00:00Badan Riset dan Inovasi Nasional atau BRIN mengembangkan bahan pemadam kebakaran hutan dan lahan berbasis singkong.
00:08Teknologi bernama KASAPE atau Singkong APP ini kini siap memasuki tahap uji lapangan.
00:15Kepala BRIN, Arief Satria menjelaskan, bahan tersebut merupakan kombinasi pati singkong dan amonium polifosfate atau APP
00:22yang dikembangkan sebagai bahan penghambat penyebaran api.
00:25Periset kimia molekular BRIN, Julinton, menjelaskan pati singkong dapat dimodifikasi agar cairan lebih kental,
00:33melekat pada vegetasi, dan mampu menahan air lebih lama.
00:37Dalam formulasi ini, air membantu menyerap panas, sementara APP berperan memperlambat proses pembakaran.
00:44Campuran tersebut juga berpotensi membentuk lapisan karbon yang menghambat perpindahan panas
00:49dan membatasi kontak bahan bakar dengan oksigen.
00:51Teknologi ini dirancang untuk membantu menangani titik api awal, kebakaran kecil yang terpisah,
00:57hingga memperlambat perambatan api pada vegetasi.
01:01Namun efektivitasnya belum dapat dipastikan.
01:04BRIN masih perlu menguji kinerja pemadaman, kekentalan, stabilitas penyimpanan, serta keamanan dan dampak lingkungannya.
01:11Bahan ini juga dirancang untuk diaplikasikan dari udara maupun darat.
01:15Meski begitu, penggunaannya tetap membutuhkan dukungan personel darat dan metode pemadaman lainnya,
01:20terutama saat menghadapi kebakaran berintensitas tinggi.
01:24Selain mengembangkan bahan pemadam berbasis singkong,
01:26BRIN turut menyiapkan inovasi pendukung operasi modifikasi cuaca,
01:30termasuk Dumikron, Kosat, dan Dry Ice,
01:33melalui kolaborasi dengan TNI Angkatan Udara, BNNB, dan BMKG.
01:38Seluruh inovasi tersebut diharapkan mendukung penanganan karhutlah,
01:41namun penerapannya tetap bergantung pada hasil pengujian dan validasi di lapangan.