Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mencatat sampah yang mengalir dari sungai-sungai menuju Teluk Jakarta terus menumpuk di kawasan pesisir.

Peneliti Pusat Riset Oseanografi BRIN, Reza Cordova, menjelaskan bahwa sampah yang membentuk pulau sampah di Muara Angke tidak hanya berasal dari Jakarta.

Menurut Reza, rendahnya tingkat pengumpulan dan pengelolaan sampah di sejumlah wilayah membuat sampah terus bocor ke lingkungan dan terbawa aliran sungai hingga ke laut.

Di kawasan muara, sampah kemudian terperangkap oleh pertemuan air sungai dan air laut sehingga terus terakumulasi.

BRIN bahkan memperingatkan kondisi serupa berpotensi muncul di berbagai wilayah Indonesia apabila kebocoran sampah tidak segera dikendalikan.

Hasil pemantauan BRIN di 18 wilayah pantai Indonesia menunjukkan akumulasi sampah laut terjadi di banyak daerah.

Menurut Reza, jumlah sampah di Jakarta belum menjadi yang terburuk dibanding sejumlah wilayah lain.

Menurutnya terdapat empat faktor yang saling berkaitan, mulai dari pemerintah, masyarakat, industri, hingga kalangan akademisi.

Saat melihat visual pulau sampah di Muara Angke, Reza memperkirakan jumlah sampah yang tampak di permukaan saja telah mencapai lebih dari 100 ton.

BRIN menilai akumulasi sampah di kawasan tersebut bukan terjadi dalam hitungan bulan.

Keberadaan pulau sampah juga mengancam kawasan hutan lindung yang berada di sekitarnya.

Satwa liar berisiko menelan plastik karena tidak mampu membedakan sampah dengan makanan alami.

Ancaman berikutnya adalah mikroplastik yang masuk ke tubuh manusia melalui rantai makanan.

Dengan sekitar 300 ribu ton sampah plastik masuk ke laut Indonesia pada tahun 2023, nilai kerugian yang ditimbulkan diperkirakan mencapai hampir 2.000 triliun rupiah.


Bagaimana menurut Anda?

