Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 13 jam yang lalu
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Badan Percepatan Pengentasan Kemiskinan Budiman Sudjatmiko menyebut Prabowo adalah salah satu presiden dengan tradisi intelektual kuat dan terbuka pada perdebatan.

Budiman menilai, rapat kabinet di bawah Prabowo justru memberi ruang diskusi antarkementerian. Ia pun menyayangkan jika Prabowo terlalu cepat dicap anti kritik.

"Sayang kita lagi punya presiden kayak gini, belum paruh pertama kepresidenannya sudah dicap anti kritik," katanya.

Namun pandangan berbeda disampaikan Dosen UNJ Ubedilah Badrun. Ia mengaku melihat realitas yang tidak sama.

Menurut Ubedilah, ia tidak melihat perdebatan intelektual mendalam dalam sidang kabinet seperti yang digambarkan Budiman. Ia juga menegaskan tindakan represi tidak sejalan dengan prinsip demokrasi.

"Yang dilihat adalah bicara panjang Pak Prabowo, lalu tanya jawab singkat dan tidak ada perdebatan mendalam," katanya.

Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/yuVpHkzEbTw

#saifulmujani #kritik #prabowo

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/664669/beda-pendapat-budiman-sudjatmiko-vs-ubedilah-badrun-prabowo-terbuka-atau-anti-kritik-satu-meja
Transkrip
00:00Ada pemerintah yang dinilai tidak baik, ya gantilah pemerintah itu, ada mekanismenya.
00:12Dengan baik, dengan damai, bisa melalui pemilihan umum, tidak ada masalah.
00:21Bisa juga melalui impeachment, tidak ada masalah.
00:27Tapi impeachment, ya melalui saluran. Ada salurannya. DPR, MK, MPR.
00:40Masih di satu menjadi forum, Bung Budiman, tadi kita dengar pernyataan dari Presiden bahwa, ya boleh dikritik.
00:48Bicara impeachment asal prosedural bagian dari diskusi publik sebagai, saya sebut sekeliling, sebagai orang yang akhir-akhir ini dekat dengan
00:56Presiden Prabowo.
01:18Ini dihambalang saat berdiskusi menjawab pertanyaan Najwa, ya. Saya kira itu sudah jelas.
01:22Sudah clear.
01:23Sudah clear, ya.
01:23Nah, kaitannya dengan sosok Pak Prabowo sendiri yang kaitannya dengan anti-kritik.
01:27Padahal tadi statementnya kan mengatakan, oh biasa saja, Anda mungkin punya...
01:31Maaf ya, dari 98 Presiden Indonesia, Pak Prabowo saya kira satu dari beberapa Presiden yang punya tradisi dan literasi...
01:40Diaktika?
01:43Diskusi?
01:44Diskusi pemikiran, ya.
01:46Ini berangkat dari pengalaman Anda?
01:48Pengalaman saya, ya pengalaman saya, saya kira beliau adalah satu dari beberapa Presiden yang tradisinya adalah tradisi intelektual, wawasan global,
01:57ya.
01:58Kemudian, tapi ngerti you strategis dan punya keperluan terhadap masalah-masalah kerakyatan.
02:05Dan sangat terbuka untuk menerima masalahan.
02:08Saya nggak mau beriklan terlalu banyak, ya.
02:10Tapi Anda bisa lihat bahwa bagaimana...
02:12Saya berikan tempat Anda sebagai orang paling dekat.
02:14Rekaman yang bisa disesai oleh banyak orang, bagaimana menjawab pertanyaan dari soal ekonomi, geopolitik, sejarah, sampai kemudian soal Andri Yunus,
02:23segala macam.
02:23Saya pikir, very knowledgeable person.
02:26Saya secara pribadi, saya ingin mengatakan, saya secara pribadi, ingin mengatakan bahwa sebagai seorang aktivis, sebagai seorang yang suka diskusi,
02:34suka berdebat,
02:35Karena saya kok merasa, bukan sekedar secara politik saya cocok dengan program-program prokrayatannya,
02:43tapi juga cocok dengan cara dia, Pak Prabowo, mengelola komunikasi di antarmenterian.
02:51Contoh, setiap rapat kabinet selalu saya bagi dua.
02:54Pak Prabowo sebagai guru besar, seperti ngasih, studium general, lecture.
03:00Kedua, Pak Prabowo sebagai komander.
03:03Tapi sebelum sebagai komander, ada jelah.
03:06Pertama, sebagai seorang guru besar yang ngasih, lecture tentang kondisi ekonomi, geopolitik, sosial, masyarakat.
03:12Setelah itu, dia sebagai fasilitator diskusi.
03:14Menterinya disuruh berdebat, disuruh diskusi.
03:18Pak Prabowo memfasilitasi seperti moderator.
03:20Tahap ketiga, selalu komentar rapatnya tiga jam.
03:23Jam terakhir adalah sebagai komander.
03:25Tidak sampai satu jam.
03:26Oke, putusannya hasil diskusi ini.
03:28Jadi, saya tidak bisa membandingkan apakah Pak Jokowi seperti itu.
03:33Sekarang saya belum pernah menjadi kabinetnya.
03:35Saya tidak pernah bisa membandingkan dengan presiden-presiden sebelumnya.
03:38Tetapi menurut saya, tiga unsur sebagai seorang intelektual,
03:42sebagai seorang moderator,
03:44dan di ujungnya sebagai seorang moderator.
03:46Jadi, Anda mau bilang bahwa kalau Pak Prabowo dan pemerintah ini bukan tidak tepat disebut sebagai antikritik.
03:52Saya sesuai dengan beliau kadang-kadang mengutip sesuatu yang saya pikir orang Indonesia yang tidak mengerti.
03:56Tapi beliau mengerti.
03:57Saya pikir, jarang intelektual Indonesia tahu ini, Pak Prabowo mengerti tidak?
04:00Terusnya, beliau tidak mengerti.
04:01Kita bicara tentang sejarah, luar negeri, tentang perang saudara Spanyol,
04:05tentang perang dunia kedua, tentang New Deal, tentang Chile, tentang macam-macam.
04:09Oh, ngerti, Pak Prabowo ini.
04:11Sayang, punya presiden seperti ini.
04:13Sayang, Indonesia 280 juta.
04:16Sayang, kita lagi punya presiden seperti ini.
04:18Ujuk-ujuk, belum paro pertama masa pertama kepresidenannya,
04:24sudah dicap anti-kritik.
04:26Saya kira, sayang ya, saya.
04:28Saya ingin memberikan kesempatan kepada Bukubet yang kundari tadi.
04:33Oh, saya kok tetap dilaporin, katanya.
04:35Oh, iya.
04:37Gimana, gimana.
04:37Saya justru melihat realitas yang berbeda.
04:41Saya juga tidak pernah melihat satu perdebatan intelektual antara Prabowo dengan para menterinya di sedang kabinet.
04:49Saya tidak melihat itu.
04:51Yang dilihat adalah bicara panjang Prabowo,
04:54lalu tanya jawab singkat, dan tidak ada perdebatan mendalam.
04:59Kemudian, artinya secara empirik yang saya lihat,
05:02pernyataan Bumbu Diman itu menjadi tidak berlaku.
05:07Kemudian, yang kedua saya koreksi juga ketika mengatakan bahwa di negara demokrasi yang sebelumnya tadi,
05:12bahwa boleh represi atau represi tidak ada di negara demokrasi.
05:16Menurut saya, dalam banyak studi ilmu pengetahuan politik,
05:22ciri negara demokrasi itu tidak ada membenarkan represi itu.
05:27Jadi, kita masuk dalam konteks idealitas teoretiknya.
05:30Tidak ada.
05:31Artinya, bahwa tindakan represi itu tidak dibenarkan dalam konteks demokrasi.
05:36Bahkan represi itu, ya, tidak kompatibel dengan demokrasi.
05:40Yang mungkin bisa dilihat justru pada fungsi negara yang punya fungsi koersif dalam titik tertentu.
05:47Jadi, tapi demokrasi tidak membenarkan sikap represi itu.
05:50Anda tadi menyebut kata represi, Anda melihat secara gamblang.
05:55Karena represi itu masih terlihat sampai hari ini.
05:57Selain-selain pada pelaporan-pelaporan, para cendikiawan, juga terhadap Andri Yunus tadi.
06:04Nah, tadi saya juga sempat dengar pengkurniawan bilang bahwa 73 persen masyarakat kita menyebut negara ini demokrasi.
06:15Itu data kuantitatif, ya.
06:17Artinya, ya, survei, ya, mayoritas memilih rezim sekarang, ya, itu rasional begitu.
06:25Tetapi, data kuantitatif yang mengatakan 73 persen masyarakat menyebut demokratis itu menjadi batal juga.
06:31Kalau kita menggunakan analisis kualitatif bahwa ada penyeraman air keras terhadap Andri Yunus, ada pelaporan-pelaporan terhadap para aktivis, ada
06:42represi di bulan Agustus yang menangkap hampir seribu orang, gitu.
06:46Itu adalah data-data kualitatif yang membatalkan kesimpulan kuantitatif.
06:53Karena itu menurut saya, persepsi negara tentang demokrasi itu mesti membuat mixed method itu, antara data kuantitatif dengan kualitatif.
07:01Sehingga kita bisa melihat, karena begini, data kuantitatif yang mengatakan 73 persen itu, itu semua bisa batal hanya gara-gara
07:10ada penyeraman air keras, gitu.
07:11Jadi menurut saya, itu saya perlu koreksi. Cara kita melihat demokrasi tidak seperti ini.
07:15Ini cara membaca data tadi yang saya survei.
07:18Tapi gini, sebelum nanti kita lanjutkan, kita dengarkan dulu ada satu statement dari Presiden Prabowo yang mengatakan bahwa kita harus
07:25siap dikritik, kita siap dikontrol, diawasi.
07:29Kita dengarkan dulu.
07:34Kita harus mau diawasi.
07:37Kita harus mau dikoreksi.
07:39Kita harus mau dikritik.
07:41Sudah-sudah, tapi kritiknya yang benar.
07:47Jangan kritik berdasarkan dendam.
07:51Tidak ada Presiden Republik Indonesia yang punya tongkat Nabi Musa. Tidak ada.
08:00Negara kita sangat besar.
08:04Sudah kita mulai bergelar sekian ratus, sekian...
08:07Masih ada yang komentar.
08:09Iya, tapi belum banyak.
08:12Oke, saya ke Bung Kurnian.
08:16Karena tadi disampaikan oleh Bung Ubet bahwa, ya jangan salah membaca antara data kuantitatif dengan ada kualitatif.
08:26Peristiwa-peristiwa yang sangat gamblang di depan publik.
08:29Ada kekerasan kepada aktivis, kemudian ada yang dilaporannya gara-gara berpendapat berbeda dengan...
08:37Sementara satu sisi Presiden juga di tempat rungu juga mengatakan bahwa kita harus setiap dikritik.
08:42Anda mau menyampaikan apa sebetulnya?
08:44Iya, Mas Yogi.
08:45Sesuai dengan tema diskusi kita ini kan menjaga, menjawab krisis dengan kritis dan logis.
08:51Jadi kritis dan logis itu harus ada benang merahnya, Mas Yogi.
08:56Misalnya, tadi disampaikan penyiram alai keras, pelaporan langsung melompat ke Presiden Prabowo yang anti-kritik dan tidak tergambar data kuantitatif
