Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
  • 3 menit yang lalu
Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat seiring memanasnya hubungan Amerika Serikat dan Iran.

Di tengah situasi tersebut, Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BOP) untuk isu Palestina, termasuk rencana pengiriman pasukan perdamaian.

Dubes RI untuk Tunisia 2017-2021, Ikrar Nusa Bhakti, mempertanyakan rencana pengiriman pasukan perdamaian.

"Sekarang kalau saya mau tanya, ini pasukan kita itu akan ditaruh di mana? Karena Hamas sudah bilang 'Hati-hati Bung, Anda jangan masuk ke wilayah kami. Karena kalau Anda masuk wilayah kami, bagaimana Anda adalah saudara kami dari tahun 1955?' Bung Karno sudah menyatakan kita mendukung kemerdekaan Palestina," kata Ikrar Nusa Bhakti dalam program BOLA LIAR, Jumat (20/2/2026).

Baca Juga Beri Peringatan, Donald Trump Larang Iran Punya Senjata Nuklir! | BU di https://www.kompas.tv/internasional/652016/beri-peringatan-donald-trump-larang-iran-punya-senjata-nuklir-bu



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652052/as-iran-memanas-eks-dubes-ri-untuk-tunisia-soroti-pasukan-perdamaian-ke-gaza-bola-liar
Transkrip
00:03Halo selamat malam saudara, mulai liar kembali mengeliling ke hadapan anda.
00:08Timur Tengah makin tegang, Iran dan Amerika Serikat diambang perang.
00:13Baranya sudah ada, Presiden Donald Trump mengerahkan dua grup serang kapal induk,
00:18mengancam Iran jika perundingan gagal mencapai kesepakatan.
00:21Tak mau kalah gertak, pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei
00:25mengancam menenggelamkan kapal perang Amerika Serikat.
00:28Indonesia memang tak terseret langsung.
00:31Namun, upaya Republik Indonesia mendorong perdamaian di Gaza lewat keanggotaan Indonesia di Board of Peace
00:38bakal kian terjal.
00:39Kaki Indonesia rawan terjebak perangkap geostrategis di kawasan Timur Tengah
00:44di mana aktor regional utama terlibat konflik proksi yang rumit.
00:48Jika Amerika Serikat, Iran jadi perang, apakah Board of Peace tetap relevan
00:53atau sebaliknya bakal jadi langkah diplomatik yang sia-sia?
00:56Apakah Board of Peace masih memberi ruang diplomatik bagi Indonesia
01:00untuk menyorakan kepentingan Palestina yang bertahun-tahun jadi objek konflik proksi aktor regional dan global?
01:08Saudara, inilah bola liar bersama saya, My Sister Tarigan.
01:14Untuk membahasnya sudah hadir di studio saya menyapa.
01:18Respiratory Saddam Al-Jihad, Staff Khusus Kepala Staff Kepresidenan.
01:21Selamat malam.
01:21Selamat.
01:23Muhammad Jumhur Hidayat, Ketua Umum KSPSI.
01:26Selamat malam, Pak.
01:27Masudi Syuhub, Wakil Ketua Umum MUI.
01:30Selamat malam, Pak.
01:30Assalamualaikum.
02:00Saya langsung, Pak Suleman, kalau begitu.
02:02Pak Suleman, kalau Iran dan Amerika Serikat semakin memanas,
02:06artinya apakah dengan bergabung Indonesia di BOP,
02:09itu justru jadi langkah diplomatik yang sia-sia atau masih relevan?
02:13Kalau bagi saya, justru inilah kesempatan bagi Indonesia
02:17untuk memperlihatkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa berada di tengah dua-duanya ini.
02:22Bagaimana caranya itu, Umum Seken itu?
02:23Indonesia apapun adalah Oki.
02:26Oki itu ada di Iran dan Indonesia ada di sana.
02:29Kita lihat bagaimana Pak Prabowo dengan Trump begitu dekatnya.
02:33Jadi kanan dan kiri saat ini,
02:36menurut saya satu-satunya di dunia yang bisa berdiri di tengah hanya Presiden Prabowo.
02:42Mana ada yang lain yang bisa seperti beliau saat ini?
02:45Bisa berbicara begitu tenang dengan Pak Trump?
02:49Pada saat yang sama, atas nama Oki, dia bisa berbicara juga dengan Iran.
02:53Meskipun ada ketegangan antara Amerika Serikat dan juga dengan Iran,
02:57Iran kita ketahui merupakan salah satu sponsor utama dari Hamas.
