- 4 jam yang lalu
- #iran
- #amerika
- #trump
- #gencatansenjata
KOMPAS.TV - Presiden AS Donald Trump memperpanjang gencatan senjata secara sepihak dengan Iran.
Di sisi lain, Iran memberi sinyal siap perang lagi dan enggan berunding jilid dua di Pakistan.
Sampai kapan gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat ini akan diperpanjang?
Atau justru perang akan kembali berkobar usai Iran menolak negosiasi?
Kita bahas bersama Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte dan Guru Besar Hubungan Internasional St Petersburg University Rusia, Connie Rahakundini.
Baca Juga [FULL] Trump Klaim Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Pamer Rudal Balistik, Perang Berlanjut? di https://www.kompas.tv/internasional/664611/full-trump-klaim-gencatan-senjata-diperpanjang-iran-pamer-rudal-balistik-perang-berlanjut
#iran #amerika #trump #gencatansenjata
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664633/full-analisis-dosen-unud-dan-connie-rahakundini-soal-klaim-gencatan-senjata-sepihak-dari-as
Di sisi lain, Iran memberi sinyal siap perang lagi dan enggan berunding jilid dua di Pakistan.
Sampai kapan gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat ini akan diperpanjang?
Atau justru perang akan kembali berkobar usai Iran menolak negosiasi?
Kita bahas bersama Dosen Ilmu Politik Universitas Udayana, Efatha Filomeno Borromeu Duarte dan Guru Besar Hubungan Internasional St Petersburg University Rusia, Connie Rahakundini.
Baca Juga [FULL] Trump Klaim Gencatan Senjata Diperpanjang, Iran Pamer Rudal Balistik, Perang Berlanjut? di https://www.kompas.tv/internasional/664611/full-trump-klaim-gencatan-senjata-diperpanjang-iran-pamer-rudal-balistik-perang-berlanjut
#iran #amerika #trump #gencatansenjata
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/664633/full-analisis-dosen-unud-dan-connie-rahakundini-soal-klaim-gencatan-senjata-sepihak-dari-as
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:00Sampai kapan gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat ini akan diperpanjang
00:04atau justru perang akan kembali berkobar usai Iran menolak negosiasi?
00:09Kita bahas bersama dosen ilmu politik Universitas Udayana,
00:13Evata Filomeno Boromew Duarte,
00:15dan Guru Besar Hubungan Internasional St. Petersburg University, Rusia,
00:20Kony Rahakundini.
00:21Selamat malam Bu Kony, juga Mas Elvata.
00:25Selamat malam.
00:27Saya ke Bu Kony dulu.
00:30Membaca sekarang landscape-nya di konflik antara Amerika Serikat dan Iran.
00:36Iran ini sudah di tahap mana?
00:37Apakah dengan Amerika Serikat yang ingin perpanjangan gencatan senjata,
00:41itu bisa jadi sinyal bahwa Amerika dalam kondisi yang terdesak, Bu Kony?
00:47Amerika dalam kondisi yang terdesak, tetapi sebelum saya jawab langsung ke situ ya,
00:51jawaban Iran seperti apa?
00:52Iran pasti harus bertahan.
00:53Gini, saya mohon maaf dengan segala format, agak berbeda dengan pandangan Pak Menlu dan juga Pak Utut sahabat saya.
00:59Karena kita mesti lihatnya dalam konteks, dan Iran melihatnya begini ya,
01:02dalam konteks strategis administrasi Trump,
01:04ini Blokardo Hormuz ini kan tidak sendiri berdiri sendiri.
01:07Dia itu adalah gabungan dari manifestasi maritime choke point dominasi Amerika Serikat dengan teori mahan.
01:13Jadi dia ingin apa?
01:14Amerika itu sekarang ingin menguasai urat nadi tujuan dunia,
01:17apa urat nadi milik dunia.
01:18Kita lihatnya begini, jangan lepas cuma Iran.
01:20Kita lihat ya, ancaman Trump sejak 2025 terkait mengambil kendali terusan kanal.
