00:00Penamaan kapal perang TNI-AL, KRI Usman Harun, ternyata pernah memicu ketegangan diplomatik antara Indonesia dan Singapura.
00:08Polemik ini berkaitan dengan peristiwa ledakan bom di McDonald House, Orchard Road, Singapura pada Maret 1965.
00:16Saat itu, Singapura keberatan karena mengaitkan dua nama pahlawan nasional Indonesia tersebut dengan tragedi tersebut.
00:23Usman dan Harun sendiri merupakan anggota Korps Komando Operasi atau KKO yang dihukum gantung di penjara Canggi, Singapura pada 17
00:30Oktober 1968.
00:33Namun, di balik ketegangan itu, tersimpan kisah diplomasi antara Presiden Kedua RI, Soeharto, dan Perdana Menteri Singapura kala itu, Lee
00:40Kuan Yew.
00:41Dua tahun setelah eksekusi tersebut, Lee Kuan Yew berencana berkunjung ke Indonesia.
00:46Soeharto pun mengajukan satu syarat khusus sebelum kunjungan itu dilakukan.
00:49Melalui perantara Letnan Kolonel Purnawirawan Abdul Rahman Ramli, Soeharto meminta Lee Kuan Yew meletakkan karangan bunga langsung di Makam Usman
00:57dan Harun di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.
01:01Permintaan itu berbeda dari protokol erbiasanya, karena tamu negara umumnya meletakkan karangan bunga di kaki Tugu Makam Pahlawan.
01:08Meski begitu, Lee Kuan Yew akhirnya menyetujui permintaan tersebut.
01:12Ia bahkan secara langsung melakukan tabur bunga di pusara kedua pahlawan Indonesia itu.
01:16Momen tersebut menjadi salah satu titik penting dalam mencairkan hubungan kedua negara, hingga hubungan diplomatik Indonesia dan Singapura mulai membaik.
01:24Kisah ini kemudian menjadi bagian dari sejarah diplomasi dua negara, yang hubungannya hingga kini masih mengalami pasang surut, terutama ketika
01:31isu sensitif masa lalu kembali mencuat.
01:37Terima kasih telah menonton!