03:00Ya, justru disitulah bagaimana Pak Prabowo ini bisa mencinakkan,
03:03bisa menenangkan Iran, bagaimana juga bisa menenangkan Trump.
03:08Disinilah kita lihat bagaimana Pak Prabowo ini bisa berdiri.
03:11Tapi yang jelas, sampai hari ini, satu-satunya di dunia
03:15yang bisa berdiri di tengah-tengah dan bisa bernegosiasi dengan baik hanya Pak Prabowo.
03:20Gak ada yang lain, coba cari mana.
03:22Oke, baik.
03:23Gak ada.
03:24Bang Al, kalau dilihat dalam situasi seperti ini,
03:27apakah jangan-jangan Indonesia justru terperangkap di bagian geopolitik strategisnya?
03:34Ya, saya rasa apa yang dilakukan Trump dan Amerika adalah
03:37sedang ingin membangun hegemoni politik ekonomi Amerika.
03:40Hegemoni politik, oke.
03:41Dengan kepentingan penguasaan sumber daya alam dan akses jalur perdagangan itu.
03:47Apa yang terjadi dalam konteks Maduro di Venezuela,
03:51dalam konteks Iran saat ini, dalam konteks BOP,
03:55penolakan dalam hukum internasional,
03:57itu menunjukkan bagaimana Trump membangun langgam politik
04:00yang melawan hukum internasional.
04:02Itu yang pertama.
04:03Karena dia tidak peduli dengan hukum internasional.
04:05Konsekuensinya, jika Indonesia gabung dalam BOP,
04:09di mana Trump menjadi ketua di dalamnya,
04:11dan menentukan banyak pihak,
04:13maka sesungguhnya Indonesia masuk dalam langgam politik Trump.
04:16Nah, dalam konteks itu,
04:19ini sesungguhnya sesuatu yang menempatkan Indonesia
04:23dalam ruang langgam politik Trump itu sendiri.
04:27Sehingga ini sesuatu yang buat Indonesia keluar dari track selama ini itu.
04:32Dalam konteks Palestina ataupun dalam konteks Iran.
04:36Nah, yang kedua adalah saya ingin bilang bahwa,
04:38yang dibilang tadi Pak Ponto bahwa Prabowo bisa melakukan negosiasi dengan Trump
04:46dalam konteks Kedua Keluar Pihak.
04:49Dalam BOP, pihak BOP,
04:51kita bisa cek satu persatu,
04:53Trump memiliki kewenangan yang sangat luas dan penuh menentukan dalam semua hal.
04:58Sehingga kemudian dalam konteks itu,
05:01enggak ada ekualitas di dalam BOP itu.
05:03Enggak ada ekualitas, enggak ada kesetaraan.
05:05Hanya Trump yang menentukan.
05:07Nah, dalam pilihan itu,
05:10kalau dibilang Prabowo bisa membangun negosiasi,
05:14komunikasi dengan Trump,
05:15itu sesuatu yang mustahil.
05:17Karena Trump lah yang menentukan BOP,
05:19membuat BOP,
05:20dan penentu di dalam BOP sendiri.
05:22Nah, yang kedua juga,
05:24kalau BOP dirancang untuk membangun perdamaian,
05:27maka dalam teori konflik resolution,
05:29syarat mediasi atau ketua dalam perdamaian itu harus dua,
05:33yang pertama dia harus independen,
05:35yang kedua dia harus memiliki integritas.
05:38Donald Trump tidak memenuhi itu.
05:40Kebijakan-kebijakan politik Trump dalam konteks Israel-Palestina,
05:44dalam konteks Timur Tengah,
05:45itu selalu pro terhadap Israel.
05:47Ketika Trump terpilih pertama,
05:49apa yang dia lakukan,
05:50dia mengiakkan permindahan ibu kota Israel
05:53dari Tel Aviv ke Yerusalem itu.
05:56Sementara Yerusalem adalah wilayah yang masih dispute.
05:59Kedua,
06:00Trump melakukan pengakuan terhadap Israel
06:02dalam dataran tinggi Golan yang dimiliki Surya,
06:05yang sampai sekarang masih dispute.
06:07Diakui oleh Trump sebagai milik Israel,
06:09padahal itu masih dispute.
06:10Artinya Trump sangat pro terhadap Israel.
