00:00Kita bahas penanganan dan pencegahan menyebarnya pam radikalisme di kalangan pelajar dan anak yang kini marak di media sosial
00:06bersama pengamat terorisme dan intelijen Ridwan Habib.
00:09Mas Ridwan, selamat petang.
00:11Selamat sore Mas Dito.
00:13Mas Ridwan, sebelumnya Densus 88 ungkap ada 110 anak terpapar tersebar di 23 provinsi Jakarta, Jawa Barat terkait dengan jaringan terorisme.
00:21Pertanyaan saya, mengapa perekrut saat ini menyasar anak? Tujuannya apa?
00:25Salah satunya karena mereka sedang dalam proses mencari jadi diri ya, dan dalam situasi emosi yang labil begitu mudah sekali kemudian diarahkan
00:37untuk tindakan-tindakan yang tidak mengabaikan logika normal.
00:43Misalnya, yang disampaikan oleh jurubicara Densus 88, Mas Mayendra, AKPB Mayendra, mengatakan bahwa
00:51salah satu dari 110 anak yang terekrut oleh jaringan ISIS, itu bahkan oleh perekrutnya sudah diprovokasi atau diberikan pemahaman
01:02untuk melakukan penyerangan di gedung DPR.
01:05Ini penyerangan yang direncanakan oleh anak ini.
01:09Dan Alhamdulillah Densus 88 berhasil mencegah itu.
01:12Jadi memang situasi psikologis mereka ini masih sangat labil, mudah dipengaruhi, apalagi ketika mereka merasa dirinya sebagai pahlawan,
01:21atau dihargai, atau dianggap sebagai hero.
01:24Nah, ini makin membuat dia makin termotivasi, Mas Dipo.
01:29Ya, bahkan kalau berdasarkan analisa ataupun penyataan yang sebelumnya saya dapatkan dari Ketua Lembaga Riset Kameran Cyber District,
01:35Pak Pratama Persaudan, menyebut bahwa mudah sekali sebenarnya anak-anak kita saat ini mengakses, mohon maaf,
01:41misalnya membeli alat-alat yang sebenarnya tidak diperuntukkan.
01:44Bagaimana seharusnya aparat memonitor, Mas Ridwan, pergerakan jaringan perekrut di internet ini?
01:50Ya, saya kira pengungkapan Polda Metro Jaya terkait dengan KSMAN 72,
01:56yang kemudian dijelaskan bahwa ABH yang melakukan tindakan itu ternyata membeli bahan peledak atau bahan kimianya secara online,
02:08itu menunjukkan bahwa alarm tanda bahayanya sudah sangat-sangat menyala, sudah siaga satu, ini sudah merah.
02:16Sehingga kemudian saya sungguh berharap, kami berharap dari kalangan kampus, ada extraordinary effort dari pemerintah.
02:23Misalnya, kami misalnya mengusulkan Bapak Presiden membuat semacam task force atau satuan tugas pencegahan di online,
02:33terutama nanti melibatkan PSSN, IT, BNPT, kemudian juga dari BIN, kemudian dari Cybercrime Polri, Kementerian Sosial, Komdigi,
02:43semua jadi satu, sehingga kemudian Satgas ini bekerja fokus untuk melacak, pertama melacak situs-situs apa saja yang diakses,
02:53oleh pelajar-pelajar ini, 110 yang ISIS, termasuk juga ABH, yang mengakses situs-situs white supremacy.
03:00Jadi ada bedanya, Mas, antara yang 110 yang dibongkar oleh Densus 88 dengan ABH SMA 72, ini berbeda.
03:08Yang 110 ini konten radikalisme ISIS, yang ABH 72 ini konten kekerasan terinspirasi dari white supremacy atau neonazi.
03:18Dan itu dua-duanya menyasar anak-anak kita?
03:22Dua-duanya menyasar anak-anak, dua-duanya menyasar remaja.
03:26Untuk yang ISIS di Amerika Serikat itu juga sudah mulai masuk pahamnya, white supremacy juga menyebar di Eropa, Amerika Serikat, Australia, New Zealand.
03:36Jadi memang dua-duanya paham yang sangat berbahaya dan dua-duanya harus ditangkal, dua-duanya harus dicegah.
03:42Nah, situs-situs yang kemudian mengarahkan anak-anak kita untuk mengakses itu harus ditutup.
03:48Harus ditutup ya?
03:48Nah, supaya pemerintah ini punya kekuatan hukum, saya kira sudah saatnya disahkan rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Cyber.
03:58Oke. Karena yang menarik juga ABH ini tidak hanya mendapatkan bahan baku di internet,
04:03tapi yang menjadi pertanyaan adalah apakah semudah itu membuat bom tanpa ada yang memimbingnya?
04:08Betul. Apalagi dia membelinya kan secara bertahap, secara bertahap, satu pesatu.
04:14Jadi membeli bahan kimianya dulu, kemudian membeli pakunya dulu.
04:18Jadi ini perencanaan, Mas.
04:20ABH ini melakukan perencanaan dan tentu saja kita skeptis kalau itu hanya dilakukan oleh dia sendiri.
04:26Walaupun anak ini cerdas karena dia pernah ikut lomba karya ilmiah dan sebagainya.
04:30Tetapi kita harus skeptis bahwa ada semacam tanda petik mentor online, itu bisa di luar negeri ya.
04:38Bisa di luar negeri, belum tentu orang Indonesia.
04:40Yang kemudian memandu dia tahap demi tahap.
04:43Bahan apa yang harus dibeli, berapa takarannya, dan seterusnya.
