00:00Ini memang ada dua hal yang bersamaan ya, BOP kita memutuskan bergabung BOP ketika peran Iran, Israel, dan Amerika ini
00:13belum terjadi, belum pecah.
00:16Dan sekarang setelah pecah?
00:17Ada kesamaan aktor memang, ada irisan aktor.
00:22Iran terlibat dalam konteks BOP mereka termasuk yang di posisi kontra, menolak.
00:28Amerika, Israel terlibat dalam BOP.
00:31Tapi ini kan sebenarnya dua kes yang berbeda walaupun ada irisan aktor yang sama.
00:38Sehingga tentu kalau dalam konteks ini kita melihat bahwa apa yang disampaikan tadi bahwa ada desakan untuk sebagian besar publik
00:4950% lebih menolak BOP.
00:51Jadi sebenarnya itu kalau bagi kita, kita melihat bahwa itu bentuk masih adanya ketertinggalan persepsi publik ya, terkait dengan situasi
01:05dan dinamika terakhir di Timur Tengah.
01:07Di mana kita pemerintah sudah menegaskan bahwa pembicaraan soal BOP on hold.
01:13Menggantung gitu ya, saya ke Pak Imron kalau gitu.
01:15Menurut Pak Imron, apakah posisi kita di BOP ini justru memperumit posisi Indonesia dalam bersikap politik bebas aktif pun dalam
01:26perang Iran ini?
01:26Ya, mungkin kita harus mulai dengan mendekati ini dari perspektif teoretik ya.
01:37Dari perspektif teoretik ini memang BOP ini agak unik.
01:41Dia tidak bisa dikatakan sebagai intergovernmental organization.
01:46Karena apa? Karena kepalanya itu pribadi.
01:49Yang namanya Presiden Trump atau Donald Trump ya.
01:54Kemudian membawahi di board itu adalah anggotanya itu adalah kepala-kepala negara.
02:00Jadi seorang swasta membawahi kepala-kepala negara.
02:04Nah di bawah board ini ada yang namanya Executive Board.
02:09Yang itu memberikan pengarahan terhadap apa yang harus dikerjakan ketika BOP ini beroperasi.
02:16Kemudian di bawahnya ada namanya National Committee on Gaza Administration.
02:23Ini biasanya direncanakan akan diisi oleh para teknokrat untuk pembangunan kembali.
02:30Nah ini agak unik ya.
02:33Karena apa?
02:34Karena pertama organisasi ini bukan perpanjangan tangan dari PBB.
02:40Nah kalau kita mengirim pasukan, 8 ribu ya.
02:44Bahkan mungkin bisa berkembang sampai kepada 20 ribu.
02:48Ini statusnya sebagai apa?
02:51Mandatnya apa? Mantelnya apa?
02:54Karena pasukan yang kita kirim sebagai pasukan perdamaian, peacekeeping operation,
03:01di beberapa kawasan itu kan ada mantelnya.
03:04Mantelnya itu adalah mandat dari PBB.
03:06Itu aja dikorbankan.
03:08Oke.
03:08Apalagi ini yang tidak ada mandat atau mantel atau perlindungan baju dari PBB.
03:16Nah ini kita juga harus pertimbangkan.
03:18Apakah kita, we are ready to sacrifice our best sons and daughters.
03:24Jadi kalau simpulannya mau menurut Anda kita keluar saja atau gimana?
03:28Tergantung dari mana perspektif kita gitu.
03:31Nah lagi-lagi kita harus lihat bahwa organisasi ini sebenarnya anggota board, anggota national committee itu tidak perlu.
03:41Karena ketuanya, chairmannya itu bisa memveto semuanya apa saja gitu.
03:47Oke.
03:47Nah sekarang kita memang harus kendali.
03:49The problem is, ada orang yang berpendapat bahwa kalau if Indonesia is being part of BOP, nanti di dalam kita
03:58bisa berjuang.
03:59Oke.
03:59Tapi kenyataannya memang BOP itu tidak menyebut ada two state solutions.
04:05Nah ini juga menjadi dilema.
04:07Nah saya tidak tahu apa pemikiran yang ada di pemerintah, pertimbangannya tentu adalah mengapa kita masuk ke situ.
04:16Tapi setelah pecahnya perang maksud saya.
04:18Nah itu yang makanya.
04:20Board of Peace itu kemudian dikritik orang sebagai Board of War.
04:27Baru beberapa minggu dideklarasikan ternyata dua anggota utamanya, ketua dan anggota utamanya sudah melancarkan peperangan.
04:36Oke baik saya.
04:36Nah ini juga akan menimbulkan apa yang dinamakan kontradiksi lah katakan.
04:42Oke baik saya ke Pak Samsu.
04:43Pak Samsu, kalau menurut Indonesia Anda sebaiknya Indonesia keluar saja dari BOP atau stay dengan perkembangan perang Iran yang kita
04:52lihat.
04:52Kalau sekarang ini kita stay aja dulu lihat perkembangan aktualnya seperti apa karena luar biasa dinamisnya.
04:59Tetapi yang paling penting ini adalah menggunakan momen ini untuk memastikan bahwa kita punya perencanaan yang matang soal diplomasi.
05:07Karena seperti yang saya katakan tadi itu bahwa kita tidak memiliki perencanaan yang jelas yang bisa disampaikan kepada publik.
05:14Mungkin ada di Kementerian Luar Negeri.
05:15Apalagi di Kementerian Luar Negeri sekarang sudah ada badan baru yang namanya badan kajian strategis kebijakan luar negeri.
05:22Dan itu kita bisa gunakan untuk membuat semacam kalau saya usulkan semacam COP atau Malaka Accord lah.
05:32Yang memungkinkan kita memiliki bargaining power untuk meneguhkan bahwa bicara soal kemampuan pertahanan di regional ASEAN misalnya.
05:41Kita pasti Indonesia. Jadi ASEAN is Indonesia misalnya.
05:45Kita kemudian memimpin pengelolaan Selat Malaka itu dengan berbagai perjadian unilateral di antara negara ASEAN itu.
05:53Sehingga setelah selesai, mudah-mudahan selesai, ada deeskalasi, kita sudah memiliki brand internasional yang cukup untuk menjadi benar-benar sebagai
06:02pemimpin di Global South.
06:04Nah seperti sekarang ini kita belum.
06:06Karena keberanian dan inisiatif dari seorang Presiden Prabowo saja, kemudian kita selalu menjadi point of view dari berbagai macam negara.
06:14Tetapi pada hakikatnya kita tidak memiliki sumber daya yang cukup untuk dijual dalam tanda kutip menjadi bargaining.
06:21Sehingga Indonesia memiliki cita yang baik lah.
06:25Oke baik, coba kita sekarang ke sentimen domestik lagi, survei lagi.
06:30Ini hasilnya survei atas keputusan Republik Indonesia kirim 8.000 anggota TNI ke Gaza, mayoritas tidak setuju.
06:37Setuju 28,1 persen, tidak setuju 36 persen, dan sangat tidak setuju 8,9 persen.
06:44Pak Jayadi, hasil surveinya menunjukkan mayoritas tidak setuju dan sangat tidak setuju.
06:49Tidak mayoritas sih, yang tidak setuju itu ada tidak sampai 50 persen, tapi memang lebih banyak, kebanyakan ya.
06:58Yang setuju itu ada sekitar 33 persenan.
07:01Artinya masyarakat kita itu secara umum tidak setuju dengan pengiriman 8.000 anggota TNI ke Gaza itu.
07:09Tapi pada saat yang sama ada sebagian yang merasa ada gunanya gitu.
07:13Ya berarti mereka terbelah karena apa kira-kira?
07:14Terbelah, ya ini apa namanya mungkin kejelasan ini seperti yang ditanyakan oleh Pak Imron Kotan tadi, Pak Dubes tadi.
07:23Ini kalau 8.000 dikirim ke sana atas nama siapa gitu.
07:26Pejaminan keamanannya sama siapa dan sebagainya.
07:29Jadi ada keterbelahan di masyarakat kita.
07:32Di satu sisi, kalau Indonesia itu memendamaikan kasus di Timur Tengah,
07:38orang Indonesia itu kan salah satu isu yang di dear heart-nya orang Indonesia kan itu, isu perdamaian di Gaza
07:46itu.
07:46Jadi orang Indonesia itu mau membantu penyelesaian di sana, bahkan kalau misalnya harus mengirim tentara.
07:53Tetapi ini kan mereka jadi ragu-ragu dikirim ke sana itu jaminan keselamatnya bagaimana.
07:58Yang kedua, apakah itu benar-benar akan membantu menyelesaikan perdamaian di Gaza?
08:04Apalagi kalau dikaitkan dengan, ini kan survei ini dilakukan setelah Amerika-Israel menyerang Iran kan?
08:11Apa namanya, Amerika dan Israel itu kan dianggap bagian dari persoalan di sana oleh masyarakat Indonesia secara umum kan?
08:19Jadi jangan-jangan mengirimkan tentara itu bisa jadi berguna, tapi banyakkan menganggap itu tidak berguna.
08:26Jadi ada keterbelahan sikap itu karena ketidakjelasan berbagai hal tersebut.
08:32Oke baik, saya ke Pak Agung.
08:33Bagaimana Anda membaca sikap, sentimen domesik terkait dengan keterbelahan sikap masyarakat atas pengiriman 8.000 anggota Tengah ke Gaza?
08:44Pendapat masyarakat itu dipengaruhi oleh media dan para opinion leader yang sering dibaca oleh media.
08:53Apakah yang mereka dengar? Apakah yang mereka dengar adalah ke sana akan membantu Palestina Merdeka?
08:58Atau ke sana akan mengirim nyawa?
09:00Itu tergantung bagaimana mereka mendapatkan input dari media.
09:06Jadi seharusnya dalam membuat survei seperti ini, berikan siang di wawancara itu diberikan penjelasan situasi risiko dan tidak risikonya,
09:16baru dinilai, baru dia tahu bahwa ini betapa bahaya atau betapa untung dan sebetulnya.
09:21Tapi masalahnya adalah para yang disurvei ini dia berdasarkan apa yang dia lihat di media atau dia lihat lewat media
09:28sosial.
09:28Dan kita tahu bahwa media sosial dipengaruhi oleh ada yang berisi buzzer, ada yang berisi opinion leader dan segala macam.
09:37Dan kita tahu siapa yang menguasai media adalah pihak-pihak yang mempunyai modal.
09:42Dan mempunyai modal adalah pasti kencenderungannya sedikit banyak ada baratnya.
09:45Di dalam yang kita ketahui bahwa di Indonesia sendiri,
09:49sebagian intelektual kita masih berpikiran bahwa kita harusnya ikut pada sesuatu yang ikut tatanan barat.
09:55Kenapa? Karena stabilitas ekonomi alasannya.
09:59Apapun yang bersifat kelihatannya tidak sama dengan barat, dalam arti ini Amerika,
10:06itu berarti itu akan mengganggu mengenai stabilitas ekonomi.
10:09Intinya seperti itu.
10:10Namun masalahnya adalah kita juga punya tujuan negara,
10:14kita punya undang dasar atau pembuatan dasar yang menyatakan bahwa kemerdekaan hak segala bangsa.
10:19Tidak bisa demi stabilitas ekonomi, terus Palestina tidak boleh merdeka.
10:23Itu yang utamanya. Tapi itu sudah diabaikan kan.
10:26Yang penting stabilitas ekonomi.
10:28Akhirnya kepentingan ekonomi lebih dipentingkan daripada tujuan
10:31kenapa Indonesia berdeka yang terdapat dalam pembukaan undang-undang dasar.
10:35Bahwa kemerdekaan adalah hak segala bangsa.
10:38Jadi stabilitas ekonomi juga penting.
10:41Namun sekarang orang juga lupa juga bahwa
10:42sesungguhnya unipolarisme atau kekuatan barat itu karena mereka betul berkuasa ekonomi.
10:48Namun sekarang dengan adanya BRICS, ternyata dunia ketiga, dunia kedua sudah memiliki kekuatan ekonomi yang sama bahkan lebih besar.
10:56Artinya kita tidak usah ragu-ragu.
10:59Bahkan juga yang disebut dengan barat itu pun terpecah dan adanya Donald Trump
11:03itu membuat malah sebagian masyarakat barat, NATO, Uni Eropa sudah berbalik badan.
11:10Sudah tidak lagi, bahkan Timur Tengah pun sudah tidak mau mengizinkan pesawat Amerika lewat, segala macam.
11:15Artinya kita juga harus bangun, ini dunia baru yang disebut dengan hegemon adidaya itu sudah tidak satu lagi.
11:23Sudah ada yang lainnya.
11:24Kita harus cepat merestruturasi bagaimana kita memandang apa yang harus boleh dan tidak boleh
11:29demi kepentingan nasional kita agar apa?
11:31Agar kita bisa melakukan dengan benar, tidak masih ikut aturan lama.
11:35Baik saya ke Mbak Cepaka.
11:37Bagaimana Indonesia mendayung di antara dua raksasa, ada China dan juga Amerika Serikat
11:42untuk mengamankan kepentingan nasional?
11:44Nanti dijawab oleh Liarska Kembali Saudara.
Komentar