Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Anggota Komisi I DPR RI F-PKB, Syamsu Rizal memandang bahwa Indonesia bertahan dulu di Board of Peace (BOP) di tengah perang AS-Israel melawan Iran.

"Kalau sekarang ini kita bertahan dulu saja melihat perkembangan aktualnya seperti apa karena luar biasa dinamisnya," ujar Syamsu.

Sementara itu, Tenaga Ahli KSP Khairul Fahmi mengatakan bahwa pemerintah menegaskan pembicaraan tentang BOP ditunda.

Baca Juga Iran Buka Penuh Selat Hormuz untuk Semua Kapal, Sinyal Perang dengan AS Berakhir? | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/663825/iran-buka-penuh-selat-hormuz-untuk-semua-kapal-sinyal-perang-dengan-as-berakhir-bola-liar

#boardofpeace #amerika #indonesia

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663826/perang-as-israel-vs-iran-posisi-indonesia-rumit-karena-masuk-bop-bola-liar
Transkrip
00:00Ini memang ada dua hal yang bersamaan ya, BOP kita memutuskan bergabung BOP ketika peran Iran, Israel, dan Amerika ini
00:13belum terjadi, belum pecah.
00:16Dan sekarang setelah pecah?
00:17Ada kesamaan aktor memang, ada irisan aktor.
00:22Iran terlibat dalam konteks BOP mereka termasuk yang di posisi kontra, menolak.
00:28Amerika, Israel terlibat dalam BOP.
00:31Tapi ini kan sebenarnya dua kes yang berbeda walaupun ada irisan aktor yang sama.
00:38Sehingga tentu kalau dalam konteks ini kita melihat bahwa apa yang disampaikan tadi bahwa ada desakan untuk sebagian besar publik
00:4950% lebih menolak BOP.
00:51Jadi sebenarnya itu kalau bagi kita, kita melihat bahwa itu bentuk masih adanya ketertinggalan persepsi publik ya, terkait dengan situasi
01:05dan dinamika terakhir di Timur Tengah.
01:07Di mana kita pemerintah sudah menegaskan bahwa pembicaraan soal BOP on hold.
01:13Menggantung gitu ya, saya ke Pak Imron kalau gitu.
01:15Menurut Pak Imron, apakah posisi kita di BOP ini justru memperumit posisi Indonesia dalam bersikap politik bebas aktif pun dalam
01:26perang Iran ini?
01:26Ya, mungkin kita harus mulai dengan mendekati ini dari perspektif teoretik ya.
01:37Dari perspektif teoretik ini memang BOP ini agak unik.
01:41Dia tidak bisa dikatakan sebagai intergovernmental organization.
01:46Karena apa? Karena kepalanya itu pribadi.
01:49Yang namanya Presiden Trump atau Donald Trump ya.
01:54Kemudian membawahi di board itu adalah anggotanya itu adalah kepala-kepala negara.
02:00Jadi seorang swasta membawahi kepala-kepala negara.
02:04Nah di bawah board ini ada yang namanya Executive Board.
02:09Yang itu memberikan pengarahan terhadap apa yang harus dikerjakan ketika BOP ini beroperasi.
02:16Kemudian di bawahnya ada namanya National Committee on Gaza Administration.
02:23Ini biasanya direncanakan akan diisi oleh para teknokrat untuk pembangunan kembali.
02:30Nah ini agak unik ya.
02:33Karena apa?
02:34Karena pertama organisasi ini bukan perpanjangan tangan dari PBB.
02:40Nah kalau kita mengirim pasukan, 8 ribu ya.
02:44Bahkan mungkin bisa berkembang sampai kepada 20 ribu.
02:48Ini statusnya sebagai apa?
02:51Mandatnya apa? Mantelnya apa?
02:54Karena pasukan yang kita kirim sebagai pasukan perdamaian, peacekeeping operation,
03:01di beberapa kawasan itu kan ada mantelnya.
03:04Mantelnya itu adalah mandat dari PBB.
03:06Itu aja dikorbankan.
03:08Oke.
03:08Apalagi ini yang tidak ada mandat atau mantel atau perlindungan baju dari PBB.
03:16Nah ini kita juga harus pertimbangkan.
03:18Apakah kita, we are ready to sacrifice our best sons and daughters.
03:24Jadi kalau simpulannya mau menurut Anda kita keluar saja atau gimana?
03:28Tergantung dari mana perspektif kita gitu.
03:31Nah lagi-lagi kita harus lihat bahwa organisasi ini sebenarnya anggota board, anggota national committee itu tidak perlu.
03:41Karena ketuanya, chairmannya itu bisa memveto semuanya apa saja gitu.
03:47Oke.
03:47Nah sekarang kita memang harus kendali.
