KOMPAS.TV - Pasca serangan Amerika Serikat-Israel ke Iran, Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri siap menjadi mediator untuk meredakan eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pihak Iran menyebut belum mengetahui apakah mediasi bisa berdampak pada situasi yang sedang panas.
Bagaimana Indonesia harus bersikap di tengah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, kita akan bahas bersama Dosen dan Analis Timur Tengah dari Universitas Bina Nusantara Tia Mariatul Kibtiah dan Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Dave Laksono.
Baca Juga [FULL] Beda Dubes dan Pakar HI Soal Pernyataan Prabowo yang Siap Jadi Mediator AS-Iran di https://www.kompas.tv/nasional/654712/full-beda-dubes-dan-pakar-hi-soal-pernyataan-prabowo-yang-siap-jadi-mediator-as-iran
#prabowo #iran #israel #amerika
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/654715/full-beda-pendapat-analis-timur-tengah-dan-dpr-soal-prabowo-ingin-jadi-mediator-as-israel-vs-iran
Pihak Iran menyebut belum mengetahui apakah mediasi bisa berdampak pada situasi yang sedang panas.
Bagaimana Indonesia harus bersikap di tengah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah, kita akan bahas bersama Dosen dan Analis Timur Tengah dari Universitas Bina Nusantara Tia Mariatul Kibtiah dan Wakil Ketua Komisi I DPR dari Fraksi Golkar Dave Laksono.
Baca Juga [FULL] Beda Dubes dan Pakar HI Soal Pernyataan Prabowo yang Siap Jadi Mediator AS-Iran di https://www.kompas.tv/nasional/654712/full-beda-dubes-dan-pakar-hi-soal-pernyataan-prabowo-yang-siap-jadi-mediator-as-iran
#prabowo #iran #israel #amerika
_
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!
Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/654715/full-beda-pendapat-analis-timur-tengah-dan-dpr-soal-prabowo-ingin-jadi-mediator-as-israel-vs-iran
Kategori
🗞
BeritaTranskrip
00:02Selama pasca serangan Amerika Serikat Israel ke Iran, Presiden Prabowo Subianto menawarkan diri siap menjadi mediator untuk meredakan eskalasi konflik
00:10di Timur Tengah.
00:11Dan Iran menyebut belum mengetahui apakah mediasi bisa berdampak pada situasi yang saat ini sedang panas.
00:22Ditegah semakin memanasia konflik di Timur Tengah pasca serangan Amerika Serikat Israel ke Iran, Indonesia menyatakan siap menjadi mediator.
00:32Menteri Luar Negeri Sugiono menyebut sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran Syed Abbas Araqci.
00:39Sugiono menegaskan pentingnya untuk kembali ke meja perundingan.
00:43Saya juga sudah berkomunikasi dengan Menteri Luar Negeri Iran kemarin.
00:49Beliau menelpon saya, kemudian menjelaskan posisi Iran.
00:57Tentu saja kami menyampaikan juga sikap Indonesia bahwa kita menyesalkan perundingan yang terjadi kemudian gagal,
01:07yang berakibat pada terjadinya eskalasi.
01:10Kemudian kita juga menekankan lagi prinsip-prinsip penghormatan kita terhadap integritas wilayah,
01:18terhadap kedaulatan wilayah suatu negara.
01:22Kemudian kita juga menekankan kembali, pentingnya untuk kembali ke meja perundingan.
01:30Dan juga yang pasti kami menyampaikan lagi keinginan dari Bapak Presiden untuk menjadi mediator dalam upaya mendinginkan dan menurunkan eskalasi
01:43di wilayah tersebut.
01:45Dan ini merupakan pandangan-pandangan yang juga beliau terima.
01:49Mengenai peluang Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator dalam konflik AS-Israel dan Iran,
01:55mantan Wakil Menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda bilang, bukan soal mampu atau tidak mampu.
02:01Namun dalam situasi saat ini, syarat paling penting adalah pihak-pihak yang bertikai mau menerima Indonesia sebagai mediator.
02:11Kita tidak membicarakan apa Indonesia mampu atau tidak.
02:15Itu kan pemikiran awal.
02:18Dengan kata lain, untuk menjadi mediator kan harus juga ada penerimaan dari dua pihak yang bertikai.
02:24Dan kita belum lihat tanda-tanda itu.
02:26Kita bahas, tapi juga dalam konteks perkembangan mutakhir.