01:26Lalu sekarang Hormuz diblokir ya kan, atau ingin terus memblokado Hormuz.
01:31Nah yang ketiga, bagaimana dengan Indonesia MDCP kemarin,
01:34walaupun memang betul kita punya UNKRO, kita punya AKRI,
01:36mereka boleh melewati kapal perang dan lain dan sebagainya,
01:38tapi kita mesti paham, ini tuh ada strategi terintegrasi dari misalnya
01:43strategi economic coercion, novel interdiction, dan alliance building
01:47untuk mengembangkan tiga choke point kunci yang saya sebut tadi,
01:50Panama dan Malacca di Asia Tenggara.
01:53Jadi kalau kita lihat, strategi ini dirancang untuk menguasai jadul vital dunia
01:56karena persaingan ekonomi dunia utamanya antara Cina dan Amerika Serikat.
02:00Jangan lupa ya, saya akan sebut nanti Laut Cina Selatan dan Laut Cina Timur.
02:03Nah, parahalel dengan blokado Hormuz ini berfungsi sebagai leveraging tool sebenarnya
02:07untuk ekonomi maksimal melalui secondary sanctions gitu loh.
02:10Kita juga mesti lihat, baru mengumumkan 14 perusahaan senjata
02:14yang mensupply drone-drone ke Iran atau bantuan teknologi ke Iran,
02:17itu di mana ya, di Turki, di Uni Arab Emirat, dan di Iran sendiri sekarang sudah
02:21dikenakan sanksi 14 individu dan perusahaan.
02:24Jadi ini nggak main-main, menurut saya dari perspektif futuristik ya,
02:28pendekatan ini mencerminkan ada transisi dari kinetic dominance,
02:31yaitu sesuatu udara yang kemarin, ke prolonged economic coercion.
02:34Oke, nah bicara soal saat ini kondisinya,
02:37apa yang bisa kita lihat strategi yang coba dimainkan antara Amerika Serikat dan Iran?
02:41Iran yang coba bertahan, sementara Amerika Serikat yang tampaknya
02:44gamang dalam beberapa hari terakhir ini kita akan membahas,
02:47tapi kita akan dengarkan terlebih dahulu kumandang azan maghrib
02:50untuk wilayah Jakarta dan sekitar yang berikut ini.
02:58Sampai Indonesia Malam kembali membahas soal sampai kapan gencatan senjata
03:02sepihak oleh Amerika Serikat ini akan diperpanjang atau justru perang akan kembali berkobar.
03:07Masih bersama kami dosen ilmu politik Universitas Udayana,
03:10Evata Filomeno Borromeo Duarte, dan guru besar hubungan internasional
03:13St. Petersburg University, Rusia, Kony Rahakundini.
03:18Saya ke Mas Evata, membaca saat ini kondisi gencatan senjata,
03:22Bu Kony tadi sudah menjelaskan sedikit soal landscape yang harus diwaspadai,
03:25tapi setidaknya kalau bicara soal AS dan Iran,
03:27sudah di mana, sudah di tahap mana ini Mas Evata?
03:30Dan apa urgensinya Amerika Serikat untuk memanjangkan waktu gencatan senjata?
03:35Apakah memang mereka dalam posisi yang terdesak dan justru mengharapkan ini tidak terjadi?
03:44Mas Evata.
03:44Ya baik, tentu kita sama-sama melihat teater dalam perang ini,
03:50kedua belah pihak memang berada dalam posisi yang sulit.
03:52Akan tetapi kita coba buka kembali dan melihat ya dengan jauh lebih jeli.
03:58Sebenarnya ada doktrin Trump 2.0 yang saat ini lagi digerakkan oleh Amerika Serikat.
04:04Nah tujuan utama yang bergeser ini ternyata terlihat dari titik center of gravity Amerika Serikat
04:10yang memanfaatkan waktu untuk mencekik Iran gitu.
04:13Saya melihat bahwa tujuan utamanya itu bukan untuk melakukan pergantian regime change secara total
04:19karena kegiatan itu mampu dikontra dengan Iran dengan saat baik.
04:22Ya situasi politiknya malah menjadi lebih kuat.
04:24Tetapi Amerika Serikat saat ini mencoba untuk menghindari perang regional.
04:28Ya mereka menghindari melakukan serangan-serangan secara bombastis.
04:32Tetapi mereka tahu bahwa Iran ini adalah negara petrostate yang kurang lebih pendapatannya 60% ini dari juara minyak.
04:40Dan 90% ini dari ekspor minyak gitu.
04:43Nah maka satu-satunya cara untuk mengalahkan Iran adalah dengan melakukan blokade.
04:47Meskipun blokade ini pada kenyataannya dengan growth rate yang kadang-kadang melintas,
04:51tetapi ini kan jumlahnya akhirnya menurun dengan sangat kifikan.
04:54Nah maka dari itu inilah yang diminta oleh Iran untuk segera diselesaikan.
04:59Maka Iran meminta agar genjatan senjata ini selesai.
05:02Karena pada kenyataannya genjatan senjata masih menggunakan strategi blokade.
05:07Jadi ini kan salah satu kondisi yang cukup dilematis yang dihadapi oleh Iran itu sendiri.
05:13Karena kita tahu bahwa hormus ini adalah napas utama.
05:18Amerika Serikat menginginkan ini menjadi poin utama ya.
05:21Tetapi ternyata Iran sendiri lumayan tersedak ya dalam kontrol itu.
05:26Mereka merasa Amerika tahu bahwa batas dalam produksi minyak Iran itu sampai tanggal 26 April.
05:34Ketika nanti tanggal 26 April ya tidak banyak minyak yang airnya diproduksi secara masif,
05:40otomatis banyak yang dipetit karena banyak yang berair begitu ya.
05:44Nah ini kan tanda bahwa mereka ingin padanya salah satu kerusakan secara masif dalam operasi-operasi yang sudah dilakukan,
05:52baik dalam operasi ekonomi dan juga bagaimana Iran itu memproduksi minyak sampai saat ini.
05:57Kalau saya lihatnya mereka memainkan strategi-strategi demikian ya.
06:00Dan mereka bisa saja memperpanjang atau menahan dan mereka tahu bahwa ini adalah salah satu algodil terbaik mereka yaitu memainkan
06:05waktu.
06:06Demikian yang kalau saya lihat.
06:07Apakah Bu Kony melihatnya kondisi ini juga membuat Iran terdesak?
06:11Tapi mengapa Iran seakan bisa bertahan dalam kondisi ini?
06:16Atau tadi ada limit yang sebenarnya Iran punya tapi di sisi lain juga Amerika Serikat dilematis?
06:21Karena sudah 40 persen fiskalnya digunakan untuk perang ini Bu Kony?
06:27Kalau saya lihatnya dalam kerangka sekarang itu Iran sudah mengembangkan Hormuz Doctrine 02 ya.
06:32Jadi dia itu mengubah selatu menjadi golden asset dia.
06:34Malah Presiden Putin bilang kan itulah senjata nuklir Iran sesungguhnya yaitu selat Hormuz.
06:38Apa yang mau dibuat oleh Iran itu mencakup misalnya escalation hybrid control.
06:42Dia itu akan bikin serangan itu terus ya drone swarm lah semua dengan fast attack boats dan lain-lain.
06:47Tapi intinya dia meningkatkan bagaimana dia ingin premi asuransi global itu meningkat menciptakan insurance driver shutdown.
06:54Sehingga itu efeknya kepada dunia sehingga menekan Amerika Serikat.
06:57Yang kedua diplomatic economic control leverage.
06:59Misalnya percepat kesepakatannya dengan Cina.
07:02Percepat kesepakatan dengan India.
07:03Bagaimana memanfaatkan pengaruh atas medisi proksi misalnya juga yang dimiliki oleh Iran.
07:08Yang ketiga dia punya kemampuan internal consolidation.
07:10Bagaimana mobilisasi, apa ya, narasi perlawanan itu adalah bullying the imperialist.
07:17Kira-kira gitu bahasanya.
07:19Jadi buat mereka itu juga stage-nya sedang dipegang sama Iran.
07:21Coba kita rasa aja kan di Indonesia sendiri orang kayaknya lebih ke wah Iran itu sangat patriotik gitu.
07:26Nah jadi at the same time Washington juga malahan sedang mengandalkan superioritas naval yang tadi saya bilang.
07:31Dia sedang memulihkan freedom of navigation total dia.
07:34Paralel pada tekanan-tekanan pada tekanan terusan Panama.
07:38Tekanan Selat Hormuz.
07:39Dan saya bilang tadi ya Malaka.
07:42Jadi kalau saya lagi saya underline mohon maaf dan segala hormat pada Pak Meluk dan Pak Utut.
07:46Saya beda karena menurut saya itu Amerika sedang menempatkan skenario satu limited naval class dengan Iran.
07:51Tapi dia akan bikin full choke point denial.
07:54Jadi artinya semua choke point-choke point itu akan dikontrol.
07:56Selain juga Hormuz tapi akan nanti dikaitkan.
07:59Dan bagaimana ada escalation ladder yang mungkin operasi FIB terbatas akan lakukan Amerika Serikat sekarang di Hormuz.
08:05Kemarin di Panama mungkin besok di Malaka.
08:07Dan ini kan ini inline juga dengan apa yang Mas Efat tadi sempat singgung.
08:14Bahwa Amerika Serikat tampaknya ingin mengulur waktu ini untuk coba mencekik tanda kutip Iran dari berbagai sisi.
08:21Tapi apakah ini sebenarnya sudah dibaca oleh Iran menurut Anda dari langkah yang sudah dilakukan hingga saat ini.
08:27Baik oleh pemerintah Iran maupun IRGC, Mas Efatah.
08:33Ya, langkah yang diambil oleh Iran adalah segera menghentikan genjata-senjata dan masuk pada eskalasi.
08:39Sehingga kita bisa melihat bahwa Iran akhirnya memamerkan rudal yang baru.
08:43Ini tanda bahwa mereka sebenarnya memiliki banyak sekali senjata yang mereka pamerkan.
08:47Dan mereka mengatakan bahwa kami masih mampu untuk melakukan satu retaliasi nanti ke depannya.
08:52Nah, ketika kita lihat secara baik-baik ya bahwa Amerika yang telah mengubah doktrin perang mereka menuju pencekikan terhadap ekonomi.
09:00Maka Amerika bisa saja berkilat.
09:02Oke, ke depan kita akan menggunakan Pakistan sebagai bantalan.
09:05Kan begitu?
09:06Mereka tinggal memanfaatkan negara-negara tetangga untuk mengatakan bahwa Iran yang tidak sepakat dengan genjata-senjata.
09:12Atau Iran tidak sepakat dengan negosiasi.
09:14Maka ini adalah permainan yang sempat saya beberapa kali sampaikan.
09:18Amerika memainkan pola bad cop dan good cop dalam teori, madman teori.
09:23Kita bisa lihat bahwa Amerika Serikat ini tahu bahwa center of gravity dari Iran ini adalah bukan politiknya.
09:29Tapi center of gravity dari Iran ini adalah ekonominya begitu.
09:32Ketika ekonomi mereka lumpuh, maka dari itu Amerika Serikat membaca pola-pola demikian dan mulai memberi sinyal bahwa kita adakan
09:41negosiasi.
09:42Tapi di internal Iran itu sendiri antara Galibah, Fahidi, dengan Pajeskian, dan juga Kareganci.
09:48Ini ada perpecahan juga.
09:50Ketika mereka berharap agar ini agar diselesaikan dengan jauh diplomasi, tetapi IRGC mengatakan bahwa kita masih bisa kontrol.
09:56Nah kontrolnya ini kan sampai di mana?
09:58Mereka tahu bahwa Amerika memainkan kontrol terhadap waktu.
10:01Nah ini dia, dalam hal ini saya melihat bahwa Amerika memainkan waktu dan ini menjadi salah satu doktrin yang mereka
10:06gunakan.
10:06Dan menurut mereka cukup efektif.
10:07Dan oleh karena itu apakah meja perundingan jadi hal yang jauh panggang dari api kalau dalam kondisi seperti ini?
10:16Dalam kondisi yang tadi juga Mas Evata sampaikan, strategi Amerika Serikat pun di internal Iran terjadi ada perbedaan pendapat antara
10:23pemerintah dan IRGC.
10:25Kita akan bahas sesuai jadwal di Sapa Indonesia malam.
10:37Masih membahas soal gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat.
10:41Kita bersama dengan dosen ilmu politik Universitas Udayana Evata Filomeno Boromewudwarte dan guru besar hubungan internasional St. Petersburg University Rusia,
10:52Connie Rahakundini.
10:53Dalam kondisi seperti ini apakah artinya ya semakin jauh dari meja perundingan hal yang juga untuk Iran tanda kutip traumatis.
11:02Karena beberapa kali meja perundingan berujung gagal lagi atau bahkan ada serangan di tengah-tengahnya.
11:08Ataupun untuk Amerika Serikat terakhir di Islamabad belum selesai ada kesepakatan tapi sudah pulang duluan jadi vans dan bilang bahwa
11:17Iran tidak mengikuti poin-poin yang menurut Iran juga itu tidak masuk akal untuk dipenuhi.
11:24Bagaimana Bu Connie lihat ini?
11:26Ya saya pikir Iran adalah sangat fair ya Iran minta equality of status artinya bagaimana posisi itu harus setara.
11:32Karena tadi disampaikan dia sudah kapok banget tuh jisi POE 2018 kemudian kemarin 2025-2026 serangan ini yang terjadi.
11:40Maka penolakannya terhadap persepsi capitulation di bawah tekanan chop point Amerika Serikat tuh makin kuat di Iran.
11:46Nah tapi kita mesti lihat juga lah bagaimanapun ada peran-peran yang mulai bermain sekarang kan.
11:50Kita mesti lihat apakah Pakistan sebagai mediator utama dengan dia punya hubungan yang sangat relatif netral itu bisa membantu.
11:58Lalu saya lihat juga ada beberapa potensi misalnya disampaikan oleh Oman ya.
12:03Oman itu kan dianggap sebroker tradisional dia punya rekam jejak muskat talks dan itu sangat baik untuk kita untuk mengedepankan
12:10perdamaian di antara mereka.
12:12Kemudian Turki dan Mesir bagaimanapun juga ini kekuatan regional dan ambisi mediasi mereka tuh sudah terbukti lah.
12:17Nah walaupun Turki menawalkan perspektif NATO non-aligned.
12:23Ya kan lucu nih Turki menawalkannya posisi seperti itu.
12:25Nah China itu yang paling menarik saya sebutkan oleh Mbak Friska.
12:28Jadi Beijing ini menurut saya dia diam-diam melakukan the facilitator behind the scenes gitu.
12:34Jadi itu sangat menarik.
12:35Dan jangan lupa Rusia ya saya sampai mengambil catatan disini biar saya nggak lupa.
12:39Rusia itu coba udah Rosatom apa Direktur Alexei Likachev
12:44minta bahwa dia menyatakan kesiapan membantu relokasi uranium Iran.
12:48Dan ini artinya Rusia sudah lebih maju satu langkah lebih maju ya.
12:52Karena sudah jelas melihat isu uranium, pengharian uranium yang sudah bisa mencapai 90% di beberapa aspek.
12:59Itu menjadi isu sangat rusia sehingga menawarkan bagaimana kalau dipindahkan ke Rusia.
13:04Jadi bukan saja memahinkan peran di Dewan Keamanan.
13:07Tapi sudah further ke arah-arah lebih konkret misalnya pengharian uranium dan pengharian nuclear.
13:13Nah Mas Evata bagaimana melihat langkah dari Rusia dan China atau Tiongkok sebagai negara-negara yang dekat dengan Iran.
