Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Wakil Ketua Umum MUI, Marsudi Syuhud mengatakan isu keanggotaan Indonesia di Board of Peace (BOP) sudah tidak relevan.

Menurutnya, saat ini justru isunya tentang peran Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk menghentikan perang AS-Israel melawan Iran.

"Isu BOP sudah nggak relevan mestinya Ketika sudah ada perang begini yang relevan adalah isunya stop war. Isunya adalah PBB yang harus mendamaikan perang ini," ujar Marsudi.

Sementara itu, Tenaga Ahli KSP Khairul Fahmi berpendapat bahwa sejak awal pemerintah mengatakan jika BOP tidak lagi relevan maka keputusannya keluar.

Baca Juga Perang AS-Israel Vs Iran, Posisi Indonesia Rumit karena Masuk BOP? | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/663826/perang-as-israel-vs-iran-posisi-indonesia-rumit-karena-masuk-bop-bola-liar

#boardofpeace #indonesia #trump

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663827/adu-argumen-tenaga-ahli-ksp-vs-waketum-mui-soal-posisi-indonesia-di-bop-bola-liar
Transkrip
00:00Ya Mbak Cempaka dalam konteks perangiran kepentingan nasional apa yang tengah diperjuangkan oleh Presiden Prabowo Subianto sehingga kita harus mendayung
00:09diantara dua karang?
00:11Tentu saya menyampaikan juga apa yang telah disampaikan oleh Mas Umam tadi bahwa tidak hanya mendayung diantara dua karang tapi
00:20juga banyak bahan kita harus bisa berselancar diantara karang-karang ini.
00:24Dan tentu saja sebagai sebuah negara yang middle power atau kekuatan menengah yang tidak terlalu memiliki kekuatan koersif yang cukup
00:32besar seperti great power tentu sebuah kepastian dalam memilih hedging maupun memilih satu polar itu akan merugikan bagi negara middle
00:45power, bagi negara menengah.
00:47Nah tentu tapi harus menjadi koreksi dalam konteks ini adalah ketika kita bicara bebas aktif tentu interpretasi bebas aktif yang
00:55dimiliki di jaman Bung Hatta seperti yang disampaikan oleh Pak Dubes itu tentu harus di reinterpretasi dalam kondisi saat ini.
01:02Ketika dulu ada statement bahwa kita tidak memilih antara Moskow dan Washington saat ini kita harus mungkin harus memilih dengan
01:09keduanya begitu.
01:10Dalam hal ini tentu saja kepentingan nasional menjadi jangkar yang paling penting.
01:15Ketika kita juga mengingat ketika bicara tentang overflight, blanket, ini bukan kasus pertama terjadi karena tadi Pak Masudi bicara tentang
01:26tarik-menarik.
01:27Nah tarik-menarik ini terjadi kita mungkin masih ingat bagaimana akhir 2025 lalu ada isu terkait dengan bagaimana diberikan akses
01:36untuk Rusia di Papua misalnya yang membuat negara misalnya Australia gerah.
01:41Nah ini sebenarnya dan ternyata terbukti Kemhan dan pemerintah menyatakan bahwa ini bukanlah sesuatu kejadian begitu.
01:48Dan tentu saja kita tahu bahwa sebuah permintaan dari sebuah negara itu wajar-wajar saja.
01:53Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai negara yang memiliki kedaulatan dan memiliki pertimbangan kepentingan nasional bisa tadi seperti yang disampaikan oleh
02:01Pak Jayadi begitu mendengar apa masukan dari masyarakat begitu dan juga merefleksikannya dalam politik luar negeri kita.
02:09Oke baik saya ke Mas Umam. Mas Umam jadi sebenarnya yang dikejar itu politik bebas aktifnya atau kepentingan nasional yang
02:15dituju utama?
02:16Tentu esensi dari hubungan internasional adalah kepentingan nasional karena soul-nya ada di situ dan setiap kebijakan politik luar negeri
02:25itu adalah continuation dari internal interest, dari domestic politics.
