Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Presiden Prabowo Subianto menemui Presiden Rusia Vladimir Putin hingga Presiden Prancis Emmanuel Macron di tengah eskalasi Perang AS-Israel melawan Iran.

Di saat yang sama, Prabowo mengutus Menteri Pertahanan mengunjungi Pentagon dan Menteri Keuangan bertemu investor di Amerika Serikat.

Pakar strategi PPAU, Marsma (Purn) Agung Sasongkojati menilai bahwa kekuatan dunia saat ini telah multipolar, sehingga bebas aktif itu harus independen dan aktif.

"Sekarang dunia sudah berubah, kita harus berubah bahwa salah satu kubu yang paling kuat selama ini sudah tidak seperti itu lagi. Banyak negara yang mengingkari buat perjanjian dibatalkan. Saya tidak izinkan kamu lewat di atas langit kita, ditahan pesawatnya diperiksa, dilarang lewat. Negara lain sudah berani berbuat itu karena dunia sudah tidak unipolar lagi. Indonesia harus berani bertindak seperti negara-negara itu," ujar Marsma (Purn) Agung.

Baca Juga Seskab soal Hasil Pertemuan Presiden Prabowo dengan Putin: Intinya Kerja Sama Energi Jangka Panjang di https://www.kompas.tv/nasional/663380/seskab-soal-hasil-pertemuan-presiden-prabowo-dengan-putin-intinya-kerja-sama-energi-jangka-panjang

#perangiran #prabowo #diplomasi

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663824/diplomasi-zigzag-prabowo-di-tengah-perang-as-iran-langkah-politik-bebas-aktif-bola-liar
Transkrip
00:10Intro
00:17Meski ada kemungkinan perundingan babak kedua Iran, Amerika Serikat bakal digelar dalam waktu dekat, situasi Timur Tengah masih tegang.
00:24Amerika Serikat melanjutkan blokada laut terhadap pelabuhan dan pesisir Iran dan mengenakan sanksi ekonomi baru,
00:31sementara Iran mengancam melumpuhkan jalur lalu lintas di sekitar Jazira Arab, termasuk Laut Merah.
00:38Di tengah ketidakpastian perang di Timur Tengah, Presiden Prabowo Subianto dan sejumlah pembantunya melakukan diplomasi zigzag ke sejumlah negara.
00:47Presiden Prabowo menemui Presiden Rusia Vladimir Putin di Moskwa, Rusia.
00:51Salah satunya untuk diplomasi minyak dan membahas krisis hormos.
00:56Langsung Estafet ke Paris menemui Presiden Perancis Emmanuel Macron, membahas pengadaan alutsista, industri pertahanan hingga energi.
01:05Karena itu kami merasa sangat perlu untuk konsultasi bagaimana kita hadapi situasi ke depan dan terutama kalau bisa kita terus
01:21mempererat kerjasama terutama di bidang ekonomi dan energi.
01:30Bersama dengan kunjungan Prabowo ke Rusia dan Perancis, dua menteri juga diutus ke Amerika Serikat.
01:36Menteri Pertahanan Syafri Samsuddin menemui Menteri Perang Amerika Serikat Pete Hexed di Pentagon, Virginia.
01:42Kedua Menteri Pertahanan mengumumkan kemitraan kerjasama pertahanan utama Indonesia Amerika Serikat
01:48untuk memajukan perdamaian dan stabilitas di kawasan Indo-Pasifik.
01:53Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudi Sadewa berkeliling ke sejumlah investor raksasa di New York dan Washington DC
02:00meyakinkan fundamental makroekonomi dan strategi fiskal Indonesia sudah on the track.
02:06Jadi mereka suka sekali dengan penjelasan kita bahwa kita akan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat
02:14tanpa memerbankan kehati-hatian kebijakan fiskal.
02:22Selain di tengah perang Iran-Amerika Serikat, kunjungan Presiden Prabowo dan para pembantunya
02:27terjadi bersamaan dengan munculnya kabar permintaan izin overflight atau akses terbang menyeluruh dari Amerika Serikat
02:34untuk melintas di wilayah kedaulatan RI.
