Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
JAKARTA, KOMPAS.TV - Sekretaris Kementerian BUMN periode 20052010, Said Didu, menilai Presiden Prabowo Subianto tidak berada di bawah bayang-bayang Presiden ke-7 RI Joko Widodo.

Dalam program ROSI, Said menyinggung polemik perubahan batas usia calon kepala daerah yang sempat memicu gelombang demonstrasi pada Agustus tahun lalu.

Saat itu, Mahkamah Agung mengeluarkan putusan terkait syarat usia calon kepala daerah. Di tengah polemik tersebut, DPR sempat menyatakan akan menggelar sidang paripurna untuk merevisi Undang-Undang Pilkada menyesuaikan putusan MA. Namun, rencana tersebut batal dilaksanakan.

Menurut Said, pembatalan itu menjadi sinyal kuat bahwa Prabowo memiliki sikap politik sendiri.

Ia bahkan menyebut, jika Prabowo benar-benar berada di bawah bayang-bayang Jokowi, maka langkah pembatalan revisi tersebut tidak akan terjadi.

Said mengungkapkan, dalam sebuah pertemuan, Prabowo secara langsung menegaskan agar publik tidak menganggap dirinya berada dalam bayang-bayang presiden sebelumnya.

Tak hanya itu, Said juga menyebut ada sejumlah usulan Jokowi yang ditolak oleh Prabowo, meski ia enggan membeberkan detailnya ke publik.

Namun demikian, Said melihat sikap Prabowo terhadap Jokowi lebih sebagai bentuk penghormatan politik, bukan ketundukan.

Selengkapnya saksikan di sini: https://youtu.be/4GYHWzpg3w8

#prabowo #saiddidu #politik



Sahabat KompasTV, Mulai 1 Februari 2026 KompasTV pindah channel. Dapatkan selalu berita dan informasi terupdate KompasTV, di televisi Anda di Channel 11 pada perangkat TV Digital atau Set Top Box. Satu Langkah Lebih Dekat, Satu Langkah Makin Terpercaya!