06:12Yang ketiga,
06:13dalam putusan Mahkamah Pidana Internasional,
06:16Mahkamah Pidana Internasional sudah menyebutkan bahwa
06:19Netanyahu adalah penjahat perang.
06:22Sehingga Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan
06:25surat penangkapan terhadap Netanyahu.
06:28Apa yang dilakukan oleh Trump adalah
06:29mengancam hakim-hakim Mahkamah Pidana Internasional,
06:33dan kemudian mereka tidak boleh ke Amerika Serikat,
06:36dan mereka kemudian akan dibekukan aset-asetnya di Amerika Serikat,
06:40dan diancam oleh Donald Trump
06:42karena menetapkan Netanyahu sebagai penjahat perang.
06:44Jadi pertanyaannya adalah
06:46bagaimana kita percaya terhadap Donald Trump
06:48untuk memimpin perdamaian,
06:50sementara secara independen dia sangat diragukan
06:52dan berpihak kepada Israel.
06:53Oke, baik.
06:53Nanti saya ke Anda lagi.
06:54Pak Jumur,
06:55kalau dilihat disampaikan oleh Bang Al tadi,
06:57ini sudah keluar track katanya.
06:59Tidak ada keseimbangan.
07:00Ini semua cuma soal Trump.
07:02Anda adalah salah satu
07:03yang kemarin mendorong
07:05keterlibatan Indonesia di BOP
07:07harus menjadi pemimpin.
07:09Dan sekarang memang sudah terbukti sih
07:10jadi wakil kemana.
07:11Ya, pertama saya di sini hadir
07:13karena saya ketemu dengan Ketua Serikat Buruh Gaza.
07:15Oke.
07:16Dia menyatakan
07:18250 ribu buruh di sana itu
07:21betul-betul hancur lah begitu.
07:23Dan puluhan ribu hektare berantakan semua,
07:26tidak kerja lah.
07:27Jadi kita ada solidaritas.
07:28Dan begitu mendengar ada rencana perdamaian,
07:31itu kami dari gerakan buruh
07:32tentu merasakan itu penting.
07:35Oke.
07:35Dan kemudian ternyata Indonesia masuk.
07:38Nah, faktanya sekarang dia sudah masuk Indonesia.
07:41Pilihannya hanya dua.
07:42Kalau dia tidak masuk sebagai apa,
07:44kalau dia masuk bisa ngapain.
07:45Kan kira-kira gitu.
07:46Kalau tidak masuk,
07:47barangkali jadi penonton.
07:49Enggak diuyak-uyak itu,
07:51apa, palestinama,
07:52ya kita hanya bisa jadi penonton.
07:53Barangkali kita hormati
07:54ada jutaan orang di Indonesia turun ke jalan
07:56untuk simpati,
07:58kita hormati gerakan itu.
07:59Tapi,
08:00sekecil apapun peluang
08:01ketika ada di meja perundingan,
08:03itu menurut saya hal yang sangat positif.
08:05Karena itu bahkan kita mendesak.
08:07Oke, Prabowo di situ, Presiden,
08:09tapi kita minta punya peran yang berlebih di situ.
08:11Ikut menentukan kebijakan dari ini semua.
08:14Dan soal Iran ya,
08:16soal Iran dengan Amerika,
08:17saya rasa sih di feeling saya ya,
08:19itu nggak mungkin terjadi.
08:20Karena apa?
08:21Karena tidak ada perdamaian di Gaza,
08:24Timur Tengah,
08:24kalau terjadi instabilitas di Middle East.
08:27Jadi,
08:27ya omong kosong itu semua,
08:29BOP semua omong kosong.
08:31Berarti Trump juga omong kosong juga.
08:32Dan apalagi sekarang kita tahu,
08:34Iran juga udah mengunci
08:36ada sekitar 11-12 pangkalan militer
08:38yang 50 ribu orang Amerika
08:40yang setiap saat bisa dihantam
08:41sama rudalnya itu.
08:42Itu juga saya diperhitungkan
08:43yang sangat serius.
08:44Jadi saya rasa jalan terusan.
08:47Anda memang sangat percaya
08:48terhadap keterlibatan BOP,
08:50Indonesia di BOP,
08:51tapi tadi disampaikan oleh Bangal,
08:52ini justru ini dikendalikan oleh Trump.
08:54Ada potensi seperti itu?
08:55Saya katakan gini,
08:56kita ada di dalam,
08:58masih bisa ngebisikin,
08:59eh jangan.
09:00Tapi kalau kita ada di luar,
09:01kita nggak bisa sama sekali.
09:02Saya bilang,
09:03sekecil apapun pulang sekarang tidak kecil.
09:05Sekarang jadi wakil komandan.
09:07Dan yang kedua,
09:08kita juga harus melihat,
09:10Trump itu tidak di dalam ruang vakum.
09:12Di negaranya sendiri,
09:14perawanan terhadap Trump luar biasa.
09:15Bahkan Trump yang rasistis ini,
09:18dia juga ingin dapat piala Nobel.
09:20Jadi dia tuh sekarang jangan-jangan memang dia serius pengen ada perdamaian dimana-mana dengan tangannya dia.
09:26Ini kalau dalam politik luar negeri namanya realisme klasik.
09:31Jadi hubungan internasional bergantung pada individu.
09:35Nah sekarang kita,
09:36Trump masih mengandut itu.
09:38Nah mudah-mudahan dia antrenasistiknya itu bisa menghasilkan sesuatu yang baik.
09:43Itu saja sementara.
09:44Baik, Pak Ikerer.
09:46Mau di dalam maupun di luar,
09:47dampaknya sama aja nggak sih terhadap Indonesia kalau ada di BWP seperti ini?
09:50Bisa mendamaikan Palestina?
09:52Nggak mungkin.
09:53Nggak mungkin.
09:54Meskipun sekarang mereka berada di wakil komandan katanya.
10:00Kenapa?
10:01Ya kenapa ya?
10:02Karena Presiden Prabowo tidak pernah menyatakan
10:06untuk mengundian bagaimana langkah itu Indonesia untuk memperjuangkan kemerdekaan Palestina.
10:12Prabowo dan juga Menteri Luar Negeri Sugiono hanya bicara mengenai
10:16bahwa kita two-state solution.
10:20Tapi how? Caranya gimana?
10:23Nggak ada.
10:24Dan kita juga tahu ya bahwa masuknya Indonesia dalam BWP,
10:29itu saya baca Kompas ya, termasuk juga saya ngikutin Kompas TV ya,
10:35itu baru Indonesia.
10:36Tadi Anton bilang tambah satu Mas Maroko.
10:39Tapi kalau dilihat juga mengapa tidak ada satu negara Arab pun
10:45yang mau menjadi anggota pasukan perdamaian.
10:49Ini menjadi tanda tanya besar.
10:51Kedua ya, mengapa negara-negara Eropa Barat ya,
10:56yang selama ini adalah sekutunya Israel,
11:00Anda bisa bayangkan Inggris yang dulu gara-gara dia bikin
11:05apa yang disebut dengan deklarasi Barfour ya,
11:091917 itu ya.
11:10Itu kemudian dia adalah pendiri negara yang namanya Israel ya,
11:15tapi sekarang nggak mau menjadi anggota dari BWP.
11:19Lihat Perancis, bagaimana Perancis marah ya,
11:22Presiden apa namanya itu,
11:25Perancis marah.
11:26Mengapa kok itu wakil dari Eropa kok ada di situ?
11:31Padahal dia tidak tanya dulu pada kita,
11:34perlu nggak ke situ.
11:35Anda lihat, Jerman,
11:37nggak ada negara-negara Eropa Barat ya,
11:40yang sekutu Amerika Serikat,
11:42bahkan Selandia Baru,
11:44Australia,
11:45itu nggak mau menjadi anggota BWP.
11:47Termasuk juga
11:49Tahta Suci Fatikan.
11:51Oke, Pak Krat,
11:52saya mau tanya soal pengiriman pasukan.
11:53Kalau kita lihat beberapa negara,
11:54banyak negara yang nggak mau,
11:55tapi Indonesia terdepan mengirimkan.
11:56Sebenarnya ada apa?
11:58Kekuatiran apa di sana?
11:59Begini ya,
12:00ini terus terang ya,
12:01saya ternyata mengikuti masalah pengiriman,
12:04kita sebut Konga ya,
12:06apa nanya,
12:07kontingen Garuda.
12:09Selama ini kita dari Garuda I sampai Garuda yang terakhir,
12:12itu adalah kontingen dengan Barat Biru PBB.
12:16Mandatnya dari PBB.
12:18Dan ini adalah,
12:19apa namanya itu,
12:22pasukan perdamaian.
12:23Bukan kemudian pasukan,
12:25yang kemudian ingin melakukan sesuatu yang katanya,
12:29ini nanti terkait dengan apa yang dimandatkan oleh PBB melalui BOP.