02:37Kementerian Pertahanan membenarkan permintaan izin overflight dari Amerika Serikat
02:42tetapi menyebut masih dalam pembahasan dan tidak otomatis berlaku.
02:46Terkait letter of intent, overflight clearance,
02:50Kementerian Pertahanan Republik Indonesia menegaskan bahwa hal tersebut merupakan usulan dari pihak Amerika Serikat
02:57serta menegaskan bahwa dokumen tersebut tidak bersifat mengikat atau non-binding
03:02dan tidak otomatis berlaku.
03:07Peneliti senior Indo-Pacific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur menyebut
03:13Presiden Prabowo melakukan strategic hedging sekaligus diversifikasi sumber daya energi
03:18untuk keluar dari impitan tekanan dan dampak perang Iran-Amerika Serikat.
03:23Dan hedging ini memang dianggap sebagai jalan keluar yang paling baik
03:28yaitu dengan titik minimal kita tidak bermusuhan dengan siapapun.
03:32Kita tahu bahwa saat ini salah satu bentuk ketahanan energi kita adalah
03:37karena kita melakukan diversifikasi sumber yang tidak hanya berasal dari timur tengah saja.
03:48Januari lalu Presiden Prabowo menandatangani keanggotaan RI di Board of Peace
03:52pimpinan Presiden Donald Trump untuk mengawal stabilisasi dan rekonstruksi Gaza pasca konflik.
03:58Sekitar 8.000 anggota TNI direncanakan dikirim ke Gaza
04:02sebagai bagian dari International Stabilization Force ISF di luar mandat PBB.
04:07Status keanggotaan RI di BOP menjadi sorotan luas di dalam negeri
04:12seiring pecahnya perang Israel-Amerika Serikat melawan Iran.
04:23Selamat malam saudara, bola liar kembali menggelending ke hadapan Anda.
04:27Perang di timur tengah masih menyala meski barahnya sedikit meredah.
04:31Blokade Laut Amerika Serikat membalas blokade Iran atau Slut Hormuz
04:34tetap mengundang was-was eskalasi bisa pecah kembali.
04:38Ada pula peluang perundingan damai kemungkinan negosiasi Amerika Serikat Iran
04:42babak kedua bakal digelar dalam waktu dekat.
04:45Di tengah ketidakpastian perang, Presiden Prabowo Subianto melakukan diplomasi zigzag
04:50menemui langsung Presiden Vladimir Putin dan Presiden Emmanuel Macron
04:55dan pada saat yang sama mengutus dua pembantu utamanya
04:59Menteri Pertahanan Syafri Shamsuddin ke Pentagon
05:01dan Menteri Keuangan Perubaya Yudi Sadewa menemui investor raksasa di negerinya Presiden Donald Trump.
05:08Ada apa di balik diplomasi zigzag Presiden Prabowo Subianto?
05:12Apakah ini wujud politik bebas aktif demi menjaga ketahanan energi Indonesia?
05:17Apakah ini sekaligus cara keluar dari perangkat geopolitik Timur Tengah
05:21yang makin pelik usai Republik Indonesia gabung Bordopish?
05:26Saudara, inilah bola liar bersama saya, Mas Sister Tarikan.
05:34Tema kita malam ini kita bahas dengan sejumlah narasumber.
05:36Saya menyapa Ahmad Haryl Umam, Kepala Badan Riset dan Inovasi Strategis Partai Demokrat.
05:41Assalamualaikum, selamat malam.
05:43Haryl Fahmi, Tenaga Alikas SP. Selamat malam, Pak Fahmi.
05:46Selamat malam.
05:48Marsma Penawirawan Agung Sasongko Jati, Pakat Strategi PPAU, Alumni US Air World College.
05:53Selamat malam, Pak Agung.
05:55Marsyudi Syuhud, Wakil Ketua Umum MUI.
05:57Selamat malam, Pak Marsyudi.
05:58Selamat malam, Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:00Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:01Emron Kotan, Dubes Eri untuk China 2010-2013.
06:05Selamat malam, Emron.
06:07Jayadi Hanan, Direktur Esekutif Lempaga Survei Indonesia.
06:10Selamat malam, Pak Jayadi.
06:11Selamat malam.