02:29Apakah dengan perang yang berkecambuk di Iran ini, akan melemahkan kemungkinan melemahkan posisi dan mandat BOP.
02:39Kita akan berhitung lagi dari sisi itu.
02:42Duta besar Iran untuk Indonesia menyampaikan pemerintah Indonesia selalu bisa berkomunikasi dengan Iran.
02:48Namun dalam situasi saat ini, dia tidak bisa memastikan apakah mediasi dapat membuahkan hasil atau tidak.
03:24Dalam konflik apapun, niat menjadi penengah patut diapresiasi.
03:29Namun terkait politik luar negeri, setiap langkah harus diperhitungkan agar tidak merugikan kepentingan dalam negeri dan melanggar prinsip politik bebas
03:38aktif.
03:45Di tengah konflik yang terjadi di Timur Tengah antara Iran dan juga Amerika Serikat Israel,
03:52bagaimana Indonesia harusnya bersikap di tengah konflik yang semakin memanas di Timur Tengah ini.
03:56Kita akan bahas bersama dosen dan analis Timur Tengah dari Universitas Bina Nusantara, Tia Mariatul Keptiah.
04:03Nanti juga akan bergabung Wakil Ketua Komisi 1 dari DPR RI, Fraksi Partai Kulkar, Def Laksono.
04:09Kita akan ke Mbak Tia terlebih dahulu. Selamat malam Mbak Tia, ketemu lagi.
04:13Ya, selamat malam Mas Radi.
04:15Mbak Tia, saya masih ingat pernyataan Anda di hari minggu lalu ya ketika kita berbincang.
04:20Anda mengatakan sepertinya tawaran Presiden Prabowo Subianto untuk menjadi mediator di tengah konflik yang sedang terjadi ini sedikit tidak realistis.
04:29Nah, menurut Anda bagaimana faktor kunci yang membuat mediasi di negara seperti Indonesia ini sulit berhasil di konflik seperti sekarang
04:38ini?
04:39Ya, saya sepakat dengan Pak Hassan Wirayudah ya.
04:43Beliau cukup sangat jelas mengenai bagaimana proses menjadi mediator itu tidak mudah.
04:51Apalagi bagi Indonesia.
04:53Ada beberapa pun yang harus kita perhatikan Mas Radi.
04:56Pertama, kita dalam posisi saat ini Iran sama sekali tensinya belum turun.
05:02Begitu ya, sama sekali tidak ada perubahan.
05:04Bahkan semakin semangat untuk terus mengirimkan roket-roketnya.
05:09Ke area titik-titik yang memang itu menjadi berdampak terhadap Amerika Serikat dan juga Israel.
05:16Artinya memang kita tidak masuk ketika orang lain sedang kondisi panas.
05:21Bagaimana menjadi mediator itu adalah mendamaikan, mendinginkan.
05:24Ini tidak-tidak mudah karena kan pada awalnya konflik ini terjadi dari adanya proses perundingan.
05:32Ketika perundingan itu deadlock, tiba-tiba masih berjalan dan Israel menyerang dan langsung membunuh pimpinan tertinggi negara.
05:41Dan juga agama ini tentu melukai Iran.
05:44Kita tiba-tiba ingin masuk.
05:46Nah ini yang sulit begitu, itu yang pertama.
05:48Yang kedua itu tadi, bukan soalan mampu dan tidak mampu Indonesia ini gitu.
05:52Karena memang harus diterima menjadi mediator itu oleh kedua belah pihak.
05:56Walaupun misalnya Pak Menlu bilang bahwa kita bilateral dengan Iran bagus, dengan Amerika bagus.
06:02Tapi itu tidak otomatis selalu bisa mendamaikan.
06:06Sulit, sulit dengan kondisi seperti ini, Mas Radi.
06:09Baik.
06:10Lalu dengan kondisi seperti sekarang, sebenarnya modal diplomatik kita untuk bisa masuk dalam proses mediasi di Timur Tengah itu bagaimana?
06:17Apa yang menjadi modalnya?
06:19Ketika Mbak Tia juga tadi siang saya masih nyimak juga ya di Breaking News One Pacific mengatakan bahwa modal Indonesia
06:25sebagai negara muslim terbesar di Asia,
06:29bahkan di dunia ini juga tidak relevan lagi di kondisi saat ini.
06:32Karena kalau itu konteksnya adalah perdamaian antara Israel dan Palestina.
06:36Begitu ya Mbak Tia ya?
06:37Betul, betul.
06:38Jadi kalau dalam konteks Palestina-Israel kita bisa jual.
