00:00Bisakah itu kalau secara legalnya kita berada di bawah nawangan PBB karena mandatnya di bawah PBB juga kita mengirimkan pasukan
00:06ke Unifil, itu bisa dilakukan?
00:07Bagaimana mekanismenya sesuai dengan tadi?
00:09Jadi itu dengan alasan bahwa ternyata keamanan dari pasukan kita sendiri juga tidak terjamin.
00:16Pasukan perdamaian itu kan tidak diperhadapkan dengan perang yang demikian itu dan kita tidak dipersenjatai seperti itu.
00:23Pasukan perdamaian itu kita tugasnya adalah menciptakan, menjaga dan kemudian memposisikan situasi agar situasi itu lebih kondusif.
00:39Tapi ini kan langsung berhadapan dengan situasi perang sesungguhnya yang kita tidak dipersenjatai seperti itu.
00:48Dan semestinya kita tidak diserang dalam kondisi sebagai peacekeeping forces misalnya.
00:53Jadi sangat masuk akal kalau kita membuat keputusan bahwa kita menarik semua pasukan kita di sana.
01:02Dan jangan lupa sejak 57 itu kita paling besar mengirimkan pasukan perdamaian itu.
01:07Jadi bukan hanya sangat layak ya kita mengecam, bahkan ketika kita menarik mundur pasukan itu karena tidak ada jaminan keselamatan
01:17bagi TNI kita, itu sangat wajar.
01:20Dan ini kan berimplikasi juga artinya yang jelas tugasnya menjaga perdamaian saja tidak aman.
01:28Bisa kita baca bahwa ini ada uncertain situation yang tidak hanya soal ekonomi saja tapi juga soal keamanan secara lebih
01:36luas.
01:36Jadi apa yang harus kita persiapkan Bu Afi?
01:38Yang pasti dari sisi bukan keamanan tapi juga ekonomi pastinya.
01:42Karena tadi salah satunya BOP kemudian kan posisi kita jadi seolah-olah di Iran dan kita juga pernah mengalami pada
01:49tahun 2023 mengenai kapal Iran juga.
01:51Jadi kan sekarang kapal kita tidak bisa masuk ya.
01:54Jadi terpaksa kita sekarang mau coba dengan Malaysia, dengan Singapur.
01:57Tapi yang harus kita antisipasi adalah mereka juga pasti akan butuh yang namanya cadangan.
02:02Sehingga bisa jadi penolakan terhadap permintaan kita juga bisa terjadi.
02:07Jadi kita juga harus membuat worst skenario-nya ketika itu tidak ada lalu bagaimana dengan BBM kita gitu.
02:13Jadi maksud saya jangan meninabobokan tadi lalu juga mengatakan semuanya gampang aja gitu.
02:19Jadi harus ada alternatif-alternatif yang disampaikan kepada publik maupun kepada dunia usaha sehingga membuat mereka tenang.
02:26Kalau sekarang kan pemerintah ngomong malah nggak tenang.
02:29Apakah benar gitu?
02:30Karena kan orang semua punya perhitungan ya.
02:32Jadi itu satu adalah dampaknya tadi ya di Selat Hormus itu kita belum bisa masuk kapal kita ya.
02:37Nah yang kedua adalah tadi bahwa pengusaha-pengusaha sekarang juga sudah mulai resah dengan gimana nih nanti faktor input.
02:44Jadi ini adalah saatnya sebenarnya bagaimana pemerintah mulai menyiapkan kebijakan terhadap substitusi import misalnya.
02:51Jadi pengusaha ini mulai merubah strategi daripada menunggu import tapi mulai kebijakan yang lain.
02:57Nah ini saya rasa ini suatu momentum bagus yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah.
03:01Jadi kita harusnya fokus pada domestik menurut saya.
03:05Jadi nah sekarang ini kan lebih banyak dari BBM aja gitu.
03:09Tapi domestiknya apa nih kebijakan itu belum ada.
03:11Bicara soal Hormus kita bedah satu-satu.
03:14Hormus ini kan jadi perbincangan di awal.
03:16Saat negara lain ditanya berapa cadangan BBM-nya kita punya cadangan energinya 21 hari ya.
03:22Nah yang kita harus pahami ini kan buffer sebenarnya ya.
03:25Jadi ibaratnya tabungan kita punya 21 hari ini kalau kenapa-napa.
03:30Kalau Selat Hormus ini 20% dari perdagangan minyak energi, apa yang bisa kita lakukan sebenarnya?
03:38Worse scenario yang kita harus siapkan itu apa?
03:40Sekarang ini pemerintah kan mencoba dengan B50 kan.
03:43Tapi seberapa jauh sebenarnya B50 ini juga ada di dilema.
03:46Karena begitu B50 ekspor kita CPO juga turun kan.
03:50Nah berarti nanti akan ada cadangan defisa kita yang berkurang.
03:54Nah di satu sisi apakah kita siap dengan B50?
03:57Dan berapa banyak gitu ya.