13:21Tadi Rusia mengambil langkah untuk pengaman uranium, sementara juga China yang kita tidak menyangka bisa masuk ke negara-negara teluk
13:30ini mengambil peran dalam konflik yang terjadi Mas Evata.
13:38Ya, bahwa saya mendapatkan beberapa catatan dan juga informasi ya terkait dengan Amerika Serikat memberitahu
13:46agar China tidak mendukung ya selip mereka atau ruda-ruda profiler nanti akan digunakan untuk menjadi salah satu kekuatan tambahan
13:56ya
13:56dari misil-misil Iran itu sendiri.
13:58Dan juga kita lihat bahwa Rusia juga memainkan pola-pola yang sama dan kembali lagi kita melihat bahwa
14:05semua sisi akhirnya berharap agar konflik ini cepat berakhir.
14:10Tetapi kalau kita lihat baik-baik ya bahwa memang poros ini masih timpang dan kurang solid kalau saya lihat ya.
14:18Pertama kita bisa lihat China ya memveto resolusi intervensi militer di Selat Hormuz.
14:23Nah ini kan adalah salah satu pukulan telak yang kita lihat bagi Teheran.
14:26Nah kita melihat bahwa Beijing ternyata tidak serius untuk menyelamatkan Iran meskipun pada catatannya mereka mensuplai senjata,
14:34mereka membeli minyak Iran.
14:35Tetapi ketika mereka meminta agar dunia internasional menaruh mata, menaruh perhatian secara total
14:41dan menghentikan agresi yang dilakukan oleh Amerika dan juga Israel,
14:45nyatanya mereka tidak mencapai kesepakatan demikian.
14:48Belum ada titik win-win solusi yang muncul dari semua fenomena yang kita lihat ya.
14:55Selanjutnya kita bisa melihat dari Rusia itu sendiri.
14:58Kita tahu bahwa Moskow ini sudah memberikan bantuan intelijen secara terbatas ya.
15:01Data posisi pasukan Amerika Serikat memang sudah dari dulu dan ada berapa catatan-catatan yang konkret di sana.
15:07Akan tetapi ya kita melihat bahwa negara-negara yang saat ini memiliki kepentingan di Iran,
15:15itu semua tergantung juga dari Selat Hormuz.
15:18Maka Rusia juga ternyata tidak memiliki satu bergening yang cukup kuat ya.
15:22Dan terkesan agak cukup lemah secara ekonomi dan militer untuk memberikan dukungan yang benar-benar secara total gitu.
15:27Nah padahal mereka adalah mitra yang bisa kita lihat sangat-sangat dekat.
15:32Dan ini kan berarti tanda ada oportunistik ya.
15:34Bukan merupakan sekutu sejati.
15:36Nah maka dari itu apakah semua sengaja untuk memperpanjang perang ini?
15:41Padahal kan dalam beberapa catatan harusnya perang ini sudah berakhir gitu.
15:44Seharusnya sudah melakukan veto terhadap...
15:46Ternyatanya veto itu hanya diberikan untuk Israel ya.
15:49Veto itu diberikan kepada negara-negara lain padahal untuk bertahan hidup juga gitu.
15:52Nah maka hal ini yang saya lihat ya dan juga ada katup-katup pengaman ya dari Pakistan itu sendiri yang
15:58memainkan pola-pola seperti ini ya.
16:00Ketika ada tekanan ya mereka memainkan upaya untuk negosiasi.
16:03Padahal negosiasi adalah bagian dari perang Amerika juga.
16:05Nah ini kan semua airnya dalam domain-domain mereka.
16:08Nah ini yang kalau saya lihat masih belum terlihat.
16:11Ketika semua negara sepakat untuk menghentikan maka sudah ada terlihat.
16:15Padahal proposal dalam Islamabad kemarin kan Cina juga mendukung.
16:18Cina kan diundang sebagai saksi dalam diplomasi.
16:21Tapi nyatanya sampai hari ini belum ada satu dukungan konkret yang jelas ya.
16:26Saya lihat demikian.
16:27Ini yang jadi batu sandungan hingga saat ini.
16:29Terakhir Bu Kony, apa yang bisa dilakukan kalau begitu logisnya untuk penghentikan perang antara Amerika Serikat dan Iran ini?
16:36Apakah memang kedua belah pihak yang harus menahan diri?
16:40Atau harus ada intervensi dari negara-negara lain?
16:43Saya rasa sudah ada intervensi ya.
16:45Udah bagus kemarin ada pertemuan antara Macron dengan beberapa pemimpin,
16:48langsung juga Rusia dan Cina.
16:50Menurut saya itu sudah sangat bagus gitu.
16:51Tapi saya tuh kok pengen lebih tarik ke Indonesia?
16:54Kok saya lebih concern?
16:55Saya takutnya nih ya pertama kalau perang ini akan panjang sampai Desember.
17:00Anggap saya pernah sampai, artinya dolar itu akan tembus di atas 150.
17:05Which is akan berdampak pada Asia, terutama ya.
17:07Pada Asia Timur, lalu of course the whole Asia.
17:11Nah, jadi saya ingin ingatkan aja sekali lagi, sebagai negara kepulauan pengambil dari Selat Malacca,
17:16Indonesia itu dia berada di tengah posisi yang sangat-sangat strategis.
17:20Jadi MDCP kemarin banyak maksimumnya untuk keuntungan kita.
17:24Bisa menawarkan modernisasi teknik yang keren laut, bisa menawarkan meletan domain awareness,
17:29kemudian potensi blanket overflight yang kita perdebatkan.
17:31Itu mungkin, ya kan?
17:33Membangun juga kapasitas building angkatan udara.
17:35Sekali lagi mungkin, ya.
17:36Tapi, kita tuh harus ingat, prinsip kita sejak Soekarno itu adalah bebas aktif.
17:41Artinya, Indonesia harus mendapatkan kedaulatan dan hindari entrapment,
17:45masuk ke dalam great power proxy.
17:47Khususnya, sekali lagi, saya tadi bilang di awal kan,
17:51petram ini nggak sekonyong-konyong kok tiba-tiba ke Hormuz, dia pengen block it,
17:54tapi dia udah mulai dari Panama.
17:55Dia kemudian sekarang ke Hormuz,
17:57dan sekarang kapal-kapal perang sudah mulai melewati lagi Malacca.
18:00Betul kalau disampaikan kapal kita punya free passage atau phone op.
18:03Tapi juga, phone op kan nggak tiba-tiba ada juga kenapa dia tiba-tiba aplikasikan phone op-nya
18:08di tengah-tengah mengejar metil kapal Iran di Malacca, gitu.
18:10Itu harus menjadi catatan kita.
18:13Jadi, sekali lagi, sebagai middle power,
18:14saya harap Indonesia bisa mengaktifkan di track one and health, track two,
18:20ya kan, selain juga track 01-nya.
18:24Karena ini penting.
18:25Dan artinya apa? Mendengar masukkan rakyat, masukkan auto utara, masukkan akademisi.
18:30Karena, sekali lagi, point track one and health dan dua itu sangat berperan
18:34sebenarnya di Kementerian Ruang Negeri dan juga dikerjasama antar negara.
18:37Jadi, sekali lagi, saya sering sekali bahas Iran dan ini dan itu.
18:40Tapi, saya ingin kita lebih tarik juga ke Indonesia ini.
18:43Apa dampaknya kalau Indonesia nggak secara strategik memikirkan masalah ini dengan baik?
18:48Ya, mincatan Amerika Serikat dan Iran ini kita tunggu di mana akhirnya,
18:52tapi di sisi lain juga negara-negara termasuk Indonesia harus mengantisipasi dampak
18:57dari ini perangnya bahkan sudah mau masuk dua bulan sejak 28 Februari lalu.
19:02Terima kasih, Mas Evata, Evata Filomeno Boromeo Duarte,
19:06dosen ilmu politik Universitas Udayana,
19:08juga Ibu Konirah Akundini,
19:10Guru Besar Hubungan Internasional St. Petersburg University, Rusia.
19:14Terima kasih. Selamat malam.
Komentar