06:12Dan melalui Zoom saya menyapa
06:16Samsul Rizal, anggota Komisi 1 DPR Fraksi PKB.
06:19Selamat malam, Pak Samsul.
06:23Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
06:25Dan tentu saja, satu-satunya perempuan dari sumber saya malam ini.
06:30Ada Fauci Cempaka Timur, penelitian senior in the Pacific Strategic Intelligence.
06:33Salam, salam, salam.
06:36Saya langsung ke Anda kalau begitu.
06:38Mengapa Pak Presiden Prabowo Subianto melakukan diplomasi zigzag?
06:43Kenapa harus zigzag?
06:44Apakah ini merupakan strategi hedging yang efektif?
06:48Saya lihat memang tentu strategi hedging sangat penting dalam kondisi yang sangat uncertain dan tidak pasti saat ini.
06:55Dan tentu saja ketidakpastian ini tidak hanya melingkupi Indonesia,
06:59tapi juga negara-negara lain.
07:00Dan kita lihat bagaimana tidak hanya tadi disampaikan Perancis, juga Amerika Serikat,
07:05tapi juga bahkan hari ini disampaikan terjadi pertemuan antara Menteri Pertahanan di Jepang misalnya.
07:12Nah ini menunjukkan bagaimana sangat luasnya diplomasi Indonesia
07:16dan memang itu yang dibutuhkan saat ini begitu ya.
07:18Dan dalam kita lihat sebagai seorang atau sebuah negara yang middle power,
07:23memang bagaimana pentingnya untuk bisa mendekatkan diri pada beberapa kekuatan,
07:29tidak hanya kekuatan great power saja,
07:31tapi juga kekuatan-kekuatan lain yang bisa meningkatkan ketahanan nasional Indonesia.
07:37Jadi ini merupakan strategi yang mungkin paling efektif yang bisa diambil oleh Indonesia,
07:42terutama ketika kita dilihat semakin dekat sama Amerika?
07:46Tidak hanya sama Amerika ya, kita lihat hari yang sama,
07:49itu kita lihat memang kalau kita lihat dari kekuatan nasional Mbak,
07:52ada empat.
07:53Diplomasi, information, military, dan ekonomi.
07:55Kita lihat semua papan catur itu kita lakukan.
07:59Dari diplomasi, kita military pun dilakukan oleh Menhan, Pak Syafri,
08:02dan juga di ekonomi ada Menteri Keuangan.
08:04Dan kita lihat bagaimana ini semua dilakukan untuk tentu saja untuk mengamankan
08:09dalam konteks diversifikasi maupun bagaimana sumber kemampuan ini dapat meningkatkan ketahanan energi maupun ekonomi di dalam negeri.
08:19Oke, saya ke Pak Imron.
08:20Pak Imron, kita lihat Presiden Prabowo Subianto selama 11 bulan belakangan bertemu dengan Makrong sebanyak empat kali.
08:26Isu yang dibahas beragam, mulai dari arusista, industri pertahanan, bahkan sampai energi.
08:31Apa sebenarnya tujuan dari Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Makrong sebegitu intens,
08:36sebegitu sering dalam sebulan-sebulan?
08:38Ya, saya mungkin memulai dengan pernyataan bahwa Indonesia itu kan memerlukan arusista yang cukup canggih
08:48di dalam menghadapi dinamika, tidak hanya dinamika global, tapi juga dinamika di kawasan kita.
08:56Nah, salah satu sumber dari arusista kita itu adalah Perancis.
09:01Saya tidak melihat ada tujuan utama lain selain daripada arusista,
09:06karena kita akan berencana akan, bahkan mungkin sudah kontrak sudah ditandatangani untuk membeli pesawat tempur dari Perancis.
09:15Selain kebutuhan membeli arusista tadi, dilakukan di tengah perang ini,
09:19apa sebenarnya, apakah ini merupakan Anda sepedapat merupakan strategi hedging yang disebutkan oleh Mbak Cepaka tadi?
09:25Ya, sebenarnya rencana ini sudah terjadi sebelum ngejolak terjadi di temur tengah ya.
09:34Kita harus hati-hati juga menggunakan kata hedging ya.
09:37Karena kalau hedging itu berarti kan kita memihak kepada sesuatu, kepada sesuatu kekuatan.
09:43Nah, ini juga bisa ditafsirkan dengan dalam tanda petik, keliru oleh pihak yang tidak kita hedging.
09:52Misalnya, kalau kita terlalu dekat dalam tanda petik ya,
09:57saya tidak terlalu tahu seberapa dekat kita dengan Amerika Serikat sekarang,
10:03itu akan diartikan lain oleh China.
10:05Nah, sebagai duta besar, bantan duta besar, saya tahu.
10:08Karena apa?
10:09Karena Amerika Serikat itu secara bipartisan,
10:14sudah menetapkan China itu sebagai strategic competitor.
10:18Bukan strategic partnership.
10:21Oke.
10:21Strategic competitor.
10:24Dan itu bipartisan dalam pengertian didukung oleh Partai Demokrat dan Partai Republik,
10:29siapapun yang berkuasa.
10:31Oke.
10:31Nah, apabila itu terjadi, kalau kita dilihat terlalu dekat dengan Amerika Serikat,
10:37juga kita akan dilihat oleh China dengan pandangan yang ragu-ragu.
10:41Dan jangan lupa, China itu adalah investor ketiga terbesar di Indonesia.
10:48Yang pertama adalah Singapur, yang kedua adalah Hong Kong.
10:52Tapi tahu nggak Ilona, siapa yang di belakang investor dari Singapur dan Hong Kong?
10:58Ya orang Indonesia juga.
11:00Karena apa?
11:02Karena mereka lebih merasa yakin apabila mereka meletakkan fund-nya,
11:09resources-nya ke Indonesia dengan jaminan PMA,
11:12Penanaman Modal Asing, dibandingkan dengan PMDN.
11:16Karena perubahan daripada peraturan perundangan yang selalu terjadi dengan cepat.
11:21Apalagi kita lihat, Macron dan Trump ini kan memiliki, mereka berseberangan.
11:26Apakah memang di perang Iran ini kan mereka sangat berseberangan,
11:29lalu kemudian apakah langkah Presiden Prabowo Subianto itu dia tadi,
11:32supaya tidak terlihat terlalu berat ke kanan atau berat ke kiri,
11:35sehingga dia ya ke kanan-kiri gitu.
11:38Ya, kembali lagi kan,
11:39keluasan daripada politik luar negeri Indonesia,
11:44saya 40 tahun lebih nih bicara mengenai Polo Grey ya, sebagai pelaku.
11:49Keluasan dari kita itu adalah kita bisa dengan fleksibel,
11:56sesuai dengan, nah ini lupa, banyak orang yang lupa ini.
11:59Ini adalah doktrin yang harus kita pegang.
12:02Doktrin apa yang dinamakan kata doktrin.
12:05Bagaimana kita kapal Indonesia ini bisa melalui dua karang yang berseberangan gitu.
12:13Nah, oleh karena itu kita Indonesia cannot be seen hedging too much to karang yang satu gitu.
12:23Itu strategi yang dulu, dari dulu Presiden dulu juga pernah kita lakukan ya.
12:27Dari dulu, nah ini saya ingin ingatkan kembali kepada junior saya yang sedang bertugas di Kementerian Luar Negeri,
12:32agar kita tetap berpegang kepada doktrin Hattah,
12:35yaitu mendayung di antara dua karang.
12:38Oke, saya ke Pak Fahmi.
12:40Pak Fahmi, selain dengan Macron, Presiden Prabowo Subianto bertemu dengan Putin.
12:45Pembahasannya juga cukup banyak ya, ada Sikputar Briggs tentu saja,
12:49kemudian juga soal energi, minyak yang kita butuhkan gitu.
12:53Plus juga diajak sama Putin untuk kerjasama militer.
12:58Sebenarnya memungkinkan tidak sih bahwa Indonesia nantinya akan bekerjasama secara militer.
13:02Kita punya masa lalu di mana akhirnya rencana kita membeli pesawat Su-35 itu nggak jadi.
13:08Gara-gara ya alasan dari Amerika Serikat.
13:10Ya, saya kira setiap kerjasama kan tentu akan dipertimbangkan ya.
13:17Ajakan kerjasama ini tentu kita akan sambut baik gitu kan ya,
13:22sebagai sesuatu yang positif kan gitu.
