00:00Ya Mbak Cempaka dalam konteks perangiran kepentingan nasional apa yang tengah diperjuangkan oleh Presiden Prabowo Subianto sehingga kita harus mendayung
00:09diantara dua karang?
00:11Tentu saya menyampaikan juga apa yang telah disampaikan oleh Mas Umam tadi bahwa tidak hanya mendayung diantara dua karang tapi
00:20juga banyak bahan kita harus bisa berselancar diantara karang-karang ini.
00:24Dan tentu saja sebagai sebuah negara yang middle power atau kekuatan menengah yang tidak terlalu memiliki kekuatan koersif yang cukup
00:32besar seperti great power tentu sebuah kepastian dalam memilih hedging maupun memilih satu polar itu akan merugikan bagi negara middle
00:45power, bagi negara menengah.
00:47Nah tentu tapi harus menjadi koreksi dalam konteks ini adalah ketika kita bicara bebas aktif tentu interpretasi bebas aktif yang
00:55dimiliki di jaman Bung Hatta seperti yang disampaikan oleh Pak Dubes itu tentu harus di reinterpretasi dalam kondisi saat ini.
01:02Ketika dulu ada statement bahwa kita tidak memilih antara Moskow dan Washington saat ini kita harus mungkin harus memilih dengan
01:09keduanya begitu.
01:10Dalam hal ini tentu saja kepentingan nasional menjadi jangkar yang paling penting.
01:15Ketika kita juga mengingat ketika bicara tentang overflight, blanket, ini bukan kasus pertama terjadi karena tadi Pak Masudi bicara tentang
01:26tarik-menarik.
01:27Nah tarik-menarik ini terjadi kita mungkin masih ingat bagaimana akhir 2025 lalu ada isu terkait dengan bagaimana diberikan akses
01:36untuk Rusia di Papua misalnya yang membuat negara misalnya Australia gerah.
01:41Nah ini sebenarnya dan ternyata terbukti Kemhan dan pemerintah menyatakan bahwa ini bukanlah sesuatu kejadian begitu.
01:48Dan tentu saja kita tahu bahwa sebuah permintaan dari sebuah negara itu wajar-wajar saja.
01:53Sekarang tinggal bagaimana kita sebagai negara yang memiliki kedaulatan dan memiliki pertimbangan kepentingan nasional bisa tadi seperti yang disampaikan oleh
02:01Pak Jayadi begitu mendengar apa masukan dari masyarakat begitu dan juga merefleksikannya dalam politik luar negeri kita.
02:09Oke baik saya ke Mas Umam. Mas Umam jadi sebenarnya yang dikejar itu politik bebas aktifnya atau kepentingan nasional yang
02:15dituju utama?
02:16Tentu esensi dari hubungan internasional adalah kepentingan nasional karena soul-nya ada di situ dan setiap kebijakan politik luar negeri
02:25itu adalah continuation dari internal interest, dari domestic politics.
02:30Maka di level ini saya pikir itu adalah bagian dari upaya untuk mencari target-target yang sesuai dengan agenda yang
02:36di set up oleh pemerintah.
02:40Tapi kembali di konteks ya kalau misalnya kita kontekstualisasikan tadi terkait dengan BOP, kita letakkan dulu asbabul murudnya.
02:49Pengambilan keputusan BOP itu kan momentum jauh sebelum perang.
02:55Dan di saat itu memang logik yang dibangun adalah ketika dunia, bukan hanya Indonesia, dunia termasuk negara-negara Islam di
03:03luar Indonesia juga mengalami structural deadlock ketika bicara tentang Palestina.
03:07UN tidak ada manfaatnya. Berbagi keputusan UNSC juga kemudian rangkaiannya itu saya pikir cukup banyak yang kemudian meaningless.
03:17Artinya bahwa itu BOP memang ditargetkan, diikhtiarkan sebagai sebuah shortcut.
