Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Kepala Laboratorium Indonesia 2045 atau LAB45, Jaleswari Pramodhawardani, menegaskan bahwa ketahanan energi menjadi salah satu sektor yang paling terdampak dari konflik ini.

Ia juga menyoroti hasil survei terbaru yang menunjukkan penolakan kuat publik Indonesia terhadap perang Iran, Israel, dan Amerika Serikat.

"Ini menunjukkan bahwa 80,3 persen rakyat Indonesia dari seribu sekian responden itu mengatakan ketidaksetujuan dengan perang yang terjadi ini, karena memiliki implikasi terhadap kehidupan mereka di jangka panjang," ungkapnya.

Tak hanya itu, survei juga mencatat adanya penolakan terhadap bergabungnya Indonesia dalam Board of Peace. Jaleswari menilai hasil survei ini menjadi legitimasi kuat bahwa suara publik harus menjadi pertimbangan serius pemerintah dalam mengambil kebijakan.

Menurutnya, dampak perang tidak berhenti di kawasan konflik, tetapi akan menjalar hingga ke kehidupan sehari-hari masyarakat Indonesia.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/9DI00APczvU



#iran #USA #indonesia



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/660833/as-israel-vs-iran-ancam-ketahanan-energi-mayoritas-publik-tolak-perang-rosi
Transkrip
00:00Bisakah itu kalau secara legalnya kita berada di bawah nawangan PBB karena mandatnya di bawah PBB juga kita mengirimkan pasukan
00:06ke Unifil, itu bisa dilakukan?
00:07Bagaimana mekanismenya sesuai dengan tadi?
00:09Jadi itu dengan alasan bahwa ternyata keamanan dari pasukan kita sendiri juga tidak terjamin.
00:16Pasukan perdamaian itu kan tidak diperhadapkan dengan perang yang demikian itu dan kita tidak dipersenjatai seperti itu.
00:23Pasukan perdamaian itu kita tugasnya adalah menciptakan, menjaga dan kemudian memposisikan situasi agar situasi itu lebih kondusif.
00:39Tapi ini kan langsung berhadapan dengan situasi perang sesungguhnya yang kita tidak dipersenjatai seperti itu.
00:48Dan semestinya kita tidak diserang dalam kondisi sebagai peacekeeping forces misalnya.
00:53Jadi sangat masuk akal kalau kita membuat keputusan bahwa kita menarik semua pasukan kita di sana.
01:02Dan jangan lupa sejak 57 itu kita paling besar mengirimkan pasukan perdamaian itu.
01:07Jadi bukan hanya sangat layak ya kita mengecam, bahkan ketika kita menarik mundur pasukan itu karena tidak ada jaminan keselamatan
01:17bagi TNI kita, itu sangat wajar.
01:20Dan ini kan berimplikasi juga artinya yang jelas tugasnya menjaga perdamaian saja tidak aman.
01:28Bisa kita baca bahwa ini ada uncertain situation yang tidak hanya soal ekonomi saja tapi juga soal keamanan secara lebih
01:36luas.
01:36Jadi apa yang harus kita persiapkan Bu Afi?
01:38Yang pasti dari sisi bukan keamanan tapi juga ekonomi pastinya.
01:42Karena tadi salah satunya BOP kemudian kan posisi kita jadi seolah-olah di Iran dan kita juga pernah mengalami pada
01:49tahun 2023 mengenai kapal Iran juga.
01:51Jadi kan sekarang kapal kita tidak bisa masuk ya.
01:54Jadi terpaksa kita sekarang mau coba dengan Malaysia, dengan Singapur.
01:57Tapi yang harus kita antisipasi adalah mereka juga pasti akan butuh yang namanya cadangan.
02:02Sehingga bisa jadi penolakan terhadap permintaan kita juga bisa terjadi.
02:07Jadi kita juga harus membuat worst skenario-nya ketika itu tidak ada lalu bagaimana dengan BBM kita gitu.
02:13Jadi maksud saya jangan meninabobokan tadi lalu juga mengatakan semuanya gampang aja gitu.
02:19Jadi harus ada alternatif-alternatif yang disampaikan kepada publik maupun kepada dunia usaha sehingga membuat mereka tenang.
02:26Kalau sekarang kan pemerintah ngomong malah nggak tenang.
02:29Apakah benar gitu?
02:30Karena kan orang semua punya perhitungan ya.
02:32Jadi itu satu adalah dampaknya tadi ya di Selat Hormus itu kita belum bisa masuk kapal kita ya.
02:37Nah yang kedua adalah tadi bahwa pengusaha-pengusaha sekarang juga sudah mulai resah dengan gimana nih nanti faktor input.
02:44Jadi ini adalah saatnya sebenarnya bagaimana pemerintah mulai menyiapkan kebijakan terhadap substitusi import misalnya.
02:51Jadi pengusaha ini mulai merubah strategi daripada menunggu import tapi mulai kebijakan yang lain.
02:57Nah ini saya rasa ini suatu momentum bagus yang harus dimanfaatkan oleh pemerintah.
03:01Jadi kita harusnya fokus pada domestik menurut saya.
03:05Jadi nah sekarang ini kan lebih banyak dari BBM aja gitu.
03:09Tapi domestiknya apa nih kebijakan itu belum ada.
03:11Bicara soal Hormus kita bedah satu-satu.
03:14Hormus ini kan jadi perbincangan di awal.
03:16Saat negara lain ditanya berapa cadangan BBM-nya kita punya cadangan energinya 21 hari ya.
03:22Nah yang kita harus pahami ini kan buffer sebenarnya ya.
03:25Jadi ibaratnya tabungan kita punya 21 hari ini kalau kenapa-napa.
03:30Kalau Selat Hormus ini 20% dari perdagangan minyak energi, apa yang bisa kita lakukan sebenarnya?
03:38Worse scenario yang kita harus siapkan itu apa?
03:40Sekarang ini pemerintah kan mencoba dengan B50 kan.
03:43Tapi seberapa jauh sebenarnya B50 ini juga ada di dilema.
03:46Karena begitu B50 ekspor kita CPO juga turun kan.
03:50Nah berarti nanti akan ada cadangan defisa kita yang berkurang.
03:54Nah di satu sisi apakah kita siap dengan B50?
03:57Dan berapa banyak gitu ya.
03:58Walaupun pemerintah mengatakan kita bisa dengan B50.
04:01Tapi kan orang masih bertanya-tanya orang kita apa namanya ininya aja untuk penampungnya aja kita belum banyak.
04:08Makanya kenapa kita cuma 20 hari?
04:10Karena kita gak punya drum-drum penampung yang dimana semua negara itu buat yang banyak.
04:15Nah kita baru mau buat nih.
04:16Nah baru mau buat kan berapa lama gitu ya.
04:18Nah jadi ini juga menjadi persoalan.
04:20Nah oleh karena itu selain tadi B50 yang disiapkan oleh pemerintah.
04:24Apalagi nih kan kita sebenarnya punya gas, punya PLTU gitu ya.
04:27Nah ini yang mungkin menurut saya selama ini garapannya masih lambat gitu.
04:31Nah ke depan ini harus menjadi prioritas utama karena sebenarnya sumber energi Indonesia itu banyak.
04:36Matahari misalnya.
04:37Tapi kan sekarang energi surya kan masih belum banyak gitu.
04:40Tapi itu pakai jangka panjang ya?
04:42Jangka panjang.
04:43Kalau yang pendek ya paling B50 yang paling mungkin gitu.
04:45Atau gas ya.
04:46Karena gas kita kan juga banyak diekspor.
04:48Nah untuk di dalam negeri sendiri yang gas rumah tangga kan belum jalan.
04:51Nah jadi memang kelihatannya untuk jangka pendek ini gak bisa berbuat banyak ya.
04:56Selain memang masih tergantung BBM itu sendiri.
04:59Nah makanya sekarang harus ada negosiasi-negosiasi.
05:01Tidak hanya mengandalkan misalnya Malaysia dan Singapur.
05:05Tapi juga berbagai hal.
05:06Karena ini yang sangat urgen buat Indonesia gitu.
05:09Nah negosiasi ini bagaimana untuk mengusahakannya Bu Dhani?
05:12Karena bicara soal ketahanan energi.
05:14Ini akan langsung berdampak untuk rumah-rumah tiap kepala keluarga yang ada.
05:19Ya begini sampai hari ini kita melihat bahwa mediator yang dimaksudkan oleh Pak Prabowo itu kan
05:29ternyata dilakukan oleh Pakistan, Turki, India untuk peran memidiasi konflik ini.
05:39Bagaimana dengan Indonesia?
05:41Saya rasa sampai hari ini kita belum tahu apa yang terjadi di sini.
05:46Tetapi saya rasa hasil survei yang hari ini dirilis tentang legitimasi publik terhadap perang Iran-Israel dan Amerika ini.
06:00Dimana surveinya ini dilakukan oleh indikator politik, Saiful Mujani dan LSI.
06:08Ini menunjukkan bahwa 80,3 persen rakyat Indonesia dari seribu sekian responden itu
06:15mengatakan ketidaksetujuan dengan perang yang terjadi ini.
06:21Karena memiliki implikasi terhadap kehidupan mereka di jangka panjang.
06:27Yang kedua yang paling menarik menurut saya adalah 50,3 persen itu menolak BOP.
06:33Jadi masyarakat benar-benar menolak BOP.
06:37Menurut saya, saya membaca ini adalah sebagai modal.
06:41Modal memang bukan strategi.
06:42Karena pada kenyataannya, legitimasi publik itu tidak selalu berbanding lurus
06:49dengan legitimasi diplomatik internasional.
06:54Buktinya kita tidak melihat itu.
06:56Padahal saya melihat survei ini semacam legitimasi bahwa
07:00suara publik selama ini sebetulnya sudah terkonfirmasi dengan hasil survei hari ini.
07:07Bahwa pemerintah saya rasa penting untuk melihat suara publik ini.
07:14Bukan hanya sekedar dibukakan ruang-ruang dialog.
07:18Tetapi bagaimana mengkonversikan legitimasi publik, suara publik ini
07:23ke dalam keputusan, artis sektor keputusan yang dibuat oleh pemerintah
07:29dalam konteks internasional atau global ini.
07:33Karena masyarakat juga punya pengetahuannya sendiri.
07:35Masyarakat punya pengalamannya sendiri terkait dengan itu.
07:39Perang saya rasa betul tadi yang dikatakan Mbak Filiani
07:43dia tidak saja berhenti di negara-negara terkait
07:48tetapi dia akan masuk ke dapur kita.
07:50Karena jangka panjang ini punya pengaruhnya ke sana.
07:57Masalahnya apakah kita setelah melihat seperti ini
08:01tadi banyak sekali kita diusulkan untuk kembali ke meja perundingan.
08:10Itu bagaimana mekanismenya?
08:12Karena ini kita kan juga tersandra itu loh.
08:16Jadi di satu sisi kita masa publik menolak untuk masuk BOP.
08:23Sementara kita ada di sana dan kita tidak bisa berbuat banyak
08:28tentang implikasi di lapangan.
08:31Terima kasih telah menonton!
Komentar

Dianjurkan