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/kpbZOKo3cok

#pulausampah #jakarta #pencemaran



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/video/673762/brin-sampah-laut-tak-hanya-rusak-ekosistem-kerugian-bisa-tembus-rp2-000-triliun-dipo-investigasi
Transkrip
00:19Intro
00:21Saudara Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mencatat kurang lebih terdapat 7 ton,
00:26bahkan lebih sampah yang kemudian mengalir di sungai Jakarta yang kemudian mengotori area laut kita.
00:34Lalu pertanyaannya, seberapa besar sebenarnya dampak kebocoran sampah hingga ke laut dan membentuk pulau-pulau sampah?
00:40Saya akan tanyakan kepada Profesor Riset Termuda BRIN bidang oseonografi kimia dengan kepakaran pencemaran laut,
00:48Mas Reza Cordoba. Mas Reza, terima kasih untuk waktunya.
00:50Terima kasih banyak.
00:51Saya langsung ke pokok persoalan kita, Mas. Bahwa ada fenomena ataupun kondisi yang kemudian menunjukkan ada pulau-pulau sampah di
01:00pesisir laut Jakarta.
01:01Berdasarkan riset yang kemudian dilakukan oleh BRIN, apa yang sesungguhnya terjadi, Mas?
01:04Sebenarnya kalau misalnya kita lihat, sampah yang terakumulasi di pesisir Jakarta ini, termasuk yang ada di Morangga ini,
01:10itu terjadi tidak hanya sumbernya dari Jakarta, tetapi memang dari Hulu.
01:14Dari Hulu?
01:14Dari Hulu. Jadi memang sampahnya yang ada di sana collection rate-nya sangat rendah.
01:18Kemudian memang kalau ada di Jakarta relatif lebih bagus daripada yang di wilayah Hulu dan Tengah ya.
01:22Tetapi kemudian karena dia terakumulasi banyak dan kemudian terhalang, karena ada pola arus,
01:26kemudian ya sekarang ditambah ada pola elektromasi, ketika dia sudah tertahan,
01:30kan ini ada area pertemuan antara air tawar dengan air laut.
01:34Hal itu menyebabkan tertabraknya sampah ada di sana,
01:37karena tadinya kencang, kemudian dia melambat.
01:39Sampah ini kan kebanyakan sampah campuran, ketika ada sampah campuran,
01:43dia akan berhenti di depan muara sungai, makanya memang mulai dari muara angke,
01:49di Marunda sebenarnya terjadi hal yang sama, hampir di seluruh wilayah-wilayah sungai itu terjadi seperti itu.
01:55Jadi bisa kita bayangkan, kalau seluruh wilayah di Indonesia terjadi seperti itu,
01:59collection rate rendah, pengelolaan sampahnya belum optimal,
02:02bukan tidak mungkin nanti beberapa tahun yang akan datang,
02:04akan terbentuk delta-delta sampah di seluruh muara sungai yang ada di Indonesia.
02:07Bisa ditunjukkan mungkin mas, titik-titik mana saja yang ada,
02:11mohon maaf, pulau-pulau sampah ataupun pencemaran sampah di laut?
02:14Jadi kita bisa lihat di sini kami mengamati di 18 wilayah pantai yang ada di seluruh Indonesia,
02:19mulai dari Aceh sampai ke Papua, dari Manado sampai ke Kupang,
02:22bisa kita lihat di sini ada wilayah-wilayah tertentu yang mau akumulasi sampah.
02:25Dan ini sebenarnya tidak hanya dihasilkan oleh wilayah yang ada di sekitarnya,
02:30tetapi memang ada transbundari, jadi sampah yang terbawa oleh alrus.
02:33Nah kalau ada di sini, contohnya yang paling banyak itu adalah misalnya ada di Ambon,
02:37di Takalar, utaranya Manado, ada di Padang, termasuk sebenarnya yang ada di Jakarta.
02:42Bahkan sebenarnya kalau di Jakarta sendiri, sampahnya itu belum sebanyak yang ada di wilayah-wilayah lain.
02:46Belum sebanyak yang di wilayah lain?
02:47Betul, hanya ini tidak ketahuan saja.
02:51Karena kan ada wilayah-wilayah lain yang justru semakin jauh dari wilayah ibu kota,
02:55collection rate ini semakin rendah.
02:56Ada hubungan antara collection rate atau proses penyebutan sampah,
03:00laju penyebutan sampah per daerah dengan jumlah sampah yang bocor ke lingkungan.
03:05Semakin rendah collection ratenya, semakin tinggi pula sampahnya.
03:09Kesoalan sampah yang kemudian tercecar ke laut ini bukan hanya sekedar kedisiplinan masyarakat,
03:14tetapi secara struktural ini sangat mempengaruhi.
03:17Sangat mempengaruhi.
03:18Kita tidak bisa berbicara hanya satu sisi.
03:20Oh yang salah, masyarakat saja.
03:23Tidak bisa seperti itu.
03:23Paling tidak ada empat faktor nih, pertama dari pemerintahnya.
03:26Secara regulasinya diimplementasikan atau tidak, infrastrukturnya juga masih kurang.
03:30Seharusnya kan sampai ini tidak dibawa ke TPA, kemudian dibiarkan begitu saja.
03:36Kemudian yang kedua, masyarakatnya juga sama.
03:38Kita edukasinya kurang, tapi banyak dari masyarakat yang kita juga tidak bisa ngapa-ngapain.
03:42Mau luang kemana, setelah dipilah mau dikemanakan, karena infrastrukturnya tadi tidak ada.
03:46Kemudian yang ketiga, dari industri.
