Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Ekonom Senior INDEF, Aviliani, mengingatkan bahwa dampak perang kali ini bisa jauh lebih luas dibanding konflik sebelumnya seperti Rusia-Ukraina.

Ia menjelaskan, jika sebelumnya dampak utama hanya pada energi dan gandum, kini gangguan bisa menjalar ke berbagai sektor ekonomi global.

Gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz berpotensi menghambat distribusi barang, termasuk bahan bakar dan bahan baku industri.

Akibatnya, perusahaan bisa mengalami kesulitan pasokan dan terpaksa menurunkan produksi.

Dampak lanjutan dari kondisi ini adalah tekanan terhadap daya beli masyarakat. Di sisi lain, kenaikan harga juga tidak hanya terjadi pada BBM, tetapi merembet ke berbagai kebutuhan lain.

Aviliani juga menegaskan, masyarakat tidak boleh terlena dengan kebijakan subsidi. Sebab, ancaman juga datang dari sektor pangan, mengingat Indonesia masih bergantung pada impor.

Selain itu, sektor industri, terutama makanan dan minuman, juga berisiko terdampak akibat terganggunya pasokan bahan baku.

Aviliani mengingatkan pentingnya kesadaran publik agar meningkatkan kewaspadaan dalam situasi ini.

Meski demikian, masyarakat juga diimbau untuk tidak melakukan panic buying. Kunci utama adalah tetap tenang, namun mulai mengatur pengeluaran secara bijak.



Bagaimana menurut Anda?
Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/9DI00APczvU



