Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan Selat Hormuz telah dibuka penuh untuk semua kapal komersial usai adanya kesepakatan gencatan senjata di Lebanon selama 10 hari yang mulai berlaku Kamis (16/4/2026) waktu setempat.

Peneliti senior Indo-Pasific Strategic Intelligence, Fauzia Cempaka Timur mengatakan upaya tersebut sebagai sinyal terjadinya deeskalasi.

"Ini sudah menunjukkan sinyal-sinyal yang positif dalam konteks deeskalasi," ujar Cempaka.

Baca Juga Diplomasi Zigzag Prabowo di Tengah Perang AS-Iran, Langkah Politik Bebas Aktif? | BOLA LIAR di https://www.kompas.tv/nasional/663824/diplomasi-zigzag-prabowo-di-tengah-perang-as-iran-langkah-politik-bebas-aktif-bola-liar

#selathormuz #iran #amerika

Produser: Ikbal Maulana
Thumbnail: Rizal

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/663825/iran-buka-penuh-selat-hormuz-untuk-semua-kapal-sinyal-perang-dengan-as-berakhir-bola-liar
Transkrip
00:01Ya anak kembali di Bola Liar dan saudara juga Mbak Cempaka, ini kita lihat update terbaru dari Menteri Luar Negeri
00:08Iran.
00:09Abu Sarakci yang mengatakan bahwa Slat Hormuz terbuka untuk semua kapal komersial katanya.
00:16Apakah ini merupakan tanda bahwa deeskalasi semakin dekat?
00:19Betul Mbak Ilona, mungkin kita lihat juga bagaimana kemarin dan hari ini Asimunir dari Pakistan masih juga berada di Iran.
00:27Nah menurut saya ini juga salah satu bagaimana keberhasilan Pakistan sebenarnya mungkin menjadi interlocutor, mediator dalam melakukan tidak hanya back
00:36channel diplomasi,
00:37tapi juga subtle diplomasi karena kita tahu beberapa waktu yang lalu Iran juga sudah mengunjungi ke Pakistan dan rencananya Asimunir
00:44juga akan segera berkunjung ke Amerika Serikat.
00:47Nah ini kita melihat bagaimana sebenarnya ini sudah menunjukkan sinyal-sinyal yang positif dalam konteks deeskalasi.
00:53Nah tentu kita harapkan bahwa ini tidak akan hanya bertahan sampai tanggal 22 April karena kalau kita lihat angkanya adalah
01:01remaining period of ceasefire yang artinya hanya tinggal sampai 22 April.
01:05Kita berharap ini tetap terus dibuka untuk tentu saja untuk kapal komersial dan rute lainnya.
01:12Oke sekarang kita membahas soal saling balas blokade.
01:16Sebenarnya kalau kita lihat secara petanya, di mana kira-kira nanti posisi dari pasukan Amerika Serikat jika memang mereka benar
01:25-benar melakukan blokade seperti yang disampaikan.
01:28Ada tiga kapal bukan?
01:28Ya, jadi memang Amerika sudah melakukan Mbak Ilona, sudah melakukan blokade tersebut.
01:34Beberapa di antaranya diposisikan berada di sekitar sini Mbak karena memang itu saja ada ancaman terkait dengan penutupan Bab El
01:41Mandep yang berada di sekitar sini.
01:43Juga kita lihat bagaimana yang diletakkan oleh Amerika Serikat kapal-kapal terutama kapal yang kapal induk dan kapal lainnya itu
01:53berada di sekitar di sini Mbak.
01:54Kenapa dia menaruh di sekitar timur Oman, di sekitar timur Gulf of Oman ini Mbak?
01:59Karena memang tentu saja kita tahu sekitar 200 km laporannya Mbak, 200 km dari sini.
02:04Karena jarak tersebut itu masih di dalam jarak 200 km itu masih mungkin sekali diraih oleh misil ataupun bahkan drone
02:12kamikaze milik Iran.