Artikel ini bisa dilihat di : https://www.kompas.tv/talkshow/650391/tegas-said-didu-sebut-prabowo-tak-di-bawah-bayang-bayang-jokowi-rosi
Transkrip
00:00Terima kasih Anda masih menyaksikan Rosi.
00:02Malam ini saya bersama salah satu tokoh oposisi
00:05yang bertemu dengan Presiden Prabowo Sebianto akhir Januari lalu,
00:09Bapak Syed Didu.
00:10Banyak cerita yang masih harus kami dengar, Pak Syed Didu.
00:13Termasuk misalnya begini, Pak.
00:15Banyak yang mengatakan jalur informasi ke Pak Presiden itu
00:21dinilai terbatas atau hanya difilter
00:23sehingga orang merasa jangan-jangan Pak Prabowo ini
00:27atau Presiden tidak mendengar informasi yang utuh.
00:30Kalau dari interaksi Pak Syed Didu gimana tuh?
00:34Benar nggak kalau informasi yang diterima Pak Presiden itu
00:37memang dipilih-pilih gitu?
00:40Saya bisa menyatakan iya, bisa tidak.
00:42Ada dua kejadian.
00:43Jadi semua data, bocor dari mana, anggaran, berapa jurnal.
00:48Saya penting yang bisa menerima.
00:49Judi online itu menyatakan 12 miliar dolar.
00:53Itu dia sebutkan itu.
00:54BUMN itu angkanya dia 20 miliar dolar.
00:58Itulah keluar pernyataan.
00:59Hati-hati bekas direksi BUMN,
01:02pimpinan BUMN, jangan tidurnya.
01:04Karena dia memang akan kejar.
01:06Tapi pada saat saya menyampaikan,
01:10Pak Presiden, kenapa itu PIK 2 masih menggusur
01:14lahan pertanian dan tambang?
01:16Oh Pak, saya didu nanya.
01:17Ya, langsung.
01:19Eh, kok masih jalan?
01:20Eh, itu mantikan ya.
01:23Nah, maksud saya, berarti sebenarnya, dan reaktif langsung,
01:27bukan berpikir.
01:28Artinya, di hati dia itu berarti ada informasi yang dipilter dong.
01:33Sehingga dia tidak sampai itu.
01:34Jadi saya menyatakan, informasi inti dia sudah punya.
01:39Sampai nama-nama.
01:41Nah, dia menyatakan,
01:44saya untuk menghadapi hukum supaya saya objektif.
01:46Kalau ada laporan penertiban hukum,
01:48maka namanya kututup.
01:51Supaya, siapa tahu ada saudara saya.
01:53Saya tidak pandang siapa.
01:53Ya, itu memang di ucapkan juga secara terbuka.
01:56Nah, jadi,
01:57nah, berbagai, nah.
01:59Berbagai hal yang saya,
02:00termasuk ini,
02:02saya kan ingin mendapatkan informasi.
02:07Karena sampai cawapres itu kan masih sekarang,
02:11masih agak kontraversi.
02:13apakah Prabowo memang memilih secara objektif
02:18bahwa memang dia terbaik,
02:19ataukah dipaksa atau terpaksa memilih.
02:22Maksudnya wakpres Gibran sekarang,
02:23wakpresnya apa Prabowo?
02:25Nah, saya kan ingin mendapatkan,
02:27saya kan biasanya ya,
02:29saya peneliti,
02:29jadi saya ingin mendapatkan apa sebenarnya yang terjadi.
02:32Nah, setelah dia menyelaskan bahwa,
02:37dia menyatakan,
02:38saya beberapa calon wakpres
02:42yang saya inginkan jadi wakpres saat itu,
02:45beberapa nama disebutkan dikriminalisasi.
02:49Dikriminalisasi.
02:50Artinya, ada suatu kejadian dong.
02:52Nah, di sini kriminalisasi calonnya dia,
02:55di sini berjalan untuk memuluskan Gibran.
02:58Di MK.
03:00Nah, masih ingat dulu kejadian.
03:02Nah, saya biasanya sudah menganalisis kalau seperti ini.
03:05ingat kejadian ada kata-kata Gibran pada saat ini,
03:10Pak Prabowo, Bapak tenang.
03:12Saya sudah di sini waktu itu.
03:13Bapak sudah aman.
03:14Pak sudah di sini.
