diskusi pemikiran, ya.
01:46Ini berangkat dari pengalaman Anda?
01:48Pengalaman saya, ya pengalaman saya, saya kira beliau adalah satu dari beberapa Presiden yang tradisinya adalah tradisi intelektual, wawasan global,
01:57ya.
01:58Kemudian, tapi ngerti you strategis dan punya keperluan terhadap masalah-masalah kerakyatan.
02:05Dan sangat terbuka untuk menerima masalahan.
02:08Saya nggak mau beriklan terlalu banyak, ya.
02:10Tapi Anda bisa lihat bahwa bagaimana...
02:12Saya berikan tempat Anda sebagai orang paling dekat.
02:14Rekaman yang bisa disesai oleh banyak orang, bagaimana menjawab pertanyaan dari soal ekonomi, geopolitik, sejarah, sampai kemudian soal Andri Yunus,
02:23segala macam.
02:23Saya pikir, very knowledgeable person.
02:26Saya secara pribadi, saya ingin mengatakan, saya secara pribadi, ingin mengatakan bahwa sebagai seorang aktivis, sebagai seorang yang suka diskusi,
02:34suka berdebat,
02:35Karena saya kok merasa, bukan sekedar secara politik saya cocok dengan program-program prokrayatannya,
02:43tapi juga cocok dengan cara dia, Pak Prabowo, mengelola komunikasi di antarmenterian.
02:51Contoh, setiap rapat kabinet selalu saya bagi dua.
02:54Pak Prabowo sebagai guru besar, seperti ngasih, studium general, lecture.
03:00Kedua, Pak Prabowo sebagai komander.
03:03Tapi sebelum sebagai komander, ada jelah.
03:06Pertama, sebagai seorang guru besar yang ngasih, lecture tentang kondisi ekonomi, geopolitik, sosial, masyarakat.
03:12Setelah itu, dia sebagai fasilitator diskusi.
03:14Menterinya disuruh berdebat, disuruh diskusi.
03:18Pak Prabowo memfasilitasi seperti moderator.
03:20Tahap ketiga, selalu komentar rapatnya tiga jam.
03:23Jam terakhir adalah sebagai komander.
03:25Tidak sampai satu jam.
03:26Oke, putusannya hasil diskusi ini.
03:28Jadi, saya tidak bisa membandingkan apakah Pak Jokowi seperti itu.
03:33Sekarang saya belum pernah menjadi kabinetnya.
03:35Saya tidak pernah bisa membandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya.
03:38Tetapi menurut saya, tiga unsur sebagai seorang intelektual,
03:42sebagai seorang moderator,
03:44dan di ujungnya sebagai seorang moderator.
03:46Jadi, Anda mau bilang bahwa kalau Pak Prabowo dan pemerintah ini bukan tidak tepat disebut sebagai antikritik.
03:52Saya sesuai dengan beliau kadang-kadang mengutip sesuatu yang saya pikir orang Indonesia yang tidak mengerti.
03:56Tapi beliau mengerti.
03:57Saya pikir, jarang intelektual Indonesia tahu ini, Pak Prabowo mengerti tidak?
04:00Terusnya, beliau tidak mengerti.
04:01Kita bicara tentang sejarah, luar negeri, tentang perang saudara Spanyol,
04:05tentang perang dunia kedua, tentang New Deal, tentang Chile, tentang macam-macam.
04:09Oh, ngerti, Pak Prabowo ini.
04:11Sayang, punya presiden seperti ini.
04:13Sayang, Indonesia 280 juta.
04:16Sayang, kita lagi punya presiden seperti ini.
04:18Ujuk-ujuk, belum paro pertama masa pertama kepresidenannya,
04:24sudah dicap anti-kritik.
04:26Saya kira, sayang ya, saya.
04:28Saya ingin memberikan kesempatan kepada Bukubet yang kundari tadi.
04:33Oh, saya kok tetap dilaporin, katanya.
04:35Oh, iya.
04:37Gimana, gimana.
04:37Saya justru melihat realitas yang berbeda.
04:41Saya juga tidak pernah melihat satu perdebatan intelektual antara Prabowo dengan para menterinya di sedang kabinet.
04:49Saya tidak melihat itu.