02:15Sehingga tentu saja jarak aman berada di sini.
02:18Kita juga lihat bagaimana beberapa hari lalu ketika pertama kali dilakukan ceasefire, gencatan senjata,
02:24bahkan ada kapal yang kapal destroyer atau penghancur yang ditepatkan oleh Amerika Serikat untuk dalam tanda kutip teasing Iran.
02:33Yang tadi kita lihat di video pertama ini di sini.
02:37Tapi tentu saja harapan saya sebenarnya adalah bagaimana dua kapal Indonesia yang saat ini berada di sebelah sini Mbak.
02:43Jadi di sini saat ini berada di ini yang Gamsunoro dan Pride.
02:47Pride dan Gamsunoro ya?
02:48Ya, yang Pride itu berada di sini ini dapat tentu saja menikmati apa yang disampaikan oleh Arakci barusan yaitu akan
02:56segera dilepaskan.
02:57Tentu saja kita berharap dua kapal yang berada di sini dan di sini juga dapat merasakan hal tersebut Mbak.
03:02Ya, Pak Gung kira-kira bagaimana menurut Anda arah blokadenya seperti apa nantinya?
03:10Terima kasih.
03:11Terima kasih Ibu Jempaka.
03:12Jadi begini, Mbak blokade itu dilaksanakan pada jarak yang jauh, jadi di Laut Arab.
03:17Di sana ada dua jalur, satu jalur yang ke arah timur, satu arah barat menuju ke Selat Bab El-Mandeb
03:24dan satu lagi ke Afrika.
03:25Kemudian penjagaannya dibagi dua.
03:28Jadi kapal Abraham Lincoln berada di sini dikawal oleh empat kapal destroyer dan frigat untuk pelindung daripada serangan udara menggunakan
03:40Aegis.
03:40Sedangkan ada tiga atau empat kapal di sini untuk menjaga sini dan tiga atau empat kapal di sini.
03:46Untuk menjaga kapal yang mau masuk dan meluar.
03:49Tahunya mereka dari mana ada kapal masuk dan keluar, setiap kapal mempunyai transponder yang akan memancarkan sinyal sehingga kelihatan keluar.
03:56Masalahnya terjadi, baginda kalau mereka mematikan transponder.
03:58Tidak cukup banyak yang bisa menghentikan, sehingga praktis 20 kapal itu lolos sebetulnya karena mematikan transponder dan melipir di pinggir
04:07sini.
04:08Itu yang terjadi.
04:09Ada enam kapal yang dihentikan, tapi seungguhnya enam kapal dihentikan itu cuma disuruh balik.
04:13Baliknya juga akhirnya dia tidak masuk teluk tapi berada di sini.
04:16Nah sekarang apa yang terjadi dengan dibuka oleh tadi ya dari Arapsi, dari Menteri Luar Negeri, itu justru akan menimbulkan
04:26kebingungan.
04:26Karena Amerika sendiri sampai saat ini resminya belum membuka dokade.
04:29Yang terjadi nanti adalah puluhan atau ratusan kapal keluar, terus mau diapain sama Amerika.
04:34Di dalamnya ada kapal yang dari portnya Oman, ada portnya Iran, ada portnya Yunemirat, Abu Dhabi, dari Saudi.
04:42Akan keluar justru adalah menunjukkan dan di dalam disebutkan, di dalam tweetnya tadi, bahwa keluar melalui rute yang ditentukan oleh
04:51port of Iran dengan rute yang tentukan.
04:55Nah rute yang tentukan adalah rute yang memang melewat khusus karena ancamannya sudah diberi Ranjau.
04:59Ranjau-Ranjau pintar yang Ranjau-Ranjau ini sudah memiliki data kinetik daripada kapal-kapal perang Amerika.
05:07Jadi, tapi tetap resiko bagi kapal-kapal komersial untuk lewat di situ.
05:11Jadi, nanti lewat di rute yang ditentukan Iran.
05:15Artinya, kontrol di bawah Iran.