03:15Nah, bagi saya ini ada sesuatu pasti di balik ini,
03:19seakan-akan Pak Prabowo itu sedang terancam
03:21dan diselamatkan oleh Gibran.
03:22Nah, kita harus ingat,
03:26waktu Ketua MK, Pak Usman,
03:29menyatakan,
03:31setelah memutuskan yang batas bawah umur,
03:34dia akan menyatakan,
03:35dan itu dikemukakan oleh Pak Gatot di tempat lain,
03:40dia kemukakan,
03:41batas atas, batas bawah sudah,
03:43Alhamdulillah hari ini batas bawah sudah selesai,
03:46batas atas yang belum.
03:47Itu sama dengan ancaman sebenarnya.
03:49Eh, hati-hati kalau nggak batas bawah ini,
03:52nah, lihat deklarasi Pak Prabowo di Kertanegara,
03:59itu kan tanpa Gibran kan.
04:02Nah, baru ini disenayan kan baru ini.
04:04Nah, oh berarti ini,
04:07saya dugaan saya, analisis saya,
04:09memang ini, itulah yang ditafsirkan,
04:12ini strategi.
04:14Hanya-hanya asumsi Bapak ini bisa juga dibantah dengan sangat mudah.
04:18Karena satu, dalam banyak kesempatan,
04:22Pak Prabowo lah yang menginginkan Mas Gibran
04:25sebagai calon wakil presidennya,
04:27dan beberapa kali meminta itu kepada Pak Jokowi,
04:29jadi itu bisa dibantah bahwa itu keinginan murni dari Pak Prabowo
04:34sebagai calon presiden pada waktu itu.
04:35Dan kalau kita lihat juga secara terbuka,
04:37Presiden Prabowo sungguh menjaga maruah Pak Jokowi
04:41dengan bahkan mengatakan hidup Jokowi, hidup Jokowi.
04:44Jadi saya rasa asumsi Pak Zaididu bisa dengan mudah dibantah.
04:48Jadi saya ingin menyatakan bahwa itu oke,
04:51itu kan, itu strategi semua.
04:53Saya kasih contoh lagi.
04:55Dia ingat kasus Garuda Biru.
05:01Agustus, tahun lalu.
05:06Yang mahkamah agung meluluskan,
05:10saya katakan meluluskan kaisan bisa jadi gungur di Jawa Tengah.
05:14Dan ingat saat itu...
05:15Itu soal demo ketika undang-undang mau diubah,
05:19soal batas umur calon kepala daerah.
05:22Dan saat itu, Dasko sebagai kutu DPR sudah menyatakan
05:25besok akan sidang pleno
05:27untuk merubah undang-undang pilkada
05:31sesuai dengan putusan mahkamah agung.
05:33Nah, tak tahu besoknya dibatalkan.
05:36Dan kita tahu yang bisa,
05:38mohon maaf, yang bisa memerintah Dasko Insya Allah
05:41hanya Pak Prabowo.
05:43Artinya, Pak Prabowo memang
05:45kalau orang menyatakan bahwa dia tunduk sekali Pak Jokowi,
05:49saya menyatakan tidak.
05:51Saya menyatakan tidak.
05:53Dia, jadi Pak Prabowo sekarang
05:55menuju menjadi dirinya sendiri.
05:59Apa relevansinya, Pak?
06:00Antara demo menolak
06:02waktu itu
06:03batas umur untuk calon kepala daerah
06:07yang waktu itu memang ditengah rai
06:09ini adalah jalan untuk Mas Kaisang
06:11menjadi kepala daerah.
06:12Apa hubungannya?
06:14Kalau Pak Prabowo itu memang dibawa bayang-bayang
06:17Jokowi, dia nggak lakukan dong.
06:20Dan pada saat pertemuan itu,
06:22dia menjelaskan
06:24bahwa jangan menganggap saya
06:26ini dibawa bayang-bayang Jokowi.
06:29Dan ada cerita bahwa beberapa usulan
06:31Pak Jokowi itu ditolak sama dia.
06:33Cuma saya nggak buka di publik.
06:36Nah, itu berbagi.
06:38Nah, jadi saya menyatakan
06:43ketidaksabaran publik
06:44seakan-akan Pak Presiden Prabowo ini
06:46masih dibawa bayang-bayang Jokowi.
06:49Saya ingin menyatakan sepertinya
06:51memang mungkin itu adalah penghormatan