#iran #USA #indonesia

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/660832/perang-israel-as-vs-iran-indef-harga-naik-phk-mengintai-daya-beli-tertekan-rosi
Transkrip
00:00Saya rasa daya tahan atau kemampuan negara kita itu pasti ada batasnya ketika krisis ini akan terus berlanjut ya.
00:08Dan kita juga tahu bahwa negara-negara tetangga kita sudah bersiap-siap juga gitu.
00:15Macam-macam ada yang bicara soal bagaimana persembunyian, membangun-bangun bangkor, segala macam.
00:23Atau kemudian mematikan lampu jalan, atau kemudian macam-macam dari negara.
00:28Kita ini punya enggak kebijakan kedaruratan yang terkait dengan pergeseran konflik ini atau perang yang terjadi berlarut ini?
00:37Ini menarik, kalau kita saat 28 Februari masih berpikir oh perangnya di sana, di timur tengah, di kawasan teluk yang
00:44kena.
00:45Tapi saat negara tetangga di Asia Tenggara saja sudah bersiap, kita jadi berpikir ulang.
00:51Apa dampak perang ini terhadap dapur rumah kita, dapur rumah tangga kita masih bisa mengepul?
00:57Apakah dapur ini dan apa kaitannya? Bu Afi bisa menjelaskan secara sederhana soal ini.
01:01Jadi gini, persoalan pertama adalah perang ini mempengaruhi dibandingkan waktu Ukraine dan Rusia.
01:09Karena itu hanya BBM dan juga gandum.
01:13Tapi kali ini itu bisa dampaknya cukup luas.
01:15Kenapa?
01:16Karena selat hormus itu 20% perdagangan itu melalui selat tersebut.
01:20Sehingga pengaruh pertama adalah pastinya tadi BBM yang sekarang dibicarakan pemerintah.
01:26Tapi BBM ini kan pengaruhnya bukan hanya BBM, tapi juga ternyata sekarang beberapa perusahaan juga mengalami faktor input daripada perusahaan
01:33itu tidak bisa di-delivery.
01:35Akibatnya perusahaan kan mengurangi produksi.
01:38Kalau mengurangi produksi nanti bisa dampak terhadap PHK.
01:40PHK berarti daya beli masyarakat turun lagi.
01:43Itu dari sisi hal tersebut.
01:44Nah dari sisi masyarakat, kalau ada dampak terhadap inflasi, walaupun mungkin nanti subsidi BBM akan dilakukan.
01:51Tapi kan harga-harga yang naik, bukan hanya dari sekedar BBM-nya saja kan kenaikan itu.
01:57Nah kalau ini terjadi karena supply-nya terbatas dibandingkan demand, itu juga bisa menaikkan harga.
02:03Tidak sekedar BBM.
02:04Nah ini yang mungkin belum banyak dibahas oleh pemerintah.
02:07Jadi bahasannya hanya sekitar kalau nanti BBM naik, subsidi tetap jalan.
02:11Nah di satu sisi, masyarakat mungkin sekarang merasa bahwa subsidi aman berarti aman semuanya.
02:18Belum tentu.
02:18Karena dari sisi pangan, itu belum tentu.
02:21Karena ada import tidak hanya BBM, tapi juga import pangan.
02:24Itu pertama, kita kemandiran pangan belum 100%.
02:26Yang kedua adalah kaitannya dengan supply terhadap barang-barang pabrikan yang ada di Indonesia.
02:32Terutama adalah makanan minuman.
02:34Nah ini juga mungkin yang perlu pendekatan kehadap perusahaan-perusahaan.
02:38Apa yang akan terjadi kalau supply mereka berkurang, apa yang harus dilakukan oleh pemerintah.
02:43Nah jadi artinya kalau pemerintah mau membuat suatu policy itu harus the hold.
02:48Tidak hanya kepada BBM-nya saja, tapi juga bagaimana dampak kepada masyarakat, kepada dunia usaha.
02:54Nah dunia usaha ini yang kayaknya belum banyak diajak untuk berdiskusi terkait dengan
02:58kalau nanti terjadi PHK kan pemerintah, apa yang bisa dilakukan oleh pemerintah.
03:02Nah itu dari satu sisi ya.
03:04Nah yang kedua adalah kita juga melihat kapasitas fiskal nih.
03:08Kita tahu di tahun 2025 itu defisit kita sudah mendekati 2,92.
03:13Sekarang memang masih 2,5 gitu ya.
03:16Tapi kan kalau melihat dari subsidi itu, setiap kenaikan 1 dolar harga BBM,
03:22itu bisa menaikkan 6,7 triliun daripada subsidi.
03:27Nah kalau naiknya dari 80 ke 100 misalnya, 20 dolar, kalikan saja berapa gitu.
03:33Nah apakah pemerintah punya kemampuan gitu kan.
03:36Nah ini yang mungkin menurut saya harus ada awareness ya.
03:39Kita bisa mencontoh negara lain.
03:40Walaupun belum terjadi, mereka sudah mengharapkan masyarakatnya untuk ini sedang perang,
03:45kita harus sama-sama mengatasinya.
03:48Bagaimana kita bisa terhadap penggunaan BBM harus hemat ya.
03:53Di rumah sendiri juga harus hemat.
03:54Nah saya rasa hal tersebut harus disampaikan kepada masyarakat supaya ada awareness kepada semua pihak.
04:01Jadi jangan meninabobokkan maksud saya.
04:03Kenapa?