03:48Industri itu terus meneruskan mengeluarkan produk dan lain-lain.
03:51Tapi di sisi lainnya harusnya bertanggung jawab juga dong, produk yang ada.
03:54Karena produk yang ada ini seharusnya bisa didaur ulang kembali.
03:58Nah, baru kemudian yang terakhir adalah dari akademisi.
04:01Kami juga sebenarnya bertanggung jawab.
04:02Kami harus bertanggung jawab, ini loh ada produk plastik yang bisa digunakan berulang-ulang kali sampai betul-betul rusak.
04:08Baru kemudian didaur ulang, bisa digunakan kembali.
04:11Nah, ini empat faktor ini yang sangat berpengaruh.
04:13Saya ingin tunjukkan ke Mas Reza.
04:16Oke, ini adalah visual yang kita ambil, Mas.
04:19Ketika kami mendatangi secara langsung pulau-pulau sampah yang ada di pesisir Jakarta.
04:24Berapa lama sebenarnya waktu yang dibutuhkan agar sampah-sampah ini betul-betul bisa menjadi sebuah pulau?
04:30Betulkah hanya dalam waktu singkat baru satu tahun mungkin atau justru sudah terjadi cukup lama?
04:35Baik, sebenarnya ini kalau misalnya kita lihat tergantung dari jumlah sampah yang masuk.
04:39Tidak hanya dari Muara Kali Adem, tetapi dari sungai-sungai lainnya yang ada di sekitar.
04:43Termasuk bahkan yang ada di Bekasi sama di Tangerang.
04:45Kenapa? Karena pola arusnya itu akan ke arah sana.
04:48Dia bolak-balik tergantung musim.
04:50Nah, jumlah sampahnya berapa banyak?
04:51Kalau yang lihat ada di sini, ini kalau secara kasar ya, akan lebih dari 100 ton.
04:56100 ton?
04:57Itu baru yang ada di permukaan, belum lagi yang ada di dasar.
05:00Artinya Breen menemukan bahwa sampah itu juga ada di dasar?
05:02Betul.
05:02Karena narasi yang kemudian saya temukan di sini adalah bahwa yang bagian dasar itu adalah sedimentasi,
05:07sementara sampah hanya berada di atas.
05:09Baik.
05:09Sebenarnya persoalan sampah yang ada di sini, termasuk yang ada pulau sampah di wilayah lain,
05:13itu tidak hanya masalah satu tahun atau dua tahun.
05:15Tetapi ini sudah belasan tahun yang terjadi.
05:18Memang sedimen ada.
05:19Dia normal akan sangat banyak.
05:20Kenapa?
05:20Karena muaranya dari sini, itu kan ada gunung-gunung kan, yang ada di Bogor salah satunya.
05:25Kemudian, dia turun bersama dengan sampah-sampah yang ada.
05:28Makanya ini harus dihilangkan secara cepat.
05:30Apalagi dampaknya yang ada di belakang.
05:32Ini kan wilayah hutan lindung.
05:34Betul.
05:34Begitu banyak sampah yang kemudian ada di sini,
05:38bersebelahan atau berdamping secara langsung dengan hutan lindung.
05:41Ada mungkin temuan khusus dari Brin terkait hal ini?
05:43Baik.
05:44Yang pertama, binatang-binatang yang hidup di wilayah hutan lindung, yang seharusnya terlindungi nih,
05:49dia akan tidak sengaja makan sampah.
05:51Karena mereka itu tidak bisa membedakan mana plastik dengan mana makanannya.
05:54Semakin kecil ukuransi sampah plastik tersebut, semakin mudah masuk ke dalam tubuh.
05:58Tidak hanya di biota, tapi masuk ke manusia.
06:00Melalui?
06:01Makanan.
06:02Salah makan.
06:04Kemudian terhirup di udara.
06:05Bahkan kami menemukan di wilayah Morangke, kami melakukan penelitian itu 2015,
06:09dan kemudian terakhir 2023.
06:11Dalam jangka waktu 8 tahun, mikroplastik meningkat 5 kali lipat.
06:145 kali lipat?
06:16Dan bisa kita bayangkan, kalau 5 kali lipat, artinya biota-biota yang ada di sana,
06:21akan bisa makan tidak sengaja atau masuk ke dalam tubuh mikroplastik itu bisa 50 kali lipat lebih tinggi.
06:28Termasuk manusia.
06:29Kenapa?
06:30Karena di Morangke kan salah.
06:32Mangruf, terumbu karang, lamun, dia menjadi tempat untuk tempat hidupnya ikan.
06:37Dan kita makan ikan dari wilayah sana yang asal.
06:40Sejak tahun 2015 sampai sekarang, proporsinya semakin lama semakin meningkat.
06:43Biota yang mengandung mikroplastik.
06:46Salah satunya yang paling tinggi, yang dekat dari Morangke, itu kurang hijau.
06:49Bahwa Brin juga sebelumnya sudah menghitung potensi kerugian negara akibat kebocoran sampah ini.
06:54Bisa dijelaskan mungkin temuannya seperti apa?
06:56Baik.
06:56Sebenarnya kami menghitung berdasarkan berbagai macam variable.
06:59Variable kesehatan laut, kemudian biodiversitas, dan sejenisnya termasuk sebenarnya kesehatan manusia.
07:04Kerugiannya itu kalau berdasarkan hasil perhitungan antara 3.300 dolar sampai hampir 40.000 dolar per ton sampah plastik.
07:12Per ton sampah plastik.
07:12Dan Indonesia, kalau berdasarkan data terakhir tahun 2023, itu sekitar 300.000 ton sampah plastik yang masuk ke lautan Indonesia.
07:22Artinya kalau dirupiahkan?
07:24Hampir 2.000 triliun.
Komentar

Dianjurkan