13:24Tapi pada dasarnya setiap kerjasama juga tentu akan selalu melalui kajian, pertimbangan.
13:31Jadi bukan setiap proposal yang masuk kemudian selalu berujung persetujuan gitu ya.
13:36Tidak, tapi semua melalui kajian dan pertimbangan.
13:39Tentu persoalan di masa lalu ya ada ancaman bayang-bayang sanksi, sanksi berbagai macam gitu ya.
13:48Itu tentu akan menjadi salah satu pertimbangan.
13:51Tapi di antara berbagai macam sanksi itu tentu ada celah-celah juga yang bisa kita gunakan untuk menindaklanjuti kerjasama.
14:02Tapi pertama Presiden dengan Putin apakah langkah yang sama seperti dilakukan tadi disampaikan bahwa ya kita harus tidak berat sebelah.
14:08Harus mendekat ke kanan dan juga ke kiri.
14:11Itu dilakukan oleh Presiden saat ini di tengah perang Iran?
14:13Oh iya.
14:16Jadi Presiden kan menjalankan ya secara nyata ya apa yang disebut sebagai tadi disampaikan Pak Imran Khotan ya.
14:24Berlayar di antara karang-karang, bukan sekedar dua karang sekarang, di antara karang-karang gitu kan.
14:30Dan kemudian ini yang bisa disebut sebagai multifaktor diplomasi gitu kan.
14:36Sehingga kita melakukan komunikasi strategis dan tentunya berbasis kepentingan nasional kita untuk bisa tetap mengambil peran ya dalam situasi yang
14:54seperti sekarang ini.
14:55Dan tentu kalau kita catat, pertemuan-pertemuan kita sangat intens dengan Rusia.
15:01Tidak hanya dengan Amerika.
15:03Jadi kalau dikatakan berat sebelah juga tidak.
15:05Kita dengan Rusia sangat intens, kemudian dengan Perancis tadi ada berapa kali pertemuan dalam hampir satu tahun.
15:13Sehingga saya kira dengan negara-negara yang memiliki pengaruh besar di dunia kita...
15:19Oke, baik saya ke Pak Gung.
15:21Pak Gung, untuk mengimbangi Putin begitu, mengapa kira-kira kita melihat bahwa ini waktunya bersamaan ketika Menhan, dua pembantu ya.
15:31Menhan ke Pentagon, kemudian Menteri Keuangan kita, Perubaya Yudisa Dewa, juga bertemu dengan investor raksasa Amerika Serikat.
15:38Apakah ini juga upaya mengimbangkan posisi Indonesia di mata Amerika Serikat, baik Rusia, kemudian sejumlah negara lainnya?
15:46Saya melihat menyeimbangkan sesuatu dengan cara tidak seimbang.
15:50Dengan cara tidak seimbang, maksudnya bagaimana Pak?
15:52Ya, karena saya dapat dari beliau tadi bahwa sebetulnya bebas aktif itu adalah independen dan aktif.
15:58Terjemahannya bukan free and active, tapi independen dan aktif.
16:03Dulu dilahirkan pada zaman masih Perang Dingin, ada dua kekuatan besar, ini Soviet dan Amerika.
16:10Tetapi sejak tahun 1991, itu yang kira-kira hampir 30 tahun yang lalu, 35 tahun yang lalu, itu tidak ada
16:20lagi satu karang yang lain.
16:22Hanya ada satu karang, itu Amerika Serikat.
16:24Dan kebanyakan mungkin diplomat-diplomat muda kita dibesarkan dalam iklim bukan di antara dua karang, tetapi satu karang.
16:32Satu karang kan cuma Amerika Serikat saja.
16:35Jadi apa yang terjadi adalah semua iklim di dunia ini sepertinya mengagung-agungkan liberalisme,
16:41yang mana itu cara terbaik untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan.
16:44Caranya dengan ikut satu kubu, atau referensi yang digunakan dalam bentukkan sesuatu berdasarkan satu kubu saja.
16:51Namun kan sudah berubah, sekarang sudah ada multipolar ya, sudah ada tiga kekuatan.