04:04Karena kalau meninabobokkan itu berbahaya, orang tidak siap-siap.
04:07Orang kalau tidak siap-siap kaget itu lebih membahayakan gitu.
04:10Tapi kalau kita diberikan awareness, tapi tidak terjadi itu kan lebih baik.
04:14Tapi kalau terjadi apa-apa, orang itu sudah siap gitu.
04:17Jadi saya, menurut saya apa yang harus dilakukan oleh masyarakat?
04:19Pertama adalah masyarakat memang harus mulai juga, walaupun pemerintah tetap subsidi BBM nih,
04:25tetap kita harus berhemat gitu ya.
04:27Karena kita harus melihat bahwa perang ini belum tahu kapan berakhirnya ya.
04:31Walaupun Trump sudah mengatakan bahwa tiga minggu ini akan selesai gitu ya.
04:35Apapun yang terjadi pakai nego atau tidak nego gitu ya.
04:38Tapi kalau kita lihat dari Iran sendiri kan masih melihat ini sebagai sesuatu yang belum beres kan gitu.
04:43Nah, jadi kita mau melihat apakah ini masih terjadi tiga minggu lagi atau jangka panjang.
04:48Tapi paling tidak masyarakat harus ada awareness ya.
04:50Yang kedua adalah memang kita sudah mulai juga memikirkan jadi nggak usah borong gitu.
04:54Itu juga nggak bagus juga.
04:55Karena kalau dengan orang...
04:56Panik bayi juga jangan.
04:57Nah, jangan.
04:57Karena kalau panik bayi itu akhirnya yang tadinya suplainya cukup jadi nggak cukup juga gitu.
05:02Jadi artinya normal saja masyarakat tetapi hemat dari sisi BBM perlu ya.
05:07Lalu kedua adalah kita harus mengatur kembali pengeluaran kita.
05:10Karena sebenarnya ya kalau kita melihat krisis itu tidak terjadi 10 tahun sekali.
05:15Tapi sekarang ini kalau sejak tahun 2008 itu sebenarnya setahun sekali, dua tahun sekali itu selalu ada krisis.
05:21Dengan berbagai cerita di belakangnya.
05:23Betul. Jadi selalu ada penyebab dari setiap krisis itu.
05:26Makanya sebenarnya kita harus awareness kita tuh tidak hanya karena perang ini.
05:31Tapi harus terus menerus.
05:32Apa yang mesti kita lakukan?
05:34Bagaimana kita berperilaku gitu.
05:36Itu masyarakat perlu gitu.
05:37Kalau Bu Dhani melihat kita saat ini ditenangkan atau dininabobokan dengan kebijakan dari pemerintah,
05:44dengan apa yang disampaikan pemerintah soal bagaimana kita menghadapi kondisi perang ini.
05:49Kita tahu simptomnya ya.
05:51Kita, saya rasa masyarakat juga pasti membaca dari media, dari dalam maupun dari luar.
05:59Ini kan informasi sedemikian deras ya.
06:00Tetapi mungkin pertanyaannya adalah mengapa dalam situasi di mana negara-negara tetangga sudah mulai bersiap-siap,
06:08kita masih tenang saja gitu.
06:10Bahkan kalau ini bercandanya Pak Menteri Bahlil malah mengatakan hanya sinyal-sinyal matikan kompor kalau sudah masakan mata.
06:21Itu kan tidak bicara apa-apa gitu ya.
06:23Tapi seperti kata Mbak Afia Lian tadi bahwa masyarakat itu penting untuk berjaga, bersiaga, bersiap-siap.
06:32Karena mereka juga punya mekanisme strategi kelangsungan hidupnya.
06:36Karena kalau misalkan dibiarkan seperti itu, mengambang, kita tidak tahu situasinya seperti apa.
06:43Tidak diajak bicara, tanda kutip.
06:45Ruang-ruang dialog mungkin dibukakan.
06:47Tetapi apakah hasil dialog itu dikonversikan menjadi kebijakan publik yang konkret, itu kan kita juga tidak tahu.
06:59Jadi hari ini harusnya dengan mencontoh kesiap-siagaan dan respons yang segera dari negara-negara tetangga kita lainnya
07:11seperti Singapura, Malaysia, dan lain-lain.
07:13Bahkan Malaysia sampai bernegosiasi untuk bagaimana kapalnya juga bisa berlalu, dilepaskan dari penyandaraan di Selat Hormus.
07:27Itu kan bagian dari, kita harus bergerak dengan prinsip yang kita miliki.
07:33Politik bebas aktif kita itu bukan mantra.
07:36Tetapi dia adalah rujukan kita bahwa ada prinsip-prinsip yang tidak bisa dikompromikan case by case.
07:44Itu yang harus kita lakukan.
07:46Nah, dalam saat ini posisi kita ini serba tidak jelas.
07:51Misalnya, tadi kita melihat di awal itu bahwa gugurnya tiga TNI kita,
07:59itu kan juga harusnya kita memberikan respons bukan sekedar pernyataan kecaman.
08:07Tetapi apa langkah konkretnya?
08:09Pakistan tidak kehilangan prajurit, tapi dia masuk dalam ruang negosiasi perdamaian itu.
08:16Nah, kita tidak ada.
08:17Padahal prajurit kita gugur tiga orang.
08:19Ini yang jadi perhatian.
08:20Apalagi tiga prajurit TNI kita gugur pada saat menjalankan misi perdamaian.
08:25Ini jelas mengelanggar hukum humanitar internasional.
08:29Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan