Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Indonesia resmi ditunjuk sebagai Wakil Komandan Pasukan Stabilisasi Internasional atau International Stabilization Force (ISF) dalam forum KTT BOP.

Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan pengiriman pasukan TNI ke Gaza, Palestina, dalam kurun waktu satu hingga dua bulan ke depan sebagai bagian dari misi pengawalan gencatan senjata.

Penunjukan ini disampaikan oleh Mayor Jenderal Jasper Jeffers yang menyebut Indonesia termasuk dalam lima negara pertama yang berkomitmen menerjunkan pasukan militer untuk mendukung stabilisasi dan pengamanan pascagencatan senjata.

Selain Indonesia, negara lain yang turut mengirimkan personel militer adalah Maroko, Kazakhstan, Kosovo, dan Albania.

Sementara itu, Mesir dan Yordania akan menyiapkan personel kepolisian terlatih untuk mendukung tugas stabilisasi.

Untuk membahas lebih dalam terkait peran Indonesia serta aspek strategis dan militernya, dialog menghadirkan pakar PPAU alumni US Air War College, Marsma Purnawirawan Agung Sasongkojati.

Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah lebih dekat, satu Langkah makin terpercaya!

Baca Juga Kapal Perang Rusia Berlabuh di Iran Jelang Latihan Militer Bersama | BU di https://www.kompas.tv/internasional/652017/kapal-perang-rusia-berlabuh-di-iran-jelang-latihan-militer-bersama-bu

