Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Iran menutup Selat Hormuz yang merupakan jalur vital transit minyak global usai diserang Israel.

Penutupan Selat Hormuz dilakukan pada Sabtu, 28 Februari, sebagai aksi balasan Iran terhadap serangan militer gabungan AS-Israel.

Selat Hormuz menghubungkan Teluk Persia ke Teluk Oman. Penutupan akan mengganggu pasar energi global. Seberapa besar dampak penutupan Selat Hormuz bagi perekonomian di Indonesia?

Kita bahas bersama Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development INDEF (Institute for Development of Economics and Finance), Abra Talattov.

Baca Juga [FULL] Beda Dubes dan Pakar HI Soal Pernyataan Prabowo yang Siap Jadi Mediator AS-Iran di https://www.kompas.tv/nasional/654712/full-beda-dubes-dan-pakar-hi-soal-pernyataan-prabowo-yang-siap-jadi-mediator-as-iran

#perangiran #amerikaserikat #selathormuz


Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/ekonomi/654714/full-iran-tutup-selat-hormuz-usai-diserang-israel-seberapa-parah-harga-bbm-naik-ini-kata-indef
Transkrip
00:00Lalu seberapa besar dampak menutupan Selat Hormuz bagi perekonomian di Indonesia?
00:03Kita bahas bersama Kepala Center of Food, Energy, and Sustainable Development, INDEF,
00:09Institute for Development of Economics and Finance, Abra Talatov.
00:14Selamat malam, Bung Abra.
00:17Selamat malam, Mas Pradi.
00:18Baik, langsung saja Bung Abra, dampak yang paling cepat dan paling terasa imbas Perang Amerika Serikat Iran
00:25bagi Indonesia ini apa sebenarnya? Selain tadi juga dijelaskan soal energi, pasokannya, apalagi yang paling terasa?
00:33Jadi yang perlu kita waspadai adalah bahwa gangguan distribusi minyak global selat Hormuz ini
00:46ini akan bisa langsung dirasakan oleh Indonesia dengan kenaikan harga minyak mentah dunia
01:03bahwa sekarang saja, Mas, minyak jenis brand itu sudah mengalami lonjakan 13%
01:09atau mencapai 82 dolar per barel.
01:13Nah, kenapa selat Hormuz ini menjadi vital? Karena memang 20% lalu lintas minyak global melalui selat Hormuz.
01:19Dan 20% minyak global dunia.
01:23Dan sebetulnya, ya selain karena adanya gangguan distribusi melalui selat Hormuz
01:29yang perlu diwaspadai adalah adanya gangguan suplai.
01:33Karena hari ini kita sudah sama-sama melihat ada serangan kepada kilang milik Saudi Aramco.
01:40Dan eskalasi ini tidak menutup kemungkinan akan juga terjadi di wilayah negara penghasil minyak lainnya di Timur Tengah
01:51sehingga nanti akan terjadi dual shock.
01:53Yaitu pertama distribusinya memang terganggu, tanah selat Hormuz di blok ada.
01:58Yang kedua adalah produksi minyak mentah di wilayah Timur Tengah juga akan mengalami penurunan.
02:04Karena tadi adanya eskalasi yang meluas.
02:07Dan ketika nanti harga minyak mentah ini terus meningkat, ya tentunya bagi Indonesia sebagai net oil importer,
02:14ini dampaknya secara langsung akan dirasakan.
02:16Mungkin dalam jangka pendek, satu minggu, dua minggu ini tidak terasa.
02:19Tetapi dalam waktu satu bulan, saya pikir ini akan menjadi resiko tersendiri bagi Indonesia.
02:23Dan kita harus belajar juga dari pengalaman tahun 2022 ketika pecah perang Rusia-Ukraina.
02:31Waktu itu harga minyak mentah tembus sampai 120 dolar per barel.
02:37Dan implikasinya waktu tahun 2022, subsidi energi kita melonjak dari 150 triliun menjadi 550 triliun.
02:45Beruntungnya tahun 2022, APBN kita masih memiliki fleksibilitas untuk menambah defisit lebih dari 3% terhadap GDP.