06:42Kita bisa jualan, jualan tanda kutip ya Mas Radi.
06:45Bahwa kita mempunyai diplomasi, ada yang menyebutnya diplomasi Islam begitu ya.
06:49Dengan the big population muslim itu tadi begitu.
06:52Tapi itu dalam konteks Palestina-Israel.
06:55Tapi kalau ini kan Amerika dan Iran.
06:57Terus bagaimana kita disitu dengan the most population muslim?
07:00Gak masuk juga mau jualan dari segi kita OIC.
07:04Ya Iran OIC, tapi Amerika-Israel bagaimana?
07:06Nah, apalagi kita secara formal tidak punya hubungan diplomatik dengan Israel.
07:10Sulit begitu.
07:11Jadi ya kembali saya menyarankan sebaiknya Indonesia jangan terlalu show off lah.
07:17Dengan kondisi seperti ini, diam dulu.
07:19Kita melihat situasinya seperti apa ke depan.
07:22Kalau memang ke depan kemungkinan ada diadakan perundingan kembali.
07:26Dan Iran mau kembali ke meja perundingan.
07:29Ya baru kita mengeluarkan statement yang kira-kira kita bisa kontribusi apa begitu.
07:34Tapi saat ini tidak memungkinkan masih panas.
07:37Gimana pimpinan negara, pimpinan ideologi mereka dibunuh gitu.
07:41Itu tidak mudah loh gitu.
07:43Apalagi petinggi-petinggi militernya juga mereka habisi semua.
07:46Bahkan Ahmadinejad sudah jadi sipil pun dibunuh gitu.
07:49Lukanya terlalu dalam, jadi kita cooling down lah.
07:53Ngapain gitu.
07:54Kita diam dulu, tunggu situasi.
07:56Baru kita berdiskusi di internal kita, di Indonesia.
08:01Kalau memang ingin kita berkontribusi, ingin promosi tentang negara kita.
08:06Baru kita mengeluarkan statement.
08:08Tapi ada yang menarik dari pernyataan Dubes Iran untuk Indonesia.
08:13Indonesia yang mengatakan bahwa kita mengapresiasi negara-negara yang sudah mengecam.
08:20Apa namanya, aksi Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
08:23Nah ini dengan kata lain juga agak menekan Indonesia untuk juga ikut mengecam.
08:29Jadi kalau dalam posisi White NC seperti Mbak Tia bilang sekarang ini.
08:34Apakah kecaman itu juga akan malah menambah buruk situasi atau bagaimana?
08:40Saya pikir tergantung ini untuk fungsinya apa.
08:45Kalau misalnya publik kita adalah sedang membutuhkan sikap yang tegas.
08:51Dan publik kita menunggu bahwa apa yang dilakukan Amerika Serikat dengan Israel itu adalah menyalahi international law.
08:57Apa susahnya kita juga mengecam, mengkritik seperti yang dilakukan oleh Malaysia.
09:01Kenapa Anwar Ibrahim begitu jelas dan begitu masuk dalam kolom Al Jazeera misalnya maaf saya menyebut merek media lain.
09:08Karena dunia melihat dia mempunyai sikap politik yang tegas.
09:12Dalam dunia internasional dalam hal ini dalam politik global Anwar Ibrahim itu jelas bagaimana sikapnya.
09:18Langsung dia mengecam begitu.
09:19Sehingga itu menjadi respect.
09:21Justru menjadi respect demikian.
09:23Kita dalam posisi yang ditunggu oleh publik domestik aja diam.
09:26Tapi hal yang ditunggu malah keluar statement gitu.
09:30Itu yang sangat disayang gitu.
09:32Oke.
09:33Nah ini kita bukan berandai anda ya.
09:36Tapi seandainya proses ini sudah berjalan dan kita sudah saatnya untuk masuk.
09:42Itu ikut juga menjadi penenang gitu di situasi yang panas ini.
09:46Ini kan Presiden Prabowo Subianto punya latar belakang militer dan jaringan internasional.
09:51Karena beliau juga rajin ya cukup rajin untuk bersafari ke negara-negara di Timur Tengah.
09:56Juga termasuk di negara Eropa.
09:59Ini kira-kira latar belakang seperti ini bisa jadi keuntungan gak buat Indonesia?
10:04Tidak.
10:05Tidak cukup.
10:06Tidak cukup ya?
10:06Saya menyebutnya dalam perspektif H itu disebutnya adalah foreign policy beliau itu bilateralism.
10:12Apa artinya dia lebih mengedepankan bukan regionalism tapi bilateralism.
10:17Yaitu mengedepankan hubungan bilateral dua negara.
10:19Makanya beliau sering pilih ke berbagai negara.
10:22Tapi itu tidak cukup lantas para negara yang dikunjungi beliau itu akan respect dan mengapresiasi.
10:27Ini kan persoalan kooperations.
10:29Ada yang soal jual-beli senjata, ada yang membuka perdagangan,
10:33ada yang soal dengan Uni Eropa itu adalah free area, begitu kan ya, FTA gitu.
10:38Jadi macam-macam motifnya.
10:40Tapi tidak lantas Indonesia tiba-tiba menjadi pahlawan dalam konflik besar ini.
10:44Ingat, ini Amerika, Iran, Israel, bukan Kamboja dan Thailand misalnya.
10:49Oke, di regional kita bisa menjadi mediator antar Kamboja dengan Thailand.
10:53Ini besar konfliknya dan apakah mungkin misalnya Trump bisa mendengarkan Pak Prabowo?
11:01Atau sebaliknya, apakah mungkin dari pihak Iran bisa mendengarkan Pak Presiden kita?
11:05Nah, saya melihat bahwa kalau kita terus gencar terus, saya justru bertanya-tanya ada apa?
11:10Ini untuk kepentingan nasional interest kita?
11:12Kepentingan politik domestik?
11:13Atau untuk apa?
11:15Tior untuk perdama dunia?
11:17Atau ada hal lain, begitu?
11:19Oke.
11:19Sudah bergabung juga bersama kita ada wakil...
11:23Oh, belum bergabung?
11:24Ya, kami menginformasikan nanti juga akan bergabung.
11:27Sudah gabung, Mas.
11:28Oh, baik.
11:28Sudah bergabung.
11:29Wakil kedua Komisi 1 DPR RI, Dave Lakslomo.
11:33Siap.
11:33Selamat malam, Mas Dave.
11:35Selamat malam, bagaimana kabarnya?
11:36Mohon maaf terlambat bergabungnya.
11:39Sudah bergabung.
11:40Mas Dave, saya menanyakan soal tadi, sama dengan saya tanyakan ke Mbak Tia, bahwa Presiden Prabowo ini kan sudah siap
11:47katanya untuk menjadi mediator.
11:50Tapi alih-alih menjadi mediator menurut Mbak Tia ini belum saatnya, karena kita harus melihat dulu situasi yang sedang panas
11:56-panasnya yang terjadi di Iran.
11:58Tapi sebenarnya kalau kita bicara ke depan, risiko dan manfaat bagi kepentingan nasional Indonesia termasuk keamanan WNI di kawasan Timur
12:04Tengah dengan munculnya Pak Prabowo sebagai mediator bagaimana menurut Anda?
12:10Ya, saya tidak melihat ruginya bila kita jadi mediator ya.
12:16Nah, memang ada beberapa masukan gitu ya, apakah ini diterima, apakah ini didengar.
12:23Nah, kita kan ini sebagai mediator itu kan kita untuk menyebatani apa yang menjadi hambatan komunikasi dari kedua belah pihak.
12:34Dan ini yang kita memiliki pengalaman hal tersebut ya, walaupun ini beda region, beda budaya.
12:44Tapi hal ini semua sangat mungkin dilakukan selama proses menuju mediasinya itu berjalan dengan baik.
12:56Ya, jadi sebelum ini mengarah ke mediasi itu berjalan, kan tentu pasti ada proses-proses yang harus diambil, dijalani.
13:05Nah, itulah untuk memastikan mediasi ini dapat menghasilkan suatu keputusan yang permanen.
13:11Oke, untuk menjadi mediator ini juga kan perlu modal, modal diplomatik.
13:16Tadi juga saya tanyakan kepada Mbak Tia, modal diplomatiknya apa?
13:19Nah, kira-kira menurut Mas Deva apa modal diplomatiknya?
13:22Ya, gini ya, pertama ya kita sebagai negara Islam terbesar, kita sebagai bagian dari BOP, bagian dari UN juga.
13:32Kita bisa berperan di forum-forum multilateral.
13:35Nah, dan juga sebagai pihak yang tidak memiliki direct interest, tapi justru ingin mendorong terjadinya pendamaian.
13:45Nah, inilah yang modalitas kita utama untuk kita gunakan agar kita bisa menyebatani pihak-pihak yang bertika ini.