03:24Karena memang ada structure deadlock, level multilateral.
03:27Tetapi situasikan berubah.
03:29Ketika kemudian terjadi serangan Iran, semua pihak itu kemudian unpredictable.
03:33Ini sesuatu yang kemudian diluar kalkulasi itu.
03:37Dan per saat ini kalau misalnya kemudian masih membicarakan BOP, tentu posisionnya berbeda dengan BOP yang pada momentum itu.
03:45Secara moral politics, konteks legitimasi, termasuk juga judgment dalam konteks international politics.
03:52Sangat berbeda. Dan itu tercampur tadi dari survei Mas Jayadi.
03:55Ketika kemudian ditanya tentang BOP, porsinya relatif tidak setuju.
03:59Dan terkait dengan tadi penempatan TNI ya misalnya.
04:04Itu juga tentu dihadapkan dengan berbagai rangkaian isu.
04:09Termasuk kemarin, tiga TNI di Unifield tewas.
04:14Persepsi kita betul-betul meletakkan TNI di garda terdepan di wilayah konflik.
04:19Tetapi kemudian international power tidak bisa menjamin itu.
04:23Even UN sendiri, barat biru, tidak bisa menjamin itu.
04:27Maka wajar kalau misalnya kemudian survei mengatakan seperti itu.
04:30Jadi intinya menurut Anda, kita keluar dari BOP saja, dong.
04:33Apakah di BOP tetap atau tidak?
04:36Saya ngikutin rumus yang disampaikan oleh Pak Yayi Marsudi Suhut.
04:41Ya, rumusnya darulmah fasid muqadamun ala jalgil masoleh.
04:45Letakkan mana yang kemudian memiliki manfaat yang lebih besar.
04:49Meskipun ada kemanfaatannya lebih kecil, tapi dampaknya kemana-mana.
04:53Dalam konteks ini, Mbak, kita hitung.
04:56Kalau kita, ini situasi kemudian fokusnya pada konteks Iran.
05:00Kemudian kita melakukan langkah yang begitu revolusioner, quote by quote.
05:04Kita keluar dari BOP, saya pikir risiko diplomatiknya akan jauh lebih besar.
05:10Kita berhadapan-hadapan langsung dengan Amerika Serikat.
05:12Yang bisa kami sarankan, apa yang bisa dilakukan?
05:16Stay saja dulu, diam saja, keep calm, sampai kemudian berada momentum.
05:21Kalau misalnya kemudian ada situasi, ada momentum yang memungkinkan kita mengambil keputusan,
05:26dan Indonesia should be not the only one.
05:29Karena itu sangat berisiko.
05:31Kita komunikasi dengan teman-teman Turki, komunikasi dengan Saudi misalnya, komunikasi dengan Bahrain, dengan Oman.
05:39Kalau mereka juga memiliki cara pandang yang to some extent tidak jauh berbeda, kita lakukan itu.
05:44Oke, Pak Marsudi, jadi kalau misalnya kita keluar langsung, justru berpotensi berhadapan langsung dengan Amerika Serikat?
05:48Menurut saya itu malah isu BOP sudah tidak relevan.
05:55Mestinya ketika sudah ada perang begini, yang relevan adalah isunya stop war.
06:02Isunya adalah PBB, UN yang harus mendamaikan war ini.
06:10BOP, Presiden sudah hold, menurut saya malah bubarin saja.
06:15Sekalian, tidak usah ada BOP, malah yang berperan adalah United Nations.
06:21Ya karena ini sudah tidak sekecil urusan gajah dulu.
06:28Ini sudah meluas urusan perang.
06:32Jadi menurut saya sudah tidak BOP lagi.
06:35Karena BOP, relevansinya tidak mencukupi untuk menjawab peperangan ini yang mestinya stop.
06:48Nah ini kan seberapa negara sih yang sudah ikut perang kan?