09:08tadi.
09:08Padahal, padahal di dalam forum Presiden Prabowo menjawab itu, pertanyaan Mbak Najwa dijawab oleh Presiden,
09:19apakah ucapan atau untayan kalimat Presiden dalam forum itu menyelesaikan masalah?
09:25Tidak, Mas Yogi.
09:26Maka dari itu, setelah ucapan Presiden, ditindaklanjuti oleh aparat penegak hukum.
09:32Dalam hitungan hari, pelakunya tertangkap, sekalipun masih ada catatan terhadap proses itu,
09:40tapi paling tidak diungkap siapa orang yang keji dan biadab.
09:44Empat orang itu yang menyiram wajah warga negara namanya Andri Yunus.
09:49Itu yang pertama, Mas Yogi.
09:51Supaya jelas, Mas Yogi, tadi saya mau lanjutkan soal bagaimana Presiden terbuka terhadap diskusi.
09:58Mas Yogi tentu ingat saat bulan Ramadan, seluruh masyarakat mendiskusikan tentang situasi geopolitik.
10:07Presiden menangkap itu, maka Presiden sempat, Mas Yogi, mengundang mantan Presiden, mantan Wakil Presiden,
10:15Duta Besar, mantan Menteri Luar Negeri untuk berdiskusi tentang geopolitik.
10:20Dan juga tadi sudah dua kali Presiden Prabowo menjawab mengundang tokoh-tokoh dan jurnalis.
10:25Itu menggambarkan apa? Menggambarkan bahwa ketika ingin mengambil sebuah keputusan,
10:31atau keputusan sudah diambil, Presiden ingin mendengar pandangan dari berbagai pihak.
10:36Sehingga, kalau orang mengatakan Presiden hanya mendengar yang baik-baik saja,
10:42tentu patah dengan adanya forum-forum tersebut.
10:47Mas Yogi, tadi saya sudah sampaikan data, ucapan Presiden sudah diputar oleh Kompas TV,
10:52dan perbuatan untuk mengadakan diskusi itu juga sudah nyata dan faktual.
10:58Saya ingin tambahkan satu, Mas Yogi.
11:00Di dalam peraturan perundang-undangan kita hari ini, di dalam KUHP,
11:05untuk pertama kali, Mas Yogi, kata demokratis itu dicantumkan.
11:09Di dalam bagian penjelasan KUHP, singkat saja Mas Yogi, disebutkan di sini.
11:13Dalam negara demokratis, kritik menjadi hal penting sebagai bagian dari kebebasan berekspresi,
11:19yang sedapat mungkin bersifat konstruktif, walaupun mengandung ketidaksetujuan terhadap perbuatan kebijakan
11:27atau tindakan Presiden dan Wakil Presiden.
11:29Pada dasarnya, kritik dalam ketentuan ini merupakan bentuk pengawasan, koreksi, dan saran terhadap kepentingan masyarakat.
11:38Jadi, ucapan, perbuatan, tindakan, hukum sudah memberikan pagar yang jelas,
11:44dan pemerintah berusaha untuk komplai dengan seluruh itu, Mas Yogi.
11:48Maka dari itu mungkin tercermin dalam survei LSI tadi.
11:53Saya...
11:53Ya, singkat sebentar.
11:55Singkat saja, singkat. Silahkan.
11:56Jadi, saya kira itu ada dua poinnya.
11:58Jadi, ketika Presiden mengatakan boleh dikritik, itu narasi itu tidak sampai mampu diterjemahkan sampai ke lapis bawah kekuasaan.
12:06Itu problem.
12:07Tapi...
12:07Artinya memungkinkan bisa terjadi mungkin tidak mampu menerjemahkan,
12:12atau bisa jadi pembangkangan dari lapisan struktur sampai ke bawah.
12:16Kemudian yang kedua, proses Presiden memanggil para tokoh itu,
12:20itu setelah Presiden membuat keputusan,
12:22masuk ke BOP tanpa lewat DPR,
12:25yang kemudian para analis hukum Tadang Negara melanggar pasal 13,
12:30baru setelah itu mengumpulkan para tokoh,
12:32lalu bukan diskusi, tapi Presiden menjelaskan keputusannya,
12:36sehingga kemudian membuat forum itu tidak terjadi dialog yang setara.
12:40Mas Ubed, diam menit, kalau Mas Ubed buka media sosial,
12:43ada kritik banyak sekali kepada kebijakan Presiden.
12:47Mas Ubed, apakah pernah melihat ada wajah pejabat negara,
12:51selevel menteri diganti wajahnya dengan binatang?
12:54Ada tergambar, adakah?
12:55Itu sudah offside, Mas Sayang.
12:58Tapi tidak ada pelaporan terdiri pemerintah.
13:00Mas Ramadhan, jadikan Anda tadi mengatakan bahwa
13:03Presiden sudah sangat terbuka mengundang tokoh masyarakat,
13:06tapi yang saya cermati,
13:08ketika Presiden mengundang para tokoh agama itu,
13:10itu terjadi setelah Presiden memutuskan masuk BOP.
13:13Tapi apakah,
13:15apakah itu kemudian menjadi alasan,
13:19apa yang Anda keluhkan,
13:22apakah itu semua menjadi alasan untuk sebuah impeachment?
13:25Untuk mengatakan bahwa itu adalah rezim otoriter.
13:28Saya ingin mengatakan begini, Mas Ubed,
13:31saya pikir saya tadi agak geleng-geleng kepala,
13:33karena ada yang tidak tertib dalam cara kita mengolah informasi dan mengambil kesimpulan.
13:40Apa misalnya?
13:40Contoh, dikatakan bahwa di demokrasi tidak ada represi.
13:45Represi adalah sebuah tindakan dari penegakan hukum,
13:48bisa saja.
13:49Saya tidak mematangkan di Indonesia ya.
13:50Bisa saja, dimungkinkan ada penegakan hukum.
13:53Satu, tidak ada namanya demokrasi itu.
13:56Tidak bisa membedakan antara idealitas teori demokrasi dengan partik empirik.
14:01Jadi, itu berbeda.
14:02Mas Ubed, Mas Ubed, saya mau bilang gini, Mas Ubed.
14:06Ya, saya tidak tahu, karena mungkin Anda seorang pengajar ya,
14:08hidup dalam idealitas teori.
14:10Tapi saya mau mengatakan bahwa
14:13tidak ada namanya kondisi negara ideal, platonik itu ya.
14:17Pasti ada apar-apar koersinya untuk melakukan penegakan hukum,
14:21pasti akan ada benturan-benturan masyarakat.
14:22Itu pasti ada.
14:23Sejauh tidak melanggar HAM ya.
14:24Sejauh tidak melanggar HAM ya.
14:26Sejauh tidak melanggar HAM.
14:26Kedua, dikatakan bahwa pernyataan saya Pak Prabowo itu tidak suka didebat
14:31dan batal pernyataan saya tadi.
14:33Saya bisa bersaksi.
14:34Karena pelakunya saya sendiri dalam sebuah rapat kabinet.
14:37Ketika Pak Prabowo punya skema tertentu penanganan kemiskinan
14:41tentang pertanian.
14:42Tentang apakah pertanian, petani, petani miskin perlu dikasih lahan 2 hektare
14:47atau kalau perlu konsolidasi.
14:48Ketika beliau sudah memutuskan,
14:50saya mengatakan, Pak Presiden,
14:52rasa-rasanya akan lebih baik kalau skenario-nya seperti ini.
14:55Oke.
14:55Dan kita tahan dulu.
14:57Ketika Anda mengatakan bahwa tidak terjadi pembatalan keputusan Presiden
15:03karena pendapat menterinya tidak terjadi.
15:04Karena itu pernah terjadi.
15:05At least dalam kasus saya.
15:07Ada beberapa kasus yang lain juga.
15:09Kedua, Bung Budiman,
15:11kita tahan dulu.
15:12Karena kita harus jadat.
15:14Kita akan lanjut setelah yang satu ini.
15:16Tetaplah di satu menjadi forum.
Komentar

Dianjurkan