00:02Sejak lahir, Purwantoro alias Deglek hanya mengenal satu jenis kendaraan di rumahnya, yakni Vespa.
00:08Doktrin sang ayah yang menyebut hanya Vespa kendaraan paling nyaman di dunia,
00:13membuatnya jatuh hati pada skuter ikonik asal Italia ini.
00:16Berawal dari koleksi pertama berupa Vespa VGL keluaran tahun 1963 saat duduk di bangku SMA,
00:24hingga VNB tahun 1961.
00:26Kini koleksinya telah mencapai 150 unit.
00:30Di Marconi Garage dan Marconi Classic 87 miliknya,
00:34terdapat berbagai jenis Vespa dari tahun produksi 1949 hingga edisi terakhir tahun 2005.
00:41Tak tanggung-tanggung, Deglek berburu unit hingga ke seluruh penjuru Nusantara,
00:46mulai dari Sabang sampai Merauke.
00:48Tak hanya produksi Italia, koleksinya juga mencakup Vespa rakitan Jerman,
00:53Rusia, Inggris, Perancis, hingga India.
00:58Vespa atau skuter bukan sekedar hobi, tapi keluarga dan turun-temurun.
01:03Sejak 2010 telah menggantungkan hidupnya dari Vespa.
01:06Mulai dari biaya sekolah anak, kuliah, hingga makan sehari-hari,
01:11semua dari hasil jual-beli Vespa.
01:13Bisnis yang dijalankannya pun bukan kaleng-kaleng.
01:15Harga unit yang ia tawarkan bervariasi.
01:18Mulai dari harga ramah kantong 3 juta rupiah,
01:21hingga unit langka yang menembus harga 400 juta rupiah.
01:26Pembelinya pun datang dari berbagai daerah di luar Kalimantan.
01:29Kini, Deglek sedang mempersiapkan generasi keempatnya.
01:32Ia mulai mengajarkan anaknya mencintai skuter ini
01:35dan mengumpulkan suku cadang secara perlahan.
01:38Sama sih, masih dalam satu lingkup keluarga.
01:42Vespa itu bukan hobi sih.
01:44Vespa itu keluarga buat kami.
01:46Karena turun-temurun dari kakek, bapak, dari saya.
01:51Jadi, kayak sebuah, bukan sebuah kendaraan transportasi ya,
01:56sebagian dari keluarga.
01:57Mulai saya lahir di bumi ini,
02:00yang saya lihat cuma Vespa, kendaraan di rumah.
02:04Jadi, tidak ada kendaraan lain selain Vespa.
02:08Baginya, Vespa adalah warisan
02:10yang tak akan pernah padam di makan zaman.
02:13Iskandar Amir Dahlan, Kompas TV Balikpapan, Kalimantan Timur.
Komentar