06:54cara Prabowo menghormati Jokowi Dodo.
06:59Bukan berarti di bawah bayang-bayang Jokowi Dodo.
07:02Oh, seperti bahasa Jawa Mikul.
07:04Mikul Dodo.
07:04Mendeng-jero.
07:07Jadi, tidak dengan cara
07:09menjelek-jelekan pendahulunya,
07:11tetapi ia tetap punya sikap sendiri.
07:13Punya sikap sendiri.
07:13Yang kemudian bisa dilihat banyak orang,
07:16misalnya seperti Anda,
07:17mengatakan,
07:18ini apa benar masih di bawah bayang-bayang
07:20Presiden sebelumnya.
07:21Nah, tapi kan gini,
07:24saya nggak yakin,
07:26Pak Zaididu,
07:27saya tidak yakin
07:28kalau Presiden
07:29sampai mengatakan pada Anda
07:31dan para tokoh lainnya,
07:32jangan dikira saya masih di bawah bayang-bayang
07:34Pak Jokowi.
07:35Ijinkan saya untuk nggak percaya
07:37Pak Presiden mengatakan itu.
07:39Saya ingin menyatakan bahwa
07:42ini dia menunjukkan fakta-fakta
07:44yang ingin menunjukkan bahwa
07:47begini,
07:48saya begini,
07:49ada suatu dialog menyatakan,
07:50Denny,
07:53tentang dua periode.
07:55Tuan Dua Periode.
07:56Dia bilang,
07:57jangan pernah berhak,
07:59jangan pikirkan dua periode.
08:01Sementara,
08:02di luar sudah menyatakan,
08:03Mahkam Jokowi menyatakan,
08:05oke kami dukung Prabowo
08:07dua periode bersama Gibran.
08:09Ya kan?
08:10Nah,
08:10tapi pada malam itu,
08:12Pak Presiden menyatakan,
08:13saya belum berniat
08:15untuk menyatakan dua periode.
08:17Malam lebih ini, Mbak Rosi,
08:18dia menyatakan begini,
08:21kalau memang saya gagal
08:23dan dianggap salah,
08:24saya bersedia mendapat hukuman
08:27dari rakyat.
08:28Dan saya bilang,
08:28ini baru pemimpin.
08:30Jadi,
08:31bukan memikirkan dua periode.
08:32Jadi,
08:33pihak-pihak yang ini
08:34menyatakan,
08:35Pak Prabowo masih sampai di titik,
08:37dia mau bekerja
08:38sangat baik untuk rakyat.
08:39Dan kalau rakyat
08:41merasa dia gagal
08:42dan salah,
08:43maka dia menyatakan,
08:45saya bersedia dihukum oleh rakyat.
08:46Itu kata-katanya yang saya,
08:48oh, oke ini.
08:49Oke,
08:50jadi dia tidak memikirkan
08:52dua periode.
08:52Ini yang membuat,
08:53Pak Saididu,
08:54merasa bahwa Presiden
08:55tidak cuma omon-omon.
08:56Yang saya menyatakan,
08:58tidak omon-omon,
08:59kan begini.
09:00Langkah,
09:02begini.
09:02Saya di depan mata saya,
09:04pada saat
09:06pemberian,
09:07pemberhentian OJK.
09:08Itu malam yang sama ya?
09:10Nah,
09:10pengunduran diri.
09:11Ya.
09:12Pada saat menekati jam 18,
09:14dia keluar,
09:14terima telepon.
09:15Pas dia,
09:16Pak Presiden masuk,
09:17bagus nih,
09:18OJK mengundurkan diri.
09:20Nah,
09:21saya kan orang jahil.
09:22Kenapa, Pak?
09:23Emang,
09:24ini harus,
09:24saya kasih ultimatum dia,
09:26harus mundur
09:2710 jam 18.
09:28Saya bilang,
09:28ini baru pemimpin.
09:30Nah,
09:30maksud saya ini,
09:31biar Pak Blik tahu,
09:32bahwa sebenarnya,
09:33Pak Presiden itu
09:34mengambil keputusan
09:35setiap saat dengan cepat
09:36asal informasinya.
09:38Benar.
09:38Nah,
09:39jadi,
09:39untuk memperbaiki dia cepat,
09:41ngambil keputusan.
09:43Nah,
09:43sama dengan,
09:44yang pengambil alihan
09:46sawit,
09:47tambang,
09:48itu tiap hari dilakukan.
09:50Tiap hari dilakukan,
09:51dan ingat,
09:52nah,
09:53saya bilang,
09:54banyak sekali contoh,
09:56bahwa Presiden Prabowo