02:30Maka di level ini saya pikir itu adalah bagian dari upaya untuk mencari target-target yang sesuai dengan agenda yang
02:36di set up oleh pemerintah.
02:40Tapi kembali di konteks ya kalau misalnya kita kontekstualisasikan tadi terkait dengan BOP, kita letakkan dulu asbabul murudnya.
02:49Pengambilan keputusan BOP itu kan momentum jauh sebelum perang.
02:55Dan di saat itu memang logik yang dibangun adalah ketika dunia, bukan hanya Indonesia, dunia termasuk negara-negara Islam di
03:03luar Indonesia juga mengalami structural deadlock ketika bicara tentang Palestina.
03:07UN tidak ada manfaatnya. Berbagi keputusan UNSC juga kemudian rangkaiannya itu saya pikir cukup banyak yang kemudian meaningless.
03:17Artinya bahwa itu BOP memang ditargetkan, diikhtiarkan sebagai sebuah shortcut.
03:24Karena memang ada structure deadlock, level multilateral.
03:27Tetapi situasikan berubah.
03:29Ketika kemudian terjadi serangan Iran, semua pihak itu kemudian unpredictable.
03:33Ini sesuatu yang kemudian diluar kalkulasi itu.
03:37Dan per saat ini kalau misalnya kemudian masih membicarakan BOP, tentu posisionnya berbeda dengan BOP yang pada momentum itu.
03:45Secara moral politics, konteks legitimasi, termasuk juga judgment dalam konteks international politics.
03:52Sangat berbeda. Dan itu tercampur tadi dari survei Mas Jayadi.
03:55Ketika kemudian ditanya tentang BOP, porsinya relatif tidak setuju.
03:59Dan terkait dengan tadi penempatan TNI ya misalnya.
04:04Itu juga tentu dihadapkan dengan berbagai rangkaian isu.
04:09Termasuk kemarin, tiga TNI di Unifield tewas.
04:14Persepsi kita betul-betul meletakkan TNI di garda terdepan di wilayah konflik.
04:19Tetapi kemudian international power tidak bisa menjamin itu.
04:23Even UN sendiri, barat biru, tidak bisa menjamin itu.
04:27Maka wajar kalau misalnya kemudian survei mengatakan seperti itu.
04:30Jadi intinya menurut Anda, kita keluar dari BOP saja, dong.
04:33Apakah di BOP tetap atau tidak?
04:36Saya ngikutin rumus yang disampaikan oleh Pak Yayi Marsudi Suhut.
04:41Ya, rumusnya darulmah fasid muqadamun ala jalgil masoleh.
04:45Letakkan mana yang kemudian memiliki manfaat yang lebih besar.
04:49Meskipun ada kemanfaatannya lebih kecil, tapi dampaknya kemana-mana.
04:53Dalam konteks ini, Mbak, kita hitung.
04:56Kalau kita, ini situasi kemudian fokusnya pada konteks Iran.
05:00Kemudian kita melakukan langkah yang begitu revolusioner, quote by quote.
05:04Kita keluar dari BOP, saya pikir risiko diplomatiknya akan jauh lebih besar.
05:10Kita berhadapan-hadapan langsung dengan Amerika Serikat.
05:12Yang bisa kami sarankan, apa yang bisa dilakukan?
05:16Stay saja dulu, diam saja, keep calm, sampai kemudian berada momentum.
05:21Kalau misalnya kemudian ada situasi, ada momentum yang memungkinkan kita mengambil keputusan,
05:26dan Indonesia should be not the only one.
05:29Karena itu sangat berisiko.
05:31Kita komunikasi dengan teman-teman Turki, komunikasi dengan Saudi misalnya, komunikasi dengan Bahrain, dengan Oman.
05:39Kalau mereka juga memiliki cara pandang yang to some extent tidak jauh berbeda, kita lakukan itu.
05:44Oke, Pak Marsudi, jadi kalau misalnya kita keluar langsung, justru berpotensi berhadapan langsung dengan Amerika Serikat?
05:48Menurut saya itu malah isu BOP sudah tidak relevan.
05:55Mestinya ketika sudah ada perang begini, yang relevan adalah isunya stop war.
06:02Isunya adalah PBB, UN yang harus mendamaikan war ini.
06:10BOP, Presiden sudah hold, menurut saya malah bubarin saja.
