Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
KOMPAS.TV - Menteri ESDM Bahlil Lahadalia menyatakan pemerintah telah bersepakat untuk memfasilitasi pengusaha dari Amerika Serikat dalam melakukan investasi di Indonesia.

Pemerintah tetap menghargai aturan yang berlaku, sekaligus memberikan prioritas untuk mendukung eksekusi investasi agar berjalan efektif dan berdampak positif bagi perekonomian. Hal ini disampaikan saat menjelaskan Kesepakatan RI-AS sektor ESDM pada Jumat (20/02/2026).

#RI-AS #ESDM #bahlillahadalia #investasi

Baca Juga Detik-Detik Presiden Prabowo dan Trump Teken Kesepakatan Dagang Tarif Resiprokal 19 Persen! di https://www.kompas.tv/nasional/652036/detik-detik-presiden-prabowo-dan-trump-teken-kesepakatan-dagang-tarif-resiprokal-19-persen



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/nasional/652038/menteri-esdm-sebut-akan-fasilitasi-pengusaha-dari-as-yang-ingin-berinvestasi-di-indonesia
Transkrip
00:00Bersilakan.
00:30Poin-poin kesepakatan yang telah ditentangani oleh Bapak Presiden Prabowo dan Bapak Presiden Amerika Pak Tram terkait dengan perjanjian dagang
00:41kita, izinkan saya untuk menyampaikan beberapa hal penting terkait dengan isi dan substansi dan langkah-langkah strategis.
00:49Secara kebetulan kemarin sudah dijelaskan oleh Menko dan sekarang kami akan menjelaskan secara teknis pada tataran implementasi.
00:58Bapak Ibu semua, kita tahu bersama bahwa dalam perjanjian tersebut telah dimuat secara jelas bahwa untuk memberikan keseimbangan neraca perdagangan
01:07kita, maka kita dari sektor SDM akan membelanjakan kurang lebih sekitar 15 miliar USD.
01:13Dari 15 miliar USD ini terdiri dari membeli BBM jadi, kemudian LPG dan crude.
01:24Sudah barang tentu ini adalah merupakan langkah sejarah baru kita membeli dalam jumlah yang besar.
01:32Dan nanti akan dijelaskan oleh Jirut Pertamina tentang teknis implementasinya.
01:40Bapak Ibu semua, 15 miliar USD yang kita alokasikan untuk membeli BBM di Amerika Serikat bukan berarti kita menambah volume
01:50impor.
01:52Namun, kita menggeser sebagian volume impor kita dari beberapa negara.
01:59Di antaranya negara dari Asia Tenggara, Middle East, maupun beberapa negara di Afrika.
02:06Secara keseluruhan, neraca komoditas daripada pembelian BBM kita dari luar negeri itu sama.
02:14Cuma kemudian kita geser.
02:16Dalam prakteknya nanti, pembelian ini sudah berdua akan memperhatikan mekanisme-mekanisme keekonomian yang saling menguntungkan.
02:25Baik menguntungkan kepada pihak Amerika Serikat dan usaha badan usahanya, maupun dari pihak Indonesia.
02:32Kita tahu bahwa impor kita cukup besar di LPG, kurang lebih sekitar 7 juta ton per tahun.
02:39Dan salah satu yang selama ini sudah kita lakukan juga adalah sebagian yang kita ambil dari Amerika.
02:43Tapi volumenya kita akan naikkan.
02:45Ini dalam konteks BBM.
02:49Dan dalam catatan kami, begitu kami menerima perarahan dari Bapak Presiden Prabowo,
02:54begitu 90 hari ke depan sudah selesai, maka langsung kita mulai tahapan eksekusi.
02:59Jadi ini langsung bisa berjalan, supaya tidak ada suatu persepsi yang berbeda dari teman-teman yang ada di sana.
03:09Yang kedua, kami juga menjelaskan tentang mineral kritikal.
03:14Bahwa Indonesia menganut asas politik bebas aktif dalam konteks pergaulan diplomasi luar negeri.
03:22Tapi juga Indonesia menganut asas ekonomi bebas aktif.
03:27Artinya, kita memberikan ruang yang sama kepada semua negara, termasuk Amerika dan beberapa negara lain,
03:34yang akan melakukan investasi di Indonesia, khususnya di mineral kritikal.
03:38Dan ini sudah terjadi sebelum perjanjian ini pun sudah ada contoh.
03:43Seperti free pot.
03:44Free pot itu, perjanjiannya sudah kita lakukan,
03:47dan mereka mempunyai konsesi secara baik, mengikuti aturan,
03:52kemudian juga membangun smelter, kurang lebih sekitar hampir 4 miliar USD,
03:57dan itu adalah salah satu smelter terbesar di dunia untuk pabrik tembaga.
04:04Nah, untuk mineral kritikal terkait dengan nikel, logam tanah jarang, dan mineral-mineral lainnya,
04:13kami telah bersepakat untuk memfasilitasi bagi pengusaha-pengusaha yang ada dari Amerika Serikat
04:20untuk melakukan investasi dengan tetap menghargai aturan-aturan yang berlaku dalam negara kita.
04:27Tapi, kita juga akan memberikan prioritas untuk mendukung, memfasilitasi dalam rangka eksekusi.
04:35Terimakasih dalamnya ada investasinya.
04:37Jadi ini bisa bersama-sama.
04:39Jadi katakanlah mereka mau bangun smelter di Indonesia untuk nikel,
04:43kita akan dorong, kita akan kasih ruang yang sebesar-besarnya,
04:47sama juga dengan negara lain.
04:49Jadi jangan diartikan bahwa kita akan membuka ekspor barang mentah.
04:54Yang dimaksudkan di sini adalah, mereka setelah melakukan pemurnian,
05:00kemudian hasilnya bisa diekspor.
05:03Biar clear nih, biar tidak ada salah interpretasi.
05:09Yang berikut, Bapak-Ibu semua, saya juga menjelaskan,
05:13bahwa dalam konteks perolehan terhadap wilayah-wilayah pertambangan yang ada,
05:18kami setelah ini, kami akan menawarkan kepada mereka,
05:20mana perusahaan-perusahaan yang ingin masuk,
05:24dan kemudian kita fasilitasi.
05:26Dan saya sudah melakukan pemetaan-pemetaan terhadap lokasi-lokasi yang prospek.
05:30Karena kita juga harus membangun,
05:32menjaga hubungan yang sudah sangat baik ini.
05:36Yang berikut saya juga menyampaikan terkait dengan perpanjangan Freeport.
05:40Bapak-Ibu semua, kita tahu bahwa dua tahun terakhir,
05:45telah kita melakukan negosiasi komunikasi intens
05:47antara pemerintah Indonesia.
Komentar

Dianjurkan