05:17Klaim daripada angkatan laut dari menteri perangnya itu, si Hexed itu, itu mengatakan bahwa dikuasai penuh oleh angkatan laut Amerika,
05:31di bawah kontrol Amerika, tapi seungguhnya yang mengontrol adalah Iran dengan pernyataan yang tadi,
05:36bahwa yang semua kendali keluar dan masuk berada di bawah Iran.
05:39Jadi, bukan di bawah kendali Amerika.
05:42Karena Amerika tidak berdaya apapun untuk membuka dan menutup.
05:45Mereka hanya menunggu di jalur pelayaran, tidak bisa menunggu sebebas-bebasnya.
05:49Itu yang terjadi.
05:50Oke, baik. Terima kasih Pak Gung. Terima kasih Mbak Cempaka.
05:53Boleh duduk kembali.
05:55Saya ke Mas Umam.
05:57Mas Umam, apakah Blokade ini bakal membuat perang pecah kembali atau justru menuju deeskalasi?
06:02Kabar baiknya, ya tweet terbaru dari X-nya, Menteri Luar Negeri, Abbas Araci.
06:07Segala sesuatu bisa berubah soalnya, tapi semoga ini yang berlanjut. Silahkan.
06:10Kalau statement dari Abbas Araci itu bisa juga dimaknai sebagai sebuah counter strategy terhadap langkah-langkah yang dilakukan oleh Amerika
06:21Serikat.
06:22Kemarin Amerika mencoba untuk mengklaim bahwa strategi Blokade itu adalah sebuah bentuk respon pasca kegagalan negosiasi pertama.
06:31Maka kemudian kalau tidak salah informasi kemarin ada dua kapal China diminta untuk putar balik.
06:37Dengan segala justifikasi, maka kemudian Trump dengan segala kepercayaan dirinya, China one day Xi Jinping akan memeluk saya.
06:47Berterima kasih untuk memberikan penyelamatan akses dan lain sebagainya.
06:50Dengan justifikasi bahwa Hormuz berada di bawah kontrol Amerika Serikat.
06:55Tetapi fakta per saat ini, ketika kemudian Amerika mengklaim bahwa ini berada di bawah pengaruh dari Amerika Serikat.
07:04Tetapi fakta ketika kemudian tadi Iran memberikan ruang, maka ini menjadi counter terhadap strategi yang disampaikan oleh Amerika Serikat itu.
07:12Nah di level ini tentu masih sangat tidak pasti, sangat unstable.
07:17Karena basis cheese fire yang terjadi di Lebanon antara Hezbollah dan juga Amerika Serikat, ini betul-betul sifatnya fragile.
07:26Dan tentu akan sangat bertalian pada bagaimana kemudian proses nanti negosiasi Amerika dan Iran di tahap kedua.
07:35Kalau kemarin sudah gagal di tahap pertama, di saat yang sama juga Iran sudah berkali-kali merasa dipojokkan, bahkan dalam
07:44proses negosiasi.
07:46Kalau misal dalam teori resolusi konflik itu kan harus ada overlap, win set, harus ada ruang take and give, harus
07:54ada trade off.
07:56Kemarin kan tidak ada ruang itu, seolah kemudian ini sangat karakter, sangat Trump minded.
08:01Jadi semua instruktif, semua kemudian sesuai dengan apa kehendak Trump dan ruang negosiasi itu sangat minim.
08:08Nah kalau misal kemudian dalam proses negosiasi kedua nanti tidak memberikan ruang yang sama untuk melakukan proses yang setara,
08:16maka bisa saja apa yang terjadi di Hormuz berkepanjangan lagi.
08:20Nah situasi ini yang kemudian masih penuh dengan ketidakpastian, kembali ke konteks tadi,
08:25kita berharap misalnya kunjungan dari Presiden Prabowo misalnya ke Rusia, kemudian ke Perancis,
08:33selain bicara tentang konteks energi.