06:15Sekalian, tidak usah ada BOP, malah yang berperan adalah United Nations.
06:21Ya karena ini sudah tidak sekecil urusan gajah dulu.
06:28Ini sudah meluas urusan perang.
06:32Jadi menurut saya sudah tidak BOP lagi.
06:35Karena BOP, relevansinya tidak mencukupi untuk menjawab peperangan ini yang mestinya stop.
06:48Nah ini kan seberapa negara sih yang sudah ikut perang kan?
06:54Israel, Amerika, Iran, Libanon, bahkan Yemen kan, ikut ke situ.
07:02Nah, isu yang sangat dipentingkan hari ini adalah stop war.
07:08Setelah stop war, PBB masuk.
07:11Setelah PBB masuk, yang terpenting, pentingnya, penting isu di atas isu yang super penting adalah
07:20Palestina merdeka.
07:22Di garis kalau memang sudah ada mau keputusan to state policy, garis saja mana batasnya.
07:29Kalau to state policy, biar ke depan itu sudah tidak perang, perang, perang, perang, perang, perang.
07:35Baik, Pak Pami silahkan respon.
07:37Kata Pak Kiai barusan bahwa BOV-nya sudah tidak relevan.
07:40Ya, sejak awal kan pemerintah sudah menyampaikan ya bahwa, apa namanya, national coverage-nya jelas kan gitu ya, bahwa
07:49kalau memang apa, ke depan di, apa namanya, dirasakan bahwa BOV ini melenceng atau tidak lagi relevan, ya Indonesia keluar
08:00dari ya.
08:00Dan sekarang yang dilihat, gimana?
08:02Ya sabar, kita tunggu.
08:03Ada kajian, ada hal-hal yang tentu masih harus menjadi pertimbangan.
08:08Dan tadi kan kita juga sudah bahas itu dan kita sepakat bahwa ya WTNC juga perlu saat ini ya, karena
08:15memang ya perangnya juga masih berlangsung, ya hal-hal yang perlu dilihat juga masih banyak.
08:21Karena pemerintah khawatir berhadapan langsung dengan Amerika begitu Pak Pami?
08:23Tidak juga.
08:24Dengan sentimen publik gimana kira-kira sekarang?
08:26Apa?
08:27Sentimen publiknya mayoritas tidak?
08:28Sudah diantisipasi sejak awal dengan menetapkan national coverage yang jelas kan gitu.
08:33Jadi tidak ada apa namanya, kandak keitik apa, apa namanya, keinginan pemerintah untuk berhadapan pada depan dengan publik tidak.
08:42Kan justru sejak awal BOP itu dipandang sebagai salah satu opsi yang dianggap berpeluang gitu ya, untuk justru mengakomodir penawai
08:55harapan masyarakat yang ingin melihat palestina merdeka.
08:57Dalam kerangka two-state solution.
09:00Oke, baik.
09:01Baik, sedikit Mbak Elona.
09:02Saya coba meletakkan ini.
09:04Jadi konteksnya begini, ini dua matra perdebatan yang berbeda.
09:07Pada saat ini yang menjadi fokus kita adalah Iran.
09:09Ada pun kemudian BOP itu nanti kemudian menjadi perdebatan lanjutan ketika ini yang menjadi center of gravity dalam konteks international
09:17politics saat ini, Iran terselesaikan.
09:19Dan ini betul-betul mencairkan semua identitas.
09:22Tadi ya di awal-awal ya, kita itu basisnya suni, tapi begitu kemudian ada yang terjadi di Iran, sentimen antara
09:28suni dan siah itu betul-betul kemudian menjadi sesuatu yang blur.
09:32Artinya apa? Sentimen kemanusiaan.
09:34Jadi fokus kita di sini.
09:35Begitu ini nanti terselesaikan, karena fakta tidak ada satupun organisasi multilateral termasuk BBB.
09:41Kalau dalam bahasa Pak Yayi Marsudi, ini wujuduhu keadamihi.
09:45Ada, tapi seperti tidak ada.
09:48Nah ini kita selesaikan dulu, baru kemudian ketika nanti ada momentum seperti apa terkait dengan Gaza, kita nanti bicarakan itu
09:54dengan lebih cermat lagi.
09:56Baik, kita lanjutkan nanti semua bapak-bapak tetap bersama kami saudara di Bola Liar.
10:00Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan