Lewati ke pemutarLewatkan ke konten utama
Gangguan jiwa merupakan masalah kesehatan yang serius karena meningkatnya jumlah penyakit, termasuk penyakit kronis dengan proses penyembuhan yang lama. Gangguan jiwa dibagi menjadi 2 kategori, yaitu gangguan jiwa ringan dan gangguan jiwa berat. Gangguan jiwa yang berbahaya dan tidak terkendali adalah skizofrenia.

Data World Health Organization (WHO) tahun 2016, pada orang gangguan jiwa sekitar 35 juta akan terkena depresi, 60 juta orang terkena bipolar, 21 juta terkena skizofrenia, serta 47,5 juta terkena dimensia. Angka kejadian di masyarakat berkisar 1-2% dari seluruh penduduk yang pernah mengalami skizofrenia dalam hidup mereka. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar pada tahun 2007, 2013 dan 2018 menunjukkan gangguan jiwa di Indonesia dengan diagnosa skizofrenia memiliki prevalensi gangguan jiwa fluktuatif. Dimana pada tahun 2007 prevalensi gangguan jiwa di indonesia sebesar 4.1 per mil, tahun 2013 mengalami penurunan menjadi 1.7 per mil dan pada rentang tahun 2013-2018 mengalami peningkatan 4 kali lipat selama 5 tahun terakhir menjadi 7 per mil.

Tonton juga RiauOnline “
(RiauOnline)

#Riauonline #Riauonlinecoid #oknumpolisi #skizofrenia

Jangan lupa subscribe, tinggalkan komentar dan share.

Tonton konten lainnya juga di YouTube Channel:
- Sisi Lain https://youtu.be/_TYOe2wDBl8
- Wamoi dan Riau https://youtu.be/roXyLa8aFLU

Jangan lupa subscribe yaa..

Follow Juga akun Sosial Media kami

https://www.facebook.com/RiauOnlin

https://twitter.com/red_riauonline

https://www.instagram.com/riauonline.co.id/?hl=id

https://www.tiktok.com/@riauonline1

https://s.helo-app.com/al/xvYZYpjbvR

https://sck.io/u/j3hlxrGg

Kategori

🗞
Berita
Transkrip
00:01Skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental serius yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku.
00:10Namun, dengan pertanganan yang tepat dan dukungan keluarga, pemulihan tetap menjadi tujuan yang bisa diupayakan.
00:18Gejala skizofrenia terbagi menjadi tiga kelompok, yaitu gejala positif, negatif, dan kognitif.
00:25Gejala positif meliputi waham atau keyakinan yang tidak sesuai dengan kenyataan, halusinasi, seperti mendengar suara tanpa sumber suara yang nyata,
00:35serta pola bicara dan pikiran yang tidak teratur.
00:38Sementara itu, gejala negatif dapat berupa berkurangnya ekspresi emosi, motivasi, dan keinginan untuk berinteraksi dengan lingkungan sosial.
00:47Adapun gejala kognitif dapat memengaruhi perhatian dan kemampuan memahami informasi.
00:53Penanganan skizofrenia dilakukan melalui beberapa tahap.
00:57Pertama, fase akut untuk mengendalikan gejala yang sedang muncul.
01:01Kedua, fase stabilisasi untuk menjaga kondisi setelah gejala akut terkendali.
01:07Ketiga, fase pemeliharaan untuk mempertahankan perbaikan kondisi dan mengurangi risiko kekambuhan.
01:13Penanganan dapat melibatkan obat-obatan, pendampingan psikososial, konseling, rehabilitasi, serta edukasi bagi keluarga sesuai kebutuhan pasien dan arahan tenaga kesehatan.
01:26Selain pengobatan, dukungan keluarga juga memiliki peran penting dalam proses pemulihan.
01:31Keluarga atau caregiver dapat membantu memastikan pasien menjalani perawatan sesuai anjuran, memberikan dukungan emosional, serta mengenali tanda-tanda kekambuhan sejak
01:42dini.
01:42Salah satu penelitian yang dikutip dalam artikel menyebutkan, angka kekambuhan dapat turun dari 65% menjadi 25% dengan perawatan
01:52keluarga yang maksimal di rumah.
01:54Namun, angka ini perlu dipahami sesuai konteks penelitian dan tidak menjamin hasil yang sama pada setiap pasien.
02:02Skizofrenia bukan alasan untuk mengucilkan seseorang.
02:05Dengan penanganan profesional, dukungan keluarga, dan lingkungan yang tidak diskriminatif,
02:11Orang dengan skizofrenia tetap berhak menjalani kehidupan yang bermakna.

Dianjurkan