16:56Yang tentu cara pikir seperti itu harus dihapus, dari kurikulum kita juga harus dihapus.
17:01Harusnya kita berpikir lebih realisem, lebih realis bahwa kepentingan negara, national interest itu adalah yang utama.
17:07Tidak harus bergantung pada satu pendapat dari satu negara yang dianggap sebagai kebenaran karena dia yang paling berkuasa.
17:16Sekarang sudah ada beberapa polar.
17:19Kalau tadi dibilang bahwa kita sudah terbiasa, saya juga lulusan dari salah satu sisi ya,
17:26karena kita bertahun-tahun dan itu bagus saja.
17:28Cuma masalahnya sekarang sisinya sudah berbeda.
17:30Dan di dunia dikenal namanya adalah balance of power.
17:34Biasanya dianggap balance of power itulah power militer.
17:38Tapi tidak, balance of power apa? Diplomasi, balance of power informasional, dan balance of power di bidang ekonomi.
17:44Jadi kalau kita berangkat ke sana bicara soal Amerika, membuat persetujuan Amerika bidang ekonomi,
17:50membuat persetujuan di bidang pertahanan, maka di tempat yang lain ya sebaiknya persetujuan yang sama.
17:56Masalahnya persetujuan bidang ekonomi menegaskan kita harus ikut pada suatu kubu bila kubu itu memberi sanksi pada negara lain.
18:04Apakah bisa jalan kerjasama kita dengan bidang yang lain kalau ekonominya dinyatakan di sanksi negara besar.
18:10Dan sekarang dunia sudah berubah.
18:14Kita harus berubah bahwa salah satu kubu yang paling kuat selama ini itu sudah tidak seperti itu lagi.
18:20Banyak negara yang mengingkari buat perjanjian dibatalkan.
18:23Saya tidak izinian kamu lewat di atas pesawat kita.
18:26Ditahan pesawatnya, diperiksa, dilarang lewat.
18:29Negara lain sudah berani berbuat itu. Kenapa?
18:31Karena dunia sudah tidak unipolar lagi. Indonesia harus berani bertindak untuk seperti negara-negara itu.
18:37Tapi cara Presiden Prabowo berkunjung ke Perancis, berkunjung ke Rusia, Anda tidak melihat upaya Presiden tengah menyimbangkan posisi di tengah
18:45perangiran?
18:45Ya upayanya kelihatan bagus. Tapi kan upayanya adalah lebih kepada mendapatkan subyek atau mendapatkan bantuan atau mendapatkan membeli bahan bakar
18:54atau energi ya.
18:56Masalahnya negara tersebut sedang mendapatkan sanksi dari negara lain.
19:00Yang kalau kita membeli dari negara Rusia ini, maka kita akan terkena sanksi.
19:06Apakah itu suatu bentuk yang keseimbang?
19:09Ya kita harus batalkan dulu perjanjian itu, baru kita bisa menjalin hubungan dengan negara lain.
19:14Karena pasti tidak jalan ini, mau apapun itu.
19:17Kalau itu disanksi negara lain, khususnya pembelian bahan bakar.
19:20Karena gini ya Pak, jadi bebas aktif itu kadang-kadang membuat kita menjadi tidak mengambil sikap.
19:26Jadi hanya cara bilang bebas aktif untuk menunjukkan bahwa kita tidak mampu menunjukkan kita punya kepentingan nasional.
19:34Hanya kedok kita untuk memberi kata-kata, udah kita bebas aktif, tidak memberikan pendapat, tidak berpihak.
19:41Tetapi kita cenderung dengan gesture kita berpihak pada satu sisi.
19:44Ingat, dunia sekarang tidak dunia yang unipolar.
19:48Sekarang dunia yang sudah multipolar, kita harus berani mengambil sikap dan bebas aktif itu harus kuat.
19:53Bukan bebas aktif untuk tidak mengambil sikap.
19:54Nanti saya lanjut lagi ke Pak Gung.
19:56Dan saudara yang terbaru kita melihat bagaimana Abad Sarakci mengatakan bahwa hormon sudah bisa dilewati untuk semua kapal.
20:03Benarkah demikian? Kita bahas lebih lengkap tetap bersama kami di Bola Liar.
Komentar

Dianjurkan