04:46Nah, ini yang saya kira harus bungkat.
04:48Saya mendukung Polda Metro Jaya yang terus mendalami kasus ini,
04:51sehingga nanti ketemu tujuh jaring-jejaring yang kemudian menginspirasi si ABH ini.
04:56Tapi kalau menurut Anda, Mas Ridwan, apakah hanya, mohon maaf,
05:01110 anak yang kemudian terpapar, tersebar di 23 provinsi,
05:04atau jangan-jangan fenomena ini adalah fenomena gunung es?
05:08Oh, kalau ISIS gunung es, itu kan baru yang diketahui baru 110.
05:13Tetapi kan sebenarnya yang saya dengar,
05:15Densus 88 juga sedang mengejar orang-orang dewasa lain,
05:19yang ketangkap kan yang orang dewasa 5,
05:21yang anak-anak itu 110 dibina.
05:23Nah, yang sementara yang 5 ini, ini punya komplotan juga ini.
05:27Ada sekitar 70 orang yang sedang dikejar oleh Densus 88,
05:31yang mereka ini memang sengeja menyasar anak-anak usia 15,
05:35bahkan 14, 13, 12, sampai 18 tahun,
05:39untuk kemudian mereka rekrut,
05:41mulai dari platform terbuka, dari Facebook dulu,
05:45begitu mereka terpancing di situ,
05:48terpancing untuk berkomentar,
05:50dibawa ke platform yang lebih tertutup.
05:53Misalnya Discord, 4chan, aplikasi Telegram, dan seterusnya.
05:57Jadi ini masih banyak, Mas.
05:59Ini fenomena gunung es.
06:00Oke, sebagai bahan sosialisasi untuk orang tua,
06:03analisa Anda seperti apa sebenarnya komunikasi yang dilakukan oleh perekrut,
06:07sehingga anak-anak kita, dalam tanda kutip,
06:09mudah untuk kemudian dipengaruhi?
06:11Mereka tidak akan bisa merekrut di platform terbuka,
06:15di platform terbuka.
06:17Jadi kalau kemudian adik-adik kita,
06:19anak-anak kita ini sudah mempunyai grup chat tertutup,
06:22grup chat tertutup, misalnya Discord, 4chan,
06:25atau aplikasi Telegram, grup Telegram,
06:27nah ini mulai indikasi itu.
06:29Indikasi bahwa dia mengarah kepada satu pembicaraan kelompok tertutup,
06:33yang bisa mengarah kepada kejahatan.
06:36Baik itu radikalisme ISIS,
06:38maupun radikalisme white supremacy atau neo-Nazi.
06:41Jadi saya kira,
06:42pertama tentu pengawasan platform terbukanya,
06:45tapi yang kedua,
06:46mulai curiga,
06:47mulai ditanya ketika adik-adik kita,
06:50anak-anak kita,
06:51mengakses platform chat tertutup yang kita tidak tahu.
06:55Jadi ini yang saya kira jadi indikasi awal.
06:57Oke, perlukah pembatasan usia mungkin untuk kemudian,
07:00anak-anak kita jika ingin mengakses media sosial?
07:04Saya kira perlu ya.
07:06Tentu saja dengan regulasi yang baik,
07:07saya kira perlu.
07:08Dan itu tujuannya saya kira untuk menyelamatkan masa depan Indonesia.
07:12Nah, makanya memang sudah saatnya disahkan
07:15rancangan Undang-Undang Keamanan dan Ketahanan Cyber.
07:18Jika Undang-Undang ini nanti disahkan,
07:20RUU KKS ini disahkan,
07:22maka pemerintah,
07:23terutama dalam hal ini badan cyber dan sandi negara,
07:26dia akan mempunyai kekuatan yang lebih powerful.
07:29Oke.
07:29Untuk kemudian misalnya memaksa website-website itu,
07:32memaksa penyedia aplikasi
07:33untuk mengikuti koridor hukum Indonesia.
07:36Terakhir, mungkin Mas Ridwan,
07:38singkat saja,
07:39apakah mungkin ada peran dari sekolah yang bisa dimaksimalkan dalam hal ini?
07:43Oh, wajib.
07:43Saya kira peran sekolah itu justru paling pertama, Mas.
07:46Jadi mereka juga harus melakukan patroli online,
07:49termasuk juga guru pimpinan konseling,
07:51jangan menunggu.
07:52Jangan menunggu anak curhat,
07:53tapi datangi di kelas,
07:55tanya masalahnya,
07:56sehingga kemudian anak ini menjadi nyaman,
07:58dan tidak mencari jawaban dari platform-platform tertutup yang orangnya tidak jelas.
08:02Website-website yang bahaya itu.
08:05Oke, Mas.
08:05Saya ingin tanyakan lagi,
08:06apakah mudah untuk kemudian mencirikan anak yang sudah terpapar radikalisme?
08:09Tentu memang tidak mudah.
08:13Harus-harus ada one-on-one,
08:15pertemuan one-on-one,
08:18tidak bisa kemudian misalnya jadi ciri fisik gitu.
08:20Harus ada pertemuan,
08:21ada pembicaraan,
08:22ada dialog,
08:23dari situ nanti bisa diketahui anak ini sudah sedalam apa.
08:26Dan itu peran pertama tentu saja orang tua ya.
08:28Orang tua,
08:29baru kemudian guru dan pihak sekolah.
08:31Baik,
08:32pengamat terorisme dan intelijen,
08:33Mas Ridwan Habib,
08:34terima kasih telah bergabung di Kompas Petang.
Komentar