#as #iran #isf #boardofpeace #prabowo #tni

Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/internasional/652025/full-pakar-pertahanan-ppau-soal-indonesia-jadi-wakil-komandan-isf-untuk-pasukan-di-gaza
Transkrip
00:00Terima kasih banyak, Mr. President.
00:30Pak Agung, Pak Agung kalau kita bicara soal 8.000 pasukan yang akan dikirim, ini kan dengan bendera ISF ya?
00:36Iya, betul.
00:37Oke, tantangan yang nanti mungkin akan ditemukan di lapangan, kemudian kita akan berhadapan dengan pemerintahan di Gaza, apa yang harus
00:51disiapkan oleh pemerintah kita?
00:52Pertama kita harus paham bahwa betul-betul berbeda antara peacekeeping forces yang selama kita lakukan dengan stabilisation forces yang mungkin
01:00pertama kali kita akan ikut.
01:02Peacekeeping jelas mandat ke-end, kemudian di bawah alur hukum, di bawah pimpinan dari Dewan Keamanan, dan jelas mandatnya ya.
01:09Kemudian untuk stabilisation itu lebih fleksibel, lebih luas, dan itu meniliputi juga penegakan keamanan, penegakan demilitarisasi, atau administrasi di daerah
01:21tersebut yang memungkinkan terjadinya pasukan digunakan untuk menegakkan aturan.
01:27Nah, ini yang harus disiapkan oleh kita adalah pemerintah kita harus menyiapkan dengan jelas mandatnya itu kalau bisa mandat PBB.
01:35Tanpa itu akan sulit legitimitasinya.
01:37Harus ada mandat PBB?
01:39Ya, kemudian ya harus, karena tanpa mandat PBB itu akan menjadi sesuatu yang di dalam wadah yang tidak sekuat kalau
01:46dalam mandat PBB.
01:47Bahkan dalam mandat PBB pun kadang-kadang operasi pun bisa berjalan ke arah yang tidak lancar.
01:53Contohnya di Somalia, itu mandat PBB, tapi ada unsur stabilisasi yang memberikan wonang kepada pasukan untuk melawan tindakan.
01:59Dan kita tahu dalam film Black Hawk Down betapa kacauhnya kalau itu sampai terlibat dalam konflik di dalam daerah yang
02:05harus disetabilkan.
02:06Nah, kemudian pertama tandatnya harus jelas.
02:10Kedua harus ada operasional SOP, standar operasional.
02:16Di mana kita boleh, nah ini masalahnya karena kita di bawah hierarki daripada panglimanya atau komandannya seorang Amerika.
02:23Nah, kita di bawahnya, nah ini harus ada suatu tertulis bahwa kita boleh mengatakan tidak atau kita menawar atau kita
02:31tidak melaksanakan sesuai dengan perintahnya.
02:33Karena apa? Karena itu mungkin perintah itu bisa berlawanan dengan posisi kita untuk mendukung Palestina.
02:40Ataupun posisi kita untuk tidak melaksanakan tindakan yang akan berusaha legitimasi kita.
02:45Dan yang terakhir adalah, yang penting kita juga harus jelas exit strateginya.
02:49Kalau situasi memburuk atau situasi dengan parameter A, B, C, D telah sana, maka kita bisa pergi.
02:54Permintaan lebih lah begitu ya?
02:56Exit strategi itu dalam artian kalau ada situasi berkebangkara yang sesuai dengan bisa kita duga, kita bisa pergi.
03:04Jadi jelas, aturan mainnya. Dan yang paling penting adalah, karena kita dipimpin oleh seseorang ataupun pimpinan militer dari negara luar,
03:15maka jabatan kita sebagai wakil itu jangan hanya untuk reputasi internasional,
03:21tetapi nanti dalam pelaksanaan tidak memiliki wawonan untuk mengambil keputusan sendiri selama keputusan itu sesuai dengan mandat.
03:28Dan sampai keluar mandat. Nah, keluar mandat ini yang bikin masalah nanti.
03:32Oke. Sebelum kita bicara ke mandat, ini kan Presiden memang sudah bilang kalau dalam 1 hingga 2 bulan ke depan
03:38akan ada 8.000 pasukan
03:39yang kemudian dikirim ke Gaza Palestina. Tapi kan tadi Anda bilang harus ada mandat dari PBB at the end.
03:45Kalau mandat itu tidak keluar, bagaimana dengan nasi pengiriman pasukannya?
03:49Saya dengar bahwa akan mengirim pasukan yang jumlah kecil dulu. Tidak terlalu besar.
03:54Pasukan ini akan berfungsi untuk melihat situasi berhubungan dengan pasukan pendahulu yang tadi dibilang Presiden.
04:00Berhubungan yang faksi-faksi melihat situasi, mungkin bisa berhubungan dengan pihak yang ada di lapangan,
04:05pihak-pihak pasukan di lapangan untuk bisa memperkan diri, kulonowun, istilahnya bahasa kita ya.
04:11Kemudian sambil menunggu sampai 2 atau 3 bulan lagi baru pasukan besar datang.
04:16Itu saya dengar seperti itu rencananya.
04:18Nah, dalam waktu ini masih ada waktu bagi kita untuk beberapa bulan untuk bisa mendapatkan mandat internasional untuk dukungan ini.
04:24Seharusnya kita minta kepada Board of Peace ini untuk mengupayakan mendapatkan mandat internasional peacekeeping dengan tujuan stabilisasi.
04:34Oke, kita bahas lagi soal syarat-syarat yang disampaikan oleh Kemlu.
04:37Kementerian Lur Negeri bilang kan akan ada batasan, akan ada syarat-syarat kita tidak akan ikut demilitarisasi,
04:43kemudian juga tidak akan pelucutan senjata, hanya fokus pada kemanusiaan begitu ya, kesehatan dan juga rekonstruksi.
04:49Apakah kemudian batasan-batasan ini bisa diterapkan kalau sudah di lapangan, sudah di Gaza?
04:54Kita akan membantu kesehatan, kita akan membantu rekonstruksi, kita akan membantu mengamankan instansi atau objek-objek vital yang ada di
05:03sana.
05:04Kemudian, namun dalam situasi daerah yang banyak vaksin yang terlibat, kemudian banyak...
05:12Ini kan sebetulnya bukan masalah kita mengamankan stabilisasi, tapi masalahnya itu tempat Gaza, itu ada tempat percaturan geopolitik besar.