02:52Nah sekarang ini kan kita sudah tidak punya fleksibilitas itu lagi.
02:58Sehingga kalau misalnya terdia dilonjakan hati-hati yang mentah, misalnya sampai 100 dolar per barel,
03:03ya pemerintah punya keterbatasan untuk menambah subsidi dan kompensasi energi.
03:09Oke, 20% yang Anda katakan tadi yang sangat berpengaruh untuk pasokan minyak global yang melalui Selat Hormus.
03:18Nah tadi Menko Perekonomian, Erlangka Hartanto, mengatakan akan mencari alternatif untuk melihat adakah pasokan minyak lain,
03:28non-Middle East yang bisa didistribusikan ke tanah air, ke Indonesia.
03:32Tapi ini bukan tanpa masalah, ini pasti ada cost yang lebih ketika mengambil dari wilayah lain.
03:39Karena tentu saja kalau tadi disebut Amerika Serikat ini akan jauh memutar begitu ya untuk mengantarkan pasokan energi.
03:46Pertanyaan saya, mampukah negara kita untuk menghadirkan distribusi BBM non-Middle East?
03:53Dan yang lebih penting lagi, mampukah masyarakat kita juga untuk membeli harga BBM yang mungkin saja lebih mahal dari biasanya?
04:02Iya. Yang pertama bahwa total impor migas kita di tahun lalu 2025,
04:08volume impor migas kita 32,7 juta ton.
04:13Dan terbesar impor migas kita di tahun lalu itu dari Nigeria 4,6 juta ton,
04:18kedua Angola 3,0 juta, baru Arab Saudi 3,2 juta ton.
04:21Memang dengan melihat proporsi dari sumber impor kita di tahun lalu yang lebih banyak memang di wilayah Afrika dan juga
04:31Timur Tengah,
04:31dengan adanya kesepakatan dagang kita dengan Amerika ini menjadi sebuah diversifikasi dari resiko energi dari Timur Tengah khusus dari Arab
04:42Saudi.
04:43Tetapi kan tadi salah satu tatangannya adalah biaya logistik, biaya distribusi yang jauh lebih besar, mahal.
04:49Dan itu saya pikir juga tentunya nanti akan menjadi resiko sendiri buat fiskal kita,
04:55karena bukan hanya jaraknya yang jauh sehingga kita harus menanggung kos yang mahal.
05:01Yang kedua juga, ini ada juga resiko kenaikan harga angkut pelayaran internasional.
05:09Karena sekarang kapal-kapal kan semakin terbatas jumlahnya dan juga biayanya karena resikonya meningkat,
05:17resik premium juga meningkat sehingga kita harus mengeluarkan biaya yang jauh lebih mahal daripada situasi normal.
05:23Dan oleh karena itu nanti tentunya akan tercermin dari biaya untuk mendatangkan bahan bakar tadi,
05:30baik KURT maupun BBM yang sudah jadi.
05:32Jadi kalau untuk BBM subsidi misalnya Pertalet maupun Solar mungkin pemerintah masih punya instrumen untuk bisa menahan harga jual.
05:40Tapi untuk BBM non-subsidi nih, yang bulan Maret ini saja kita dengar seluruh SPBU baik Pertamina maupun SPBU swasta
05:48sudah melakukan koreksi harga, menaikkan harga.
05:51Apalagi ditambah nanti kalau misalkan harga minyak mentah dunia terus melonjak di atas 10% atau bahkan 20%.
05:57Dan ini pada akhirnya nanti akan berdampak terhadap daya beli masyarakat juga mas.
06:01Oke ya, itu pertanyaan selanjutnya.
06:04Tadi less than one month itu akan langsung terasa dampaknya di kita ya, Bung Abra ya.
06:08Nah, sebagai negara net oil importer, Bung Abra, seberapa signifikan sebenarnya tekanan inflasi yang akan ditimbulkan?
06:17Apakah kenaikan biaya energi ini akan memicu inflasi pangan?
06:20Misalnya kalau tadi bicara daya beli, kita bicara daya beli pangan, lalu daya beli yang lainnya begitu ya.
06:26Dan berapa proyeksi dampaknya terhadap daya beli masyarakat kelas menengah ke bawah yang saya singgung tadi?