12:36Tapi Anda lihat,
12:37mandat PBB itu kan juga tidak keras-keras amat.
12:40Maksud saya,
12:41setiap enam bulan sekali,
12:43ini akan dinilai,
12:44apakah BOP itu melanggar atau tidak melanggar.
12:48Dan sekarang kalau saya mau tanya pada Anda ya,
12:50ini pasukan kita itu akan ditaruh di mana?
12:52Karena Hamas sudah bilang,
12:54hati-hati Bung,
12:56Anda jangan masuk ke wilayah kami.
12:58Karena kalau Anda masuk ke wilayah kami,
13:00bagaimana Anda adalah saudara kami,
13:03dari tahun 1955,
13:05Bung Karno sudah menyatakan,
13:07kita mendukung kemerdekaan Palestina.
13:10Ini nothing to do dengan agama.
13:12Ini nothing to do dengan penjajahan.
13:15Jadi rawan dengan gesekan di sana ya Pak Iklar?
13:17Kenapa?
13:17Akan rawan gesekan.
13:19Oh iya, betul.
13:20Jadi ini yang kemudian yang jadi pertanyaan saya,
13:22pasukan seperti apa yang akan dikirim Indonesia dengan jumlah 8 ribu orang,
13:28ini akan berada di mana?
13:30Apakah berada di Gaza,
13:33ataukah berada di luar?
13:34Dan jangan lupa,
13:35mengapa negara-negara Eropa Barat ya,
13:38yang tadi saya katakan,
13:39sekutu Amerika Serikat,
13:41tidak mau masuk ke BOP,
13:43karena Trump itu tidak tahu kita batasannya.
13:46Tadi Bung Aldo mengatakan,
13:48bagaimana dia,
13:50apa namanya itu,
13:51menculik Presiden Venezuela.
13:54Sekarang dia lagi bermain di Kuba.
13:56Dan kemudian,
13:57ini sekarang lagi bermain di Iran.
13:59Ada Anda tahu,
14:00antara Iran dengan kasus di Gaza tersebut,
14:04ini ada keitanya,
14:05gerakan Trump itu adalah satu tujuannya.
14:08Apa?
14:09Menyelamatkan Israel.
14:10Menyelamatkan Israel.
14:11Oke, nanti saya lanjutkan ke Anda Pak Ikerar.
14:13Pak Anton,
14:14jadi apa risiko,
14:15kita mengirimkan,
14:18pasukan ISF ke Gaza?
14:20Begini,
14:21jelas bahwa,
14:22ketika kita bicara tentang ISF,
14:24itu menjalankan resolusi 2803.
14:26Satu,
14:27benar kata Mas Ikerar tadi,
14:28ini bukan nanti,
14:30helm biru,
14:31tapi berdasarkan helmnya ISF.
14:33Jadi memang beda,
14:33dia tidak menjalankan mandat itu.
14:35Itu satu.
14:35Kedua,
14:36apa risikonya?
14:37Saya melihatnya adalah,
14:38ini high risk,
14:40high return.
14:41High risk,
14:41high return?
14:42High return.
14:42Jadi,
14:43kalau ini sukses,
14:44tentu nanti Indonesia akan dapat something.
14:46Minimal,
14:46not prestige.
14:48Kita sudah banyak,
14:49tadi Mas Ikerar bilang,
14:49dari Konga,
14:50sampai Unifil,
14:52Monusco,
14:52dan lain-lain,
14:53sudah berapa banyak posisi komandan yang kita ambil,
14:57raih.
14:58Itu sedikit.
15:00Tapi yang ini,
15:01kita langsung dapat posisi wadan,
15:02wakil komandan.
15:03Yang jelas itu prestisius.
15:05Itu bisa akan kita lihat,
15:06itu adalah bentuk apresiasi sebenarnya.
15:08Oke.
15:08Itu satu.
15:09Kedua,
15:10pembicaraannya belum selesai.
15:12Tadi kalau Mas Ikerar bilang,
15:13ini mau ditaruh di mana,
15:14berapa banyak,
15:15operasional seperti apa,
15:16ini belum selesai.
15:18Setelah pertemuan nanti,
15:19yang ada di Washington,
15:20itu akan dilanjutkan namanya,
15:22fourth star general meeting.
15:23Nanti baru nanti akan kita bicara,
15:25pada level operasional,
15:26ketika nanti bicara ISF.