03:58Walaupun pemerintah mengatakan kita bisa dengan B50.
04:01Tapi kan orang masih bertanya-tanya orang kita apa namanya ininya aja untuk penampungnya aja kita belum banyak.
04:08Makanya kenapa kita cuma 20 hari?
04:10Karena kita gak punya drum-drum penampung yang dimana semua negara itu buat yang banyak.
04:15Nah kita baru mau buat nih.
04:16Nah baru mau buat kan berapa lama gitu ya.
04:18Nah jadi ini juga menjadi persoalan.
04:20Nah oleh karena itu selain tadi B50 yang disiapkan oleh pemerintah.
04:24Apalagi nih kan kita sebenarnya punya gas, punya PLTU gitu ya.
04:27Nah ini yang mungkin menurut saya selama ini garapannya masih lambat gitu.
04:31Nah ke depan ini harus menjadi prioritas utama karena sebenarnya sumber energi Indonesia itu banyak.
04:36Matahari misalnya.
04:37Tapi kan sekarang energi surya kan masih belum banyak gitu.
04:40Tapi itu pakai jangka panjang ya?
04:42Jangka panjang.
04:43Kalau yang pendek ya paling B50 yang paling mungkin gitu.
04:45Atau gas ya.
04:46Karena gas kita kan juga banyak diekspor.
04:48Nah untuk di dalam negeri sendiri yang gas rumah tangga kan belum jalan.
04:51Nah jadi memang kelihatannya untuk jangka pendek ini gak bisa berbuat banyak ya.
04:56Selain memang masih tergantung BBM itu sendiri.
04:59Nah makanya sekarang harus ada negosiasi-negosiasi.
05:01Tidak hanya mengandalkan misalnya Malaysia dan Singapur.
05:05Tapi juga berbagai hal.
05:06Karena ini yang sangat urgen buat Indonesia gitu.
05:09Nah negosiasi ini bagaimana untuk mengusahakannya Bu Dhani?
05:12Karena bicara soal ketahanan energi.
05:14Ini akan langsung berdampak untuk rumah-rumah tiap kepala keluarga yang ada.
05:19Ya begini sampai hari ini kita melihat bahwa mediator yang dimaksudkan oleh Pak Prabowo itu kan
05:29ternyata dilakukan oleh Pakistan, Turki, India untuk peran memidiasi konflik ini.
05:39Bagaimana dengan Indonesia?
05:41Saya rasa sampai hari ini kita belum tahu apa yang terjadi di sini.
05:46Tetapi saya rasa hasil survei yang hari ini dirilis tentang legitimasi publik terhadap perang Iran-Israel dan Amerika ini.
06:00Dimana surveinya ini dilakukan oleh indikator politik, Saiful Mujani dan LSI.
06:08Ini menunjukkan bahwa 80,3 persen rakyat Indonesia dari seribu sekian responden itu
06:15mengatakan ketidaksetujuan dengan perang yang terjadi ini.
06:21Karena memiliki implikasi terhadap kehidupan mereka di jangka panjang.
06:27Yang kedua yang paling menarik menurut saya adalah 50,3 persen itu menolak BOP.
06:33Jadi masyarakat benar-benar menolak BOP.
06:37Menurut saya, saya membaca ini adalah sebagai modal.
06:41Modal memang bukan strategi.
06:42Karena pada kenyataannya, legitimasi publik itu tidak selalu berbanding lurus
06:49dengan legitimasi diplomatik internasional.
06:54Buktinya kita tidak melihat itu.
06:56Padahal saya melihat survei ini semacam legitimasi bahwa
07:00suara publik selama ini sebetulnya sudah terkonfirmasi dengan hasil survei hari ini.
07:07Bahwa pemerintah saya rasa penting untuk melihat suara publik ini.
07:14Bukan hanya sekedar dibukakan ruang-ruang dialog.
07:18Tetapi bagaimana mengkonversikan legitimasi publik, suara publik ini
07:23ke dalam keputusan, artis sektor keputusan yang dibuat oleh pemerintah
07:29dalam konteks internasional atau global ini.
07:33Karena masyarakat juga punya pengetahuannya sendiri.
07:35Masyarakat punya pengalamannya sendiri terkait dengan itu.
07:39Perang saya rasa betul tadi yang dikatakan Mbak Filiani
07:43dia tidak saja berhenti di negara-negara terkait
07:48tetapi dia akan masuk ke dapur kita.
07:50Karena jangka panjang ini punya pengaruhnya ke sana.
07:57Masalahnya apakah kita setelah melihat seperti ini
08:01tadi banyak sekali kita diusulkan untuk kembali ke meja perundingan.
08:10Itu bagaimana mekanismenya?
08:12Karena ini kita kan juga tersandra itu loh.
08:16Jadi di satu sisi kita masa publik menolak untuk masuk BOP.
08:23Sementara kita ada di sana dan kita tidak bisa berbuat banyak
08:28tentang implikasi di lapangan.
08:31Terima kasih telah menonton!
Komentar