13:54Oke, Anda menyinggung soal Board of Peace.
13:57BOP tadi juga salah satu modal menurut Mas Deva, diplomatik untuk bisa menjadi mediator.
14:01Tapi, ketika pendiri atau inisiator BOP ini sendiri adalah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, yang juga ikut menginvasi Iran,
14:11ini banyak sekali yang mengkritik masih relevan nggak kita dalam BOP?
14:15Saya akan tanyakan itu setelah jeda, nanti ke Mas Deva di Sapa Indonesia Malam.
14:18Tetaplah bersama kami.
14:26Saudara Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengkritik Inggris dan mengancam akan menghentikan hubungan dagang dengan Spanyol,
14:32usai kedua negara itu menolak memberi dukungan saat Amerika Serikat menyerang Iran.
14:39Trump menyebut Spanyol sebagai satu-satunya negara di NATO yang tidak setuju menaikkan anggaran pertahanan menjadi 5%.
14:46Trump bilang Spanyol hanya ingin anggaran 2%, namun negara itu tidak mau membayarnya.
14:53Trump mengancam akan memutuskan hubungan dagang dengan Spanyol.
14:56Trump juga mengkritik Inggris yang tidak mengizinkan Amerika Serikat menggunakan pangkalan militer di Kepulauan Chagos dan Diego Garcia untuk menyerang
15:05Iran.
15:06Jangan mengikuti New York mau menyebutkan kursus danqat negara tersebut.
15:11Jangan berarti ini berarti kembali ke 5% negara itu.
15:15Jangan ingin menurupu tidak masalah ke 5%.
15:17Jangan ingin menurupu tidak menurupu tidak menurupu tidak.
15:20Jangan ingin menurupu untuk menurupu 2%.
15:22Jangan ingin menurupu 2% negara itu.
15:24Jangan ingin menurupukan ke 2% dengan Spanyol.
15:26Jangan mengisi apa yang berhenti cara dengan Spain menurupu.
15:27Tidak jadilah apapun-Sahabat.
15:32Jangan membuat Anda bahagis Biasa itu mengenai di Amerika.
15:36Ketika dia membuat perjalanan dari islandnya,
15:38seseorang datang dan mengambilnya dari dia.
15:40Dan sudah mengambil 3-4 hari untuk kita bekerja di mana kita bisa berjalan di sana.
15:46Ini akan menjadi lebih mudah untuk berjalan di sana,
15:47sebanding mengambil banyak waktu ekstra.
15:50Jadi kami sangat terkejut.
15:51Ini bukan Winston Churchill yang kita berjalan dengan.
16:06Dave, tadi saya tanyakan sebelum jeda,
16:07bahwa saat ini Anda tadi sempat menyinggung BOP.
16:11Tapi saat ini banyak juga yang mengkritik Indonesia,
16:15posisi Indonesia di BOP karena sudah tidak relevan.
16:19Karena Amerika Serikat yang menjadi inisiator justru
16:22menjadi dalam tanda kutip penyebab huru hara
16:25atau penyebab konflik yang besar yang terjadi di Iran.
16:28Bagaimana Anda menengahi soal ini?
16:32Ya, memang ada banyak pandangan.
16:36Tapi begini, kita ini kan info yang beredar
16:42berdasarkan pandangan dan juga masukan masing-masing.
16:46Oke.
16:46Nah, kita bersama-sama ini kan ingin membangun dunia yang lebih baik,
16:51dunia yang lebih aman, dunia yang lebih terang.
16:54Nah, jadi segala macam informasi tersebut
16:57itu harus melalui proses mengkonserifikasi
17:02dan jangan kita itu cepat termakan
17:05dengan isu-isu yang beredar di luar
17:07tanpa kita benar-benar memahami fakta yang sebenarnya terjadi.
17:12Oke.
17:13Nah, kalau gitu saya ke Mbak Tia.
17:15Pertanyaannya kurang lebih sama
17:17dengan relevansi keberadaan Indonesia di Board of Peace
17:20dengan kondisi saat ini yang sedang memanas di Timur Tengah
17:23terutama di Iran dan juga Israel.
17:25Anda melihat posisi Indonesia saat ini
17:29punya daya tawar yang cukup baik dalam BOP,
17:33dalam misinya juga untuk menjadi mediator kalau begitu?
17:36Kalau dalam poin-poin BOP kan sudah jelas ya
17:40bagaimana luminasi Trump itu sangat menguasai.
17:44Artinya dalam poin kalau kita melihat satu persatu poin di BOP itu,
17:47Trump bisa mengaplikasikan apa yang dia mau,
17:50dia bisa meninggalkan anytime, bisa membuat apapun poinnya dan kita hanya anggota di situ.
17:56Artinya di mana peran kita mempengaruhi atau memediasi orang lain ketika berkonflik begitu.
18:02Jadi tidak ada di situ.
18:04Kalau suatu saat Trump meninggalkan BOP juga itu tidak mengapa dalam poin-poin tersebut.
18:09itu yang disesalkan publik Indonesia saat ini.
18:12Kenapa kita join tapi tanpa melihat in more detail dalam detail poin-poin di BOP itu.
18:19Jadi sekolah kita tidak punya bergering posisi apa-apa di situ dan hanya sebagai member di situ.
18:24Oke. Mas Dave, di tengah peran terbuka dan kegagalan banyak forum internasional mencegah eskalasi.
18:31Kira-kira apakah keikut sertaan Indonesia dalam forum-forum perdamaian global masih efektif
18:35atau justru saat ini makin terpinggirkan menurut Anda?
18:39Masih, kita tetap harus tetap berperan aktif.
18:43Kita tetap harus bersuara dan kita harus tetap bekerja
18:48untuk terus bisa mengajak semua pihak itu untuk bisa duduk
18:53dan juga membahas untuk mencari solusi yang akan sudah terbuka.
18:59Pemerintah yang ada di dunia ini.
19:01Peran posisi Indonesia yang negara yang besar
19:06terus juga kita memiliki aktif trading partners dengan semua negara di seluruh dunia.
19:13Ya itu adalah modalitas-modalitas kita lah untuk yang kita manfaatkan
19:18untuk mencapai solusi yang intrusif dan juga solusi yang permanen.
19:25Oke, kalau gitu Mbak Tia, jika diplomasi multilateral semakin melemah,
19:29misalnya ya kalau saat ini Mbak Tia mengatakan tadi Indonesia jangan dulu bersikap.
19:35Ini berarti kan dibandingkan negara-negara besar lainnya seperti Cina, Rusia,
19:40ataupun juga Turki bahkan.
19:41Ini posisi Indonesia agak lemah lah ya dibandingkan negara-negara tadi.
19:45Ketika diplomasi multilateral tadi semakin melemah,
19:48apa opsi alternatif yang bisa dimainkan negara seperti Indonesia
19:52agar tetap berpengaruh di forum-forum internasional
19:56terutama untuk menengahi konflik-konflik besar seperti ini?
19:58Sebetulnya kalau dalam kita menjadi terlibat untuk mencapai perdamaian dunia,
20:03itu dalam sejarah sudah sering Indonesia terlibat.
20:06Bagaimana kita sejarah Asia-Afrika juga kan kita berperan besar begitu ya.
20:11Palestina-Israel kita ketika menjadi anggota tidak tetap DKPBB tahun 2019,
20:15kita lihat di poinnya itu di UN.
20:18Poin prioritas untuk peripalestan itu nomor satu loh Indonesia pada masa Buretno dulu ya.
20:22Bagaimana kita juga block out dari forum UN ketika Israel berpidato misalnya
20:27akan terus mengokupasi wilayah-wilayah Palestina.
20:30Ini sikap, ini sikap, ini jelas, ini foreign policy,
20:33dan ini adalah kontribusi Indonesia dalam membentuk perdamaian dunia.
20:36Tapi masalahnya sekarang ini berbeda, ini Iran dengan Amerika dan Israel.
20:41Dan situasinya Iran sekarang sedang panas,
20:43tiba-tiba kita mengeluarkan statement ingin menjadi mediator.
20:46Bukan tidak boleh, ingin silahkan, tapi timingnya juga tidak tepat,
20:50apa tidak sebaiknya kita sebagai negara itu harus diam dulu di luar regional mereka.
20:58Diam dulu, melihat situasi dulu,
21:00apa kiranya kita memang harus dibutuhkan mengeluarkan statement sebagai mediator atau tidak.
21:05Nanti kan akan nampak nih, saya yakin tensi ini tidak akan selamanya terus panas begitu ya.
21:10Ini posisinya kan tiba-tiba dia digempur dalam posisi perundingan
21:13dan kehilangan figur yang saat mereka cintai gitu.
21:17Jadi susah begitu.
21:18Tiba-tiba mengeluarkan statement itu bukan menyembuhkan luka tapi penyiram luka.
21:23Timingnya itu tidak tepat begitu.
21:25Persoalannya berhasil dan tidak berhasil ya kita lihat.
21:28Cuman masalahnya baru sehari loh.
21:30Baru sehari digempur habis-habisan,
21:33kemudian sekolah anak-anak perempuannya mati begitu ya.
21:36Tiba-tiba Presiden kita mengeluarkan statement ingin pergi ke Teran menjadi mediator.
21:40Tidak tepat sehari, itu baru sehari loh mas.
21:42Tunggu lah, tunggu.
21:44Itu yang namanya diplomasi itu begitu.
21:46Kita bukan bentuk kita terlibat join langsung.
21:49Namanya diplomasi itu soft approach.
21:52Letter of trust dalam perspektif itu.
21:54Kita tunggu dulu semuanya.
21:55Apakah mereka ada proses cooling down?
21:57Apakah Iran nanti akan kembali trust terhadap perundingan kembali ke Amerika?
22:02Atau malah tidak?
22:03Kita lihat, baru kita berkontribusi di situ.
22:05Bentuknya apa?
22:06Kita diskusikan bersama.
22:07Jangan langsung jeplak.
22:08Baru sehari konflik tiba-tiba melakukan statement.
22:11Jangan kan publik internasional, publik sendiri saja menertawakan.
22:14Oke.
22:15Nah ini kan kalau dari apa ya.
22:18Kalau dari gestur yang dikeluarkan oleh Presiden Prabowo.
22:21Dan sebenernya gestur-gestur ini juga sudah muncul pada pemerintahan Indonesia sebelumnya.
22:25Ketika kita walk out dari UN begitu ya.
22:28Ketika Amerika Serikat ataupun Israel pada saat itu habis-habisan menginvasi Palestina.
22:35Ini kan saya melihatnya dalam tanda kutip adalah diplomasi moral yang dikedepankan oleh Presiden Prabowo dan pemerintahan Indonesia sebelumnya juga.
22:43Tapi yang ingin saya tanyakan, apakah Indonesia juga perlu mengubah pendekatan nih dari diplomasi moral seperti ini ke diplomasi kepentingan
22:51nasional yang lebih tegas misalnya?
22:54Saya pikir begini ya. Ini lebih kepada humanity. Makanya kita strik banget.
22:58Dan kita membawa Undang-Undang Dasar 45 kan kalau persoalan Palestina-Israel.
23:02Makanya Bu Retno saat itu sampai walk out.
23:04Dan itu didukung penuh oleh masyarakat Indonesia.
23:07Coba sekarang lihat dengan kasus baru perang satu hari, Iran terpuruk kaget dia sedang perundingan diserang bahkan ke sekolah anak
23:15-anak ya.
23:15Anak-anak loh anak-anak perempuan tiba-tiba Presiden kita bicara regional mereka bukan begitu ya.
23:21Kemudian secara langsung juga kita tidak terlibat begitu.
23:25Itu kayak membasuh luka begitu.
23:28Jadi kita cooling down dulu, tunggu dulu, bukan tidak boleh.
23:32Memang dari dulu kok, bukan kali ini saja.
23:34Indonesia selalu terlibat paling depan untuk create a peace di dalam politik global.
23:40Tapi bagaimana strateginya, caranya supaya dunia internasional tidak memandang remeh ke kita jadi kesannya asbun.
23:46Yang kedua, publik kita sendiri mendukung.
23:49Coba kita lihat nih bagaimana dalam sentimen analisis kita cek publik Indonesia.
23:53Aduh saya ngelihatnya mas, bagaimana begitu ya sebagai akademisi.
23:56Sedih saya sebenarnya Pak Presiden, diseperti itu kan oleh publik kita sendiri.
24:01Oke.
24:01Nah Mas Dev kalau gitu, ya bukan tidak boleh.
24:05Ini kan ada timing yang harus diperhitungkan juga.
24:09Nah kalau begitu, kapan timing yang tepat kira-kira kalau menurut Mas Dev?
24:14Enggak gini, ini ada perbedaan pandangan dan pendapat.
24:17Ini kan Mbak Tia menyampaikan bahwa ini menunggu timing agar cooling down.
24:21Oke.
24:22Tapi kalau saya melihatnya ini adalah solusi yang Presiden ingin segera tawarkan,
24:27supaya segera terjadi komunikasi sehingga bisa ada titik temunya.
24:34Ya tapi ini semua adalah perbedaan pandangan dan pendapat.
