00:00Selain subsidi, WFH saja untuk mengurangi konsumsi energi itu nggak cukup, hanya untuk pintu masuk saja.
00:05Betul, menurut saya kalau WFH ini kan inginnya untuk energi ya, tapi itu seberapa besar sih itu nggak terlalu besar
00:10menurut saya.
00:11Jadi juga sistemnya harus diberesin, kalau enggak, di satu sisi seolah-olah hemat, tapi pelayanan publiknya turun.
00:18Nah kalau pelayanan publik rendah, itu juga mempengaruhi ekonomi kan, nah mempengaruhi ekonomi juga mempengaruhi dari sisi pendanaan gitu.
00:25Nah ini menurut saya, apakah sudah siap dengan WFH? Jangan-jangan WFH itu tambah hari libur gitu ya.
00:30Padahal kan maksudnya pelayanan publik harus tetap ya, seperti seolah-olah masuk gitu.
00:35Jadi saya belum melihat kesiapan pemerintah gitu.
00:37Kalau swasta sih saya rasa mereka ambil keputusan belum tentu WFH, karena mereka masih melihat butuh orang untuk berdampingan.
00:45Cuman memang dari sisi transportasi umum yang menurut saya mungkin perlu diperbanyak ya,
00:49supaya masyarakat itu bisa paling tidak transportasi yang biayanya paling tinggi sebenarnya gitu.
00:54Nah kalau Bu Dhani, sebenarnya apa yang masyarakat harus diberitahu secara gamblang biar kita bekalnya cukup dibandingkan negara-negara Asia
01:02Tenggara yang kondisinya lebih baik saja,
01:04mereka sudah bersiap lebih awal.
01:06Saya rasa pemerintah mungkin perlu jujur untuk menyampaikan situasi kini yang harus dihadapi bangsa ini.
01:17Ini bukan bicara soal informasi yang harus diterima masyarakat, tapi ini bicara soal kepercayaan.
01:26Jadi jangan sampai rakyat itu meraba-raba apa yang sebenarnya sedang terjadi.
01:31Tiba-tiba untuk seminggu kemudian BBM main, itu saya rasa itu bukan hanya mengejutkan,
01:39tetapi buat masyarakat yang tidak memiliki kalkulasi sedetail itu dan merasa bahwa jaring pengaman itu ada karena pemerintah menjamin itu,
01:49karena berkali-kali selalu dikatakan tidak naik, bahkan Pak Purbaya mengatakan bahwa kita hebat, Indonesia masih ini.
01:57Itu kan kata-kata yang sebetulnya menenangkan, tetapi di dalamnya itu ada bara yang siap membakar kalau kita tidak hati
02:07-hati.
02:08Nah itu yang di dalam negeri, jadi domestik itu menjadi penting sekali karena konsekuensi dari krisis energi global ini akan
02:17datang ke Indonesia.
02:18Kapan itu, itu tergantung bagaimana pemerintah mengorkestrasi kebijakan untuk rakyat itu seperti apa.
02:28Dan kemudian kita juga penting untuk membereskan hal-hal yang tadi itu, yang membuat posisi Indonesia itu belum jelas.
02:35Daya tawarnya.
02:36Yang daya tawarnya itu belum jelas.
02:38Indonesia itu punya modal yang luar biasa, punya kapital yang luar biasa.
02:43Dia anggota G20, dia memiliki 280 juta penduduk dan lain, apa namanya, terletak di urat nadi perdagangan internasional dan lain
02:58-lain.
02:59Tetapi kita ini bukan kekurangan kapasitas, kita bukan kekurangan modal, tetapi kita belum memiliki kemampuan bagaimana kapasitas itu dioptimalkan.
03:10Nah, kalau Bu Afi, yang lebih sederhana lagi, dari rumah ke rumah, dari satu kepala keluarga ke kepala keluarga lain,
03:20apa yang harus disiapkan?
03:21Bekal apa sih yang harus ada di kantong dalam kondisi seperti itu?
03:23Ya, pertama adalah mungkin kita juga mesti melihat kembali kantong kita ya.
03:28Jadi artinya bahwa kita harus mulai bisa memanage keuangan kita ya.
03:32Kemudian yang kedua juga paling tidak sekarang ini kalau satu keluarga ya mungkin yang bekerja mungkin sekarang harus satu keluarga
03:40gitu ya.
03:40Jadi mulai memikirkan bagaimana skenario yang paling buruk kita tetap bisa survive gitu ya.
03:46Walaupun kita tidak perlu ketakutan tapi harus siap-siap lah gitu.
03:50Jadi saving harus ada ya.
03:52Kemudian ya BPJS kan semuanya sudah yang tidak mampu ada, tapi yang memang kelas menengah ini mungkin pemerintah perlu pikirkan
04:00mungkin dalam berapa bulan kalau ada masalah itu juga harus ada pembayaran kepada mereka misalnya untuk BPJS.
04:07Supaya kalau mereka sakit juga bisa ya.
04:09Kemudian kalau kita waktu COVID kan dalam tiga bulan mereka dapat misalnya uang saku.
04:14Nah saya rasa perlu dipikirkan jadi nanti juga harus siap-siap dengan perpu kalau seandainya dibutuhkan gitu ya.
04:20Nah paling enggak kalaupun enggak terjadi enggak apa-apa tapi paling enggak kita udah punya strategi gitu ya.
04:25Jadi kalau di dalam perbangga itu ada namanya manajemen resiko.
04:27Dalam manajemen resiko itu kita punya beberapa pilihan.
04:30Jadi kalau ada ini pilihannya ini.
04:32Kalau ada asumsi lain pilihannya yang lain.
04:34Nah kita ini belum punya itu.
04:35Selalu ketika ada sesuatu langsung statement pemerintah itu kayak seolah-olah ini bakal terjadi gitu ya.
04:41Nah harusnya tidak ketika itu belum terjadi kita sudah harus punya pilihan-pilihan kebijakan.
04:45Nah mungkin kita harus merubah pilihan kebijakan kita.
04:49Jadi nanti juga ke depan tidak kepada rule based tapi juga pada principle based.
04:53Jadi semua itu enggak diatur pada birokrasi.
04:55Tapi bagaimana bisa mengambil keputusan dengan cepat gitu.
04:58Kenapa kita bahas holistik dari sisi ekonomi, dari sisi juga keamanan, secara geopolitik.
05:03Agar judul kita ini semoga tanda tanyanya hilang.
05:07Bebak baru Amerika Serikat Israel versus Iran, Indonesia aman.
05:10Itu yang kita harapkan bersama.
05:12Kesiapan dari semua pihak.
05:13Dan ini masyarakat itu butuh kepastian.
05:16Kepastian.
05:16Jadi apa rencana pemerintah?
05:18Apa kebijakan yang dilakukan?
05:19Dan terutama komunikasi itu dilakukan secara ini.
05:24Bukan malah menciptakan persoalan baru lagi.
05:27Kepastian untuk semuanya agar Indonesia aman di tengah ketidakpastian global.
Komentar