06:31Iya, kita berkaca pada data inflasi bulan Februari kemarin saja.
06:36Hari ini BPS sudah merilis inflasi Februari dengan situasi yang relatif masih normal di bulan Februari.
06:41Inflasi kita itu saja sudah mencapai 4,7% year on year.
06:46Nah, tentu inflasi di bulan Februari dan di bulan-bulan sebelumnya sangat dipengaruhi oleh inflasi volatile food, ya pangan.
06:55Nah, sekarang ini kalau misalkan biaya BBM-nya nanti melonjak, tentunya juga itu akan punya implikasi terhadap biaya pangan dan
07:05juga biaya kebutuhan pokok yang lain.
07:07Jadi biaya pangan di dalam negeri distribusinya meningkat, kemudian yang kedua biaya pangan yang kita impor, ya seperti jagung, kedelai,
07:15kemudian juga gandum, itu juga pastinya akan mengalami kenaikan harga.
07:20Dan akhirnya nanti resiko inflasi pangan ini akan semakin tinggi lagi dan lagi-lagi kita harus belajar dari pengalaman tahun
07:262022.
07:26Waktu itu juga inflasi pangan kita cukup tinggi.
07:30Nah, artinya tahun ini kita akan menghadapi resiko dual inflation, yaitu pertama inflasi pangan, yang kedua adalah inflasi energi.
07:37Dan ruang fiskal pemerintah untuk bisa menambah alokasi subsidi, energi ini juga semakin terbatas.
07:45Sehingga memang pemerintah harus segera mungkin memitigasi adanya resiko terjadinya inflasi yang tinggi.
07:53Dan juga yang kedua adalah resiko tekanan terhadap nilai tukar rupiah kita.
07:56Jadi kan kebutuhan impor kita yang tinggi, karena secara nilai akan mengalami kenaikan yang signifikan.
08:02Tentunya nanti kebutuhan untuk palas kita juga tinggi.
08:05Kedua, juga ada resiko terjadinya capital offload.
08:08Karena para investor akan mencari portofoli yang dianggap sebagai safe haven, akan mencoba meninggalkan aset-aset yang dianggap beresiko termasuk
08:18di pasar uangan maupun pasar modal di negara berkembang.
08:21Sangat masuk akal kita bicara soal inflasi tadi, inflasi pangan dan energi dan dampaknya terhadap nilai tukar rupiah.
08:27Karena pelemahan rupiah akibat kenaikan biaya impor energi juga bisa mencapai level tertentu ya jika kita melihat kondisi seperti ini,
08:34kondisi sekarang.
08:35Nah pertanyaan saya selanjutnya, alih-alih mencari distribusi lain dari negara-negara non Middle East, non Timur Tengah begitu ya.
08:43Apa mitigasi yang bisa dilakukan pemerintah sebenarnya untuk mengantisipasi adanya inflasi pangan dan energi yang Anda sebutkan tadi?
08:51Ya, seperti yang pernah Pak Presiden Prabowo sampaikan beberapa waktu yang lalu bahwa ketika terjadi konflik yang luas di dunia,
09:00apalagi sampai berujung pada Perang Dunia Ketiga,
09:03itu memang masing-masing negara pada akhirnya akan mencoba memikirkan dirinya masing-masing.
09:07Nah, dalam hal ini saya pikir sektor pangan, sektor energi adalah sektor yang paling vital, yang paling klusial, yang harus
09:12bisa dipenuhi dari dalam negeri.
09:13Makanya langkah jangka pendek pertama adalah bagaimana pemerintah bisa segera melakukan pengendalian konsumsi, pemetaan dan pengendalian konsumsi energi.
09:23Artinya, ya memang sudah saatnya pemerintah percepat reformasi subsidi energi dengan tidak terjadinya kebocoran konsumsi energi untuk subsidi,
09:36kemudian yang kedua juga melakukan diversifikasi energi dari sumber bahan baku di dalam negeri, misalnya dengan melakukan mempercepat produksi biofuel
09:43maupun sumber energi terbarukan lain.
09:45Nah, yang ketiga juga adalah langkah yang paling rasional adalah melakukan kontrak jangka menengah, jangka panjang secara cepat.