05:20Dimana banyak aktor-aktor negara atau aktor non-negara yang bermain.
05:26Masalahnya mungkin terjadi lah pada saat nanti ada semacam gangguan, atau ada semacam hambatan, atau mungkin provokasi dari pihak tertentu.
05:35Tantangan dari Palestina sendiri?
05:37Belum tentu, dari Palestina atau orang mengaku Palestina, atau kita tahu kan daerah situ ada daerah yang siapa saja berbuat
05:42saja untuk memakai apa saja,
05:43untuk menemukan kesan, sehingga membuat Indonesia terpaksa membalas, atau terpaksa bertahan,
05:48atau kita terjebak dalam suatu situasi di mana kita akhirnya membutuhkan bantuan dari pasukan lain,
05:53yang pada saat bantuan dari pasukan lain, akhirnya mengibatkan korban di pihak tertentu,
05:58akibatnya kita masuk ke dalam satu status di mana kita akhirnya menjadi di pihak yang ikut menindas,
06:06bukannya menjadi stabilisasi, tapi ikut memihak salah satu pihak.
06:09Akhirnya kita akan kehilangan legitimasi sebagai negara yang membantu perjuangan Palestina,
06:15karena mungkin situasinya bukan kita yang meminta situasi itu,
06:17tapi kita dipojokkan dalam satu situasi di provokasi, atau di cipta kondisi,
06:22itu yang harus dipertimbangkan dengan mandat yang jelas, SOP yang tegas,
06:27dan bisa punya hak untuk menolak untuk perintah-perintah yang melanggar mandat.
06:31Sebelum pengiriman pasukan nanti?
06:32Oh iya harus jelas sekarang, jangan nanti, jangan kita sudah,
06:36oh ini ternyata tidak belok kanan tapi belok kiri, baru kita mundur, gak bisa.
06:40Harus jelas dalam tulisan, bila suatu saat ada belok kiri, biarpun selangkah, itu sudah stop.
06:46Kalau gitu apa yang perlu diperhitungkan lebih dalam, lebih matang,
06:51sebelum kita mengirimkan pasukan ke Gaza?
06:55Negosiasi pemerintah kita harus betul-betul mantap, betul-betul pendesainan daripada mandatnya,
07:03kita harus berjuang untuk board office minta mandat kepada PBB,
07:07kemudian minta supervisi juga dari Dewan Kamanan juga,
07:09dan juga kemudian dalam pelaksanaannya kita harus pastikan standar operating prosedurnya,
07:15betul-betul standar operating prosedur yang berbau perdamaian,
07:19bukan sekedar hanya stabilisasi yang ada demisitasi perlu jutaan senjata,
07:23ataupun menindas faksi-faksi di sana.
07:25Ingat bahwa kita hanya untuk misi yang berbau,
07:30menstabilkan dalam ranah rekonstruksi, dalam ranah kerja kesehatan,
07:36dan akan menjaga objek vital.
07:39Namun, tetap sebagai pasukan yang mungkin terbesar nanti di sana,
07:43nah kita ada kemungkinan untuk mengalami friksi,
07:46ataupun gangguan, ataupun diprovokasi.
07:49Nah itu yang harus betul-betul kita latihkan di Indonesia,
07:52kemudian kita simulasikan juga,
07:55dan juga simulasikan baik simulasi wargaming,
07:57ataupun pasukan untuk dilatih, untuk diwaspadai,
08:00betul-betul bahwa,
08:01karena situasinya adalah situasi yang sangat tidak enak,
08:06karena ini betul-betul sampai sekarang pun konflik masih tidak damai.
08:09Kita tidak mendamaikan sesuatu yang sebetulnya saat ini
08:11hanya dalam kata adalah perdamaian,
08:14tapi tidak ada perdamaian, belum ada perdamaian.
08:16Ada juga nih soal yang dibahas, soal pendanaan, pembiayaan.
08:20Bagaimana soal mandat pembiayaan ini nanti?
08:22Kalau dibilang BOP akan membiayai pasukan,
08:26artinya kita juga akan berkontribusi?
08:28Kita kan sudah disebutkan bahwa kita berkontribusi dengan dana 1 miliar dolar,
08:35kemudian sebagai anggota tetap kan,
08:37dan mungkin tidak mungkin tidak anggota tetap menjadi wakil pasukan stabilisasi kan,
08:43dan kemudian Amerika akan memberikan juga kalau nggak salah 10 miliar dolar
08:46untuk di stabilisasi juga,
08:48dan saya rasa Amerika cukup mampu untuk itu.
08:51Namun kita jangan melihat juga segi negatifnya,
08:53ada peluang juga bagi kita, bagi Indonesia.
08:55Apa itu peluangnya Pak?
08:56Peluang-peluangnya adalah, pertama adalah status Indonesia sebagai negara middle yang power,
09:03tapi sudah mulai berkembang, dan memang Indonesia sudah waktunya.
09:06Kemudian yang kedua adalah,
09:07kita operatif, jadi kemampuan operasional interoperability antara kita dengan negara lain,
09:13khususnya Amerika bisa meningkat dengan pesat,
09:16dan kita bisa menggunakan alat-alat pengodaran terbaru yang disediakan oleh Amerika,
09:20kita bisa manfaatkan itu,
09:22kemudian juga ases diplomatik kita untuk masalah Timur Tengah,
09:25dan yang penting adalah leverage kita lebih tinggi dengan Amerika.
09:28Tanpa menjadi sahabat atau mitra strategis Amerika,
09:32kita punya hubungan yang jauh lebih bagus dengan Amerika dibandingkan dengan ini.
09:36Artinya kita mulai diperhitungkan?
09:38Mulai diperhitungkan.
09:39Negara penting, tiba-tiba kita pengamat saja,
09:42seperti kita pengamat ini,
09:43tiba-tiba langsung terjun langsung ke Medan,
09:46tapi dengan segala resikonya berkorban untuk bisa membuat hal yang lebih baik untuk Palestina.
09:51Oke, baik kita tunggu lagi,
09:53nanti kata Presiden adalah 1-2 bulan nanti pengiriman pasukan,
09:57ke pasukan stabilisasi untuk menuju ke Gaza, Palestina.
10:01Terima kasih sudah bergabung bersama kami,
10:03dan juga hadir langsung di studio,
10:04Marsma Purnawirawan Agus Sasongko Jati sudah bergabung bersama kami.
10:07Sehat selalu, Pak Agung.
Komentar

Dianjurkan