09:57bukan keberlanjutan
09:58dari Jokowi.
09:59Banyak sekali contoh,
10:00contoh yang pemanya.
10:02Pada saat sawit itu,
10:03itu kan kelanjutan
10:05dari Jokowi dong,
10:06yang 3,3 juta hektare,
10:07yang dulu dipimpin
10:08Luhut Binsar Panjaitan,
10:10yang Pak Luhut menyatakan
10:12akan dinegosiasi ulang
10:13dengan pemilik lama,
10:15pas masuk Prabowo,
10:16nggak dinegosiasi ulang,
10:17diambil ali oleh negara.
10:19Itu fakta bahwa
10:20dia tidak kelanjutan dari itu.
10:23Anda ingin mengatakan,
10:23inilah contoh kasusnya.
10:25Contoh kasusnya.
10:25Yang tidak perlu diucapkan.
10:26Tidak perlu ucapkan.
10:27Tetapi dilakukan by action.
10:29Tapi Pak,
10:30bisa begini nggak pertanyaannya?
10:31Ketika misalnya,
10:33oh ya bagus,
10:33kalau mengundurkan diri saja
10:35daripada saya tangkap,
10:36atau kemudian akan ambil alih,
10:38atau jangan enak-enak saja,
10:41nanti akan didatangi kejaksaan.
10:43Bagaimana Anda menjelaskan
10:45bahwa ini management by fear?
10:48Oke.
10:49Management yang menakut-nakuti
10:51dengan ditangkap,
10:54lalu akan nanti dipanggil kejaksaan.
10:57Tidakkah ini menambah kekhawatiran
11:00para pelaku pasar,
11:02investor,
11:02bahwa mungkin maksudnya baik,
11:05tapi kalau dilakukan dengan cara-cara
11:08dimasuk penjara,
11:10dihukum,
11:11dipanggil kejaksaan,
11:13siap, bagaimana pelaku pasar bisa tenang?
11:16Nah, sepertinya beliau itu punya data,
11:20karena dia sampaikan saat itu,
11:22ini yang main,
11:23ini yang harus dihentikan,
11:24kalau ini tidak di stop segera,
11:26ini hancur.
11:27Jadi, saya menyatakan,
11:28Termasuk kayaknya waktu
11:30soal goreng-menggoreng saham,
11:31dan kemudian pengunduran diri,
11:33Pak Prabowo menyebut siapa saja
11:35yang sering menggoreng saham,
11:36beliau tahu semua nama-namanya.
11:38Dan sebutkan namanya,
11:39dan saya,
11:41ada namanya,
11:42ini tukang goreng,
11:43ini apa,
11:43ini nggak boleh katanya.
11:44Jadi,
11:45jadi maksud saya,
11:46istilahnya menurut saya,
11:47ini kebakaran yang harus disemprot.
11:51Itu tidak bisa lagi di,
11:53tidak di jalan lain,
11:55karena tiap hari akan berlanjut terus.
11:57Nah, jadi saya menyatakan,
11:59ini memang Pak Presiden,
12:01kalau darurat,
12:01diambil keputusan yang sangat-sangat cepat.
12:03Tapi jawab secara singkat,
12:04Pak Sadidu,
12:05bagaimana menjelaskan bahwa
12:06ini bukan manajemen by fear?
12:08Saya menyatakan,
12:10ini pasti akan dibahas seperti itu.
12:13Tapi,
12:13kalau sistemnya sudah,
12:14sudah sangat rusak.
12:16Itu tidak ada yang lain.
12:17Tidak ada yang lain.
12:18Nah,
12:19kita contohlah,
12:20Pak Hartu dulu,
12:23menyewa,
12:24apa namanya,
12:24bea cukai dari Swiss,
12:27karena sudah,
12:27Saking korupnya.
12:28Saking korupnya.
12:29Saking cukai pada waktu itu.
12:30Sampai saat itu.
12:32Oke.
12:32Kira-kira begitu.
12:33Oke.
12:33Yang masih harus jawab,
12:35apakah nama-nama yang disebut,
12:36itu termasuk yang juga datang,
12:38bertemu dengan Presiden,
12:40dua malam yang lalu,
12:41yang disebut dengan Taipan Besar?
12:43Itu yang nanti harus dijawab.
12:44Kami kembali saat lagi.
12:45Masih ingat.
12:46Tidak.
12:46Tidak.
12:48Tidak.
12:49Tidak.
12:49Tidak.
12:50Terima kasih.
Komentar

Dianjurkan