03:49The problem is, ada orang yang berpendapat bahwa kalau if Indonesia is being part of BOP, nanti di dalam kita
03:58bisa berjuang.
03:59Oke.
03:59Tapi kenyataannya memang BOP itu tidak menyebut ada two state solutions.
04:05Nah ini juga menjadi dilema.
04:07Nah saya tidak tahu apa pemikiran yang ada di pemerintah, pertimbangannya tentu adalah mengapa kita masuk ke situ.
04:16Tapi setelah pecahnya perang maksud saya.
04:18Nah itu yang makanya.
04:20Board of Peace itu kemudian dikritik orang sebagai Board of War.
04:27Baru beberapa minggu dideklarasikan ternyata dua anggota utamanya, ketua dan anggota utamanya sudah melancarkan peperangan.
04:36Oke baik saya.
04:36Nah ini juga akan menimbulkan apa yang dinamakan kontradiksi lah katakan.
04:42Oke baik saya ke Pak Samsu.
04:43Pak Samsu, kalau menurut Indonesia Anda sebaiknya Indonesia keluar saja dari BOP atau stay dengan perkembangan perang Iran yang kita
04:52lihat.
04:52Kalau sekarang ini kita stay aja dulu lihat perkembangan aktualnya seperti apa karena luar biasa dinamisnya.
04:59Tetapi yang paling penting ini adalah menggunakan momen ini untuk memastikan bahwa kita punya perencanaan yang matang soal diplomasi.
05:07Karena seperti yang saya katakan tadi itu bahwa kita tidak memiliki perencanaan yang jelas yang bisa disampaikan kepada publik.
05:14Mungkin ada di Kementerian Luar Negeri.
05:15Apalagi di Kementerian Luar Negeri sekarang sudah ada badan baru yang namanya badan kajian strategis kebijakan luar negeri.
05:22Dan itu kita bisa gunakan untuk membuat semacam kalau saya usulkan semacam COP atau Malaka Accord lah.
05:32Yang memungkinkan kita memiliki bargaining power untuk meneguhkan bahwa bicara soal kemampuan pertahanan di regional ASEAN misalnya.
05:41Kita pasti Indonesia. Jadi ASEAN is Indonesia misalnya.
05:45Kita kemudian memimpin pengelolaan Selat Malaka itu dengan berbagai perjadian unilateral di antara negara ASEAN itu.
05:53Sehingga setelah selesai, mudah-mudahan selesai, ada deeskalasi, kita sudah memiliki brand internasional yang cukup untuk menjadi benar-benar sebagai
06:02pemimpin di Global South.
06:04Nah seperti sekarang ini kita belum.
06:06Karena keberanian dan inisiatif dari seorang Presiden Prabowo saja, kemudian kita selalu menjadi point of view dari berbagai macam negara.
06:14Tetapi pada hakikatnya kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk dijual dalam tanda kutip menjadi bargaining.
06:21Sehingga Indonesia memiliki cita yang baik lah.
06:25Oke baik, coba kita sekarang ke sentimen domestik lagi, survei lagi.
06:30Ini hasilnya survei atas keputusan Republik Indonesia kirim 8.000 anggota TNI ke Gaza, mayoritas tidak setuju.
06:37Setuju 28,1 persen, tidak setuju 36 persen, dan sangat tidak setuju 8,9 persen.
06:44Pak Jayadi, hasil surveinya menunjukkan mayoritas tidak setuju dan sangat tidak setuju.
06:49Tidak mayoritas sih, yang tidak setuju itu ada tidak sampai 50 persen, tapi memang lebih banyak, kebanyakan ya.
06:58Yang setuju itu ada sekitar 33 persenan.
07:01Artinya masyarakat kita itu secara umum tidak setuju dengan pengiriman 8.000 anggota TNI ke Gaza itu.
07:09Tapi pada saat yang sama ada sebagian yang merasa ada gunanya gitu.
07:13Ya berarti mereka terbelah karena apa kira-kira?
07:14Terbelah, ya ini apa namanya mungkin kejelasan ini seperti yang ditanyakan oleh Pak Imron Kotan tadi, Pak Dubes tadi.
07:23Ini kalau 8.000 dikirim ke sana atas nama siapa gitu.
07:26Pejaminan keamanannya sama siapa dan sebagainya.
07:29Jadi ada keterbelahan di masyarakat kita.
07:32Di satu sisi, kalau Indonesia itu memendamaikan kasus di Timur Tengah,
07:38orang Indonesia itu kan salah satu isu yang di dear heart-nya orang Indonesia kan itu, isu perdamaian di Gaza
07:46itu.
07:46Jadi orang Indonesia itu mau membantu penyelesaian di sana, bahkan kalau misalnya harus mengirim tentara.
07:53Tetapi ini kan mereka jadi ragu-ragu dikirim ke sana itu jaminan keselamatnya bagaimana.