06:54Israel, Amerika, Iran, Libanon, bahkan Yemen kan, ikut ke situ.
07:02Nah, isu yang sangat dipentingkan hari ini adalah stop war.
07:08Setelah stop war, PBB masuk.
07:11Setelah PBB masuk, yang terpenting, pentingnya, penting isu di atas isu yang super penting adalah
07:20Palestina merdeka.
07:22Di garis kalau memang sudah ada mau keputusan to state policy, garis saja mana batasnya.
07:29Kalau to state policy, biar ke depan itu sudah tidak perang, perang, perang, perang, perang, perang.
07:35Baik, Pak Pami silahkan respon.
07:37Kata Pak Kiai barusan bahwa BOV-nya sudah tidak relevan.
07:40Ya, sejak awal kan pemerintah sudah menyampaikan ya bahwa, apa namanya, national coverage-nya jelas kan gitu ya, bahwa
07:49kalau memang apa, ke depan di, apa namanya, dirasakan bahwa BOV ini melenceng atau tidak lagi relevan, ya Indonesia keluar
08:00dari ya.
08:00Dan sekarang yang dilihat, gimana?
08:02Ya sabar, kita tunggu.
08:03Ada kajian, ada hal-hal yang tentu masih harus menjadi pertimbangan.
08:08Dan tadi kan kita juga sudah bahas itu dan kita sepakat bahwa ya WTNC juga perlu saat ini ya, karena
08:15memang ya perangnya juga masih berlangsung, ya hal-hal yang perlu dilihat juga masih banyak.
08:21Karena pemerintah khawatir berhadapan langsung dengan Amerika begitu Pak Pami?
08:23Tidak juga.
08:24Dengan sentimen publik gimana kira-kira sekarang?
08:26Apa?
08:27Sentimen publiknya mayoritas tidak?
08:28Sudah diantisipasi sejak awal dengan menetapkan national coverage yang jelas kan gitu.
08:33Jadi tidak ada apa namanya, kandak keitik apa, apa namanya, keinginan pemerintah untuk berhadapan pada depan dengan publik tidak.
08:42Kan justru sejak awal BOP itu dipandang sebagai salah satu opsi yang dianggap berpeluang gitu ya, untuk justru mengakomodir penawai
08:55harapan masyarakat yang ingin melihat palestina merdeka.
08:57Dalam kerangka two-state solution.
09:00Oke, baik.
09:01Baik, sedikit Mbak Elona.
09:02Saya coba meletakkan ini.
09:04Jadi konteksnya begini, ini dua matra perdebatan yang berbeda.
09:07Pada saat ini yang menjadi fokus kita adalah Iran.
09:09Ada pun kemudian BOP itu nanti kemudian menjadi perdebatan lanjutan ketika ini yang menjadi center of gravity dalam konteks international
09:17politics saat ini, Iran terselesaikan.
09:19Dan ini betul-betul mencairkan semua identitas.
09:22Tadi ya di awal-awal ya, kita itu basisnya suni, tapi begitu kemudian ada yang terjadi di Iran, sentimen antara
09:28suni dan siah itu betul-betul kemudian menjadi sesuatu yang blur.
09:32Artinya apa? Sentimen kemanusiaan.
09:34Jadi fokus kita di sini.
09:35Begitu ini nanti terselesaikan, karena fakta tidak ada satupun organisasi multilateral termasuk BBB.
09:41Kalau dalam bahasa Pak Yayi Marsudi, ini wujuduhu keadamihi.
09:45Ada, tapi seperti tidak ada.
09:48Nah ini kita selesaikan dulu, baru kemudian ketika nanti ada momentum seperti apa terkait dengan Gaza, kita nanti bicarakan itu
09:54dengan lebih cermat lagi.
09:56Baik, kita lanjutkan nanti semua bapak-bapak tetap bersama kami saudara di Bola Liar.
10:00Terima kasih.
Komentar