09:51Jadi, kontrak ini bisa dilakukan sedini mungkin sehingga resiko terjadinya lonjakan harga tadi bisa diminimalisir.
09:57Oke, kalau begitu, kalau tadi untuk menghindari hal-hal yang Anda sebutkan, ini dari sisi keberlanjutan energi, kita bicara keberlanjutan
10:05energi.
10:06Apakah ini menjadi momentum yang tepat begitu untuk mempercepat transisi energi di Indonesia, Tunggabra?
10:11Ya, ini momentum yang bisa jadi tidak akan terulang lagi karena ini sudah, ekskalasi ini sudah mencapai titik puncaknya ya.
10:22Ketika masing-masing negara tadi akan berusaha mencari sumber energi dari manapun.
10:25Karena kita selain masalah pasokan yang terbatas, yang kedua negara-negara lain juga berlomba-lomba untuk juga mempercepat keamanan pasokannya.
10:34Misalnya India, bahkan Tiongkok juga mereka akan mempercepat mencari sumber impor energi dari negara lain di luar Timur Tengah.
10:43Nah, artinya kan di tengah harga yang mahal tadi semua masing-masing negara akan memperbutkan.
10:47Dan kita sebetulnya masih diberikan kelebihan adanya sumber energi alternatif dari dalam negeri.
10:54Dan saya pikir itu juga menjadi momentum kita untuk mempercepat adanya hilirisasi yang berkaitan dengan industri di sektor energi kita.
11:07Ya, nah adakah pelajaran yang bisa diambil sebenarnya dari Indonesia ketika kita mengalami krisis energi sebelumnya?
11:16Kita juga pernah mengalami ini.
11:17Seperti konflik Timur Tengah sebelumnya di masa lalu, lalu pandemi.
11:20Tadi juga Anda sebutkan di tahun 2022 ya, ketika perang Rusia dan Ukraina pecah.
11:26Nah, apakah ada pelajaran yang bisa kita ambil dari peristiwa-peristiwa sebelumnya, krisis krisis energi sebelumnya yang bisa diterapkan?
11:33Dan bagaimana posisi Indonesia dibandingkan dengan negara-negara Asia lainnya yang juga bergantung pada Selat Hormuz, jalur Selat Hormuz ini?
11:41Ya, sayangnya kita seringkali melewatkan momentum untuk memperbaiki ketahanan energi kita.
11:48Dari satu krisis ke krisis yang lain gitu.
11:51Kita harusnya kan bisa konsisten ya, untuk bisa mempercepat adanya bauran energi dari sumber dalam negeri.
12:01Ya, misalnya memanfaatkan dari sumber apa tadi, biofuel.
12:05Kemudian yang kedua juga bisa meningkatkan investasi di hulu migas kita.
12:10Tetapi justru lifting migas kita relatif stagnan, hanya di level 600 ribu barel.
12:16Dan kemudian juga bagaimana dari sisi konsumsinya, kita juga tidak mampu melakukan pengendalian konsumsi.
12:24Jadi kita masyarakat cenderung boros dalam konsumsi kebutuhan energi kita, khususnya BBM.
12:30Dan itu tadi karena diversifikasi dari sisi supply maupun diversifikasi dari sisi demand, ini tidak mampu secara konsisten kita wujudkan.
12:38Dan mau tidak mau, ya karena nanti pada akhirnya pemerintah punya ruang fiskal yang terbatas,
12:44memang masyarakat dan pemerintah dipaksa untuk betul-betul melakukan reformasi kebijakan energi kita ke depan.
12:52Oke, terakhir Bung Abra, selain pangan dan energi, sebenarnya risiko yang paling harusnya bisa diantisipasi terhadap perantai pasuk global dan
13:02perdagangan Indonesia secara keseluruhan.
13:05Apakah penutupan slot hormus ini juga mengganggu ekspor-ekspor komunitas lain?
13:09Misalnya pupuk, lalu bahan baku industri, atau juga ada sektor pada faktur dan pertanian, apakah ada dampaknya?