04:51Yang dilihat adalah bicara panjang Prabowo,
04:54lalu tanya jawab singkat, dan tidak ada perdebatan mendalam.
04:59Kemudian, artinya secara empirik yang saya lihat,
05:02pernyataan Bumbu Diman itu menjadi tidak berlaku.
05:07Kemudian, yang kedua saya koreksi juga ketika mengatakan bahwa di negara demokrasi yang sebelumnya tadi,
05:12bahwa boleh represi atau represi tidak ada di negara demokrasi.
05:16Menurut saya, dalam banyak studi ilmu pengetahuan politik,
05:22ciri negara demokrasi itu tidak ada membenarkan represi itu.
05:27Jadi, kita masuk dalam konteks idealitas teoretiknya.
05:30Tidak ada.
05:31Artinya, bahwa tindakan represi itu tidak dibenarkan dalam konteks demokrasi.
05:36Bahkan represi itu, ya, tidak kompatibel dengan demokrasi.
05:40Yang mungkin bisa dilihat justru pada fungsi negara yang punya fungsi koersif dalam titik tertentu.
05:47Jadi, tapi demokrasi tidak membenarkan sikap represi itu.
05:50Anda tadi menyebut kata represi, Anda melihat secara gamblang.
05:55Karena represi itu masih terlihat sampai hari ini.
05:57Selain-selain pada pelaporan-pelaporan, para cendikiawan, juga terhadap Andri Yunus tadi.
06:04Nah, tadi saya juga sempat dengar pengkurniawan bilang bahwa 73 persen masyarakat kita menyebut negara ini demokrasi.
06:15Itu data kuantitatif, ya.
06:17Artinya, ya, survei, ya, mayoritas memilih rezim sekarang, ya, itu rasional begitu.
06:25Tetapi, data kuantitatif yang mengatakan 73 persen masyarakat menyebut demokratis itu menjadi batal juga.
06:31Kalau kita menggunakan analisis kualitatif bahwa ada penyeraman air keras terhadap Andri Yunus, ada pelaporan-pelaporan terhadap para aktivis, ada
06:42represi di bulan Agustus yang menangkap hampir seribu orang, gitu.
06:46Itu adalah data-data kualitatif yang membatalkan kesimpulan kuantitatif.
06:53Karena itu menurut saya, persepsi negara tentang demokrasi itu mesti membuat mixed method itu, antara data kuantitatif dengan kualitatif.
07:01Sehingga kita bisa melihat, karena begini, data kuantitatif yang mengatakan 73 persen itu, itu semua bisa batal hanya gara-gara
07:10ada penyeraman air keras, gitu.
07:11Jadi menurut saya, itu saya perlu koreksi. Cara kita melihat demokrasi tidak seperti ini.
07:15Ini cara membaca data tadi yang saya survei.
07:18Tapi gini, sebelum nanti kita lanjutkan, kita dengarkan dulu ada satu statement dari Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa kita harus
07:25siap dikritik, kita siap dikontrol, diawasi.
07:29Kita dengarkan dulu.
07:34Kita harus mau diawasi.
07:37Kita harus mau dikoreksi.
07:39Kita harus mau dikritik.
07:41Sudah-sudah, tapi kritiknya yang benar.
07:47Jangan kritik berdasarkan dendam.
07:51Tidak ada Presiden Republik Indonesia yang punya tongkat Nabi Musa. Tidak ada.
08:00Negara kita sangat besar.
08:04Sudah kita mulai bergelar sekian ratus, sekian...
08:07Masih ada yang komentar.
08:09Iya, tapi belum banyak.
08:12Oke, saya ke Bung Kurnian.
08:16Karena tadi disampaikan oleh Bung Ubet bahwa, ya jangan salah membaca antara data kuantitatif dengan ada kualitatif.
08:26Peristiwa-peristiwa yang sangat gamblang di depan publik.
08:29Ada kekerasan kepada aktivis, kemudian ada yang dilaporannya gara-gara berpendapat berbeda dengan...
08:37Sementara satu sisi Presiden juga di tempat rungu juga mengatakan bahwa kita harus setiap dikritik.
08:42Anda mau menyampaikan apa sebetulnya?
08:44Iya, Mas Yogi.