08:35Karena bagaimanapun juga Rusia juga punya pengaruh yang luar biasa, konteks energi.
08:39Dan tampaknya ini situasi yang sangat terhubungkan.
08:43Rusia termasuk yang panen hari ini.
08:44Karena semua, hampir semua negara, dunia,
08:48aksesnya ke Saudi, maaf bukan Saudi, tetapi ke Arab secara umum,
08:52terutama di Hormuz, yang melewati serat Hormuz.
08:55Tapi kan Rusia selama ini kan menjadi produsen yang luar biasa.
08:59Dia punya kapasitas produksi itu, satu hari itu sekitar 10,53 juta barel per hari.
09:06Konsumsi internalnya praktis hanya 3,7 juta barel per hari.
09:15Gap yang luar biasa dan ini harus diekspor keluar.
09:18Tadi sore saya berdiskusi dengan Pak Hamid Awaludin, mantan Dubes Rusia,
09:25sejak beliau dulu aktif menjadi Dubes di Rusia,
09:29Rusia berkali-kali menawarkan minyaknya.
09:31Tetapi karena pertimbangan geopolitik, Indonesia sendiri misalnya tidak merespon.
09:36Banyak negara tidak merespon karena melihat Amerika Serikat.
09:39Tapi per saat ini, plus dalam situasi uniknya,
09:42Amerika di bawah Trump melihat Putin ini menjadi aktor yang respected,
09:50kita tidak tahu dengan segala unpredictability dari seorang Trump.
09:54Maka ini menjadi kesempatan yang baik bagi kita untuk merapat ke Rusia.
09:59Meskipun perimbangan-perimbangan tadi, let's say itu bagian dari multi-approach
10:06atau multi-alignment approaches yang kemudian bisa dilakukan oleh Indonesia.
10:10Baik, nanti saya lanjut ada lagi ke Anda.
10:12Tapi setelah ini kita coba melihat ke dalam negeri dulu.
10:15Ini soal sentimen dalam negeri.
10:17Ada survei, di mana survei ini meniakan soal bagaimana pendapat masyarakat Indonesia
10:23atas serangan Amerika Serikat, Israel ke Iran,
10:26mayoritas 60,1% tidak setuju, sangat tidak setuju 23%.
10:30Ini ternyata mayoritas yang tidak setuju dan sangat tidak setuju.
10:34Berikutnya kita akan lihat bagaimana pendapat dari masyarakat
10:37atas masuknya Republik Indonesia jadi anggota BOP.
10:40Oke, mayoritas 41,5% tidak setuju, yang setuju 21,6%.
10:46Sikapnya ini terpecah.
10:48Saya ke Pak Jayadi.
10:49Pak Jayadi, kenapa kira-kira ini ada dua inti yang berbeda ya?
10:54Yang satu, masyarakat Indonesia sangat tidak setuju dan sangat-sangat,
10:59mereka sangat menolak tindakan Amerika Serikat menyerang Iran.
11:01Tapi satu sisi, masyarakat Indonesia lebih banyak tidak setuju ketika Indonesia menjadi bagian dari border peace.
11:11Ya pertama soal masyarakat Indonesia yang hampir semua ya, 83% lebih itu
11:16menyatakan tidak setuju dengan serangan Amerika dan Israel terhadap Iran itu,
11:22itu sebenarnya sama dengan berbagai pendapat dari seluruh belahan dunia, kecuali Israel.
11:26Jadi bahkan di Amerika Serikat sendiri itu sekitar 61% rakyatnya tidak setuju dengan serangan itu.
11:33Jadi kalau kita bicara legitimasi atas sebuah kebijakan luar negeri,
11:39maka kebijakan luar negeri Israel itu ditentang oleh tidak punya legitimasi di seluruh dunia,
11:47termasuk di Amerika Serikat sendiri.
11:49Hanya di Israel.
11:50Di Israel itu hampir 90% rakyatnya setuju dengan serangan AS Israel itu ke Iran.