13:17Ya, betul. Jadi seperti saya sampaikan tadi, bukan hanya ini akan mendisrupsi lalu lintas perdagangan untuk komunitas energi,
13:26tetapi juga seluruh komunitas, komunitas pangan, kemudian juga untuk bahan baku industri,
13:31kemudian juga untuk tadi bagaimana kebutuhan sektor pertanian kita pupuk juga masih mengandalkan bahan baku dari luar.
13:39Nah tentu tadi punya efek berantai yang sangat besar sekali, dan cara kita untuk bisa meningkatkan ketahanan di sektor energi
13:47dan pangan,
13:48tetapi di sisi lain kita melihat punya ketergantungan yang masih besar terhadap sumber dari luar negeri.
13:56Maka memang mau tidak mau pemerintah harus betul-betul ini menjadi early warning untuk bisa mempercepat mitigasi tadi mas,
14:06dengan mengandalkan sumber-sumber yang ada di dalam negeri, mempercepat adanya investasi di hulu energi maupun di sektor pertanian,
14:13meningkatkan produktivitas pertanian kita dengan bahan baku yang ada di dalam negeri.
14:19Oke, at very last, Bunga Brah, kalau kita bicara skenario terburuk, misalnya penutupan berkepanjangan Selat Hormuz,
14:27kira-kira kita juga bisa berikan begitu gambaran, atau Anda bisa berikan gambaran ancang-ancang pemerintah untuk mengantisipasi hal ini,
14:34secara keseluruhan misalnya dalam bentuk penurunan pertumbuhan PDB, peningkatan subsidi energi, atau tekanan fiskal,
14:40apa yang Anda bisa sampaikan kepada pemerintah?
14:41Ya, ini pemerintah memang perlu memonitor hari demi hari, minggu demi minggu,
14:47jadi ketika nanti memang supply energi kita memang betul-betul mengalami kendala,
14:54ya pemerintah harus bisa melihat neraca energi dan neraca pangan kita.
14:59BBM cadangan nasional kita sekitar 21 hari,
15:02artinya kalau misalnya cadangan tersebut semakin berkurang, ya drastis pemerintah harus segera melakukan pengendalian konsumsi BBM.
15:12Jadi harus ada real-time data di level regional, di wilayah daerah,
15:17jadi masyarakat juga harus segera diberikan edukasi bahwa ini situasinya sangat urgent, krusial,
15:23sehingga tadi kita bisa mengukur kemampuan untuk kecukupan energi kita itu hanya berapa bulan,
15:30hanya berapa hari, sehingga ketika itu sudah semakin menipis, maka opsi lainnya apa?
15:35Harus mencari sumber dari energi yang lain.
15:38Dan itu juga bisa, paling tidak pemerintah perlu juga memastikan secara psikologis,
15:45masyarakat bisa lebih siap, sehingga tidak menimbulkan expected inflation.
15:52Jadi yang lebih bahaya ini selain inflasi real adalah inflasi yang diakibatkan adanya ekspektasi tadi,
15:57adanya kepanikan, panik buying dan sebagainya, sehingga itu yang paling sulit dikendalikan oleh pemerintah.
16:02Oke, setidaknya dalam perbincangan kita malam hari ini ada beberapa poin penting.
16:06Yang pertama, masyarakat diimbau untuk bisa mengevaluasi kembali konsumsi energi,
16:11yang kedua juga ini adalah momentum penting untuk melaksanakan transisi energi sepenuhnya,
16:18dibandingkan dengan mengonsumsi energi-energi konvensional,
16:20begitu ada energi-energi lain yang bisa dioptimalkan oleh pemerintah.
16:23Dan terakhir juga tadi, percepatan suas sembada pangan,
16:27karena ini akan juga berdampak pada harga pangan, kebutuhan pokok masyarakat,
16:31karena rantai pasok pangan melalui selat hormus yang begitu punya posisi krusial,
16:37ini juga sangat harus bisa diantisipasi.
16:40Baik, terima kasih Kepala Center of Food, Energy and Sustainable Development, Indef,
16:45Abra Talatov telah memberikan perspektifnya di Sapa Indonesia malam hari ini.
16:49Sampai jumpa lagi, selamat malam.
16:51Selamat malam, Mas Rady.
Komentar

Dianjurkan