08:45Sesuai dengan tema diskusi kita ini kan menjaga, menjawab krisis dengan kritis dan logis.
08:51Jadi kritis dan logis itu harus ada benang merahnya, Mas Yogi.
08:56Misalnya, tadi disampaikan penyiram alai keras, pelaporan langsung melompat ke Presiden Prabowo yang anti-kritik dan tidak tergambar data kuantitatif
09:08tadi.
09:08Padahal, padahal di dalam forum Presiden Prabowo menjawab itu, pertanyaan Mbak Najwa dijawab oleh Presiden,
09:19apakah ucapan atau untayan kalimat Presiden dalam forum itu menyelesaikan masalah?
09:25Tidak, Mas Yogi.
09:26Maka dari itu, setelah ucapan Presiden, ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
09:32Dalam hitungan hari, pelakunya tertangkap, sekalipun masih ada catatan terhadap proses itu,
09:40tapi paling tidak diungkap siapa orang yang keji dan biadab.
09:44Empat orang itu yang menyiram wajah warga negara namanya Andri Yunus.
09:49Itu yang pertama, Mas Yogi.
09:51Supaya jelas, Mas Yogi, tadi saya mau lanjutkan soal bagaimana Presiden terbuka terhadap diskusi.
09:58Mas Yogi tentu ingat saat bulan Ramadan, seluruh masyarakat mendiskusikan tentang situasi geopolitik.
10:07Presiden menangkap itu, maka Presiden sempat, Mas Yogi, mengundang mantan Presiden, mantan Wakil Presiden,
10:15Duta Besar, mantan Menteri Luar Negeri untuk berdiskusi tentang geopolitik.
10:20Dan juga tadi sudah dua kali Presiden Prabowo menjawab mengundang tokoh-tokoh dan jurnalis.
10:25Itu menggambarkan apa? Menggambarkan bahwa ketika ingin mengambil sebuah keputusan,
10:31atau keputusan sudah diambil, Presiden ingin mendengar pandangan dari berbagai pihak.
10:36Sehingga, kalau orang mengatakan Presiden hanya mendengar yang baik-baik saja,
10:42tentu patah dengan adanya forum-forum tersebut.
10:47Mas Yogi, tadi saya sudah sampaikan data, ucapan Presiden sudah diputar oleh Kompas TV,
10:52dan perbuatan untuk mengadakan diskusi itu juga sudah nyata dan faktual.
10:58Saya ingin tambahkan satu, Mas Yogi.
11:00Di dalam peraturan perundang-undangan kita hari ini, di dalam KUHP,
11:05untuk pertama kali, Mas Yogi, kata demokratis itu dicantumkan.
11:09Di dalam bagian penjelasan KUHP, singkat saja Mas Yogi, disebutkan di sini.
11:13Dalam negara demokratis, kritik menjadi hal penting sebagai bagian dari kebebasan berekspresi,
11:19yang sedapat mungkin bersifat konstruktif, walaupun mengandung ketidaksetujuan terhadap perbuatan kebijakan
11:27atau tindakan Presiden dan Wakil Presiden.
11:29Pada dasarnya, kritik dalam ketentuan ini merupakan bentuk pengawasan, koreksi, dan saran terhadap kepentingan masyarakat.
11:38Jadi, ucapan, perbuatan, tindakan, hukum sudah memberikan pagar yang jelas,
11:44dan pemerintah berusaha untuk komplai dengan seluruh itu, Mas Yogi.
11:48Maka dari itu mungkin tercermin dalam survei LSI tadi.
11:53Saya...
11:53Ya, singkat sebentar.
11:55Singkat saja, singkat. Silahkan.
11:56Jadi, saya kira itu ada dua poinnya.
11:58Jadi, ketika Presiden mengatakan boleh dikritik, itu narasi itu tidak sampai mampu diterjemahkan sampai ke lapis bawah kekuasaan.
12:06Itu problem.
12:07Tapi...
12:07Artinya memungkinkan bisa terjadi mungkin tidak mampu menerjemahkan,
12:12atau bisa jadi pembangkangan dari lapisan struktur sampai ke bawah.