11:54Jadi itu menunjukkan sekali lagi bahwa rakyat di seluruh dunia tidak setuju dengan ini dan itu satu.
12:00Yang kedua, perang ini kan memang terjadi di Timur Tengah.
12:06Tapi kok seluruh dunia merespon?
12:08Itu menunjukkan bahwa memang perang ini dampaknya itu berskala global.
12:13Bukan hanya dampak psikologi, seorang jadi cemas, takut, segala macam,
12:17tapi dampaknya kan langsung ke ekonomi, kehidupan seharian masyarakat.
12:21Ya, apa namanya, perang di Timur Tengah ini bisa berdampak ke tukang gorengan tuh.
12:28Ya kan?
12:28Kalau akibat perang, pasukan BBM terhambat,
12:33pemerintah menurunkan subsidi misalnya, atau mengurangi subsidi,
12:37harga bahan sembaku menjadi naik, tukang gorengan kena.
12:41Jadi bayangkan ya pengaruhnya itu sangat real gitu.
12:44Karena itu masyarakat dunia melihatnya.
12:46Nah, BOP itu sebetulnya kan sebuah kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia
12:51untuk menjadi anggota itu sebelum perang ini terjadi kan, sebelum serangan ini terjadi.
12:56Sudah pernah ada serangan sebelumnya,
12:58tapi serangan yang bulan Ramadan ini kan belum terjadi ketika kita di BOP.
13:04Nah, tetapi BOP itu kan sangat terkait dengan isu ini.
13:08Kan serangan AS Israel ke Iran itu kan terkait dengan,
13:14satu, katanya, apa namanya, Iran itu mengancam perdamaian dunia.
13:18Mengancam perdamaian di Timur Tengah.
13:20BOP kan untuk menjamin perdamaian.
13:23Kemudian yang kedua adalah,
13:25karena pemerintah Iran itu zalim kepada rakyatnya sendiri.
13:31Karena itu, dengan diserang, nanti rakyat Iran akan terbebaskan.
13:36Nah, dua-duanya itu kan tidak terbukti gitu.
13:40BOP yang dipimpin oleh Trump, ada Israel di dalamnya itu,
13:44dan Indonesia menjadi anggota,
13:45itu ternyata baru aja BOP-nya dibentuk,
13:49perangnya malah lebih parah gitu kan.
13:52Jadi, itu saya kira yang menyebabkan masyarakat Indonesia,
13:56dan mungkin di beberapa negara yang lain,
13:58melihat bahwa keanggotaan di BOP itu tidak,
14:02sebagian besar masyarakatnya, mayoritas ya,
14:0550% lebih itu menyatakan tidak setuju.
14:07Oke, tapi apakah diplomasi zigzag yang lakukan
14:09Presiden Prabowo Subianto,
14:11ini karena membaca sentimen publik sedemikian,
14:13seperti yang terbaca dari Surfianda?
14:15Saya bukan alih hubungan internasional,
14:17tapi saya belajar sedikit,
14:18tetapi yang para alih haid ajarkan kepada kita adalah bahwa,
14:23politik internasional, kebijakan luar negeri itu selalu adalah resultante,
14:27gabungan antara masalah internasional dengan masalah domestik,
14:33apalagi di negara demokrasi seperti kita.
14:37Walaupun situasi demokrasi kita dianggap banyak menurun,
14:40tetapi kan kita masih negara demokrasi,
14:41karena itu suara publik penting,
14:43untuk melegitimasi sebuah kebijakan sepenting,
14:46seperti BOP atau seperti kebijakan yang terkait dengan perang di Iran ini.
14:51Apa namanya, sejauh ini memang kita lihat,
14:54nggak tahu ya para teman-teman yang ahli haid disini,
14:57memang apa sih kebijakan resmi Indonesia
15:01terhadap serangan Amerika Serikat dan Israel itu terhadap Iran itu,
15:05sikapnya apa sebenarnya secara resminya?
15:08Kayaknya belum begitu jelas terdengar,
15:10benar nggak gitu Pak?
15:11Nah itu menimbulkan sentimen di publik,
15:14ini sebenarnya, padahal kita tahu kan,
15:17sentimen di publik kan sangat negatif terhadap serangan itu,
15:19jadi kalau kita mau sederhanakan,
15:21rakyat Indonesia itu berdasarkan survei ini,
15:24pengennya pemerintah itu tegas tuh,
15:26misalnya mengutuk serangan terhadap Iran gitu,
15:28dan seterusnya, seperti kata Pak Agung tadi,
15:32tapi kan sampai sekarang kan tidak jelas.
15:34Nah, untuk mengakomodasi sentimen publik itu,
15:37saya kira pemerintah,
15:40dalam hal ini Presiden Prabowo,
15:41itu menunjukkan sinyal-sinyal kepada publik,
15:44bawa dia ke Perancis,
15:45ke Rusia,
15:49tidak lalu pada saat yang sama juga ke Cina dan sebagainya.
15:53Baik, saya ke Pak Samsu,
15:55apakah Anda juga melihat memang ada korelasi
15:58dengan sentimen publik domestik Indonesia
16:02dengan kebijakan Pak Prabowo,
16:04diplomasi zigzag?
16:07Betul, selamat malam semua,
16:08Assalamualaikum.
16:09Assalamualaikum.
16:10Jadi,
16:11sentimen politik domestik Indonesia itu,
16:14menjadi hal yang sangat dipertimbangkan oleh pemerintah Indonesia.
16:18Kenapa?
16:18Karena memang secara global,
16:20sentimen publik itu telah mampu merubah
16:22kebijakan strategis nasional beberapa negara.
16:25Di antaranya Perancis sendiri,
16:28Spanyol,
16:29Amerika sendiri bahkan,
16:30Australia juga,
16:31termasuk Inggris juga itu,
16:33mereka memberikan perlakuan atau sikap yang lebih lungat
16:36kepada Palestine kemarin itu
16:37karena dukungan domestik politik.
16:40Dan itu luar biasa pengaruhnya.
16:42Dan Indonesia pun juga mengalami hal yang sama.
16:44Ketika kita pertama kali masuk di BOP,
16:47barangkali 100% warga negara Indonesia itu
16:50tidak suka kita masuk di BOP
16:51karena sentimen anti-Amerika dan anti-Israel.
16:54Karena kita lebih kepada Palestine.
16:56Tetapi setelah Pak Presiden Prabowo
16:58mengundang beberapa tokoh,
17:00termasuk tokoh agama,
17:01kemudian menjelaskan
17:02bahwa BOP ini adalah
17:04satu-satunya pintu,
17:05satu-satunya forum
17:07yang nanti punya harapan
17:08untuk membicarakan Palestine itu
17:10dalam forum-forum internasional.
17:12Baru kemudian mereka mengerti.
17:13Tetapi dengan catatan,
17:15apabila ternyata BOP ini
17:16tidak seperti yang diinginkan
17:18atau dikehendaki oleh
17:19kita semuanya itu,
17:21maka kita punya exit tool yang jelas.
17:23Dan ini sampai sekarang
17:24exit toolnya sudah kelihatan,
17:26tetapi Presiden Prabowo
17:27belum berani
17:28mengambil sikap untuk keluar dari BOP,
17:30karena kita juga masih wait and see
17:33seperti apa situasinya.
17:34Kami di DPR ini menganggap bahwa
17:37memang sudah tidak aktual lagi
17:38ini kita keluar atau masuk
17:39di dalam BOP itu
17:41karena memang sudah
17:42bukan hal yang paling aktual
17:44walaupun tetap masih aktual.
17:45Tetapi yang penting
17:46untuk kita bahas sekarang ini adalah
17:48bagaimana menjadikan
17:50proses-proses yang
17:52unsupply yang tadi
17:53yang disampaikan itu adalah
17:55dengan dukungan-dukungan
17:57regulasi yang memungkinkan
17:58kita memiliki point of view
18:01dalam proses-proses diplomasi.
18:03Kenapa?
18:04Karena pada saat kita melakukan
18:06diplomasi zigzag,
18:07kita ke Amerika,
18:08kemudian juga ke Rusia,
18:10kemudian ke Perancis itu,
18:11kita tidak memiliki
18:13isu strategis.
18:15Kalau kita melihat
18:16apa yang menjadi aktual saat ini adalah
18:18bagaimana bangsa Iran
18:21itu mampu menggunakan
18:24ya
18:25wipeniais ya,
18:27wipenisasi
18:27supply chain tadi itu
18:30menjadi sebuah hal yang
18:31sangat aktual
18:32dan kita juga
18:33memiliki momentum
18:34untuk menjadikan
18:35misalnya
18:36Selat Malaka
18:37atau COP ini
18:39menjadi
18:40sebuah hal yang
18:42bisa
18:42mengupgrade
18:43bargaining positionnya kita.
18:45Karena selama ini Indonesia
18:46tidak memiliki
18:47trend lah khusus.
18:48Kita produksi nikel banyak,
18:50kita punya COP bagus,
18:51kita punya jalur roh lintas
18:53tapi kita tidak menggunakan itu
18:54sebagai bargaining utama.
18:56Nanti saya lanjutkan lagi
18:57kepada Anda.
18:58Baik, nanti saya lanjutkan lagi
18:59kepada Anda, Pak Samsu.
19:02Ya, sebentar ya.
19:03Saya ke Pak Marsudi.
19:04Di tengah
19:05Perang Iran
19:06kemudian
19:09juga ada
19:10diplomasi zigzag yang dilakukan
19:11apakah masih relevan
19:12atau menurut Anda
19:13sebenarnya
19:14keluar saja dari BOP
19:15atau cukup
19:16stay aja gak apa-apa?
19:17Bahwa
19:18kita telah
19:19pernah menyampaikan
19:20di forum ini dulu
19:22ketika
19:24dilihat
19:24manfaatnya
19:26itu
19:27minim
19:30itu kan
19:31keluar saja
19:32itu permintaan
19:33kiai-kiai
19:34dari Majelis
19:35Ulama Indonesia
19:36dari awal.
19:37Nah, karena
19:39Pak Presiden
19:41masih merasakan
19:42ada manfaatnya
19:43ketika itu
19:44dan itu
19:45terjadinya adalah
19:46sebelum perang Iran
19:49Amerika
19:50dengan Israel
19:51ini terjadi
19:52maka ada
19:54waktu
19:54untuk
19:55Presiden
19:56apakah
19:57beliau masih
19:59menimbang
20:00ini manfaat
20:01apa ini
20:02madorot
20:03ini mafsadah
20:05apa ini
20:06masalah
20:06nah ketika itu
20:08sudah
20:09ditimbang
20:11dan sekarang
20:11waktunya saja
20:13sudah beda
20:14tidak sekedar
20:15waktu
20:15tapi
20:16situasinya pun
20:18setelah perang itu
20:19sudah
20:20berbeda
20:21nah ketika itu
20:23menjanjikan
20:23kalau nanti
20:25tidak ada
20:25manfaatnya
20:26yang real
20:27kelihatan
20:28nyata
20:28ya
20:29beliau juga
20:30menyampaikan
20:31akan keluar
20:32nah kalau
20:33diplomasinya
20:34nanti
20:35kemudian
20:36akan keluar
20:37saya yakin
20:38hitung-hitungannya
20:39sudah nyata
20:40dan sudah bisa
20:41dihitung
20:41hari ini
20:42nah
20:44jadi hitungannya apa
20:45Pak
20:45jadi hitungannya
20:46gimana
20:47ya
20:48kemungkinan
20:49saja akan
20:49keluar
20:50sekarang saja
20:52sudah terjadi
20:53perangnya saja
20:54belum selesai-selesai
20:56yang dia
20:57keliling-keliling
20:58kesana
20:59kemari
20:59kalau menurut
21:00saya
21:01tidak
21:02sekedar
21:03diplomasi
21:04zik-zak
21:04tapi namanya
21:05diplomasi
21:06tarik tambang
21:07diplomasi
21:09tarik tambang
21:10ini
21:11ketiga
21:12ada tator
21:13sebelah kanan
21:14ujung sana
21:15yang menarik
21:16ke A
21:17yang sebelah
21:18ujung kiri sana
21:19menarik ke B
21:20apakah kita
21:22yang di tengah-tengah
21:23yang negara
21:24tawasut
21:25negara
21:26tengah
21:27negara yang
21:28kalau zaman dulu
21:29disebut itu
21:30negara diantara
21:31dua karang
21:32kalau bahasanya beliau
21:33kalau bahasanya beliau
21:34tadi
21:34negara yang
21:37independen
21:38tapi
21:38aktif
21:39nah ketika kita
21:41di tengah
21:41ini dua kutub ini
21:43kan ingin menarik
21:44kesana ke kanan
21:45dan satunya
21:46ingin menarik
21:47ke kiri
21:48nah kalau kita
21:49ketarik ke kanan
21:50dan
21:52apa
21:54kelihatan
21:55masyarakat pun
21:56melihat
21:56ini sesungguhnya
21:57lagi ditarik ke kanan
21:58atau sebaliknya
22:00kepengen masuk
22:01ditarik ke kiri
22:02tapi gak
22:03ditarik-tarik ke kiri
22:04nah itu
22:06bisa saja
22:07terjadi
22:08begitu
22:08lah kita yang
22:10independen
22:11tapi aktif
22:12atau dibahasakan
22:13dalam
22:16doktrin
22:17sebuah agama
22:18wakadhali
22:19kajalna
22:19umat
22:20umat yang
22:22tengah
22:22yang tengah-tengah
22:23yang tidak harus
22:25terlalu
22:25tatoruf ke kanan
22:26dan tidak harus
22:27tatoruf ke kiri
22:29yang demikian itu
22:31dianggap adalah
22:33sikap yang paling adil
22:34jika
22:35memang benar-benar
22:37untuk mengambil
22:38langkah-langkah
22:39yang manfaat
22:40agar tidak sampai
22:43mendapatkan
22:44mafsadah
22:44langkah-langkah
22:46yang mendapatkan
22:46maslahah
22:47agar jangan sampai
22:48yang didapat
22:49malah
22:50mador
22:50nah
22:51usaha inilah
22:53usaha
22:54yang kemungkinan
22:56kemungkinan
22:57keinginannya
22:58lagi diusahakan
23:00oleh Presiden Prabowo
23:02demikian
23:02walaupun
23:03kadang publik
23:04melihatnya
23:05enggak
23:05oh ini ketarik ke kanan
23:07kenemenan kanannya
23:08gitu
23:09atau
23:09oh ini
23:10ditarik ke kiri
23:12ke kiri yang
23:14tarikannya
23:15lah
23:15memang
23:16untungnya
23:17ada publik
23:18yang alhamdulillah
23:19di Indonesia
23:20untuk bisa saling
23:22awasau belah
23:23baik
23:24nanti kita lanjutkan lagi
23:25Pak
23:25yang jelas ada
23:26pertanyaan adalah
23:26bagaimana
23:27Indonesia
23:28bisa keluar dari
23:29perangkap geopolitik
23:30yang rumit
23:31di Timur Tengah
23:32apalagi Indonesia
23:32sudah terlanjur
23:33bergabung di BOP
23:35apakah yang namanya
23:36diplomasi
23:37zigzag
23:37cukup
23:38kami sudah kembali
23:39saudara
23:39tetap di Pulau Liar
23:40terima kasih
23:41terima kasih
23:43terima kasih
23:44terima kasih
Komentar

Dianjurkan