07:58Yang kedua, apakah itu benar-benar akan membantu menyelesaikan perdamaian di Gaza?
08:04Apalagi kalau dikaitkan dengan, ini kan survei ini dilakukan setelah Amerika-Israel menyerang Iran kan?
08:11Apa namanya, Amerika dan Israel itu kan dianggap bagian dari persoalan di sana oleh masyarakat Indonesia secara umum kan?
08:19Jadi jangan-jangan mengirimkan tentara itu bisa jadi berguna, tapi banyakkan menganggap itu tidak berguna.
08:26Jadi ada keterbelahan sikap itu karena ketidakjelasan berbagai hal tersebut.
08:32Oke baik, saya ke Pak Agung.
08:33Bagaimana Anda membaca sikap, sentimen domesik terkait dengan keterbelahan sikap masyarakat atas pengiriman 8.000 anggota Tengah ke Gaza?
08:44Pendapat masyarakat itu dipengaruhi oleh media dan para opinion leader yang sering dibaca oleh media.
08:53Apakah yang mereka dengar? Apakah yang mereka dengar adalah ke sana akan membantu Palestina Merdeka?
08:58Atau ke sana akan mengirim nyawa?
09:00Itu tergantung bagaimana mereka mendapatkan input dari media.
09:06Jadi seharusnya dalam membuat survei seperti ini, berikan siang di wawancara itu diberikan penjelasan situasi risiko dan tidak risikonya,
09:16baru dinilai, baru dia tahu bahwa ini betapa bahaya atau betapa untung dan sebetulnya.
09:21Tapi masalahnya adalah para yang disurvei ini dia berdasarkan apa yang dia lihat di media atau dia lihat lewat media
09:28sosial.
09:28Dan kita tahu bahwa media sosial dipengaruhi oleh ada yang berisi buzzer, ada yang berisi opinion leader dan segala macam.
09:37Dan kita tahu siapa yang menguasai media adalah pihak-pihak yang mempunyai modal.
09:42Dan mempunyai modal adalah pasti kencenderungannya sedikit banyak ada baratnya.
09:45Di dalam yang kita ketahui bahwa di Indonesia sendiri,
09:49sebagian intelektual kita masih berpikiran bahwa kita harusnya ikut pada sesuatu yang ikut tatanan barat.
09:55Kenapa? Karena stabilitas ekonomi alasannya.
09:59Apapun yang bersifat kelihatannya tidak sama dengan barat, dalam arti ini Amerika,
10:06itu berarti itu akan mengganggu mengenai stabilitas ekonomi.
10:09Intinya seperti itu.
10:10Namun masalahnya adalah kita juga punya tujuan negara,
10:14kita punya undang dasar atau pembuatan dasar yang menyatakan bahwa kemerdekaan hak segala bangsa.
10:19Tidak bisa demi stabilitas ekonomi, terus Palestina tidak boleh merdeka.
10:23Itu yang utamanya. Tapi itu sudah diabaikan kan.
10:26Yang penting stabilitas ekonomi.
10:28Akhirnya kepentingan ekonomi lebih dipentingkan daripada tujuan
10:31kenapa Indonesia berdeka yang terdapat dalam pembukaan undang-undang dasar.
10:35Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
10:38Jadi stabilitas ekonomi juga penting.
10:41Namun sekarang orang juga lupa juga bahwa
10:42sesungguhnya unipolarisme atau kekuatan barat itu karena mereka betul berkuasa ekonomi.
10:48Namun sekarang dengan adanya BRICS, ternyata dunia ketiga, dunia kedua sudah memiliki kekuatan ekonomi yang sama bahkan lebih besar.
10:56Artinya kita tidak usah ragu-ragu.
10:59Bahkan juga yang disebut dengan barat itu pun terpecah dan adanya Donald Trump
11:03itu membuat malah sebagian masyarakat barat, NATO, Uni Eropa sudah berbalik badan.
11:10Sudah tidak lagi, bahkan Timur Tengah pun sudah tidak mau mengizinkan pesawat Amerika lewat, segala macam.
11:15Artinya kita juga harus bangun, ini dunia baru yang disebut dengan hegemon adidaya itu sudah tidak satu lagi.
11:23Sudah ada yang lainnya.
11:24Kita harus cepat merestruturasi bagaimana kita memandang apa yang harus boleh dan tidak boleh
11:29demi kepentingan nasional kita agar apa?
11:31Agar kita bisa melakukan dengan benar, tidak masih ikut aturan lama.
11:35Baik saya ke Mbak Cepaka.
11:37Bagaimana Indonesia mendayung di antara dua raksasa, ada China dan juga Amerika Serikat
11:42untuk mengamankan kepentingan nasional?
11:44Nanti dijawab oleh Liarska Kembali Saudara.
Komentar

Dianjurkan