12:16Kemudian yang kedua, proses Presiden memanggil para tokoh itu,
12:20itu setelah Presiden membuat keputusan,
12:22masuk ke BOP tanpa lewat DPR,
12:25yang kemudian para analis hukum Tadang Negara melanggar pasal 13,
12:30baru setelah itu mengumpulkan para tokoh,
12:32lalu bukan diskusi, tapi Presiden menjelaskan keputusannya,
12:36sehingga kemudian membuat forum itu tidak terjadi dialog yang setara.
12:40Mas Ubed, diam menit, kalau Mas Ubed buka media sosial,
12:43ada kritik banyak sekali kepada kebijakan Presiden.
12:47Mas Ubed, apakah pernah melihat ada wajah pejabat negara,
12:51selevel menteri diganti wajahnya dengan binatang?
12:54Ada tergambar, adakah?
12:55Itu sudah offside, Mas Sayang.
12:58Tapi tidak ada pelaporan terdiri pemerintah.
13:00Mas Ramadhan, jadikan Anda tadi mengatakan bahwa
13:03Presiden sudah sangat terbuka mengundang tokoh masyarakat,
13:06tapi yang saya cermati,
13:08ketika Presiden mengundang para tokoh agama itu,
13:10itu terjadi setelah Presiden memutuskan masuk BOP.
13:13Tapi apakah,
13:15apakah itu kemudian menjadi alasan,
13:19apa yang Anda keluhkan,
13:22apakah itu semua menjadi alasan untuk sebuah impeachment?
13:25Untuk mengatakan bahwa itu adalah rezim otoriter.
13:28Saya ingin mengatakan begini, Mas Ubed,
13:31saya pikir saya tadi agak geleng-geleng kepala,
13:33karena ada yang tidak tertib dalam cara kita mengolah informasi dan mengambil kesimpulan.
13:40Apa misalnya?
13:40Contoh, dikatakan bahwa di demokrasi tidak ada represi.
13:45Represi adalah sebuah tindakan dari penegakan hukum,
13:48bisa saja.
13:49Saya tidak mematangkan di Indonesia ya.
13:50Bisa saja, dimungkinkan ada penegakan hukum.
13:53Satu, tidak ada namanya demokrasi itu.
13:56Tidak bisa membedakan antara idealitas teori demokrasi dengan partik empirik.
14:01Jadi, itu berbeda.
14:02Mas Ubed, Mas Ubed, saya mau bilang gini, Mas Ubed.
14:06Ya, saya tidak tahu, karena mungkin Anda seorang pengajar ya,
14:08hidup dalam idealitas teori.
14:10Tapi saya mau mengatakan bahwa
14:13tidak ada namanya kondisi negara ideal, platonik itu ya.
14:17Pasti ada apar-apar koersinya untuk melakukan penegakan hukum,
14:21pasti akan ada benturan-benturan masyarakat.
14:22Itu pasti ada.
14:23Sejauh tidak melanggar HAM ya.
14:24Sejauh tidak melanggar HAM ya.
14:26Sejauh tidak melanggar HAM.
14:26Kedua, dikatakan bahwa pernyataan saya Pak Prabowo itu tidak suka didebat
14:31dan batal pernyataan saya tadi.
14:33Saya bisa bersaksi.
14:34Karena pelakunya saya sendiri dalam sebuah rapat kabinet.
14:37Ketika Pak Prabowo punya skema tertentu penanganan kemiskinan
14:41tentang pertanian.
14:42Tentang apakah pertanian, petani, petani miskin perlu dikasih lahan 2 hektare
14:47atau kalau perlu konsolidasi.
14:48Ketika beliau sudah memutuskan,
14:50saya mengatakan, Pak Presiden,
14:52rasa-rasanya akan lebih baik kalau skenario-nya seperti ini.
14:55Oke.
14:55Dan kita tahan dulu.
14:57Ketika Anda mengatakan bahwa tidak terjadi pembatalan keputusan Presiden
15:03karena pendapat menterinya tidak terjadi.
15:04Karena itu pernah terjadi.
15:05At least dalam kasus saya.
15:07Ada beberapa kasus yang lain juga.
15:09Kedua, Bung Budiman,
15:11kita tahan dulu.
15:12Karena kita harus jadat.
15:14Kita akan lanjut setelah yang satu ini.
15:16Tetaplah di satu menjadi forum.
Komentar