15:28Itu yang akan bisa bilang,
15:29nanti Indonesia apa,
15:31misinya apa,
15:31dan lain-lain.
15:32ISF berdasarkan resolusi 2803,
15:35itu jelas.
15:35Dia harus mengawal proses demilitarisasi,
15:38non-state actor,
15:40yang notabene ini adalah Hamas.
15:41Yang itu kita gak mau sebenarnya.
15:43Makanya kalau kita ngikutin pendapatnya dari kasat,
15:46sebelumnya yang kita siapin adalah zeni,
15:49dan lain-lain.
15:49Kita mau rekonstruksi.
15:51Kita gak mau proses demilitarisasi,
15:53kita gak mau pelucutan senjata.
15:54Yang which is,
15:55itu bukan dari misi utamanya ISF.
15:58Inilah nanti bagian dari ruang negosiasi di dalam ISF.
16:02Ini yang akan jadi penentu,
16:04siapa sih nanti yang dari TNI akan menunjuk itu di situ.
16:06Anda bilang kan high risk,
16:08high return.
16:08Yes.
16:08Kalau berhasil kita punya kredit.
16:10Kalau enggak,
16:11risikonya paling besar.
16:12Risikonya ada macam-macam.
16:13Satu,
16:14kita kan gak tahu,
16:15itu ada skenario ada macam-macam di sana.
16:17Posisi kita seperti apa.
16:18Kalau kita kan,
16:19kita bicara tentang Gaza,
16:21Gaza itu kan ada green zone,
16:22ada yellow zone,
16:23ada red zone.
16:25Kalau kita ditaruh di green zone,
16:26itu artinya nanti kita main mata lagi nanti sama Israel.
16:29Kalau kita tadi di red zone,
16:31tadi bilang masyarakat,
16:31ini sama aja bunuh diri.
16:33Ya itu udah jelas gitu ya,
16:35wilayah konflik kita ada di sana.
16:36Itu namun.
16:38Kita mau taruh di mana?
16:40Kalau kita ada green zone,
16:41ya semua akan ada risikonya.
16:43Mau taruh di mana itu ada risikonya.
16:45Itu tadi saya bilang.
16:46Kalau kita sukses,
16:47kita dapat something.
16:49Kalau kita gak sukses,
16:49ditekan abis-abisan.
16:51Jangan sampai kita misalnya,
16:52jadi blanketnya Israel.
16:54Karena untuk pelucutan Hamas misalnya.
16:57Ini yang nanti akan menjadi penting,
16:59bagaimana pada level operasionalnya ISF.
17:01Tapi dengan sudah penunjukkan badan,
17:03sudah tampak lebih jelas gak?
17:05Atau enggak?
17:06Belum.
17:06Wakil komandan kita harus jadi warga komandan.
17:08Tapi kan aturan mainnya nanti akan dibahas lebih lanjut.
17:10Ya masih-masih.
17:11Masih akan dibahas lebih lanjut.
17:13Makanya itu yang menjadi kunci.
17:14Ini nanti siapa nih wakil Indonesia?
17:16TNI.
17:17Perwira tinggi itu.
17:18Perwira tinggi yang akan duduk di jabatan wadan itu siapa?
17:22Ini yang harus kita perhatikan juga.
17:25Jangan sampai dia gak pernah punya pengalaman
17:26untuk ikut misi perdamaian.
17:28Pernah menjadi komandan di TNI-nya juga.
17:32Gitu loh.
17:33Ya minimal bahasa Inggrisnya juga harus lancar ya.
17:35Jangan sampai nanti kita butuh interpreter,
17:37kita mau diskusi.
17:38Itu akan menjadi kunci bagaimana kita tahu.
17:41Karena negosiasinya akan masih terpanjang.
17:43Prosesnya akan tetap panjang.
17:45Nanti 4 Star General akan ada nanti pre-deployment training,
17:49kita juga masih harus mempersiapkan materinya kayak apa.
17:51Karena kan berbeda dengan misi-misi sebelumnya.
17:54Ini tadi saya bilang,
17:55prosesnya masih panjang.
17:56Ini yang akan kita lihat lagi.
17:58Tapi tadi, saya yakin ini high risk, high return.
18:02Mas Adam, istana sudah menimbang atau belum?
18:05Penempatan pasukan akan taruh di red zone atau mungkin green zone?
18:11Nanti dijawab mas.
18:12Bila lihat kembali saudara.
Komentar

Dianjurkan