24:38Jadi ada pandangan dari publik, ada pandangan dari internal,
24:42dan juga ada yang melihat bahwa ini adalah sebuah situasi yang membutuhkan sentuhan yang lebih segera.
24:48Jadi ya ini semua tentu ada melalui pertimbangan yang masyarakat.
24:52Presiden kan memiliki tim yang banyak, bukan hanya satu dua orang ya.
24:57Sehingga mengambil keputusan itu juga melalui pertimbangan yang cukup sangat serius.
25:02Nah maka itu saya yakini apa yang disikapi oleh pemerintah ini melalui pertimbangan yang cukup mendalam untuk ditindakkan ketika selanjutnya.
25:13Oke. Tapi Kementerian Luar Negeri sendiri Mas Dave ketika kemarin berbincang dengan Kompas TV,
25:19ini juga belum menyampaikan secara resmi apa yang menjadi niatannya Pak Prabowo ini kepada pemerintah Iran.
25:26Karena pemerintah Iran sendiri masih sibuk untuk menahan gempuran gitu ya.
25:29Alih-alih untuk memperhatikan masukan dari pemerintahan negara lain.
25:33Nah kira-kira dari Komisi 1 DPR, apa yang bisa diberikan catatan kepada pemerintah terutama Kementerian Luar Negeri juga mengenai
25:43timing yang pas untuk menyampaikan hal ini kepada Iran?
25:45Ya tentu timing yang pas itu dibutuhkan akan tetapi segala macam hal itu harus dipertimbangkan dengan masak dengan detail dan
25:56juga dilihat situasinya
25:58baik situasi di dalam negeri kita ataupun juga situasi luar negeri secara regional tetapi secara global dan juga peran kita
26:06itu bisa dioptimalkan segi mana.
26:09Ini kan baru tawaran yang ditampaikan di awal.
26:12Tentara kan pemerintahannya Iran sendiri kan juga mengalami ada perubahan kan karena dengan tewasnya sejumlah pemimpin mereka.
26:20Nah ini yang harus diperlukan juga dengan siapa pun terpartnya Presiden itu untuk melanjutkan pembicaraan ini.
26:29Oke kalau gitu singkat Mbak Tia.
26:31Mbak Tia saya terakhir ke Mbak Tia.
26:33Apakah timing yang tepat itu ketika nanti pemimpin Iran yang baru ini definitif sudah terpilih untuk menyampaikan niatan Pak Prabowo
26:41tadi?
26:42Ya bisa begitu karena ini kan masih abu-abu baru mau naik Ali Reza meninggal juga.
26:47Kemudian sekarang putranya beliau Ayatol Ali Hamanai putranya ya.
26:51Ya Mucaba Hamanai.
26:53Mucaba Hamanai.
26:54Jadi belum selesai prosesnya kita tunggu dulu lah.
26:57Nah saya kan jadi adem Pak Dev kalau mendengar statement Pak Dev yang terakhir.
27:01Kita tunggu dulu kita melihat dulu.
27:03Jangan segala sesuatu yang keluar dari Pak Presiden kita langsung DPR mensupport.
27:08Justru didiskusikan di DPR begitu ya.
27:11Dan saya percaya banyak orang-orang yang mengerti tentang hubungan internasional.
27:14Bagaimana maruah kita di pentas politik global tetap bagus begitu ya.
27:19Saya sedih loh Pak Dev saya sedih.
27:21Presiden kita dibully di mana-mana begitu ya.
27:24Di domestik iya di luar iya dengan tiba-tiba melakukan statement yang menurut publik internasional ataupun domestik itu aneh begitu.
27:31Dalam kondisi yang tidak tepat begitu.
27:32Maka dari itu ini masukkan mungkin saya juga rakyat Pak Dev masukkan juga di komisi Pak Dev untuk bisa didiskusikan
27:40bagaimana jangan terlalu gencar lah untuk mempromosikan membranding negara kita di saat orang lain sedang menderita begitu.
27:47Baik. Terima kasih analis Timur Tengah yang juga dosen hubungan internasional ya di Universitas Pemirian Nusantara.
27:57Tia Mariatul Kiptiah yang sudah memberikan perspektifnya malam hari ini dan juga tadi ada Dave Laksono wakil ketua komis 1
28:04DPR RI yang juga sudah memberikan pendapatnya di Sapa Indonesia Malam.
28:07Selamat malam Bapak dan Ibu sampai jumpa lagi.
Komentar